Anda di halaman 1dari 28

TEKNIK-TEKNIK ANALISIS SEL

Oleh Andrea Devina (1406575393), Larasati Windiani (1406533573), Nabila Hana Dhia
(1406573394), Rizki Larasati (1406533542), Sangghadatu Abda M (1406569913), Teknologi
Bioproses, Departemen Teknik Kimia, Kampus Universitas Indonesia, Depok 16424,
Indonesia

ABSTRAK
Berbagai macam metode digunakan untuk menganalisis sel seperti teknik flow cytometry,
teknik analisis sel tunggal, teknik analisis sel dalam jaringan, dan teknik analisis sel dengan
spektrofotometer/konvensional. Analisis sel dengan teknik flow cytometry memanfaatkan
metode pengukuran sel yang disertai dengan aliran cairan melalui suatu celah yang
ditembus dengan sinar laser. Teknik analisis sel tunggal menggunakan mikroskop baik dari
jenis mikroskop yang paling sederhana, sampai mikroskop yang modern dan canggih untuk
melihat heterogenitas dalam sel. Teknik analisis sel dalam jaringan menggunakan teknik
analisis sitologi dan sitokimia untuk mengidentifikasi komponen kimiawi dalam sel. Teknik
analisis spektofotmeter/konvensional memanfaatkan cahaya dalam hal absorbansinya yang
berkaitan dengan konsentrasi atau kandungan suatu sel.
Kata Kunci : cytometry, aliran, laser, mikroskop, heterogenitas, sitologi, sitokimia,
spektofotmeter, absorbansi.
Pendahuluan
Kebutuhan analisis sel dalam kehidupan makhluk hidup dirasa semakin penting.
Kebutuhan analisis sel misalnya dibutuhkan untuk menemukan pengendalian suatu
penyakit, pengamatan komponen-komponen makhluk hidup yang belum diketahui
sebelumnya, inovasi-inovasi yang memanfaatkan sel untuk kebutuhan manusia, seperti
bidang pangan, industri, farmasi, dan sebagainya. Oleh karena itu banyak orang berlombalomba untuk menemukan teknik analisis sel. Namun sel memiliki bentuk yang sangatlah
kecil dan rumit, oleh karena itu sulit untuk melihat struktur dan menentukan komposisi
molekulnya, atau memahami kerja setiap komponennya. Pada tahun 1930 ditemukan suatu
prinsip dasar analisis sel, yaitu dengan metode imunohistokimia. Penggunaan metode ini
terus berkembang dan meluas pada tahun 1942. Selanjutnya diketahui bahwa teknik
imunohistokimia bermanfaat untuk identifikasi, lokalisasi, dan karakterisasi suatu antigen
tertentu, serta menentukan diagnosis, terapi, dan prognosis kanker sehingga masih dipakai
dalam analisis sel pada saat sekarang.
Dalam perkembangan ilmu biologi telah banyak ditemukan cara untuk menganalisis
sel baik jenis sel, ukuran sel dan jumlah sel yang dapat diaplikasikan untuk berbagai bidang
termasuk biologi molekuler, patologi, imunologi, biologi tanaman, dan biologi kelautan.
Dalam makalah kali ini dibahas mengenai beberapa teknik analisis sel yaitu teknik flow
cytometry, analisis sel tunggal, analisis sel dalam jaringan dan teknik analisis sel dengan
spektrofotometer/konvensinal. Teknik flow cytometry memanfaatkan metode pengukuran
sel yang disertai dengan aliran cairan melalui suatu celah yang ditembus dengan sinar laser.
Teknik flow cytometry pada umumnya digunakan untuk pemisahan sel limfosit, pemisahan
sel hidup dan sel mati serta menganalisis sel dengan kandungan DNA dan RNAnya. Terdapat
3 sistem dasar pada teknik flow cytometry yaitu sistem fluida, optik, dan elekronik. Teknik
analisis sel tunggal mengacu pada studi dari sel individu diisolasi dari jaringan dalam
organisme multi-selular pendekatan yang lebih spesifik untuk mempelajari suatu organisme
1

misalnya mengenai migrasi dari sel, pembagian sel menjadi beberapa divisi tertentu,
mengenai pembelahan sel. Analisis sel tunggal menggunakan mikroskop yang membantu
manusia untuk mengamati organisme yang kecil. Mikroskop yang digunakan mulai dari
mikroskop cahaya, mkroskop Ultraviolet (UV), mikroskop fluoresen, mikroskop akustik
hingga mikroskop elektron. Teknik analisis sel dalam jaringan adalah metode yang
melakukan analisis satu atau lebih sel dalam suatu jaringan. Teknik analisis sel dalam
jaringan menggunakan teknik analisis sitologi dan sitokimia untuk mengidentifikasi
komponen kimiawi dalam sel. Aplikasi teknik analisis sel dalam jaringan yang terkena adalah
immunohistokimia Teknik immunohistokimia bermanfaat untuk identifikasi, lokalisasi, dan
mengidentifikasi marker. Teknik analisa yang dipakai dalam menganalisa sel dalam jaringan
adalah teknik Analisa Sitologi dan Sitokimia dan pembuatan sediaan (preparat). Metode
analisis sel dalam Jaringan yang digunakan adalah metode Backpropagation dan metode
Carcinoembryonicantigen (CEA). Anaklisis sel dengan spektrofotometri adalah metode yang
menggunakan gelombang (terutama gelombang cahaya) untuk menentukan
kandungan/karakteristik dari suatu sampel. Metode ini menggunakan hubungan antara
energi yang dibawa oleh gelombang cahaya dan zat yang terkandung dalam sampel.
spektrofotmetri secara umum dibagi menjadi 2, yaitu spektrofotometri absorbsi (AAS), dan
emisi (AES). Spektrofotometri yang biasa dilakukan pada sel adalah spektrofotometri
fluoresens dan spektrofotometri inframerah. Spektrofotmetri fluoresens ini dilakukan dalam
metode fluorescent microscopy. Metode ini dilakukan dengan menandai molekul yang akan
dianalisis dengan fluorophore, lalu mendeteksi keberadaan dan kondisi molekul tersebut
dengan mengikuti emisi fluoresens yang muncul. Untuk spektrofotometri inframerah,
prinsip dasarnya adalah adanya perbedaan daya absorbsi inframerah tiap molekul. Dengan
perkembangan ilmu dan teknologi, teknik analisis sel masih terus dikembangkan dan terus
disempurnakan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan penelitian tentang sel yang lebih
lanjut.
1. TEKNIK FLOW CYTOMETRY
Pengertian Teknik Flow Cytometry
Flow cytometry adalah metode pengukuran (metri) jumlah dan sifat-sifat sel (cyto)
yang dibungkus oleh aliran cairan (flow) melalui celah sempit yang ditembus oleh seberkas
sinar laser. Setiap sel yang melewati berkas sinar laser menimbulkan sinyal elektronik yang
dicatat oleh instrumen sebagai karakteristik sel bersangkutan. Setiap karakteristik molekul
pada permukaan sel maupun yang terdapat di dalam sel dapat diidentifikasi dengan
menggunakan satu atau lebih probe. Oleh karena itu, instrumen dapat mengidentifikasi
setiap jenis aktivitas sel dan menghitung jumlah masih-masing dalam suatu populasi
campuran.
Setiap sel yang melewati berkas sinar laser akan menyebabkan sinar laser
terpencar (scattered) ke dua arah, yaitu forward scatter (FSC) yang pararel dengan arah
sinar dan side scatter (SSC) yang arahnya tegak lurus pada arah sinar laser. Besarnya FSC
berbanding lurus dengan atau menggambarkan volume atau ukuran sel. Sel yang mati
(walaupun penampakan mikroskopis sebaliknya), terlihat lebih kecil dibanding sel hidup.
Sel darah merah juga berbeda dengan sebenarnya, umumnya lebih kecil dari semua sel
darah. Adapun SSC ditentukan oleh morfologi dan emisi sinar fluoresen yang dipancarkan
oleh fluorokrom yang digunakan untuk mewarnai sel. Sinyal-sinyal itu dikonversikan
menjadi angka digital dan diperlihatkan pada suatu histogram yang dapat dianalisis untuk
memperoleh informasi tentang karakteristik sel bersangkutan.
2

Pengukuran sel pada flow cytometer menggunakan prinsip pendar cahaya (light scattering). Jika terjadi kesalahan. dan detektor fluoresen. serta filter optik untuk mengarahkan sinyal cahaya yang dihasilkan ke detektor yang sesuai. meliputi:  Analisis dan pemisahan subpopulasi limfosit dengan menggunakan antibodi monoklonal terhadap antigen permukaan yang diberi label dengan zat warna fluorokrom. karena kemampuannya untuk difokuskan menjadi berkas cahaya elliptis. termasuk biologi molekuler. semuanya akan salah dan fatal. Fluida merupakan bagian yang paling sensitive pada flow cytometer.side scatter). Ini terkait dengan komponen-komponen fluida terkait. Hal ini memungkinkan dasar pengukuran yang berbasis pada gangguan berkas (beam disturbance) dapat dilakukan (orward scatter. sedangkan SSC berhubungan dengan kompleksitas bagian dalam 3 . Prinsip Dasar Analisis Teknik Flow Cytometry Flow Cytometry secara umum mempunyai 3 sistem dasar yaitu:  Sistem Fluida Sistem fluida mengarahkan sel melalui cahaya (laser) untuk dianalisis. Apabila cahaya tersebut mengenai sel. menaksirkan kemurnian subpopulasi yang terisolasi. patologi. biologi tanaman. Penggunaan berkas terfokus yang elliptis dapat menghasilkan hanya cahaya fluoresensi dari single cell (size dependent) yang dapat diukur setiap saat. satu detektor diletakkan berhadapan dengan sumber sinar (FSC). Flow cytometry dengan cell sorting (fluorescence activated cell sorter . akan dihamburkan.  Memisahkan sel hidup dari sel mati. FACS) memiliki aplikasi dalam sejumlah bidang.  Analisis kinetik atau siklus sel dan kandungan DNA atau RNA. menggolongkan dan mendeskripsikan tipe sel yang berbeda dalam populasi sel yang heterogen. dan biologi kelautan. Alasan penggunaan laser.Kegunaan Teknik Flow Cytometry Flow cytometry merupakan sebuah metode yang secara luas digunakan untuk meneliti ekspresi permukaan sel dan molekul selular. terdiri dari Sheath fluid dan central channel. dan menganalisis ukuran dan jumlah sel.  Pemisahan limfosit yang memproduksi berbagai kelas imunoglobulin dengan menggunakan antibodimonoklonal terhadap kelas dan subkelas Ig spesifik dan tipe Lchain. Prinsip light scattering adalah metode di mana sel dalam suatu aliran melewati celah di mana berkas cahaya difokuskan ke sel (sensing area). beberapa diletakkan dengan membentuk sudut (SSC). imunologi. dipantulkan. Laser memancarkan cahaya koheren dan merupakan berkas sangat pararel. Tenaga hidrodinamik mengakibatkan sel satu per satu melewati central channel. FSC berkorelasi dengan volume atau ukuran sel. Beberapa detektor yang diletakkan pada sudut-sudut tertentu akan menangkap berkas-berkas sinar sesudah melewati sel.  Sistem Optik Sistem optik terdiri atas laser sebagai sumber cahaya dan mengeksitasi (fluorokrom) sel dalam aliran sampel. Beberapa di antaranya. atau dibiaskan ke semua arah.

diperkenalkan pengukuran sel dengan pendar cahaya yang ditangkap oleh detektor di lebih dari satu sudut dan menggunakan sinar dengan intensitas kuat. Plot sering dibuat pada skala logaritmik. mengetahui dinamika sel T pada infeksi HIV. Sinar emisi kemudianditangkap optic yang akan meneruskan sinar ke beberapa filter dan cermin dichroic yang mengisolasi ikatan dengan panjang gelombang tertentu. atau Cytospec. yaitu sinar laser. Pada 1953. atau bahkan dalam tiga dimensi. Perkembangan Teknik Flow Cytometry Pada 1934. Data yang dihasilkan oleh flow cytometer dapat diplot dalam satu dimensi. tipe granula sitoplasma. suatu sinar monokromatik biasanya dari laser menembus sel yang berlabel fluorokhrom. dan sel diperiksa dengan metode pendar cahaya. Moldavan pertama kali memperkenalkan alat hitung sel darah otomatik dengan metode flow through. pengenceran tidak dilakukan di luar alat.  Sistem Elektronik Sistem elektronik berfungsi untuk mendeteksi cahaya dan mengubahnya ke bentuk sinyal digital. Sinyal yang dibangkitkan oleh setiap sel pada dasarnya merupakan oscilloscope trace. Sampai saat ini. Kemudian. Kinetik sel dapat 4 . juga dapat mendeteksi petanda dinding sel. ukuran sel. termasuk digunakannya monoklonal antibodi. selain mengukur jumlah. Pada 1965. Contoh-contoh Analisis Sel oleh Teknik Flow Cytometry Analisis DNA (Pengukuran kinetik sel) Pengukuran kinetik pertumbuhan sel diperlukan untuk menentukan prognosis kanker. VenturiOne. menggunakan bahan cair sebagai laminar sheat flow. memungkinkan sel melewati interrogation point satu per satu.partikel. seperti WinMDI Flowjo. tapi secara otomatis. granula intraselular. pengukuran dengan metode flow cytometry menggunakan label fluoresensi. Crossland and Taylor memperkenalkan teknik penghitungan sel darah. sehingga dapat mendeteksi intrasel. Deteksi sinyal dilaksanakan dengan menggunakan kombinasi photomultiplier (cathode-ray) dan rangkaian elektronika. dan inti sel. tetapi masih menggunakan pengenceran bahan di luar alat. akan dihasilkan suatu nilai numerik bagi fluoresensi maupun nilai SSC. FCS Ekspres. di mana sel dialirkan dalam saluran tunggal. Di dalam flow cytometry suspensi sel dibuat menjadi suatu aliran yang dibentuk dengan melingkupi penutup fluida isotonic yang membentuk laminar flow. Sinar ini oleh sel itu dapat dipantulkan. seperti ukuran nukleus. dan kekasaran membran plasma. struktur intra sitoplasmik. Dengan melakukan integrasi sinyal ini. pada 1950 dikomersialkan alat dengan metode impedansi. karena emisi pewarna fluoresen yang berbeda. untuk menghasilkan histogram atau dalam dua dimensi plot titik. Sinyal sinar dideteksi menggunakan photomultiplier tubes dan dilakukan digitalisasi untuk analisis komputer. Data akumulasi menggunakan flow cytometer dapat dianalisis menggunakan perangkat lunak komputer. CellQuest Pro. Mekanisme metode flow cytometry yaitu sebagai berikut. bahkan tembus ke dalam sel. Sepuluh tahun kemudian. Metode flow cytometry terus berkembang dengan perkembangan elektrik komputer dan reagen. dibias. Di interrogation point. dan sebagainya.

biasanya menunjukkan kandungan DNA abnormal (aneuploidi) dan pada histogram. Zat warna fluorokrom dapat mengikat DNA secara stokiometris. Pemeriksaan menggunakan flow cytometer yang berbasis flow cytometry merupakan pemeriksaan yang paling baik untuk limfosit T helper/inducer (CD4 +) atau limfosit T supressor/cytotoxic (CD8+). Pengukuran fungsi fagositosis dan respiratory burst secara simultan dapat dilakukan menggunakan darah yang diinkubasi dengan kuman Stafilococcus aureus atau E.0.dipelajari dengan berbagai cara. antara lain propidium iodide yang berfluoresensi merah untuk melabel Stafilococcus dan dihidrorhodamine 123 yang akan berubah menjadi rhodamine 123 yang berfluoresensi hijau setelah dioksidasi. populasi abnormal akan menunjukkan puncak ekstra (hiperdiploidi). akurat. Fluorokrom yang digunakan untuk kuantifikasi DNA adalah propidium iodide (PI) dan ethidium bromida. walaupun tidak selalu. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode flow cytometry. Pengujian ini dapat dilakukan dengan cara uji fagositosis partikel bakteri dan uji aktivitas phagocyte respiratory burst menggunakan metode flow cytometry. Monitoring penderita terinfeksi virus HIV (Pengukuran limfosit T) Monitoring status imunologi pada infeksi HIV bisa dilakukan dengan metode flow cytometry. Sel ganas. Limposit yang terinfeksi ini kemudian lisis ketika virion baru dilepaskan atau dipindahkan oleh sistem imun selular. S dan G2M dapat dihitung dari distribusi DNA. Prinsip uji fagositosis adalah menganalisis jumlah neutrofil yang mengandung bakteri berlabel yang dibubuhkan. Pengukuran indeks proliferasi sel dapat dilakukan dengan menentukan proporsi atau fraksi sel dalam fase-S (yaitu: suatu fraksi dari populasi sel total dalam siklus sel) dan mengukur kandungan DNA. Pada infeksi HIV yang progresif. Prinsip metode ini adalah mengukur emisi fluoresen fluorokrom yang terikat pada DNA dalam sel apabila sel itu dilewatkan berkas sinar dengan panjang gelombang yang sesuai (laser). Jadi. Pengikatan zat warna fluorokrom pada DNA dapat memberikan informasi tentang kandungan DNA total dan fraksi sel yang berada pada siklus sel secara cepat. Interkalasi fluorokrom ini di antara pasangan basa dsDNA atau RNA menghasilkan suatu kompleks dengan fluoresensi efisien yang dapat dideteksi dengan sinar laser dengan kekuatan relatif rendah. Fungsi respiratory burst dievaluasi dengan mengukur banyaknya ethidium bromide (EB) berfluoresensi merah yang dihasilkan oleh oksidasi hidroethidin yang terjadi akibat dibentuknya produk oksidatif oleh PMN atas rangsangan bakteri yang difagositosis. Uji fungsi neutrofil Uji fungsi neutrofil merupakan parameter penting dalam menganalisis respon imun seluler nonspesifik. Indeks DNA populasi sel normal ploidi adalah 1. coli yang telah diberi label fluorescein FITC selama waktu tertentu (biasanya 60 menit) guna menganalisis proporsi sel yang berisi bakteri. Kandungan DNA relatif (status ploidi) dari satu populasi sel dinyatakan dengan indeks DNA dalam fraksi Go/G1 populasi sel bersangkutan dibandingkan terhadap populasi sel kontrol diploidi. Fluorokrom yang dapat digunakan. Fraksi sel yang berada pada fase Go/G1. salah satunya adalah dengan mengukur indeks proliferasi. yang diukur oleh flow cytometer adalah proporsi sel yang berisi bakteri yang berfluoresensi hijau dan intensitas fluoresensi merah yang dihasilkan EB dalam sel PMN bersangkutan. Jumlah 5 . dan praktis. Virus HIV menginfeksi limposit T helper atau melalui antigen CD4+. jumlah CD4+ dan limposit T menurun.

Pengukuran ekspresi gen yang menyatakan suatu homogenitas dapat dinyatakan tidak begitu valid. Salah satu sel tunggal yang menarik untuk diteliti misalnya sel kanker. Prinsip Dasar Analisis Sel Tunggal Prinsip dasar analisis sel tunggal merupakan analisis yang menggunakan mikroskop. dalam transkri RNA. menentukan derajat. analisis-sel tunggal mengacu pada studi dari sel individu diisolasi dari jaringan dalam organisme multi-selular. Nilai normal limfosit T Dewasa: -Limfosit T CD4 absolut :lebih besar dari 500/cmm3 -Limfosit T CD4 % :lebih besar dari 25% Bayi ≥ 12 bulan: -Limfosit T CD4 absolut :lebih besar dari 1. jenis protein. mengenai pembelahan sel. dan monitoring progresivitas serta respons terhadap pengobatan pada infeksi HIV. karena tidak memperhitungkan perbedaan-perbedaan dalam skala yang sangat kecil pada sel-sel tunggal. TEKNIK ANALISIS SEL TUNGGAL Pengertian Analisis Sel Tunggal Dalam bidang biologi sel.absolut CD4+ merupakan pengukuran yang penting untuk memprediksi. Namun sengiring perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa heterogenitas terjadi pada sel bahkan dalam populasi sel kecil sekalipun. Ini berguna untuk menentukan diagnosa. Jadi. dan manajemen pengobatan pada penderita yang terinfeksi HIV. Pemeriksaan jumlah virus melengkapi pemeriksaan laboratorium untuk monitoring penyakit. imunologi. Alat ini membantu memecahkan persoalan manusia tentang organisme yang berukuran kecil. diasumsikan bahwa populasi sel adalah suatu populasi yang homogen. Besarnya berbanding terbalik dengan jumlah CD4+.000/cmm3 -Limfosit T CD4 % :lebih besar dari 25% 2. Pemantauan mengenai sel misalnya mengenai migrasi dari sel. Pada perkembangan awal sel. jumlah CD4+ dan jumlah virus secara langsung menunjukkan status imun penderita.500/cmm3 -Limfosit T CD4 % :lebih besar dari 25% Anak-anak 1-5 tahun: -Limfosit T CD4 absolut :lebih besar dari 1. dan menemukan subpopulasi sel yang tidak terdeteksi sebelumnya.. misalnya mengenai signalling. Penelitian mengenai sel tunggal ini menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terpecahkan sebelumnya seperti pada penelitian kanker. Heterogenitas ini akan semakin jelas terlihat dalam sel eukariotik. Analisis sel tunggal merupakan suatu langkah pendekatan yang lebih spesifik untuk mempelajari suatu organisme. dan neurologi. Dengan analisis sel tunggal memungkikan kita mengetahui ekspresi-ekspresi gen dalam sel tunggal. Hal ini dikarenakan pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali bila dibandingkan dengan sel normal. 6 . prognosa. dan lainnya. interaksi sel masih sering diabaikan karena dirasa sulit untuk melihat fenomena tersebut dalam skala yang sangat rinci. menghindari kesalahan apabila adanya pengambilan rata-rata dari seluruh populasi sel. biologi perkembangan. Mikroskop merupakan suatu alat bantu yang memungkinkan kita untuk dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil salah satu contohnya yaitu sel tunggal. pembagian sel menjadi beberapa divisi tertentu. Sel-sel tunggal memiliki perbedaan misalnya dalam ukuran.

Di dalam sejarah mikrobiologi. yaitu bulat atau kokus. dan pada tahun 1903 diperkenalkan mikroskop medan gelap (dark-field microskope). Leeuwenhoek menggambarkan bentuk kehidupan temuannya. dan spiral yang sampai saat ini digunakan sebagai bentuk dasar morfologi bakteri. Laporan-laporan itu disertai dengan gambar-gambar mikroorganisme yang beraneka ragam. potongan rambut. 1996). Dari pengamatan tersebut Anthonie Van leeuwenhoek berhasil menemukan suatu bentuk kehidupan yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. air hujan. Dengan mikroskop ciptaannya ia dapat melihat bentuk makhlukmakhluk kecil yang sebelumnya tidak diduga sama sekali keberadaannya. 2003). Pada abad XIX ahli optika menawarkan mikroskop untuk dijual ke segala penjuru kota-kota Eropa (Gabriel. ultraviolet illumination (1925). 2003). Prinsip mikroskop secara umum dapat digambarkan sebagai berikut : 7 . Ia melaporkan hal-hal yang diamatinya dengan mikroskop itu kepada lembaga tersebut. juga melakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop terhadap sel tumbuhan dan jaringan hewan (Gabriel. dan kerokan kuku (Dzen. kotoran gigi. Bentuk kehidupan dari dunia mikroba yang pertama kali beliau amati adalah bekteri atau kuman. Antara tahun 1674 sampai 1683 ia terus menerus mengadakan hubungan dengan lembaga Royal Society di Inggris. Bentuk kehidupan tersebut kemudian dinamakan animal cules. Hasil pengamatan tersebut berasal dari berbagai objek seperti air selokan. Mathias Schleiden dan Theodor Schwann melakukan penelitian terhadap sel makhluk hidup dan disimpulkan bahwa semua makhluk hidup tersusun dari sel-sel (Dzen. Sementara itu. batang atau basil. 1978). Selanjutnya pada tahun 1838-1839. 1996). 1978). Mikroskop buatan Leeuwenhoek itu memberikan pembesaran sampai 300 kali. Pada tahun 1880 telah dibuat mikroskop kompoun (compound microscope). Leeuwenhoek dapat dianggap sebagai penemu mikroskop (Dwidjoseputro. electron microscope yang diperkenalkan pada tahun 1940. dan phase contrast microscope pada tahun 1944 (Gabriel. Robert Hooke (1665) seorang ilmuan asal Inggris. 1996). yang tidak lain adalah bakteri atau kuman.Antonie Van Leeuwenhoek (1632-1723) adalah orang yang pertama kali mengetahui adanya dunia mikroorganisme tersebut (Dwidjoseputro.

10. mikroskop elektron. yaitu dengan perbesaran 10. Lensa objektif ini merupakan bagian yang paling penting dari mikroskop karena dari lensa ini dapat diketahui perbesaran yang dilakukan mikroskop. minyak emersi ini berfungsi sebagai pelumas dan untuk memperjelas 8 . mikroskop ultraviolet.Sumber Sinar Cermin Kondensor Lensa Objektif Preparat Lubang Meja Objek Lensa Okuler Mata Kita Tampak Bayangan Gambar 1. mikroskop fluerense.com Setelah kemajuan dalam bidang teknologi maka bermunculanlah berbagai tipe mikroskop modern. Mikroskop cahaya sederhana Mikroskop cahaya. setelah melewati lensa kondenser sinar mengenai spesimen dan diteruskan oleh lensa objektif. dan mikroskop akustik. yaitu lensa yang terdapat di bagian ujung atas tabung pada gambar.ebiologi. Saat menggunakan lensa objektif pengamat harus mengoleskan minyak emersi ke bagian objek. Mikroskop cahaya menggunakan satu atau lebih lensa lensa untuk pemusatan mengatur cahaya. berlensa okuler tungga dikenal dengan nama mikroskop monokuler sedangkan yang berlensa okuler ganda dikenal dengan nama mikroskop binokuler . Mikroskop modern meliputi mikroskop cahaya.  Lensa Objektif. atau 100 kali. yaitu lensa yang dekat dengan objek. atau 12 kali. Bagian-Bagian dari mikroskop cahaya :  Bagian Optik :  Lensa Okuler. 40. Pada mikroskop ini mempunyai batasan perbesaran yaitu dari 400 X sampai 1400 X. Lensa okuler berfungsi untuk memperbesar kembali bayangan dari lensa objektif. Lensa okuler biasanya memiliki perbesaran 6. Mikroskop cahaya sederhana menggunakan satu lensa sedangkan mikroskop cahaya kompleks ( compound light microscope ) menggunakan dua set lensa. pengamat melihat objek melalui lensa ini. Prinsip Kerja Mikroskop secara Umum Sumber : www. Biasanya terdapat 3 lensa objektif pada mikroskop. Sinar yang diteruskan oleh lensa objektif ditangkap oleh lensa okuler dan diteruskan pada mata atau kamera. Perkembangan Alat/Metode Analisis Sel Tunggal Mikroskop Cahaya/Mikroskop Optik Cara kerja dari mikroskop optik adalah dari cahaya lampu yang dibiaskan oleh lensa condenser.

 Mikrometer (pemutar halus). yaitu bagian yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tabung secara cepat untuk pengaturan mendapatkan kejelasan dari gambaran objek yang diinginkan. yang menjaga objek tetap ditempat yang diinginkan. karena saat perbesaran 100 kali.  Lengan Mikroskop. bahkan kadang bersentuhan. dan juga untuk tempat memegang mikroskop saat mikroskop hendak dipindahkan. yaitu bagian yang berfungsi untuk menerima dan mengarahkan cahaya yang diterima. yaitu bagian yang berfungsi untuk tempat menempatkan objek yang akan diamati.   bayangan benda. pada meja benda terdapat penjepit objek.com 9 . yaitu bagian yang berfungsi untuk menghubungkan lensa objekti dan lensa okuler mikroskop.  Kaki Mikroskop.  Tabung Mikroskop. yaitu bagian yang berfungsi sebagai penyagga yang menjaga mikroskop tetap pada tempat yang diinginkan.  Meja Benda. yaitu bagian yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tabung secara lambat untuk pengaturan mendapatkan kejelasan dari gambaran objek yang diinginkan. Cermin. yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk dan mengenai preparat. Gambar 2.  Bagian-Bagian Mekanik (Non-Optik)  Revolver. yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur perbesaran lensa objektif yang diinginkan. Bagian-bagian Mikroskop Cahaya Sumber : rumushitung. yaitu bagian yang berfungsi untuk tempat pengamat memegang mikroskop. Diafragma.  Makrometer (pemutar kasar). letak lensa dengan objek yang diamati sangat dekat. Kondensor. Cermin mengarahkan cahaya dengan cara memantulkan cahaya tersebut. yaitu bagian yang dapat diputar naik turun yang berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang dipantulkan oleh cermin dan memusatkannya ke objek.

Perbesaran yang mungkin dengan mikroskop UV kira-kira sama dengan perbesaran mikroskop cahaya. Mikroskop fluoresen membantu mikroskopis melihat objek secara langsung dan dapat memperbesar objek hingga 1000 kali ukuran sebenarnya. Gambar 4.au Mikroskop Fluoresen Mikroskop fluoresen juga menggunakan UV.Mikroskop Ultraviolet (UV) Mikroskop UV menggunakan sinar UV dengan panjang gelombang lebih pendek dari cahaya putih untuk melihat organisme. Penggunaan mikroskop ini melibatkan pemakain zat warna fluoresen untuk mewarnai objek.magnet. Pewarnaan akan mempermudah kita dalam mendeteksi dan mengidentifikasi tipe sel tertentu.edu 10 .warsash. sehingga mikroskopis tidak melihat bayangan objek secara langsung.fsu. Mikroskop UV dapat melihat objek yang lebih kecil dari objek yang terlihat oleh mikroskop cahaya. Gambar 3. Mikroskop Ultraviolet Sumber : www.com. Bayangan yang dihasilkan tercatat pada film fotografi. Mikroskop Fluoresen Sumber : zeiss-campus.

Skema Mikroskop Scanning Elektron Sumber : Khan. Jenis-jenis mikroskop elektron. mikroskop elektron pemindai lingkungan. yaitu mikroskop elektron transisi dan mikroskop elektron scanning yang mempunyai keuntungan yaitu diperoleh bayangan tiga dimensi dengan memberikan gambaran kontur permukaan jaringan atau struktur dalam sel.B Gambar 6. Anatomi Mikroskop Scanning Elektron Sumber : Khan.Mikroskop Elektron Mikroskop elektron pertama kali dibuat oleh Knoll dan Rusha pada tahun 1932. Mikroskop elektron tergantung pada teknologi memperoleh panjang gelombang yang sangat pendek dengan meningkatkan tegangan listrik. dan spin-polarized low-energy electron microscopy  Mikroskop Scanning Electron (SEM) Pada mikroskop scanner elektron mempunyai bagian-bagian seperti pada skema yang tergambar pada gambar Gambar 5. E.B 11 . E. Hal tersebut memberikan harapan besar untuk kemajuan penelitian dibidang ilmu pengetahuan biologi seluler. mikroskop refleksi elektron.

spesimen ini disinari oleh deteksi x-ray yang menghasikan sebuah gambar yang diteruskan pada layar monitor. M Gambar 8.  Mikroskop Transmission Elektron (TEM) Pada mikroskop transmission elektron. Sinar yang melewati lensa objektif diteruskan pada spesimen yang diatur miring pada pencekamnya. M Dari skema diatas dapat diterangkan elektron ditembakkan dari electron gun yang kemudian melewati oleh dua lensa kondenser yang berguna menguatkan dari 12 . skematik dari mikroskop dapat dilihat dari gambar: Gambar 7. sebelum masuk pada lensa kondensor ada pengatur dari pancaran sinar elektron yang ditembakkan. Skema TEM Sumber : Karlik. Sinar yang melewati lensa kondensor diteruskan lensa objektif yang dapat diatur maju mundurnya.Cara kerja dari mikroskop scanning elektron adalah sinar dari lampu dipancarkan pada lensa kondensor. Anatomi TEM Sumber : Karlik.

Danilatos. Dr. lensa intermediate sebagai penguat dari lensa objektif dan untuk lensa proyektor gunanya untuk menggambarkan pada layar flourescent yang ditangkap film fotografi atau kamera CCD.D dari Universitas New South Wales (UNSW) pada tahun 1977 dengan judul disertasi Dynamic Mechanical Properties of Keratin Fibres .elektron yang ditembakkan. Teknologi ESEM ini dirintis oleh Gerasimos D. yang merupakan suatu inovasi besar bagi dunia mikroskop elektron serta 13 . yang dikembangkan guna mengatasi obyek pengamatan yang tidak memenuhi syarat sebagai obyek TEM maupun SEM. karena spesimen tipis maka elektron yang berinteraksi dengan specimen diteruskan pada tiga lensa yaitu lensa objektif.Spesimen digerinda tengahnya sampai ketebalan 20 μm .Pada bagian yang tipis digunakan untuk melihat. M Dari gambar diatas dapat dijelaskan tahapan pembuatan spesimen. Gambar 9. Lensa objektif merupakan lensa utama dari TEM karena batas penyimpangannya membatasi dari redolusi mikroskop.Spesimen digerinda dan dipoles sampai ketebalan 100 μm .Spesimen dipotong dengan ukuran 3 mm dan ketebalan 300 μm .  Mikroskop Elektron Pemindai Lingkungan (ESEM) Environmental Scanning Electron Microscope (ESEM) ini merupakan pengembangan dari SEM. Obyek yang tidak memenuhi syarat seperti ini biasanya adalah spesimen alami yang ingin diamati secara detil tanpa merusak atau menambah perlakuan yang tidak perlu terhadap obyek. Setelah melewati dua lensa kondenser elektron diterima oleh spesimen yang tipis dan berinteraksi. Danilatos dikenal sebagai pionir dari teknologi ESEM. lensa intermediate dan lensa proyektor.Spesimen ditembak dengan ion argon sampai berlubang . yang apabila menggunakat alat SEM konvensional perlu ditambahkan beberapa trik yang memungkinkan hal tersebut bisa terlaksana. seorang kelahiran Yunani yang bermigrasi ke Australia pada akhir tahun 1972 dan memperoleh gelar Ph. . Persiapan Spesimen TEM Sumber : Karlik.

com  Mikroskop refleksi elektron (REM) Reflection Electron Microscope (REM). Namun.azom. Teknik ini secara khusus digunakan dengan menggabungkannya dengan tehnik refleksi difraksi elektron energi tinggi (Reflection High Energy Electron Diffraction) dan teknik Refleksi pelepasan spektrum energi tinggi (reflection high-energy loss spectrum – RHELS)  Spin-Polarized Low-Energy Electron Microscopy (SPLEEM) Spin-Polarized Low-Energy Electron Microscopy (SPLEEM) ini adalah merupakan Variasi lain yang dikembangkan dari teknik yang sudah ada sebelumnya. Sebuah perusahaan di Boston yaitu Electro Scan Corporation pada tahun 1988 (perusahaan ini diambil alih oleh Philips pada tahun 1996. Mikroskop ESEM Sumber : www.sekarang bernama FEI Company) telah menemukan suatu cara guna menangkap elektron dari obyek untuk mendapatkan gambar dan memproduksi muatan positif dengan cara mendesain sebuah detektor yang dapat menangkap elektron dari suatu obyek dalam suasana tidak vakum sekaligus menjadi produsen ion positif yang akan dihantarkan oleh gas dalam ruang obyek ke permukaan obyek. adalah mikroskop elektron yang memiliki cara kerja yang serupa dengan cara kerja TEM. Gambar 10. dan digunakan untuk melihat struktur mikro dari medan magnet. Untuk sample dengan karakteristik tertentu uap air kadang kurang memberikan hasil yang maksimum. 14 .merupakan kemajuan fundamental dari ilmu mikroskopi. yang memberikan hasil gambar yang terbaik hanyalah uap air. di antaranya adalah beberapa gas ideal dan gas lain. Dalam arti kata lain ESEM ini memungkinkan dilakukannya penelitian obyek baik dalam keadaan kering maupun basah. namun sistem ini menggunakan deteksi pantulan elektron pada permukaan objek. Beberapa jenis gas telah dicoba untuk menguji teori ini. Dengan teknologi ESEM ini dimungkinkan bagi seorang peneliti untuk meneliti sebuah objek yang berada pada lingkungan yang menyerupai gas yang betekanan rendah (low-pressure gaseous environments) misalnya pada 10-50 Torr serta tingkat humiditas diatas 100%.

Mikroskop Akustik Sumber : www.brl. Mikroskop SPLEEM Sumber : www.Gambar 11.co.jp Mikroskop Akustik Mikroskop ini menggunakan komputer untuk menganalisis gelombang suara untuk malihat objek. Mikroskop akustik menghasilkan bayangan objek secara elektronik pada layar televisi. Mikroskop ini dapat memperbesar objek sampai 5000 kali ukuran sebenarnya.com 15 .hellotrade. Gambar 12.ntt.

Hasil dari SEM yang merupakan pengamatan bagian mulut cacing nematoda (perbesaran 350x) Sumber : Khan.com Gambar 14.Contoh Analisis dengan Metode Analisis Sel Tunggal Pengamatan dengan mikroskop cahaya Gambar 13. E.com Pengamatan dengan mikroskop elektron Gambar 15. Sel Epitel Pipi Manusia dengan pewarnaan metilen blue dan perbesaran 100x Sumber : http://praktikumbiologi. Epidermis Bawang Merah dengan pewarnaan metilen blue (lingkaran di tengah menyatakan inti sel) Sumber : http://praktikumbiologi.B 16 .

. Antigen adalah suatu zat atau substansi yang dapat merangsang sistem imun untuk bereaksi secara spesifik dengan antibodi membentuk kompleks terkonjugasi. deparafinisasi dan antigen retrieval untuk membebaskan epitop jaringan. fiksasi jaringan biasanya menggunakan formaldehid.Preparasi sampel merupakan persiapan pembentukan preparat jaringan yang masih segar. Sampel labeling terdiri dari imunodeteksi menggunakan antibodi primer dan sekunder. dan mengidentifikasi marker. teknik immunohistokimia dapat langsung diamati tanpa perlu direaksikan lagi dengan kromogen yang menghasilkan warna dibawah mikroskop fluorescense. yaitu preparasi sampel dan labeling. . Antibodi adalah imunoglobulin yang dihasilkan oleh sistem imun dalam merespon kehadiran suatu antigen tertentu. embedding jaringan dengan parafin atau dibekukan pada nitrogen cair. Prinsip dasar proses imunohistokimia adalah penggunaan antibodi dan histo yang menunjukkan jaringan secara mikroskopis. M 3. ANALISIS SEL DALAM JARINGAN Pengertian Analisa Sel dalam Jaringan Analisis sel dalam jaringan adalah metode yang melakukan analisis satu atau lebih sel dalam suatu jaringan. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan khususnya dunia biologi. Pemeriksaan ini membutuhkan jaringan dengan jumlah dan ketebalan yang bervariasi tergantung dari tujuan pemeriksaan. dan bloking dari protein tidak spesifik lain. lokalisasi. Immunohistokimia merupakan suatu cara pemeriksaan untuk mengukur derajat imunitas atau kadar antibodi atau antigen dalam sediaan jaringan.Sampel labeling adalah pemberian bahan-bahan untuk dapat mewarnai preparat. Contoh penggunaan metode analisis sel dalam jaringan adalah immunohistokimia.Gambar 16. mikroskom TEM dan SEM Sumber : Karlik. Langkah-langkah dalam melakukan immunohistokimia terbagi menjadi 2. Antibodi dibentuk berdasarkan antigen yang menginduksinya. dan counterstaining untuk mewarnai jaringan lain di sekitarnya. Hasil pengamatan sel darah merah dengan mikroskop cahaya. 17 . pemberian substrat. pemotongan jaringan dengan menggunakan mikrotom. Teknik immunohistokimia bermanfaat untuk identifikasi.

Antiserum ini dipanen dan ditempatkan dalam larutan pada enzim sehingga membentuk kompleks imun yang larut. 2. Kekurangan dari teknik ini adalah kurang spesifik terhadap protein tertentu tidak seperti teknik imunoblotting yang dapat mendeteksi berat molekul protein dan sangat spesifik terhadap protein tertentu. dan sebagainya.Metode dasar identifikasi antigen dalam jaringan dengan histokimia terbagi menjadi 2. protein imunogenik. CD117 (KIT): untuk gastrointestinal stromal tumors (GIST) 6. Situs pengikatan beberapa biotin dalam molekul avidin tetravalen bertujuan untuk amplifikasi dan merespon sinyal yang disampaikan oleh antigen target. digunakan untuk menyuntik spesies tertentu dan merespon imun poliklonal yang dihasilkan terhadap enzim. Teknik ini telah digunakan dalam ilmu saraf.IHC merupakan teknik deteksi yang sangat baik dan efektif untuk memeriksa jaringan. .Metode Avidin-Biotin-Complex (ABC) adalah metode analisis imunohistokimia menggunakan afinitas terhadap molekul avidin. Kromogen merupakan suatu gugus fungsi senyawa kimiawi yang dapat membentuk senyawa berwarna bila bereaksi dengan senyawa tertentu. yang memungkinkan peneliti untuk memeriksa ekspresi protein dalam struktur otak tertentu. Prostate specific antigen (PSA): untuk prostate cancer estrogens dan progesterone staininguntuk identifikasi tumor 8. yaitu antibodi yang terlabel seperti antiserum terkonjugasi fuorescein isothiocyanate (FITC) atau rodhamin. yaitu metode langsung dan tidak langsung. .Metode langsung merupakan metode pengecatan satu langkah. 3.Metode tidak langsung merupakan metode yang menggunakan 2 macam antibodi yaitu antibodi primer (tidak berlabel) yang bertugas mengenali antigen yang diidentifikasi pada jaringan dan antibodi sekunder (berlabel) yang akan berikatan dengan antibodi primer. Teknik ini memanfaatkan afinitas antibody terhadap antigen (enzim) untuk membentuk kompleks imun stabil sebagai perlawanan terhadap proses kimia terkonjugasi Fitur unik dari prosedur ini adalah larutan enzim-antibodi dan kompleks imun PAP. Teknik ini banyak digunakan dalam diagnostik patologi bedah terhadap kanker. . . CD15 and CD30 : digunakan untuk identifikasi Hodgkin's disease 4. IHC memiliki keuntungan yang luar biasa untuk dapat menunjukkan secara tepat di dalam jaringan mana protein tertentu yang diperiksa. Identifikasi sel B limfa menggunakan CD20 18 . Alpha fetoprotein: untuk tumor yolk sac dan karsinoma hepatoselluler 5. Metode ini hanya melibatkan satu jenis antibodi. tumor. CD10 (CALLA): untuk renal cell carcinoma dan acute lymphoblastic leukemia 7. Marker yang digunakan dalam diagnosa IHC adalah sebagai beriku 1. Pelabelan antibodi sekunder diikuti dengan penambahan substrat berupa kromogen.biotin oleh tiga enzim peroksidase. Carcinoembryonic antigen (CEA): digunakan untuk identifikasi adenocarcinoma. Cytokeratins: digunakan untuk identifikasi carcinoma tetapi juga dapat terekspresi dalam beberapa sarkoma. . Enzim Horseradish Peroksidase.Metode Peroxidase-anti-Peroxidase (PAP) merupakan analisis imunohistokimia menggunakan tiga molekul peroksidase dan dua antibodi yang membentuk seperti roti sandwich.

Ilmu yang mempelajari pewarnaan jaringan disebut histokimia. Selain itu juga adalah untuk mempelajari dinamika perubahan dan dinamika organisasi sitokimianya yang terjadi atas perbedaan fungsinya. atau rusak). . Pemotongan dengan mikrotom ini akan menghasilkan lapisan dengan ketebalan 5 mikrometer.9. Pembuatan sediaan dari suatu jaringan dimulai dengan operasi. 19 . Jaringan yang diambil kemudian diproses dengan fiksatif yang akan menjaga agar sediaan tidak akan rusak (bergeser posisinya.Teknik Analisa Sitologi dan Sitokimia Sitologi berasal dari akar kata cytos yang artinya cel dan logos artinya ilmu pengetahuan. Sampel jaringan yang telah terfiksasi direndam dalam cairan etanol (alkohol) bertingkat untuk proses menghilangkan air dalam jaringan (dehidrasi). Identifikasi sel T limfa menggunakan CD 3 Prinsip Dasar Analisa Sel dalam Jaringan Teknik analisa yang dipakai dalam menganalisa sel dalam jaringan adalah sebagai berikut. Jadi sitologi berarti ilmu yang mempelajari tentang sel.Metode Backpropagation Perambatan galat mundur (Backpropagation) adalah sebuah metode sistematik untuk pelatihan multiplayer jaringan saraf tiruan. Hematoxylin akan memberi warna biru pada nukelus. sementara eosin memberi warna merah muda pada sitoplasma. Artefak adalah benda yang tidak terdapat pada jaringan asli. Selanjutnya sampel dipindahkan ke dalam toluena untuk menghilangkan alkohol (dealkoholisasi). Tujuan utama mempelajari sitokimia adalah untuk identifikasi dan lokalisasi komponen kimiawi sel. baik yang sifatnya kualitatif maupun kuantitatif. Selama proses yang berlangsung selama 12-16 jam ini. obyektif dan algoritma ini mendapatkan bentuk persamaan dan nilai koefisien dalam formula dengan meminimalkan jumlah kuadrat galat error melalui model yang dikembangkan (training set). tergantung pada jaringan yang ingin diamati. atau autopsi. Fiksatif yang paling umum digunakan untuk jaringan hewan (termasuk manusia) adalah formalin (10% formaldehida yang dilarutkan dalam air). Lapisan ini kemudian diletakkan di atas kaca objek untuk diwarnai. jaringan yang awalnya lembek akan menjadi keras sehingga lebih mudah dipotong menggunakan mikrotom. . Masih terdapat berbagai zat warna lain yang biasa digunakan dalam mikroteknik. Artefak ini terbentuk karena kurang sempurnanya pembuatan sediaan. membusuk. biopsi. namun tampak pada hasil akhir sediaan. Langkah terakhir yang dilakukan adalah memasukkan sampel jaringan ke dalam parafin panas yang menginfiltrasi jaringan.Pembuatan Sediaan (Preparat) Cara pembuatan sediaan histologis disebut mikroteknik. Larutan Bouin juga dapat digunakan sebagai fiksatif alternatif meskipun hasilnya tidak akan sebaik formalin karena akan meninggalkan bekas warna kuning dan artefak. Metode Analisis Sel dalam Jaringan . Pewarnaan perlu dilakukan karena objek dengan ketebalan 5 mikrometer akan terlihat transparan meskipun di bawah mikroskop. Metode ini memiliki dasar matematis yang kuat. Pewarna yang biasa digunakan adalahhematoxylin dan eosin.

pada tahun 1852 Rudolph von Kölliker (1817-1905). Imunohistokimia berkembang dengan ditemukannya Indirect method. o Ubah seluruh bobot dengan menggunakan kesalahan pada sisi masukan elemen dan luaran elemen pemroses yang terhubung. Marie François Xavier Bichat (1771-1802). Setelah itu teknik peroxidase dan anti-peroxidase ditemukan pada tahun 1979. Kemudian penggunaan Avidin & Biotin complex pada awal tahun 1980an. Ulangi proses ini sampai masukan tercapai. dalam penelitiannya Bichat tidak menggunakan mikroskop melainkan pembedahan/ pemotongan dan berhasil mengidentifikasi 21 jaringan yang kemudian disebut sebagai 21 jaringan Bichat. saraf. Perkembangan Metode Analisis Sel dalam Jaringan Perkembangan Histologi Histologi adalah ladang penelitian yang sangat gencar dilakukan pada abad ke-19. atau yang sering disebut bapak histologi ini adalah orang pertama yang secara sistematis mempelajari jaringan yang dianggap sebagai blok penyusun unsur tubuh. o Propagasi balik kesalahan-kesalahan ini pada keluaran setiap elemen pemroses ke kesalahan yang terdapat pada masukan. seorang ahli patologi Perancis. 20 . yang sebelumnya telah dirintis oleh Malpighi dan Bichat. seorang profesor anatomi Swiss menjadi orang pertama yang mempublikasikan buku tentang histologi yang berjudul ”Handbuch der Gewebelehre”. seorang palaentologis Inggris merekomendasikan agar penggunaan istilah histologi digunakan secara meluas. August Mayer(1787-1865) menciptakan istilah histologi yang berarti studi tentang jaringan tubuh yang berasal dari bahasa Yunani yaitu histos (jaringan) dan logos (ilmu).- o Dimulai dengan lapisan masukan. kapiler. o Transformasikan kesalahan tersebut pada kesalahan yang sesuai di sisi masukan elemen pemroses. Metode Carcinoembryonicantigen (CEA) CEA merupakan antigen spesifik untuk adenocarcinoma pada saluran cerna yang ditemukan pada tahun 1965. namun penggunaanya mulai meluas mulai tahun 1942 ketika studi pertama mengenai imunihistokimia dilaporkan. Kadar CEA pada serum perokok lebih tinggi dibandingkan bukan perokok. kemudian ditemukan adisi horseradish peroxidase. dan epitel. Perkembangan Imunohistokimia Prinsip dasar imunohistokimia telah diketahui sejak sekitar tahun 1930. Kemudian Richard Owen (1804-1892). Namun. dan lapisan kulit malpighi yang merupakan unit sebenarnya pembentuk jaringan tubuh. o Hitung kesalahan pada lapisan luar yang merupakan selisih antara data aktual dan target. sel-sel limpa. seorang ahli anatomi dari Italia atau yang sering disebut sebagai bapak anatomi mikroskopis ini adalah orang pertama yang menjelaskan alveolus paru-paru. sel-sel ginjal. hitung keluaran dari setiap elemen pemroses melalui lapisan luar. Marcello Malpighi (1628-1694). Akan tetapi. yaitu jaringan ikat. otot. Perkembangan selanjutnya. histologi modern kini lebih mengenal empat macam jaringan.

Perkembangan Teknik Analisis Sel dengan Teknik Instrumental Dua sifat sel yang menjadi dasar pengembangan teknik analisis instrumental pada sel. embedding jaringan dengan parafin atau dibekukan pada nitrogen cair. pemberian substrat. bila telah kering sifat kontrasnya meningkat. Unutk meningkatkan sifat kontras pada sel hidup dapat digunakan mikroskop fase kontras dan mikroskop interferensi (De Reberties. Antigen adalah suatu zat atau substansi yang dapat merangsang sistem imun untuk bereaksi secara spesifik dengan antibodi membentuk kompleks terkonjugasi. 21 . yang macam-macamnya telah disebutkan. Prinsip dasar proses imunohistokimia adalah penggunaan antibodi dan histo yang menunjukkan jaringan secara mikroskopis.Preparasi sampel merupakan persiapan pembentukan preparat jaringan yang masih segar. dan bloking dari protein tidak spesifik lain. Teknik lain untuk meningkatkan kontras sel adalah dengan teknik pewarnaan. mulai dari fiksasi. Contoh Analisis Sel dalam Jaringan Contoh penggunaan metode analisis sel dalam jaringan adalah immunohistokimia. Immunohistokimia merupakan suatu cara pemeriksaan untuk mengukur derajat imunitas atau kadar antibodi atau antigen dalam sediaan jaringan. Karena mewarnai sel memerlukan serangkaian teknik. Antibodi adalah imunoglobulin yang dihasilkan oleh sistem imun dalam merespon kehadiran suatu antigen tertentu. 1975 :82). dkk. Setiap jenis mikroskop mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. dan pemotongan atau seksi serta pewarnaan. dehidrasi embedding.Sampel labeling adalah pemberian bahan-bahan untuk dapat mewarnai preparat. yaitu sifatnya yang tembus cahaya. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan khususnya dunia biologi. berupa mikroskop. . yaitu preparasi sampel dan labeling. Sel mempunyai ukuran yang sangat kecil yang dinyatakan dalam micron (1 mikron =1/1000 mm = 1/25. Masalahnya teknik pearnaan ini tidak dapat digunakan untuk meningkatkan kontras pada sel hidup. Oleh karena itu diperlukan teknik instrumental yang mampu membesarkan obyek mampu membesarkan obyek untuk mempelajari sel. fiksasi jaringan biasanya menggunakan formaldehid. Sampel labeling terdiri dari imunodeteksi menggunakan antibodi primer dan sekunder. ialah ukuran sel dan sifat sel yang tembus cahaya. Antibodi dibentuk berdasarkan antigen yang menginduksinya. teknik immunohistokimia dapat langsung diamati tanpa perlu direaksikan lagi dengan kromogen yang menghasilkan warna dibawah mikroskop fluorescense. pemotongan jaringan dengan menggunakan mikrotom. Langkah-langkah dalam melakukan immunohistokimia terbagi menjadi 2. dan counterstaining untuk mewarnai jaringan lain di sekitarnya. Untuk mengatasi sifat kedua dari sel. . deparafinisasi dan antigen retrieval untuk membebaskan epitop jaringan. tetapi tidak dapat digunakan untuk mempelajari sel hidup karena terlalu tebal. lokalisasi. Pemeriksaan ini membutuhkan jaringan dengan jumlah dan ketebalan yang bervariasi tergantung dari tujuan pemeriksaan. menurut De Reberties (1975 : 82) Karena sel mengandung banyak air. dibutuhkan alat yang dapat meningkatkan kontras. Sel memiliki sifat tembus cahaya.400 inci). dan mengidentifikasi marker. Teknik immunohistokimia bermanfaat untuk identifikasi. Misalnya electron mikroskop mampu untuk mengenal bagian sel sampai pada tingkatan molekul.

Metode dasar identifikasi antigen dalam jaringan dengan histokimia terbagi menjadi 2. Antiserum ini dipanen dan ditempatkan dalam larutan pada enzim sehingga membentuk kompleks imun yang larut.Metode Avidin-Biotin-Complex (ABC) adalah metode analisis imunohistokimia menggunakan afinitas terhadap molekul avidin.IHC merupakan teknik deteksi yang sangat baik dan efektif untuk memeriksa jaringan. 2) Cytokeratins: digunakan untuk identifikasi carcinoma tetapi juga dapat terekspresi dalam beberapa sarkoma.Metode tidak langsung merupakan metode yang menggunakan 2 macam antibodi yaitu antibodi primer (tidak berlabel) yang bertugas mengenali antigen yang diidentifikasi pada jaringan dan antibodi sekunder (berlabel) yang akan berikatan dengan antibodi primer. Teknik ini telah digunakan dalam ilmu saraf. Kekurangan dari teknik ini adalah kurang spesifik terhadap protein tertentu tidak seperti teknik imunoblotting yang dapat mendeteksi berat molekul protein dan sangat spesifik terhadap protein tertentu. Situs pengikatan beberapa biotin dalam molekul avidin tetravalen bertujuan untuk amplifikasi dan merespon sinyal yang disampaikan oleh antigen target. protein imunogenik. . Pelabelan antibodi sekunder diikuti dengan penambahan substrat berupa kromogen. tumor. Teknik ini banyak digunakan dalam diagnostik patologi bedah terhadap kanker. . Marker yang digunakan dalam diagnosa IHC adalah sebagai beriku 1) Carcinoembryonic antigen (CEA): digunakan untuk identifikasi adenocarcinoma. IHC memiliki keuntungan yang luar biasa untuk dapat menunjukkan secara tepat di dalam jaringan mana protein tertentu yang diperiksa. Enzim Horseradish Peroksidase.Metode Peroxidase-anti-Peroxidase (PAP) merupakan analisis imunohistokimia menggunakan tiga molekul peroksidase dan dua antibodi yang membentuk seperti roti sandwich. yaitu antibodi yang terlabel seperti antiserum terkonjugasi fuorescein isothiocyanate (FITC) atau rodhamin. . . 3) CD15 and CD30 : digunakan untuk identifikasi Hodgkin's disease 4) Alpha fetoprotein: untuk tumor yolk sac dan karsinoma hepatoselluler 5) CD117 (KIT): untuk gastrointestinal stromal tumors (GIST) 6) CD10 (CALLA): untuk renal cell carcinoma dan acute lymphoblastic leukemia 7) Prostate specific antigen (PSA): untuk prostate cancer estrogens dan progesterone staininguntuk identifikasi tumor 8) Identifikasi sel B limfa menggunakan CD20 9) Identifikasi sel T limfa menggunakan CD 3 22 . Metode ini hanya melibatkan satu jenis antibodi.biotin oleh tiga enzim peroksidase. Kromogen merupakan suatu gugus fungsi senyawa kimiawi yang dapat membentuk senyawa berwarna bila bereaksi dengan senyawa tertentu. digunakan untuk menyuntik spesies tertentu dan merespon imun poliklonal yang dihasilkan terhadap enzim. . yaitu metode langsung dan tidak langsung. yang memungkinkan peneliti untuk memeriksa ekspresi protein dalam struktur otak tertentu. dan sebagainya. Teknik ini memanfaatkan afinitas antibody terhadap antigen (enzim) untuk membentuk kompleks imun stabil sebagai perlawanan terhadap proses kimia terkonjugasi Fitur unik dari prosedur ini adalah larutan enzim-antibodi dan kompleks imun PAP.Metode langsung merupakan metode pengecatan satu langkah.

4. lipid. dan protein. Jika zat ini terdapat di dalam makhluk hidup. Di alam. TEKNIK ANALISIS SPEKTROFOTOMETRI SEL/KONVENSIONAL Pengertian Spektrofotometri Sel Spektrofotometri adalah metode yang menggunakan gelombang (terutama gelombang cahaya) untuk menentukan kandungan/karakteristik dari suatu sampel. Metode ini dilakukan dengan menandai molekul yang akan dianalisis dengan fluorophore jika diperlukan. Konsep dasar dari spektrofotometri fluoresens adalah mendeteksi emisi fluoresens dari suatu zat. lalu mendeteksi keberadaan dan kondisi molekul tersebut 23 . suatu sampel akan ditembakkan dengan gelombang cahaya. atau molekul yang memiliki kemampuan untuk mengemisikan fluoresens. dan sisanya akan diteruskan ke spektrometer. Dengan mengukur perbedaan antara jumlah gelombang per satuan panjang dari sumber dengan jumlah gelombang per satuan panjang pada spektrometer. Fluoresens hanya akan berlangsung selama zat yang memancarkan cahaya menerima energi terus menerus dan akan berhenti memancarkan cahaya jika sumber energinya hilang. Sementara itu. tetapi untuk zat yang tidak mengemisikan fluoresens. Karena sel adalah sekumpulan besar molekul-molekul yang terstruktur. harus ada metode tambahan yang dilakukan. spektrofotmetri fluoresens ini dilakukan dalam metode fluorescent microscopy. kekurangan dari imunohistologi adalah kurang spesifik terhadap protein tertentu tidak seperti teknik imunoblotting yang dapat mendeteksi berat molekul protein dan sangat spesifik terhadap protein tertentu. dapat diketahui kandungan sampel tersebut. dan sebagian dari cahaya yang lewat akan terserap energinya oleh sampel. Spektrofotometri yang biasa dilakukan pada sel adalah spektrofotometri fluoresens dan spektrofotometri inframerah Prinsip Dasar Analisis Spektrofotometri Sel/Konvensional Fluoresens adalah peristiwa emisi cahaya oleh suatu zat yang menyerap energi dari cahaya atau radiasi elektromagnetik. Dalam ilmu saraf. Dalam sel. dapat digunakan untuk menentukan lokasi sel tertentu dan protein. Sementara itu. kedua metode yang telah disebutkan sebelumnya dapat diaplikasikan untuk mengetahui kandungan suatu sel. konsep yang digunakan pada AES adalah bahwa setiap zat mengeluarkan (emisi) gelombang cahaya pada panjang gelombang yang berbeda-beda jika elektronnya mengalami eksitasi. ada zat yang memiliki sifat fluoresens alami.Kelebihan teknik imunohistokimia adalah antibodi berikatan dengan antigen yang spesifik. Pada AAS. Zat sampel ini akan diberikan fluorophore. Hal ini dapat dilakukan dengan mudah jika zat yang akan dideteksi dapat mengemisikan fluoresens dengan sendirinya. Dengan mengamati warna (panjang gelombang) yang diemisikan oleh sampel dan membandingkannya dengan referensi. yaitu spektrofotometri absorbsi (AAS). dapat ditentukan berapa banyak gelombang cahaya yang diserap (absorb) oleh sampel. Metode ini menggunakan hubungan antara energi yang dibawa oleh gelombang cahaya dan zat yang terkandung dalam sampel. Spektrofotmetri secara umum dibagi menjadi 2. IHC memungkinkan peneliti untuk memeriksa ekspresi protein dalam struktur otak tertentu. dan emisi (AES). Beberapa molekul non-fluoresens yang dapat ditandai dengan fluorophore misalnya DNARNA. fenomena fluoresens ini disebut juga biofluoresens. dapat digunakan untuk mengidentifikasi respon sel (contoh : apoptosis).

Kazarian of Imperial College 24 .edu Untuk spektrofotometri inframerah. Setiap molekul akan menyerap inframerah pada wavenumber yang berbeda. Gambar 18. lalu dideteksi menggunakan spektrometer. akan mengemisikan fluoresens jika berikatan dengan molekul DNA.tissuegroup. Bagan FT-IR Sumber : Fourier Transform Infrared Spectroscopic Imaging of Live Cells.dengan mengikuti emisi fluoresens yang muncul.chem.vt. Metode spektrofotometri inframerah yang digunakan untuk menganalisis sel biasanya adalah Fourier Transform Infrared (FT-IR). Gambar 17. Detektor kemudian akan mendeteksi wavenumber yang diteruskan oleh kristal di setiap pikselnya. FT-IR ini menggunakan inframerah. Jennifer A. Dougan and Sergei G. Inframerah akan ditembakkan dari sumber dengan jumlah gelombang per satuan panjang (wavenumber) tertentu melalui sampel. kristal. Sampel akan menyerap sebagian sinar inframerah dan kristal akan meneruskan sinar yang tidak terserap ke detektor. Hasil yang didapat oleh detektor akan berbentuk seperti gambar yang menunjukkan spektrum cahaya yang diteruskan kristal di setiap pikselnya. sehingga jika florophore ini disebar pada suatu sampel. kita dapat menemukan rantairantai DNA yang terdapat pada sampel dengan mencari titik-titik fluoresens. sehingga dengan mencocokkan dengan data referensi dapat ditentukan kandungan suatu molekul. Sinar inframerah akan ditembakkan pada sampel yang terletak di bagian atas kristal dengan sudut di atas sudut kritis. Sebagai contoh. Bagan Spektrofotometri Fluoresens Sumber : www. prinsip dasarnya adalah adanya perbedaan daya absorbsi inframerah tiap molekul. dan barisan detektor berisi piksel yang disebut Focal Plane Array (FPA). suatu fluorophore etidium bromide.

muncul mikroskop FT-IR pertama yang membuat analisis sel menjadi lebih mudah karena sampel yang digunakan bisa semakin spesifik. Bidang imunofluoresens dapat menandai antibodi-antibodi sehingga dapat diamati dan bahkan dihitung jumlahnya. Contoh Analisis oleh Spektrofotometer/Konvensional Gambar 19. Sekarang. Setelah adanya computer. Baru pada akhir 1960an mulai dibuat alat FT-IR yang bisa banyak digunakan. FT-IR dikembangkan lagi oleh J.W. Kini. Pada awalnya. membuka jalan untuk perkembangan imunofluoresens. dimana ukuran sampel bisa hanya seukuran 10 mikron. mikroskopi fluorsens telah mencapai skala lebih dalam. Spektrofotometri FT-IR FT-IR pertama dikembangkan setelah ditemukannya interferometer oleh Albert Abraham Michelson pada tahun 1880. Persebaran suatu organisme dalam daerah dapat dideteksi dengan mengamati fluoresens alami yang dibawanya dan memetakannya. skala nano berkat penemuan Eric Betzig. Pada 1914. pada tahun 1941. Pada contoh sebelumnya telah disebutkan bahwa keberadaan DNA pada sampel dapat dideteksi dengan menggunakan fluorophore tertentu. Stanislav Von Prowazek menggunakan mikroskop fluoresens untuk mempelajari pengikatan zat warna pada sel. Cooley dan J. Albert Coons dapat menandai antibody dengan fluorescein isothiocyanate (FITC). William Moerner dan Stefan Hell “super-resolved fluorescence microscopy”.W. Pada 1980an. dimana Michelson kemudian memenagkan hadiah Nobel pada 1907 setelah interferometernya dapat mengukur panjang gelombang cahaya. mikroskop FT-IR dapat digunakan untuk menganalisis sampel yang berjumlah bahkan kurang dari 100 pikogram (100 x 10-12 g) dengan bantuan cryogenic trapping. interferometer ini sangat suit untuk digunakan sebagai alat FT-IR karena masih menggunakan interferogram manual. Kemudian. dimana ketiganya memenangkan hadiah Nobel di bidang Kimia untuk penemuannya. yaitu algoritma yang dapat menjalankan metode Fourier Transform dengan cepat menggunakan computer. Penyusunan DNA juga dapat dilakukan dengan bantuan fluorophore dengan menandai setiap jenis basa Nitrogen dengan fluorophore yang berbeda. Tukey yang membuat Fast Fourier Transform. Fluoresensi etidium bromide-DNA dibawah sinar UV (warna oranye menandakan adanya molekul etidium bromide-DNA Sumber: Regulatory genomics research group at the University of Otago 25 .Perkembangan Alat dan Metode Analisis Spektrofotometri Fluoresens Otto Heimstaedt dan Heinrich Lehmann pada tahun 1911-1913 mengembangkan mikroskop fluoresens pertama yang dapat mengamati autofuluoresens bakteri dan organisme-organisme lain.

Mikroskopi FT-IR Sumber : http://www.Gambar 20. Teknik analisis sel yang sering dilakukan adalah seperti 26 .med.photonics. Pemetaan persebaran tanaman darat dengan fluoresens (ditandai dengan warna merah) Sumber: NASA Gambar 22. Imunofluoresens anti-IgA pada spesimen kulit manusia (warna hijau menyala IgA) Sumber: www.utah.library.edu Gambar 21.com Kesimpulan Teknik analisis sel dalam ilmu biologi terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan manusia akan pengklasifikasian dan pengetahuan spesifik mengenai berbagai tipe sel.

Balai Penerbit FKUI: Jakarta. National Institute of Standards and Technology.M. [Diakses 09 November 2015].. Jean-Marc. Department of Materials. [Diakses 09 November 2015]. Czech TechnicalUniversity in Prague. "Immunofluorescence". ELS. et al. Kresno. John P.com/mengenalmikroskop-elektron/. 2015. Interpreting Infra-RedSpectra.html.2001. N. USA 27 . (eds). Fritschy. Mitchell. L. Frank W. A. J. kelebihan dan kekurangan. Leonid A. Faculty of Nuclear Sciences and Physical Engineering. 120 00 Prague 2. [ONLINE] Tersedia: http://www. dan teknik analisis sel dengan spektrofotometer/konvensional yang memanfaatkan cahaya untuk mengabsorbansi suatu zat dengan konsentrasi tertentu dari suatu sel. Wolfgang .com/shop/CategoryDisplay?catalogId=10001&tab=Cell+Isol ation+and+Tissue+Dissociation&applicationOverview=1&categoryId=10508&langId=1&storeId=15009. Lattice Imaging In Transmission Electron Microscopy. Electron Diffraction Using Transmission Electron Microscop.G. Berlin: Springer Mengenal mikroskop elektron . interpreting infra-red spectra.2001.chemguide. New York. Miroslav. D.Cell Isolation and Tissue Dissociation..html. 2015. Biologi. Mikroskop Elektron . Hardani. 2002. Reynolds. 1988. [Diakses 08 November 2015]. Trojanova 13. C.2001. Imunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium.com/2013/03/mikroskopelektron. [ONLINE] Tersedia: https://lifescience.. Teknik analisis sel diatas memiliki instrumen. A Guide to Matterials Characterization and Chemical Analysis. 2003.A. teknik analisis sel tunggal yang menggunakan satu sel dengan pengamatan mikroskop. L.biologi-sel.2005. Cellular Analysis . [Diakses 10 November 2015]. Mengenal mikroskop elektron Praktikum Biologi. Härtig. R.B. Alih bahasa lestari.Praktikum Biologi.roche. VCH. safitri.Biologi sel dan Molekuler. Mikroskop Elektron . R. “Microscopic Techniques. fluorescence.co. Lakowicz. [ONLINE] Tersedia: http://www. Joseph R. London. DAFTAR PUSTAKA Bendersky. [ONLINE] Tersedia: http://praktikumbiologi. Editor Wiley-Interscience Publishers. New York: Wiley Rietdorf.W. Reece. Atomic absorption. 2006. Sydney. Thompson. Advances in Biochemical Engineering / Biotechnology”. and flame emission spectroscopy: a practical approach. 1965. Czech Republic.teknik flow cytometry yang memanfaatkan aliran cairan melalui suatu celah yang ditembus sinar laser. S. Jakarta. Hercules. Karlík. Erlangga.. teknik analisis sel dalam jaringan yang menggunakan analisis sitologi dan sitokimia untuk identifikasi komponen kimiawi dalam sel yang terdapat dalam jaringan . B. 2015. Sibilia.Biologi sel dan Molekuler. “Principles Of Fluorescence Spectroscopy”.Cell Isolation and Tissue Dissociation. Springer. 1978. J .. H. Campbell. J. Cellular Analysis . New York.uk/analysis/ir/interpret. K. and Gayle. 2015.Gaithersburg. Fluorescence and phosphorescence analysts. MD 20899-8554. Simarmata. dan pemilihan teknik analisis sel yang dilakukan disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan analisis sel.

[Diakses 09 November 2015]. [ONLINE] Tersedia: https://www. Single cell analysis of circadian dynamics in tissue explants .Meetings.news-medical. 28 . [Diakses 10 November 2015].thermofisher. Single Cell Analysis .org/content/early/2015/08/09/mbc. Single Cell Analysis . 2015.nih.molbiolcell.gov/singlecell/snapshot. 2015. Single Cell Analysis | Thermo Fisher Scientific.What is Flow Cytometry? .html.aspx.full.Meetings. 2015. [Diakses 10 November 2015].net/health/What-is-Flow-Cytometry. [ONLINE] Tersedia: https://commonfund. What is Flow Cytometry? .E15-060403. [ONLINE] Tersedia: http://www. 2015. [Diakses 08 November 2015]. [ONLINE] Tersedia: http://www.pdf+html. Single cell analysis of circadian dynamics in tissue explants . Single Cell Analysis | Thermo Fisher Scientific.com/id/en/home/lifescience/cell-analysis/single-cell-analysis.