Anda di halaman 1dari 17

BAB VI

BERBAGI INFORMASI
1. Trauma Kimia Asam dan Basa
a. Definisi
Trauma kimia pada mata merupakan trauma yang mengenai bola mata akibat
terpaparnya bahan kimia baik yang bersifat asam atau basa yang dapat merusak
struktur bola mata (Kosoko & Lasaki, 2009; Eslani, Rafii, Movahedan & Djalilian,
2014).
Trauma asam merupakan salah satu jenis trauma kimia mata yang disebabkan

zat kimia bersifat asam dengan pH < 7.
Trauma basa merupakan salah satu jenis trauma kimia mata yang disebabkan

zat kimia bersifat basa dengan pH > 7.
b. Etiologi
Trauma pada mata yang disebabkan oleh bahan kimia disebabkan oleh 2 macam
bahan yaitu bahan kimia yang bersifat asam dan bahan kimia yang bersifat basa.
Bahan kimia dikatakan bersifat asam bila mempunyai pH < 7 dan dikatakan bersifat
basa bila mempunyai pH > 7 (Kosoko & Lasaki, 2009; Ilyas et al., 2010; ACEP,
2011).

Klasifikasi Roper-Hall Grade Gejala klinis I Kornea jernih. dengan iskemia limbus > 1/2 Sumber : Eslani. Klasifikasi Hughes . Klasifikasi Menurut Kosoko & Lasaki (2009) dan Eslani. c. tidak terdapat iskemia limbus II Kornea agak keruh. Movahedan & Djalilian (2014) trauma kimia pada mata dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Tabel 2. tetapi detail iris masih tampak. Rafii. Rafii. iskemia limbus 1/3 sampai dengan ½ IV Kornea opak. dengan iskemia limbus < 1/3 III Detail iris tidak terlihat. Bahan bersifat asam dan basa yang dapat menyebabkan trauma kimia pada mata Sumber : Kosovo & Lasaki (2009).Tabel 1. Movahedan & Djalil (2014) Tabel 3.

Patogenesis Menurut Lang (2006) dan Kosoko & Lasaki (2009) patogenesis sebagai berikut : 1) Trauma Asam .Derajat Gejala klinis I Iskemia limbus yang minimal atau tidak ada II Iskemia kurang dari 2 kuadran limbus III Iskemia lebih dari 3 kuadran limbus IV Iskemia pada seluruh limbus. Sukma & Andreas (2013) d. seluruh permukaan epitel konjungtiva dan bilik mata depan Sumber : Kosoko & Lasaki (2009) Tabel 4. Klasifikasi trauma kimia basa menurut Thoft Derajat Gejala klinis I Hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata II Hiperemi konjungtiva disertai dengan hilangnya epitel kornea III Hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea IV Konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50% Sumber : Keiko. Yasmin.

Koagulasi protein umumnya mencegah penetrasi yang lebih lanjut dari zat asam. Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi koagulasi protein epitel kornea yang mengakibatkan kekeruhan pada kornea. Bila trauma diakibatkan asam keras maka reaksinya mirip dengan trauma basa. . dan memberikan gambaran gejala pada jantung.Asam dipisahkan dalam dua mekanisme. Bahan kimia asam yang mengenai jaringan akan mengadakan denaturasi dan presipitasi dengan jaringan protein disekitarnya. yaitu ion hidrogen dan anion dalam kornea. Biasanya kerusakan hanya pada bagian superfisial saja. seperti alkali. Asam hidroflorida adalah satu pengecualian. gastrointestinal. sehingga bila konsentrasi tidak tinggi maka tidak akan bersifat destruktif seperti trauma alkali. Bahan asam yang mengenai kornea juga mengadakan presipitasi sehingga terjadi koagulasi. dan memungkinkan menghambat enzim glikolitik dan bergabung dengan kalsium dan magnesium membentukinsoluble complexes. Sehingga trauma pada mata yang disebabkan oleh zat kimia asam cenderung lebih ringan daripada trauma yang diakibatkan oleh zat kimia basa. kadang–kadang seluruh epitel kornea terlepas. karena adanya daya buffer dari jaringan terhadap bahan asam serta adanya presipitasi protein maka kerusakannya cenderung terlokalisir. Fluorinosis akut bisa terjadi ketika ion fluoride memasuki sistem sirkulasi. Koagulasi protein ini dapat mengenai jaringan yang lebih dalam. Nyeri local yang ekstrim bisa terjadi sebagai hasil dari immobilisasi ion kalsium. pernafasan. Koagulasi protein ini terbatas pada daerah kontak bahan asam dengan jaringan. Asam lemah ini secara cepat melewati membran sel. yang berujung pada stimulasi saraf dengan pemindahan ion potassium. dan neurologik. dan menyebabkan tampilan ground glass dari stroma korneal yang mengikuti trauma akibat asam. sementara anion merusak dengan cara denaturasi protein. presipitasi dan koagulasi. Molekul hidrogen merusak permukaan okular dengan mengubah pH. Bahan asam tidak menyebabkan hilangnya bahan proteoglikan di kornea. Ion fluoride dilepaskan ke dalam sel.

Akibatnya akan terjadi gangguan penyembuhan epitel yang berkelanjutan dengan ulkus kornea dan dapat terjadi perforasi kornea. sehingga berakhir dengan kebutaan. bahkan sampai retina. Trauma basa akan memberikan iritasi ringan pada mata apabila dilihat dari luar. Pada pH yang tinggi alkali akan mengakibatkan safonifikasidisertai dengan disosiasi asam lemak membrane sel. Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan . Namun. disertai dengan dehidrasi. Basa akan menembus kornea. Serbukan sel ini cenderung disertai dengan pembentukan pembuluh darah baru atau neovaskularisasi. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel jaringan. karena bahanbahan basa memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat secara cepat untuk penetrasi sel membran dan masuk ke bilik mata depan. apabila dilihat pada bagian dalam mata. Mukopolisakarida jaringan oleh basa akan menghilang dan terjadi penggumpalan sel kornea atau keratosis. Sel epitel yang baru terbentuk akan berhubungan langsung dengan stroma dibawahnya melalui plasminogen aktivator. kamera okuli anterior sampai retina dengan cepat. Serat kolagen kornea akan bengkak dan stroma kornea akan mati. Bersamaan dengan dilepaskan plasminogen aktivator dilepas juga kolagenase yang akan merusak kolagen kornea.2) Trauma Basa Trauma basa biasanya lebih berat daripada trauma asam. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi proses safonifikasi. Akibat safonifikasi membran sel akan mempermudah penetrasi lebih lanjut zat alkali. Akibat edema kornea akan terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma kornea. Akibat membran sel basal epitel kornea rusak akan memudahkan sel epitel diatasnya lepas. trauma basa ini mengakibatkan suatu kegawatdaruratan.

yaitu fase kerusakan yang timbul setelah terpapar bahan kimia serta fase penyembuhan :  Kerusakan yang terjadi pada trauma kimia yang berat dapat diikuti oleh hal-hal sebagai berikut:  Terjadi nekrosis pada epitel kornea dan konjungtiva disertai gangguan dan oklusi pembuluh darah pada limbus.  Penetrasi yang dalam dari suatu zat kimia dapat menyebabkan kerusakan dan presipitasi glikosaminoglikan dan opasifikasi kornea.  Penetrasi zat kimia sampai ke kamera okuli anterior dapat menyebabkan kerusakan iris dan lensa.  Kerusakan epitel siliar dapat mengganggu sekresi askorbat yang dibutuhkan untuk memproduksi kolagen dan memperbaiki kornea. Patofisiologi Menurut Lang (2006) dan Kosoko & Lasaki (2009) proses perjalanan penyakit pada trauma kimia ditandai oleh 2 fase.  Hilangnya stem cell limbus dapat berdampak pada vaskularisasi dan konjungtivalisasi permukaan kornea atau menyebabkan kerusakan persisten pada epitel kornea dengan perforasi dan ulkus kornea bersih.  Hipotoni dan phthisis bulbi sangat mungkin terjadi. Cairan mata susunannya akan berubah.puncaknya terdapat pada hari ke 12-21. e.  Penyembuhan epitel kornea dan stroma diikuti oleh proses-proses berikut:  Terjadi penyembuhan jaringan epitelium berupa migrasi atau pergeseran dari selsel epitelial yang berasal dari stem cell limbus . Biasanya ulkus pada kornea mulai terbentuk 2 minggu setelah trauma kimia. Pembentukan ulkus berhenti hanya bila terjadi epitelisasi lengkap atau vaskularisasi telah menutup dataran depan kornea. Kedua unsur ini memegang peranan penting dalam pembentukan jaringan kornea. Bila alkali sudah masuk ke dalam bilik mata depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar. yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat yang berkurang.

 Kornea keruh. adalah. Dengan gejala gerak mata terganggu. Kerusakan kolagen stroma akan difagositosis oleh keratosit terjadi sintesis kolagen yang baru. Komplikasi Menurut Kanski (2000) komplikasi yang terjadi dapat berupa :  Simblefaron. lagoftalmus. Komponen basa yang mengenai mata menyebabkan peningkatan pH . diplopia. Manifestasi Klinis Menurut Lang (2006) dan ACEP (2011) secara umum manifestasi klinis dan gejala khas adalah : 1) Trauma asam  Kornea keruh  Kerusakan hanya superficial saja  Nekrosis superficial kornea  Imflamasi  Epifora  Blefarospasme  Iskemia limbus 2) Trauma basa  Kornea keruh  Kerusakan sampai retina  Imflamasi  Epifora  Perforasi kornea  Tekanan intraocular (TIO) naik  Katarak  Irititis  Hipotoni  Iakemia limbus f. sehingga kornea dan penglihatan terganggu. e. edema. neovaskuler  Sindroma mata kering  Katarak traumatik. trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak.

cairan akuos dan menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Obat anestesi topikal atau lokal sangat membantu agar pasien tenang. Hal ini dapat terjadi akut ataupun perlahan-lahan. Loft & Broocker (2009) dan ACEP (2011) penegakkan diagnosis dilakukan dengan : 1) Anamnesis. Trauma kimia asam sukar masuk ke bagian dalam mata maka jarang terjadi katarak traumatik.  Glaukoma sudut tertutup  Entropion dan phthisis bulbi g. konjungtivalisasi pada kornea. Onset dari penurunan visus apakah terjadi secara progresif atau terjadi secara tiba tiba. derajat iskemik limbus. meliputi riwayat kesehatan pasien yaitu : Pada anamnesis sering sekali pasien menceritakan telah tersiram cairan atau tersemprot gas pada mata atau partikel-partikelnya masuk ke dalam mata. tekanan intra okular. peradangan kronik dan defek epitel yang menetap dan berulang. lakrimasi. . Perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau saat cedera terjadi. dan pandangan kabur merupakan gambaran umum trauma. Bansal. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan perhatian khusus untuk memeriksa kejernihan dan keutuhan kornea. Dan harus dicurigai adanya benda asing intraokular apabila terdapat riwayat salah satunya apabila trauma terjadi akibat ledakan. Penegakkan Diagnosis Menurut Randleman. 2) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang seksama sebaiknya ditunda sampai mata yang terkena zat kimia sudah terigasi dengan air dan pH permukaan bola mata sudah netral. Nyeri. Perlu diketahui apa persisnya zat kimia dan bagaimana terjadinya trauma tersebut (misalnya tersiram sekali atau akibat ledakan dengan kecepatan tinggi) serta kapan terjadinya trauma tersebut. neovaskularisasi.

Selain itu tindakan ini dapat menghindarkan terjadinya perlengketan antara konjungtiva palpebra. Irigasi dalam waktu yang lama lebih baik menggunakan irigasi dengan kontak lensa (lensa yang terhubung dengan sebuah kanul untuk  mengirigasi mata dengan aliran yang konstan. h. Pemeriksaan bagian anterior mata dengan lup atau slit lamp bertujuan untuk mengetahui lokasi luka.3) Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjangdalam kasus trauma kimia mata adalah pemeriksaan pH bola mata secara berkala dengan kertas lakmus. konjungtiva bulbi. Jika perlu dapat diberikan anastesi topikal. Makin lama makin baik. . larutan natrium bikarbonat 3%. dan konjungtiva forniks. Pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek juga dapat dilakukan. James. Irigasi pada mata harus dilakukan sampai tercapai pH normal. Chew & Bron .(2006) dan Kosoko & Lasaki (2009) penatalaksanaan pada trauma mata bergantung pada berat ringannya trauma ataupun jenis trauma itu sendiri. mempertahankan struktur dan anatomi mata dan mencegah sekuele jangka panjang. paling sedikit 2000 ml dalam 30 menit. Larutan normal saline (atau yang setara) harus digunakan untuk mengirigasi mata selama 15-30 menit samapi pH mata menjadi normal sekitar 7. Asbury & Riordan-Eva (2000). mencegah terjadinya infeksi. 1) Penatalaksanaan Emergency  Irigasi merupakan hal yang krusial untuk meminimalkan durasi kontak mata dengan bahan kimia dan untuk menormalisasi pH pada saccus konjungtiva yang harus dilakukan sesegera mungkin. Penatalaksanaan Menurut Kanski (2000). Vaughan. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan tonometri untuk mengetahui tekanan intraocular. dan antibiotik. Pada trauma basa hendaknya dilakukan irigasi lebih lama. Namun demikian ada 4 tujuan utama dalam mengatasi kasus trauma okular adalah memperbaiki penglihatan. Double eversi pada kelopak mata. dilakukan untuk memindahkan material yang terdapat pada bola mata.3.

membantu regenerasi epitel dan mencegah terjadinya ulkus kornea. Dexametason 0. Diberikan secara  oral asetazolamid (diamox) 500 mg. Untuk itu steroid hanya diberikan secara inisial dan di tappering off setelah 7-10 hari. Beta bloker/karbonik anhidrase inhibitor.25% diberikan 2 kali sehari.  Atropin 1% ED atau Scopolamin 0. Sedangkan pada trauma kimia berat. sikloplegik. Dapat diberikan bersamaan  antara topikal dan sistemik (doksisiklin 100 mg). Tetrasiklin efektif untuk menghambat kolagenase. Antibiotik. Untuk  dosis sitemik dapat diberikan sampai dosis 2 gram. pemberian obat-obatan bertujuan untuk mengurangi inflamasi. Sehingga EDTA ini diberikan setelah satu minggu setelah  trauma alkali atau trauma basa. dan antibiotik profilaksis selama 7 hari. Asam askorbat. Sikloplegik. Namun pemberian steroid dapat menghambat penyembuhan stroma dengan menurunkan sintesis kolagen dan menghambat migrasi fibroblas. 2) Medikamentosa Trauma kimia ringan (derajat 1 dan 2) dapat diterapi dengan pemberian obatobatan seperti steroid topikal. diberikan dengan tujuan untu menetralisir kolagenase yang terbentuk setelah satu minggu.1% ED diberikan setiap 2 jam. Debridemen pada daerah epitel kornea yang mengalami nekrotik sehingga dapat terjadi re-epitelisasi pada kornea.1% ED dan Prednisolon 0. Asam hyaluronik untuk membantu proses re-epitelisasi kornea dan menstabilkan barier fisiologis. profilaksis untuk mencegah infeksi oleh kuman oportunis. mencegah iritis dan sinekia posterior. bertujuan untuk mengurangi inflamasi dan infiltrasi neutofil. Natrium askorbat 10% topikal diberikan setiap 2 jam. Bila  diperlukan dapat diberikan Prednisolon IV 50-200 mg. Asam Sitrat menghambat aktivitas netrofil dan . untuk menurunkan tekanan intra okular dan mengurangi resiko terjadinya glaukoma sekunder. untuk mengistirahatkan iris.  Steroid. mengembalikan keadaan jaringan scorbutik dan meningkatkan penyembuhan luka dengan membantu pembentukan kolagen matur oleh fibroblas kornea. menghambat aktifitas netrofil dan mengurangi pembentukan ulkus. EDTA.

Prosedur berikut dapat digunakan untuk pembedahan :  Pengembangan kapsul Tenon dan penjahitan limbus bertujuan untuk mengembalikan vaskularisasi limbus juga mencegah perkembangan ulkus kornea.  Keratoplasti dapat ditunda sampai 6 bulan.  Koreksi apabila terdapat deformitas pada kelopak mata.mengurangi respon inflamasi.  Graft membran amnion untuk membantu epitelisasi dan menekan fibrosis 4) Pembedahan Lanjut.  Transplantasi stem sel limbus dari mata pasien yang lain (autograft) atau dar donor (allograft) bertujuan untuk mengembalikan epitel kornea menjadi normal. Pembedahan lanjut pada tahap lanjut dapat menggunakan metode :  Pemisahan bagian-bagian yang menyatu pada kasus conjungtival bands dan simblefaron. hal ini untuk memaksimalkan resolusi dari proses inflamasi. 3) Pembedahan Pembedahan Segera.  Pemasangan graft membran mukosa atau konjungtiva. . Tujuannya untuk mengeliminasi fagosit fase kedua yang terjadi 7 hari setelah trauma. Natrium sitrat 10% topikal diberikan setiap 2 jam selama 10 hari. yang sifatnya segera dibutuhkan untuk revaskularisasi limbus. Makin lama makin baik.  Keratoprosthesis bisa dilakukan pada kerusakan mata yang sangat berat dikarenakan hasil dari graft konvensional sangat buruk. mengembalikan populasi sel limbus dan mengembalikan kedudukan forniks.

Gambar 1. Bagan penatalaksanaan trauma kimia pada mata Sumber : Kosoko & Lasaki (2009) .

Prognosis Menurut Kosoko & Lasaki (2009) dan Eslani. Rafii. tidak terdapat iskemia Sangat baik limbus II Kornea agak keruh.i. tetapi detail iris masih Baik tampak. iskemia limbus Harus berhati-hati 1/3 sampai dengan ½ IV Kornea opak. dengan iskemia limbus > 1/2 Sangat buruk Sumber : Eslani. Prognosis pada Klasifikasi Roper-Hall Grade Gejala klinis Prognosis I Kornea jernih. Movahedan & Djalil (2014) dan prognosis trauma kima pada mata berdasarkan klasifikasi Roper-Hall maupun Hughes adalah sebagai berikut : Tabel 5. Rafii. Movahedan & Djalil (2014) Tabel 6.Prognosis pada Klasifikasi Hughes Deraja Gejala klinis Prognosis t I Iskemia limbus yang minimal atau tidak Sangat baik ada . dengan iskemia limbus < 1/3 III Detail iris tidak terlihat.

seluruh Sangat buruk permukaan epitel konjungtiva dan bilik mata depan Sumber : Kosoko & Lasaki (2009) 2. Bila . Oklusi arteria sentralis retina merupakan keadaan bukan trauma yang termasuk dalam kelompok ini. 3.II Iskemia kurang dari 2 kuadran limbus Baik III Iskemia lebih dari 3 kuadran limbus Harus berhati-hati IV Iskemia pada seluruh limbus. Indikasi Pembedahan Menurut Kosoko & Lasaki (2009) dan Eslani. Dalam situasi ini mata akan mengalami kebutaan atau cacatyang menetap dengan penurunan penglihatan yang berat dalam waktu beberapa detik sampai beberapa menit saja bila tidak segera mendapatkan pertolongan yang tepat. Klasifikasi Kegawat Daruratan Kedaruratan mata adalah sikap keadaan yang mengancam tajam penglihatan seseorang berupa penurunan tajam penglihatan sampai terjadinya kebutaan. 2) Mayor condition. Cedera mata akibat bahan kimia basa (alkali) termasuk dalam keadaan ini. Dalam situasi ini pertolongan harus diberikan tetapi dengan batasan waktu yang lebih longgar. Menrut Roper-Hall (1965) berdasarkan konsep penanganan masalah gawat darurat maka kegawat daruratan mata dapat dikelompokkan menjadi beberapa keadaan : 1) Sight threatening condition. Rafii. Movahedan & Djalilian (2014) indikasi untuk pembedahan dapat dilakukan jika gejala klinis sudah pada tahap grade III dan IV klasifikasi Roper-Hall ataupun derajat III dan IV klasifikasi Hughes. dapat beberapa jam sampai beberapa hari.

Yang dimaksud dengan keadaan "gawat" adalah keadaan atau kondisi pasien memerlukan penegakan diagnosis dan pengobatan yang harus sudah diberikan dalam waktu satu atau beberapa jam. tukak atau ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian  permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Situasi ini tidak akan menimbulkan kebutaan meskipun mungkin menimbulkan suatu penderitaan subyektif pada pasien. Iridosiklitis akut . Adapun keadaan atau kondisi pasien yang termasuk di dalam kategori ini adalah: luka bakar kimia (luka bakar kerena alkali/basa dan luka bakar asam) 2) Gawat. Terlambat sebentar saja dapat mengakibatkan kebutaan. Terjadi akibat  trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Hifema atau timbunan darah di dalam bilik mata depan.pertolongan tidak diberikan maka penderita akan mengalami hal yang sama seperti disebutkan pada sight threatening condition. Disamping itu kegawatdaruratan di bidang oftalmologi (penyakit mata) diklasifikasikan menjadi tiga macam. Yang dimaksud dengan keadaan "sangat gawat" adalah keadaan atau kondisi pasien memerlukan tindakan yang harus sudah diberikan dalam waktu beberapa menit. Skleritis (peradangan pada sklera). (2) Gawat. Adapun keadaan atau kondisi pasien yang termasuk di dalam kategori ini adalah :  Laserasi kelopak mata  Konjungtivitis gonorhoe  Erosi kornea  Laserasi kornea  Benda asing di kornea  Descemetokel  Tukak kornea. Sklera bersama dengan jaringan uvea dan retina berfungsi sebagai pembungkus dan pelindung  bola mata. bila terabaikan pasien mungkin dapat masuk kedalam keadaan mayor condition. dan (3) Semi gawat. yaitu : (1) Sangat gawat. 1) Sangat Gawat. 3) Minor condition. sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata.

Umumnya didahului oleh trauma tembus pada bola mata. Endoftalmitis merupakan infeksi intraokular yang umumnya melibatkan seluruh jaringan segmen anterior dan posterior mata. Trakoma yang disertai dengan entropion. fotofobia (silau. Katarak kongenital. Gejala klinis endoftalmitis adalah penurunan tajam    penglihatan (visus menurun). Selulitis orbita Trauma tembus mata Trauma radiasi 3) Semi Gawat. Entropion adalah keadaan kelopak mata yang terbalik atau membalik ke dalam tepi jaringan. dapat disertai atau tanpa rasa sakit). operasi filtrasi. Oftalmia simpatika. Adapun keadaan atau kondisi pasien yang termasuk di dalam kategori ini adalah :  Defisiensi (kekurangan) vitamin A. Yang dimaksud dengan keadaan "semi gawat" adalah keadaan atau kondisi pasien memerlukan pengobatan yang harus sudah diberikan dalam waktu beberapa hari atau minggu. Namun pada trakoma. dan didahului oleh trauma tembus mata yang biasanya mengenai badan siliar. bersifat bilateral. Glaukoma kongestif Glaukoma sekunder Ablasi retina (retinal detachment) suatu keadaan terpisahnya (separasi) sel kerucut dan batang atau lapisan sensorik retina dengan sel epitel    pigmen (retinal pigment epithelium atau RPE). terutama tepi  kelopakn bawah. nyeri. yaitu peradangan granulomatosa yang khas pada jaringan uvea. nystagmus (pergerakan bola mata . ulkus kornea perforasi. Gejalanya: leukokoria (bercak putih). atau akibat adanya benda asing  dalam mata. riwayat operasi intraokuler (misalnya: ekstraksi katarak. hypovitaminosis A. vitrektomi). bengkak. dan merupakan salah satu penyebab kebutaan pada anak yang cukup sering dijumpai. strabismus (juling). entropion terdapat pada kelopak atas. mata merah. Sinonim (nama lain) untuk kondisi ini  adalah: vitaminosis A. bagian uvea lainnya. kekeruhan lensa mata yang timbul sejak lahir.

bolak-balik.yang involunter. Neuritis optika/papilitis Eksoftalmus (bola mata menonjol keluar) atau lagoftalmus (kelopak mata   tidak dapat menutup sempurna). dan tidak terkendali). Involunter maksudnya: tanpa sengaja. diluar kemauan. Tumor intraorbita Perdarahan retrobulbar . yaitu jenis tumor ganas mata yang   berasal dari neuroretina (sel kerucut dan batang). dapat     teratur. Glaukoma kongenital Glaukoma simpleks Perdarahan badan kaca Retinoblastoma (tumor ganas retina).