Anda di halaman 1dari 28

1

KAUSALITAS PENERIMAAN, BELANJA DAN
PDRB KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA
(Studi Kasus Periode 2001- 2008)
Eka Parmawati
Hadi Sasana
Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

ABSTRAKSI
Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal mempunyai tujuan untuk
menciptakan suatu kemandirian daerah. Tidak semua daerah mempunyai kesiapan
yang sama dalam menciptakan kemandiriannya, dikarenakan rendahnya
pendapatan yang diperoleh dari daerah itu sendiri (PAD). Untuk mengatasi
permasalahan ini, pemerintah pusat memberikan dana perimbangan/dana transfer
kepada pemerintah daerah yang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan output
daerah (PDRB). Dana perimbangan pemerintah pusat sebagian besar terdiri atas
dana alokasi dan dana bagi hasil.
Tujuan penelitian ini adalah apakah terjadi hubungan kausalitas pada
komponen-komponen dalam variabel penerimaan, belanja dan PDRB di
kabupaten/kota seluruh Indonesia. Dalam penelitian ini juga membahas sifat
hubungan ketiga variabel tersebut, apakah searah, dua arah atau tidak ada
hubungan kausalitas sama sekali.
Penelitian ini dilakukan dengan metode uji kausalitas Granger yang diolah
menggunakan alat analisis Eviews 6.0. hasil penelitian menunjukkan bahwa
terjadi hubungan dua arah antara variabel penerimaan terhadap belanja dan terjadi
hubungan kausalitas satu arah antara variabel belanja terhadap PDRB, akan tetapi
pada variabel penerimaan terhadap PDRB tidak terjadi hubungan kausalitas.
Terbuktinya hubungan kausalitas dua arah antara penerimaan terhadap belanja
menunjukkan bahwa belanja daerah sangat tergantung dari besarnya penerimaan

1

2

daerah, dalam hal ini adalah Dana Alokasi, atau sebaliknya, besarnya Dana
Alokasi tersebut dapat diprediksi dengan besarnya anggaran belanja yang
diprogramkan oleh pemerintah daerah. Adanya hubungan satu arah antara belanja
terhadap PDRB menunjukkan bahwa belanja daerah meningkat akan menstimulus
peningkatan PDRB, tetapi peningkatan PDRB belum tentu meningkatkan belanja
daerah. Tidak adanya hubungan kausalitas antara penerimaan terhadap PDRB
ditunjukkan pada variabel Dana Bagi Hasil. Hal ini berarti pemerintah daerah
sangat menggantungkan penerimaan daerahnya dari dana perimbangan dan
kurang merespon dana perimbangan tersebut dalam meningkatkan PDRB.

Kata kunci: Kausalitas, Dana Perimbangan, Belanja Daerah, output daerah (PAD
dan PDRB).

1.1

Pendahuluan
Tingkat pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai dalam upaya

pembangunan akan terwujud apabila jumlah fisik barang dan jasa yang dihasilkan
dalam suatu perekonomian menjadi bertambah besar pada tahun-tahun berikutnya.
Anggaran belanja merupakan salah satu instrumen kebijakan fiskal pemerintah
untuk mempengaruhi pertumbuhan perekonomian. Kebijakan fiskal bekerja
mempengaruhi perekonomian melalui anggaran yang berfungsi sebagai alokasi,
distribusi dan stabilisasi (Musgrave, 1996). Pada dasarnya kebijakan fiskal akan
mentransfer tenaga beli masyarakat (berupa pajak, keuntungan, bea, dan
pinjaman) kepada pemerintah dan mentransfernya kembali kepada masyarakat
baik secara langsung maupun tidak langsung, dan didistribusikan menurut
pertimbangan-pertimbangan tertentu (Santoso, 1992).
Dalam lingkup regional, ketiga fungsi anggaran tersebut ditempuh dengan
mengalokasikan transfer ke daerah. Fisher (1996), memberikan gambaran bahwa
transfer sudah merupakan fenomena umum yang terjadi di semua negara di dunia

2

Dana Alokasi Umum (DAU). pemerintah daerah diberikan kesempatan yang lebih leluasa untuk melakukan berbagai kebijakan publik daerah. Proporsi dana PAD hanya mampu membiayai paling tinggi sebesar 20% (Kuncoro. Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah. Adanya kebijakan otonomi daerah tersebut. yaitu pemenuhan sendiri kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). dan Dana Bagi Hasil (DBH). sementara pengeluaran pemerintah yang berasal dari APBD sangat tergantung dari besaran dana perimbangan yang berasal dari transfer pemerintah pusat yang berupa. Dana Alokasi Khusus (DAK). Menurut Adi (2006). Data menunjukkan bahwa laju pertumbuhan belanja pemerintah daerah cenderung lebih cepat dari pada laju pertumbuhan PAD. sehingga pembangunan daerah mendapat penerimaan untuk pembangunan perekonomiannya selain hasil pajak dari masyarakat juga memperoleh penerimaan dari pemerintah pusat. Dalam rangka membiayai pengeluaran publik. pemerintah daerah kabupaten/kota dihadapkan pada tantangan baru. 2007). Pembiayaan pengeluaran pemerintah yang berasal dari sumber APBN tergantung kebijakan dari pemerintah pusat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa transfer berperan sangat strategis dalam mempengaruhi perekonomian daerah. Sedangkan dana perimbangan dari transfer pemerintah pusat peningkatannya mencapai lebih dari 90%. proporsi DAU terhadap penerimaan daerah 3 . khususnya dari Dana Alokasi Umum. karena Pendapatan Asli Daerah pada umumnya relatif kecil dan belum dapat diandalkan sebagai sumber pembiayaan. Sektor swasta juga sangat sulit diharapkan untuk berkontribusi lebih besar dalam menggerakkan perekonomian. Penerimaan dari PAD dari tahun 2006-2008 rata-rata di bawah < 10% dari seluruh jumlah pendapatan daerah. pemerintah daerah tidak hanya melakukan penggalian Pendapatan Asli Daerah (PAD) tetapi juga memperoleh alokasi dana perimbangan dari pusat. Pengeluaran pemerintah pada umumnya memiliki keterbatasan dalam pembiayaan.3 terlepas dari sistem pemerintahannya dan bahkan sudah menjadi ciri yang paling menonjol dari hubungan keuangan antara pusat dan daerah.

Untuk itu diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut: 4 . Berdasarkan kondisi tersebut. belanja dan PDRB. peneliti ingin mengetahui hubungan kausalitas antara penerimaan. Belanja dan PDRB Kabupaten/Kota di Indonesia (Studi Kasus Periode 2001-2008). Pertumbuhan perekonomian daerah yang berhubungan dengan kenaikan transfer sebagai salah satu komponen penerimaan pemerintah dianggap sebagai faktor yang positif dan merangsang pertumbuhan ekonomi artinya. hal ini menuntut produktivitas dari masing-masing komponen pengeluaran pemerintah daerah untuk dapat memberikan kontribusi kepada PDRB. 1.4 masih tertinggi dibanding dengan penerimaan daerah yang lain. dengan catatan mereka mempunyai daya beli. Naiknya stok modal daerah akan meningkatkan produksi. sesuai dengan Teori Pertumbuhan Harrod-Domar. dan menyajikannya ke dalam bentuk penelitian dengan judul Kausalitas Penerimaan. Hal ini membuktikan peran pemerintah pusat sangat penting bagi pembiayaan pembangunan daerah.1 Rumusan Masalah Permasalahan dalam penelitian ini adalah. pemerintah daerah kabupaten kota di Indonesia sebagian besar masih didanai dari dana perimbangan tersebut. Dari permasalahan tersebut. Dilihat dari sisi belanjanya. dilihat dari sisi penerimaan pemerintah daerah kabupaten/kota di Indonesia mendapat dana penerimaan daerah tertinggi dari dana perimbangan pemerintah pusat. sehingga permintaan akan meningkat (Todaro. bahwa investasi memiliki peran kunci dalam pertumbuhan ekonomi yaitu menciptakan pendapatan dan memperbesar kapasitas produksi perekonomian dengan cara meningkatkan stok modal. Padahal dari sisi ouputnya (PDRB) selama ini masih rendah. 1997:63). termasuk PAD. penulis tertarik mengadakan penelitian mengenai permasalahan ini. semakin tinggi penerimaan pemerintah akan meningkatkan potensi pasar domestik. Menurut Jhingan (1998).

1 Telaah Teori 2. a. Tahap Awal Pada tahap awal perkembangan ekonomi. Peranan pemerintah tetap besar pada tahap menengah. Tahap Menengah Pada tahap menengah pembangunan ekonomi. Bagaimana hubungan kausalitas antara penerimaan daerah dengan belanja daerah pada kabupaten/kota di Indonesia ? 2.1 Teori Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Rostow dan Musgrave yang menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dengan tahap-tahap pembangunan ekonomi yaitu tahap awal. oleh karena peranan swasta semakin besar akan menimbulkan banyak kegagalan pasar dan juga menyebabkan pemerintah harus menyediakan barang dan jasa publik dalam jumlah yang lebih banyak. Bagaimana hubungan kausalitas antara belanja daerah dengan PDRB pada kabupaten/kota di Indonesia ? 3. Musgrave (1980) berpendapat bahwa dalam suatu proses pembangunan. namun pada tahap ini peranan investasi swasta sudah semakin besar. b. investasi swasta dalam prosentase terhadap PDB semakin besar dan prosentase investasi pemerintah terhadap PDB akan semakin kecil. tahap menengah dan tahap lanjut. persentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar. investasi pemerintah tetap diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar dapat tinggal landas.5 1.1. 5 . Bagaimana hubungan kausalitas antara penerimaan daerah dengan PDRB pada kabupaten/kota di Indonesia ? 2.

Teori Peacock dan Wiseman adalah sebagai berikut. 1.2 1.1. meningkatnya PDB menyebabkan penerimaan pemerintah semakin besar. Tahap Lanjut Pada tingkat ekonomi lebih lanjut. begitu juga dengan pengeluaran pemerintah yang semakin besar. 2. Hukum ini dikenal dengan “ The Law Expanding State Expenditure”. Peacock dan Wiseman mendasarkan pada suatu teori bahwa masyarakat mempunyai suatu tingkat toleransi pajak. Hukum Wagner Wagner mengemukakan suatu teori mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah yang semakin besar dalam prosentase terhadap PDB. Teori Klasik Pembangunan Ekonomi Pertumbuhan Harrod-Domar Setiap perekonomian pada dasarnya harus senantiasa mencadangkan sebagian tertentu dari pendapatan nasionalnya untuk menambah barang-barang 6 . Dalam suatu perekonomian apabila pendapatan perkapita meningkat. Teori Peacock dan Wiseman Teori Peacock dan Wiseman merupakan dasar teori pemungutan suara.6 c. maka secara relatif pengeluran pemerintah akan meningkat. yaitu suatu tingkat dimana masyarakat dapat memahami besarnya pungutan pajak yang dibutuhkan oleh pemerintah untuk membiayai aktivitas pemerintah sehingga mereka mempunyai tingkat kesediaan untuk membayar pajak. dan meningkatnya penerimaan pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat. Oleh karena itu. Pertumbuhan Ekonomi (PDB) menyebabkan pemungutan pajak semakin meningkat walaupun tarif pajak tidak berubah. dalam keadaan normal . Rostow mengatakan bahwa aktivitas pemerintah dalam pembangunan ekonomi beralih dari penyediaan prasarana kepengeluaran-pengeluaran untuk aktivitas sosial seperti program kesejahteraan hari tua dan pelayanan kesehatan masyarakat. 2.

tanpa adanya intervensi pemerintah tingkat pertumbuhan pendapatan nasional akan secara positif berbanding lurus dengan rasio tabungan. Secara negatif. 2. Dana Alokasi Umum UU No. yakni semakin besar rasio modal output nasional. maka tingkat pertumbuhan GNP semakin rendah. atau berbanding terbalik terhadap rasio modal output. Besarnya PAD yang diperoleh mencerminkan daerah tersebut memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.1. 3. Secara jelas dinyatakan bahwa tingkat pertumbuhan GNP ditentukan bersama-sama oleh rasio tingkat tabungan nasional dan rasio modal output nasioanal.3 Penerimaan Pemerintah Daerah Penerimaan daerah adalah jumlah dari seluruh volume pandapatan daerah yang terdiri atas: 1. 33 Tahun 2004 Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pendapatan Asli Daerah PAD merupakan pendapatan pendapatan yang menjadi hak untuk dinikmati oleh daerah otonom dari hasil pengelolaan sumber daya yang dimilikinya. 7 . Dana Bagi Hasil Menurut UU No. 2.7 modal. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah memberikan pengertian bahwa Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangkan pelaksanaan desentralisasi. Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam. yakni semakin banyak bagian GNP yang diinvestasikan maka akan lebih besar lagi GNP yang dihasilkannya.

Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. pada era otonomi daerah ketiga bentuk transfer ini dihilangkan. sehingga belanja untuk proyek-proyek pembangunan menjadi sangat berkurang. besaran transfer pemerintah pusat diwujudkan dalam tiga bentuk. 29/2002 menyebutkan bahwa belanja daerah adalah semua pengeluaran kas daerah dalam periode anggaran tertentu yang menjadi beban daerah. Sedangkan saat ini. Pengeluaran ini dilakukan oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan wewenang dan tanggung jawabnya kepada masyarakat dan pemerintah di atasnya (pemerintah provinsi/pemerintah pusat). Dana Alokasi Umum yang merupakan penyangga utama pembiayaan APBD sebagian besar terserap untuk belanja pegawai. Bantuan Inpres. Dalam menjalankan tugasnya sebagai daerah otonom.4 Belanja Daerah Keputusan Menteri No. a. dan Daftar Isian Proyek. yaitu Subsidi Daerah Otonom. Secara umum DBH (Dana Bagi Hasl) dan DAU (Dana Alokasi Umum) digolongkan kedalam bentuk unconditional transfer atau biasa disebut transfer tak bersyarat. Dana Alokasi Khusus Menurut UU No. Sedangkan DAK (Dana Alokasi Khusus) digolongkan ke dalam bentuk conditional transfer atau biasa disebut dengan transfer bersyarat (Adi.8 4. 33 Tahun 2004. Sebelum tahun 2001.1. 2. 2008). DAU dan DAK). Sebagai gantinya pemerintah memberikan transfer kepada pemerintah daerah dalam bentuk dana perimbangan (DBH. pemerintah daerah sangat bergantung pada dana perimbangan. Belanja Operasional 8 . Pada prakteknya belanja dibagi ke dalam dua kelompok yaitu belanja operasional (belanja aparatur daerah) dan belanja modal (belanja pelayanan publik).

Nilai PDRB akan sama walaupun dihitung menggunakan tiga cara yang berbeda. belanja operasi dan pemeliharaan.9 Belanja Operasional (belanja aparatur daerah) adalah bagian belanja berupa belanja administrasi umum. manfaat (benefit). sehingga biasanya disebut belanja tidak langsung.5 Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan data statistik yang merangkum perolehan nilai tambah dari seluruh kegiatan ekonomi disuatu wilayah pada satu periode tertentu.1. 2. 2. dan dampaknya (impact) secara langsung dinikmati oleh masyarakat (publik). Belanja Modal Belanja Modal (belanja pelayanan publik) adalah bagian belanja berupa: Belanja Administrasi Umum. PDRB dihitung dalam dua cara.6 Uji Kausalitas Granger (Granger Causality Test) 9 . serta belanja modal yang dialokasikan untuk membiayai kegiatan yang hasil (outcome). Penggunaan tahun dasar ini ditetapkan secara nasional dan didefinisikan berdasarkan tiga pendekatan produksi. serta Belanja Modal/Pembangunan yang dialokasikan pada atau digunakan untuk membiayai kegiatan yang hasil (outcome). Pandeglang 2007). Dalam menghitung PDRB atas dasar harga berlaku menggunakan harga barang dan jasa tahun berjalan. yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. b. Perhitungan PDRB atas dasar harga konstan saat ini menggunakan tahun 2000 sebagai tahun dasar. sehingga biasanya disebut belanja langsung. dan dampaknya (impact) tidak secara langsung dinikmati oleh masyarakt (publik). Belanja Operasi dan Pemeliharaan.1. pendapatan dan pengeluaran (Indikator Makro Ekonomi. manfaat (benefit). sedangkan pada PDRB atas dasar harga konstan menggunakan harga pada suatu tahun tertentu (tahun dasar).

10 Granger (1969) mempostulasikan bahwa suatu variabel X dikatakan menyebabkan variabel lain. 2007). maka hal ini tidak mempunyai kausalitas ( Haryo Kuncoro. Dan jika tidak saling mempengaruhi antara variabel X dan Y. terutama belanja operasional. Sedangkan Kuncoro (2007). yang dikutip oleh Maemunah (2006). hubungan penerimaan dan belanja daerah didiskusikan secara luas. Selain itu pada saat transfer dana dari 10 . serta berbagai hipotesis tentang hubungan ini diuji secara empiris. Secara spesifik mereka menegaskan bahwa variabel-variabel kebijakan pemerintah daerah dalam jangka pendek disesuaikan dengan transfer yang diterima. yaitu . Hal ini dapat menunjukan adanya indikasi bahwa peningkatan belanja yang tinggi tersebut dikarenakan inefisiensi belanja pemerintah. 2005). Y. jika variabel X mempengaruhi variabel Y. menyebutkan bahwa peningkatan alokasi transfer diikuti dengan pertumbuhan belanja yang lebih tinggi. tetapi besarnya proporsi PAD tidak berpengaruh secara signifikan terhadap belanja daerah. Belanja dan PDRB Sejak akhir dekade 1950-an dalam literatur ekonomi dan keuangan daerah.7 Kausalitas Antara Penerimaan Pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa transfer pemerintah khususnya DAU begitu dominan dalam membiayai belanja pemerintah daerah. Maemunah (2006) membuktikan adanya perilaku asimetris yang ditunjukkan oleh pengaruh DAU terhadap belanja daerah dan PAD. tetapi variabel Y tidak mempengaruhi variabel X (sebaliknya).1. Secara umum jika variabel X menyebabkan variabel Y maka perubahan X mendahului perubahan Y ( Jonni J Manurung. Terdapat dua arah hubungan pada Uji Kusalitas Granger. Jika variabel X mempengaruhi variabel Y dan sebaliknya maka dikatakan mempunyai hubungan dua arah. 2. apabila Y saat ini dapat diprediksi lebih baik dengan menggunakan nilai-nilai masa lalu X. Seperti yang dikatakan oleh Holtz-Eakin et al (1985). maka dikatakan mempunyai hubungan satu arah. bahwa terdapat keterkaitan sangat erat antara transfer dari pemerintah pusat dengan belanja pemerintah daerah. Besarnya proporsi DAU berpengaruh positif terhadap belanja daerah.

Dalam jangka panjang ketrgantungan ini seharusnya dikurangi. Belanja daerah mempengaruhi Produk Domestik Bruto (PDRB). maka akan membawa konsekuensi peningkatan pengeluaran pemerintah. pertama sampai seberapa besar proporsi transfer dialokasikan untuk membiayai berbagai jenis belanjanya. Peningkatan kegiatan ekonomi akan membawa pengaruh meningkatkan penerimaan pemerintah melalui perpajakan.11 pemerintah pusat menurun maka juga dikuti oleh penurunan belanja daerah yang melebihi penurunan PAD. Peningkatan 11 . Jika penerimaan pemerintah meningkat. Sementara Atep Adya Barata (2004) mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan pemerintah yang mendorong besaran jumlah pengeluaran negara mempunyai pengaruh terhadap perekonomian masyarakat. sampai seberapa besar berbagai jenis belanja tersebut dapat menstimulasi kegiatan ekonomi regional dalam bentuk PDRB. utamanya disektor riil dan dunia usaha pada umumnya. Kecenderungan ini menunjukan ketergantungan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat masih tinggi. Apabila PDRB meningkat maka akan berdampak kepada peningkatan kegiatan ekonomi. pertambahan nilai maupun cukai. karena akan berdampak negatif pada kemandirian daerah. Diantaranya adalah. Sehingga hal ini menunjukan peningkatan belanja daerah akan meningkatkan PDRB. John Due (1968) mengemukakan bahwa pemerintah dapat mempengaruhi tingkat PDRB dengan mengubah persediaan berbagai faktor yang dapat dipakai dalam produksi melalui program-program pengeluaran belanja pemerintah seperti pendidikan. Peningkatan PDRB tidak lepas dari adanya peningkatan penerimaan dan pengeluaran daerah. Kedua. strategisnya pengaruh transfer tidak bisa dilepaskan dari interaksi antara pendapatan dan alokasi belanjanya. Menurut Haryo Kuncoro (2007). Peningkatan aktivitas dan keuntungan perusahaan ini tentunya akan meningkatkan pemungutan pajak baik dari pajak penghasilan. hal ini karena adanya peningkatan biaya pembangunan publik. Ketika penerimaan pemerintah baik PAD maupun transfer pemerintah pusat meningkat maka belanja daerah juga ikut meningkat. karena bergairahnya perekonomian sehingga aktivitas dunia usaha meningkat dan pada akhirnya keuntungan perusahaan meningkat pula.

serta pendapatan yang diterima dari penerimaan pembiayaan daerah.12 tersebut juga didasari alasan bahwa dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Metodologi Penelitian 3.1. Penerimaan daerah menggunakan satuan juta rupiah. Pengeluaran daerah menggunakan satuan juta rupiah. yang terdiri atas Pendapatan Asli Daerah. sehingga dapat diketahui variabel penelitian dan definisi operasional dari metode analisis yang digunakan. Belanja Operasional 12 . Total belanja ini terdapat dua kategori. Pengeluaran Daerah Pengeluaran daerah adalah semua pengeluaran daerah pada suatu periode anggaran yang terdiri atas belanja operasional dan belanja modal.1 1. 2. maka menuntut peningkatan penyediaan barang publik oleh pemerintah.1 Metode penelitian yang digunakan dalam bab ini adalah studi kasus dengan menggunakan data skunder sehingga pengumpulan data tidak memerlukan teknik sampling dan kuesioner. Sehingga akan mempunyai efek terhadap peningkatan penerimaan pemerintah. dimana peningkatan PDRB akan mengakibatkan pengeluaran pemerintah meningkat. Dana Perimbangan (Dana Alokasi dan Dana Bagi Hasil). Data diperoleh dari instansi-instansi terkait dan metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif serta bentuk umum model vector autoregresif dengan menggunakan data panel. yaitu: a. Dengan demikian Wagner’s Law berlaku. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel Penerimaan Daerah Penerimaan Daerah merupakan jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh daerah tersebut yang diperoleh dari daerah itu sendiri ataupun dari pemerintah. 3.

b. Belanja operasional meliputi belanja pegawai/personalia. sejak disahkannya UU No. dan perhitungannya didasarkan atas harga konstan menurut kabupaten/kota. Adanya pemekaran wilayah atau pembentukan daerah otonom baru. Sampel yang digunakan 497 kabupaten/kota. 399 kabupaten. dan belanja pemeliharaan. 3. belanja perjalanan dinas. Belanja Modal Belanja Modal merupakan belanja pemerintah daerah yang manfaatnya melebihi satu anggaran yang akan menambah aset atau kekayaan daerah dan manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat.1. Atas dasar pertimbangan ini terkumpul 280 kabupaten/kota. 3. menggunakan satuan juta rupiah. PDRB dalam penelitian ini tanpa minyak dan gas bumi. hanya daerah non pemekaran. menggunakan satuan juta rupiah.2 Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan objek yang akan diteliti dalam penelitian. karena ada pertimbangan lain yaitu tidak mengikutkan daerah yang tidak menyertakan realisasi APBD dan 13 . 32 Tahun 2004. Belanja Modal dinotasikan dengan BO.13 Kelompok belanja ini merupakan semua belanja pemerintah daerah yang berhubungan dengan masyarakat. menggunakan satuan juta rupiah. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang kemudian direvisi menjadi UU No. dan 98 kota yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia (sumber: Data Depdagri). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kabupaten/kota seluruh Indonesia dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2008. Belanja Operasional dinotasikan dengan BO. PDRB dinotasikan dengan Y (pendapatan masyarakat). belanja barang dan jasa. Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah data statistik yang merangkum perolehan nilai tambah dari seluruh kegiatan ekonomi disuatu wilayah pada satu periode tertentu. Hingga Juni 2009 telah terbentuk 530 daerah otonom yang terdiri dari 33 provinsi.

id). sehingga data time series sebanyak 8 tahun.datastatistik-indonesia. Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah diseluruh pemerintah kabupaten/kota di Indonesia dan data PDRB atas dasar harga konstan menurut kabupaten/kota. Data yang digunakan yaitu. Sampel ini mencapai 65 persen atas jumlah kabupaten/kota non pemekaran seluruh Indonesia.go.go. Tahun yang dipilih adalah tahun 2001 sampai dengan tahun 2008.bps.1. maka data yang terkumpul sebanyak 178 kabupaten/kota.14 PDRBnya maka sampel akhir mencapai 178 kabupaten/kota. Cara pemilihan data dilakukan secara tidak random atau bersifat purposive. Direktorat Jenderal Direktorat Jenderal Perimbangan Anggaran Keuangan (www. 3. yaitu data yang diperoleh dari Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang berupa laporan realisasi penerimaan dan belanja daerah dari masing-masing kabupaten/kota dan data PDRB atas harga konstan menurut kabupaten/kota tahun 2001 sampai 2008. Data yang diambil adalah data seluruh kabupaten/kota yang mempunyai laporan realisasi APBD. akses internet dari portal (www. Data diperoleh melalui Biro Pusat Statistik (BPS).id). Jenis data yang digunakan dalam studi ini adalah data panel.id) dan www. sedangkan data cross section diambil sebanyak 178 kabupaten/kota.djpk.depkeu. yaitu kombinasi dari data time series dan data cross section. Purposive sampling adalah penentuan sampel berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti.go. anggaran.3 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini seluruhnya adalah data kuantitatif untuk periode tahun 2001 sampai 2008. Penentuan kriteria sampel dilakukan untuk menghindari salah spesifikasi (misspesification) dalam penentuan 14 . Data sekunder adalah data yang telah tersedia dan telah diproses oleh pihak-pihak lain sebagai hasil atas penelitian yang telah dilakukan.depkeu.com serta Statistik Indonesia (www.

selain itu penentuan sampel berdasarkan purposive ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh sampel yang representatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan di atas.1) Xit = α0 + ∑k=1→m αk Xit-k + ∑1-1→n β1 Yit-1 + u2it (3.5 Pengujian Kausalitas Estimasi model regresi dengan data panel dalam penelitian ini akan menggunakan pendekatan Granger Causality. belanja dan PDRB kabupaten/kota di indonesia adalah uji Kausalitas Granger.1. 1996). 1. 2004). apabila Y saat ini dapat memprediksi lebih baik dengan menggunakan nilai-nilai masa lalu variabel X (Granger. Penggunaan Uji Kausalitas Granger untuk mengetahui adanya hubungan timbal balik antara variabel-variabel ekonomi. Hubungan tersebut sering disebut hubungan timbal balik atau hubungan dua arah(M. 3. 3. Mengikuti Holzt-Eakin. Wahyudin dan Eny Widatik. 2007) sebagai berikut : Yit = a0 + ∑k=1→m ak Yit-k + ∑1-1→n b1Xit-1 + u1it (3. dimana satu sisi suatu dependent variable (variabel tidak bebas) dapat dipengaruhi variabel lain (independent variable) dan disisi lain independent variable tersebut dapat menempati posisi dependent variable. Model analisis yang digunakan untuk meneliti hubungan kausalitas antara penerimaan.2) 15 .1.15 sampel penelitian yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap hasil analisis.4 Metode Analisis Data Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan menggunakan data panel. uji kausalitas Granger diformulasikan dengan bentuk umum model vector autoregresive (Haryo Kuncoro. Granger Causality yaitu pendekatan yang mempostulasikan bahwa suatu variabel X menyebabkan variabel lain Y. Newey dan Rosen.

Jika b1 dan β1 signifikan (b1.3) ΔXit = α0 + ∑k=1→m αk ΔXit-k + ∑1-1→n β1 ΔYit-1 + Δu2it (3. dari hasil regresi diperoleh sebagai berikut : 3. dari hasil regresi diperoleh persamaan berkendala/restricted residual sum of squares (RRSS). merupakan deferensiasi tingkat pertama untuk mengeliminasi efek individual yang selalu muncul dalam data panel. c. Jika b1 signifikan (b1=0) dan β1 tidak signifikan (β1 ≠ 0). Bentuk persamaannya sebagai berikut : ΔYit = a0 + ∑k=1→m ak ΔYit-k + Δu1it (3. d. maka tidak terdapat kausalitas dua arah dari variabel X menuju variabel Y.16 Evaluasi statistik atas koefisien-koefisien b1 dan β1 akan memberikan 4 kemungkinan hasil: a. ΔYit = a0 + ∑k=1→m ak ΔYit-k + ∑1-1→n b1ΔXit-1 + Δu1it (3.6) Keterangan : 16 . b. tetapi tidak mencakup variabel lag dari X. 2. β1 ≠ 0). atau sebaliknya. maka terdapat kausalitas satu arah dari variabel X menuju variabel Y. Model persamaanya dengan meregresi Y dengan semua lag Y dan X. Persamaan yang kedua yaitu bentuk persamaan tidak berkendala/unrestricted residual sum of squares (URSS).5) ΔXit = α0 + ∑k=1→m αk ΔXit-k + Δu2it (3. Jika b1 tidak signifikan (b1≠ 0) dan β1 signifikan (β1 = 0). Jika b1 dan β1 tidaki signifikan (b1. maka terdapat kausalitas dua arah dari variabel X menuju variabel Y.4) Pengujian koefrisien b1 dan β1 akan dilakukan secara serempak dengan meregresikan Y pada semua lag Y dan variabel lainnya. maka terdapat kausalitas satu arah dari variabel Y menuju variabel X. β1 = 0). atau sebaliknya.

17 Y = variabel Y X = variabel X m. 17 . URSS = persamaan tidak berkendala/unrestricted residual sum of squares. N = jumlah data yang diobservasi. u2it = variabel pengganggu ak. = subskrip yang menyatakan daerah dan waktu. β1 = koefisien regresi yang menyediakan informasi mengenai arah kausalitas. yang ditempuh dengan membandingkan nilai jumlah residual kuadrat yang diperoleh pada dua model estimasi yang berbeda. αk = koefisien regresi yang membantu memperkirakan perubahan suatu variabel atas dasar informasi yang terjadi pada masam lalu. n = jumlah lag u1it. Tahap selanjutnya menggunakan uji hipotesis nol dengan statistik F. m = jumlah lag pada variabel independen. i. 2005 ) Keterangan : F = uji hipotesis nol. hal 241. b1. formula pengujian untuk kedua pasang persamaan di atas adalah sebagai berikut : F = (3. t 4.7) ( Jonni J Manurung. RRSS = persamaan berkendala/restricted residual sum of squares.

maka hipotesis nol diterima atau koefisien lag Y dicakup dalam model. 3. Jika perhitungan statistik F lebih besar dari nilai kritis F. dan arah kausalitas variabel penerimaan terhadap PDRB. Artinya X menyebabkan Y.3. dan Y (independen) dapat diprediksi dengan menggunakan nilai X (dependen) masa lalu (Granger.2. arah kausalitas variabel belanja terhadap PDRB.4. 3. 3. Jika perhitungan statistik F lebih kecil dari nilai kritis F. Artinya Y menyebabkan X. 6.5 untuk menguji X menyebabkan Y. Masing-masing variabel dalam pengujian regresi dapat mempunyai posisi sebagai variabel dependen dan variabel independen. 7. Maka diperoleh nilai regresi yang dirangkum dalam Tabel 4. 5. 4.2. 3.18 k = jumlah parameter yang ditaksir pada regresi yang direstriksi. maka hipotesis nol ditolak atau koefisien lag X dicakup dalam model. posisi dependen ). dan dengan metode Uji Kausalitas Granger.1 Hasil dan Pembahasan Alat perhitungan dalam analisis regresi ini menggunakan Eviews 6. Langkah 3. langkah 3. 18 . Dalam regresi ini membedakan perhitungan berdasarkan arah kausalitas variabel penerimaan terhadap belanja.0.1. karena sifat hubungan untuk metode kausalitas Granger adalah variabel X (posisi independen) dapat menyebabkan variabel lain (Y. 1969).6 untuk menguji Y menyebabkan X.

00E+10 2.00E+13 1. URSS = persamaan tidak berkendala/unrestricted residual sum of squares.26E+11 2.20E+10 2.14E+11 9.03 15.58 6.30E+11 9.56E+12 9.43E+12 9. k = jumlah parameter yang ditaksir pada regresi yang direstriksi.00E+11 3.94E+12 4.10E+14 9.85 31.00 -4.26E+11 9.00E+12 4.57E+12 9.18E+11 6.30E+11 1.00E+12 NN 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 889 k 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 k 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 884 m 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 F-test 7.23E+12 9.96 8.00E+10 8.55E+14 2.67E+12 3.55E+14 6.50E+11 1.31E+12 4.22E+12 3.55E+14 9.53E+14 2.52E+14 9.60E+10 9.67E+12 9.79 11.67E+12 4.85E+12 4.00E+09 4.56E+12 6.80 0. N = jumlah data yang diobservasi.26E+11 6.54E+14 URSS 7.00E+10 1. m = jumlah lag pada variabel independen.43E+12 4.92E+12 6.93 6.10 13.44E+12 3.55E+14 9.56E+12 4.98 3.73 1.00E+12 4.65E+14 6.50E+11 4.94E+12 3.30E+12 9.47E+12 6.22E+12 8.30E+12 9.75 0. F = uji hipotesis nol 19 .46 SIMPULAN BO mempengaruhi PAD PAD tidak mempengaruhi BO BM mempengaruhi PAD PAD mempengaruhi BM BH mempengaruhi BO BO mempengaruhi BH DA mempengaruhi BO BO mempengaruhi DA BH tidak mempengaruhi BM BM mempengaruhi BH DA mempengaruhi BM BM mempengaruhi DA BO tidak mempengaruhi PDRB PDRB tidak mempengaruhi BO BM mempengaruhi PDRB PDRB tidak mempengaruhi BM PDRB mempengaruhi PAD PAD tidak mempengaruhi PDRB PDRB tidak mempengaruhi BH BH tidak mempengaruhi PDRB DA mempengaruhi PDRB PDRB tidak mempengaruhi DA Sumber : Lampiran Keterangan: RRSS = persamaan berkendala/restricted residual sum of squares.86 5.19 Tabel 4.94E+12 6.46 16.30E+12 9.38 15.30E+12 2.90E+12 3.00E+10 2.50 0.50E+13 1.38 33.2 Simpulan Hasil Pengujian Arah Kausalitas Transfer Antar Pemerintah dengan Beberapa Variabel Penelitian Terpilih ARAH NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 RRSS - KAUSALITAS BO → PAD PAD → BO BM → PAD PAD → BM BH → BO BO → BH DA → BO BO → DA BH → BM BM → BH DA → BM BM → DA BO → PDRB PDRB → BO BM → PDRB PDRB → BM PDRB → PAD PAD → PDRB PDRB →BH BH → PDRB DA → PDRB PDRB →DA RRSS 4.39 21.67E+12 9.80E+11 2.00E+00 -1.30E+12 3.00E+10 2.55E+14 URSS 4.98 23.40E+11 0.15E+12 2.10 16.31 3.50E+11 2.00E+10 8.

1.20 Nilai F tabel pada alpha 5% = 6.10) > F-test. PAD (3. BH dan DA memiliki hubungan kausalitas dengan belanja daerah. Dari uraian tersebut menunjukkan semakin tinggi belanja daerah maka dapat memicu peningkatan PAD dan PAD hanya dapat mempengaruhi peningkatan belanja modal. dan BM (31. Hubungan Kausalitas Penerimaan dan Belanja Pada variabel-variabel penerimaan pemerintah daerah.31) > F-test.38 dan BO 15. sehingga BO mempengaruhi PAD. Kuantitas BHBO menunjukkan angka 13.50) 20 . sehingga mempunyai hubungan kausalitas dua arah. Hal ini juga terjadi pada hubungan DA  BM.1 Hasil Pengujian Hubungan Kausalitas Penerimaan. masing-masing mempunyai nilai DA (11. Sedangkan nilai BH (3.96 dan 8. Untuk hubungan PAD dengan BM masing-masing mempunyai nilai PAD (23. karena belanja modal dampaknya langsung dapat dirasakan oleh masyarakat. hal ini terjadi hubungan satu arah. sedangkan nilai BO (7.16 df1 = jumlah df pada pembilang = 6 df2 = jumlah df pada penyebut = 4 4. Belanja dan PDRB a.03) < F-test dan nilai BM (15. yaitu PAD.79) > F-test. yaitu BM mempengaruhi BH tetapi BH tidak mempengaruhi BM.85) < F-test sehingga PAD tidak mempengaruhi BO.38 > F-test sehingga BH mempengaruhi BO atau sebaliknya.46) > F-test dan BM (16. Hubungan PAD  BO memiliki nilai.98) > F-test.98 yang masing-masing > F-test. Hubungan DA  BO juga saling mempengaruhi dengan nilai DA 33. BO dan BM. Hasil ini menyimpulkan bahwa peningkatan dana bagi hasil digunakan untuk belanja operasional pemerintah daerah dan peningkatan belanja modal dapat menambah jumlah dana bagi hasil dari pemerntah pusat. berarti PAD dan BM saling mempengaruhi.

21 > F-test. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan kausalitas dua arah antara penerimaan pemerintah daerah dengan belanja daerah. sebab arah hubungan PDRB terhadap BO negatif. Sesuai dengan Teori Harrod-Domar bahwa semakin besar rasio modal output nasional (dana untuk belanja operasional).39) < F-test. Penerimaan daerah meningkat dapat memicu peningkatan belanja daerah. Hubungan yang positif ini tampaknya mendekati kenyataan yang terjadi bahwa kemampuan perolehan PAD yang terbatas.2007). maka tingkat pertumbuhan GNP semakin rendah. dan adanya rancangan anggaran belanja yang tinggi akan membuat dana alokasi dari pemerintah pusat dinaikkan jumlahnya. Jadi. Hubungan Kausalitas Belanja dan PDRB Hubungan kausalitas antara BO (0. hampir semua peningkatan variabel penerimaan pemeritah dapat mempengaruhi peningkatan belanja. Sedangkan untuk arah hubungan BM  PDRB mempunyai kausalitas searah. yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (Haryo Kuncoro.73) > F-test dan PDRB (1. Jadi adanya peningkatan belanja operasional pada akhirnya akan menurunkan PDRB daerah atau disebut pemborosan belanja tidak menambah output daerah.58) < F-test tidak saling mempengaruhi sehingga tidak memiliki hubungan kausalitas. dalam suatu perekonomian apabila pendapatan perkapita meningkat. b. pemerintah menganggarkan kenaikan transfer untuk menutup pengeluarannya. Peningkatan BM dapat meningkatkan PDRB tetapi PDRB tidak mempengaruhi peningkatan 21 . Tujuan dana transfer adalah untuk mengurangi kesenjangan keuangan dan untuk menciptakan stabilisasi aktifitas perekonomian di daerah. maka secara relatif pengeluran pemerintah akan meningkat. Hal ini menarik. dengan nilai BM (6. hal ini sesuai dengan Teori Wagner yaitu. transfer (DA dan BH) merupakan sebagian sumber pendanaan (selain PAD). Dana Alokasi merupakan dana yang berasal dari APBN. Seperti diungkapkan sebelumnya.00) < F-test dan PDRB (-4.

22 BM.75 > F-test. Kesimpulan dari hasil hubungan belanja terhadap PDRB adalah. Sehingga dapat dikatakan 22 . berarti PDRB mempengaruhi PAD. Sedangkan hubungan DA terhadap PDRB mempunyai hubungan kausalitas searah. dalam keadaan normal . tetapi PAD tidak mempengaruhi PDRB.10) < F-test dan nilai PDRB (0. pendapatan dari daerah sendiri akan bertambah. Adanya peningkatan PDRB akan menambah PAD. meningkatnya PDB menyebabkan penerimaan pemerintah semakin besar.93) < F-test. Oleh karena itu. meningkatnya PDB menyebabkan penerimaan pemerintah semakin besar. hal ini memberikan gambaran apabila masyarakat semakin produktif maka. begitu juga dengan pengeluaran pemerintah yang semakin besar. dari pajak ataupun retribusi yang dikenakan kepada masyarakat tersebut. c. dalam keadaan normal .80) < F-test dan PDRB (21.1978). Friedman juga mendukung teori ini. Nilai BH (6. karena kenaikan pajak mengarah pada kenaikan pengeluaran sehingga pengeluaran dapat naik atau turun terhadap level berapa pun yang dapat disokong oleh penerimaan (Friedman.46 < F-test. hal ini sudah diketahui sebelumnya bahwa peningkatan belanja dipengaruhi oleh peningkatan penerimaan daerah. PAD (5. tetapi pertumbuhan PDRB yang semakin meningkat tidak mempengaruhi peningkatan jumlah belanja. Sesuai dengan Teori Peacock dan Wiseman bahwa pertumbuhan ekonomi (PDB) menyebabkan pemungutan pajak semakin meningkat dan meningkatnya penerimaan pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat. Oleh karena itu. namun PDRB tidak mempengaruhi Dana Alokasi dengan nilai 0. begitu juga dengan pengeluaran pemerintah yang semakin besar (Teori Peacock dan Wiseman). Dana Alokasi mempengaruhi PDRB dengan nilai 16.86) > Ftest. Hubungan Kausalitas Penerimaan dan PDRB Hubungan antara penerimaan daerah dan PDRB tidak ada yang mempunyai arah kausalitas dua arah. Hubungan BH terhadap PDRB tidak mempunyai hubungan kausalitas. dari sisi belanja modal daerah dapat memicu pertumbuhan PDRB.

2.23 yang dapat mempengaruhi peningkatan PDRB hanya adanya kucuran dana alokasi dari pemerintah pusat. yaitu: 1. tetapi peningkatan PDRB belum tentu meningkatkan BM. hal ini menyimpulkan bahwa BM meningkat akan menstimulus peningkatan PDRB. Hasil pengujian hipotesis pertama adalah diterima. Yaitu BM mempengaruhi PDRB tetapi PDRB tidak mempengaruhi BM. Penerimaan dan Belanja Daerah adalah jumlah satu tahun anggaran yang terdapat dalam Laporan APBD.1 Kesimpulan Seperti yang telah dijabarkan pada bab-bab sebelumnya bahwa penelitian ini menganalisis pengaruh penerimaan daerah kabupaten/kota di Indonesia dengan dan belanja terhadap PDRB mengambil sampel pada 178 Kabupaten/Kota di Indonesia yang dipilih secara acak. PAD) dengan lag 1 tahun mempengaruhi besarnya prediksi variabel Belanja Daerah (BO dan BM).. Belanja terhadap PDRB mempunyai hubungan kausalitas searah untuk BM  PDRB. DA  BO. Artinya terdapat kausalitas variabel penerimaan daerah (BH. BH  BO. dan DA  BM. karena hubungan antara Belanja Daerah dengan lag 1 tahun menuju PDRB terjadi kausalitas satu arah. Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Hasil pengujian hipotesis kedua tidak diterima. yaitu terdapat arah kausalitas (dua arah) antara penerimaan dan belanja daerah. Penerimaan terhadap PDRB mempunyai hubungan kausalitas searah untuk DA  PDRB. 23 . 5. DA. maka ada beberapa kesimpulan yang merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan. Kesimpulan secara menyeluruh dari hasil regresi di atas dapat dikatakan bahwa penerimaan terhadap belanja mempunyai hubungan kausalitas dua arah untuk PAD  BM.

5. kepadatan penduduk. yang mungkin masih terdapat variabel-variabel lain yang merupakan faktor penting dalam manajemen keuangan dan penganggaran daerah. Keterbatasan-keterbatasan studi ini adalah: 1. karena terdapat kausalitas satu arah antara penerimaan daerah dengan lag 1 tahun terhadap PDRB. 2. DA mempengaruhi PDRB.2 Keterbatasan Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang memerlukan perbaikan dan pengembangan dalam penelitian-penelitian berikutnya. Dengan penelitian di atas. hal ini karena keterbatasan data dan kemampuan penulis. DA BO. Variabel yang diteliti hanya menggunakan variabel PAD. yang diteliti hanya 178 Kabupaten/Kota dan periodenya hanya 8 tahun yaitu tahun 2001-2008. Dari 497 Kabupaten/Kota yang ada di Indonesia. 5. Pajak Daerah. Sehingga untuk penelitian berikutnya agar menggunakan sampel yang lebih banyak dengan periode yang lebih panjang agar penelitian lebih obyektif. dan PDRB (misalnya. populasi penduduk. Belanja Daerah. Hasil pengujian ketiga tidak diterima. BM dan PDRB sehingga bagi peneliti selanjutnya agar memasukkan variabel- variabel lain yang dapat mempengaruhi penerimaan. Dari penelitian ini juga diharapkan agar otonomi daerah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sehingga suatu daerah benar-benar dapat berdiri sendiri tanpa tergantung pada transfer dana dari pemerintah pusat.24 3.3 Saran Seperti yang telah dikemukakan pada kesimpulan diatas bahwa hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang tertarik dan berkecimpung dengan masalah anggaran yang dalam hal ini adalah APBD. dll). dapat diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi (dengan salah satu indikatornya PAD dan PDRB) dan besarnya Belanja daerah lebih banyak 24 . tetapi PDRB tidak mempengaruhi DA.

id/ Dumairy. L.djpk. BPS Jawa Tengah. http:// www. Firmansyah. hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan Pemerintah Daerah terhadap Pemerintah Pusat masih tinggi. 1999. DAFTAR PUSTAKA Adi. BPS Jawa Tengah.depkeu. Modul Panel Data Regression Aplikasi dengan Eviews 4. 2008. 2006. 1. Perekonomian Indonesia. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. 4. Relevansi Transfer Pemerintah Pusat dengan Upaya Pajak Daerah (Studi pada Pemerintah Kabupaten dan Kota se Jawa). Vol. Biro Pusat Statistik (BPS).0. Kabupaten/ Kota Dalam Angka 2008.25 dipengaruhi oleh jumlah Dana Alokasi yang diterima dari pemerintah pusat. Sutriono. Jurnal Keuangan Publik. Berbagai Edisi Penerbitan. ____________________. Priyo Hari. Ringkasan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kabupaten/Kota.go. Analisis Hubungan Pengeluaran Pemerintah dan PDB dengan Menggunakan Granger Causality dan Vektor Autoregression. Statistik Indonesia. No. Jika hal ini masih terus berlanjut maka dikhawatirkan pelaksanaan otonomi daerah akan terhambat. 25 .dan E. Berbagai Tahun Anggaran (20012008). The 2nd National Conference-Fakulty of Ekonomics Widya Mandala Chatolik University 2008. 2006. Tidak dipublikasikan. Jakarta: Erlangga. Alfirman. April 2006.

2005. Refleksi Realitas Otonomi Daerah. Irawan. Damodar. Yogyakarta: BPFE. Hidayat. Belanja dan PDRB pada Kota dan Kabupaten di Indonesia. Iqbal. dan P. 2006. Guritno. Syarif. Basics Econometrik. J. Jakarta: Pustaka Quantum. Belanja Modal. hal 47-63. Ekonometrika Pembangunan. hal 195-211. Yogyakarta: BPFE Harianto.2007. 2006. Manajemen Usahawan Indonesia (MUI): 2006. Kusaini. Pokok-pokok Materi statistik 2 (Statistik Inferensif. Pengaruh Transfer Antar Pemerintah pada Kinerja Fiskal Pemerintah Daerah Kota dan Kabupaten di Indonesia. 2002. PAD dan Pendapatan Perkapita. The McGrow Hill Companies Inc. Kemandirian Daerah: Sebuah Perspektif dengan Metode Path Analisis. 2003. Jurnal Ekonomi Pembangunan. 26 . 1993. 2007. D. Adi. Ekonomi Publik : Desentralisasi Fiskal dan Pembangunan Daerah. Malang : BPFE UNIBRAW. Jakarta: Bumi Aksara. tahun 2006. M. 1999.Tri. ed. S. Mangkoesoebroto. Kausalitas Antara Penerimaan. Hubungan Antara DAU. ___________________. Hasan. Kuncoro. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Ke 2. Haryanto..26 Gujarati. 2007. Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. New York. Ekonomi Publik. Haryo. H.M. Mohammad.

Makalah Seminar pada Sidang Pleno ISEI ke IX. Padang 23 Agustus 2006. A. Ilmu Keuangan Negara dalam Teori dan Praktik. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta 2007. Manurung. Sidik. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah. 13-14 April 2001 di Batam. M (2001). 2006. dkk. Yogyakarta: BPFE. Sondakh. Hukum Keuangan Negara Republik Indonesia. ISEI Yogyakarta. M. 1990. Jakarta: Gramedia. 2007. N. Subagio. Jhoni. J. Simposium Nasional Akuntansi 9. L (1999)“Mencari Platform Otonomi Daerah dalam Krisis Ekonomi”. April1999. Undang Undang No. Robert. (Studi Kasus pada Kabupaten/Kota di Indonesia). Jakarta: Rajawali Pers. 2002. Ekonometrika Teori dan Aplikasi. 27 . Flypaper Effect pada Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Terhadap Belanja Daerah pada Kabupaten atau Kota di Pulau Sumatera. Mutiara. Maulida. Suparmoko.” Studi Empiris Desentralisasi Fiskal: Kebijakan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah di Era Otonomi Daerah”. Simanjuntak. Pengaruh Dana Alokasi Umum (Dau) dan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Terhadap Prediksi Belanja Daerah. Jakarta: Kompas. Transfer Pusat ke Daerah: Konsep dan Praktik di Beberapa Negara. Pratiwi. 2005.27 Maimunah.

28 . Uppal.28 Undang Undang N0.S.1986. dan Suparmoko. Desember: 414-32. “Inter-Govermental Financial Relation”. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antar Pemerintah Pusat dan Daerah. J. Ekonomi dan Keuangan Indonesia.