Anda di halaman 1dari 22

IKTERUS OBSTRUKTIF

I. Pendahuluan
Kandung empedu merupakan kantong berbentuk pir yang terletak tepat di bawah
lobus kanan hati. Empedu merupakan sekresi eksokrin dari hati dan diproduksi secara
terus-menerus oleh hepatosit. Cairan empedu berisi kolesterol, bilirubin dan garam
empedu. Cairan empedu ini membantu dalam penyerapan lemak. Sebagian dari cairan
empedu dialirkan secara langsung dari hati ke dalam duodenum melalui kanalikuli
(saluran-saluran kecil) yang kemudian kanalikuli ini bersatu dan akhirnya membentuk
suatu sistem saluran empedu (Common Bile Duct) yang lebih besar, dan 50% sisanya
disimpan di dalam kandung empedu. Cairan empedu ini dialirkan dari kandung
empedu melalui duktus sistikus yang bergabung dengan duktus hepatikus dari hati
yang membentuk sistem saluran empedu (Common Bile Duct). Common Bile Duct
berakhir pada sfingter di usus halus dan disini menerima enzim dari pankreas melalui
duktus pankreatikus.1,2
Angka kejadian obstruksi bilier atau disebut juga kolestasis diperkirakan 5 kasus
per 1000 orang per tahun di AS. Angka kesakitan dan kematian akibat obstruksi bilier
bergantung pada penyebab terjadinya obstruksi. Penyebab obstruksi bilier secara
klinis terbagi dua yaitu intrahepatik (hepatoseluler) yaitu terjadi gangguan
pembentukan empedu dan ekstrahepatik (obstruktif) yaitu terjadi hambatan aliran
empedu, dan yang terbanyak akibat batu empedu (kolelitiasis). Berdasarkan jenis
kelamin wanita lebih sering terkena kolelitiasis dari pada pria.1

3

Di negara Barat 10-15% pasien batu empedu juga disertai batu saluran empedu.
Pada beberapa keadaan, batu saluran empedu dapat terbentuk primer di dalam saluran
empedu intra atau ekstrahepatik tanpa melibatkan kandung empedu. Batu saluran
empedu primer lebih banyak ditemukan pada pasien di wilayah Asia dibandingkan
dengan pasien di negara Barat.3

II Obstruksi Bilier
1 Definisi
Obstruksi bilier (kolestasis) merupakan suatu keadaan dimana terganggunya
aliran empedu dari hati ke kandung empedu atau dari kandung empedu ke usus halus.
Obstruksi ini dapat terjadi pada berbagai tingkatan dalam biliari sistem mulai dari
saluran empedu yang kecil (kanalikuli) sampai ampula Vateri. Penyebab obstruksi
bilier secara klinis terbagi dua yaitu intrahepatik (hepatoseluler) yaitu terjadi
gangguan pembentukan empedu dan ekstrahepatik (obstruktif) yaitu terjadi hambatan
aliran empedu. 1

2. Epidemiologi
Angka kejadian obstruksi bilier (kolestasis) diperkirakan 5 kasus per 1000 orang
per tahun di AS. Angka kesakitan dan kematian akibat obstruksi bilier bergantung
pada penyebab terjadinya obstruksi. Mayoritas kasus yang terbanyak adalah
kolelitiasis (batu empedu). Di Amerika Serikat, 20% orang tua berusia ≥65 tahun

4

Faktor predisposisi terjadinya batu empedu antara lain obesitas terutama pada wanita. dan fertile. kalsium. Insiden teringgi terjadi pada usia 50-60 tahun. and berbagai material organik lainnya) berhubungan dengan hemolisis dan sirosis. Pada penderita diabetes mellitus paling banyak ditemukan mixed stones (80%). Hampir 25% wanita AS menderita batu empedu dengan 50% diantaranya berusia 75 tahun. Berdasarkan jenis kelamin wanita lebih sering terkena kolelitiasis dari pada pria. fourty. berhubungan dengan obesitas terutama pada wanita. Resiko terjadinya batu empedu meningkat pada usia >40 tahun. Resiko terjadinya kolelitiasis terkenal dengan kriteria 4F yaitu female.4.6 5 . dan 20% pria dengan usia yang sama menderita batu empedu.menderita kolelitiasis (batu empedu) dan 1 juta kasus baru batu empedu didiagnosa setiap tahunnya. Prevalensi terendah pada orang Asia. Rasio penderita wanita terhadap pria yakni 3:1 pada kelompok usia dewasa masa reproduktif dan berkurang menjadi >2:1 pada usia di atas 70 tahun. penurunan berat badan yang cepat. kontrasepsi oral. Chili dan kaukasia di Amerika Serikat. kehamilan. sedangkan batu kolesterol murni hanya 10%. 25% dari batu empedu merupakan batu pigmen (bilirubin. fat.1.4 Jenis batu empedu yang banyak ditemukan adalah batu kolesterol (75%). Prevalensi paling menyolok pada suku Indian Pima di Amerika Utara (>75%). Sedangkan batu pigmen hitam ditemukan pada kolelitiasis yang tidak sembuh dengan medikamentosa.6 Faktor genetik juga terlibat pada pembentukan batu empedu yang dibuktikan oleh prevalensi batu empedu yang tersebar luas di antara berbagai berbagai bangsa dan kelompok etnik tertentu. dan diabetes mellitus.5.

Bilirubin sebagai akibat pemecahan cincin heme dari metabolisme sel darah merah. pada fase intrahepatik. Tahapan metabolisme bilirubin berlangsung melalui 3 fase yaitu fase prehepatik.1 Di negara Barat 10-15% pasien batu empedu juga disertai batu saluran empedu. obstruksi bilier menyebabkan terjadinya ikterus obtruktif.3 3 Etiologi dan Patogénesis Secara umum. Batu pigmen lebih banyak ditemukan di negara Asia dan Afrika. dan ini menunjukkan kadar bilirubin sudah berkisar antara 2-2. Walaupun demikian akhir-akhir ini batu kolesterol meningkat di Asia dan Afrika. Ikterus yang ringan dapat dilihat paling awal pada sklera mata.Batu kolesterol banyak ditemukan di negara barat (80-90%). terjadi pada fase prahepatik. dan pascahepatik. sklera mata atau jaringan lainnya (membran mukosa) yang menjadi kuning karena pewarnaan oleh bilirubin yang meningkat kadarnya dalam darah. atau dikenal juga melalui tahapan 5 fase yaitu (1) fase pembentukan bilirubin dan (2) transpor plasma. sedangkan batu pigmen sekitar 10%. Batu saluran empedu primer lebih banyak ditemukan pada pasien di wilayah Asia dibandingkan dengan pasien di negara Barat.7 6 . terutama di Jepang ketika westernisasi pola diet dan gaya hidup. intrahepatik.5 mg/dl. sedangkan jika ikterus jelas dapat dilihat dengan nyata maka bilirubin diperkirakan sudah mencapai 7 mg/dl. batu saluran empedu dapat terbentuk primer di dalam saluran empedu intra atau ekstrahepatik tanpa melibatkan kandung empedu. serta (5) ekskresi bilirubin pada fase ekstrahepatik. Pada beberapa keadaan. (3) liver uptake dan (4) konyugasi. Ikterus (jaundice) yaitu perubahan warna kulit.

7 .

Gambar 3. Metabolisme Normal Bilirubin8 8 .

sehingga mengakibatkan kolestasis. Obstruksi bilier (kolestasis) intrahepatik Kolestasis intrahepatik umumnya terjadi pada tingkat hepatosit atau membran kanalikuli. Sirosis bilier primer merupakan penyakit hati bersifat progresif dan terutama mengenai perempuan paruh baya. keracunan obat. Penyebab tersering kolestasis intrahepatik adalah hepatitis. Gejala yang mencolok adalah rasa lelah dan gatal yang sering merupakan penemuan awal. Kolangitis sklerosis 9 primer (Primary Sclerosing . dan penyakit-penyakit lain yang jarang. penyakit hati karena alkohol dan penyakit hepatitis autoimun. Dua penyakit autoimun yang berpengaruh pada sistem bilier tanpa terlalu menyebabkan reaksi hepatitis adalah sirosis bilier primer dan kolangitis sklerosing. karsinoma metastatik. kolestasis pada kehamilan. Penyebab yang lebih jarang adalah hepatitis autoimun.7 1. Peradangan intrahepatik mengganggu ekskresi bilirubin terkonjugasi dan menyebabkan ikterus. yaitu :1. Klasifikasi Ikterus4 Obstruksi bilier (kolestasis) secara etiologi dibedakan menjadi 2 bagian yaitu intrahepatik dan ekstrahepatik. Penyebab yang kurang sering adalah sirosis hati bilier primer. Hepatitis A merupakan penyakit self limited dan dimanifestasikan dengan adanya ikterus yang timbul secara akut. tetapi dapat berjalan kronik dan menahun. sedangkan kuning merupakan gejala yang timbul kemudian.Gambar 4. Hepatitis B dan C akut sering tidak menimbulkan ikterus pada tahap awal (akut). dan mengakibatkan gejala hepatitis menahun atau bahkan sudah menjadi sirosis hati. Alkohol dapat mempengaruhi gangguan pengambilan empedu dan sekresinya.

garam empedu. PSC dapat mengarah pada kolangio karsinoma. Penyebab lainnya yang relatif jarang adalah striktur jinak (operasi terdahulu) pada duktus koledokus. dan infeksi parasit (Ascaris lumbricoides). Efek patofisiologi mencerminkan efek balik empedu (bilirubin. Kolestasis mencermin kegagalan seksresi empedu. Retensi bilirubin menghasilkan campuran hiperbilirubinemia dengan kelebihan bilirubin konjugasi masuk ke dalam urin. dan sekitar 70% menderita penyakit peradangan usus. Obstruksi bilier (kolestasis) ekstrahepatik Penyebab paling sering obstruksi bilier (kolestasis) ekstrahepatik adalah batu duktus koledokus dan kanker pankreas. lebih sering pada laki-laki. TB bilier. pankreatitis. Amoksisillin dengan asam klavulanat (Augmentin) sering menyebabkan kolestasis akut yang menyerupai keadaan obstruksi bilier. Tinja sering berwarna pucat karena lebih sedikit yang dapat mencapai usus halus. karsinoma duktus koledokus. Penigkatan garam empedu dalam sirkulasi diperkirakan sebagai penyebab 10 . dan gejala ini segera hilang apabila penggunaan obat tersebut dihentikan. 2. dan kolangitis sklerosing. AIDS-related cholangiopathy. dan kolesterol) ke dalam sirkulasi sistemik dan kegagalannya untuk masuk untuk eksresi. Golongan diuretik tiazid dapat meningkatkan resiko terbentuknya batu empedu. Obat seperti anabolik steroid dan klorpromazid sekarang diketahui merupakan penyebab langsung dari kolestasis dengan mekanisme yang tidak diketahui.Cholangitis/PSC) merupakan penyakit kolestatik lain. Drug induced jaundice memberikan gejala pruritus. namun hanya terdapat pada sebagian pasien.

keluhan gatal (pruritus). Hal ini akan menghambat sintesis protein dan faktor-faktor pembekuan. Gangguan eksresi garam empedu dapat mengakibatkan steatorrhea dan hipoprotombinemia. Fungsi detoksifikasi pun akan menurun. Akibatnya akan terjadi peningkatan asam empedu dan alkali fosfatase di dalam darah. Retensi kolesterol dan fosfolipid mengakibatkan hiperlipidemia. Pada keadaan kolestasis yang berlangsung lama. walaupun sebenarnya hubungannya belum jelas sehingga patogenesis gatal masih belum bisa diketahui dengan pasti. Garam empedu dibutuhkan untuk penyerapan lemak dan vitamin K. Kolestasis menyebabkan peningkatan sintesis dan sekresi alkali fosfatase. dapat menyebabkan gangguan penyerapan Ca dan vitamin D dan vitamin lain yang larut dalam lemak dapat terjadi dan dapat menyebabkan osteoporosis atau osteomalasia.4 11 . sehingga terjadi kerusakan sel hepatosit.

Gambar 5. Efek primer meliputi retensi empedu. Kolestasis7 Efek primer kolestasis terutama menyerang fungsi hati dan usus. regurgitasi empedu ke dalam serum. dan penurunan sekresi bilier ke dalam 12 . sedangkan efek sekundernya mempengaruhi tiap sistem organ.

Xanthoma Xanthoma terutama terjadi pada kolestasis obstruktif disebabkan deposisi kolesterol ke dalam dermis. Retensi konjugasi dan regurgitasi bilirubin ke dalam serum Peningkatan kadar serum bilirubin terkonjugasi merupakan tanda primer kolestasis. kolesterol serum mengalami peningkatan karena terjadi gangguan degradasi dan ekskresi metabolik. Hiperkolemia (peningkatan kadar garam empedu serum) 4. Hiperlipidemia Pada kolestasis.usus. Dengan penurunan pembentukan empedu. menyebabkan penurunan fluiditas dan fungsi membran. yaitu :4 1. Kolestasis menyebabkan beberapa kondisi berikut. 7. 2. Pruritus 5. Peningkatan kadar serum bilirubin non konjugasi Laju konjugasi bilirubin mengalami penurunan akibat jejas hepatosit. kolesterol mengalami retensi sehingga kandungan kolesterol pada membran meningkat. 6. 3. Laju produksi bilirubin dapat pula mengalami peningkatan akibat hemolisis yang dapat menyertai kolestasis. Hal ini menyebabkan jaundice yang dapat dideteksi dengan ikterus sklera dan urine berwarna gelap. Efek sekundernya menyebabkan pemburukan penyakit hati serta penyakit sistemik. Gangguan perkembangan 13 .

simtomatik. penggunaan nutrien yang rendah (penurunan kadar serum protein). gangguan hormon dan jejas jaringan sekunder. Selain itu dapat disertai keluhan sakit perut. Gejala Klinis Tidak jarang gejala kolestasis ekstrahepatik dan intrahepatik sukar untuk dibedakan. dan pankreatitis). Karakteristik dari kolestasis yaitu ikterus (jaundice). dan gatal (pruritus) yang menyeluruh akibat retensi empedu di kulit. Gambaran keluhan seperti yang disebutkan tidak tergantung penyebabnya. dan dengan komplikasi batu empedu (kolesistitis akut.Gangguan perkembangan adalah efek klinis terpenting dari kolestasis. kolangitis. dan gejala sistemik (seperti anoreksia. Kolestasis kronik dapat menimbulkan pigmentasi kulit kehitaman. sakit tulang karena absorpsi kalsium dan vitamin D berkurang sehingga lama kelamaan jaringan tulang berkurang. Terjadi malabsorpsi. Gejala batu empedu yang dapat dipercaya 14 . atau tambahan gejala lain yang tergantung pada penyebab terjadinya obstruksi bilier. 4. tinja pucat akibat terhambatnya aliran bilirubin ke usus halus dan berbau busuk serta mengandung banyak lemak (steatorrhea) karena aliran empedu terhambat ke usus halus sehingga absorpsi lemak terganggu. Sebagian besar (80%) pasien dengan batu empedu tanpa gejala.7. perdarahan intestinal karena absorpsi vitamin K terganggu dan endapan lemak kulit (xantelasma atau xantoma). ekskoriasi karena pruritus. muntah. anoreksia.9 Pasien dengan obstruksi bilier karena batu empedu dapat dibagi menjadi tiga keompok yaitu pasien dengan batu asimtomatik. demam). perubahan warna urin menjadi lebih kuning gelap karena eksresi bilirubin melalui ginjal meningkat.

Terkadang nyeri dapat dirasakan di daerah substernal atau prekordial atau di kuadran kiri atas abdomen. Kadangkadang apabila kadar bilirubin telah mencapai kadar yang lebih tinggi sering warna kuning sklera mata memberi kesan berbeda dimana ikterus lebih memberi kesan kehijauan (greenish jaundice) pada kolestasis ekstrahepatik dan kekuningan (yellowish jaundice) pada kolestasis intrahepatik.10 Kolestasis ekstrahepatik dapat diduga dengan adanya kandung empedu teraba (Courvoisier sign).3.3. Kelainan laboratorium yang khas adalah peningkatan nilai alkali fosfatase yang diakibatkan terutama peningkatan sintesis karena gangguan eksresi akibat obstruksi bilier. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium mempunyai keterbatasan diagnosis. namun 15 . Biasanya lokasi nyeri di perut kanan atas atau epigastrium yang dapat menjalar ke punggung bagian kanan atau bahu kanan. Tanda Murphy positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik nafas panjang karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik nafas. Jika sumbatan karena keganasan kaput pankreas sering timbul kuning yang tidak disertai gejala keluhan sakit perut (painless jaundice).7 5. Nyeri ini bersifat episodik dan dapat dicetuskan oleh makan makanan berlemak atau dapat juga tanpa suatu pencetus dan sering timbul malam hari.1. Kadang teraba hati dan sklera ikterik. Batu saluran empedu tidak menimbulkan gejala dalam fase tenang.4. Batu kandung pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dengan punktum maksimum didaerah letak anatomis kandung empedu.adalah kolik bilier yaitu nyeri diperut atas berlangsung lebih dari 30 menit dan kurang dari 12 jam.

1. namun kadang-kadang terjadi juga pada kolestasis ekstrahepatik. sedangkan peningkatan bilirubin direk terjadi karena gangguan ekskresi akibat proses peradangan. namun terkadang AST juga ikut meningkat. Pada obstruksi ekstrahepatik kadar bilirubin direk dan indirek meningkat.7 Nilai aminotrasnferase bergantung terutama pada penyakit dasarnya. biasanya peningkatan AST <10 kali kadar normal. Peningkatan bilirubin direk disebabkan karena adanya obstruksi saluran empedu sehingga menghambat ekskresinya ke duodenum. sedangkan bilirubin indirek meningkat di dalam darah karena mekanisme liver uptake terganggu disebabkan oleh kadar bilirubin direk meningkat di dalam hati. Apabila peningkatan tinggi sangat mungkin karena proses hepatoselular.tetap belum dapat menjelaskan penyebabnya (intrahepatik atau ekstrahepatik). Sedangkan alanin aminotransferase (ALT) meningkat pada obstruksi intrahepatik.7 Nilai bilirubin juga mencerminkan beratnya tetapi bukan penyebab kolestasisnya. Peningkatan ALT dan AST secara bersamaan terjadi pada pasien dengan hepatitis dan 16 .1. bilirubin direk dan indirek kemungkinan juga meningkat. Alkali fosfatase merupakan enzim yang terdapat pada membrane kanalikuli hepatosit. Pada obtruksi intrahepatik. Bilirubin indirek meningkat karena ketidakmampuan sel hati yang rusak untuk mengubah bilirubin indirek menjadi direk. terutama pada sumbatan akut yang diakibatkan oleh adanya batu di duktus koledokus. Apabila obstruksi ekstrahepatik terjadi secara akut maka AST akan sangat meningkat ≥10 kali kadar normal dan menurun setelah 72 jam. namun seringkali meningkat tidak tinggi. Pada obstruksi ekstrahepatik umumnya kadar aspartat aminotransferase (AST) tidak terlalu meningkat kecuali sekunder terdapat kerusakan akut dari parenkim hati.

namun hepatoselular juga dapat berespon. sirosis. normalnya tidak ditemukan bilirubin. Pada sonografi abdomen. Pasien dengan penyakit hati alkohol. ginjal. Enzim ini diperiksa untuk menentukan disfungsi sel hati dan mendeteksi penyakit hati yang diinduksi alkohol. yang menunjukkan adanya sumbatan mekanik. 4 Perbaikan waktu protrombin setelah pemberian vitamin K mengarah kepada adanya bendungan ekstrahepatik. kadar AST lebih meningkat dibandingkan dengan ALT. Aktivitas GGT meningkat pada semua bentuk penyakit hati. Ditemukannya antibodi terhadap antimitokondria mendukung kemungkinan sirosis bilier primer.1. 7 17 . dan metastase ke hati. Pemeriksaan rontgen abdomen dapat menunjukkan adanya batu empedu. apabila ditemukan bilirubin urin dan pasien melihat urin berwarna gelap atau seperti teh pekat. terutama dalam keadaan masih akut.1. Umumnya batu kandung empedu dapat dipastikan dengan ultrasonografi (USG). dan MRI (MRCP) memperlihatkan adanya pelebaran saluran bilier.7 Enzim GGT (γ-Glutamiltransferase) terutama terdapat di hati. walaupun jika tidak ada tidak selalu berarti sumbatan intrahepatik. CT Scan.7 Pemeriksaan pencitraan (imaging) sangat penting dalam mendiagnosis penyakit akibat kolestasis. menunjukaan adanya ikterus obstruktif atau kelainan hepatoselular. Pada pemeriksaan urin. dan pankreas.drug-induced liver damage.

EUS memberikan gambaran pencitraan yang jauh lebih jelas sebab echoprobe-nya diletakkan di dekat organ yang diperiksa. 18 . pengalaman. namun nilai diagnosis USG rendah pada pasien dengan obesitas. Percutaneous Transhepatic Cholangigraphy (PTC) dapat pula digunakan untuk tujuan yang sama. Teknik pencitraan ini belum banyak diikuti oleh praktisi kedokteran di Indonesia sebab hal ini berhubungan dengan masalah latihan.3. Endoscopic Ultrasonography (EUS) mempunyai sensitivitas yang tinggi (97%) dalam mendeteksi batu saluran empedu dibandingkan dengan USG transabdominal.Gambar 6. Endoscopic Retrograde Cholangio-Pancreatography (ERCP) dapat melihat secara langsung saluran bilier dan sangat bermanfaat untuk menetapkan sumbatan ekstrahepatik. Rontgen abdomen tampak batu empedu opaque11 Dewasa ini USG merupakan pencitraan pilihan pertama untuk mendiagnosis batu kandung empedu dengan sensivisitas tinggi melebihi 95% sedangkan untuk mendeteksi batu saluran empedu sensivisitasnya relatif rendah berkisar antara 1874%.7 Lesi di pankreas dapat dilihat dengan CT Scan. dan ketersediaan instrumen EUS. Dibandingkan dengan USG transabdominal. EUS merupakan suatu metode pemeriksaan dengan memakai instrumen gastroskop dengan echoprobe di ujung skop yang dapat terus berputar.

dengan bantuan alat penunjang khusus jika memungkinkan. karena kesalahan diagnosis terutama dikarenakan penilaian klinis yang kurang atau penilaian gangguan laboratorium yang berlebihan.3 Biopsi hati akan menjelaskan diagnosis pada kolestasis intrahepatik. namun bukan merupakan modalitas terapi dan juga aplikasinya bergantung pada operator. Nilai diagnostik MRCP yang tinggi membuat teknik ini makin sering dikerjakan untuk diagnosis atau eksklusi batu saluran empedu khususnya pada pasien dengan kemungkinan kecil mengandung batu. Studi terkini MRCP menunjukkan nilai sensivisitas antara 91-100%. Diagnosis Riwayat penyakit yang rinci dan pemeriksaan jasmani sangat penting. Walaupun demikian dapat timbul juga kesalahan. namun berbahaya pada keadaan obtruksi ekstrahepatik yang berkepanjangan. karenanya harus disingkirkan dahulu dengan pemeriksaan pencitraan sebelum biopsi dilakukan.7 6. Selain itu cara ini bersifat non invasif. Jika 19 .Kedua cara tersebut mempunyai potensi terapeutik. Umumnya biopsi aman pada kasus kolestasis.7 Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography (MRCP) merupakan teknik pencitraan dengan gema magnet tanpa menggunakan zat kontras. ERCP bersifat invasif dan dapat menimbulkan komplikasi pankreatitis dan kolangitis yang dapat berakibat fatal. terutama jika penilaian dilakukan oleh orang yang kurang berpengalaman. instrumen. dan radiasi ion. nilai spesivisitas antara 92100% dan nilai prediktif positif antara 93-100% pada keadaan dengan dugaan batu saluran empedu. MRCP cocok untuk mendignosis batu saluran empedu. Diagnosis sebaiknya ditegakkan melalui penilaian klinis.

Beberapa gejala yang cukup mengganggu misalnya gatal (pruritus) pada keadaan kolestasis intrahepatik.1. Pruritus pada keadaan ireversibel seperti sirosis bilier primer biasanya responsif terhadap kolestiramin 4-16 mg/hari per oral dalam dosis terbagi dua yang akan mengikat garam empedu di usus atau dapat juga diberikan antihistamin.9 20 . Obstruksi mekanis dapat ditegakkan jika ditemukan tanda pelebaran saluran bilier. Pemeriksaan lebih lanjut dengan kolangiografi langsung (ERCP. jika pertimbangan klinis lebih menjurus ke sumbatan ekstrahepatik dan kolestasis yang memburuk progresif. Jika pada pemeriksaan USG tidak ditemukan pelebaran saluran empedu.diagnosis tidak pasti.7. Laparatomi diagnostik jarang diperlukan pada pasien dengan kolestasis atau hepatosplenomegali yang belum bisa diterangkan penyebabnya. maka laparoskopi diagnosis harus dipertimbangkan. Hipoprotrombinemia biasanya membaik setelah pemberian fitonadion (vitamin K) 5-10 mg/hari sub kutan untuk 2-3 hari. Kecuali jika terjadi kerusakan hati yang berat. maka sangat mungkin ke masalah intrahepatik. dan MRCP) dapat dipertimbangkan. Pemeriksaan peritoneoskopi (laparoskopi) memungkinkan untuk memeriksa langsung hati dan kandung empedu.7 7. terutama pada pasien dengan kolestasis yang progresif.7 Apabila alat penunjang tersebut di atas tidak terdapat. Pengobatan Pengobatan obstrusksi bilier atau ikterus sangat bergantung pada penyebabnya. USG dan CT Scan akan sangat membantu. PTC. dan biopsi sangat dianjurkan. pengobatan penyebab dasarnya sudah mencukupi.

7. Sumbatan bilier ekstrahepatik (kolelitiasis) biasanya membutuhkan tindakan bedah yaitu kolesistektomi laparoskopik. ERCP terapeutik dengan melakukan sfingterotomi endoskopik untuk mengeluarkan batu empedu tanpa operasi pertama kali dilakukan tahun 1974.Pemberian suplemen kalsium dan vitamin D dalam keadaan kolestasis yang ireversibel. litotripsi laser. perlu modifikasi diet berupa diet rendah lemak dan gula serta tinggi serat. Selain itu.1.9 21 . dan ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy). Suplemen vitamin A dapat mencegah kekurangan vitamin yang larut lemak ini dan steatorrhea yang berat dapat dikurangi dengan pemberian sebagian lemak dalam diet.Untuk mengeluarkan batu empedu yang sulit diperlukan beberapa prosedur endoskopik tambahan sesudah sfingterotomi seperti seperti pemecehan batu dengan litotripsi mekanik.

Gambar 9. Algoritma pasien dengan Batu Empedu4 DAFTAR PUSTAKA 22 .

10. Tierney L. dkk. Anonimous. Papadakis M. 2006. Lee A.UI.UI.merck. 4.medscape. 573. 165. Cholestasis 2009. e-book. Penyakit Batu Empedu. Cholelithiasis. 2008. Role of Endoscopic Ultrasonography in Diseases: Endoscopic Ultrasonography and Bile Duct Stones 2009.com [Diakses tanggal 14 April 2012]. 175. Buku Ajar Ilmu Bedah. 161. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sulaiman A. de Jong W. In : Ferri’s Clinical Advisor. Biliary Obstruction 2009. 3. 9. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 171.com [Diakses 14 April 2012]. http://www. http://www. Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati. 2005. 422-5. Edisi IV. M.L.com [Diakses tanggal 14 April 2012]. Ferri FF. McPhee S. Ells P.suite101. 23 . 10 th Edition.com [ 14 April 2012]. 11. Total Bilirubin. 2007. Jakarta : Jayabadi. 2007. Edisi I. Jilid I. J. 6. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5. Pendekatan Klinis pada Pasien Ikterus. In : Current Medical Diagnosis and Treatment. http://diaglab. Bonheu J. Jilid I. 2. http://www. Anonimous. 2006.edu [Diakses tanggal 14 April 2012]. USA : Mosby Elsevier.1.cornell. 174. Sulaiman A.vet. Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK. Lesmana LA. Biliary Tract Obstruction 2008. ebook.9.14-5. San Fransisco : Mc Graw Hill. Edisi 2. 8. A. 7. Anonimous. Biliary Obstruction. http://www.emedicine. 481-2. Sjamsuhidajat R.F.

24 .