Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
Myelitis Transversa adalah kelainan neurologis yang disebabkan oleh
peradangan di kedua sisi dari satu tingkat, atau segmen, dari sumsum tulang
belakang. Istilah myelitis mengacu pada radang sumsum tulang belakang;
transversal hanya menggambarkan posisi peradangan, yaitu, di seberang lebar dari
sumsum tulang belakang. Serangan peradangan bisa merusak atau menghancurkan
myelin, substansi lemak yang meliputi isolasi sel serabut saraf. Ini menyebabkan
kerusakan sistem saraf yang mengganggu inpuls antara saraf-saraf di sumsum
tulang belakang dan seluruh tubuh.
Myelitis Transversa terjadi pada orang dewasa dan anak-anak, di kedua
jenis kelamin, dan di semua ras. Peradangan yang menyebabkan kerusakan yang
luas pada medulla spinalis dapat diakibatkan oleh infeksi virus, reaksi kekebalan
yang abnormal, atau tidak cukup aliran darah melalui pembuluh darah yang
terletak di sumsum tulang belakang. Myelitis Transversa juga dapat terjadi
sebagai komplikasi sifilis, campak, penyakit Lyme, dan beberapa vaksinasi,
termasuk untuk cacar dan rabies serta idiopatik.
Gejala awal biasanya mencakup lokal nyeri punggung bawah, tiba-tiba
paresthesias (sensasi abnormal seperti membakar, menggelitik, menusuk, atau
kesemutan) di kaki, hilangnya sensorik, dan paraparesis (kelumpuhan parsial
kaki). Pemberian glukokortikoid atau ACTH, biasanya diberikan pada penderita
yang datang dengan gejala awitanya sedang berlangsung dalam waktu 10 hari
pertama atau bila terjadi progresivitas defesit neurologik.

1

2

BAB II
STATUS PASIEN

I.

Identifikasi
Nama
Usia
Alamat

: Tn. IJS
: 63 Tahun (25Mei 1953)
: LR. Keluarga No.45 Alang-alang Lebar
Palembang
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Supir
Agama
: Islam
Suku
: Sumatera
Bangsa
: Indonesia
No. Rekam medis/registrasi : 956443/RD1601055
MRS
: 8 Juni 2016
II.

Anamnesis
(Alloanamnesis pada tanggal 8 Juni 2016 pukul 10.30 WIB dengan
istri penderita)
Penderita dirawat di bagian saraf RSUPMH karena kelumpuhan
di kedua tungkai secara perlahan-lahan.
± 10 hari SMRS penderita mengalami nyeri pada pinggang yang
tidak menjalar dan juga sulit berjalan kemana-mana. ± 7 hari yang lalu,
penderita mengalami kesemutan dan kebas pada tungkai kanan yang
menjalar dari jari kaki sampai ke atas. ± 5 hari yang lalu, penderita
mengalami kesemutan pada tungkai sebelah kiri yang di sertai dengan
kedua tungkai yang tidak bisa di gerakkan sama sekali. BAK dan BAB
tidak bisa, demam tidak ada, mulut mengot tidak ada, bicara pelo tidak
ada, sakit kepala tidak ada, muntah tidak ada. Penderita masih bisa
menyampaikan sesuatu dan mengerti isi pikiran secara lisan, tulisan
maupun isyarat.
Riwayat trauma ± 5 bulan yang lalu, penderita jatuh dari sepeda
motor yang ia kendarain dan terkena stang motor pada bagian dada
sebelah kanan, riwayat benjolan tidak ada, riwayat batuk lama tidak

tidak tampak kelaina pada kulit Lemas. nyeri tekan (-).1ºC  Berat badan : 74 kg  Tinggi badan : 168 cm  Hidung : Bagian luar tidak ada kelainan. pergerakan simetris : Stemfremitus belum dapat dinilai : Sonor kedua lapangan paru : Vesikuler (+) normal. batas kanan ICS II LPS dextra. riwaya penurunan berat badan drastis tidak ada. karies dental molar 1 rahang atas kiri. jumlah gigi lengkap. III. atas kiri ICS VI LMC sinistra. sekret dan serumen (-). atrofi papil lidah (-)      Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Anggota gerak Genitalia : Ictus cordis terlihat di ICS V LMC : Ictus cordis tidak teraba. pendengaran  Mulut baik : Cheilitis (-) . ronkhi (-).3 ada. hepar dan lien tidak teraba Timpani Bising usus (+) normal Lihat status neurologis Tidak diperiksa . Pemeriksaan Fisik Status Internus  Kesadaran : GCS 15 (E4M6V5)  Tekanan Darah : 150/90 mmHg  Nadi : 88x/menit  Pernafasan : 28x/menit  Suhu Badan : 37. Penyakit ini diderita untuk pertama kalinya. riwayat demam tidak ada. thrill (-) : Batas jantung atas ICS II sinistra. coated tongue(-). datar. murmur(-). : HR 88X/menit. sekret (-)  Telinga : Bagian luar tidak ada kelainan. wheezing (-) : : : : : : Simetris. gendang telinga intak. gallop (-) : Bentuk dada statis: simetris. kelainan kulit (-) bentuk dada dinamis: RR 28x/menit.

4 Status Psikiatrikus  Sikap : Kooperatif  Ekspresi Muka : Biasa  Perhatian : ada  Kontak Psikik : ada Status Neurologikus Kepala Bentuk : Normocephali Ukuran : Normal Deformitas : (-) Fraktur : (-) Simetris : Simetris Nyeri fraktur : (-) Hematom : (-) Pembuluh darah : Tidak ada pelebaran Tumor : (-) Pulsasi : (-) Nyeri tekan : Mastoid (-). Olfaktorius Kanan Kiri . sinus (-) Leher Sikap : Lurus Deformitas : (-) Torticolis : (-) Tumor : (-) Kaku kuduk : (-) Pembuluh darah : Tidak ada pelebaran Saraf-Saraf Otak SYARAF-SYARAF OTAK N.

D V.O.Opticus Kanan Kiri Visus 6/6 6/6 Campus visi V.5 Penciuman tidak ada kelainan tidak ada kelainan Anosmia tidak ada tidak ada Hyposmia tidak ada tidak ada Parosmia tidak ada tidak ada N. Trochlearis dan Abducens Kanan Kiri Diplopia tidak ada tidak ada Celah mata tidak ada tidak ada Ptosis tidak ada tidak ada Sikap bola mata .O. Occulomotorius.S Anopsia tidak ada tidak ada Hemianopsia tidak ada tidak ada Fundus Oculi  Papil edema tidak ada tidak ada  Papil atrofi tidak ada tidak ada  Perdarahan retina tidak ada tidak ada Nn.

6  Strabismus tidak ada tidak ada  Exophtalmus tidak ada tidak ada  Enophtalmus tidak ada tidak ada  Deviation conjugae tidak ada tidak ada Gerakan bola mata Pupil  Bentuknya bulat bulat  Besarnya Ø 3 mm Ø 3 mm  Isokor/anisokor  Midriasis/miosis  Refleks cahaya  isokor tidak ada tidak ada .Trigeminus Motorik .Langsung (+) (+) .Akomodasi (-) (-) Argyl Robertson tidak ada tidak ada Kanan Kiri N.Konsensuil (+) (+) .

7  Menggigit tidak ada kelainan  Trismus tidak ada kelainan  Refleks kornea tidak ada kelainan Sensorik  Dahi tidak ada kelainan  Pipi tidak ada kelainan  Dagu tidak ada kelainan N.Facialis Kanan Kiri Motorik Mengerutkan dahi tidak berkerut tidak ada kelainan Menutup mata lagofthalmus tidak ada kelainan Menunjukkan gigi tidak ada kelainan Lipatannasolabialis tidak ada kelainan Bentuk Muka  Istirahat tidak ada kelainan  Berbicara/bersiul tidak ada kelainan Sensorik 2/3 depan lidah tidakadakelainan Otonom  Salivasi tidak ada kelainan  Lakrimasi tidak ada kelainan  Chvostek’s sign tidak ada .

8 N. Vagus Arcuspharingeus tidak ada kelainan Uvula tidak ada kelainan Gangguan menelan tidak ada kelainan Suara serak/sengau tidak ada kelainan Denyut jantung tidak ada kelainan Refleks  Muntah tidak ada kelainan  Batuk tidak ada kelainan  Okulo kardiak tidak ada kelainan  Sinus karotikus tidak ada kelainan . Statoacusticus N. Vestibularis Nistagmus Vertigo tidak ada tidak ada N. Cochlearis Suara bisikan belum bisa dinilai Detik arloji belum bisa dinilai Tes Weber belum bisa dinilai Tes Rinne belum bisa dinilai N. Glossopharingeusdan N.

9 Sensorik  1/3 belakang lidah tidak ada kelainan N. Hypoglossus Mengulur lidah tidak ada kelainan Fasikulasi tidak ada Atrofi papil tidak ada Disartria tidak ada MOTORIK LENGAN Kanan Kiri Gerakan Cukup Cukup Kekuatan 5 5 Tonus Normal Normal Refleks fisiologis  Biceps Normal Normal  Triceps Normal Normal . Accessorius Mengangkat bahu simetris Memutar kepala tidak ada kelainan N.

10  Radius Normal Normal  Ulna Normal Normal Refleks patologis  Hoffman Ttromner tidak ada tidak ada  Leri tidak ada tidak ada.  Meyer tidak ada tidak ada Trofik tidak ada tidak ada TUNGKAI Kanan Kiri Gerakan Kurang Kekuatan 1 1 Tonus Menurun Menurun Kurang Klonus  Paha tidak ada tidak ada  Kaki tidak ada tidak ada Refleks fisiologis  KPR Menurun Menurun  APR Menurun Menurun Refleks patologis  Babinsky tidak ada tidak ada  Chaddock tidak ada tidak ada  Oppenheim tidak ada tidak ada .

11  Gordon tidak ada tidak ada  Schaeffer tidak ada tidak ada  Rossolimo tidak ada tidak ada  Mendel Bechterew tidak ada tidak ada Refleks Kulit Perut  Atas : tidak ada kelainan  Tengah : tidak ada kelainan  Bawah : tidak ada kelainan   Reflekscremaster Trofik : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan SENSORIK Belum bisa dinilai FUNGSI VEGETATIF Miksi : Retensi Urin Defekasi : Retensi Alvi Ereksi : tidak ada kelainan .

12 KOLUMNA VERTEBRALIS Kyphosis : belum bisa dinilai Lordosis : belum bisa dinilai Gibbus : belum bisa dinilai Deformitas : belum bisa dinilai Tumor : belum bisa dinilai Meningocele : belum bisa dinilai Hematoma : belum bisa dinilai Nyeri ketok : belum bisa dinilai GEJALA RANGSANG MENINGEAL Kaku kuduk : tidak ada Kerniq : tidak ada Lasseque : tidak ada Brudzinsky  Neck :tidak ada  Cheek :tidak ada  Symphisis :tidak ada  Leg I :tidak ada  Leg II :tidak ada .

13 GAIT DAN KESEIMBANGAN Gait Keseimbangan dan Koordinasi Ataxia : belum bisa dinilai Romberg : belum bisa dinilai Hemiplegic : belum bisa dinilai Dysmetri : belum bisa dinilai Scissor : belum bisa dinilai .jari-jari : belum bisa dinilai Propulsion : belum bisa dinilai .tumit-tumit : belum bisa dinilai Limping : belum bisa dinilai Rebound phenomen : belum bisa dinilai Steppage :belum bisa dinilai Dysdiadochokinesis : belum bisa dinilai Astasia-Abasia: belum bisa dinilai GERAKAN ABNORMAL Tremor : tidak ada Chorea : tidak ada Athetosis : tidak ada Ballismus : tidak ada Dystoni : tidak ada Myocloni : tidak ada FUNGSI LUHUR Afasia motorik : tidak ada Trunk Ataxia : belum bisa dinilai Limb Ataxia : belum bisa dinilai .jarihidung : belum bisa dinilai Histeric : belum bisa dinilai .

5 sec : 1.3 : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : 133 mmol/l : 4.1 sec : Kontrol : 30.9 g/dl : tidak diperiksa : tidak diperiksa : Kontrol : 13.000/mm3 : 39 vol% :125 mg/dl : 5.1 sec Pasien : 26.5 g/dl : 4.6 sec : Pasien : 16.14 Afasia sensorik : tidak ada Apraksia : tidak ada Agrafia : tidak ada Alexia : tidak ada Afasia nominal : tidak ada Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Darah Hb Eritrosit Leukosit Diff Count Trombosit Hematokrit BSS Protein total BSN/BSPP D-Dimer PT APTT INR Kolesterol HDL Kolesterol LDL Trigliseride Total Kolesterol Uric Acid Ureum Kreatinin CK-MB CK-NAC Na Kalium Ca Urine : 12.0 mmol/l : 8.26 x 106/mm3 : 21.6 mg/dl .100/mm3 : 0/0/93/4/3 : 245.

15 Warna Protein Urobilin Bilirubin Sedimen Eritrosit Leukosit Epitel Bakteri Feses Konsistensi Lendir Darah Amuba coli/ Histolitika Eritrosit Leukosit Telur cacing : kuning : negatif :1 : negatif : 0-1 : 2-4 : negatif : positif + : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa Liquor Serebrospinal tanggal 10 Juni 2016 Volume : 1 cc Warna : kekuningan Kejernihan : jernih Bau : tidak berbau Berat jenis : 1. 63 tahun. datang ke IGD RSMH dengan keluhan kelumpuhan di kedua tungkai secara perlahan-lahan.0 Jumlah leukosit : 2. IJS.0 sel/цl PMN sel : 0% MN sel : 100% Nonne : negatif Pandy : positif Protein : 405. ± 7 hari .7 g/dL LDH : 143 U/L Glukosa : 67. ± 10 hari SMRS penderita mengalami nyeri pada pinggang yang tidak menjalar dan juga sulit berjalan kemana-mana.025 Bekuan : negatif pH : 9.0 mg/Dl Klorida : 131 mEq/L RESUME Tn.

riwayat batuk lama tidak ada. riwaya penurunan berat badan drastis tidak ada. TD 150/90 mmHg. penderita mengalami kesemutan pada tungkai sebelah kiri yang di sertai dengan kedua tungkai yang tidak bisa di gerakkan sama sekali. leher. mulut mengot tidak ada. abdomen.1°C. Penyakit ini diderita untuk pertama kalinya. thoraks. riwayat demam tidak ada. riwayat benjolan tidak ada. ± 5 hari yang lalu. darah kimia  Cek BSS dan EKG  Rontgen thorax AP/LAT  Pasang Kateter dengan inform consent . gizi cukup (BB 74 kg. sakit kepala tidak ada. T 37. Penderita masih bisa menyampaikan sesuatu dan mengerti isi pikiran secara lisan. Keadaan spesifik kepala. bicara pelo tidak ada. GCS 15 (E4M6V5). muntah tidak ada. Pada pemeriksaaan fisik di dapatkan kesadaran kompos mentis Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis. HR 88 x/menit. urin rutim. tulisan maupun isyarat. BAK dan BAB tidak bisa. TB 168 cm). Riwayat trauma ± 5 bulan yang lalu. dan ekstremitas dalam batas normal.16 yang lalu. Diagnosis Diagnosis Klinis  Paraplegi inferior tipe flaccid  Hipestesi dari kedua ujung jari kaki hingga 3 jari dibawah umbilikus  Retensi urin et alvi Diagnosis Topik  Lesi Transversa totalis medulla spinalis setinggi vertebrae thorakal XII Diagnosis Etiologi  Susp. demam tidak ada. penderita jatuh dari sepeda motor yang ia kendarain dan terkena stang motor pada bagian dada sebelah kanan. penderita mengalami kesemutan dan kebas pada tungkai kanan yang menjalar dari jari kaki sampai ke atas. RR 28 x/menit.Mielitis transversa Tatalaksana Nonfarmakologi  Diet BB 1800 Kkal  Cek darah rutin.

dari sumsum tulang belakang. Istilah myelitis mengacu pada radang sumsum tulang belakang. . Definisi Myelitis Transversa adalah kelainan neurologis yang disebabkan oleh peradangan di kedua sisi dari satu tingkat. atau segmen.17  MRS Farmakologi  IVFD RL gtt XX/m  Metyl prednisolon 4x250 mg (IV)  Omeprazole 1x20 mg (p.1.o)  Neurobion 1x1 (p.o) Prognosis Quo ad Vitam : dubia ad bonam Quo ad Functionam : dubia ad bonam BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.

Ini menyebabkan kerusakan sistem saraf yang mengganggu inpuls antara saraf-saraf di sumsum tulang belakang dan seluruh tubuh. influenza. dan Mycoplasma pneumonia. Etiologi Para peneliti tidak yakin mengenai penyebab pasti transversa myelitis. campak. reaksi kekebalan yang abnormal. dan beberapa vaksinasi. Myelitis transversa sering berkembang akibat infeksi virus. 3. echovirus. diperkirakan bahwa sekitar 1. yaitu. Meskipun hanya beberapa studi telah meneliti tingkat insiden. atau tidak cukup aliran darah melalui pembuluh darah yang terletak di sumsum tulang belakang. Faktor predisposisi pada keluarga tidak jelas. sitomegalovirus. hepatitis A. Peradangan yang menyebabkan kerusakan yang luas pada medulla spinalis dapat diakibatkan oleh infeksi virus.400 kasus baru didiagnosis myelitis melintang setiap tahun di Amerika Serikat. Serangan peradangan bisa merusak atau menghancurkan myelin. Sebuah puncaknya pada tingkat insiden (jumlah kasus baru per tahun) tampaknya terjadi antara 10 dan 19 tahun dan 30 dan 39 tahun. . di seberang lebar dari sumsum tulang belakang. infeksi telinga tengah (otitis media).18 transversal hanya menggambarkan posisi peradangan. Agen infeksi yang dicurigai menyebabkan myelitis transversa termasuk varicella zoster. Bakteri infeksi kulit. Epidemiologi Myelitis Transversa terjadi pada orang dewasa dan anak-anak. human immunodeficiency virus (HIV). Epstein-Barr. herpes simpleks. dan sekitar 33. termasuk untuk cacar dan rabies serta idiopatik.000 orang Amerika memiliki beberapa jenis kecacatan akibat gangguan ini. penyakit Lyme.3. di kedua jenis kelamin. 3.2. dan di semua ras. dan rubella. Myelitis Transversa juga dapat terjadi sebagai komplikasi sifilis. substansi lemak yang meliputi isolasi sel serabut saraf.

Ketika arterivenosus menjadi menyempit atau diblokir. Kebanyakan orang yang mengembangkan kondisi sebagai akibat dari penyakit vaskular melewati usia 50.4. penurunan tingkat normal oksigen dalam jaringan sumsum tulang belakang. tampaknya memainkan peran penting dalam menyebabkan kerusakan pada saraf tulang belakang. Patogenesis Pasca-kasus infeksi mekanisme sistem kekebalan tubuh yang aktif akibat virus atau bakteri. 3. keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. atau faktor-faktor lain yang kurang umum. atau baru saja menjalani operasi dada atau abdominal. sel saraf dan serat mungkin mulai memburuk relative dengan cepat. Iskemia dapat terjadi di dalam sumsum tulang belakang akibat penyumbatan pembuluh darah atau mempersempit. Pada penyakit autoimun. sistem kekebalan tubuh.5 Gambaran klinis .19 3. Pembuluh darah membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan saraf tulang belakang dan membawa sisa metabolik. menyebabkan inflamasi dan. kadang-kadang menyebabkan myelitis transversal. atau iskemik. Meskipun peneliti belum mengidentifikasi mekanisme yang tepat bagaimana terjadinya cedera tulang belakang dalam kasus ini. dalam beberapa kasus. Ketika wilayah tertentu dari sumsum tulang belakang menjadi kekurangan oksigen. menyebabkan kerusakan myelin dalam sumsum tulang belakang Beberapa kasus myelitis transversa akibat dari malformasi arteriovenosa spinal (kelainan yang mengubah pola-pola normal aliran darah) atau penyakit pembuluh darah seperti aterosklerosis yang menyebabkan iskemia. Kerusakan ini dapat menyebabkan peradangan luas. punya penyakit jantung. mereka tidak dapat memberikan jumlah yang cukup sarat oksigen darah ke jaringan saraf tulang belakang. mungkin rangsangan sistem kekebalan sebagai respon terhadap infeksi menunjukkan bahwa reaksi kekebalan tubuh mungkin bertanggung jawab. yang biasanya melindungi tubuh dari organisme asing.

Awalnya. yang mengharuskan pasien untuk menggunakan kursi roda. demam. dan (4) disfungsi pencernaan dan kandung kemih. (3) perubahan sensorik. (2) nyeri. Banyak pasien juga melaporkan mengalami kejang otot. Paraparesis sering berkembang menjadi paraplegia. atau kesemutan) di kaki. Kebanyakan pasien akan mengalami berbagai tingkat kelemahan di kaki mereka. beberapa juga mengalaminya di lengan mereka. menggelitik. . beberapa pasien mungkin juga akan mengalami masalah pernapasan. menusuk. sensasi yang memancarkan bawah kaki atau lengan atau di sekitar dada.20 Myelitis transversa dapat bersifat akut (berkembang selama jam sampai beberapa hari) atau subakut (berkembang lebih dari 2 minggu hingga 6 minggu). dan kehilangan nafsu makan. Dan mengakibatkan gangguan genitourinary dan defekasi. orang-orang dengan myelitis transversal mungkin menyadari bahwa kaki mereka tampak lebih berat dari biasanya. Dari berbagai macam gejala. tiba-tiba paresthesias (sensasi abnormal seperti membakar. empat ciri-ciri klasik myelitis transversa yang muncul: (1) kelemahan kaki dan tangan. sakit kepala. Nyeri adalah gejala utama dari myelitis transversa pada sepertiga sampai setengah dari semua pasien. perasaan umum tidak nyaman. dan paraparesis (kelumpuhan parsial kaki). hilangnya sensorik. Perkembangan penyakit selama beberapa minggu sering mengarah pada kelumpuhan penuh dari kaki. Rasa sakit dapat dilokalisasi di punggung bawah atau dapat terdiri dari tajam. Tergantung pada segmen tulang belakang yang terlibat. Gejala awal biasanya mencakup lokal nyeri punggung bawah.

Selama perjalanan penyakit. 3. inkontinensia. sebagian besar orang dengan myelitis transversa akan mengalami satu atau beberapa gejala. kesulitan buang air kecil. 3. sehingga pakaian atau sentuhan ringan dengan jari signifikan menyebabkan rasa tidak nyaman atau sakit (suatu keadaan yang disebut allodynia). Banyak juga mengalami peningkatan sensitivitas terhadap perubahan suhu yang ekstrem atau panas atau dingin. Lokasi terhambatnya impuls saraf pada medula spinalis menentukan beratnya gejala yang timbul. ruptur diskus intervertebralis akut. . dingin. Gangguan pada genitourinary dan gastrointestinal mungkin melibatkan peningkatan frekuensi dorongan untuk buang air kecil atau buang air besar. Sampai 80 persen dari mereka yang myelitis transversa memiliki kepekaan yang meningkat. kesemutan. diikuti oleh mati rasa dan kelemahan otot kaki yang akan menjalar ke atas. atau pembakaran untuk menggambarkan gejala mereka. Perjalanan penyakit Gejala biasanya dimulai dengan nyeri punggung yang timbul secara tibatiba. Diagnosa Mielitis transversa harus dibedakan dari mielopati komprensi medula spinalis baik karena proses neoplasma medula spinalis intrinsik maupun ekstrensik. dan sembelit.21 Pasien yang mengalami gangguan sensoris sering menggunakan istilahistilah seperti mati rasa. infeksi epidural dan polineuritis pasca infeksi akut (Sindrom Guillain Barre).6. Gejala tersebut bisa semakin memburuk dan jika menjadi berat akan terjadi kelumpuhan serta hilangnya rasa disertai dengan hilangnya pengendalian pencernaan dan kandung kemih.7.

Glukokortikoid dapat diberikan dalam bentuk prednison oral 1 mg/kg berat badan/hari sebagai dosis tunggal selama 2 minggu lalu secara bertahap dan dihentikan setelah 7 hari. biasanya diberikan pada penderita yang datang dengan gejala awitanya sedang berlangsung dalam waktu 10 hari pertama atau bila terjadi progresivitas defesit neurologik. CT scan atau MRI. Selain itu pada pungsi lumbal dijumpai blokade aliran likuor dengan kadar protein yang meningkat tanpa disertai adanya sel. Penatalaksanaan Pemberian glukokortikoid atau ACTH. Selain itu ACTH dapat diberikan secara intramuskular denagn dosis 40 unit dua kali per hari (selama 7 hari). Untuk mencegah efek samping kortikosteroid. pleositosis moderat (antara 20-200 sel/mm3) terutama jenis limfosit. Pemasangan kateter diperlukan karena adanya retensi urin. Lesi kompresi medula spinalis dapat dibedakan dari mielitis karena perjalanan penyakitnya tidak akut sering didahului dengan nyeri segmental sebelum timbulnya lesi parenkim medula spinalis.8 mg/kg/hari dalam waktu 30 menit.22 Pungsi lumbal dapat dilakukan pada mielitis transversa biasanya tidak didapati blokade aliran likuor. dan untuk mencegah terjadinya infeksi traktus urinarius dilakukan irigasi dengan antiseptik . penderita diberi diet rendah garam dan simetidin 300 mg 4 kali/hari atau ranitidin 150 mg 2kali/hari. Berbeda dengan sindrom Guillain Barre di mana dijumpai peningkatan kadar protein tanpa disertai pleositosis. 3. mielogram serta pemeriksaan darah. lalu 20 unit dua kali per hari (selama 4hari) dan 20 unit dua kali per hari (selama 3 hari). Dilakukan pungsi lumbal. Selain itu sebagai alternatif dapat diberikan antasid per oral. jenis kelumpuhannya adalah flaksid serta pola gangguan sensibilitasnya di samping mengenai kedua tungkai juga terdapat pada kedua lengan. Dan pada sindrom Guillain Barre. protein sedikit meninggi (50-120 mg/100 ml) dan kadar glukosa normal.8. Bila tidak dapat diberikan per oral dapat pula diberikan metil prednisolon intravena dengan dosis 0.

durasi ± 20 detik. 1 gram tiap malam). 125 gram protein. BAB IV ANALISIS KASUS Ny. datang ke poliklinik neurologi RSMH dengan keluhan utama pusing berputar dipengaruhi posisi kepala yang terjadi secara tiba-tiba. Setelah masa akut berlalu maka tonus otot mulai meninggi sehingga sering menimbulkan spasme kedua tungkai. Konstipasi dengan pemberian laksan. hal ini dapat diatasi dengan pemberian Baclofen 15-80 mg/hari. keluhan berkurang setelah pasien berdiam diri selama ± 30 detik. Pencegahan dekubitus dilakukan dengan alih baring tiap 2 jam. vitamin dosis tinggi dan cairan sebanyak 3 liter per hari diperlukan. Disamping terapi medikamentosa maka diet nutrisi juga harus diperhatikan. Rehabilitas harus dimulai sedini mungkin untuk mengurangi kontraktur dan mencegah komplikasi tromboemboli. Penderita juga mengalami mual ada. +12 jam sebelumnya penderita mengalami pusing berputar yang dipengaruhi posisi dari duduk ke baring dan sebaliknya.23 dan pemberian antibiotik sebagai prolifilaksis (trimetroprim-sulfametoksasol. atau diazepam 3-4 kali 5 mg/hari. Bila terjadi hiperhidrosis dapat diberikan propantilinbromid 15 mg sebelum tidur. R usia 25 tahun. .

Benign (jinak) berarti tidak mengancam nyawa dan tidak bersifat progresif. migraine. pandangan gelap tidak ada. kurang pendengaran tidak ada. Kejang tidak ada.24 muntah tidak ada. pandangan ganda tidak ada. pada kasus ini penderita merasa bahwa badannya berputar. Pada pasien vertigo. durasi vertigo ± 20 detik. seperti berbaring atau bangun tidur. keringat dingin tidak ada. gangguan motorik tidak ada. selain idiopatik. telinga berdenging tidak ada. keluhan muncul jika terjadi perubahan posisi dari duduk ke baring dan sebaliknya baring ke duduk. penyebab BPPV adalah idiopatik. Pada BPPV umumnya ditemui episode berputar ditimbulkan oleh gerakangerakan tertentu. penurunan kesadaran tidak ada. Vertigo pada pasien terjadi secara tiba-tiba dan dipengaruhi posisi kepala. Episode vertigo berlangsung 10 sampai 30 detik dan tidak disertai dengan gejala tambahan selain mual pada beberapa pasien. gangguan komunikasi tidak ada. berguling di tempat tidur. Tidak didapatkan gejala neurologis lainnya pada pasien. Sekitar 50%. riwayat operasi telinga tidak ada. riwayat hipertensi tidak ada. Vertigo ialah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh seperti rotasi (memutar) tanpa sensasi peputaran yang sebenarnya (dapat sekelilingnya terasa berputar atau badan yang berputar). Maka dari itu. yang bermanfaat untuk membedakan vertigo tipe sentral dan perifer. riwayat trauma kepala tidak ada. yaitu terjadi secara tiba-tiba dan dipengaruhi perubahan posisi kepala. riwayat diabetes mellitus tidak ada. gangguan sensibilitas tidak ada. Riwayat sakit telinga disertai keluar cairan dari telinga tidak ada. penyebab terbanyak adalah trauma kepala (17%) diikuti dengan neuritis vestibularis (15%). Dari keluhan utama maka kita dapat menyimpulkan bahwa penderita mengalami vertigo. Riwayat kepala pusing berputar ada sejak 4 tahun yang lalu. Hal ini merujuk pada etiologi BPPV penderita. Hal ini merujuk pada kondisi yang disebut Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). . penyebab BPPV pada penderita disimpulkan adalah idiopatik. bersifat paroxysmal dan positional. Gejala penyerta yang ditemui pada pasien adalah mual. dan keluhan berkurang setelah pasien berdiam diri selama periode tersebut. melihat ke atas atau meluruskan badan setelah membungkuk.

fungsi vegetatif. Selain itu tidak didapatkan adanya gejala rangsang meningeal dan gerakan abnormal. Pemeriksaan ini dapat membedakan vertigo sentral dan perifer.25 implantasi gigi dan operasi telinga. tidak ada periode laten. Pemeriksaan neurologis pada vertigo harus meliputi manuver Dix-Hallpike. bila diulangulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). Maka diagnosis klinis pasien adalah BPPV. vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. Pada pasien nistagmus horizontal muncul setelah 3 detik. sehingga dapat disimpulkan bahwa vertigo pada pasien adalah vertigo perifer. fukuda (-). Pada pemeriksaan neurologi tidak didapat kelainan pada pemeriksaan fungsi motorik. pemeriksaan nervi craniales lainnya dalam batas normal. dan fungsi luhur. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. Pada vertigo perifer. Pada pemeriksaan nervi craniales didapatkan nistagmus horizontal ada pada pemeriksaan N. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. Sedang pada vertigo sentral. dismetria (-). diagnosis topiknya adalah kanalis semisirkularis posterior sinistra dan diagnosis etiologinya adalah idiopatik. fungsi sensorik. nistagmus horizontal (+) dengan Dix-Hallpike ke kiri. BPPV kanalis posterior disebut juga sebagai tipe klasik dengan temuan nistagmus posisional paroksismal yang dapat diprovokasi dengan manuver Dix-Hallpike. BPPV dapat diklasifikasikan menjadi BPPV kanalis posterior dan kanalis lateralis (horizontal). Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat disimpulkan bahwa pasien menderita Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). Pada pemeriksaan gait dan keseimbangan didapatkan romberg (+ ). dan hanya terjadi setelah memposisikan Dix-Hallpike pada sisi yang . durasi < 1 menit. tidak terdapat kelainan pada pemeriksaan fisik umum dan spesifik. VIII. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kondisi umum baik. Manuver Dix-Hallpike menghasilkan torsional upbeating nystagmus yang terkait dalam durasi dengan vertigo subjektif yang dialami pasien. disdiadochokinesis (-). dapat juga sebagai akibat dari posisi tidur yang lama pada pasien post operasi atau bed rest total lama.

maka dapat disimpulkan bahwa kelainan terdapat pada kanalis semisirkularis posterior sinistra. Karena nistagmus dan vertigo muncul ketika melakukan manuver DixHallpike ke arah kiri. tidak dianjurkan untuk mendapat pengobatan medikamentosa. Manuver yang digunakan antara lain canalith repositioning procedure atau manuver Epley dan manuver Epley yang dimodifikasi. Vertigo akan berkurang dengan manuver rotasi kepala yang akan memindahkan deposit kalsium tersebut kembali ke vestibula. BPPV yang disebabkan oleh debris kalsium yang terdapat pada kanalis semisirkularis (canalithiasis).26 terkena. Secara umum penatalaksanaan BPPV untuk meningkatkan kualitas hidup serta mengurangi resiko jatuh yang dapat terjadi oleh pasien. . Penatalaksanaan BPPV secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu penatalaksanaan nonfarmakologi. Obat medikamentosa yang diberikan pada pasien yaitu Betahistine mesylate 3 x 6 mg dan Dimenhidrinat 3 x 50 mg. Pada pasien dilakukan manuver Epley dan edukasi untuk melakukan manuver Brandt-Darroff secara rutin di rumah. Medikamentosa dapat memberi manfaat jika digunakan untuk mengobati vertigo akut yang berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari. Selain itu obat-obatan juga bermanfaat untuk mengurangi gejala penyerta lainnya seperti mual dan muntah. umumnya kanalis posterior.