Anda di halaman 1dari 37
PRODUKSI TERNAK UNGGAS LAPORAN PRAKTIKUM Disusun oleh : Kelompok IVA Septyani Cyntia D.P. Nur Fatin Zuhriawati Titis Aditya Santoso Umi Lestariningsih Febrianti Rahmadani Yayah Syamsinar Afma Bella Vista 23040114120003 23040114120010 23040114120015 23040114120020 23040114120023 23040114120031 23040114120034 PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2016 LEMBAR PENGESAHAN Judul : LAPORAN PRAKTIKUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS Kelompok Program Studi Jurusan Tanggal Pengesahan : IV (EMPAT)A : S-1 AGRIBISNIS : PERTANIAN : Mei 2016 Mengetahui, Koordinator Asisten Praktikum Produksi Ternak Unggas Asisten Pembimbing Desi Natalia NIM. 23010113140237 Nurul Rozikin NIM. 23010113130207 Menyetujui, Koordinator Praktikum Produksi Ternak Unggas Rina Muryani, S.Pt., M.Si. NIP. 19760311 200213 2 002 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Laporan Praktikum Produksi Ternak Unggas Fakultas Peternakan dan Pertanian Tahun 2016 dapat selesai tepat waktu. Penyusun menyampaikan terima kasih kepada Rina Muryani, S.Pt., M.Si. selaku Koordinator Praktikum Produksi Ternak Unggas, Desi Natalia selaku Koordinator Asisten Praktikum Produksi Ternak Unggas serta Nurul Rozikin selaku Asisten Pembimbing Praktikum Produksi Ternak Unggas yang telah membimbing dan membantu kami selama praktikum berlangsung sampai penyusunan Laporan Praktikum Produksi Ternak Unggas ini selesai dengan baik. Harapan penyusun semoga laporan praktikum ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Demikian kata pengantar dari penyusun, penyusun menyampaikan terima kasih atas perhatian dan koreksi dari berbagai pihak. Semarang, Mei 2016 Penyusun BAB I PENDAHULUAN Unggas adalah hewan bersayap yang termasuk golongan burung (aves) yang menghasilkan daging untuk memenuhi kebutuhan nutrisi protein hewani bagi manusia yang mengonsumsinya. Jenis ternak unggas di Indonesia umumnya merupakan ayam, itik dan puyuh. Unggas darat merupakan ternak unggas yang habitatnya lebih banyak di daratan seperti ayam dan burung puyuh. Unggas air merupakan salah satu jenis unggas yang sebagian hidupnya di air contohnya adalah itik. Unggas dapat dimanfaatkan hasil utamanya serta unggas banyak mengandung protein baik pada daging maupun telurnya. Ransum merupakan campuran bahan pakan yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak secara tepat dan seimbang selama 24 jam. Bahan pakan yang sering digunakan dalam penyusunan ransum unggas adalah jagung, bekatul, bungkil kedelai, tepung ikan, premix dan MBM. Tujuan praktikum produksi ternak unggas adalah untuk mengetahui klasifikasi ternak unggas, mengetahui perbedaan antara unggas darat dan air, perbedaan antara unggas jantan dan betina serta penyusunan ransum yang baik bagi ternak. Praktikum produksi ternak unggas bermanfaat agar mahasiswa mengenal jenis maupun anatomi unggas darat dan air, serta dapat menyusun formulasi ransum yang tepat bagi ternak unggas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengenalan Jenis dan Klasifikasi Ternak Unggas Secara taksonomi unggas tergolong ke dalam kelas aves yang terbagi kedalam dua subkelas yaitu: (1) Archaeomithes (burung primitif) yang sudah punah dan (2) Neomithes (burung modern) dan secara umum kelas aves mempunyai keistimewaan struktur, yaitu mempunyai badan yang kompak serta sayap dan kaki yang berkembang tumbuh baik disesuaikan untuk terbang atau berlari (Ali, 2015). Dalam klasifikasi terdapat dua belas kelas ayam, yang terpenting ada empat kelas ayam antara lain kelas Asia, kelas Amerika, kelas Inggris, dan kelas Mediterania. Kelas ayam menghasilkan bangsa (breed) modern antara lain kelas Asia, kelas Amerika, kelas Inggris, kelas Prancis, kelas Hamburg, kelas Mediterania (Ferry, 2012). 2.2.1. Klasifikasi dan Bangsa Ayam Menurut buku The American Standart of Perfection unggas khususnya ayam didasarkan pada standar unggas yang dikelompokan berdasarkan ras, bangsa, varietas, dan strain. Penggolongan ternak unggas menurut buku The American Perfection Standard dibedakan menjadi empat kelas yaitu ayam kelas Inggris, ayam kelas Amerika, ayam kelas Mediterania dan ayam kelas Asia. Berdasarkan buku standar terdapat sebelas kelas, namun hanya ada empat kelas yang penting, yaitu kelas Inggris, kelas Amerika, kelas Mediterania, dan kelas Asia (Suprijatna et al., 2005). Klasifikasi juga didasarkan pada perbedaan dan persamaan karaker pada hewan atau unggas. Klasifikasi hewan berdasarkan atas perbedaan dan persamaan karakter tertentu pada hewan yang bersangkutan Tursina (2013). Kelas Inggris, ayam kelas Inggris merupakan sekelompok ayam yang hidup dan berkembang di Inggris dengan ciri – ciri proporsi tubuh besar, cuping berwarna merah, kulit putih, kerabang telur berwarna coklat, dan kaki tidak berbulu (Rahayu et al., 2011). Bangsa bangsa ayam yang termasuk kelas inggris antara lain Sussex, Cornish, Orington, Australorp dan Dorking. Ciri - ciri ayam Inggris adalah berbadan besar, pedaging yang baik, kulit berwarna putih dan mempunyai sifat mengeram (Suryana, 2013). Kelas Amerika, ayam kelas Amerika dikembangkan dengan tujuan dwiguna yaitu dapat memproduksi telur dan daging. Ciri – ciri umum ayam kelas Amerika adalah memiliki kulit berwarna kuning, dan jengger tunggal (Tawfik dan Zobisch, 2006) dalam (Zein dan Sulandari, 2009). Bangsa-bangsa ayam yang termasuk dalam kelas ini adalah Plymouth Rock, Wyandotte, Rhode Island Red, Hampshire, Jersey. Ayam kelas Amerika dikembangkan untuk tujuan dwiguna, yaitu memproduksi telur dan daging dengan ciri - ciri umumnya adalah warna kulit terang, kerabang telur coklat kecuali telur ayam Lamnona berwarna putih, cuping telinga merah, shank berwarna kuning, dan tidak berbulu (Santosa dan Sudaryani, 2009). Kelas Mediterania, ayam kelas mediterania terkenal dengan bentuk badannya yang langsing dan produksi telurnya cukup tinggi. Ayam kelas Mediterania memiliki karakteristik ukuran badan yang kecil dan sangat cepat dewasa, tidak mempunyai sifat mengeram serta kebanyakan ayam kelas mediterania mempunyai kaki yang bersih tidak berbulu dan cuping telinganya berwarna putih (Mutmainnah, 2013). Bangsa-bangsa ayam yang termasuk dalam kelas mediterania antara lain Leghorn, Ancona, Spanish, Minorca, Andalusia. Ayam kelas Mediterania merupakan kelompok ayam yang dikembangkan di sekitar Laut Tengah seperti Spanyol dan Italia. Karakteristiknya adalah bulu mengembang, cuping telinga berwarna putih, bentuk tubuh kecil, warna kulit putih, produktivitas telur tinggi dan kerabang telur telur putih (Rahayu et al., 2011). Kelas Asia, Karakteristik ayam kelas Asia yaitu berbadan besar, bulu rapat, cuping umumnya berwarna merah, cakar berbulu, kulit warna putih sampai gelap dan salah satu tipe pedaging. Bangsa bangsa ayam yang termasuk kelas Asia antara lain Brahma, Langshan, dan Cochin China (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). G. g. gallus (Cochin-Chinese atau Indochina red jungle fowl) sebarannya meliputi ayam dari Sumatera dan Jawa serta sukses introduksi di Bali dan Sulawesi yang sekarang merupakan kelas asia (Zein dan Sulandari, 2009). 2.2.2. Unggas Darat Unggas darat adalah jenis unggas yang hidup dan mencari pakan di darat. Contoh dari unggas darat adalah ayam dan burung puyuh. Ciri-ciri dari ternak unggas darat secara umum adalah bersayap, tubuhnya tertutup oleh bulu, berparuh, berkulit kering, tidak memiliki kelenjar keringat serta berkembang biak dengan cara bertelur (Susilorini et al., 2009). Unggas jantan dan unggas betina memiliki ciri-ciri yang berbeda, baik dari bentuk tubuh, warna bulu hingga suara yang dimiliki (Krista dan Harianto, 2013). Pada umumnya ayam betina memiliki badan yang pendek dan lembek, jenggernya tumbuh pendek dan tipis, kaki pendek dan kecil serta bulu tubuh yang tumbuh merata, sedangkan ayam jantan memiliki tubuh yang lebih besar, padat, tinggi dan gagah, jenggernya tumbuh lebih tegas dan berberigi nyata dan juga memiliki kaki yang kuat, besar dan kokoh serta bulu ekor yang tumbuh cepat dibandingkan dengan bulu lainnya (Sujionohadi dan Setiawan, 2007). Ayam jantan lebih gagah dari pada ayam betina karena tubuh ayam jantan lebih tinggi, jengger ayam jantan lebih nyata dibandingkan dengan ayam betina karena jengger ayam jantan lebih besar, tegas dan bergerigi nyata sedangkan ayam betina jenggernya cenderung bergerigi halus, selain itu ayam jantan memiliki kaki yang besar dan kuat sedangkan ayam betina memiliki kaki yang kecil dan pendek serta paruh ayam jantan yang besar dan pendek sedangkan pada ayam betina paruhnya kecil namun panjang (Kholis dan Sitanggung, 2008). Ciri-ciri perbedaan mendasar pada burung puyuh jantan dan burung puyuh betina adalah suara burung puyuh jantan yang lebih nyaring dari pada suara burung puyuh betina, ukuran tubuh burung jantan lebih kecil dari burung puyuh betina, pada burung puyuh betina warna bulu pada bagian dada terdapat bintikbintik hitam yang banyak sedangkan pada burung puyuh jantan warna bulu pada bagian dada cenderung polos dan berwarna kuning kecokelatan (Siagallan, 2009). Ciri-ciri burung puyuh jantan adalah pangkal paruh burung puyuh jantan berwarna cokelat kemerahan sedangkan pangkal paruh burung puyuh betina tidak berwarna cokelat kemerahan (Wuryadi, 2011). 2.2.3. Unggas Air Unggas air merupakan salah satu hewan jenis aves yang habitat makanannya di air. Hal ini yang membedakan antara unggas darat seperti ayam dengan itik. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh adanya faktor genetik dan lingkungan. Genetik unggas dapat menunjukan karakteristik dari unggas tersebut dari sifat keturunannya (Meisji et al,. 2011). Sedangkan faktor lingkungan mendukung kesempatan pada ternak dalam bertahan hidup. Pengaruh lingkungan antara lain manajemen pemeliharaan, pemberian pakan, dan jenis makanan yang berbeda (Noor, 2008). Itik merupakan jenis unggas air yang sering diternakkan untuk diambil produksi telurnya. Ciri umum itik yaitu tubuh ramping, berdiri tegak, dan lincah. Itik mampu hidup diair dikarenakan memiliki selaput pada kakinya (Yuwanta, 2008). Ciri umum dari itik yaitu berjalan tegak, tubuhnya langsing, kepalanya kecil serta memiliki leher yang panjang. Pada itik jantan ada ciri lain seperti beberapa helai ekor naik keatas terdapat warna campuran cokelat dan biru kehitaman atau gelap (Suprijatna et al., 2008). 2.2.4. Perbedaan Unggas Darat dan Air Paruh ayam lancip menyebabkan ayam lebih gemar makan biji-bijian dibandingkan dengan paruh unggas air seperti bebek yang pipih, sehingga bebek mudah makan-makanan yang berair (Rasyaf, 2008). Itik merupakan ternak air dan dengan adanya lemak dibawah kulit atau bulu, maka itik tahan berenang di air (Supriyadi, 2009). Kaki itik relatif pendek dibanding tubuhnya, sedangkan jari-jari kaki antara satu dengan lainya dihubungkan dengan selaput. Itik tergolong pemakan makanan yang lembek atau berair. Paruhnya yang lebar tertutup selaput, itik mudah mencari makanan di lingkungan tanah sawah, rawa dan sungai (Andoko dan Sartono, 2013). 2.2. Anatomi dan Identifikasi Ternak Unggas 2.3. Formulasi Ransum Ternak Unggas Ransum merupakan kumpulan bahan pakan yang dikonsumsi oleh ayam, yang disusun mengikuti aturan tertentu untuk memenuhi kebutuhan gizi ayam (Rasyaf, 2008). Bahan pakan yang sering digunakan dalam penyusunan ransum unggas adalah bahan pakan sumber energi (jagung, gaplek), bahan pakan sumber protein nabati (bungkil kedelai, bungkil kacang tanah), bahan pakan sumber protein hewani (tepung ikan, tepung daging), bahan pakan sumber mineral (tepung tulang, tepung kulit kerang), bahan pakan tambahan (premix) dan bahan pakan imbuhan (Growth promoter) (Tangendjaja, 2007). Jagung memiliki kandungan protein kasar sebesar 8,55% dan kandungan energi metabolisnya sebesar 3.400 kkal/kg (Wuryadi, 2011). Aflatoksin secara alami terdapat dalam banyak komoditas termasuk jagung, kacang hijau dan kacang tanah yang dikonsumsi oleh manusia dan hewan. Kelembaban dan suhu yang tinggi adalah dua faktor utama yang menyebabkan terdapatnya mycotosins pada tahap sebelum dan setelah pemanenan. Aflatoksin dapat meningkatkan stress dan menurunkan tingkat efisiensi pertumbuhan. Batas aman aflaktosin dalam bahan pakan adalah sebanyak 20 ppb (Hong et al., 2010). Kandungan lemak dalam bekatul cukup tinggi sehingga menyebabkan bekatul mudah tengik. Kandungan protein dalam bekatul tendah (10,2-12.9%) dan digunakan dalam jumlah terbatas dalam pakan (Yaman, 2010). Anti tripsin, khimatripsin, tanin, hemaglutinin dan saponin dalam bekatul dapat menghambat pertumbuhan ternak unggas (Murtidjo, 2006). Bungkil kedelai mengandung protein sebesar 41,70%. Bungkil kedelai dalam penggunaannya sangat dominan, akan tetapi memiliki zat anti nutrisi yang ada pada kacang kedelai mentah mengandung beberapa trypsin, yang tidak tahan terhadap panas, oleh karena itu sebaiknya kacang kedelai diolah lebih dahulu (Murtidjo, 2006). Penggunaan bungkil kedelai sebaiknya dibatasi tidak lebih dari 30% (Suci, 2013). Ikan rucah segar sebagai tepung ikan mengandung protein kasar sebesar 64,33%. Energi metabolisme dalam tepung ikan cukup antara kisaran 2.640-3.200 Kkal/kg dan tepung ikan dapat digunakan 4-10% dari total formula ransum (Suci, 2013). Fish meal (tepung ikan) memiliki gizzerosin yang menyebabkan gizzard ayam terluka sehingga pemberiannya perlu dibatasi (Rahayu et al., 2011). MBM adalah produk olahan pakan ternak, dengan kandungan gizi 50% protein kasar, 2,5% serat kasar, 10% lemak kasar, 7% kalsium, 4% fosfor (Wuryadi, 2011). Meat bone meal sebagai bahan pakan mempunyai kandungan protein 50% dan dapat menyumbangkan Ca cukup tinggi. Bahan pakan sumber protein hewani ini kualitasnya bervariasi tergantung dari jumlah tulang yang digunakan (Suci, 2013). Tepung daging atau MBM mengandung racun gizzerosine (Rasyad, 2006). Premix biasanya terdiri dari vitamin, asam amino, mineral, dan antibiotik atau keempatnya. Premix digunakan dengan mencampurkan dengan bahan pakan yang lain. Premix merupakan bahan pakan yang rendah protein (Yaman, 2013). Kandungan protein pada premix sangat rendah dan bahkan tidak ada (Kartadisastra, 2012). 2.3.1. Metode Penyusunan Ransum Salah satu metode penyusunan ransum adalah menggunakan metode penyusunan ransum secara coba-coba (trial and error). Metode ini merupakan metode penyusunan ransum yang sudah lama diterapkan. Prinsipnya adalah dengan menyamakan kandungan nutrisi utama (biasanya protein dan energi metabolis). Penyesuaian akan dilakukan secara berulang hingga didapatkan hasil yang mendekati kebutuhan ransum (Rasyaf, 2008). Pakan broiler periode starter mengandung protein 21-22% dan energi metabolis sebesar 3.035 kkal/kg. Kebutuhan protein akan berkurang dan kebutuhan energi metabolisnya akan bertambah seiring dengan bertambahnya umur ayam. Masa awal pertumbuhan ayam membutuhkan kadar protein yang tinggi untuk kepentingan hiperplasia (perbanyakan sel), pembentukan saluran pencernaan dan kekebalan tubuh (Tamalluddin, 2014). Penyusunan ransum ternak unggas perlu memperhatikan faktor tingkat konsumsi dan palatabilitas ternak terhadap suatu bahan pakan, serta evaluasi profil dan karakter nutrien bahan pakan, layak dan tidaknya suatu bahan untuk komponen pakan juga sangat tergantung pada eksistensi bahan tersebut dalam kuantitas dan kontinuitasnya, serta harga yang memungkinkan. Kebutuhan pakan untuk ternak di Indonesia akan terus bertambah seiring bertambahnya populasi ternak, sehingga harga bahan pakan akan semakin mahal (Prawirodigdo, 2014). Harga ransum broiler sebesar Rp 3.550,-/kg (Tantalo, 2009). Harga bahan pakan yang semakin mahal akan menyulitkan industri peternakan di Indonesia, perlu dicarikan solusi untuk mengatasi keadaan ini. Salah satu solusi yang mungkin dapat mengatasi masalah ini adalah meningkatkan pemanfaatan bahanbahan lokal yang potensial dan belum lazim digunakan. Pemanfaatan bahan pakan yang belum umum digunakan, terutama limbah pertanian sudah banyak diteliti. Pada umumnya penelitian mencakup aspek jumlah ketersediaan, kandungan gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau zat anti nutrisi serta proses peningkatan kualitas gizi dari bahan tersebut agar dapat digunakan sebagai pakan secara optimal (Sinurat et al., 2007). BAB III MATERI DAN METODE Praktikum Produksi Ternak Unggas dengan materi Pengenalan Jenis dan Klasifikasi serta Formulasi Ransum Ternak Unggas dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 8 April 2016 pukul 15.00-17.00 WIB di Laboratorium Produksi Ternak Unggas Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. 3.1. Materi 3.1.1. Pengenalan jenis dan klasifikasi ternak unggas Alat yang digunakan dalam praktikum pengenalan jenis ternak unggas adalah media movie dan slide power point untuk menampilkan gambar ternak unggas yang akan diamati dan buku praktikum dan alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan organ eksterior ternak unggas. Bahan yang digunakan adalah gambar penjelas yang berupa gambar unggas darat dan air yang akan diamati. 3.1.3. Formulasi ransum ternak unggas Alat yang digunakan dalam praktikum formulasi ransum ternak unggas adalah tabel komposisi kandungan bahan pakan yang digunakan untuk dasar penyusunan ransum, kalkulator (laptop) untuk menghitung komposisi bahan pakan, timbangan “kitchen scale” dengan ketelitian 1 g untuk menimbang bahan pakan, alas plastik dan nampan untuk menaruh bahan pakan yang sudah ditimbang. Bahan yang digunakan dalam praktikum formulasi formulasi ransum ternak unggas adalah bahan pakan yang mencakup pakan sumber energi, sumber protein, sumber mineral, dan vitamin (misalnya : jagung, dedak halus, bungkil kedelai, tepung ikan, MBM dan premix). 3.2. Metode 3.2.1. Pengenalan Jenis dan Klasifikasi Ternak unggas Metode yang digunakan dalam pengenalan jenis dan klasifikasi ternak unggas adalah mengamati gambar ternak unggas dengan melihat pada powerpoint yang telah disediakan oleh asisten melalui LCD. Mengklasifikasikan unggas yang telah diamati tersebut berdasarkan sistem klasifikasi standar dan tujuan pemeliharaannya. Melakukan deskripsi dan mencermati perbedaan-perbedaan karakteristiknya. 3.2.3. Formulasi Ransum Ternak Unggas Metode yang digunakan dalam menentukan formulasi ransum ternak unggas adalah menentukan standar kebutuhan ransum yang akan disusun berdasarkan kebutuhan rasio energi-protein sesuai dengan kebutuhan ternak unggas, misalnya ransum ayam broiler periode starter. Menghitung komposisi bahan pakan sesuai yang dibutuhkan menggunkan aplikasi microsoft excel. Menimbang jagung giling sebanyak 225 gram, menimbang bekatul sebanyak 135 gram, menimbang bungkil kedelai sebanyak 65 gram, menimbang tepung ikan sebanyak 50 gram, menimbang MBM sebanyak 20 gram dan menimbang premix sebanyak 5 gram. Mencapur seluruh bahan yang telah ditimbang kedalam loyang, kemudian di homogenisasi hingga tercampur rata. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengenalan Jenis dan Klasifikasi Ternak Unggas Unggas yang tergolong dalam kelas aves dibudidayakan oleh manusia dengan tujuan untuk diambil manfaatnya dan memiliki keistimewaan strukturnya yang disesuaikan dengan tingkah laku ternaknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Ali (2015) yang menyatakan bahwa unggas adalah hewan yang termasuk dalam kelas aves yang telah didomestikasikan dan dikembangbiakan baik disesuaikan untuk terbang dan berlari. Kelas ayam menghasilkan bangsa (breed) modern antara lain kelas Asia, kelas Amerika, kelas Inggris, kelas Prancis, kelas Hamburg, kelas Mediterania Ferry (2012). 4.1.1. Klasifikasi unggas Penggolongan ternak unggas menurut buku The American Perfection Standard dibedakan menjadi empat kelas yaitu ayam kelas Inggris, ayam kelas Amerika, ayam kelas Mediterania dana yam kelas Asia. Hal ini sesuai pendapat Suprijatna et al., (2005) yang menyatakan bahwa berdasarkan buku standar terdapat sebelas kelas, namun hanya ada empat kelas yang penting, yaitu kelas Inggris, kelas Amerika, kelas Mediterania, dan kelas Asia. Klasifikasi juga didasarkan pada perbedaan dan persamaan karaker pada hewan atau unggas. Hal ini sesuai dengan pendapat Tursina (2013) yang menyatakan bahwa Klasifikasi hewan berdasarkan atas perbedaan dan persamaan karakter tertentu pada hewan yang bersangkutan. Ayam kelas Inggris, Berdasarkan praktikum diketahui ayam kelas Inggris memiliki karakteristik kulit tubuh putih, bulu merapat ke tubuh, cangkang telur berwarna kuning, cuping berwarna merah dan umumnya tipe pedaging. Hal ini sesuai pendapat Rahayu et al. (2011) bahwa ayam kelas Inggris memiliki karakteristik tubuh besar, cuping merah, kulit putih, kerabang telur coklat, dan kaki tidak berbulu. Pendapat tersebut didukung oleh Suryana (2013) bahwa ciriciri ayam Inggris adalah berbadan besar, pedaging yang baik, kulit berwarna putih dan mempunyai sifat mengeram. Bangsa bangsa ayam yang termasuk kelas inggris antara lain Sussex, Cornish, Orington, Australorp dan Dorking. a) Orpington jantan b) Sussex jantan Sumber : British Poultry Standard, Sumber : British Poultry Standard, 2008 2008 Ilustrasi 1. Ayam Kelas Inggris Ayam kelas Amerika, Berdasarkan praktikum kelas amerika dikembangkan di Amerika dengan tipe dwiguna. Produksi utama daging dan telur sangatlah diminati. Ciri-ciri kelas amerika diantaranya warna kulit terang, cuping berwarna merah, jengger tunggal, bentuk tubuh lebih kecil dibandingkan kelas inggris, cakar tidak berbulu dan bulu mengembang. Menurut Tawfik dan Zobisch (2006) yang menyatakan bahwa tanda-tanda umum ayam amerika adalah memiliki kulit berwarna kuning, dan jengger tunggal. Santosa dan Sudayani (2009) menjelaskan bahwa Ayam kelas Amerika dikembangkan untuk tujuan dwiguna, yaitu memproduksi telur dan daging dengan tanda - tanda umumnya adalah warna kulit terang. a) Plymouth Rock jantan b) Wyandotte betina Sumber : British Poultry Standard, Sumber : British Poultry Standard, 2008 2008 Ilustrasi 2. Ayam Kelas Amerika Ayam kelas Mediterania, Berdasarkan hasil praktikum menunjukan bahwa ayam kelas mediterania adalah kelompok ayam yang dibentuk dan dikembangkan di sekitar negara dan pulau di Laut Tengah. Bangsa-bangsa yang termasuk kelas ini antara lain Leghorn, Ancona, Spanish, Minorca dan Andalusia. Leghorn Single Comb White merupakan bangsa ayam yang popular sebagai jenis ayam petelur, ukuran badan yang kecil. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Mutmainnah (2013) ayam kelas mediterania memiliki karakteristik ukuran badan yang kecil dan sangat cepat dewasa, tidak mempunyai sifat mengeram serta kebanyakan mempunyai kaki yang bersih tidak berbulu dan cuping telinganya berwarna putih. Hal ini diperkuat oleh Rahayu et al. (2011) Ayam kelas Mediterania merupakan kelompok ayam yang dikembangkan di sekitar Laut Tengah seperti Spanyol dan Italia. Karakteristiknya adalah bulu mengembang, cuping telinga berwarna putih, bentuk tubuh kecil, warna kulit putih, produktivitas telur tinggi dan kerabang telur telur putih. a) Spanish betina b) Ancona betina Sumber : British Poultry Standard, Sumber : British Poultry Standard, 2008 2008 Ilustrasi 3. Ayam Kelas Mediterania, Ayam kelas Asia, ayam kelas Asia merupakan ayam yang dibentuk dan dikembangkan di wilayah Asia. Berdasarkan hasil pengamatan pada ayam kelas ini, karakteristik kelas Asia adalah mempunyai ciri-ciri badan relatif besar, bulu merapat ke tubuh, cuping berwarna merah, cakar berbulu, kulit berwarna putih sampai gelap. Hal ini sesuai dengan pendapat Kartasudjana dan Suprijatna (2006) yang mengatakan bahwa karakteristik ayam kelas Asia yaitu berbadan besar, bulu rapat, cuping umumnya berwarna merah, cakar berbulu, kulit warna putih sampai gelap dan salah satu tipe pedaging. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Zein dan Sulandari (2009) yang menyatakan bahwa G. g. gallus (Cochin-Chinese atau Indochina red jungle fowl) sebarannya meliputi Sumatera dan Jawa serta sukses introduksi di Bali dan Sulawesi yang sekarang merupakan kelas asia. b) Brahma Jantan Sumber : British Poultry Standard, 2008 a) Cochin China Jantan Sumber : British Poultry Standard, 2008 Ilustrasi 4. Ayam Kelas Asia 2.2. Unggas darat Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dengan pengamatan eksterior unggas darat, diperoleh hasil sebagai berikut. Ayam Jantan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ayam Betina Sumber: Data Primer Praktikum Produksi Ternak Unggas, 2016. materi Ilustrasi 5. Eksterior ayam jantan dan betina Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. Jengger Mata Paruh Pial Dada 6. Sayap 7. Paha 8. Ekor 9. Kaki Ayam merupakan unggas darat yang memiliki organ eksterior berupa mata, paruh, cuping, pial, sayap, kaki, ekor, dada dan paha. Ayam jantan dan ayam betina memiliki ciri-ciri yang berbeda dari setiap ciri dari organ eksteriornya. Ayam jantan memiliki postur tubuh yang gagah, paruhnya yang besar dan pendek serta memiliki bulu yang lebat, sedangkan ayam betina memiliki portuh tubuh yang tidak gagah, paruhnya yang kecil dan panjang, kakinya pendek dan juga bulu yang tidak lebat. Hal ini sesuai dengan pendapat Sujionohadi dan Setiawan (2007) yang menyatakan bahwa ayam betina berbadan pendek dan lembek, jenggernya tumbuh pendek dan tipis, kaki pendek dan kecil serta bulu tubuh yang tumbuh merata, sedangkan ayam jantan memiliki tubuh yang lebih besar, padat, tinggi dan gagah, jenggernya tumbuh lebih tegas dan berberigi nyata dan juga memiliki kaki yang kuat, besar dan kokoh serta bulu ekor yang tumbuh cepat dibandingkan dengan bulu lainnya. Hal ini diperkuat oleh pendapat Kholis dan Sitanggung (2008) yang menyatakan bahwa ayam jantan lebih gagah dari pada ayam betina karena tubuh ayam jantan lebih tinggi, jengger ayam jantan lebih nyata dibandingkan dengan ayam betina karena jengger ayam jantan lebih besar, tegas dan bergerigi nyata sedangkan ayam betina jenggernya cenderung bergerigi halus, selain itu ayam jantan memiliki kaki yang besar dan kuat sedangkan ayam betina memiliki kaki yang kecil dan pendek serta paruh ayam jantan yang besar dan pendek sedangkan pada ayam betina paruhnya kecil namun panjang. Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dengan materi pengamatan eksterior unggas darat, diperoleh hasil sebagai berikut. Burung Puyuh Jantan 1 Burung Puyuh Betina 2 3 4 5 6 7 Sumber: Data Primer Praktikum Produksi Ternak Potong, 2016. Ilustrasi 6. Eksterior puyuh jantan dan betina Keterangan: 1. 2. 3. 4. Mata Paruh Leher Dada 5. Sayap 6. Ekor 7. Kaki Burung puyuh adalah salah satu jenis unggas darat dan termasuk unggas yang mempunyai produksi telur yang cukup tinggi. Burung puyuh memiliki organ eksterior berupa mata, paruh, leher, dada, sayap, ekor dan kaki. Terdapat perbedaan pada organ eksterior tersebut untuk burung puyuh jantan dan burung puyuh betina. Pada burung puyuh jantan pangkal paruhnya berwarna cokelat kemerahan, sedangkan betina tidak serta pada burung puyuh jantan warna bulu dadanya cenderung lebih polos dan pada burung puyuh betina warna bulu pada bagian dada terdapat bintik-bintik hitam, selain itu ukuran burung puyuh jantan lebih kecil daripada burung puyuh betina. Hal ini sesuai dengan pendapat Siagallan (2009) yang menyatakan bahwa ciri-ciri perbedaan mendasar pada burung puyuh jantan dan burung puyuh betina adalah suara burung puyuh jantan yang lebih nyaring dari pada suara burung puyuh betina, ukuran tubuh burung puyuh jantan lebih kecil dari burung puyuh betina, pada burung puyuh betina warna bulu pada bagian dada terdapat bintik-bintik hitam yang banyak sedangkan pada burung puyuh jantan warna bulu pada bagian dada cenderung polos dan berwarna kuning kecokelatan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Wuryadi (2011) yang menyatakan bahwa ciri-ciri burung puyuh jantan adalah pangkal paruh burung puyuh jantan berwarna cokelat kemerahan sedangkan pangkal paruh burung puyuh betina tidak berwarna cokelat kemerahan. 4.1.3. Unggas air Itik Jantan 1 Itik Betina 2 3 4 5 6 7 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Unggas, 2016. Ilustrasi 7. Eksterior Itik jantan dan betina Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mata Paruh Leher Dada Sayap Ekor Kaki Unggas air merupakan jenis aves yang mampu hidup dan mencari makanan diair. Salah satu contoh dari unggas air yaitu itik. Itik merupakan jenis unggas yang memiliki produksi telur yang tinggi dikarenakan postur tubuh itik yang ramping serta lincah yang merupakan ciri umum unggas petelur. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijatna et al., (2008) yang menyatakan bahwa itik berjalan dengan posisi badan tegak serta lincah namun memiliki kepala yang relative kecil. Itik memiliki kemampuan untuk mengambil makanan dan berenang diair karena kakinya yang berselaput. Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwanta (2008) yang menyatakan bahwa unggas air dapat berenang diair karena hewan tersebut mempunyai selaput pada kakinya. Itik jantan dan betina memiliki ciri yang berbeda yaitu bobot pada itik jantan relatif lebih besar dari pada betina, dan ujung ekor pada itik jantan naik keatas. Itik mempunyai keunggulan dari jenis unggas lain yaitu dari segi kematian yang relatif rendah serta tahan terhadap penyakit. 4.1.4. Perbedaan unggas darat dan air Berdasarkan praktikum dengan materi pengenalan karakteristik unggas darat dan unggas air diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 1. Perbedaan unggas darat dan air No Karakteristik Unggas darat Unggas air 1. Paruh Runcing Pipih 2. Kaki Tidak Berselaput Berselaput 3. Makanan Kering Basah 4. Jengger, Cuping, Pial Ada Tidak ada 5. Leher Pendek Panjang 6. Bulu Tidak dilapisi minyak Dilapisi minyak 7. Taji Ada Tidak ada 8. Warna Bulu Bervariasi Monoton 9. Bentuk Badan Melengkung Tegak lurus 10. Bulu Mengembang Merapat ke tubuh Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Ternak Unggas, 2016. Berdasarkan hasil praktikum menunjukkan adanya perbedaan antara unggas darat dengan unggas air yang dilihat dari paruh, kaki, makanan, jengger, cuping, pial, leher, bulu, taji, warna bulu, bentuk badan dan bulu. Unggas darat seperti ayam bentuk paruhnya lancip atau runcing, karena ayam pemakan bijibijian. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2008) yang menyatakan bahwa paruh ayam lancip menyebabkan ayam lebih gemar makan biji-bijian dibandingkan dengan paruh unggas air seperti bebek yang pipih, sehingga bebek mudah makan-makanan yang berair. Perbedaan lainnya yang tampak adalah ayam tidak mempunyai kelenjar minyak yang terdapat pada kulit atau bulu, sedangkan itik memilikinya yang berguna untuk tahan berenang dalam air. Ayam tidak memiliki selaput pada kakinya, sedangkan kaki itik memiliki selaput pada kaki. Hal ini sesuai dengan pendapat Supriyadi (2009) yang menyatakan bahwa itik merupakan ternak air dan dengan adanya lemak dibawah kulit atau bulu, maka itik tahan berenang di air. Menurut Andoko dan Sartono (2013) kaki itik relatif pendek dibanding tubuhnya, sedangkan jari-jari kaki antara satu dengan lainya dihubungkan dengan selaput. Itik tergolong pemakan makanan yang lembek atau berair. Paruhnya yang lebar tertutup selaput, itik mudah mencari makanan di lingkungan tanah sawah, rawa dan sungai. Perbedaan dari unggas darat dan air yaitu ditentukan dari faktor genetik serta habitatnya yang menyebabkan pola hidup dan makannya yang berbeda. Hal ini sesuai dengan pendapat Meisji et al. (2011) yang menyatakan bahwa setiap unggas memiliki genetik tersendiri yang membedakan antara satu dengan lainnya. Faktor lingkungan akan mempengaruhi perkembangan dari unggas tersebut. Unggas air relatif menyukai makanan yang berada diair serta lembek dan berair. Hal ini sesuai dengan pendapat Noor (2008) yang menyatakan bahwa Lingkungan akan mempengaruhi keadaan unggas seperti jenis dan pemberian pakannya. 4.3. Formulasi Ransum Ternak Unggas Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, formulasi ransum ternak unggas dapat diamati pada tabel 2 dan 3 berikut ini : Tabel 2. Hasil Organoleptik Bahan Pakan No Bahan Pakan Bentuk Tekstur Warna 1. Jagung Crumble Kasar Orange 2. Bekatul Mash Halus Abu-abu 3. Bungkil Crumble Kasar Coklat keputihan Kedelai 4. Tepung Ikan Mash Halus Coklat 5. MBM Mash Halus Coklat tua 6. Premix Mash Halus Coklat keemasan Sumber : Data Primer Prktikum Produksi Tenak Unggas, 2016. Bau Khas Khas Khas Khas Khas Khas Ransum merupakan campuran bahan pakan yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak secara tepat dan seimbang selama 24 jam. Bahan pakan yang sering digunakan dalam penyusunan ransum unggas adalah jagung, bekatul, tepung ikan, bungkil kedelai, dan premix. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Rasyaf (2008) yang menyatakan bahwa ransum merupakan kumpulan bahan pakan yang dikonsumsi oleh ayam, yang disusun mengikuti aturan tertentu untuk memenuhi kebutuhan gizi ayam. Tangendjaja (2007) menyatakan bahwa bahan pakan yang sering digunakan dalam penyusunan ransum unggas adalah bahan pakan sumber energi (jagung, gaplek), bahan pakan sumber protein nabati (bungkil kedelai, bungkil kacang tanah), bahan pakan sumber protein hewani (tepung ikan, tepung daging), bahan pakan sumber mineral (tepung tulang, tepung kulit kerang), bahan pakan tambahan (premix) dan bahan pakan imbuhan (Growth promoter). Bahan pakan jagung berbentuk crumble dengan tekstur yang kasar. Warnanya orange serta memiliki bau yang khas. Jagung merupakan bahan pakan sumber energi dengan kandungan energi metabolisme yang paling tinggi diantara biji-bijian lain. Jagung mengandung zat anti nutrisi yaitu aflatoksin, yang dapat mempengaruhi produktivitas ternak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Wuryadi (2011) yang menyatakan bahwa jagung memiliki kandungan protein kasar sebesar 8,55% dan kandungan energi metabolisnya sebesar 3.400 kkal/kg. Hong et al. (2010) menyatakan bahwa aflatoksin secara alami terdapat dalam banyak komoditas termasuk jagung, kacang hijau dan kacang tanah yang dikonsumsi oleh manusia dan hewan. Kelembaban dan suhu yang tinggi adalah dua faktor utama yang menyebabkan terdapatnya mycotosins pada tahap sebelum dan setelah pemanenan. Aflatoksin dapat meningkatkan stress dan menurunkan tingkat efisiensi pertumbuhan. Batas aman aflaktosin dalam bahan pakan adalah sebanyak 20 ppb. Bekatul berbentuk mash, dengan tekstur kasar, warnanya abu-abu dan memiliki bau yang khas. Bekatul memiliki kadar PK sebesar 10,2% dan EM sebesar 2680 kkal/kg, namun penggunaannya dalam ransum unggas terbatas karena kandungan serat kasar dalam bekatul cukup tinggi dan sulit untuk dicerna oleh unggas. Hal tesebut sesuai dengan pendapat Yaman (2010) yang menyatakan bahwa kandungan lemak dalam bekatul cukup tinggi sehingga menyebabkan bekatul mudah tengik. Kandungan protein dalam bekatul tendah (10,2-12.9%) dan digunakan dalam jumlah terbatas dalam pakan. Zat anti nutrisi dalam bekatul dapat menghambat pertumbuhan unggas sebab adanya faktor anti tripsin dan tanin. Hal ini sesuai dengan pendapat Murtidjo (2006) yang menyatakan bahwa anti tripsin, khimatripsin, tanin, hemaglutinin dan saponin dalam bekatul dapat menghambat pertumbuhan ternak unggas. Bahan pakan bungkil kedelai berbentuk crumble, memiliki tekstur yang kasar, berwarna cokelat keputihan dan memiliki bau yang khas. Bungkil kedelai merupakan hasil bahan yang tersisa setelah kedelai diolah dan diambil minyaknya. Bungkil kedelai merupakan surnber protein yang baik bagi ternak. Kandungan protein bungkil kedelai sekitar 41-51%. Hal ini sesuai dengan pendapat Murtidjo (2006) yang menyatakan bahwa bungkil kedelai mengandung protein sebesar 41,70%. Bungkil kedelai dalam penggunaannya sangat dominan, akan tetapi memiliki zat anti nutrisi yang ada pada kacang kedelai mentah mengandung beberapa trypsin, yang tidak tahan terhadap panas, oleh karena itu sebaiknya kacang kedelai diolah lebih dahulu. Hal ini sesuai dengan pendapat Suci (2013) yang menyatakan bahwa penggunaan bungkil kedelai sebaiknya dibatasi tidak lebih dari 30%. Bahan pakan tepung ikan berbentuk mash, memiliki tekstur yang halus, berwarna cokelat dan memiliki bau yang khas. Tepung ikan sebagai salah satu bahan pakan yang berpotensi sebagai sumber protein maupun lemak terutama asam lemak tak jenuh rantai panjang dengan kadar PK sebesar 72%, energi metabolisme 2.640 Kkal/Kg. Komposisi tepung ikan dalam ransum unggas dapat mencapai hingga 10%. Tepung ikan berkualitas baik mengandung protein cukup tinggi, yaitu antara 60-70%. Hal ini sesuai dengan pendapat Suci (2013) yang menyatakan bahwa ikan rucah segar sebagai tepung ikan mengandung protein kasar sebesar 64,33%. Energi metabolisme dalam tepung ikan cukup antara kisaran 2.640-3.200 Kkal/kg dan tepung ikan dapat digunakan 4-10% dari total formula ransum. Tepung ikan memiliki zat anti nutrisi tertentu yang pemberiannya dibatasi, untuk menaikkan jumlah pemakaian zat-zat pembatas harus dikurangi dengan perlakuan tertentu misalnya dengan pemberian enzim. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahayu et al. (2011) yang menyatakan bahwa fish meal (tepung ikan) memiliki gizzerosin yang menyebabkan gizzard ayam terluka sehingga pemberiannya perlu dibatasi. Meat Bone Meal (MBM) berdasarkan hasil data diatas memiliki bentuk mash, bertekstur halus, berwarna coklat tua dan berbau khas. MBM merupakan pakan ternak yang berprotein tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Wuryadi (2011) yang menyatakan bahwa MBM adalah produk olahan pakan ternak, dengan kandungan gizi 50% protein kasar, 2,5% serat kasar, 10% lemak kasar, 7% kalsium, 4% fosfor. Suci (2013) menyatakan bahwa meat bone meal sebagai bahan pakan mempunyai kandungan protein 50% dan dapat menyumbangkan Ca cukup tinggi. Bahan pakan sumber protein hewani ini kualitasnya bervariasi tergantung dari jumlah tulang yang digunakan. Zat anti nutrisi yang terdapat dalam MBM yaitu gizzerosine. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2006) yang menyatakan bahwa tepung daging atau MBM mengandung racun gizzerosine. Premix berbentuk mash, bertekstur halus, berwarna coklat keemasan, dan berbau khas yang merupakan bahan pakan tambahan atau feed suplement yang digunakan sebagai penyedia sumber vitamin, mineral dan antibiotik. Hal ini sesuai dengan pendapat Yaman (2013) premix biasanya terdiri dari vitamin, asam amino, mineral, dan antibiotik atau keempatnya. Premix digunakan dengan mencampurkan dengan bahan pakan yang lain. Premix merupakan bahan pakan yang rendah protein. Hal ini sesuai dengan pendapat Kartadisastra (2012) yang menyatakan bahwa kandungan protein pada premix sangat rendah dan bahkan tidak ada. 4.3.1. Metode Penyusunan Ransum Tabel 3. Hasil Perhitungan Formulasi Ransum No Bahan % Bahan PK EM Harga Pakan Pakan Ransum Ransum Ransum 1. Jagung 45 3,87 1516,5 3150 2. Bekatul 27 2,754 772,2 1080 3. Bungkil 13 5,46 291,2 780 Kedelai 4. Tepung 7,2 264 900 Ikan 10 5. MBM 4 2,016 86 440 6. Premix 1 0 0 90 Total 100 21,3 2929,9 6440 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi Tenak Unggas, 2016. Keterangan : Jenis ransum untuk ternak Periode Kebutuhan PK (%) Kebutuhan EM (kkal/kg) Konversi 0,5 Kg 225 135 65 50 20 5 500 : Ayam broiler : Starter : 21-24% : 2800-3000 kkal/kg Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa ransum yang disusun merupakan ransum untuk ayam broiler periode starter dengan kebutuhan PK 21- 24%, energi metabolis 2800-3000 kkal/kg dan harga Rp 6.640,-/kg. Bahan pakan yang digunakan dalam penyusunan ransum ayam broiler periode starter memiliki batas maksimal dalam penggunaannya, jagung 60%, bekatul 30%, bungkil kedelai 25-30%, tepung ikan 10%, MBM 10% dan premix 10%. Metode penyusunan ransum yang digunakan adalah metode trial and error. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Rasyaf (2008) yang menyatakan salah satu metode penyusunan ransum adalah menggunakan metode penyusunan ransum secara coba-coba (trial and error). Metode ini merupakan metode penyusunan ransum yang sudah lama diterapkan. Prinsipnya adalah dengan menyamakan kandungan nutrisi utama (biasanya protein dan energi metabolis). Penyesuaian akan dilakukan secara berulang hingga didapatkan hasil yang mendekati kebutuhan ransum. Tamalluddin (2014) menyatakan bahwa pakan broiler periode starter mengandung protein 2122% dan energi metabolis sebesar 3.035 kkal/kg. Hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan ransum unggas, selain kandungan bahan serta kebutuhan unggas, adalah harga ransum yang digunakan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Prawirodigdo (2014) yang menyatakan bahwa penyusunan ransum ternak unggas perlu memperhatikan faktor tingkat konsumsi dan palatabilitas ternak terhadap suatu bahan pakan, serta evaluasi profil dan karakter nutrien bahan pakan, layak dan tidaknya suatu bahan untuk komponen pakan juga sangat tergantung pada eksistensi bahan tersebut dalam kuantitas dan kontinuitasnya, serta harga yang memungkinkan. Tantalo (2009) menyatakan bahwa harga ransum broiler sebesar Rp 3.550,-/kg. Perlu adanya alternatif bahan pakan baru sehingga biaya pakan mampu ditekan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sinurat et al. (2007) yang menyatakan bahwa harga bahan pakan yang semakin mahal akan menyulitkan industri peternakan di Indonesia, perlu dicarikan solusi untuk mengatasi keadaan ini. Salah satu solusi yang mungkin dapat mengatasi masalah ini adalah meningkatkan pemanfaatan bahanbahan lokal yang potensial dan belum lazim digunakan. Pemanfaatan bahan pakan yang belum umum digunakan, terutama limbah pertanian sudah banyak diteliti. Pada umumnya penelitian mencakup aspek jumlah ketersediaan, kandungan gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau zat anti nutrisi serta proses peningkatan kualitas gizi dari bahan tersebut agar dapat digunakan sebagai pakan secara optimal. DAFTAR PUSTAKA Ali, M.S.H. 2015. Morfologi Kelenjar Mandibularis dan Lingualis Ayam Ketawa dan Ayam Kampung (Gallus gallus domesticus) dengan Tinjauan Khusus pada Distribusi dan Kandungan Karbohidrat. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar. (Skripsi Sarjana Peternakan). Andoko, A., dan Sartono. 2013. Beternak Itik Pedaging. Agromedia Pustaka, Jakarta. Efendi M dan Sitanggang M. AgroMediaPustaka, Jakarta. 2015. Lele Organik Hemat Pakan. Hong, L.S., N.I.M. Yusuf dan H.M. Ling. 2010. Determination of aflatoxins B1 and B2 in peanuts and corn based products. Sains Malaysiana. 39 (5) : 731735. Kartadisastra. 2012. Pengelolaan Pakan Ayam. Kanisius, Yogyakarta. Kholis, S. dan M. Sitanggang. 2008. Ayam Arab dan Petelur Unggul. AgroMedia Pustaka, Jakarta. Krista, B., dan B. Harianto. 2013. Jago Bisnis dan Beternak Ayam Kampung. AgroMedia Pustaka, Jakarta. Meisji L. Sari, R.R. Norr, Peni S. Hardjosworo dan Chairun Nisa. 2012. Kajian Karakteristik Biologis Itik Pegagan Sumatra Selatan. J. Lahan Sub Optimal. 1(2): 170-176. Murtidjo, B. 2006. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Kanisius, Yogyakarta. Mutmainnah. 2013. Curahan Waktu Kerja dalam Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur di Desa Bonto Salluang, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makasar. (Skripsi Sarjana Peternakan). Nawawi, T. N., Nurrohmah, S. 2011. Pakan Ayam Kampung. Penebar Swadaya, Jakarta. Noor, R.R. 2008. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta. Prawirodigdo, S. 2014. Urgensi evaluasi bahan pakan asli Indonesia sebagai pilar utama untuk menopang usaha ayam lokal. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah. Hal. 149-162. Rahayu, I., Santosa, H., dan Sudaryani, T. 2011. Panduan Lengkap Ayam. Penebar Swadaya, Jakarta. Rasyaf, M. 2006. Seputar Makanan Ayam Kampung. Kanisius, Yogyakarta. Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta. Santoso, H., dan T. Sudaryani. 2009. Pembesaran Ayam Pedaging di Kandang Panggung Terbuka. Penebar Swadaya, Jakarta. Siagallan, J.F. 2009. Pengaruh Pemberian Probiotik pada Ransum Burung Puyuh (Coturnix-coturnix japonica) terhadap Produksi Telur Burung Puyuh. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. (Skripsi Sarjana Pertanian). Sinurat, A.P., T. Purwadaria, I.A.K. Bintang dan T. Pasaribu. 2007. Peningkatan nilai gizi solid heavy phase dalam ransum unggas sebagai pengganti jagung. J. Ilmu Ternak Veteriner. 12 (2) : 87-95. Suci, D. 2013. Pakan Itik Pedaging dan Petelur. Penebar Swadaya, Jakarta. Sujonohadi, K. dan A. I. Setiawan. 2007. Ayam Kampung Petelur. Penebar Swadaya, Jakarta. Suprijatna, E., U. Atmomarsonodan R. Kartasudjana. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta. Supriyadi. 2009. Panen Itik Pedaging dalam 6 Minggu. Penebar Swadaya, Jakarta. Susilorini, T.E., M. E. Sawitri dan Muharlien. 2009. Budidaya 22 Ternak Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta. Tamalluddin, F. 2014. Panduan Lengkap Ayam Broiler. Penebar Swadaya, Jakarta. Tangendjaja, B. 2007. Inovasi teknologi pakan menuju kemandirian usaha ternak unggas. Wartazoa. 17 (1) : 12-20. Tantalo, S. 2009. Perbandingan performans dua strain broiler yang mengkonsumsi air kunyit. J. Ilmu-ilmu Peternakan. 12 (3) : 147-152. Wuryadi, S. 2011. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Puyuh. AgroMedia Pustaka, Jakarta. Wuryadi, S. 2013. Beternak Puyuh. Agromedia, Jakarta. Yaman, A. M. 2011. Ayam Kampung Unggul. Penebar Swadaya, Jakarta. Yuwanta, T. 2008. Dasar Ternak Unggas Cetakan ke-5.Kanisius, Yogyakarta. Zein, M. S. A., dan S. Sulandari. 2009. Investigasi asal usul ayam Indonesia menggunakan sekuens hypervariable-1 D-loop DNA mitokondria. J. Veteriner 10 (1): 41-49.