Anda di halaman 1dari 32

DAFTAR ISI

Hal
Skenario.................................................................................................2
Klarifikasi Istilah....................................................................................3
Identifikasi Masalah...............................................................................4
Analisis Masalah....................................................................................5
Kerangka Konsep.................................................................................13
Learning Objectives.............................................................................14
Berbagi Informasi.................................................................................15
Kesimpulan..........................................................................................29
Saran.....................................................................................................29
Daftar Pustaka......................................................................................31

1

Skenario 1
KAKEK TIDAK JELAS MELIHAT
Seorang laki-laki usia lanjut datang ke puskesmas karena mata kanannya
kabur. Dia sudah mengeluh pandangannya kabur sejak 1 tahun yang lalu tanpa
rasa sakit atau merah pada matanya. Hasil pemeriksaan menunjukkan mampu
melihat cahaya dan membedakan warna. Dokter menyarankan dirujuk ke rumah
sakit untuk dilakukan tindakan operatif spesalis mata.

2

BAB I
KLARIFIKASI ISTILAH

1.

3

Apa saja tindakan operatif yang diperlukan untuk pasien ? 4 .4 Apa hubungan keluhan dengan usia ? 2.3 Mengapa pasien mampu melihat cahaya dan warna ? 2.5 Mengapa dokter merujuk ke spesialis mata ? 2.6 Apa saja penyebab gangguan penglihatan ? 2.2 Mengapa pasien tidak merasakan mata sakit dan kemerahan ? 2.7 Apa saja pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penujang yang dibutuhkan ? 28 .BAB II IDENTIFIKASI MASALAH 2.1 Mengapa mata kanan pasien terlihat kabur ? 2.

sehingga obyek terlihat jelas (tidak kabur). sehingga menyebabkan penurunan visus yang membuat penglihatan menjadi kabur. sehingga dapat menumpuk dan menyebabkan kekeruhan pada lensa 2) (2) akibat adanya hidrasi (panambahan cairan) lensa (Vaughan. Gambar 1. 2000).1. Bapak tersebut tidak bisa melihat dengan jelas bisa diakibatkan oleh : 1) Presbiopi 5 . Mekanisme melihat normal pada kornea yang bening Penyebab terjadinya kekeruhan pada lensa adalah : 1) Protein lensa yang secara normal transparan terurai dan mengalami koagulasi.BAB III ANALISA MASALAH 3. Asbury & Riordan-Eva (2000) menyatakan bahwa pada kondisi tersebut penglihatan mata tidak dapat melewati media refraksi secara normal karena terhalang oleh lensa yang keruh. Penyebab Penglihatan Mata Pasien Kabur Menurut Ilyas et al (2010) yang menyebabkan penglihatan mata menjadi kabur adalah adanya kekeruhan pada lensa yang menyebabkan terganggunya refraksi mata. Gambar 1 dibawah memperlihatkan penglihatan normal yaitu pada kondisi kornea yang bening (tidak keruh).

6) Glaucoma Merupakan kelompok penyakit yang merusak serabut nervus optikus dan menyebabkan hilangnya penglihatan bahkan kebutaan. 2000) Lensa Keruh Menghalangi Cahaya Masuk Retina Mekanisme Mata Kabur : Bayangan Semu Ke Retina Otak Menginterpretasikan sebagai bayangan berkabut 6 Pandangan Mata Kabur . Lang. 4) Catarct Adanya timbunan protein pada lensa yang mengakibatkan kekeruhan. Pandangan bisa menjadi kabur dan berasap. terjadi bila ada kerusakan pembuluh darah kecil di retina.Hilangnya kemampuan untuk melihat benda yang jauh dan kecil. 5) Diabetic eye disease Merupakan komplikasi dari Diabetes Miletus dan menjadi penyebab utama kebutaan. Bentuk yang paling umum adalah Retinophaty Diabetic yang terjadi pada penderita diabetes. (Gerhard K. 7) Mata kering Ketika mata tidak Bertambahnya Usiabisa menghasilkan air mata dengan sempurna atau baik atau air mata cepat menguap akibat konsistensi yang buruk. Biasanya dikaitkan dengan tekanan intraokular yang tinggi pada bola mata dan mempengaruhi penglihatan perifer. 3) AMD (Age-related Muscular Degeneration) Penyakit yang akan mengakibatkan kurangnya ketajaman mata dan fokus penglihatan. 2) Floaters Bintik kecil yang menggantung dimata yang menyebabkan penglihatan tidak jelas.

Didepan lensa terdapat selapis tipis epitel supkapsuler. Kapsul lensa adalah membran yang semipermeabel (sedikit lebih permiabel dari pada kapiler) yang menyebabkan air dan elektrolit masuk. Selain itu gejala lain yang dialami pasien apbila ada gangguan pada lensa yaitu adanya kekeruhan pada lensa. 7 .(Vaugan.2006). Semakin bertambahnya usia laminar epitel supkapsuler terus diproduksi sehingga lensa semakin besar dan kehilangan elastisitas (Muril AC. distorsi. tak berwarna dan hampir transparan sempurna. Di anterior lensa terdapat humor aquaeus. Nucleus lensa lebih tebal dari korteksnya. dislokasi dan anomaly geometri (Zarab.2004). 2000) Pandangan mata kabur tanpa disertai rasa sakit Pandangan mata yang kabur tanpa disertai dengan rasa nyeri merupakan suatu tanda adanya gangguan pada lensa pasien. disebelah posteriornya. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameter 9 mm. vitreus. Lensa adalah suatu struktur bikonveks. Dibelakang iris lensa digantung oleh zonula yang menghubungkan dengan korpus ciliaris. avaskuler.

Kandungan kalium lebih tinggi pada lensa dibanding area tubuh lainnya. Mata Pasien Tidak Mengalami Rasa Sakit dan Merah Mata bapak tersebut tidak merah dan tidak sakit karena tidak mempengaruhi sensor saraf afferen. ciliaris berelaksasi. pembuluh darah. Kerja sama fisiologis antara korpus siliaris.2000) Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Hal ini berhubungan dengan tidak adanya nyer pada gangguan yang terjadi pada lensa (Vaugan & Asbury.2. Sensor jaras nyeri pada mata berasal dari nervus V atau nervus trigeminus cabang opthalmica. artinya lensa yang elastis menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya biasnya. Untuk presepsi rasa nyeri pada daerah mata. menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukuran terkecil dalam posisi ini daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya akan terfokus pada retina. Sementara untuk cahaya yang berjarak dekat m.2000). Lapisan lensa 3. Hal ini berkurang seiring dengan bertambahnya usia (Vaughan & Asbury.Lensa terdiri dari 65% air dan 35% protein (tertinggi kandungan nya di antara seluruh tubuh) dan sedikit sekali mineral. Gambar 2.ciliaris berkontrasi sehingga tegangan zonula berkurang. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh m. zonula dan lensa untuk memfokuskan benda jatuh pada retina dikenal dengan akomodasi. Kelainan yang terjadi yang mempengaruhi 8 . Pada lensa tidak terdapat serat nyeri. atau saraf pada lensa.

sering terpapar sinar ultraviolet. Traumatic e. Degeneratif b. dimana zat-zat tersebut dapat menumpuk pada lensa yang dapat menyebabkan kekeruhan pada lensa. 2000) 3. Lim & Sadda (2006) faktor risiko terjadinya katarak adalah usia diatas 50 tahun. keadaan sosial ekonomi rendah. (Gerhard K. Lang. Beberapa penyakit mata yang terjadi mungkin adalah a. Lebih lanjut Shinha. asam linolenat. Dimana menurut Vaughan.. 3. Sedangkan menurut Hodge. maka nampaknya katarak yang diderita pasien masih pada stadium insipen. perokok.3. Mata Pasien Masih Mampu Melihat Cahaya dan Membedakan Warna Mengingat bahwa mata pasien masih mampu melihat cahaya dan dapat membedakan warna. dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu lama. Congenital d. Inflamasi c. dimana kekeruhan masih tidak teratur dan berupa bercak-bercak sehingga masih banyak terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa yang dapat melihat cahaya dan membedakan warna (Ilyas et al. kolesterol tinggi.mata bapak tersebut pada media refrakternya bisa akibat media refrakter yang tidak jernih ataupun daya akomodasi yang berkurang. kadar protein dan albumin tubuh rendah.4.. 2010). Hubungan antara usia pasien dengan keluhan yang dirasakan Hubungan gangguan penglihatan akibat katarak sangat erat hubungannya dengan usia pasien yang lansia. Neoplasma Kelainan pada mata bapak tersebut mungkin adalah degeneratif. penderita DM. konsumsi alkohol. asam lemak. Asbury & Riordan-Eva (2000) dan Wu. Whitcher & Satarino (1995) pada usia lanjut yaitu diatas 50 tahun dapat terjadi perubahan pada lensa yang pada akhirnya membuat kekeruhan yang meliputi : 9 . Kumar & Titiyal (2009) menyatakan bahwa semakin meningkatnya usia maka semakin tinggi asam karbon.

c) Serat lensa. Penyebab Gangguan Penglihatan Gangguan penglihatan bisa diakibatkan oleh : a) Presbiopi Hilangnya kemampuan untuk melihat benda yang jauh dan kecil. lensa juga dapat menjadi lebih berat dan lebih tebal. 2011) 3. sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda. bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur. b) Floaters Bintik kecil yang menggantung dimata yang menyebabkan penglihatan tidak jelas. Dilanjut dengan pertumbuhan sel – sel jaringan ikat yang membuat lensa mengeras dan mengkompresi nukleus. hal ini menyebabkan berkurangnya transparansi dari lensa. Selain itu protein pada lensa juga akan mengalami modifikasi dan agregasi seiring dengan penuaan. Dengan penuaan. Sehingga mempengaruhi transparansi dan index refraktif dari lensa. namun berkurangnya sel epitel berpengaruh pada pembentukan jaringan ikat dan hemostatis lensa. makin tipis. pada korteks jelas kerusakan serat sel. Protein pada lensa ini dapat merubah warna menjadi coklat dari kuning. c) AMD (Age-related Muscular Degeneration) 10 .5. e) Nuclear sclerosis dan perubahan warna ini adalah proses fisiologia. dan tirosin) lensa. sel epitel pada ekuator bertambah besar dan berat. triptofan. Meskipun berkurangnya devinitas sel epitel dari lensa ini bukan merupakan akibat dari apoptosis. askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi. sehingga disebut nuclear sclerosis. sistein. menebal dan kurang elastis. korteks tidak berwarna karena kadar asam. lebih irregular. (AAO.a) Kapsul. metionin. Presbiopi akibat menurunnya daya akomodasi dari lensa. mulai presbiopia. Faktor lain yang terkait usia adalah berkurangnya devinitas dari sel epitel sari lensa. bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata. sinar UV lama kelamaan merubah protein nucleus (histidin. d) Pada orang usia lanjut akan mengalami penurunan penglihatan yang disebabkan oleh presbiopi. terlihat bahan granular b) Epitel.

f) Glaucoma Merupakan kelompok penyakit yang merusak serabut nervus optikus dan menyebabkan hilangnya penglihatan bahkan kebutaan.6. g) Mata kering Ketika mata tidak bisa menghasilkan air mata dengan sempurna/baik atau air mata cepat menguap akibat konsistensi yang buruk (Gerhard K. benda asing. untuk mengetahui adanya fraktur. Bentuk yang paling umum adalah Retinophaty Diabetic yang terjadi pada penderita diabetes. Pandangan bisa menjadi kabur dan berasap. Pemeriksaan Penunjang a) B-scan. sebelum dilakukan ekstraksi katarak c) CT scan orbita. jika pole posterior tidak dapat terlihat.5%. Pemeriksaan Fisik Menurut pemeriksaan fisik meliputi : a) Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole b) Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior c) Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer non contact. b) A-scan. Setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan visus pasien e) Funduskopi pada kedua mata 2. terjadi bila ada kerusakan pembuluh darah kecil di retina. Lang. e) Diabetic eye disease Merupakan komplikasi dari Diabetes Miletus dan menjadi penyebab utama kebutaan. Biasanya dikaitkan dengan tekanan intraokular yang tinggi pada bola mata dan mempengaruhi penglihatan perifer. d) Catarct Adanya timbunan protein pada lensa yang mengakibatkan kekeruhan. 2000) 3. atau kelainan lain. 11 . Pemeriksaan Fisik dan Penunjang 1.Penyakit yang akan mengakibatkan kurangnya ketajaman mata dan fokus penglihatan. aplanasi atau Schiotz d) Jika TIO dalam dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata Tropicanamide 0.

e) Retinometri untuk mengetahui ketajaman penglihatan setelah operasi. 2000) 12 . (Vaughan. Asbury & Riordan-Eva.d) Biometri untuk mengukur power IOL jika pasien akan dioperasi katarak.

2 Jelaskan secara lengkap tentang katarak ? 13 .BAB IV KERANGKA KONSEP BAB V LEARNING OBJECTIVES 5.1 Bagaima pembagian usia ? 5.

14 .

Definisi Katarak berasal dari Yunani katarrhakies. Pembagian Usia Menurut Depkes RI (2009) pembagian usia dapat dikategorikan seperti yang tercantum pada Tabel 1 dibawah ini : Tabel 1. dan Latin cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun. Sehingga definisi katarak adalah kekeruhan lensa yang mengarah kepada penurunan ketajaman visual dan/atau cacat fungsional yang dirasakan oleh pasien (Vaughan. Etiologi 15 . Klasifikasi Usia Kategori Masa balita Masa kanak-kanak Masa remaja awal Masa remaja akhir Masa dewasa awal Masa dewasa akhir Masa lansia awal Masa lansia akhir Usia (tahun) 0–5 5 . AOA.BAB VI BERBAGI INFORMASI 6.2.45 46 .1. Inggris cataract.25 26 . Gambar 3.35 36 .16 17 . Asbury & Riordan-Eva.65 Masa manula > 65 Sumber : Depkes RI (2009) 6. 2000. Katarak a. 2004). Kekeruhan lensa pada katarak b.11 12 .55 56 .

(3) katarak polaris anterior. dan obat statin Adanya trauma juga dapat menyebabkan terjadinya katarak Penyakit-penyakit sistemik seperti pada diabetes adanya penimbunan sorbitol dan fruktosa di dalam lensa sehingga mengurangi kejernihan lensa. sindrom sistemik (Down. Dikenal 5 tipe katarak kongenikal yaitu : (1) katarak lamelar atau zonular. dan (5) katarak sutural. terjadi pada anak-anak usia 3 bulan sampai 9 tahun yang  disebabkan oleh gangguan perkembangan lensa Pada katarak senilis. pada bayi baru lahir terjadi karena keadaan ibu saat kehamilan yang terinfeksi Torch. dimana kekeruhan pada sebagian lensa sudah didapatkan pada waktu lahir. Kebanyakan adalah karena rubela yang dapat menembus barier plasenta bahkan dapat hidup di dalam vesikel lensa  sampai 3 tahun. yang berkaitan dengan proses 16 . umumnya katarak terjadi karena proses penuaan. Pada karak juvenil. (2) katarak polaris poeterior. Katarak ini ada hubungan dengan bertambahnya usia (usia lebih 60 tahun). Penggunaan obat-obat tertentu juga dapat menyebabkan perubahan lensa mata yang memicu terjadinya katarak. (2010) katarak dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Katarak kongenital. Lowe). amiodaron. Klasifikasi Menurut Vaughan. 3) Katarak senilis. dermatitis atopik. asam linolenat. Pengaruh lingkungan seperti radiasi UV dan pengaruh kebiasaan merokok. kelainan  metabolik. 2) Katarak juvenil. (4) katarak inti/nuklear. Asbury & Riordan-Eva (2000) dan Ilyas et al. Dimana semakin meningkatnya usia maka semakin tinggi asam karbon. konsumsi alkohol c. Shinha. asam lemak. Kumar & (2009) serta Mutiarasari & Handayani (2011) banyak hal yang dapat menjadi penyebab katarak. Chew & Bron (2006). sehingga zat-zat tersebut dapat menumpuk pada lensa  yang dapat menyebabkan kekeruhan pada lensa. phenothiazine. seperti kortikosteroid. terjadi pada anak-anak usia 3 bulan sampai 9 tahun. antara lain:  Pada katarak kongenital. Katarak terjadi sebelum atau segera setelah lahir (bayi kurang dari 3 bulan).   obat-obat miotikum. katarak yang paling umum terjadi dimana ± 95% kejadian katarak merupakan katarak senilis. James. Asbury & Riordan-Eva (2000).Menurut Vaughan.

7) Katarak komplikata. adalah katarak yang melibatkan bagian superfisial korteks atau tepat di bawah kapsul lensa dapat berupa katarak subkapsular anterior dan katarak subkapsular posterior. stadium katarak yang telah mengenai seluruh bagian lensa. obat-obatan.  Katarak hipermatur. berwarna kuning dan kering serta terdapat lipatan pada kapsul lensa. terjadi karena cedera pada mata. uveitis yang berhubungan dengan sinekia posterior. penyakit sistemik seperti Diabetes Melitus. dan (3) katarak kupuliform. Down Syndrom dan Dermatitis atopic dapat menjadi faktor resiko bagi individu untuk perkembangan katarak ini. adalah katarak yang melibatkan kapsul lensa. Dikenal 3 tipe katarak senil yaitu : (1) katarak nuklear. 4) Katarak traumatik. 2) Katarak subkapsular. Katarak senilis terdiri atas beberapa stadium yaitu :. Katarak kapsular dapat disebabkan oleh usia. Waktu untuk perkembangan katarak traumatik dapat bervariasi darin hitungan jam hingga tahunan. adanya benda asing dalam mata. dapat berupa katarak kapsular anterior dan katarak kapsular posterior. obat untuk pengobatan glaucoma jangka panjang). katarak ini dapat juga terjadi akibat penyakit mata lain (kelainan okuler).  Katarak intumesen.ketuaan yang terjadi di dalam lensa. stadium ini kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa menyerap air. (2) katarak kortikal. Penyakit intra okuler tersebut termasuk retinitis pigmentosa. Hipoparatiroid. stadium ini kekeruhan lensa sektoral dibatasi oleh bagian lensa yang masih jernih. dan trauma.  Katarak insipien. seperti trauma tajam/trauma tumpul.  Katarak matur. katarak setelah terpapar bahan kimia atau substansi tertentu (penggunaan kortikosteroid. radiasi. Merupakan katarak yang jarang terjadi. Katarak subkapsular posterior 17 . 5) Katarak toksik. 6) Katarak asosiasi. katarak mengalami proses degenerasi lanjut keluar dari kapsul lensa sehingga lensa mengecil. glaucoma dan retinal detachment. Adapun menurut Khurana & Khurana (2014) berdasarkan morfologisnya katarak dapat dibagi atas : 1) Katarak kapsular.

Lapisan kortikal kurang padat dibandingkan nukleus sehingga lebih mudah menjadi sangat terhidrasi akibat ke tidak seimbangan elektrolit. Katarak nuklear disebabkan oleh faktor usia. diabetes. Pasien dengan katarak gabungan akan memiliki gejala penurunan visus. tepat di atas nukleus lensa. dapat berupa katarak polar anterior dan katarak polar posterior. iritasi. Katarak kortikal disebabkan oleh usia dan diabetes. Katarak polar biasanya terdapat pada katarak kongenital atau karena trauma sekunder. adalah katarak yang melibatkan kapsul lensa dan superfisial korteks lensa hanya di regio polar. 2008) seperti tercantum pada Gambar 2. 4) Katarak nuklear. 3) Katarak kortikal. Pada awalnya katarak biasanya muncul sebagai satu tipe saja tetapi akan dapat menjadi katarak gabungan ketika bagian lensa yang lain juga mengalami degenerasi. konsumsi steroid. adalah katarak yang melibatkan korteks lensa dan merupakan katarak yang paling sering terjadi. uveitis dan radiasi. 7) Katarak campuran. adalah keadaan di mana lebih dari satu tipe katarak muncul bersamaan. d. adalah katarak yang melibatkan bagian nukleus lensa. 5) Katarak supranuklear. Pascolini. 18 . myopia berat dan degenerasi retina. Katarak gabungan mengindikasikan katarak telah lanjut dan perkembangannya harus lebih diperhatikan. Katarak subkapsular posterior dapat terjadi bersamaan dengan katarak subkapsular posterior dan dapat disebabkan oleh jejas lokal. yang secepatnya akan mengarah ke kerusakan serat korteks lensa. 6) Katarak polar. radiasi. Mariotti & Pokharel. adalah katarak yang melibatkan bagian korteks lensa yang paling dalam.dapat terjadi akibat usia. Katarak nuklear merupakan sklerosis normal yang berlebihan atau pengerasan dan penguningan nukleus pada usia lanjut. Epidemiologi Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) katarak merupakan penyakit gangguan penglihatan yang paling banyak ditemukan (Resnikoff.

000 orang usia 65 tahun terdapat 141 orang yang memiliki katarak.Gambar 4. Mariotti & Pokharel. Bahkan di 19 . Adapun AOA (2004) melaporkan bahwa di Amerika Serikat pada 1. 2008). 2012) Gambar 5. Katarak yang terjadi akibat usia lanjut bertanggung jawab atas 48% kebutaan yang terjadi di dunia. Pascolini. Distribusi penyebab kebutaan global tahun 2010 Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat didapatkan adanya 10% orang menderita katarak. Persentase kejadian penyakit mata di dunia Disamping itu katarak juga merupakan penyakit mata yang paling banyak meyebabkan kebutaan (WHO. Kelayakan bedah katarak di beberapa negara belum memadai. sehingga katarak tetap menjadi penyebab utama kebutaan. dan prevalensi ini meningkat sampai 50% pada mereka yang berusia 65-75 tahun dan meningkat lagi sekitar 70% pada usia 75 tahun (Resnikoff.

1%/tahun atau setiap tahun di antara 1. sebagai hasil dari lamanya menunggu untuk operasi. Prevalensi katarak di Indonesia adalah 1. Perkiraan insiden katarak adalah 0.8%.mana ada layanan bedah yang tersedia. 20 .000 orang terdapat seorang penderita baru katarak. takut dioperasi dan hambatan untuk dioperasi seperti biaya serta kurangnya informasi (WHO.7% di Provinsi Sulawesi Utara dan terendah 0. 2014). sekitar 16-22% penderita katarak yang dioperasi berusia di bawah 55 tahun. Gambar 6. tertinggi 3.9% di Propinsi DKI Jakarta (Infodatin Kemenkes. 2006). adapun prevalensi per provinsi hasil Riskesdas 2013 seperti tercantum pada Gambar 4. pengelihatan rendah yang terkait dengan katarak masih dapat dijumpai. Prevalensi katarak seluruh provinsi di Indonesia tahun 2013 Begitupun di Indonesia katarak merupakan salah satu penyebab kebutaan terbanyak. Penduduk Indonesia juga memiliki kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penduduk di daerah subtropis.

sehingga patogenesis katarak secara umum dapat dirangkai sebagai berikut : 21 .e. Patogenesis Menurut Shinha. Kumar & Titiyal (2009) patogenesis katarak adalah tergantung kepada etiologinya maupun faktor resiko yang menyertainya.

Pemeriksaan silau (test glare) dilakukan untuk mengetahui derajat gangguan penglihatan yang disebabkan oleh sumber   cahaya yang diletakkan di dalam lapang pandangan pasien. pada penderita katarak seringkali terjadi second    sight yaitu pandangan ganda jika melihat dengan satu mata Sulit melihat pada malam hari Membutuhkan cahaya terang untuk membaca atau ketika beraktifitas Warna memudar atau cenderung menguning saat melihat 22 . hal ini lah yang  menyebabkan terjadinya diplopia monokular. Padangan kabur atau berawan. Patogenesis katarak e.Gambar 6. Manifestasi Klinis Menurut Vaughan. Chew & Bron (2006) secara umum manifestasi klinis dan gejala khas yang ada pada penyakit katarak adalah :  Silau atau fotofobia (sensitif pada cahaya). terjadi perubahan nuklear di lapisan dalam nukleus lensa sehingga muncul daerah pembiasan multipel di tengah lensa. pasien biasanya merasakan adanya lingkaran pelangi (fenomena halo)  sebelum hilangnya penglihatan Diplopia monokular. dikarenakan lensa yang berubah keruh Halo. Asbury & Riordan-Eva (2000) serta James. ini terjadi terutama pada katarak posterior subkapsular. Second sight atau presbiopi.

dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu lama (Vaughan. 2006). kolesterol tinggi. jenis kelamin dan faktor genetik. baik faktor intrinsik maupun faktor ekstrinsik. Faktor resiko ekstrinsik katarak g. konsumsi alkohol. perokok. penderita DM. Wu. 2000. kadar protein dan albumin tubuh rendah. Faktor intrinsik yang berpengaruh antara lain adalah umur. sering terpapar sinar ultraviolet. Komplikasi 23 . Lim & Sadda.f. Faktor resiko Katarak adalah penyakit degeneratif yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. sedangkan faktor ekstrinsik yang berpengaruh antara lain adalah pendidikan dan pekerjaan yang berdampak langsung pada status sosial ekonomi. Gambar 7. Asbury & Riordan-Eva.

AOA (2004) dan Kohnen & Koch (2010) penegakkan diagnosis dilakukan dengan : 1) Anamnesis.  seperti penurunan ketajaman penglihatan.5%. 2000). silau dan sebagainya Riwayat kesehatan dahulu. Asbury & Riordan-Eva. meliputi riwayat kesehatan pasien yaitu : Keluhan utama. h. apakah pasien mengalami kesulitan melihat (fokus) pada jarak dekat atau jauh?. Glaukoma adalah peningkatan abnormal tekanan intraokuler yang menyebabkan atrofi saraf optik dan kebutaan bila tidak teratasi. Asbury & Riordan-Eva (2000). sedangkan uveitis adalah inflamasi salah satu struktur traktus uvea (Vaughan.Bila katarak dibiarkan maka akan terjadi komplikasi berupa glaukoma dan uveitis. bagaimana dengan masalah membedakan warna atau masalah dengan penglihatan lateral atau perifer? Riwayat kesehatan keluarga  Adakah riwayat kelainan mata pada keluarga derajat pertama atau kakeknenek 2) Pemeriksaan Fisik Menurut pemeriksaan fisik meliputi :  Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan   koreksi terbaik serta menggunakan pinhole Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer non contact. Penegakkan Diagnosis Menurut Vaughan. Setelah pupil cukup 24 . merokok atau konsumsi alkohol? Riwayat kesehatan sekarang  Apakah ia mengenakan kacamata atau lensa kontak?. aplanasi  atau Schiotz Jika TIO dalam dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata Tropicanamide 0. apakah ada keluhan dalam membaca atau menonton televisi?. apakah pasien pernah mengalami cedera mata  atau infeksi mata? Penyakit apa yang terakhir diderita pasien? Apakah menderita DM.

atau kelainan lain. dan phacoemulsifikasi. endoftalmitis. i. Penatalaksanaan definitif untuk katarak adalah ekstraksi lensa. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat populer. Asbury & Riordan-Eva (2000). sudah memperlihatkan hasil yang menjanjikan dalam pencegahan katarak gula pada hewan. Penatalaksanaan Menurut Vaughan.  A-scan. Sejauh ini tidak ada obat-obatan yang dapat menjernihkan lensa yang keruh. Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Obat anti katarak lainnya sedang diteliti termasuk diantaranya agen yang menurunkan kadar sorbitol. tindakan operasi tidak diperlukan. 1) Intra Capsuler Cataract Extraction (ICCE). Kadang kala cukup dengan mengganti kacamata. ECCE. aspirin. (2010) dan Kohnen & Koch (2010) penatalaksanaan katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan depindahkan dari mata melalui incisi korneal superior yang lebar. adanya fraktur. jika pole posterior tidak dapat terlihat. Ilyas et al. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme. agen glutathione-raising. ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. sebelum ekstraksi katarak  CT-scan orbita. Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau 25 . dan antioksidan vitamin C dan E.lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan visus pasien  Funduskopi pada kedua mata 3) Pemeriksaan Penunjang  B-scan. dan perdarahan. aldose reductase inhibitor diketahui dapat menghambat konversi glukosa menjadi sorbitol. Akan tetapi jika gejala katarak tidak mengganggu. Berikut ini akan dideskripsikan secara umum tentang tiga prosedur operasi pada ekstraksi katarak yang sering digunakan yaitu ICCE. 2) Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE). glukoma. Namun. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi. benda asing. uveitis.

akan pulih dengan sendirinya. Tehnik ini bermanfaat pada katarak kongenital. bersama-sama keratoplasti. traumatik.merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan. dan kebanyakan katarak senilis. mata dengan sitoid macular edema. implantasi lensa intra ocular posterior. mata sebelahnya telah mengalami prolap badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder. Sebuah lensa intra okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. pasca bedah ablasi. yang memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari. dan keuntungan incisi limbus yang kecil agak kurang kalau akan dimasukkan lensa intraokuler. Pada tehnik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di kornea. pasien dengan kelainan endotel. Getaran ultrasonic akan digunakan untuk menghancurkan katarak. kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma. sebelumnya mata mengalami ablasi retina. selanjutnya mesin Phaco akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih. untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. meskipun sekarang lebih sering digunakan lensa intra okular fleksibel yang dapat dimasukkan melalui incisi kecil seperti itu. Perawatan Pasca Bedah 26 . 3) Phakoemulsifikasi. Phakoemulsifikasi maksudnya membongkar dan memindahkan kristal lensa. yaitu lensa permanen yang ditanamkan di dalam mata pada saat pembedahan untuk mengganti lensa mata asli yang telah diangkat. mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca. Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan. Tehnik ini kurang efektif pada katarak senilis padat. perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda. Apabila lensa mata penderita katarak telah diangkat maka penderita memerlukan lensa penggant untuk memfokuskan penglihatannya dengan cara sebagai berikut :    Kacamata afakia yang tebal lensanya Lensa kontak Lensa intra okular.

Pencegahan Katarak dapat dicegah. komplikasi atau penyulit menjadi sangat jarang. k. Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%. Asbury & Riordan-Eva. 27 . balutan dapat dibuang pada hari pertama pasca operasi dan matanya dilindungi pakai kacamata atau dengan pelindung seharian. Obat tetes yang mengandung antibiotik untuk mencegah infeksi pasca bedah. Asbury & Riordan-Eva. 2000). maka penyembuhan pasca operasi biasanya lebih pendek.Jika digunakan tehnik insisi kecil. Kohnen & Koch. Prognosis Dengan tehnik bedah yang mutakhir. Antibiotik mencegah infeksi. senantiasa menjaga kesehatan mata. 2010). Pada bedah katarak resiko ini kecil dan jarang terjadi. tetapi biasanya pasien dapat melihat dengan baik mellaui lensa intraokuler sambil menantikan kacamata permanen (Vaughan. olahraga berat jangan dilakukan selama 2 bulan. Selain itu juga akan diberikan obat untuk :  Mengurangi rasa sakit. Obat tetes mata streroid. pemberian antibiotik masih dianggap rutin dan perlu diberikan atas dasar kemungkinan terjadinya infeksi karena kebersihan  yang tidak sempurna. karena operasi mata adalah tindakan yang menyayat maka diperlukan obat untuk mengurangi rasa sakit yang mungkin timbul  benerapa jam setelah hilangnya kerja bius yang digunakan saat pembedahan. Pasien dapat bebas rawat jalan pada hari itu juga. Matanya dapat dibalut selama beberapa hari pertama pasca operasi atau jika nyaman. di antaranya dengan menjaga kadar gula darah selalu normal pada penderita diabetes mellitus. j. 2000. Kacamata sementara dapat digunakan beberapa hari setelah operasi. Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan dengan ECCE atau fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat meningkat hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart (Vaughan. tetapi dianjurkan untuk bergerak dengan hati-hati dan menghindari peregangan atau mengangkat benda berat selama sekitar satu bulan. Obat yang mengandung steroid ini berguna untuk  mengurangi reaksi radang akibat tindakan bedah.

selenium. kecambah. telur dan susu yang merupakan makanan dengan kandungan vitamin E. 2000) 28 . Asbury & Riordan-Eva. dan tembaga tinggi (Vaughan. melindungi mata dari sinar matahari. sayuran hijau. mengonsumsi makanan yang dapat melindungi kelainan degeneratif pada mata dan antioksidan seperti buahbuahan banyak yang mengandung vitamin C.tidak merokok. minyak nabati. kacang-kacangan.

BAB VII PENUTUP 7. kelainan pada pengligatan yang bukan didasari dari penyakit lain adalah presbiopi. diabetes maupun kelainan metabolik yang lain. Beberapa penyakit seringkali adalah komplikasi dari penyakit lain yang mendasari seperti hipertensi. Diharapkan tutor sudah berkoordinasi apa saja yang harus dicapai sehingga pada tiaptiap kelompok tutorial mencapai hasil yang sama atau mendapat materi yang sama minimal seperti apa yang harusnya dipelajari oleh mahasiswa 29 . Presbiopi disebabkan karena menurunnya fungsi otot siliaris yang mengatur kekuatan akomodasi dari lensa. Hal ini dapat diketahui dari anamnesis dan langkah penegakan diagnosis selanjutnya adalah pemeriksaan fisik eksternal mata untuk melihat kondisi lensa. Pada skenario ini. penyakita sistem penglihatan degeneratif yang terjadi adalah katarak jenis senile atau katarak yang terkait usia. kelainan pada mata lebih banyak terjadi jenis kelainan degeneratif yang berkaitan dengan menurunnya fungsi penglihatan akibat usia. atau pembersihan dari selaput yang menjadi penyebab kekeruhan lensa. Pada orang yang sudah lanjut usia. Hal ini menjadi ciri utama katarak yaitu menurunnya sistem penglihatan disertai dengan pandangan mata yang kabur dan berkabut.2. Katarak menyebabkan degenerasi protein dalam lensa sehingga protein mengalami perubahan warna dan koagulasi yang mengakibatkan lensa menjadi keruh atau tidak jernih. Saran Dalam tutorial diharapkan agar tutor mampu membimbing mahasiswa agar mencapai semua learning object maupun tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam suatu pokok bahasan.1. 7. Katarak dapat disembuhkan dengan operasi pembedahan dan pengangkatan lensa. Kesimpulan Pada orang dewasa atau pada orang lanjut usia.

sehingga. 30 . saat ujian seperti MCQ terutama SOCA mahasiswa dapat menjawab setiap soal yang diberikan.

Ilmu Penyakit Mata. Basic and Clinical Science Course. James.S. Lecture Notes : Ophthalmology. J. Bailey L. Bron. Global magnitude of visual impartment cause by uncorrected refractive error in 2004. External Disease and Cornea.D. Saman H. (2008).H. (2010). et all. & Widodo. 245-249.B. 2011. (2004).. Lifelong Education for the Ophhalmologist. . Optometric clinical practice guideline.S. H. D. P.C. (2000). S. Stanfield L. D. Jakarta. P. R.S. American optometric association: U. Care of The Patient with Cataract. 86(1). 31 . (2004). Etiopathogenesis of cataract. Bandung : Penerbit Erlangga. Gerhard K. M. Asbury.. A. (2009).. (2014). Taim. Berlin. & Koch. (2010).S. AOA. Cataract and Refractive Surgery. Vanbrocklin D. C. Situasi Gangguan Penglihatan dan Kebutaan. Dilomo C. & Kumar. H. Jakarta : Widya Medika.. T. D. Simarmata. T. Ilyas.2014. 63-70.P. Indian Journal of Opthamology. Kohnen. Ophthalmology. Jakarta : Penerbit Sagung Seto. 2000. Moriotti.. C. P. Denbeste P. (2006). Pascolini.D. Resnikoff. St. & Titiyal.Ilmu Penyakit Mata Edisi kelima. S. 27. B. Chew. D. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.. Mailangkay. New York: Thieme Stuttgart.A Mutiarasari. F.. XIV. Shinha. Vaughan.Sidarta. Oftalmologi Umum. P. & Handayani. Louis. Lang.B. & Riordan-Eva.G. Inspirasi. (2011)..FK UI Infodatin Kemenkes. German : Springer. Murril A. USA : American Optometric Association Ilyas.. Bulletin of WHO.H.R.I.DAFTAR PUSTAKA AAO.M. 37-42.. Katarak juvenil. & Pokharel. .

WHO. C. Annals Academy Medicine. Mordic R. WHO. American Academy of Oftalmology : San Francisco. Switzerland : World Health Organization. Dondrea L. 35. (2006). R. (2012). 32 . J. Prevention of Blindness and Deafness. Arturo C. (20052006). et all.. (2006). update 2006. Geneva. 416-419 Zorab. Tanaka S. Blindness : Vision 2020 – The Global Initiative for The Elimination of Avoidable Blindness. Wu. Chapter 5 Pathology page 45-69.I. S. Geneva. Switzerland : World Health Organization. & Sadda. Straus H. Available data on blindness.R. Z. A. Section 11. Lens and Cataract. Axial length: a risk factors for cataractogenesis. Lim.