Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Batasan Lanjut Usia
1. Menurut WHO lansia dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu:5
a. Usia pertengahan/middle age (45-59 tahun)
b. Lanjut usia/elderly (60-74 tahun)
c. Lanjut usia tua/ old (75-90 tahun)
d. Usia sangat tua/ very old (> 90 tahun)
2. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998
tentang Kesejahteraan Lansia dalam Bab 1 Pasal 1 ayat 2: “Lanjut usia
adalah seseorang yang mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas”.6
3. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, lanjut usia
dikelompokkan menjadi:5
a. Pra lanjut usia (45-59 tahun)
b. Lanjut usia (60-69 tahun)
c. Lanjut usia risiko tinggi (>70 tahun atau usia >60 tahun dengan
masalahkesehatan)
B. Perubahan Fisiologis yang Mempengaruhi Status Gizi Lanjut Usia
Lanjut usia merupakan tahap lanjut dari suatu kehidupan yang
ditandai dengan menurunnya kemampuan tubuh untuk beradaptasi terhadap
stress eksternal maupun internal. Menua didefinisikan sebagai proses yang
mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang “frail” (lemah, rentan)
dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan
meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian secara
eksponensial.1Terjadi berbagai perubahan fisiologis yang tidak hanya
berpengaruh terhadap penampilan fisik, namun juga terhadap fungsi dan
tanggapan pada kehidupan sehari-hari. Adapun perubahan fisiologis tersebut
sebagai berikut:
1. Komposisi Tubuh

1

Pada usia lanjut gigi permanen menjadi kering.1.8 Penurunan massa otot akan mengakibatkan penurunan kebutuhan energi yang terlihat pada lansia.Komposisi tubuh dapat memberikan indikasi status gizi dan tingkat kebugaran jasmani seseorang. Akibat penuaan pada lansia. Penurunan indera pengecap dan pencium pada lansia menyebabkan sebagian besar kelompok umur ini 2 . Selain itu. massa otot berkurang sedangkan massa lemak bertambah. dan bahkan sebagian gigi telah tanggal. lebih rapuh. Gigi dan Mulut Gigi merupakan unsur penting untuk pencapaian derajat kesehatan dan gizi yang baik. penurunan produksi saliva akan menyebabkan mulut relatif kering (xerostomia) yang akan semakin mengganggu indera pengecap atau perasa. Pemahaman akan hubungan berbagai keadaan tersebut penting dalam membantu lansia mengelola kebutuhan energinya. Setelah gigi erupsi. Pada lansia saluran pencernaan tidak dapat mengimbangi ketidaksempurnaan fungsi kunyah sehingga akan mempengaruhi kesehatan. Massa tubuh yang tidak berlemak berkurang sebanyak 6.8Hilangnya gigi geligi akan mengganggu hubungan oklusi gigi atas dan bawah serta mengakibatkan daya kunyah menurun. terjadinya atrofi gingiva dan processus alveolarisakan menyebabkan akar gigi terbuka sehingga menimbulkan rasa sakit dan memperparah penurunan daya kunyah.3%. sedangkan sebanyak 2% massa lemak bertambah dari berat badan perdekade setelah usia 30 tahun.9 2.9Selain itu.7.9 3. Jumlah cairan tubuh berkurang dari sekitar 60% berat badan pada orang muda menjadi 45% dari berat badan wanita usia lanjut. Keseimbangan energi pada lansia lebih lanjut dipengaruhi oleh aktifitas fisik yang menurun. kemampuan mengecap. dan memetabolisme makanan berubah. Indera Pengecap dan Pencium Dengan bertambahnya umur. berwarna lebih gelap. mencerna.4. Perubahan fisiologis yang terjadi pada jaringan keras gigi sesuai perubahan pada gingiva anak-anak. morfologi gigi berubah karena pemakaian atau aberasi dan kemudian tanggal digantikan gigi permanen.

Keadaan ini dapat menyebabkan lansia kurang menikmati makanan dan mengalami penurunan nafsu makan dan asupan makanan. Gangguan rasa pengecap pada proses penuaan terjadi karena pertambahan umur berkorelasi negatif dengan jumlah ‘taste buds’ atau tunas pengecap pada lidah.Gangguan rasa pengecap juga merupakan manifestasi penyakit sistemik pada lansia yang disebabkan oleh kandidiasis mulut dan defisiensi nutrisi terutama defisiensi seng. Hal ini menyebabkan kemampuan peristaltik esofagus mendorong makanan ke lambung menurun sehingga pengosongan esofagus terlambat. dan gerakannya diatur secara khusus untuk fungsi tersebut. Selain itu. motilititas usus halus dan usus besar terganggu sehingga menyebabkan konstipasi sering terjadi pada lansia. 9 Wanita pasca monopause cenderung berkurang kemampuannya dalam merasakan manis dan asin.11Pada manusia lanjut usia. sekresi HCL dan pepsin berkurang yang menyebabkan penyerapan vitamin dan zat besi menurunsehingga berpengaruh pada kejadian osteoporosis dan osteomalasia pada lansia. Mengkaji status gizi usia lanjut sebaiknya menggunakan lebih dari satu parameter 3 . Di usus halus juga ditemukan adanya kolonisasi bakteri pada lansia dengan gastritis atrofi yang dapat menghambat penyerapan vitamin B.tidak dapat lagi menikmati aroma dan rasa makanan.9Motilitas dan pengosongan lambung menurun seiring dengan meningkatnya usia. pertumbuhan dan perkembangannya. Di atas usia 60 tahun. reseptor pada esofagus kurang sensitif dengan adanya makanan. mengidentifikasi malnutrisi dan menentukan jenis diet atau menu makanan yang harus diberikan pada seseorang.10 4. Pengkajian status gizi adalah proses yang digunakan untuk menentukan status gizi. kondisi kesehatan serta ketahanan tubuh terhadap penyakit. Sistem Gastrointestinal Esofagus terutama berfungsi untuk menyalurkan makan dari faring ke lambung.12 C. Pengkajian Status Gizi pada Lanjut Usia Keadaan gizi seseorang mempengaruhi penampilan. Cherie Long (1986) dan Ruslijanto (1996) dalam Darmojo (2011) menyatakan 80% tunas pengecap hilang pada usia 80 tahun.

Rumus atau cara menghitung IMT yaitu dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter (kg/m2). riwayat buang air besar atau buang air kecil. dan kebiasaan lain yang dapat mengganggu asupan makanan. Pengukuran Antropometri Pengukuran antropometri adalah pengukuran tentang ukuran. dan lingkar lengan atas (LLA). normoweight (berat badan normal).1 kg dengan pakaian seminimal mungkin dan tanpa alas kaki.13 2. overweight (kelebihan berat badan). tinggi lutut (knee high).14Pengukuran antropometri yang dapat digunakan untuk menetukan status gizi pada lansia meliputi tinggi badan. Pengukuran tinggi badan dapat menggunakan alat 4 . riwayat operasi yang mengganggu asupan makanan.dan obesitas (kegemukan). riwayat penyakit keluarga. 15IMT merupakan indikator status gizi yang cukup peka digunakan untuk menilai status gizi orang dewasa diatas umur 18 tahun dan mempunyai hubungan yang cukup tinggi dengan persen lemak dalam tubuh. tebal lipatan kulit (pengukuran skinfold).14 Pengukuran berat badan menggunakan timbangan injak yang sudah ditera dengan ketelitian 0. berat badan. Pengkajian status gizi pada usia lanjut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. keluhan dan riwayat penyakit. Anamnesis Hal-hal yang perlu diketahui antara lain: Identitas.5 Cara yang paling sederhana dan banyak digunakan adalah dengan menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT). lingkar betis.sehingga hasil kajian lebih akurat. dan proporsi tubuh manusia dengan tujuan untuk mengkaji status nutrisi dan ketersediaan energi pada tubuh serta mendeteksi adanya masalahmasalah nutrisi pada seseorang. aktivitas sehari-hari. riwayat asupan makanan. orang terdekat yang dapat dihubungi. IMT juga merupakan sebuah ukuran “berat terhadap tinggi” badan yang umum digunakan untuk menggolongkan orang dewasa ke dalam kategori underweight (kekurangan berat badan). berat badan.

MNA merupakan metode yang banyak dipakai karena sangat sederhana dan mudah dalam pelaksanaannya. demensia atau depresi) dan selfassessment (persepsi pasien tentang kesehatan dan nutrisi). dan kemampuan makan sendiri).9 Obes I 24 – 29.5 – 22. obat-obatan. terbagi menjadi 6 butir pertanyaan untuk skrining malnutrisi dilanjutkan dengan 12 pertanyaan untuk menilai status nutrisi. dan lingkar betis). frekuensi makan. LLA. mendapatkan penilaian status nutrisi berdasarkan skor total MNA memiliki nilai keterandalan yang cukup baik.5 Normal 18.pengukur tinggi badan dengan ketelitian 0. Mini Nutritional Assessment Mini Nutritional Assessment (MNA) merupakan kuesioner yang terdiri atas 18 pertanyaan untuk menilai dan mendeteksi adanya risiko malnutrisi. mobilitas.1 cm.5 Tabel 1. ada tidaknya stres akut.9 Overweight 23 – 24. Pengukuran dilakukan pada posisi berdiri tegak tanpa menggunakan alas kakidengan pandangan lurus ke depan. Klasifikasi Pengukuran Indeks Massa Tubuh pada Orang Dewasa Asia (Klasifikasi WHO)14 Status Gizi IMT (kg/m2) Underweight < 18. asupan makanan (asupan makanan dan cairan. Pertanyaan pada MNA mencakup antropometrik (penurunan berat badan. Penelitian yang dilakukan Ellen S (2009) di RSCM pada 193 responden. berisiko malnutrisi (skor 17-23. penilaian global (gaya hidup. IMT.5) atau malnutrisi (skor <17).9 Obes II > 30 3. dimana penjumlahan semua skor akan menentukan seorang lansia pada status gizi baik (skor ≥24).15 5 . Mini Nutritional Assessment (MNA) mempunyai 2 bagian besar yaitu screening dan assessment.

Malnutrisi energi protein dapat terjadi karena buruknya asupan protein atau kalori. Pada usia lanjut. kehilangan berat badan pada lansia dapat dikelompokkan menjadi wasting. Proporsi lemak intra abdominal meningkat progresif seiring dengan meningkatnya usia. Usia lanjut merupakan kelompok yang rentan terhadap malnutrisi.17 3. lama rawat. penurunan berat badan dapat menurunkan kesakitan karena arthritis. banyaknya komplikasi. Masalah Gizi Pada Lanjut Usia 1. Pada lansia yang obes. delirium. Obesitas Perubahan komposisi tubuh yang terjadi pada lansia memberikan kontribusi terjadinya obesitas. pada umumnya disebabkan oleh asupan yang tidak adekuat. Status nutrisi memengaruhi berbagai sistem pada usia lanjut seperti imunitas. Wasting merupakan kehilangan berat badan yang tidak disadari.D. fungsi kognitif. Penurunan asupan energi danTotal Energy Expenditure (TEE) juga menurun karena penurunan aktivitas fisik terutama pada lansia yang sakit. stres ringan jangka pendek sudah dapat menyebabkan timbulnya malnutrisi energi protein. cachexia. dan perawatan kembali. serta merupakan faktor risiko untuk timbulnya infeksi. Kehilangan Berat Badan Menurut Schlenker (2000). diabetes dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler serta meningkatkan kualitas hidup. terutama obesitas sentral. Malnutrisi Energi Protein Malnutrisi energi protein adalah kondisi di mana energi dan atau protein yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan metabolik. meningkatnya kebutuhan metabolik bila terdapat penyakit atau trauma. jatuh. Cachexia adalah kehilangan 6 . cara berjalan dan keseimbangan.16 2. dan sarcopenia. atau meningkatnya kehilangan zat gizi. Peningkatan aktivitas fisik pada lansia dapat memperbaiki kekuatan otot dan kesehatan lansia secara keseluruhan. serta mengurangi manfaat pengobatan. Terdapat hubungan antara malnutrisi dengan mortalitas.

suatu asam amino yang secara konsisten berhubungan dengan risiko penyakit vaskular. Berikut ini beberapa cara untuk menghitung kebutuhan energi: 7 . pernafasan. Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa kadar vitamin B yang rendah sering terjadi pada usia lanjut. adanya faktor psikologis seperti depresi. kecemasan dan demensia mempunyai kontribusi yang besar dalam menentukan asupan makanan dan zat gizi pada lansia.massa tubuh bebas lemak yang tidak disadari yang disebabkan oleh proses katabolisme. Faktor risiko terjadinya malnutrisi pada lansia antara lain beberapa faktor medis seperti selera makan rendah. Defisiensi Vitamin dan Mineral Tidak memadainya asupan mikronutrien sering terjadi pada usia lanjut. juga terdapat hubungan antara rendahnya konsentrasi vitamin B dan menurunnya fungsi kognitif.17 4. Data ini terkait dengan rendahnya asupan zat gizi tertentu dalam pola makan sehari-hari. ditandai oleh peningkatan rate metabolik dan peningkatan pemecahan protein. Kebutuhan gizi lanjut usia dihitung secara individu. Konsumsi makanan yang cukup dan seimbang bermanfaat bagi lanjut usia untuk mencegah atau mengurangi risiko penyakit degeneratif dan kekurangan gizi. saluran cerna. Sedangkan sarcopenia adalah kehilangan massa otot yang tidak disadari sebagai bagian dari proses menua. yang berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kronik. Vitamin B6. neurologi. dan asam folat dibutuhkan untuk mencegah akumulasi homosistein. B12. bahkan pada negara yang telah sangat maju. gangguan gigi geligi. Di samping itu. gangguan fungsi pada indera penciuman dan pengecap.16 E. Gizi Pada Lanjut Usia Pada prinsipnya kebutuhan gizi pada lanjut usia mengikuti prinsip gizi seimbang. cacat fisik dan penyakit lain seperti kanker. Selain itu. Perhitungan Kebutuhan Energi. kadang-kadang tidak ada penyakit yang mendasari. infeksi. disfagia.Cara perhitungan kebutuhan gizi:5 1.

daging dan ayam tanpa lemak. b. susu tanpa lemak. Harris dan Benedict Merupakan cara yang banyak digunakan untuk menetapkan kebutuhan energi seseorang. Perhitungan kebutuhan lemak a.6 (BB) + 1.7 (TB) . 3. Konsumsi kolesterol harus dibatasi.a.7 (BB) + 5 (TB) . Kecukupan protein sehari yang dianjurkan pada lanjut usia adalah sekitar 0. Sumber protein hewani yang dianjurkan adalah ikan. Rule of Thumb (menggunakan BB ideal) Cara cepat untuk menghitung kebutuhan energi adalah: Laki-laki: 30 Kkal/ kgBB Perempuan: 25 Kkal / kgBB 2. Perhitungan kebutuhan karbohidrat 8 .8 gram/ kgBB atau 10-15% dari kebutuhan energi. Dianjurkan memenuhi kebutuhan protein nabati lebih banyak dari protein hewani.3 x BEE Stress sedang = 1.8 (umur) Perempuan : BEE = 655 + 9. Rumusnya dibedakan antara kebutuhan untuk lakilaki dan perempuan. Pada lanjut usia konsumsi lemak dianjurkan tidak melebihi 20-25% dari kebutuhan energi dengan rasio lemak tidak jenuh : lemak jenuh = 2: 1 b.7 (umur) Faktor koreksi BEE untuk berbagai tingkat stress adaiah: Stress ringan = 1.4.14 Laki-laki : BEE = 66 + 13.6 x BEE BEE = Basal Energy Expenditure b.0 x BEE Kanker = 1. Sumber protein nabati yang dianjurkan adalah kacangkacangan dan produk olahannya. Perhitungan kebutuhan protein a. 4. tidak melebihi 300 mg/hari didalam makanan.5 x BEE Stress berat = 2.6.

Namun untuk kondisi tertentu.2 liter per hari (6-8 gelas) 9 . vitamin dan mineral diberikan dalam jumlah yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Kebutuhan serat Kebutuhan serat 25-30 gram/ hari 7. mineral dan serat. Kebutuhan cairan Masukan cairan perlu diperhatikan karena adanya mekanisme rasa hausdan menurunnya cairan tubuh total (penurunan massa lemak). 5. karena mengandung vitamin. Perhitungan kebutuhan vitamin dan mineral Perhitungan kebutuhan vitamin dan mineral didasarkan kepada angka kecukupan gizi yang dianjurkan. karena kebutuhan energi juga menurun. 6. Lanjut usia dianjurkan mengkonsumsi karbohidrat 60-65% dari total kebutuhan energi. Lanjut usia membutuhkan cairan antara 1.5 .Penggunaan karbohidrat relatif menurun pada lanjut usia. Perhitungan kebutuhan karbohidrat didasarkan kepada sisa dari totalenergi setelah dikurangi energi dari protein dan lemak. Lanjut usia disarankan mengkonsumsi karbohidrat komplek daripada karbohidrat sederhana.

Seorang lansia 10 . makanan diberikan dalam porsi kecil dengan frekuensi tergantung pada kemampuan makan pasien. Lansia yang tidak dapat mencerna makanan dengan baik.9 Dukungan gizi peroral diutamakan. kesadaran menurun. meskipun tidak menunjukkan tanda-tanda Kurang Energi Protein (KEP) yang jelas.5 F.16 Pada pemberian peroral. maldigesti. mempunyai masalah saluran cerna (malabsorpsi. menderita penyakit kronis.15. dukungan gizi seringkali diperlukan untuk mempertahankan kondisi kesehatan lansia dan mempercepat penyembuhan penyakit yang diderita. Namun bila saluran cerna tidak dapat difungsikan. gangguan motilitas) memerlukan dukungan gizi. 2004.Sumber: Kementerian Kesehatan RI. Dukungan Gizi Untuk Lanjut Usia Pada lansia. namun apabila ada gangguan pada saluran cerna bagian atas maka makanan enteral dapat diberikan. maka pilihan terakhir adalah nutrisi parenteral.

penyakit yang diderita.9 Pemberian makanan enteral memiliki komplikasi.9.16 Pemberian makanan enteral pada lansia dengan gangguan saluran cerna bagian atas terbukti efektif memperbaiki status gizi. serta banyak lansia tidak dapat mentolerir pipa yang masuk melalui hidung. Selain itu. pipa yang berpindah tempat atau tersumbat.16 Nutrisi parenteral diberikan pada lansia dengan asupan enteral yang tidak mencukupi kebutuhan atau tidak memungkinkan diberikan makanan melalui enteral (kontra indikasi diberikan makanan enteral). kemampuan pasien untuk mencerna makanan. sehingga glukosa diberikan mulai dosis kecil namun tidak kurang dari 100 gram/hari untuk 11 . dan harga produk. kontaminasi bakteri atau kekentalan makanan cair yang diberikan. Diare ini dapat disebabkan oleh adanya intoleransi laktosa. Glukosa merupakan sumber utama nutrisi parenteral. antara lain iritasi. efek samping polifarmasi yang diberikan. Bila nutrisi parenteral hanya digunakan sebagai dukungan gizi tambahan. maka pilihan vena sentral lebih tepat dengan lipid sebagai sumber energi utama. Pemilihan formula makanan enteral pada lansia harus memperhatikan lama penggunaan tube. Pembatasan dapat diberikan sesuai dengan kondisi penyakit pasien. diare merupakan salah satu komplikasi yang sering muncul pada lansia yang mendapatkan makanan melalui pipa nasogastrik. maka dapat diberikan melalui vena perifer dengan cairan perifer. Namun apabila terdapat indikasi untuk restriksi cairan. komposisi makro dan mikronutrien.dianjurkan untuk mengkonsumsi normal diet seoptimal mungkin disesuaikan dengan kemampuannya. namun pembatasan yang terlalu ketat dapat menyebabkan asupan makanan menurun. Namun pada lansia seringkali terjadi gangguan toleransi glukosa.15Penghitungan kebutuhan kalori per hari pada lansia dapat dilakukan dengan formula Harris Benedict atau rule of thumb. Pemberian makanan melalui pipa akan cost-effective dalam menyediakan makro dan mikronutrien yang adekuat dan memelihara fungsi usus. Perasaan tidak nyaman pada pasien menyebabkan gelisah dan bahkan mencabut pipa yang sudah terpasang.

Pemberian cairan dan elektrolit pada pasien lansia memerlukan monitoring khusus dengan adanya penurunan fungsi ginjal.5 g/kgBB/hari pada lansia yang dirawat di rumah sakit.mencegah terjadinya ketosis dengan maksimal pemberian 4 mg/kgBB/menit. jantung. dosis awal pemberian protein adalah 1-1.9. Pada lansia tanpa gangguan fungsi ginjal. pemberian energi dapat berupa lemak. Pemberian protein pada cairan parenteral harus memperhatikan fungsi ginjal dan fungsi hati.14 Pada lansia yang memerlukan pembatasan cairan atau gangguan toleransi glukosa. Emulsi lemak 1020% dapat diberikan pada nutrisi parenteral untuk membantu pencapaian kebutuhan energi.9 BAB III RINGKASAN 12 . dan endokrin.

Perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada lansia seperti perubahan komposisi tubuh. diabetes mellitus. anemia dan kekurangan zat gizi mikro lain. Pada prinsipnya kebutuhan gizi pada lanjut usia mengikuti prinsip gizi seimbang. Masalah gizi lanjut usia merupakan rangkaian proses masalah gizi sejak usia muda yang manifestasinya terjadi pada lanjut usia. gangguan motilitas) memerlukan dukungan gizi. Lansia yang tidak dapat mencerna makanan dengan baik. dan sistem gastrointestinal dapat mempengaruhi status gizinya. maldigesti. mempunyai masalah saluran cerna (malabsorpsi. obesitas. indera pengecap dan pencium. perubahan pada struktur gigi dan mulut. Namun bila saluran cerna tidak dapat difungsikan. kehilangan berat badan. kesadaran menurun. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masalah gizi pada lanjut usia sebagian besar merupakan masalah gizi lebih yang merupakan faktor risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner.Gizi merupakan unsur penting untuk pencapaian derajat kesehatan yang baik. BAB IV DAFTAR PUSTAKA 13 . Masalah gizi yang sering dijumpai pada lanjut usia antara lain malnutrisi energi protein. namun apabila ada gangguan pada saluran cerna bagian atas maka makanan enteral dapat diberikan. Dukungan gizi peroral diutamakan. Konsumsi makanan yang cukup dan seimbang bermanfaat bagi lanjut usia untuk mencegah atau mengurangi risiko penyakit degeneratif dan kekurangan gizi. hipertensi. Masalah gizi pada lansia perlu diperhatikan untuk meningkatkan derajat kesehatan lansia agar tetap sehat. ginjal. keluarga maupun masyarakat. Kebutuhan gizi lanjut usia dihitung secara individu. Namun demikian masalah kurang gizi juga banyak terjadi pada lanjut usia seperti Kurang Energi Kronik (KEK). menderita penyakit kronis. dan defisiensi vitamin dan mineral. perlemakan hati. gout rematik. maka pilihan terakhir adalah nutrisi parenteral. dan lain-lain. mandiri dan berdaya gunasehingga tidak menjadi beban bagi dirinya sendiri.

Bakri B. New England Journal of Medicine. 6. 2008. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Supariasa IDN. Govinda A. 2000. pp:757-767. Dalam: Darmojo. Fajar I. Profil kesehatan Indonesia 2011.. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Setiyohadi B. pp: 693-699. 12.. Jakarta: EGC. Pranaka K (eds). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Setiati S (eds). Dalam: Sudoyo A. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. pp: 4-22. Japanese Dental Science Review. 2012. http://www. Jakarta: ECG.. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 13. Yoshida M. pp: 54-58. Azizah. Pedoman Praktis Perawatan Kesehatan: untuk Pengasuh Orang Usia lanjut..1. 2006. Setiati. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. S. Pedoman Pelayanan Gizi Lanjut Usia.pdf- diakses Juni 2014. 11. 14 . 14(50):9-14. Simadibrata M.W. R. Syam AF. Kikutani T. Dalam: Sudoyo A. Brookmeyer. Simadibrata M. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Kawas. Gizi pada Lansia. CH. R. Masalah Farmakologi Gigi pada Lansia. 344(15):1160-1161. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2001. 4.go. 2. Gizi dalam Daur Kehidupan. Puruhita N. 2013. Malnutrisi.depkes. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I. Setiyohadi B. 8. 9. 3. Arisman. 7. C (ed). 2002. Jakarta: EGC. 2011. 14. Keperawatan Lanjut Usia. Setiati S(eds). Martono H. pp: 634-651. Jakarta: EGC. Harimurti K. Setiati S. Aging and the public health effects of dementia. Hall JE. Lilik Ma’rifatul. 2010. Penilaian Status Gizi. Muis S. 2011. Suzuki R. Dalam: Hutauruk. Yogyakarta:Graha Ilmu. 2010. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Seymour. 2004. Nutrition and oral status in elderly people. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I. Perawatan Gigi Terpadu untuk Lansia. 10. edisi ke-4.W.id/downloads/Profil2011-v3. Guyton AC. 5. 2011. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Proses Menua dan Implikasi Kliniknya. pp: 354-357.

W. 16. Gangguan Nutrisi pada Usia Lanjut. Boston: McGraw-Hill.. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I.W. 2010. Dalam: Sudoyo A. Simadibrata M. 2000. In: Schlenker E (ed). Setiyohadi B. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Dinda R. pp: 295-325. Dalam: Sudoyo A. 2010. pp: 347-353. Malnutrisi di Rumah Sakit.. Setiyohadi B. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I... Nutrition in Aging. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Sari NK. Simadibrata M. Setiati S(eds). Schlenker E. 15 . 17. pp: 358-365. Setiati S(eds).15. Nutritional problems and deficiencies in the aging adult. Setiati S.