Anda di halaman 1dari 7

No.

ID dan Nama Peserta :
dr. Dewi Ayu Astari Paramitha
No. ID dan Nama Wahana :
RSUD dr. M. Ashari Pemalang
TOPIK : Visum et Repertum Jenazah
Tanggal (Kasus) : 15 Agustus 2015
Nama Pasien : Tn. K
Tanggal Presentasi : 25 Agustus 2015

Presenter : dr. Dewi Ayu Astari Paramitha
Pendamping: dr.Wido Sutarto
dr. Sri Widiyanti

No. RM : 304***
Pendamping: dr.Wido Sutarto
dr. Sri Widiyanti
Tempat Presentasi : RSUD dr. M. Ashari Pemalang
OBJEKTIF PRESENTASI
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnosti
Manajemen
Masalah
Istimewa
k
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi :
Tn. A, usia 53 tahun, visum et repertum, tewas, kecelakaan lalu lintas
Tujuan
:
Mengetahui cara membuat visum et repertum jenazah
Bahan
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Bahasan
Cara
Diskusi
Presentasi dan
E-mail
Pos
Membahas
Diskusi
DATA PASIEN
Nama :Tn. K.
No. Registrasi : 304***
Nama Klinik : IGD
Telp : Terdaftar sejak : 15 Agustus 2015
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis : Visum et repertum
2. Gambaran Klinis : Korban dibawa pihak kepolisian dengan wajah berlumuran darah,
keluar darah segar dari hidung dan kedua telinga, patah tulang lengan atas kiri, dan
beberapa jejas di dada dan di kedua ekstremitas bawah.
3. Riwayat Penyakit Dahulu : tidak diketahui
4. Riwayat Penyakit Keluarga : tidak diketahui
5. Riwayat Sosio-Ekonomi : tidak diketahui
HASIL PEMBELAJARAN :
1. Mengetahui visum et repertum.
2. Mengetahui aspek hukum kedokteran.
3. Mengetahui aspek medikolegal.
4. Mengetahui sebab kematian.

KASUS : Visum et Repertum Jenazah

1

TINJAUAN PUSTAKA 2 . diamter 1cm di jari kaki kanan. bengkak. Pada kepala. wajah. tidak terdapat frakur. dan bunyi krepitasi. Pada hidung ditemukan adanya darah yang mengalir dari kedua lubang hidung. Pada bagian dada terdapat jejas hematom sepanjang 7 cm di dada kiri. Pada siku kiri terdapat luka lecet diameter 2cm Pada ekstremitas bawah terdapat luka lecet dengan diameter 3 cm di lutut kanan. bengkak. dan fraktur tulang humerus. Korban mengenakan jam tangan berwarna silver dan emas. dan leher tidak didapatkan jejas luka. berkaos dalam berwarna putih. Pada ekstremitas atas kiri terdapat jejas hematom. Pada telinga ditemukan adanya darah yang mengalir dari kedua lubang telinga. berikat pinggang warna hitam. Pada bagian punggung kiri belakang terdapat jejas hematom sepanjang 10cm. SIMPULAN Korban meninggal karena benturan di kepala. Pasien mengenakan rompi berwarna hitam. dan bercelana dalam berwarna putih. Perkiraan kematian kurang dari setengah jam sebelum dilakukan pemeriksaan. bercelana kain berwarna abu-abu. berbaju polo shirt hitam. tidak terdapat frakur.HASIL PEMERIKSAAN Korban dibaringkan di atas meja porselen berwarna putih. diameter 2cm di lutut kiri. dan fraktur.

2. dan Pasal 187 huruf c KUHAP. bentuk tunggalnya adalah “visa”. dan merupakan kesaksian tertulis 3 . maupun korban yang berakibat kematian dan dinyatakan oleh dokter setelah memeriksa (korban). Pasal 120. Abdul Mun’im Idris memberikan pengertian visum et repertum adalah suatu laporan tertulis dari dokter yang telah disumpah tentang apa yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti yang diperiksanya serta memuat pula kesimpulan dari pemeriksaan tersebut guna kepentingan peradilan. visum et repertum adalah apa yang dilihat dan ditemukan. Dalam praktek pengadilan sepanjang pengalaman penulis maka keterangan ahli dalam bentuk visum et repertum (diatur dalam sataatsblad Tahun 1937 Nomor 350. Secara etimologi. untuk kepentingan pro yustisia. Dipandang dari arti etimologi atau tata bahasa. serta berdasarkan pengetahuannya yang sebaik-baiknya". dan disahkan. permintaan keterangan ahli dilakukan penyidik secara tertulis. pemerkosaan. maka tubuh si korban merupakan tanda bukti (corpus delicti). jadi visum et repertum adalah suatu keterangan dokter tentang apa yang dilihat dan diketemukan dalam melakukan terhadap orang luka atau mayat. Visum berasal dari bahasa Latin. Atang Ranoemihardja. berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah. Selanjutnya. R. Pasal 133. seperti diketahui dalam suatu perkara pidana yang menyangkut perusakan tubuh dan kesehatan serta membinasakan nyawa manusia. 3. Visum et repertum kemudian digunakan bukti yang sah secara hukum mengenai keadaan terakhir korban penganiayaan. berdasarkan sumpah pada waktu menerima jabatan. Menurut Staatsblad Tahun 1937 Nomor 350 “Visum Et Repertum adalah laporan tertulis untuk kepentingan peradilan atas permintaan yang berwenang.VISUM ET REPERTUM Visum et repertum disingkat VeR adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter dalam ilmu kedokteran forensik atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia. Adapun pendapat dari para ahli hukum tentang visum et repertum. ialah : 1. Ordonnantie 22 mei 1937 tentang visa reperta van genesskundigen yang banyak dilampirkan dalam BAP (Berita Acara Pengadilan). disetujui. Menurut pendapat D Tjan Han Tjong visum et repertum merupakan suatu hal yang penting dalam pembuktian karena menggantikan sepenuhnya tanda bukti (corpus delicti). terhadap segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan barang bukti. kemudian ahli yang bersangkutan membuat “laporan” yang berbentuk “surat keterangan” atau visum et repertum. Khusus untuk perempuan visum et repertum termasuk juga pernyataan oleh dokter apakah seseorang masih perawan atau tidak Visum et repertum adalah istilah yang dikenal dalam ilmu kedokteran forensik. baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia. biasanya dikenal dengan nama “Visum”. kata “visum” atau “visa” berarti tanda melihat atau melihat yang artinya penandatanganan dari barang bukti tentang segala sesuatu hal yang ditemukan. Visum et repertum merupakan laporan ahli dan sambil menunjuk LN 1937 -380 RIB/306 melalui ketentuan Pasal 1 angka 28. yang dibuat oleh dokter. pengertian yang terkandung dalam visum et repertum ialah yang “dilihat” dan “ditemukan”. sedangkan “Repertum” berarti melapor yang artinya apa yang telah didapat dari pemeriksaan dokter terhadap korban.

sehingga dapat menjadi pendukung keyakinan hakim. Jenis-jenis visum et repertum : A. 7. Bagian ini menerangkan penyidik pemintanya berikut nomor dan tanggal. berisi semua keterangan pemeriksaan. pengertian harafiah visum et repertum berasal dari kata-kata “visual” yaitu melihat dan “repertum” yaitu melaporkan. Bagian ini berjudul "Hasil Pemeriksaan". perihal apa yang dilihat dan diketemukan atas bukti hidup. 4. Sehingga visum et repertum merupakan suatu laporan tertulis dari ahli dokter yang dibuat berdasarkan sumpah. Soeparmono. Dari pengertian visum et repertum tersebut di atas. R. 2.4. Untuk orang hidup  VeR Biasa. perlukaan (termasuk keracunan)  VeR Lanjutan. kemudian dilakukan pemeriksaan berdasarkan pengetahuan yang sebaik-baiknya. Tujuan visum et repertum merupakan untuk memberikan kepada hakim suatu kenyataan akan fakta-fakta dari bukti-bukti yang ada pada korban atas semua keadaan sebagaimana tertuang dalam pembagian pemberitaan agar hakim dapat mengambil putusan dengan tepat dengan dasar kenyataan atau fakta-fakta tersebut.mayat atau fisik ataupun barang bukti lain. dapat disimpulkan bahwa visum et repertum adalah keterangan dokter tentang apa yang dilihat dan ditemukan dalam melakukan pemeriksaan barang bukti guna kepentingan peradilan. Pemberitaan. surat permintaannya. Bagian ini berjudul "kesimpulan" dan berisi pendapat dokter terhadap hasil pemeriksaan. serta identitas korban yang diperiksa. yaitu: Pro Justisia. kejahatan susila  VeR Sementara. 8. Pendahuluan. Kata pendahuluan sendiri tidak ditulis dalam VeR. melainkan langsung dituliskan berupa kalimat-kalimat di bawah judul. Kesimpulan. berisikan: Jenis luka Penyebab luka Sebab kematian Mayat Luka TKP Penggalian jenazah Barang bukti 4 . Untuk Orang Mati  VeR jenazah     1. 6. VeR tidak memerlukan materai untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti di depan sidang pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum. psikiatrik B. 3. Jadi dalam hal ini visum et repertum merupakan kesaksian tertulis dalam proses peradilan. Temuan hasil pemeriksaan medik bersifat rahasia dan yang tidak berhubungan dengan perkaranya tidak dituangkan dalam bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai rahasia kedokteran. Ada lima bagian tetap dalam laporan Visum et repertum. Kata ini diletakkan di bagian atas untuk menjelaskan bahwa visum et repertum dibuat untuk tujuan peradilan. tempat dan waktu pemeriksaan. 5.

dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya. Pasal 179 KUHAP 1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. Pasal 186 KUHAP Keterangan ahli sidang pengadilan ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.9. Pasal 184 KUHAP ayat 1 huruf b 1) Alat bukti yang sah ialah : 1) Keterangan saksi 2) Keterangan ahli 3) Surat 4) Petunjuk 5) Keterangan terdakwa 4. Pasal 180 KUHAP 1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan. Dalam KUHAP pasal 186 dan 187. 2. dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah adalah: 5 . Psikiatrik  Penutup. 5.  Pasal 187(c): Surat keterangan dari seorang ahli yang dimuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya. 2) Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi saksi yang memberikan keterangan ahli. 3. Berikut analisis yuridis peraturan perundang-undangan pidana di Indonesia : 1. 3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) 4) Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh instansi semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang mempunyai wewenang untuk itu. Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat baku "Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan kitab undang-undang hukum acara pidana/KUHAP". 2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang. Pasal 187 KUHAP Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c. Kedua pasal tersebut termasuk dalam alat bukti yang sah sesuai dengan ketentuan dalam KUHAP. (adopsi: Ordonansi tahun 1937 nomor 350 pasal 1) :  Pasal 186: Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. menunjukkan terdapat masalah mendasar yaitu kedudukan visum et repertum masuk dalam alat bukti keterangan ahli atau alat bukti surat yang kedua alat bukti ini sah menurut hukum sesuai pasal 184 KUHAP. hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan. Melalui pendekatan yuridis visum et repertum di dalam Undang-Undang No 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana.

dilihat atau yang dialaminya sendiri. Berdasarkan analisis yuridis peraturan perundang-undangan pidana di Indonesia tersebut maka kedudukan visum et repertum kendatipun isinya berupa keterangan ahli yang diberikan dibawah sumpah dan di luar persidangan pengadilan. disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu. 350 dapat juga dianggap sebagai keterangan ahli dan keterangan ahli merupakan alat bukti yang sah dalam pasal 184 KUHAP.1) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya. 1937 No. 3) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya. DAFTAR PUSTAKA 6 . Akan tetapi apabila visum et repertum dihubungkan dengan Pasal 1 stb. dan kualifikasinya termasuk sebagai alat bukti surat dan bukan alat bukti keterangan ahli. yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar. 2) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu keadaan. 4) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.

Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Soeparmono. A. R. 2002. 1981. Keterangan Ahli dan Visum Et Repertum dalam aspek hukum acara pidana. Atang Ranoemihardja. 7 . R. Bandung : Tarsito. Bandung : Mandar Maju.Hoediyanto. Hariadi. Ilmu Kedokteran Kehakiman (Forensic Science). 2010.