Anda di halaman 1dari 5

Jalan Malioboro, Yogyakarta, dikenal baik di dalam maupun luar negeri.

Ada dua versi cerita


sejarah namanya. Satu versi mengatakan bahwa istilah tersebut berasal dari kata malborough,
gelar seorang panglima Inggris bernama John Churchill (1650-1722).
Selain itu, kata ini juga mengacu pada nama benteng pertahanan di Bengkulu. Kendati demikian,
hipotesis ini tidak cukup kuat sebab Yogyakarta tidak pernah berada di bawah kontrol ketat
Inggris. Versi lain merujuk pada istilah Sansekerta, yakni malyabhara yang memiliki arti puitis
mengalungkan rangkaian kembang (halaman 15-16).
Begitulah ulasan Budi Subanar di bagian awal buku ini. Penulis hendak melukiskan lokasi
tempat Soegija menghabiskan masa kecil. Ibunya berprofesi sebagai pedagang setagen di pasar
tradisional Beringharjo. Marma den taberi kulup/angolah latiping ati/rina wengi den
anedya/pandak panduking pambudi/mbengkas kaardaning driya/supadya dadi
utamI..(Wedhatama, Pupuh 84).
Tembang karya Mangku Negara IV ini acap kali dibisikkan ibunda tercinta setiap menjelang
tidur. Artinya, Anakku, kamu hendaknya rajin senantiasa, melatih ketajaman hati, siang malam
siap sedia, mengatur tabiat tingkah laku, menguasai keinginan indrawi, agar menjadi orang yang
bermartabat.
Kelak Soegija lebih dikenal dengan nama Mgr Soegijapranata SJ. Ungkapan magisnya 100
persen Katolik, 100 persen Indonesia acap kali disitir dalam tulisan maupun pembicaraan
publik. Ia merupakan Uskup Indonesia pertama. Dia bertugas di Keuskupan Agung Semarang.
Soegija juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No
152 Tahun 1963 tertanggal 26 Maret 1963 karena konsistensinya membela kemerdekaan.
Menurut catatan Suwarto Adi, Uskup Soegijapranata senantiasa membujuk Vatikan agar bersedia
berkomunikasi dengan Republik ketimbang Belanda. Bahkan, Soegijapranata sempat menemui
Sjahrir untuk mengukuhkan hubungan antara Gereja Katolik dan Gerakan Nasionalis Indonesia
(Agama dan Kemerdekaan di Indonesia: 2011).
Budi Subanar menulis biografi Mgr Soegijapranata karena sepinya atensi terhadap tokoh penting
ini. November 1996 merupakan 100 tahun hari kelahiran Soegija (25 November 1896). Kendati
demikian, di Indonesia tidak ada satu acara pun yang diselenggarakan untuk mengenang nilai
perjuangannya. Barangkali terlalu banyak perkara yang lebih urgen untuk dipikirkan saat itu.
Padahal, Dr Anhar Gonggong mengakui bahwa berakarnya Gereja Katolik di tanah Indonesia
sebagian besar berkat Uskup Agung tersebut (Mgr Albertus Soegijapranata, SJ: Antara Gereja
dan Negara: 1993).
Dalam buku ini dikisahkan bahwa Soegija memiliki seorang tante yang buta. Karena kasihnya,
dia berjanji jika kelak sang tante memiliki anak, Soegija akan berdeklamasi, menyanyikan
tembang, dan mendongeng semalam suntuk. Dua tahun pasca pernikahan, tantenya sungguh
melahirkan seorang bayi mungil. Tepat dua bulan setelah masa persalinan, sang tante menagih
janji.

Kemudian Soegija begadang, berdeklamasi, serta melagukan tembang dengan panduan buku
Baron Sakender. Mulai dari pukul 21 sampai jam 05.00. Ia memang selalu memegang janji yang
telah diucapkan. Sang tante merasa senang sekali dan kian akrab dengan Soegija. Benar yang
dikatakan Art Buchwald, kolumnis pemenang Pulitzer itu pun mengatakan, Jika Anda bisa
membuat orang lain tertawa, maka Anda akan mendapat semua cinta yang Anda inginkan.
Romo van Lith merupakan sosok signifikan dalam pembentukan karakter Soegija. Beliau
menciptakan pergaulan yang sehat di antara para murid di Muntilan. Dengan gaya kebapakan,
dia duduk bersila di tengah rerumputan bersama anak-anak yang mengerumuni. Biasanya Romo
van Lith menciptakan suasana santai dengan menceritakan kisah-kisah lucu yang memancing
gelak tawa.
Selain itu, dia juga memancing protes dan pertentangan. Agar para murid bisa belajar membela
diri, sekaligus membangun kesadaran sebagai sebuah bangsa yang memiliki harga diri.
Mumpung orang Jawa mau berteriak-teriak, mereka masih bisa ditolong. Akan tetapi, kalau
mereka tutup mulut, hampir tak ada obatnya dan kamu harus waspada, demikian kenang
Soegija seputar petuah sang guru tentang penyakit budaya yang amat berbahaya tersebut
(halaman 45).
Buku ini juga mengungkap keberanian Mgr Soegijapranata. Walau hanya berlangsung selama
3,5 tahun, penjajahan Jepang menggoreskan trauma mendalam. Romo Reksaatmadja - rekan
tahbisan Soegija - menderita cacat tubuh seumur hidup akibat penyiksaan keji selama
diinterogasi Jepang. Beliau tak bisa lagi bekerja sebagai seniman. Padahal, Reksaatmadja sempat
magang di Firma G Linssen, Venlo, Belanda. Dari kedua tangannya tercipta sejumlah patung dan
lukisan indah.
Tanggal 19 September 1942 merupakan hari tak terlupakan Romo Djajasepoetra. Saat hendak
dieksekusi Jepang, dia minta izin kembali ke sel. Kemudian datanglah kurir utusan Mahkamah
Agung Jepang. Ia membawa surat pembatalan hukuman mati. Dalam catatan yang ditulis Romo
van Kalken, dia meneriakkan, Pastoor-pastoor tidak jadi! Mereka lolos dari lubang jarum
kematian.
Sebagai sebuah biografi, karya tulis ini masih kurang lengkap karena hanya sampai pada masa
penjajahan Jepang. Kiprah Mgr Soegijapranata pasca kemerdekaan belum diulas. Kendati
demikian, buku ini berhasil mengungkap identitas Albertus Soegijapranata SJ ke permukaan.
Soegija, si Anak Betlehem van Java ialah orang Indonesia yang mengalami perjumpaan dengan
kekristenan. Baginya, nilai keimanan berbanding lurus dengan semangat kebangsaan dan
pelayanan kemanusiaan. Selamat membaca!

Kolese St. Ignatius. Pembicara pada sarasehan pertama ini adalah Romo Murti Hadi, SJ, Djaduk
Ferianto, dan Romo Bagus Laksana, SJ.
Sebagai pembicara dalam sesi pertama, Romo Murti selaku Produser dari Film Soegija
menyampaikan bahwa latar belakang dari pembuatan film ini adalah keinginan dari SAV untuk
menyediakan video dokumentasi bagi Sejarah Gereja. Salah satu caranya adalah dengan
mengangkat tokoh-tokoh besar Gereja yang berperan pada perkembangan Gereja dan
masyarakat. Film Soegija ini merupakan film ke-katolik-an, namun melalui film ini kita tidak
ingin berdakwah tentang Gereja. Melalui film ini kita ingin berbicara soal kebangsaan. Soegija
sendiri, sebagai seorang uskup, selalu berpikir ke luar, berpikir soal kebangsaan. Beliau mau
berbicara tentang kebangsaan dari sisi agama minoritas.
Film ini juga merupakan film kemanusiaan. Dalam film ini diperlihatkan bagaimana orang-orang
Cina Semarang tempo dulu yang pernah menjadi korban penjarahan pada masa penjajahan. Di
sisi lain, film ini adalah film keluarga, dengan banyak segmen yang berkisah mengenai
permasalahan-pemasalahan yang dihadapi oleh keluarga.
Pun pula, film ini ingin menampilkan sosok Uskup Soegijapranata sebagai seorang pahlawan.
Beliau adalah sosok pejuang kemerdekaan Indonesia yang terlibat dalam upaya-upaya
perdamaian, seperti yang terjadi saat perang lima hari di Semarang. Sosok Soegija ingin selalu
dekat dengan para pemimpin. Salah satunya, beliau bersahabat dengan tokoh nasional yaitu
Soekarno. Soegija sebagai pemimpin Gereja memiliki jiwa nasionalis yang tinggi. Pada
pidatonya di Solo, beliau mengatakan bahwa Gereja Katholik berdiri untuk Bangsa Indonesia.
Dalam kesempatan ini pula, Djaduk Ferianto mengungkapkan bahwa keputusan untuk
mengangkat Soegija sebagai sebuah film layar lebar membutuhkan proses selama dua tahun.
Keputusan ini berdasarkan pada keinginan untuk membuat sesuatu untuk bangsa Indonesia.
Soegija merupakan pahlawan yang terselip. Ketika agama dimanfaatkan di ranah politik,
Katholik harus masuk lewat film ini untuk mengangkat Soegija dengan prinsip 100% Katholik
100% Indonesia. Proses kreatif pembuatan film Soegija ini termasuk dalam pembuatan syair
dan melodi.
Setelah pemaparan dari Djaduk Ferianto, para peserta diperlihatkan mengenai proses behind the
scene dari film Soegija. Kemudian muncullah beberapa pertanyaan pada sesi tanya jawab
seputar reaksi masyarakat. Film ini dikritik sebagai sarana kristenisasi. Ada pula kritikan yang
terkait dengan teknis film. Namun, Djaduk Ferianto mengatakan bahwa kritik itu adalah pupuk,
ketika kehilangan kritik justru itu bahaya. Romo Murti selaku produser menyatakan bahwa ini
adalah gaya gereja yang baru. Ini merupakan gaya pewartaan baru. Ditambahkan oleh Romo
Banar bahwa impian dari Gereja adalah Gereja tanpa Dinding, Gereja Subjek Budaya. Angka
nominal uang tidak lebih penting daripada nilai yang mau dicapai melalui film ini.
Dalam sarasehan ini, Romo Bagus Laksana SJ mendapatkan kesempatan untuk memaparkan
refleksi teologis mengenai generasi Soegija. Diingatkan bahwa apa yang digeluti oleh generasi
Soegija adalah soal Agama, Ras, dan Kebangsaan. Generasi Soegija adalah diskusi

multikuturalisme. Pada tahun 1940-an, Generasi Soegija merupakan orang-orang Jawa Katholik
yang pada jaman itu mau menunjukkan solidaritas dengan orang Belanda yang diserang Jerman.
Hal ini ditunjukkan dalam Swara Tama. Pada waktu Mrg. Soegijapranata ditahbiskan, muncul
laporan di majalah bahwa Agami Katulik sanes agami Walandi. Penekanan teologi sosial pada
generasi Soegija adalah bahwa Gereja menyatukan semua ras. Dengan prinsip universal, Gereja
tidak memandang ras, termasuk dalam hirarki Gereja. Muncullah semboyan 100% Katholik
100% Indonesia. Namun kini semboyan tersebut sudah menjadi melow karena kurang ada
dimensi pergerakkannya.
Setelah pemaparan Romo Bagus Laksana SJ, kembali dibuka sesi tanya jawab. Muncullah
pertanyaan mengenai prinsip universalisme dan nasionalisme; tentang kaum yang minoritas
menjadi yang mayoritas. Muncul pertanyaan pula tentang film yang memberi kesan adanya
nuansa feodalisme, misal: mencium tangan uskup! Bagaimana bisa menjadi universal kalau
masih feodal? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian ditanggapi oleh Romo Bagus bahwa
jikalau kebangsaan memecah belah persaudaraan, maka universalitas ini patut dipertanyakan.
Ketika nation state mulai ada, mucullah the bloodiest era. Kebangsaan tidak bisa menjadi tujuan
dari dirinya sendiri. Mayoritas dan minoritas adalah konsep dengan kompleksitas tinggi. Misal:
saat mayoritas memaksakan sesuatu, di sana ada friksi-friksi. Tetap saja tampak situasi tidak
stabil. Di tengah yang mayoritas pun ada banyak perdebatan. Jadi ketika ada kepentingan di
tengah-tengah yang mayoritas, di sana ada konflik internal. Nuansa feodalisme dalam film
tersebut tercatat dalam laporan Swara Tama, bahwa pada saat tahbisan uskup waktu itu pun,
ternyata masih ada pembedaan antara tamu Jawa dan tamu Belanda.
Pertanyaan terus berlanjut. Salah satunya berasal dari seorang Romo mengenai apakah teologi
sekarang ini maju atau mundur atau dalam bahasa Carlo Martini dikatakan mundur 200
tahun. Apakah kita maju dengan kesadaran akan ketertinggalan kita? Romo Bagus Laksana SJ
mengatakan bahwa perlu kritik pada diri kita, ketertinggalan ini pun layak untuk terus disadari.
Kita memang ketinggalan tetapi semoga ini bukan ketertinggalan yang disengaja.
Sarasehan IHS kemudian ditutup dengan makan siang bersama. Dalam acara penutup ini, seluruh
peserta membaur satu sama lain.

Review Film Soegija (bdk. Kemanusiaan itu Satu, dlm. Kompas, Edisi Minggu, 3 Juni 2012,
hal. 3)
Perang ibarat gurun pasir: panas, luas, kering, tandus, sarang ular. Namun di tengah gurun
peperangan selalu muncul oase. Dalam perang kemerdekaan bangsa Indonesia (1940-1949) yang
dibalut oleh perang besar Asia Pasifik, oase itu muncul melalui sosok Soegijapranata. Soegija
kecil adalah manusia biasa. Ia merupakan anak kelima dari keluarga Karjasoedarma, seorang
abdi dalem Keraton Surakarta. Setelah keluarganya pindah ke Yogyakarta, hidup Soegija remaja
berubah setelah bertemu dengan Romo Fransiskus Xaverius van Lith, SJ.
Oleh Romo van Lith, Soegija diajak untuk melanjutkan sekolah di Muntilan. Lalu ia dibaptis
pada 24 Desember 1909 dengan nama permandian Albertus. Soegija menemukan panggilan

untuk menjadi imam pada tahun 1916. Tiga tahun kemudian, ia berangkat ke Belanda dan belajar
di Gymnasium, Leiden. Soegija resmi bergabung dengan Ordo Serikat Yesus (SY) melalui
novisiat SY di Meriendaal tahun 1920. Soegijapranata diangkat sebagai uskup pribumi pertama
dalam sejarah Gereja Katholik Indonesia pada tahun 1940, saat perang kemerdekaan sedang
berlangsung. Pada masa itulah Soegija muncul sebagai oase, sesosok orang yang amat mencintai
tradisi, bangsa, dan negaranya. Meski tidak langsung terjun ke medan perang, namun Soegija
berani melawan tentara Jepang.
Soegija memiliki keyakinan bahwa kemanusiaan adalah satu. Keyakinan itu sangat mewarnai
tindakannya menghadapi peperangan, ironi, keraguan, kerapuhan kekuasaan, setelah Indonesia
merdeka. Dalam sebuah kesempatan, Soegija menyatakan bahwa Kemanusiaan itu satu.
Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya,
kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.
Sosok Soegija hadir bukan (hanya) sebagai sosok seorang imam. Beliau bukan tampil dengan
kekatholikannya melainkan pribadi yang peduli dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi di
tanah airnya. Soegija menghadapi tragedi kemanusiaan yang terjadi di sekelilingnya, yang
menimpa orang-orang di dekatnya tanpa mengenal suku, agama, ras, bahasa, ataupun adatistiadatnya. Soegija ingin menyatukan kembali kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang
terkoyak oleh kekerasan dan kematian.
Perjuangan Soegija sungguh nampak juga melalui usaha diplomasinya, sehingga Vatikan menjadi
negara pertama yang mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka. Dalam masa
pendudukan Belanda dan Jepang sampai pada agresi militer Belanda, peran uskup Soegija sangat
nampak terasa. Ia mengusahakan gencatan senjata kala situasi genting di Jawa Tengah. Bahkan
beliau memindahkan pusat keuskupan dari semarang ke Yogyakarta sebagai bentuk dukungan
kepada Presiden Soekarno.
Film Soegija sekali lagi bukan hadir untuk menampilkan sisi kekatholikan Soegijapranata,
namun berbicara mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang pernah dilakukan oleh Soegija.
Diharapkan melalui film ini, penonton mendapat warisan perjuangan nilai-nilai kemanusiaan
yang dilakukan Soegija. Apa artinya terlahir sebagai bangsa merdeka, jika gagal untuk
mendidik diri sendiri, tegas Soegija.