Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Hiponatremia adalah gangguan elektrolit yang sering ditemui pada pasien dengan gagal
jantung dan sebagai penanda independen untuk keparahan penyakitnya.(1, 2) Hiponatremia pada
gagal jantung dikaitkan dengan risiko penurunan hemodinamik, waktu perawatan di rumah sakit
yang lebih lama dan angka kematian rehospitalisasi yang tinggi.(3)
Gagal jantung kongestif (GJK) adalah gangguan yang ditandai dengan penurunan curah
jantung, disfungsi ventrikel kiri dan penurunan tekanan arteri. Sejumlah sistem neurohormonal
vasoaktif, termasuk sistem saraf simpatik, renin-angiotensin-aldosteron system (RAAS) dan
hormon antidiuretik arginine vasopressin (AVP) teraktivasi secara terus-menerus pada pasien
dengan gagal jantung kongestif. (3, 4) Aktivasi sistem neurohormonal pada keadaan gagal jantung
akut dapat membantu mempertahankan aliran darah ke organ vital melalui vasokonstriksi perifer,
meningkatkan preload dan curah jantung dengan

meningkatkan retensi air dan natrium.

Sebaliknya, aktivasi kronis dari sistem ini dapat menyebabkan ventrikel preload dan afterload
yang berlebihan, remodeling ventrikel, kongesti paru dan sistem sistemik serta

kelainan

elektrolit, seperti hiponatremia. (4)
Angka kejadian hiponatremia pada gagal jantung sampai saat ini masih belum jelas. Hal
ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya nilai ambang batas yang digunakan, usia
pasien, keparahan gagal jantung dan jumlah berapa kali dilakukan pemeriksaan. Diperkirakan
hiponatremia ringan-sedang terjadi sekitar 10 % pada pasien dengan gagal jantung, sedangkan
hiponatremia berat dengan serum Na < 128-130 mmol/l dilaporkan kurang dari 5 %. Akan tetapi,
ada beberapa penelitian yang menunjukkan frekuensinya meningkat, seperti pada Outcomes of a
Prospective Trial of Intravenous Milrinone for Exacerbations of Chronic Heart Failure
(OPTIME-CHF) sekitar 27 % pasien berada di nilai natrium antara 132 dan 135 mEq/l. (5)
Sementara dari studi Evaluation Study of Congestive Heart Failure and Pulmonary Artery
Catheter Effectiveness (ESCAPE), sekitar 18 % pasien gagal jantung mengalami hiponatremia.(6)
Gagal jantung menjadi penyebab paling umum rawat inap pada pasien usia> 65 tahun dan
dengan biaya tahunan melebihi $ 33 milyar. Pendekatan terapi hiponatremia pada gagal jantung

didasarkan dari pemahaman kita tentang patofisiologi penyakit.

(1)

Pilihan terapi saat ini, untuk

hiponatremia dengan gagal jantung meliputi pemberian hipertonik salin, loop diuretik, restriksi
cairan dan agen farmakologis lainnya, seperti demeclocycline, lithium karbonat dan urea.
Hipertonik salin harus diberikan dengan sangat hati-hati karena koreksi natrium yang berlebihan
yang diberikan secara lambat atau cepat dapat menyebabkan efek samping neurologis yang
berat. Loop diuretik berguna untuk mengurangi retensi air disebabkan oleh gagal jantung
kongestif. Namun, diuresis kuat seperti furosemide, dapat menyebabkan hilangnya natrium dan
elektrolit penting lainnya sehingga akan memperburuk hiponatremia. Restriksi cairan hanya
cukup efektif dan seringkali sulit untuk dilakukan di rumah sakit. Obat seperti demeclocycline
dan lithium berpotensi efek samping yang serius pada ginjal dan kardiovaskular. Penggunaan
antagonis resptor arginine vasopressin (AVP) adalah kelas baru yang menjanjikan sebagai agen
aquaretik yang meningkatkan ekskresi air bebas dengan tetap menjaga tingkat natrium dan
elektrolit penting lainnya.(4)

BAB II

koma.HIPONATREMIA PADA GAGAL JANTUNG Definisi Hiponatremia Hiponatremia adalah penurunan konsentrasi serum natrium di bawah 136 mmol/l. Klasifikasi hiponatremia menurut osmolalitas efektif adalah sebagai berikut sebagai berikut: (11)  Hipotonik hiponatremia : osmolalitas < 280 mOsmol/ kg . (1.(10) Konsentrasi plasma (mEq/l) 130-135 125-130 115-120 Tanda dan gejala Tanpa gejala Nausea dan malaise Sakit kepala. Gejala neurologis yang nyata sering diakibatkan kadar serum natrium yang sangat rendah (biasanya <115 mEq / L). sakit kepala. 5.(10) Gambaran klinis hiponatremia didasarkan konsentrasi serum natrium. gagal nafas. 7-9) Tanda dan gejala Gejalanya mulai dari mual. karena terjadi pergeseran cairan osmotik intraserebral dan edema otak. tingkat kesadaran menurun dan jika berat dapat terjadi kejang dan koma. malaise. herniasi batang otak dan kematian Klasifikasi Hiponatremia Klasifikasi hiponatremia menurut status volumenya : (11)  Hipovolemik hiponatremia: terjadi penurunan total body water yang diiringi penurunan  kadar natrium tubuh yang lebih besar Euvolemik hiponatremia: kadar natrium tubuh normal yang diiringi peningkatan air tubuh  total Hypervolemik hiponatremia: terjadi peningkatan kadar total natrium tubuh yang diiringi peningkatan total body water yang lebih besar. Hiponatremia ringan-sedang jika kadar serum natrium antara 121-135 mmol/l dan hiponatremia berat jika kadar serum kurang dari 121 mmol/l. kerusakan otak yang permanen.

Diagnosis Hiponatremia Secara umum etiologi hiponatremia mengarah ke manajemen terapinya. dengan nilai natrium yang rendah. normal ataupun meningkat Hiponatremia depletional disebabkan oleh penurunan total natrium tubuh yang keluar baik melalui ginjal. seperti pada kasus gagal jantung maupun keadaan euvolumik. Evaluasi pasien dengan hiponatremia sebaiknya dimulai dengan anamnesis untuk mengetahui riwayat penyakit. hiponatremia dilutional dapat terjadi baik dalam keadaan hipervolumik. Isotonik hiponatremia : osmolalitas 280 – 295 mOsmol/ kg  Hipertonik hiponatremia : osmolalitas > 295 mOsmol/ kg Berdasarkan patofisiologi yang mendasarinya. saluran gastrointestinal atau kehilangan darah. Berdasarkan status volume pasien. diakibatkan oleh retensi air  yang berlebihan. Sementara hiponatremia depletional biasanya pada hipovolumik. (13) . pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. hiponatremia dapat diklasifikasikan menjadi 2 tipe : (12)  Hiponatremia dilutional adalah bentuk yang sering dijumpai. Berikut ini adalah algoritma untuk membantu diagnosis hiponatremia (gambar 1).

Gambar 1. Algoritme diagnosis hiponatremia Mekanisme hiponatremia pada gagal jantung Patofisiologi dari gagal jantung melibatkan interaksi yang kompleks antara aktivasi reninangiotensin aldosterone system (RAAS). vasopressin sering disebut antidiuretic hormone (ADH). stimulasi sistem saraf simpatis (SNS) dan sekresi Arginine Vasopressin (AVP) secara non osmotik.(16). jika tidak dikoreksi. akan menyebabkan disfungsi kerja jantung yang progresif. retensi garam dan air. 20) Gambar 2.(14) Sekresi Hormon Arginine Vassopressin(AVP) Penyebab utama dari hiponatremia pada pasien dengan gagal jantung adalah sekresi hormon antidiuretik AVP yang berlebihan. Sekresi hormone AVP (18) Hormon AVP berfungsi meningkatkan permeabilitas duktus kolektivus ginjal. sehingga air memasuki interstitium hipertonik pada piramida ginjal. Sistem neurohormonal ini. Urin menjadi lebih pekat dan .(10. AVP adalah hormon neuropeptide disintesis di nukleus supraoptik dan paraventrikular hipotalamus dan disimpan dan dilepaskan dari hipofisis posterior (gambar 2). 17-19) Karena salah satu efek fisiologis utamanya adalah retensi air oleh ginjal. (18.

maka sekresi AVP akan meningkat sehingga ekskresi air di ginjal dihambat dan timbul ransangan mekanisme haus. dengan sekresi vasopresin dihambat pada nilai 285 mOsm / kg dan dirangsang pada nilai yang lebih tinggi. 20) .(18. 21) Kerja hormon ini diperantai oleh 3 subtipe reseptor. Lokasi dan Fungsi Reseptor Lokasi Fungsi V1a Otot polos pembuluh darah  Vasokontriksi  Hipertrofi otot jantung Trombosit Agregasi Myometrium Kontraksi uterus V1b (V3) Hipofisis anterior  Pelepasan hormone Adrenocorticotropin  Pelepasan β-Endorphin V2 Tubulus kolektivus ginjal  Resorpsi air  Induksi aquaporin-2 Endotel vaskuler  Pelepasan faktor von Willebrand  Pelepasan faktor VIII Pengeluaran hormon AVP dikontrol oleh 2 mekanisme utama. Dengan cara ini. Di lain pihak jika AVP turun.(20) Sebaliknya. (17. (20) Fungsi utama AVP adalah untuk mengontrol ekskresi air di ginjal dan mengatur tonus pembuluh darah melalui reseptor V2 dan V1a. Semua adalah resptor G-protein coupled yang telah diketahui letak dan fungsinya (tabel 1). yaitu stimulasi osmotik dan non osmotik. yaitu V1a. tekanan osmotik efektif cairan tubuh menurun. Ketika tekanan osmotik efektif naik. AVP juga memiliki peran beragam dalam fisiologi banyak sistem lain. V1b dan V2. ketika plasma menjadi hipotonik. Kerja hormone Arginin Vasopressin : Reseptor. Rentang osmolalitas plasma pada orang yang sehat berkisar antara 280-295 mOsm/ kg H2O. 18) Stimuli osmotik dengan cara mempertahankan tonisitas cairan ekstra seluler terutama oleh fungsi AVP dan mekanisme haus. (10) Tabel 1. sekresi AVP akan menurun dan solute-free water akan diekskresikan melalui ginjal. 19.volumenya menurun. Osmoreseptor berada di hipotalamus dan sangat sensitif terhadap perubahan osmolalitas plasma (± 1% sampai 2%).(17. tonisitas cairan tubuh dipertahankan dalam kisaran normal yang sempit. akibatnya. volume urin urine akan meningkat dan akibatnya osmolalitas cairan tubuh akan naik.

(17. 21) Setelah pelepasan AVP ke dalam sirkulasi. (20) Dalam beberapa model percobaan hewan dengan gagal jantung dan pasien dengan gagal jantung kongestif. saluran air yang meningkatkan permeabilitas air di duktus kolektivus dan reabsorpsi air melalui hypertonic renal medullary osmotic gradient. AVP mengikat reseptor V 2 di basolateral selsel ginjal duktus kolektivus. Hasil ini menunjukkan bahwa penurunan stroke volume dan cardiac output (seperti yang diterima oleh baroreseptor arteri di sinus karotis dan arkus aorta atau melalui mekanisme lain) adalah stimulus utama untuk pelepasan AVP secara non osmotik (arteri underfilling) (gambar 3 ). (17) Hiponatremia terkait tiazid . 21. dibuktikan ada peningkatan tingkat AVP yang signifikan. Data dari Studies of Left Ventricular Dysfunction (SOLVD) menunjukkan bahwa peningkatan progresif kadar AVP bersamaan ketika gejala kongestif gagal jantung menjadi memburuk. Studi dari The Survival and Ventricular Enlargement menunjukkan bahwa tingkat AVP yang tinggi berhubungan dengan peningkatan angka kematian oleh karena penyakit kardiovaskular dalam 1 tahun. Ikatan ini merangsang sintesis dan transport apikal aquaporin-2.(14) Studi terbaru menunjukkan bahwa pada pasien dengan gagal jantung. atrium kanan. Baroreseptor tersebut terbagi menjadi dua jenis : high pressure baroresptor yang berada di arcus aorta dan sinus caroticus. cardiac output dan tekanan darah. (17. produksi urin yang berkurang dan lebih pekat (gambar 7). terdapat peningkatan yang signifikan dalam densitas relatif (sebesar 30%) dari neuron AVP pada nukleus supraoptik hipothalamus yang kemungkinan mencerminkan rangsangan kronis produksi AVP. Hasil akhirnya adalah kembalinya air ke sirkulasi. atrium kiri dan pembuluh darah di paru.Stimuli non osmotik pengeluaran AVP dapat terjadi pada penderita dengan gagal jantung. Sekresi AVP diperantarai oleh adanya baroreseptor sebagai dampak dari perubahan volume darah. pengenceran volume plasma. 22) Pada pasien hiponatremia dengan gagal jantung terjadi kenaikan AVP 2 sampai 3 kali dibandingkan dengan subjek normal. Sedangkan low pressure baroresptor terletak di vena cava.

Diuretik dapat menyebabkan hiponatremia.(23) Beberapa mekanisme hiponatremia terkait penggunaan tiazid telah diketahui. Tiazid menghambat reabsorpsi natrium klorida pada tubulus distal. pertama kali dilaporkan sejak 40 tahun yang lalu. yang berdampak langsung pada penghambatan kemampuan pengenceran urin. 24) BAB III. Insidennya diperkirakan 1. Studi yang lain melaporkan 12 kasus kematian pada 129 kasus hiponatremia berat yang diakibatkan penggunaan tiazid. Selanjutnya kehilangan natrium melalui urin semakin meningkat oleh karena sekresi hormone vasopresin. Tetapi.(23.1 % pada penelitian terhadap 114 pasien usia lanjut.(24) Wanita mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi dirawat di rumah sakit karena hiponatremia yang disebabkan oleh tiazid. tetapi factor usia lanjut dan indeks massa tubuh rendah telah dicurigai sebagai penyebabnya.(24) Penyebab hiponatremia lebih sering pada wanita sampai saat ini masih belum jelas. 2 mekanisme yang penting sebagai penyebab adalah defiensi kadar natrium dan peningkatan cairan tubuh. Hiponatremia terkait tiazid adalah hal yang sesuatu umum terjadi dan potensial mengancam jiwa. .

bisa menyebabkan efek samping yang merugikan. Kedua. Ketiga. hiponatremia kronis mungkin timbul gejala atau tanpa gejala dan. Hal yang perlu diperhatikan adalah kadar serum natrium.(19) 1.(4) Pengelolaan hiponatremia pada gagal jantung memerlukan pendekatan multidisplin. Pertama. adanya gejala harus menuntun keputusan pengobatan. kadar konsentrasi natrium yang harus diterapi bergantung pada apakah hiponatremia tersebur akut atau kronis. tingkat keparahan dan durasi gejala. termasuk penyebab yang mendasari ketidakseimbangan natrium. Optimalisasi fungsi jantung . meliputi optimalisasi fungsi jantung (mencegah volume overload dan blokade sistem neurohormonal). kegagalan baik untuk mengobati hiponatremia dengan segera maupun koreksi hiponatremia yang terlalu cepat. sedangkan asimtomatik hiponatremia dapat dikelola dengan terapi yang bekerja lambat. mempertahankan fungsi ginjal dan asupan cairan yang cukup. Hiponatremia akut umumnya menimbulkan gejala dan membutuhkan terapi segera. tetapi perlu dilakukan pemantauan yang rutin dan hati-hati terhadap serum konsentrasi natrium untuk menghindari risiko gejala sisa neurologis yang berat. yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis yang merugikan dibandingkan dengan efek merugikan dari hiponatremia sendiri yang tidak diobati.Terapi Hiponatremia Pada Gagal Jantung Prinsip umum terapi Pilihan pengobatan untuk hiponatremia tergantung pada beberapa faktor. karena perubahan yang cepat kadar natrium akan mengakibatkan konsekuensi yang merugikan pada pasien. adanya gejala. Penggunaan antagonis vasopressin adalah strategi baru yang dikembangkan untuk terapi pasien hiponatremia dengan gagal jantung. seperti yang dibahas. status volume pasien. ada atau tidak gejala dan tanda-tanda gangguan neurologis harus menjadi pedoman pengobatan. Hiponatremia simtomatik yang tanda-tanda neurologis yang jelas umumnya membutuhkan perawatan segera dan agresif. Pengobatan harus dimulai segera. Pengobatan didasarkan pada prinsip-prinsip pengelolaan secara umum. Koreksi yang terlalu cepat dapat menyebabkan sindrom demielinasi osmotik.

Selain itu. bahwa penggunaan diuresis yang berlebihan dapat menyebabkan hipovolemia. nitrat dan penggunaan agen inotropik positif mungkin digunakan untuk meningkatkan curah jantung sehingga meningkatkan kadar natrium pada pasien dengan hiponatremi. penurunan afterload dengan ACE inhibitor. juga dapat menyebabkan penurunan afterload ventrikel kiri sehingga memfasilitasi peningkatan curah jantung. aktivasi sistem saraf simpatis dan Sistem Renin-Angiotensin-Aldosterone dan menurunkan fungsi ginjal. Akan tetapi perlu diperhatikan. curah jantung yang cukup akan mengurangi stimulasi baroreseptor dan mengurangi aktivasi sistem saraf simpatis dan Renin-Angiotensin-Aldosterone System mengakibatkan berkurangnya aviditas ginjal terhadap natrium dan air serta menurunkan sekresi hormon AVP. Secara ideal. dan AVP yang mengarah ke peningkatan tekanan pengisian ventrikel kiri dan penurunan stroke volume. . Selain itu. sehingga dapat meningkatkan curah jantung pada pasien volume overload. Obat diuretic yang digunakan dalam manajemen gagal jantung adalah loop diuretik atau kombinasi loop diuretik dan tiazid sehingga dapat menyebabkan peningkatan kadar natrium pada pasien hiponatremi. Pada pasien dengan gagal jantung akut.Secara sederhana manajemen pasien gagal jantung adalah memastikan cukupnya curah jantung. keseimbangan air dan natrium. Blokade aksi aldosteron dengan spironolactone atau eplerenone mengurangi lamanya rawat inap dan angka kematian pasien gagal jantung dengan New York Heart Association (NYHA) kelas III dan IV. Peningkatan kadar serum natrium dan kehilangan air dapat meringankan gejala kongestif yang diiringi dengan penurunan afterload dan peningkatan efek inotropik. Obat ini memutus lingkaran aktivasi neurohormonal dan melalui beberapa mekanisme yang dapat menyebabkan peningkatan fungsi jantung. sehingga dapat mengakibatkan hiponatremia oleh karena peningkatan sekresi AVP.(19) Seperti dijelaskan sebelumnya. bolus tunggal furosemide telah dikaitkan dengan peningkatan aktivitas renin norepinefrin. Efek ini dapat memperburuk fungsi jantung dan menyebabkan gangguan fungsi ginjal.(19) Sedangkan manajemen pasien gagal jantung yang lebih kompleks adalah penghambatan sistem saraf simpatis dan Sistem Renin-Angiotensin-Aldosterone dengan penggunaan β-blocker (BB) dan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) atau angiotensin receptor blocker (ARB). Efek furosemide ini berpotensi merugikan gagal jantung pasien. diuretik tetap menjadi andalan dalam pengobatan gagal jantung dan memiliki efek yang kompleks pada kadar serum natrium.

Penggunaan diuretik telah dikaitkan dengan peningkatan angka mortalitas baik pada gagal jantung kronik maupun akut. Ketika hadir. Terapi diuretik pada pasien HF hyponatremic menyajikan tantangan khusus dalam bahwa terapi seperti itu sering perlu setidaknya untuk sementara ditarik-namun pasien tersebut umumnya perlu diuretik untuk mengurangi overload volume. Loop diuretik. pada kesempatan. membatasi penggunaan obatobatan nefrotoksik dan zat kontras dan menghindari diuresis berlebihan dapat membantu untuk membatasi risiko hiponatremia. spironolactone dapat menyebabkan atau memperburuk hiponatremia. diuretik yang paling tepat harus dipilih. terapi pengganti ginjal (hemodialisis atau peritoneal dialisis) yang dapat membuang kelebihan natrium dan air sehingga dapat mempertahankan kadar natrium menjadi normal. Akan tetapi. maka efek loop diuretik pada serum Na sulit untuk diprediksi secara akurat sehingga pemantauan sering serum Na sangat penting. Pasien dengan gagal ginjal memerlukan. Upaya untuk mempertahankan fungsi ginjal tetap normal termasuk pengendalian tekanan darah. thiazidetype diuretik harus dihindari dan loop diuretik sebaiknya diberikan. dan penggunaannya mungkin. dengan demikian. Karena fisiologi yang kompleks dari gagal jantung. dan penurunan fungsi ginjal. hypomagnesemia. 14 Mekanisme fenomena ini belum hati-hati dipelajari. Diuretic Therapy. Perbedaan antara kedua kelas diuretik terletak pada pengamatan bahwa diuretik tipe thiazide tidak mengganggu kemampuan berkonsentrasi urin. 2. Bila diberikan bersamaan dengan diuretik lain. Mempertahankan fungsi ginjal Pasien dengan gangguan fungsi ginjal memiliki kemampuan penurunan untuk ekskresi Na dan air sehingga meningkatkan risiko terjadinya hiponatremia. kemungkinan berhubungan dengan respon natriuretik berlebihan spironolactone. diuretik hemat nonpotassium dapat menyebabkan hipokalemia signifikan. bagaimanapun. Sebagai terapi diuretik adalah jelas penting pada pasien tersebut (setidaknya dalam jangka pendek). kerugian volume yang dipicu oleh spironolactone dapat . umumnya meningkatkan izin H2O gratis (jika dasar izin H2O gratis abnormal). meningkatkan serum Na + nilai. Oleh karena itu pemakaian agen diuretic harus secara bijaksana. penggunaannya secara signifikan dapat menurunkan izin H2O bebas dan dengan demikian memperburuk hiponatremia. diuretik kemungkinan akan tetap menjadi komponen penting dari manajemen gagal jantung di masa mendatang. Dalam hal itu. Selain itu. Jika cukup signifikan.

Pembatasan cairan Pasien gagal jantung memiliki kemampuan terbatas untuk mengekskresikan kelebihan air bebas diet karena tingginya hormone AVP. When present. Dalam contoh kedua. Tingkat pembatasan yang diperlukan akan pasien tertentu dan ditentukan oleh tingkat neurohormonal aktivasi pada setiap pasien. thus. It is unclear whether spironolactone itself is to blame for this form of HFrelated hyponatremia or if this is a class phenomenon for all aldosterone receptor antagonists. The distinction between these two classes of diuretics lies in the observation that thiazide-type diuretics do not interfere with urinary concentrating ability. and their use may. generally increase free H2O clearance (if baseline free H2O clearance is abnormal). As diuretic therapy is decidedly important in such patients (at least in the short term). on occasion. Sekali lagi.mendorong penurunan GFR dan / atau peningkatan proksimal resorpsi H2O tubular. If significant enough. akibatnya pasien gagal jantung dengan hiponatremia harus membatasi asupan air. the most appropriate diuretic should be chosen. it likely relates to an excessive natriuretic response to spironolactone. Fluid restriction is of limited utility in the acute management of . hyponatremia becomes more likely. 4. In that regard. their use can significantly decrease free H2O clearance and thereby worsen hyponatremia. Tidak jelas apakah spironolactone itu sendiri yang harus disalahkan atas bentuk hiponatremia HFrelated atau jika ini adalah fenomena kelas untuk semua reseptor antagonis aldosteron. however. pemantauan sering akan membantu memastikan kenaikan yang sesuai dalam serum Na dalam menanggapi intervensi. When administered concomitantly with other diuretics. increase serum Na+ values. 14 The mechanism of this phenomenon has not been carefully studied. spironolactone may cause or aggravate hyponatremia. Diuretic therapy in the hyponatremic HF patient presents a particular challenge in that such therapy often needs to be at least temporarily withdrawn—and yet such patients generally need diuretics to lessen the volume overload. hiponatremia menjadi lebih mungkin. In either instance. Fluid restriction is the cornerstone of the treatment of all euvolemic and hypervolemic forms of hyponatremia. Loop diuretics. thiazidetype diuretics should be avoided and loop diuretics preferably given. the volume losses triggered by spironolactone can prompt a fall in GFR and/or an increase in proximal tubular H2O resorption.

Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin receptor blocker (ARB) telah dicoba dalam upaya untuk menekan haus drive. however. Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitors and angiotensin receptor blockers (ARBs) have been tried in an attempt to suppress thirst drive. mungkin dengan mengurangi efek dipsogenic angiotensin II. untuk tipu ini untuk bekerja. Ketika strategi ini digunakan. mungkin terkait dengan peningkatan angiotensin II tingkat. presumably by lessening the dipsogenic effect of angiotensin II. lithium (Li2 +) karbonat adalah satu-satunya obat yang tersedia untuk mengobati sindrom hormon antidiuretik (SIADH) . Pada awal 1970-an. Kebanyakan pasien HF mengalami kesulitan yang signifikan dalam mengikuti suatu resep ketat karena haus drive mereka. It is. Hal ini. In most cases. is not curbed by normal osmoregulatory mechanisms. tidak diatasi oleh mekanisme osmoregulatory normal. an important treatment element in the more long-term handling of hypervolemic forms of hyponatremia. but they generally have had limited success. fluid intake should limited to such a degree that a negative balance state arises relative to potential sources of free H2O gain.hyponatremia. When this strategy is used. for this stratagem to work. asupan cairan harus dibatasi sedemikian rupa sehingga keadaan saldo negatif muncul relatif terhadap potensi sumber keuntungan H2O gratis. possibly linked to elevated angiotensin II levels. total fluid intake should be kept in the range of 500–800 mL.15 Itu digunakan dalam kondisi itu karena Li2 + menghambat aksi antidiuretik AVP dengan mengurangi V2 stimulasi . tapi mereka umumnya memiliki keberhasilan terbatas Lithium. Most HF patients have significant difficulty in adhering to such a restrictive prescription since their thirst drive. asupan cairan total yang harus disimpan di kisaran 500-800 mL. This is a particular challenge in hospitalized patients who often have obligatorily high intakes as a result of various IV therapies. sebuah elemen penting dalam pengobatan lebih jangka panjang penanganan bentuk hypervolemic hiponatremia. Restriksi cairan dari utilitas terbatas dalam pengelolaan akut hiponatremia.(25) Restriksi cairan landasan pengobatan semua bentuk euvolemic dan hypervolemic hiponatremia. bagaimanapun. Ini merupakan tantangan khusus pada pasien rawat inap yang sering memiliki asupan tinggi secara wajib sebagai akibat dari berbagai terapi IV. Dalam kebanyakan kasus.

dengan demikian. prasyarat untuk Li2 + digunakan adalah pemantauan terapi sering untuk memastikan bahwa tingkat darah tetap berada dalam kisaran beracun. Li2+ carbonate can reverse the hyponatremia of SIADH within 2 days of beginning therapy. lithium (Li2+) carbonate was the only drug available to treat the syndrome of antidiuretic hormone (SIADH). drugs commonly given to HF patients.reseptor-dimediasi adenyl cyclase. The risk of Li2+ toxicity also increases with ACE inhibitor and/or ARB therapy.16 Li2 + izin turun secara signifikan sebagai GFR jatuh. dalam pengaturan hiponatremia HF terkait (di mana GFR umumnya berkurang). . tetapi umumnya membutuhkan beberapa hari untuk efek maksimal untuk mengambil terus. Discontinuation of Li2+ results in a gradual return of the hyponatremic state.17 If Li2+ is administered in HF-related hyponatremia it is of use only if excess AVP is a prominent element of the syndrome. a prerequisite to Li2+ use is frequent therapeutic monitoring to ensure that blood levels remain in a nontoxic range. Penghentian Li2 + menghasilkan kembali secara bertahap dari hyponatremic state. Risiko Li2 + toksisitas juga meningkat dengan ACE inhibitor dan / atau terapi ARB.15 It was of use in that condition because Li2+ inhibited the antidiuretic action of AVP by reducing V2 receptor-mediated stimulation of adenyl cyclase. izin H2O bebas meningkat.15 Li2+ pharmacokinetics are influenced by a number of factors. Li2 + karbonat dapat membalikkan hiponatremia dari SIADH dalam waktu 2 hari terapi awal. thus. obat yang biasa diberikan kepada HF patients. free H2O clearance increased. Profil efek samping dari Li2 + merupakan faktor pembatas utama dalam penggunaannya untuk euvolemic dengan bentuk hypervolemic hiponatremia. Dengan demikian.16 Li2+ clearance drops significantly as GFR falls. including age and GFR. In so doing. termasuk usia dan GFR.17 Jika Li2 + diberikan dalam hiponatremia HF terkait itu adalah penggunaan hanya jika kelebihan AVP adalah elemen yang menonjol dari sindrom. in the setting of HFrelated hyponatremia (where GFR is commonly reduced). but it generally requires several days for its maximal effect to take hold. In the early 1970s. The side-effect profile of Li2+ is a major limiting factor in its use for euvolemic to hypervolemic forms of hyponatremia.15 Li2 + farmakokinetik dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Demeclocycline.

therefore. Demeclocycline biasanya diberikan dalam dosis terbagi mulai dari 600-1200 mg / d dan tidak harus diberikan dengan produk yang mengandung aluminium. Fungsi ginjal harus dipantau jika pasien sedang diobati dengan teratur demeclocycline karena dapat menyebabkan azotemia reversibel dan. peneliti membandingkan efektivitas demeclocycline ke Li2 + karbonat dalam pengobatan 10 pasien dengan SIADH kronis. terutama pada pasien dengan sirosis. particularly in patients with cirrhosis. Demeclocycline is a tetracycline antibiotic that reduces the antidiuretic effect of AVP and is somewhat more effective than Li2+ in that regard. . magnesium.Demeclocycline adalah antibiotik tetrasiklin yang mengurangi efek antidiuretik AVP dan agak lebih efektif daripada Li2 + dalam hal itu.or 4-day intervals. Dibutuhkan beberapa hari untuk efek aquaretic dari demeclocycline untuk memaksimalkan. Mengubah terapi bagi pasien untuk demeclocycline (600-1200 mg / d diberikan untuk 5-14 hari) kembali serum Na + nilai normal. Renal function should be monitored if the patient is being regularly treated with demeclocycline since it can cause reversible azotemia and.atau interval 4 hari. its dose need not be increased any more frequently than at 3. pada kesempatan. iron. dengan dua pasien yang sama menjadi bingung dan bingung. permitting unrestricted H2O intake in all patients. Pada tahun 1978. on occasion. Three of these patients did not respond to Li2+ carbonate (600–900 mg/d given for 3–5 days). sehingga dosisnya tidak perlu ditingkatkan lagi sering dari pada 3 . It takes several days for the aquaretic effect of demeclocycline to maximize. Demeclocycline is typically administered in divided doses ranging from 600–1200 mg/d and should not be given with products containing aluminum. memungkinkan asupan H2O terbatas pada semua pasien. magnesium. Changing the therapy for these patients to demeclocycline (600–1200 mg/d given for 5–14 days) returned serum Na+ values to normal. In 1978. besi. terang-terangan nefrotoksik. or calcium in that these cations impair its absorption. with two of these same patients becoming confused and disoriented. atau kalsium dalam kation ini mengganggu penyerapan. be overtly nephrotoxic. Tiga dari pasien tidak menanggapi Li2 + karbonat (600-900 mg / d diberikan selama 3-5 hari). researchers compared the effectiveness of demeclocycline to Li2+ carbonate in the treatment of 10 patients with chronic SIADH.

12 ini efek menguntungkan dari ACE inhibitor atau terapi ARB dianggap asalkan cardiac output tetap memadai untuk perfusi ginjal. dan / atau penambahan loop diuretik Peningkatan hiponatremia dengan obat ini diduga berkaitan dengan dipsogenic dan AVPreleasing tindakan angiotensin II yang berkurang dalam hubungannya dengan penanganan ginjal peningkatan H2O. ACE inhibitors or ARBs remain mainstays of its chronic management. Becausena highly activated RAAS represents a principal cause of hyponatremia in decompensated HF patients. simply adding or increasing the dose of an ACE inhibitor is often sufficient.8 mungkin karena mereka berdua lebih sakit dan terlalu bergantung pada Raas nyata diaktifkan untuk pemeliharaan tekanan darah sistemik (BP) dan perfusi ginjal. cukup menambahkan atau meningkatkan dosis inhibitor ACE seringkali cukup.10 Improved renal handling of H2O with these drugs can relate to their ability to increase GFR as well as to favorably alter proximal Na+ and H2O handling. pasien dengan HF hyponatremic biasanya lebih rentan terhadap efek hipotensi dan azotemic ACE inhibitor. Dengan demikian. Dalam hal ini. berarti tekanan arteri harus disimpan> 60-65 mm Hg dan bahkan lebih tinggi jika penyakit arteri ginjal yang signifikan hadir.5.4 ACE Inhibitors and ARB Because na sangat aktif Raas merupakan penyebab utama hiponatremia pada pasien dekompensasi HF. penghambat ACE atau ARB tetap andalan kronis management.10 Peningkatan penanganan ginjal H2O dengan obat ini dapat berhubungan dengan kemampuan mereka untuk meningkatkan GFR juga untuk menguntungkan mengubah proksimal Na + dan H2O handling.8–11 For mild hyponatremia (serum Na+ concentration of 130–135 mmol/L). penghentian setiap thiazide diuretik. Normalization of Na+ can be accelerated in this situation and in more marked hyponatremia by concomitant hypotonic fluid restriction. and/or addition of a loop diuretic. discontinuation of any thiazide diuretic.8-11 Untuk hiponatremia ringan (Na + serum konsentrasi 130-135 mmol / L). 3.12 These .(25) The improvement in hyponatremia with these drugs presumably relates to the dipsogenic and AVP-releasing actions of angiotensin II being lessened in conjunction with improved renal handling of H2O. ketika obat-Raas menghambat digunakan. Normalisasi Na + dapat dipercepat dalam situasi ini dan ditandai hiponatremia lebih oleh pembatasan bersamaan hipotonik cairan.

8 probably because they are both more ill and are overly dependent on the markedly activated RAAS for maintenance of systemic blood pressure (BP) and renal perfusion. Vasopresin antagonis. senyawa yang dirancang untuk khusus memblokir pengaruh antidiuretik AVP. when these RAAS-inhibiting drugs are used. Sekresi AVP berlebihan merupakan komponen penting dari HF terkait hyponatremia2023 dan satu yang hanya dapat diatasi dengan baik dengan terapi yang ada seperti Li2 + dan demeclocycline18. the development of nonpeptide vasopressin receptor antagonists.beneficial effects of ACE inhibitor or ARB therapy are seen as long as cardiac output remains adequate for renal perfusion.4. dengan demikian. thus. dan tolvaptan (Tabel) . offer a viable treatment alternative for this disease. Thus.3.2 These drugs have all been shown to be effective in improving renal H2O handling and hyponatremia in conditions associated with H2O retention . Excessive AVP secretion is an important component of HF-related hyponatremia20– 23 and one that can be addressed only so well with existing therapies such as Li2+ and demeclocycline18. hyponatremic patients with HF are typically more susceptible to the hypotensive and azotemic effects of ACE inhibitors. (25) 5. compounds designed to specifically block the antidiuretic effect of AVP. lixivaptan. mean arterial pressure should be kept >60–65 mm Hg and even higher if significant renal arterial disease is present.24–26 Three drugs in this class are currently under development: conivaptan. menawarkan alternatif pengobatan yang layak untuk ini disease.24-26 Tiga obat di kelas ini sedang dalam pengembangan: conivaptan. Vasopressin Receptor Antagonists. In this regard. and tolvaptan (Table).2 obat ini semuanya telah terbukti efektif dalam meningkatkan penanganan H2O ginjal dan hiponatremia pada kondisi yang berhubungan dengan retensi H2O. pengembangan nonpeptide vasopresin antagonis reseptor. lixivaptan.

28 Dengan blokade reseptor V2. sebuah diuresis H2O terjadi dengan conivaptan. complicated by the lack of long-term experience with a pure V1a receptor antagonist. Sebuah besar Pengalaman singledose (10. an H2O diuresis occurs with conivaptan. dengan urin osmolalitas diamati diuresis air.28 With blockade of V2 receptors. Pengembangan formulasi oral conivaptan dihentikan karena potensi tinggi untuk berinteraksi dengan sistem sitokrom P450 ketika diberi orally. It has been speculated that blockade of V1a receptors may be advantageous in HF patients. 28 Ada informasi terbatas mengenai senyawa ini pada pasien dengan HF. Telah berspekulasi bahwa blokade reseptor V1a mungkin menguntungkan pada pasien HF. who may benefit from the increased cardiac output and reduced peripheral resistance induced by V1a blockade. 20. atau 40 mg) pada pasien dengan HF kronis yang stabil ditemukan bahwa pemberian akut conivaptan baik mengurangi tekanan kapiler paru dan menimbulkan suatu diuresis H2O (Gambar 1). bagaimanapun. Conivaptan is a nonpeptide V1a/V2 receptor antagonist that is in the later stages of development in an IV formulation.24. while its blockade of the V1a receptor can be expected to relax vascular smooth muscle cells and lower systemic vascular resistance. yang mungkin manfaat dari curah jantung meningkat dan resistensi perifer berkurang disebabkan oleh V1a blokade.Conivaptan. rumit oleh kurangnya pengalaman jangka panjang dengan V1a antagonis reseptor murni. however. Interpretasi perubahan hemodinamik terlihat dengan gabungan V1a/V2 antagonis reseptor. Interpretation of the hemodynamic changes seen with a combined V1a/V2 receptor antagonist is. sementara blokade dari reseptor V1a dapat diharapkan untuk bersantai pembuluh darah halus sel otot dan resistensi vaskuler sistemik rendah. . namun tidak jelas dalam studi ini apakah penurunan awal dalam tekanan pengisian bisa dipertanggungjawabkan hanya oleh efek aquaretic ini majemuk. Output urine meningkat secara dosis-tergantung selama 4 jam pertama setelah pemberian. Conivaptan adalah nonpeptide V1a/V2 antagonis reseptor yang ada di tahap akhir pembangunan di infus formulation.

meskipun dipertahankan.31 For example. dan SIADH. namun lima pasien (50%) mengambil 250 mg lixivaptan dua kali sehari telah ke telah dipotong obat pada beberapa kesempatan selama 7 hari ini sidang karena dehidrasi yang signifikan. lixivaptan (25. Lixivaptan adalah V2 antagonis reseptor oral aktif dengan aktivitas aquaretic jelas dibuktikan. however. Lixivaptan is an orally active V2 receptor antagonist with clearly demonstrable aquaretic activity. Urine output increased in a dose-dependent manner during the first 4 hours after administration. 125. dengan tidak ada perubahan signifikan dalam BP. Sebuah peningkatan yang signifikan dalam bea H2O bebas tercatat dengan dua dosis tertinggi lixivaptan. Lixivaptan lowers urine osmolality and increases serum Na+ concentration in hyponatremic patients with HF and cirrhosis. 20. kadar kreatinin serum. Dari catatan. A significant improvement in free H2O clearance was noted with the two highest doses of lixivaptan. 125. 31 Misalnya. atau urin + ekskresi Na. with no significant changes in BP. Ini mungkin berhubungan dengan perubahan tingkat AVP.Development of an oral formulation of conivaptan was discontinued because of its high potential to interact with the cytochrome P450 system when given orally. .30. and SIADH. cirrhosis.28 There is limited information regarding this compound in patients with HF. A large singledose experience (10.dan 250 . efek aquaretic dari lixivaptan sehubungan dengan izin H2O bebas. atau 250 mg dua kali sehari selama 7 hari berturut-turut) dievaluasi pada populasi beragam dengan hiponatremia (<130 mmol / L selama 3 hari berturut-turut) karena HF.30. or 40 mg) in patients with chronic stable HF found that the acute administration of conivaptan both reduced pulmonary capillary wedge pressures and elicited an H2O diuresis (Figure 1). yang meningkat secara signifikan pada akhir penelitian di 125 . sirosis.mg kelompok dosis dua kali sehari.24. plateaued dengan pemberian berulang. Lixivaptan. it was unclear in these studies whether the initial fall in filling pressures could be accounted for solely by the aquaretic effect of this compound. terutama dengan dosis yang lebih tinggi. lixivaptan (25. seperti yang ditunjukkan oleh rasa haus yang meningkat dan peningkatan ditandai dalam serum konsentrasi Na +. or 250 mg twice daily for 7 consecutive days) was evaluated in a diverse population with hyponatremia (<130 mmol/L for 3 consecutive days) due to HF. Lixivaptan menurunkan osmolalitas urine dan meningkatkan konsentrasi Na + serum pada pasien dengan HF dan hyponatremic cirrhosis. with urine osmolality observed water diuresis.

or 90 mg/d for up to 60 days) enrolled 319 patients hospitalized because of an acute HF exacerbation. nor did it result in significant renal function or serum K+ changes. The initial body weight loss on Day 1 was maintained without further change throughout the study—a finding that could have resulted from an increased fluid intake and/or a diminished response to the drug An additional clinical trial with tolvaptan (placebo. Tolvaptan-treated patients experienced a significant reduction in body weight in the first 24 hours of the study.33 In an early study in patients with mild clinical HF (30% of whom had serum Na+ values <136 mmol/L). however. plateaued with repeated administration. the aquaretic effects of lixivaptan with respect to free H2O clearance. considering the level of diuresis sustained.96 kg. which increased significantly by the end of the study in the 125. including diuretics. as indicated by increased thirst and marked increases in serum Na+ concentration. Tolvaptan.33 Also. Patients received standard therapy. which further decreased by the time of discharge and was maintained during follow-up (Figure 2). This may have related to changes in AVP levels. In these studies. or 60 mg once daily for 25 consecutive days) on body weight was assessed. a sustained H2O diuresis was evident. It would not be unreasonable to presume that AVP levels rose in the course of this study (in response to the volume loss) and that the ensuing stimulation of V1a receptors preserved BP. Of note. with body weight falling on average between 0. five patients (50%) taking 250 mg of lixivaptan twice daily had to have medication withheld on multiple occasions during this 7-day trial because of significant dehydration.and 250. in a post hoc analysis. 60. The decrease in body weight with tolvaptan was not associated with changes in heart rate or BP. On Day 1 of these studies. the effect of tolvaptan (30. To date. 30. There were no differences in worsening HF at 60 days between the tolvaptan and placebo groups despite the weight difference between these groups. 45. tolvaptan is the only V2 receptor antagonist that has been studied for any extended period in humans. particularly with the higher doses. This lower mortality in . a dose-dependent total urinary Na+ loss was also observed in the first 24 hours of treatment. The absence of a BP drop in this study is unusual.32. or urinary Na+ excretion.serum creatinine levels.mg twice daily dosing groups. 60-day mortality was lower in the higher-risk (blood urea nitrogen >29 mg/dL or severe systemic congestion) tolvaptan-treated patients. although maintained.79 and 0.

in the outpatient setting. Agen ini menyebabkan kehilangan air bebas di ginjal yang disebut aquaresis. 45 atau 60 mg/hari) atau plasebo untuk total selama 25 hari. compared with 102. Hasil positif ini telah menyebabkan sejumlah uji klinis yang menggunakan agen ini pada pasien gagal jantung. For example. however.12 mg of furosemide equivalents (a 43-mg reduction from the mean daily dose during the period of hospitalization).mg reduction from the mean daily dose during the period of hospitalization).3±139. Studi praklinis pada hewan dan manusia menunjukkan bahwa pemberian antagonis reseptor V2 menyebabkan peningkatan ekskresi air bebas dengan kehilangan natrium yang sedikit meningkat dan tidak disertai aktivasi kompensasi dari RAAS.36±116.(12) Sejumlah obat tersebut telah dikembangkan dan bekerja baik pada reseptor V2 secara selektif atau kombinasi V2 atau Reseptor V1a. V1B. sehingga penghambatan terhadap hormon ini memiliki efek yang menguntungkan bagi manajemen gagal jantung.tolvaptan-treated patients goes unexplained at the current time. dan selektif meningkatkan ekskresi solute-free water oleh ginjal. Kedua V1A dan V1B mengaktifkan fosfolipase C yang mengakibatkan peningkatan kalsium intraseluler. dan V2.treated patients received a mean ± SD daily dose of 79. it is tempting to speculate that the lower mortality in this study related to the decreased diuretic dose in tolvaptantreated patients. Walaupun semua pasien yang . Mengingat peran utama hormon AVP yang menyebabkan retensi air dan menimbulkan hiponatremia. Hormon AVP juga menyebabkan vasokonstriksi dan hipertrofi kardiomiosit. Reseptor AVP adalah reseptor G-protein-coupled dengan tiga subtipe: V1A. Beberapa antagonis AVP telah dikembangkan untuk digunakan dalam pengobatan hiponatremia. Georghiade dkk membandingkan dengan plasebo tolvaptan dengan placebo pada 254 pasien rawat jalan NYHA kelas III atau IV yang rutin mengkonsumsi terapi standar gagal jantung.05 mg of furosemide equivalents for the placebo group (a 9. AVP antagonis reseptor adalah kelas obat baru yang telah dikembangkan untuk pengobatan hiponatremia. Pasien menerima 1 dosis dari 3 dosis oral tolvaptan yang tersedia di pasaran yaitu (30. Reseptor V2 terletak di tubulus ginjal pengumpul (renal collecting tubules) dan endotel pembuluh darah yang membantu efek antidiuretik dari AVP. maka pemeberian antagonis hormon AVP tampaknya menjadi pilihan terapi yang rasional pada pasien hiponatremia dengan gagal jantung. tolvaptan.

dan hipernatremia (1. Pasien-pasien ini juga memiliki penurunan yang signifikan pada berat badan dengan perbaikan pada gejala gagal jantung. ginjal fungsi.3% pasien dengan dasar hiponatremia. 28% yang memiliki hiponatremia di nilai dasar mempunyai kenaikan terbesar. Perbaikan dyspnea dan serum Na yang dipertahankan selama ikutan dengan efek samping yang serupa dengan yang terlihat pada sidang jangka pendek.5mmol / L dan 1. Sidang lama termfollow-up atas amean dari 9. tidak menemukan perbedaan dalam semua penyebab kematian. atau rawat inap GAGAL JANTUNG antara kelompok. atau perkembangan hipokalemia. tekanan darah. Sebuah studi yang lebih besar terhadap 4133 pasien gagal jantung akut yang dirawat. Sebuah analisis subkelompok dari 8% dari pasien dengan dasar hiponatremia menemukan serum Na ditingkatkan oleh 5. di samping terapi standar gagal jantung selama 60 hari. masing-masing. atau 90 mg) atau plasebo.05 Kg dalam dosis tertinggi kelompok) dengan tidak ada perubahan dalam denyut jantung.diobati dengan tolvaptan memiliki peningkatan serum Na. Pasien yang diterapi dengan tolvaptan. pengobatan dengan tolvaptan juga menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam haus. kematian kardiovaskular. Pasien di acak untuk menerima Tolvaptan 30mg/hari atau plasebo di samping pemberian terapi standar gagal jantung. Sebuah studi serupa terhadap 319 pasien pasien secara acak yang menerima 1 dosis tolvaptan (30. lain antagonis reseptor V2-[46]. 60. .4% vs 0%).9 bulan. kenaikan terbesar dalam Na terlihat pada 21. Hal ini juga memberikan hasil yang sama dengan penelitian sebelumnya. Ascending dosis tunggal obat yang digunakan dan diproduksi peningkatan tergantung dosis dalam output urin tetapi tidak ada jangka panjang hasil dengan agen ini telah dipublikasikan. dilakukan penilaian hasil jangka pendek dan jangka panjang pengobatan. Pasien yang diobati tolvaptan juga mengalami penurunan yang signifikan dalam berat badan pada 24 jam (median 2. Hasil jangka pendek serupa peningkatan output urin dan natrium serum ditemukan pada pasien dengan GAGAL JANTUNG stabil menerima lixivaptan. Dari catatan. poliuria. Tujuan jangka pendek dalam 7 hari menyatakan bahwa ada perbedaan dalam perbaikan status klinis pasien secara umum. sekitar 80% serum Na menjadi normal pada hari pertama dibandingkan dengan 40% dari mereka yang menerima plasebo. kelompok yang diberikan tolvaptan memiliki penurunan yang signifikan dalam berat badan dan sesak nafas.8mmol / L dalam tolvaptan dan kelompok plasebo. Pasien dalam kelompok tolvaptan mengalami peningkatan sedikit kadar serum Na.

multicenter studi. placebo-controlled. Kedua dosis yang conivaptan terkait dengan peningkatan yang signifikan dalam serum Na. V1b Nelivaptan ACTH-independent macronodular adrenal hyperplasia Gangguan depresi . di samping perawatan GAGAL JANTUNG standar [47]. dan belum dipelajari sebagai pengganti diuretik loop. Beberapa penelitian dari conivaptan pada pasien GAGAL JANTUNG telah menghasilkan Hasil serupa dengan yang V2-reseptor antagonis [48 -50]. Bila dibandingkan dengan furosemid saja. sedangkan hanya 20. dismenore. Sampai saat ini. Peran yang tepat dari antagonis vasopresin dalam manajemen dari hyponatremic pasien GAGAL JANTUNG masih belum jelas. Sementara tidak ada efek terhadap mortalitas telah terlihat dalam uji klinis.Antagonisme reseptor V1a selain V2 reseptor memiliki manfaat teoritis tambahan penurunan afterload dengan menghambat AVP-dimediasi kontraksi otot polos. Di Selain itu. kombinasi furosemide dan conivaptan diproduksi peningkatan tergantung dosis dalam output urin [50]. ada perbaikan yang jelas dalam gejala pada mayoritas studi. Reseptor Antagonis Potensi aksi V1a neuropeptide Recolvaptan Raynaud’s syndrome. persalinan premature. Dalam acak. tingkat na meningkat 6mmol / L atau dinormalisasi di 69% dari 40mg/day dosis dan 88. antagonis vasopresin telah digunakan dalam hubungannya dengan pengobatan GAGAL JANTUNG biasa (termasuk diuretik). belum ada penelitian secara langsung membandingkan efek V2 dan gabungan V2/V1arecpetor antagonis yang masih merupakan pertanyaan klinis yang menarik.5% dari dosis 80mg/day demi hari 4. double-blind. Penerima conivaptan mengalami peningkatan output urin dengan penurunan tekanan pengisian kiri dan sisi kanan dan memiliki efek samping yang minimal.7% dari kelompok plasebo mencapai tujuan ini. 84 pasien dengan hiponatremia secara acak menerima 1 dari 2 dosis conivaptan (bolus 20mg diikuti oleh 96 jam infus 40 atau 80mg/day) atau plasebo. kombinasi dengan dosis tinggi conivaptan (80 atau 120mg/day) menyebabkan peningkatan kecil tapi signifikan dalam serum Na. Itu Penting untuk dicatat bahwa dalam semua studi tersebut. Conivaptan adalah salah satu agen tersebut dengan persetujuan FDA untuk pengobatan hiponatremia hypervolemic.

Tolvaptan sirosis) Hiponatremia. Congestive Heart Failure . polycystic Mozavaptan Satavaptan Conivaptan kidney disease Hiponatremia (hanya SIADH) Hiponatremia. Congestive Heart Failure. sirosis Hiponatremia. SIADH.V2 V1a + V2 Lixivaptan Hiponatremia (Congestive Heart Failure. Congestive Heart Failure.

European Heart Journal. et al. Heart Fail Rev.342(21):1581-9. 2007. European Journal of Heart Failure. Vaptans: A new option in the management of hyponatremia2012 July 1. Madias NE. Clinical Cardiology. Gustafsson F. 6. 4. New England Journal of Medicine.95(9):1423. 10. Hyponatraemia in heart failure: a call for redefinition. 5. 2005. 3. 2009. O'Connor CM. Congestive Heart Failure.13(9):968-73. Wiggers H. Hyponatremia.28(8):920-1. Verbalis JG. . 7. Videbæk L. Schrier RW. 2005. Sica DA. 2011.294(13):162533. 2010. Evaluation study of congestive heart failure and pulmonary artery catheterization effectiveness: the ESCAPE trial. Aditya S. 2. 2005. Hyponatremia in Heart Failure: Revisiting Pathophysiology and Therapeutic Strategies. et al. Hasselblad V. Hyponatremia Treatment Guidelines 2007: Expert Panel Recommendations. Hildebrandt P. Califf RM. 2012. The American journal of cardiology.120(11):S1-S21. Kazory A. Gheorghiade M. Sterns RH. 2000. Current Treatments and Novel Pharmacologic Treatments for Hyponatremia in Congestive Heart Failure. Schou M. Shah MR. Rattan A. Sopko G. Adrogué HJ. Parissis J. Farmakis D.33(6):322-9.14(2):59-63. Greenberg A. Goldsmith SR.11(5):274-7. Prevalence and prognostic significance of hyponatraemia in outpatients with chronic heart failure. Hyponatremia in heart failure.1. Filippatos G. Ghali JK. Binanay C. JAMA : the journal of the American Medical Association. 9. The American journal of medicine. Hyponatremia and Heart Failure—Pathophysiology and Implications. Kremastinos D. Goldsmith SR. Balling L. 8. 77-83 p. 2007.

Sica DA. Abraham WT. Am J Med.12(1):55-60. Circulation. Hormones and Hemodynamics in Heart Failure. 2013.96(12):911-7.30(11):546-51. 1999. Eline MR. 2008. Goldsmith SR.33(11):666-71. 23. US Cardiology. Whellan DJ. 18. Hyponatremia and Heart Failure—Treatment Considerations. Risk factors for thiazide-induced hyponatraemia.62(1):67-72. Common electrolyte disorder: Hyponatremia. 2008:4. Finley JJ. Barrett KE. 2010. Treatment Options for Hyponatremia in Heart Failure. Rosner M. Am J Kidney Dis. Pendegraf WF. Bagshaw S. Water and sodium retention in edematous disorders: role of vasopressin and aldosterone. Mather PJ. Clin Cardiol. Arginine Vasopressin Antagonists for the Treatment of Heart Failure and Hyponatremia. International Journal of Nephrology. Rosner MH.16:S15-S8. Jao GT. Hospital Physician. 12. Hyponatremia in Heart Failure: The Role of Arginine Vasopressin and Its Antagonism. 2006. Lerma EV. Romanovsky A. 19. 21. New England Journal of Medicine. Kumar S. Ganong's Review of Medical Physiology: McGraw-Hill Education. Schrier RW. 2010. Lous JJ. and treatment options. Uitterlinden AG. Hyponatremia and Vasopressin Antagonism in Congestive Heart Failure. Barman SM. Thiazide- Associated Hyponatremia. Szeto CC. 16. Abraham WT. Hyponatremia and Congestive Heart Failure: A Marker of Increased Mortality and a Target for Therapy. et al. Guyton AC.119(7 Suppl 1):S47-53. Leung CB. Pennsylvania: Elsevier Inc. Chiong JR. Rudolph EH.11. 2010. 25. 2009. Boitano S. Konstam MA. Hofman A. prognosis. Rubin S. 20. Managing Hyponatremia in Heart Failure. 14. Congestive Heart Failure. 2003. QJM. 2010. Hall JE. 13. Brooks H. 22. . Congestive Heart Failure. Udelson JE. Ruiter R. Congestive Heart Failure. 17. Clinical Cardiology. Schrier RW. Hoorn EJ. 24.118(4):410-21. Ronco C. Philadelphia. Hyponatremia in acute decompensated heart failure: mechanisms. Tetbook of Medical Physiology. 2007.341(8):577-85. Chow KM. 2011. Wong TY-H. 15. Li PK-T. 2006.16:S7-S14. 2006.