Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

Hiponatremia adalah gangguan elektrolit yang sering ditemui pada pasien dengan gagal
jantung dan sebagai penanda independen untuk keparahan penyakitnya.(1, 2) Hiponatremia pada
gagal jantung dikaitkan dengan risiko penurunan hemodinamik, waktu perawatan di rumah sakit
yang lebih lama dan angka kematian rehospitalisasi yang tinggi.(3)
Gagal jantung kongestif (GJK) adalah gangguan yang ditandai dengan penurunan curah
jantung, disfungsi ventrikel kiri dan penurunan tekanan arteri. Sejumlah sistem neurohormonal
vasoaktif, termasuk sistem saraf simpatik, renin-angiotensin-aldosteron system (RAAS) dan
hormon antidiuretik arginine vasopressin (AVP) teraktivasi secara terus-menerus pada pasien
dengan gagal jantung kongestif. (3, 4) Aktivasi sistem neurohormonal pada keadaan gagal jantung
akut dapat membantu mempertahankan aliran darah ke organ vital melalui vasokonstriksi perifer,
meningkatkan preload dan curah jantung dengan

meningkatkan retensi air dan natrium.

Sebaliknya, aktivasi kronis dari sistem ini dapat menyebabkan ventrikel preload dan afterload
yang berlebihan, remodeling ventrikel, kongesti paru dan sistem sistemik serta

kelainan

elektrolit, seperti hiponatremia. (4)
Angka kejadian hiponatremia pada gagal jantung sampai saat ini masih belum jelas. Hal
ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya nilai ambang batas yang digunakan, usia
pasien, keparahan gagal jantung dan jumlah berapa kali dilakukan pemeriksaan. Diperkirakan
hiponatremia ringan-sedang terjadi sekitar 10 % pada pasien dengan gagal jantung, sedangkan
hiponatremia berat dengan serum Na < 128-130 mmol/l dilaporkan kurang dari 5 %. Akan tetapi,
ada beberapa penelitian yang menunjukkan frekuensinya meningkat, seperti pada Outcomes of a
Prospective Trial of Intravenous Milrinone for Exacerbations of Chronic Heart Failure
(OPTIME-CHF) sekitar 27 % pasien berada di nilai natrium antara 132 dan 135 mEq/l. (5)
Sementara dari studi Evaluation Study of Congestive Heart Failure and Pulmonary Artery
Catheter Effectiveness (ESCAPE), sekitar 18 % pasien gagal jantung mengalami hiponatremia.(6)
Gagal jantung menjadi penyebab paling umum rawat inap pada pasien usia> 65 tahun dan
dengan biaya tahunan melebihi $ 33 milyar. Pendekatan terapi hiponatremia pada gagal jantung

didasarkan dari pemahaman kita tentang patofisiologi penyakit.

(1)

Pilihan terapi saat ini, untuk

hiponatremia dengan gagal jantung meliputi pemberian hipertonik salin, loop diuretik, restriksi
cairan dan agen farmakologis lainnya, seperti demeclocycline, lithium karbonat dan urea.
Hipertonik salin harus diberikan dengan sangat hati-hati karena koreksi natrium yang berlebihan
yang diberikan secara lambat atau cepat dapat menyebabkan efek samping neurologis yang
berat. Loop diuretik berguna untuk mengurangi retensi air disebabkan oleh gagal jantung
kongestif. Namun, diuresis kuat seperti furosemide, dapat menyebabkan hilangnya natrium dan
elektrolit penting lainnya sehingga akan memperburuk hiponatremia. Restriksi cairan hanya
cukup efektif dan seringkali sulit untuk dilakukan di rumah sakit. Obat seperti demeclocycline
dan lithium berpotensi efek samping yang serius pada ginjal dan kardiovaskular. Penggunaan
antagonis resptor arginine vasopressin (AVP) adalah kelas baru yang menjanjikan sebagai agen
aquaretik yang meningkatkan ekskresi air bebas dengan tetap menjaga tingkat natrium dan
elektrolit penting lainnya.(4)

BAB II
HIPONATREMIA PADA GAGAL JANTUNG

Definisi Hiponatremia
Hiponatremia adalah penurunan konsentrasi serum Na di bawah 136 mmol per liter.
Hiponatremia ringan-sedang kadar serum Na antara 121-135 mmol/l dan hiponatremia berat
kadar serum kurang dari 121 mmol/l. (1, 5, 7-9)
Tanda dan gejala
Gejalanya mulai dari mual, malaise, sakit kepala, tingkat kesadaran menurun dan jika
berat dapat terjadi kejang dan koma. Gejala neurologis yang nyata paling sering diakibatkan
kadar serum natrium yang sangat rendah (biasanya <115 mEq / L), karena terjadi pergeseran
cairan osmotik intraserebral dan edema otak.(10)
Klasifikasi Hiponatremia
Klasifikasi hiponatremia menurut status volumenya (11) :

Hipovolemik hiponatremia: terjadi penurunan total body water yang diiringi penurunan
kadar natrium tubuh yang lebih besar

Euvolemik hiponatremia: kadar natrium tubuh normal yang diiringi peningkatan air tubuh
total

Hypervolemik hiponatremia: terjadi peningkatan kadar total natrium tubuh yang diiringi
peningkatan total body water yang lebih besar.

Klasifikasi hiponatremia menurut osmolalitas efektif adalah sebagai berikut sebagai berikut
(11) :

Hipotonik hiponatremia

Isotonik hiponatremia

Hipertonik hiponatremia

Berdasarkan patofisiologi yang mendasarinya, hiponatremia dapat diklasifikasikan menjadi 2
tipe (12) :

Berdasarkan status volume pasien. Sementara hiponatremia depletional biasanya pada hipovolumik. Evaluasi pasien dengan hiponatremia sebaiknya dimulai dengan anamnesis untuk mengetahui riwayat penyakit. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. dengan nilai natrium yang rendah. Hiponatremia dilutional adalah bentuk yang sering dijumpai. seperti pada kasus gagal jantung maupun keadaan euvolumik. normal ataupun meningkat  Hiponatremia depletional disebabkan oleh penurunan total natrium tubuh yang keluar baik melalui ginjal. Diagnosis Hyponatremia Secara umum etiologi hiponatremia mengarah ke manajemen terapinya. Gambar 1. hiponatremia dilutional dapat terjadi baik dalam keadaan hipervolumik. Algoritme diagnosis hiponatremia . Berikut ini adalah algoritma untuk membantu diagnosis hiponatremia (gambar 1) (13). diakibatkan oleh retensi air yang berlebihan. saluran gastrointestinal atau kehilangan darah.

ada beberapa penelitian yang menunjukkan frekuensinya meningkat. Diperkirakan hiponatremia ringan-sedang terjadi sekitar 10 % pasien dengan gagal jantung. stimulasi sistem saraf simpatis (SNS) dan sekresi Arginine Vasopressin (AVP) secara non osmotik. Sementara dari studi Evaluation Study of Congestive Heart Failure and Pulmonary Artery Catheter Effectiveness (ESCAPE). akan menyebabkan disfungsi kerja jantung yang progresif. Akan tetapi. Sistem neurohormonal ini. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor.Epidemiologi hiponatremia pada gagal jantung Frekuesi yang sebenarnya hiponatremia pada gagal jantung sampai saat ini masih belum jelas. sekitar 18 % pasien mempunyai hiponatremia Mekanisme hiponatremia pada gagal jantung Patofisiologi dari gagal jantung melibatkan interaksi yang kompleks antara aktivasi reninangiotensin aldosterone system (RAAS).(14) . sedangkan hiponatremia berat dengan serum Na < 128-130 mmol/l dilaporkan kurang dari 5 %. jika tidak dikoreksi. diantaranya nilai ambang batas yang digunakan. keparahan gagal jantung dan jumlah berapa kali dilakukan pemeriksaan. retensi garam dan air. usia pasien. seperti pada Outcomes of a Prospective Trial of Intravenous Milrinone for Exacerbations of Chronic Heart Failure (OPTIME-CGAGAL JANTUNG) sekitar 27 % pasien berada di nilai natrium antara 132 dan 135 mEq/l.

Keterangan gambar. seperti halnya angiotensin II. Sistem saraf simpatik menjadi primary integrator dari respon vasokonstriktor neurohormonal terjadinya arteri underfilling. ransangan simpatis ke nucleus supraoptik dan paraventrikular di hipotalamus menyebabkan pengeluran arginin vasopressin (AVP).Gambar 1. Patofisiologi Gagal Jantung. sehingga mengaktifkan sistem renin-angiotensin-aldosteron. Ransangan baroreseptors tekanan tinggi (lingkaran biru) di ventrikel kiri. Aktivasi simpatis juga menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan ginjal. Angiotensin II . yang mengakibatkan aktivasi eferen jalur dalam sistem saraf simpatik (hijau). Aktivasi saraf simpatis ginjal merangsang pelepasan renin dan angiotensin II. Secara bersamaan. sinus karotis dan arkus aorta menghasilkan sinyal aferen (hitam) yang merangsang pusat cardioregulatory di otak.

meningkatkan reabsorpsi natrium dan sekresi kalium dan ion hidrogen di duktus kolektivus. Aldosteron selain memiliki efek terhadap jantung juga.(15) Keutuhan sirkulasi arteri yang dipengaruhi oleh curah jantung dan resistensi pembuluh darah perifer adalah penentu dominan ekskresi natrium dan air di ginjal. curah jantung lebih rendah daripada orang normal. dan juga meningkatkan tubular reabsorpsi natrium dan menyebabkan remodelling otot jantung. (15) Gambar 2. Pada kebanyakan pasien dengan gagal jantung.menyebabkan penyempitkan pembuluh darah dan merangsang pelepasan aldosteron dari kelenjar adrenal. tirotoksikosis dan sindrom penyakit lain dapat menyebabkan bentuk gagal jantung di mana curah jantung lebih tinggi daripada normal (gambar 2). Garis biru menunjuk hormon beredar. Mekanisme gagal jantung high-output atau low-output yang menyebabkan aktivasi sistem vasokontriksi neurohormonal dan retensi sodium serta air pada ginjal . Beri-beri.

vasopressin sering disebut antidiuretic hormone (ADH). 17-19) Karena salah satu efek fisiologis utamanya adalah retensi air oleh ginjal. Sekresi hormone AVP (18) Hormon ini meningkatkan permeabilitas duktus kolektivus ginjal.(16). akibatnya. volume urin urine akan meningkat dan akibatnya osmolalitas cairan tubuh akan naik. AVP adalah hormon neuropeptide disintesis di nukleus supraoptik dan paraventrikular hipotalamus dan disimpan dan dilepaskan dari hipofisis posterior (gambar 2). 20) Gambar 2. tekanan osmotik efektif cairan tubuh menurun.Sekresi Hormon Arginine Vassopressin(AVP) Penyebab utama dari hiponatremia pada pasien dengan gagal jantung adalah sekresi hormon antidiuretik AVP yang berlebihan. (18. (20) .(10. Di lain pihak jika AVP turun. sehingga air memasuki interstitium hipertonik pada piramida ginjal. Urin menjadi lebih pekat dan volumenya menurun.

Semua adalah resptor G-protein coupled yang telah diketahui letak dan fungsinya (tabel 1). yaitu stimulasi osmotik dan non osmotik. Kerja hormone Arginin Vasopressin : Reseptor. AVP juga memiliki peran beragam dalam fisiologi banyak sistem lain. Lokasi dan Fungsi Reseptor Lokasi Fungsi V1a Otot polos pembuluh darah  Vasokontriksi  Hipertrofi otot jantung V1b (V3) V2 Trombosit Agregasi Myometrium Kontraksi uterus Hipofisis anterior  Pelepasan hormone Adrenocorticotropin  Pelepasan β-Endorphin  Resorpsi air  Induksi aquaporin-2  Pelepasan faktor von Willebrand  Pelepasan faktor VIII Tubulus kolektivus ginjal Endotel vaskuler Pengeluaran hormon AVP dikontrol oleh 2 mekanisme utama. ketika plasma menjadi hipotonik. sekresi AVP akan menurun dan solute-free water akan diekskresikan melalui ginjal. 18) Stimuli osmotik dengan cara mempertahankan tonisitas cairan ekstra seluler terutama oleh fungsi AVP dan mekanisme haus. yaitu V1a. Ketika tekanan osmotik efektif naik.Fungsi utama AVP adalah untuk mengontrol ekskresi air di ginjal dan mengatur tonus pembuluh darah melalui reseptor V2 dan V1a. Osmoreseptor berada di hipotalamus dan sangat sensitif terhadap perubahan osmolalitas plasma (± 1% sampai 2%).(20) Sebaliknya. 19. Rentang osmolalitas plasma pada orang yang sehat berkisar . V1b dan V2. 21) Kerja hormon ini diperantai oleh 3 subtipe reseptor. (17. Dengan cara ini. maka sekresi AVP akan meningkat sehingga ekskresi air di ginjal dihambat dan timbul ransangan mekanisme haus. (10) Tabel 1.(17. tonisitas cairan tubuh dipertahankan dalam kisaran normal yang sempit.

atrium kanan. Baroreseptor tersebut terbagi menjadi dua jenis : high pressure baroresptor yang berada di arcus aorta dan sinus caroticus. (17) . 21. (20) Dalam beberapa model percobaan hewan dengan gagal jantung dan pasien dengan gagal jantung kongestif. 21) Setelah pelepasan AVP ke dalam sirkulasi. Studi dari The Survival and Ventricular Enlargement menunjukkan bahwa tingkat AVP yang tinggi berhubungan dengan peningkatan angka kematian oleh karena penyakit kardiovaskular dalam 1 tahun.(18.antara 280-295 mOsm/ kg H2O. 20) Stimuli non osmotik pengeluaran AVP dapat terjadi pada penderita dengan gagal jantung.(14) Studi terbaru menunjukkan bahwa pada pasien dengan gagal jantung. Hasil akhirnya adalah kembalinya air ke sirkulasi. produksi urin yang berkurang dan lebih pekat (gambar 7). cardiac output dan tekanan darah. Sedangkan low pressure baroresptor terletak di vena cava. Hasil ini menunjukkan bahwa penurunan stroke volume dan cardiac output (seperti yang diterima oleh baroreseptor arteri di sinus karotis dan arkus aorta atau melalui mekanisme lain) adalah stimulus utama untuk pelepasan AVP secara non osmotik (arteri underfilling) (gambar 3 ). pengenceran volume plasma. dibuktikan ada peningkatan tingkat AVP yang signifikan. terdapat peningkatan yang signifikan dalam densitas relatif (sebesar 30%) dari neuron AVP pada nukleus supraoptik hipothalamus yang kemungkinan mencerminkan rangsangan kronis produksi AVP. Sekresi AVP diperantarai oleh adanya baroreseptor sebagai dampak dari perubahan volume darah. AVP mengikat reseptor V 2 di basolateral selsel ginjal duktus kolektivus. saluran air yang meningkatkan permeabilitas air di duktus kolektivus dan reabsorpsi air melalui hypertonic renal medullary osmotic gradient. Data dari Studies of Left Ventricular Dysfunction (SOLVD) menunjukkan bahwa peningkatan progresif kadar AVP bersamaan ketika gejala kongestif gagal jantung menjadi memburuk. (17. (17. atrium kiri dan pembuluh darah di paru. dengan sekresi vasopresin dihambat pada nilai 285 mOsm / kg dan dirangsang pada nilai yang lebih tinggi. Ikatan ini merangsang sintesis dan transport apikal aquaporin-2. 22) Pada pasien hiponatremia dengan gagal jantung terjadi kenaikan AVP 2 sampai 3 kali dibandingkan dengan subjek normal.

Peningkatan tekanan atrium menyebabkan secara paralel pelepasan atrial natriuretik peptide yang menyebabkan peningkatan ekskresi natrium urin dan air. peningkatan tekanan atrium menghalangi pelepasan AVP melalui Henry-Gauer reflex. (17) Keterangan gambar: Dalam jantung normal. Stimulasi reseptor V1a pada pembuluh darah menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh darah. . Proses ini bertujuan untuk mempertahankan volume. Pada gagal jantung.Gambar 3. dan perfusi organ dalam rentang normal. Pelepasan Arginine vasopressin (AVP) pada gagal jantung. menyebabkan kadar urea dalam darah meningkat. tekanan. sementara stimulasi reseptor V2 di duktus kolektivus menyebabkan peningkatan reabsorpsi air dan hiponatremia dilutional. AVP dilepaskan dari kelenjar hipofisis untuk merespon arteri underfilling. RAA: renin-angiotensinaldosteron. AVP juga meningkatkan transport urea pada duktus kolektivus. BNP: B-peptida natriuretik tipe.

Tiazid menghambat reabsorpsi natrium klorida pada tubulus distal.(23.(24) Penyebab hiponatremia lebih sering pada wanita sampai saat ini masih belum jelas.Hiponatremia terkait tiazid Diuretik dapat menyebabkan hiponatremia. Insidennya diperkirakan 1. pertama kali dilaporkan sejak 40 tahun yang lalu.1 % pada penelitian terhadap 114 pasien usia lanjut. Selanjutnya kehilangan natrium melalui urin semakin meningkat oleh karena sekresi hormone vasopresin.(24) Wanita mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi dirawat di rumah sakit karena hiponatremia yang disebabkan oleh tiazid.(23) Beberapa mekanisme hiponatremia terkait penggunaan tiazid telah diketahui. 2 mekanisme yang penting sebagai penyebab adalah defiensi kadar natrium dan peningkatan cairan tubuh. Tetapi. Hiponatremia terkait tiazid adalah hal yang sesuatu umum terjadi dan potensial mengancam jiwa. Studi yang lain melaporkan 12 kasus kematian pada 129 kasus hiponatremia berat yang diakibatkan penggunaan tiazid. 24) . yang berdampak langsung pada penghambatan kemampuan pengenceran urin. tetapi factor usia lanjut dan indeks massa tubuh rendah telah dicurigai sebagai penyebabnya.

mempertahankan fungsi ginjal dan asupan cairan yang cukup. seperti yang dibahas.(4) Pengelolaan hiponatremia pada gagal jantung memerlukan pendekatan multidisplin. Penggunaan antagonis vasopressin adalah strategi baru yang dikembangkan untuk terapi pasien hiponatremia dengan gagal jantung. termasuk penyebab yang mendasari ketidakseimbangan natrium.BAB III. Koreksi yang terlalu cepat dapat menyebabkan sindrom demielinasi osmotik. hiponatremia kronis mungkin timbul gejala atau tanpa gejala dan. karena perubahan yang cepat kadar natrium akan mengakibatkan konsekuensi yang merugikan pada pasien. Kedua. Hiponatremia akut umumnya menimbulkan gejala dan membutuhkan terapi segera. adanya gejala. Terapi Hiponatremia Pada Gagal Jantung Prinsip umum terapi Pilihan pengobatan untuk hiponatremia tergantung pada beberapa faktor. ada atau tidak gejala dan tanda-tanda gangguan neurologis harus menjadi pedoman pengobatan. tetapi perlu dilakukan pemantauan yang rutin dan hati-hati terhadap serum konsentrasi natrium untuk menghindari risiko gejala sisa neurologis yang berat. bisa menyebabkan efek samping yang merugikan. kegagalan baik untuk mengobati hiponatremia dengan segera maupun koreksi hiponatremia yang terlalu cepat.(19) 1. Hal yang perlu diperhatikan adalah kadar serum natrium. Optimalisasi fungsi jantung . status volume pasien. sedangkan asimtomatik hiponatremia dapat dikelola dengan terapi yang bekerja lambat. Pengobatan harus dimulai segera. Hiponatremia simtomatik yang tanda-tanda neurologis yang jelas umumnya membutuhkan perawatan segera dan agresif. Pengobatan didasarkan pada prinsip-prinsip pengelolaan secara umum. adanya gejala harus menuntun keputusan pengobatan. tingkat keparahan dan durasi gejala. Pertama. yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis yang merugikan dibandingkan dengan efek merugikan dari hiponatremia sendiri yang tidak diobati. meliputi optimalisasi fungsi jantung (mencegah volume overload dan blokade sistem neurohormonal). Ketiga. kadar konsentrasi natrium yang harus diterapi bergantung pada apakah hiponatremia tersebur akut atau kronis.

Efek ini dapat memperburuk fungsi jantung dan menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Efek furosemide ini berpotensi merugikan gagal jantung pasien. penurunan afterload dengan ACE inhibitor. Obat ini memutus lingkaran aktivasi neurohormonal dan melalui beberapa mekanisme yang dapat menyebabkan peningkatan fungsi jantung. Selain itu. bahwa penggunaan diuresis yang berlebihan dapat menyebabkan hipovolemia. dan AVP yang mengarah ke peningkatan tekanan pengisian ventrikel kiri dan penurunan stroke volume. bolus tunggal furosemide telah dikaitkan dengan peningkatan aktivitas renin norepinefrin. Peningkatan kadar serum natrium dan kehilangan air dapat meringankan gejala kongestif yang diiringi dengan penurunan afterload dan peningkatan efek inotropik.(19) Sedangkan manajemen pasien gagal jantung yang lebih kompleks adalah penghambatan sistem saraf simpatis dan Sistem Renin-Angiotensin-Aldosterone dengan penggunaan β-blocker (BB) dan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) atau angiotensin receptor blocker (ARB). curah jantung yang cukup akan mengurangi stimulasi baroreseptor dan mengurangi aktivasi sistem saraf simpatis dan Renin-Angiotensin-Aldosterone System mengakibatkan berkurangnya aviditas ginjal terhadap natrium dan air serta menurunkan sekresi hormon AVP. diuretik tetap menjadi andalan dalam pengobatan gagal jantung dan memiliki efek yang kompleks pada kadar serum natrium. aktivasi sistem saraf simpatis dan Sistem Renin-Angiotensin-Aldosterone dan menurunkan fungsi ginjal. nitrat dan penggunaan agen inotropik positif mungkin digunakan untuk meningkatkan curah jantung sehingga meningkatkan kadar natrium pada pasien dengan hiponatremi. Obat diuretic yang digunakan dalam manajemen gagal jantung adalah loop diuretik atau kombinasi loop diuretik dan tiazid sehingga dapat menyebabkan peningkatan kadar natrium pada pasien hiponatremi. sehingga dapat mengakibatkan hiponatremia oleh karena peningkatan sekresi AVP. Selain itu. Blokade aksi aldosteron dengan spironolactone atau eplerenone mengurangi lamanya rawat inap dan angka kematian pasien gagal jantung dengan New York Heart Association (NYHA) kelas III dan IV. keseimbangan air dan natrium. Akan tetapi perlu diperhatikan. sehingga dapat meningkatkan curah jantung pada pasien volume overload. Pada pasien dengan gagal jantung akut.Secara sederhana manajemen pasien gagal jantung adalah memastikan cukupnya curah jantung. juga dapat menyebabkan penurunan afterload ventrikel kiri sehingga memfasilitasi peningkatan curah jantung. Secara ideal. .(19) Seperti dijelaskan sebelumnya.

Mempertahankan fungsi ginjal Pasien dengan gangguan fungsi ginjal memiliki kemampuan penurunan untuk ekskresi Na dan air sehingga meningkatkan risiko terjadinya hiponatremia. Sebagai terapi diuretik adalah jelas penting pada pasien tersebut (setidaknya dalam jangka pendek). spironolactone dapat menyebabkan atau memperburuk hiponatremia. diuretik hemat nonpotassium dapat menyebabkan hipokalemia signifikan. Loop diuretik. pada kesempatan. kemungkinan berhubungan dengan respon natriuretik berlebihan spironolactone. 14 Mekanisme fenomena ini belum hati-hati dipelajari. Perbedaan antara kedua kelas diuretik terletak pada pengamatan bahwa diuretik tipe thiazide tidak mengganggu kemampuan berkonsentrasi urin. umumnya meningkatkan izin H2O gratis (jika dasar izin H2O gratis abnormal). maka efek loop diuretik pada serum Na sulit untuk diprediksi secara akurat sehingga pemantauan sering serum Na sangat penting. diuretik kemungkinan akan tetap menjadi komponen penting dari manajemen gagal jantung di masa mendatang. Jika cukup signifikan. dengan demikian. Selain itu. Terapi diuretik pada pasien HF hyponatremic menyajikan tantangan khusus dalam bahwa terapi seperti itu sering perlu setidaknya untuk sementara ditarik-namun pasien tersebut umumnya perlu diuretik untuk mengurangi overload volume. Bila diberikan bersamaan dengan diuretik lain. Dalam hal itu. hypomagnesemia. Oleh karena itu pemakaian agen diuretic harus secara bijaksana. thiazidetype diuretik harus dihindari dan loop diuretik sebaiknya diberikan. diuretik yang paling tepat harus dipilih. terapi pengganti ginjal (hemodialisis atau peritoneal dialisis) yang dapat membuang kelebihan natrium dan air sehingga dapat mempertahankan kadar natrium menjadi normal. membatasi penggunaan obatobatan nefrotoksik dan zat kontras dan menghindari diuresis berlebihan dapat membantu untuk membatasi risiko hiponatremia. Upaya untuk mempertahankan fungsi ginjal tetap normal termasuk pengendalian tekanan darah. bagaimanapun. 2. dan penggunaannya mungkin. Pasien dengan gagal ginjal memerlukan. kerugian volume yang dipicu oleh spironolactone dapat . Akan tetapi.Penggunaan diuretik telah dikaitkan dengan peningkatan angka mortalitas baik pada gagal jantung kronik maupun akut. penggunaannya secara signifikan dapat menurunkan izin H2O bebas dan dengan demikian memperburuk hiponatremia. meningkatkan serum Na + nilai. Karena fisiologi yang kompleks dari gagal jantung. dan penurunan fungsi ginjal. Diuretic Therapy. Ketika hadir.

Pembatasan cairan Pasien gagal jantung memiliki kemampuan terbatas untuk mengekskresikan kelebihan air bebas diet karena tingginya hormone AVP. 14 The mechanism of this phenomenon has not been carefully studied. Diuretic therapy in the hyponatremic HF patient presents a particular challenge in that such therapy often needs to be at least temporarily withdrawn—and yet such patients generally need diuretics to lessen the volume overload. As diuretic therapy is decidedly important in such patients (at least in the short term). Dalam contoh kedua. akibatnya pasien gagal jantung dengan hiponatremia harus membatasi asupan air.mendorong penurunan GFR dan / atau peningkatan proksimal resorpsi H2O tubular. on occasion. When administered concomitantly with other diuretics. pemantauan sering akan membantu memastikan kenaikan yang sesuai dalam serum Na dalam menanggapi intervensi. and their use may. In either instance. Tingkat pembatasan yang diperlukan akan pasien tertentu dan ditentukan oleh tingkat neurohormonal aktivasi pada setiap pasien. spironolactone may cause or aggravate hyponatremia. hiponatremia menjadi lebih mungkin. The distinction between these two classes of diuretics lies in the observation that thiazide-type diuretics do not interfere with urinary concentrating ability. 4. Loop diuretics. Fluid restriction is of limited utility in the acute management of . Tidak jelas apakah spironolactone itu sendiri yang harus disalahkan atas bentuk hiponatremia HFrelated atau jika ini adalah fenomena kelas untuk semua reseptor antagonis aldosteron. In that regard. If significant enough. their use can significantly decrease free H2O clearance and thereby worsen hyponatremia. thiazidetype diuretics should be avoided and loop diuretics preferably given. Sekali lagi. hyponatremia becomes more likely. the most appropriate diuretic should be chosen. Fluid restriction is the cornerstone of the treatment of all euvolemic and hypervolemic forms of hyponatremia. the volume losses triggered by spironolactone can prompt a fall in GFR and/or an increase in proximal tubular H2O resorption. it likely relates to an excessive natriuretic response to spironolactone. It is unclear whether spironolactone itself is to blame for this form of HFrelated hyponatremia or if this is a class phenomenon for all aldosterone receptor antagonists. however. generally increase free H2O clearance (if baseline free H2O clearance is abnormal). increase serum Na+ values. thus. When present.

total fluid intake should be kept in the range of 500–800 mL. asupan cairan total yang harus disimpan di kisaran 500-800 mL. Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin receptor blocker (ARB) telah dicoba dalam upaya untuk menekan haus drive. fluid intake should limited to such a degree that a negative balance state arises relative to potential sources of free H2O gain. untuk tipu ini untuk bekerja. Restriksi cairan dari utilitas terbatas dalam pengelolaan akut hiponatremia. tapi mereka umumnya memiliki keberhasilan terbatas Lithium. is not curbed by normal osmoregulatory mechanisms. mungkin terkait dengan peningkatan angiotensin II tingkat. asupan cairan harus dibatasi sedemikian rupa sehingga keadaan saldo negatif muncul relatif terhadap potensi sumber keuntungan H2O gratis. In most cases. presumably by lessening the dipsogenic effect of angiotensin II. Ini merupakan tantangan khusus pada pasien rawat inap yang sering memiliki asupan tinggi secara wajib sebagai akibat dari berbagai terapi IV. for this stratagem to work. an important treatment element in the more long-term handling of hypervolemic forms of hyponatremia. sebuah elemen penting dalam pengobatan lebih jangka panjang penanganan bentuk hypervolemic hiponatremia. Pada awal 1970-an. mungkin dengan mengurangi efek dipsogenic angiotensin II. Most HF patients have significant difficulty in adhering to such a restrictive prescription since their thirst drive. possibly linked to elevated angiotensin II levels. Hal ini. It is. Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitors and angiotensin receptor blockers (ARBs) have been tried in an attempt to suppress thirst drive. tidak diatasi oleh mekanisme osmoregulatory normal.hyponatremia. When this strategy is used. lithium (Li2 +) karbonat adalah satu-satunya obat yang tersedia untuk mengobati sindrom hormon antidiuretik (SIADH) . bagaimanapun. however.15 Itu digunakan dalam kondisi itu karena Li2 + menghambat aksi antidiuretik AVP dengan mengurangi V2 stimulasi . This is a particular challenge in hospitalized patients who often have obligatorily high intakes as a result of various IV therapies. Ketika strategi ini digunakan. Kebanyakan pasien HF mengalami kesulitan yang signifikan dalam mengikuti suatu resep ketat karena haus drive mereka.(25) Restriksi cairan landasan pengobatan semua bentuk euvolemic dan hypervolemic hiponatremia. Dalam kebanyakan kasus. but they generally have had limited success.

dengan demikian.reseptor-dimediasi adenyl cyclase. Li2+ carbonate can reverse the hyponatremia of SIADH within 2 days of beginning therapy. tetapi umumnya membutuhkan beberapa hari untuk efek maksimal untuk mengambil terus. Risiko Li2 + toksisitas juga meningkat dengan ACE inhibitor dan / atau terapi ARB. lithium (Li2+) carbonate was the only drug available to treat the syndrome of antidiuretic hormone (SIADH). including age and GFR. Dengan demikian. In the early 1970s. In so doing. Li2 + karbonat dapat membalikkan hiponatremia dari SIADH dalam waktu 2 hari terapi awal.16 Li2 + izin turun secara signifikan sebagai GFR jatuh. a prerequisite to Li2+ use is frequent therapeutic monitoring to ensure that blood levels remain in a nontoxic range.15 Li2+ pharmacokinetics are influenced by a number of factors. but it generally requires several days for its maximal effect to take hold. prasyarat untuk Li2 + digunakan adalah pemantauan terapi sering untuk memastikan bahwa tingkat darah tetap berada dalam kisaran beracun.17 Jika Li2 + diberikan dalam hiponatremia HF terkait itu adalah penggunaan hanya jika kelebihan AVP adalah elemen yang menonjol dari sindrom. thus.16 Li2+ clearance drops significantly as GFR falls.15 It was of use in that condition because Li2+ inhibited the antidiuretic action of AVP by reducing V2 receptor-mediated stimulation of adenyl cyclase.17 If Li2+ is administered in HF-related hyponatremia it is of use only if excess AVP is a prominent element of the syndrome. . Penghentian Li2 + menghasilkan kembali secara bertahap dari hyponatremic state. izin H2O bebas meningkat. Demeclocycline. Profil efek samping dari Li2 + merupakan faktor pembatas utama dalam penggunaannya untuk euvolemic dengan bentuk hypervolemic hiponatremia. in the setting of HFrelated hyponatremia (where GFR is commonly reduced). free H2O clearance increased. dalam pengaturan hiponatremia HF terkait (di mana GFR umumnya berkurang). The risk of Li2+ toxicity also increases with ACE inhibitor and/or ARB therapy. Discontinuation of Li2+ results in a gradual return of the hyponatremic state.15 Li2 + farmakokinetik dipengaruhi oleh sejumlah faktor. obat yang biasa diberikan kepada HF patients. drugs commonly given to HF patients. termasuk usia dan GFR. The side-effect profile of Li2+ is a major limiting factor in its use for euvolemic to hypervolemic forms of hyponatremia.

terutama pada pasien dengan sirosis.or 4-day intervals. . be overtly nephrotoxic. iron. Demeclocycline biasanya diberikan dalam dosis terbagi mulai dari 600-1200 mg / d dan tidak harus diberikan dengan produk yang mengandung aluminium. Renal function should be monitored if the patient is being regularly treated with demeclocycline since it can cause reversible azotemia and. Tiga dari pasien tidak menanggapi Li2 + karbonat (600-900 mg / d diberikan selama 3-5 hari). atau kalsium dalam kation ini mengganggu penyerapan.Demeclocycline adalah antibiotik tetrasiklin yang mengurangi efek antidiuretik AVP dan agak lebih efektif daripada Li2 + dalam hal itu. Dibutuhkan beberapa hari untuk efek aquaretic dari demeclocycline untuk memaksimalkan. pada kesempatan. magnesium. Fungsi ginjal harus dipantau jika pasien sedang diobati dengan teratur demeclocycline karena dapat menyebabkan azotemia reversibel dan. researchers compared the effectiveness of demeclocycline to Li2+ carbonate in the treatment of 10 patients with chronic SIADH. with two of these same patients becoming confused and disoriented. Pada tahun 1978. besi.atau interval 4 hari. magnesium. Demeclocycline is typically administered in divided doses ranging from 600–1200 mg/d and should not be given with products containing aluminum. particularly in patients with cirrhosis. peneliti membandingkan efektivitas demeclocycline ke Li2 + karbonat dalam pengobatan 10 pasien dengan SIADH kronis. Changing the therapy for these patients to demeclocycline (600–1200 mg/d given for 5–14 days) returned serum Na+ values to normal. It takes several days for the aquaretic effect of demeclocycline to maximize. therefore. dengan dua pasien yang sama menjadi bingung dan bingung. Three of these patients did not respond to Li2+ carbonate (600–900 mg/d given for 3–5 days). memungkinkan asupan H2O terbatas pada semua pasien. or calcium in that these cations impair its absorption. on occasion. its dose need not be increased any more frequently than at 3. sehingga dosisnya tidak perlu ditingkatkan lagi sering dari pada 3 . terang-terangan nefrotoksik. permitting unrestricted H2O intake in all patients. Demeclocycline is a tetracycline antibiotic that reduces the antidiuretic effect of AVP and is somewhat more effective than Li2+ in that regard. Mengubah terapi bagi pasien untuk demeclocycline (600-1200 mg / d diberikan untuk 5-14 hari) kembali serum Na + nilai normal. In 1978.

penghentian setiap thiazide diuretik. Normalization of Na+ can be accelerated in this situation and in more marked hyponatremia by concomitant hypotonic fluid restriction. discontinuation of any thiazide diuretic. 3.10 Peningkatan penanganan ginjal H2O dengan obat ini dapat berhubungan dengan kemampuan mereka untuk meningkatkan GFR juga untuk menguntungkan mengubah proksimal Na + dan H2O handling. Becausena highly activated RAAS represents a principal cause of hyponatremia in decompensated HF patients.5.12 ini efek menguntungkan dari ACE inhibitor atau terapi ARB dianggap asalkan cardiac output tetap memadai untuk perfusi ginjal.8-11 Untuk hiponatremia ringan (Na + serum konsentrasi 130-135 mmol / L).(25) The improvement in hyponatremia with these drugs presumably relates to the dipsogenic and AVP-releasing actions of angiotensin II being lessened in conjunction with improved renal handling of H2O. simply adding or increasing the dose of an ACE inhibitor is often sufficient.4 ACE Inhibitors and ARB Because na sangat aktif Raas merupakan penyebab utama hiponatremia pada pasien dekompensasi HF. ACE inhibitors or ARBs remain mainstays of its chronic management. cukup menambahkan atau meningkatkan dosis inhibitor ACE seringkali cukup. pasien dengan HF hyponatremic biasanya lebih rentan terhadap efek hipotensi dan azotemic ACE inhibitor. dan / atau penambahan loop diuretik Peningkatan hiponatremia dengan obat ini diduga berkaitan dengan dipsogenic dan AVPreleasing tindakan angiotensin II yang berkurang dalam hubungannya dengan penanganan ginjal peningkatan H2O.10 Improved renal handling of H2O with these drugs can relate to their ability to increase GFR as well as to favorably alter proximal Na+ and H2O handling. Dengan demikian. Dalam hal ini.12 These .8–11 For mild hyponatremia (serum Na+ concentration of 130–135 mmol/L). Normalisasi Na + dapat dipercepat dalam situasi ini dan ditandai hiponatremia lebih oleh pembatasan bersamaan hipotonik cairan. penghambat ACE atau ARB tetap andalan kronis management. ketika obat-Raas menghambat digunakan. and/or addition of a loop diuretic. berarti tekanan arteri harus disimpan> 60-65 mm Hg dan bahkan lebih tinggi jika penyakit arteri ginjal yang signifikan hadir.8 mungkin karena mereka berdua lebih sakit dan terlalu bergantung pada Raas nyata diaktifkan untuk pemeliharaan tekanan darah sistemik (BP) dan perfusi ginjal.

thus. (25) 5. offer a viable treatment alternative for this disease. lixivaptan. dengan demikian. menawarkan alternatif pengobatan yang layak untuk ini disease. compounds designed to specifically block the antidiuretic effect of AVP. Excessive AVP secretion is an important component of HF-related hyponatremia20– 23 and one that can be addressed only so well with existing therapies such as Li2+ and demeclocycline18. mean arterial pressure should be kept >60–65 mm Hg and even higher if significant renal arterial disease is present. hyponatremic patients with HF are typically more susceptible to the hypotensive and azotemic effects of ACE inhibitors.2 These drugs have all been shown to be effective in improving renal H2O handling and hyponatremia in conditions associated with H2O retention . Vasopressin Receptor Antagonists. pengembangan nonpeptide vasopresin antagonis reseptor. Sekresi AVP berlebihan merupakan komponen penting dari HF terkait hyponatremia2023 dan satu yang hanya dapat diatasi dengan baik dengan terapi yang ada seperti Li2 + dan demeclocycline18.24–26 Three drugs in this class are currently under development: conivaptan. the development of nonpeptide vasopressin receptor antagonists.8 probably because they are both more ill and are overly dependent on the markedly activated RAAS for maintenance of systemic blood pressure (BP) and renal perfusion.beneficial effects of ACE inhibitor or ARB therapy are seen as long as cardiac output remains adequate for renal perfusion. Vasopresin antagonis. and tolvaptan (Table). when these RAAS-inhibiting drugs are used.3.24-26 Tiga obat di kelas ini sedang dalam pengembangan: conivaptan.4. Thus. dan tolvaptan (Tabel) .2 obat ini semuanya telah terbukti efektif dalam meningkatkan penanganan H2O ginjal dan hiponatremia pada kondisi yang berhubungan dengan retensi H2O. lixivaptan. In this regard. senyawa yang dirancang untuk khusus memblokir pengaruh antidiuretik AVP.

an H2O diuresis occurs with conivaptan. Output urine meningkat secara dosis-tergantung selama 4 jam pertama setelah pemberian. namun tidak jelas dalam studi ini apakah penurunan awal dalam tekanan pengisian bisa dipertanggungjawabkan hanya oleh efek aquaretic ini majemuk.28 With blockade of V2 receptors. atau 40 mg) pada pasien dengan HF kronis yang stabil ditemukan bahwa pemberian akut conivaptan baik mengurangi tekanan kapiler paru dan menimbulkan suatu diuresis H2O (Gambar 1). complicated by the lack of long-term experience with a pure V1a receptor antagonist. while its blockade of the V1a receptor can be expected to relax vascular smooth muscle cells and lower systemic vascular resistance. bagaimanapun. Pengembangan formulasi oral conivaptan dihentikan karena potensi tinggi untuk berinteraksi dengan sistem sitokrom P450 ketika diberi orally. sementara blokade dari reseptor V1a dapat diharapkan untuk bersantai pembuluh darah halus sel otot dan resistensi vaskuler sistemik rendah. Interpretasi perubahan hemodinamik terlihat dengan gabungan V1a/V2 antagonis reseptor. . 20.28 Dengan blokade reseptor V2.24. Conivaptan adalah nonpeptide V1a/V2 antagonis reseptor yang ada di tahap akhir pembangunan di infus formulation. dengan urin osmolalitas diamati diuresis air. Interpretation of the hemodynamic changes seen with a combined V1a/V2 receptor antagonist is. rumit oleh kurangnya pengalaman jangka panjang dengan V1a antagonis reseptor murni. Conivaptan is a nonpeptide V1a/V2 receptor antagonist that is in the later stages of development in an IV formulation. yang mungkin manfaat dari curah jantung meningkat dan resistensi perifer berkurang disebabkan oleh V1a blokade. Telah berspekulasi bahwa blokade reseptor V1a mungkin menguntungkan pada pasien HF. however. 28 Ada informasi terbatas mengenai senyawa ini pada pasien dengan HF.Conivaptan. sebuah diuresis H2O terjadi dengan conivaptan. who may benefit from the increased cardiac output and reduced peripheral resistance induced by V1a blockade. It has been speculated that blockade of V1a receptors may be advantageous in HF patients. Sebuah besar Pengalaman singledose (10.

terutama dengan dosis yang lebih tinggi. namun lima pasien (50%) mengambil 250 mg lixivaptan dua kali sehari telah ke telah dipotong obat pada beberapa kesempatan selama 7 hari ini sidang karena dehidrasi yang signifikan.28 There is limited information regarding this compound in patients with HF.30. yang meningkat secara signifikan pada akhir penelitian di 125 . and SIADH. dengan tidak ada perubahan signifikan dalam BP. seperti yang ditunjukkan oleh rasa haus yang meningkat dan peningkatan ditandai dalam serum konsentrasi Na +. with urine osmolality observed water diuresis.Development of an oral formulation of conivaptan was discontinued because of its high potential to interact with the cytochrome P450 system when given orally. kadar kreatinin serum. . Urine output increased in a dose-dependent manner during the first 4 hours after administration. Lixivaptan menurunkan osmolalitas urine dan meningkatkan konsentrasi Na + serum pada pasien dengan HF dan hyponatremic cirrhosis. efek aquaretic dari lixivaptan sehubungan dengan izin H2O bebas. A significant improvement in free H2O clearance was noted with the two highest doses of lixivaptan.30. Lixivaptan adalah V2 antagonis reseptor oral aktif dengan aktivitas aquaretic jelas dibuktikan. 20. Dari catatan. A large singledose experience (10. Lixivaptan is an orally active V2 receptor antagonist with clearly demonstrable aquaretic activity.24. atau urin + ekskresi Na. Lixivaptan. or 40 mg) in patients with chronic stable HF found that the acute administration of conivaptan both reduced pulmonary capillary wedge pressures and elicited an H2O diuresis (Figure 1). dan SIADH. lixivaptan (25. Sebuah peningkatan yang signifikan dalam bea H2O bebas tercatat dengan dua dosis tertinggi lixivaptan.31 For example. plateaued dengan pemberian berulang. cirrhosis. Lixivaptan lowers urine osmolality and increases serum Na+ concentration in hyponatremic patients with HF and cirrhosis.mg kelompok dosis dua kali sehari. 125. it was unclear in these studies whether the initial fall in filling pressures could be accounted for solely by the aquaretic effect of this compound. 31 Misalnya. sirosis. however.dan 250 . lixivaptan (25. atau 250 mg dua kali sehari selama 7 hari berturut-turut) dievaluasi pada populasi beragam dengan hiponatremia (<130 mmol / L selama 3 hari berturut-turut) karena HF. or 250 mg twice daily for 7 consecutive days) was evaluated in a diverse population with hyponatremia (<130 mmol/L for 3 consecutive days) due to HF. 125. meskipun dipertahankan. Ini mungkin berhubungan dengan perubahan tingkat AVP. with no significant changes in BP.

or 90 mg/d for up to 60 days) enrolled 319 patients hospitalized because of an acute HF exacerbation. in a post hoc analysis.serum creatinine levels.and 250. or 60 mg once daily for 25 consecutive days) on body weight was assessed. nor did it result in significant renal function or serum K+ changes. a sustained H2O diuresis was evident. The decrease in body weight with tolvaptan was not associated with changes in heart rate or BP. It would not be unreasonable to presume that AVP levels rose in the course of this study (in response to the volume loss) and that the ensuing stimulation of V1a receptors preserved BP. In these studies. To date. tolvaptan is the only V2 receptor antagonist that has been studied for any extended period in humans. plateaued with repeated administration. This lower mortality in .mg twice daily dosing groups. the effect of tolvaptan (30. 45.32. Tolvaptan-treated patients experienced a significant reduction in body weight in the first 24 hours of the study. 30.79 and 0. There were no differences in worsening HF at 60 days between the tolvaptan and placebo groups despite the weight difference between these groups. On Day 1 of these studies. including diuretics. Of note. The initial body weight loss on Day 1 was maintained without further change throughout the study—a finding that could have resulted from an increased fluid intake and/or a diminished response to the drug An additional clinical trial with tolvaptan (placebo. 60-day mortality was lower in the higher-risk (blood urea nitrogen >29 mg/dL or severe systemic congestion) tolvaptan-treated patients. however. or urinary Na+ excretion. Patients received standard therapy. particularly with the higher doses.96 kg. Tolvaptan. This may have related to changes in AVP levels. five patients (50%) taking 250 mg of lixivaptan twice daily had to have medication withheld on multiple occasions during this 7-day trial because of significant dehydration. 60. The absence of a BP drop in this study is unusual. which increased significantly by the end of the study in the 125. a dose-dependent total urinary Na+ loss was also observed in the first 24 hours of treatment. which further decreased by the time of discharge and was maintained during follow-up (Figure 2).33 Also. as indicated by increased thirst and marked increases in serum Na+ concentration. the aquaretic effects of lixivaptan with respect to free H2O clearance.33 In an early study in patients with mild clinical HF (30% of whom had serum Na+ values <136 mmol/L). with body weight falling on average between 0. considering the level of diuresis sustained. although maintained.

(12) Sejumlah obat tersebut telah dikembangkan dan bekerja baik pada reseptor V2 secara selektif atau kombinasi V2 atau Reseptor V1a. Mengingat peran utama hormon AVP yang menyebabkan retensi air dan menimbulkan hiponatremia.12 mg of furosemide equivalents (a 43-mg reduction from the mean daily dose during the period of hospitalization). Georghiade dkk membandingkan dengan plasebo tolvaptan dengan placebo pada 254 pasien rawat jalan NYHA kelas III atau IV yang rutin mengkonsumsi terapi standar gagal jantung. Walaupun semua pasien yang . Reseptor AVP adalah reseptor G-protein-coupled dengan tiga subtipe: V1A. tolvaptan. Hasil positif ini telah menyebabkan sejumlah uji klinis yang menggunakan agen ini pada pasien gagal jantung. For example.treated patients received a mean ± SD daily dose of 79. 45 atau 60 mg/hari) atau plasebo untuk total selama 25 hari.3±139. dan V2.tolvaptan-treated patients goes unexplained at the current time. Studi praklinis pada hewan dan manusia menunjukkan bahwa pemberian antagonis reseptor V2 menyebabkan peningkatan ekskresi air bebas dengan kehilangan natrium yang sedikit meningkat dan tidak disertai aktivasi kompensasi dari RAAS. Reseptor V2 terletak di tubulus ginjal pengumpul (renal collecting tubules) dan endotel pembuluh darah yang membantu efek antidiuretik dari AVP. Hormon AVP juga menyebabkan vasokonstriksi dan hipertrofi kardiomiosit. V1B. compared with 102. in the outpatient setting.mg reduction from the mean daily dose during the period of hospitalization). Agen ini menyebabkan kehilangan air bebas di ginjal yang disebut aquaresis.36±116. Kedua V1A dan V1B mengaktifkan fosfolipase C yang mengakibatkan peningkatan kalsium intraseluler.05 mg of furosemide equivalents for the placebo group (a 9. it is tempting to speculate that the lower mortality in this study related to the decreased diuretic dose in tolvaptantreated patients. dan selektif meningkatkan ekskresi solute-free water oleh ginjal. Pasien menerima 1 dosis dari 3 dosis oral tolvaptan yang tersedia di pasaran yaitu (30. maka pemeberian antagonis hormon AVP tampaknya menjadi pilihan terapi yang rasional pada pasien hiponatremia dengan gagal jantung. however. Beberapa antagonis AVP telah dikembangkan untuk digunakan dalam pengobatan hiponatremia. AVP antagonis reseptor adalah kelas obat baru yang telah dikembangkan untuk pengobatan hiponatremia. sehingga penghambatan terhadap hormon ini memiliki efek yang menguntungkan bagi manajemen gagal jantung.

Sebuah studi serupa terhadap 319 pasien pasien secara acak yang menerima 1 dosis tolvaptan (30. Pasien di acak untuk menerima Tolvaptan 30mg/hari atau plasebo di samping pemberian terapi standar gagal jantung. 60.5mmol / L dan 1. Dari catatan. Ascending dosis tunggal obat yang digunakan dan diproduksi peningkatan tergantung dosis dalam output urin tetapi tidak ada jangka panjang hasil dengan agen ini telah dipublikasikan.9 bulan. dilakukan penilaian hasil jangka pendek dan jangka panjang pengobatan. Pasien yang diterapi dengan tolvaptan. lain antagonis reseptor V2-[46]. pengobatan dengan tolvaptan juga menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam haus. . Pasien yang diobati tolvaptan juga mengalami penurunan yang signifikan dalam berat badan pada 24 jam (median 2. ginjal fungsi. Perbaikan dyspnea dan serum Na yang dipertahankan selama ikutan dengan efek samping yang serupa dengan yang terlihat pada sidang jangka pendek.8mmol / L dalam tolvaptan dan kelompok plasebo. Sebuah studi yang lebih besar terhadap 4133 pasien gagal jantung akut yang dirawat. 28% yang memiliki hiponatremia di nilai dasar mempunyai kenaikan terbesar. kelompok yang diberikan tolvaptan memiliki penurunan yang signifikan dalam berat badan dan sesak nafas. atau rawat inap GAGAL JANTUNG antara kelompok. dan hipernatremia (1. kematian kardiovaskular. Hasil jangka pendek serupa peningkatan output urin dan natrium serum ditemukan pada pasien dengan GAGAL JANTUNG stabil menerima lixivaptan.4% vs 0%). Pasien-pasien ini juga memiliki penurunan yang signifikan pada berat badan dengan perbaikan pada gejala gagal jantung. Pasien dalam kelompok tolvaptan mengalami peningkatan sedikit kadar serum Na. Sebuah analisis subkelompok dari 8% dari pasien dengan dasar hiponatremia menemukan serum Na ditingkatkan oleh 5.3% pasien dengan dasar hiponatremia. sekitar 80% serum Na menjadi normal pada hari pertama dibandingkan dengan 40% dari mereka yang menerima plasebo. atau 90 mg) atau plasebo. kenaikan terbesar dalam Na terlihat pada 21. di samping terapi standar gagal jantung selama 60 hari. masing-masing.05 Kg dalam dosis tertinggi kelompok) dengan tidak ada perubahan dalam denyut jantung. tidak menemukan perbedaan dalam semua penyebab kematian.diobati dengan tolvaptan memiliki peningkatan serum Na. Sidang lama termfollow-up atas amean dari 9. tekanan darah. Tujuan jangka pendek dalam 7 hari menyatakan bahwa ada perbedaan dalam perbaikan status klinis pasien secara umum. Hal ini juga memberikan hasil yang sama dengan penelitian sebelumnya. poliuria. atau perkembangan hipokalemia.

7% dari kelompok plasebo mencapai tujuan ini. sedangkan hanya 20. di samping perawatan GAGAL JANTUNG standar [47].Antagonisme reseptor V1a selain V2 reseptor memiliki manfaat teoritis tambahan penurunan afterload dengan menghambat AVP-dimediasi kontraksi otot polos. belum ada penelitian secara langsung membandingkan efek V2 dan gabungan V2/V1arecpetor antagonis yang masih merupakan pertanyaan klinis yang menarik. Beberapa penelitian dari conivaptan pada pasien GAGAL JANTUNG telah menghasilkan Hasil serupa dengan yang V2-reseptor antagonis [48 -50]. Itu Penting untuk dicatat bahwa dalam semua studi tersebut. 84 pasien dengan hiponatremia secara acak menerima 1 dari 2 dosis conivaptan (bolus 20mg diikuti oleh 96 jam infus 40 atau 80mg/day) atau plasebo. tingkat na meningkat 6mmol / L atau dinormalisasi di 69% dari 40mg/day dosis dan 88. dismenore. kombinasi dengan dosis tinggi conivaptan (80 atau 120mg/day) menyebabkan peningkatan kecil tapi signifikan dalam serum Na. Reseptor Antagonis Potensi aksi neuropeptide V1a Recolvaptan Raynaud’s syndrome. Di Selain itu. kombinasi furosemide dan conivaptan diproduksi peningkatan tergantung dosis dalam output urin [50]. Sampai saat ini. antagonis vasopresin telah digunakan dalam hubungannya dengan pengobatan GAGAL JANTUNG biasa (termasuk diuretik). dan belum dipelajari sebagai pengganti diuretik loop. Kedua dosis yang conivaptan terkait dengan peningkatan yang signifikan dalam serum Na. Penerima conivaptan mengalami peningkatan output urin dengan penurunan tekanan pengisian kiri dan sisi kanan dan memiliki efek samping yang minimal.5% dari dosis 80mg/day demi hari 4. ada perbaikan yang jelas dalam gejala pada mayoritas studi. Sementara tidak ada efek terhadap mortalitas telah terlihat dalam uji klinis. double-blind. multicenter studi. ACTH-independent macronodular adrenal hyperplasia . persalinan premature. Conivaptan adalah salah satu agen tersebut dengan persetujuan FDA untuk pengobatan hiponatremia hypervolemic. Peran yang tepat dari antagonis vasopresin dalam manajemen dari hyponatremic pasien GAGAL JANTUNG masih belum jelas. placebo-controlled. Dalam acak. Bila dibandingkan dengan furosemid saja.

sirosis) Tolvaptan Hiponatremia. Congestive Heart Failure . Congestive Heart Failure. sirosis Conivaptan Hiponatremia.V1b Nelivaptan Gangguan depresi V2 Lixivaptan Hiponatremia (Congestive Heart Failure. Congestive Heart Failure. polycystic kidney disease V1a + V2 Mozavaptan Hiponatremia (hanya SIADH) Satavaptan Hiponatremia. SIADH.

Goldsmith SR. 7. 2007. Current Treatments and Novel Pharmacologic Treatments for Hyponatremia in Congestive Heart Failure. 2005.33(6):322-9. Congestive Heart Failure. Sterns RH. 2.120(11):S1-S21. Kremastinos D. 8. Hyponatremia. 2005. Shah MR. 3. Goldsmith SR.11(5):274-7. European Journal of Heart Failure. Binanay C. Greenberg A. 6. Verbalis JG. Kazory A. O'Connor CM. Gustafsson F. The American journal of cardiology. et al. Schou M. 4. 2005. Parissis J. 9.1. European Heart Journal. 2007. Sica DA. Prevalence and prognostic significance of hyponatraemia in outpatients with chronic heart failure. . Filippatos G. 2009.13(9):968-73. Balling L. Videbæk L.95(9):1423.14(2):59-63.342(21):1581-9. Schrier RW. Gheorghiade M. Farmakis D. Evaluation study of congestive heart failure and pulmonary artery catheterization effectiveness: the ESCAPE trial. The American journal of medicine. 5. Wiggers H. Hyponatremia in heart failure. Sopko G. Clinical Cardiology. Madias NE. Heart Fail Rev. et al. 2011. New England Journal of Medicine. Hyponatraemia in heart failure: a call for redefinition. Hasselblad V. JAMA : the journal of the American Medical Association.294(13):162533.28(8):920-1. Hyponatremia in Heart Failure: Revisiting Pathophysiology and Therapeutic Strategies. 2010. Adrogué HJ. 2000. Hildebrandt P. Hyponatremia Treatment Guidelines 2007: Expert Panel Recommendations. Ghali JK. Califf RM. Hyponatremia and Heart Failure—Pathophysiology and Implications.

2008. Romanovsky A. 18. Brooks H. 21. 22.10. Whellan DJ. Abraham WT. Jao GT. 2012. Schrier RW.118(4):410-21.62(1):67-72. . 2007. Ronco C. 2010. Vaptans: A new option in the management of hyponatremia2012 July 1. Tetbook of Medical Physiology. Circulation. Hofman A. 11. Kumar S. Uitterlinden AG. Hoorn EJ. Lerma EV. 2003. Rubin S. Rudolph EH. Hyponatremia in acute decompensated heart failure: mechanisms. Hospital Physician. Managing Hyponatremia in Heart Failure. 24.33(11):666-71. Aditya S. Pennsylvania: Elsevier Inc. Am J Kidney Dis. Barman SM. Thiazide- Associated Hyponatremia. Water and sodium retention in edematous disorders: role of vasopressin and aldosterone. US Cardiology. Hyponatremia and Vasopressin Antagonism in Congestive Heart Failure. Congestive Heart Failure. 2006. Hyponatremia in Heart Failure: The Role of Arginine Vasopressin and Its Antagonism. 2008:4. 1999. Schrier RW. Rosner MH.16:S15-S8. Lous JJ. 2006. 15. Leung CB. 2010. Eline MR. Hormones and Hemodynamics in Heart Failure. International Journal of Nephrology. Clinical Cardiology. Hall JE. Wong TY-H. Ganong's Review of Medical Physiology: McGraw-Hill Education. Konstam MA. 2013. Szeto CC. 16. 2010. Arginine Vasopressin Antagonists for the Treatment of Heart Failure and Hyponatremia.119(7 Suppl 1):S47-53. Rattan A. Am J Med. Abraham WT. 77-83 p. 12. 13. 14. and treatment options. Guyton AC. 19. Udelson JE. Finley JJ. Chow KM. Boitano S. prognosis.341(8):577-85. 17. 2011. Chiong JR. QJM. Barrett KE.16:S7-S14. 23. Pendegraf WF. 2009. Bagshaw S.30(11):546-51.96(12):911-7. Congestive Heart Failure. Hyponatremia and Congestive Heart Failure: A Marker of Increased Mortality and a Target for Therapy. New England Journal of Medicine. 2010. Clin Cardiol. Ruiter R. Mather PJ. 20. et al. Philadelphia. Li PK-T. Goldsmith SR. Rosner M. Risk factors for thiazide-induced hyponatraemia. Treatment Options for Hyponatremia in Heart Failure. Common electrolyte disorder: Hyponatremia.

25. Hyponatremia and Heart Failure—Treatment Considerations. 2006. . Congestive Heart Failure. Sica DA.12(1):55-60.