Anda di halaman 1dari 5

DEFISIENSI GIZI

1. PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN DEFISIENS I GIZI


A. KVA (KEKURANGAN VITAMIN A)
Masalah kekurangan vitamin A dapat diibaratkan sebagai fenomena gunung es
yaitu masalahn yang hanya sedikit nampak dipermukaan. Padahal, kekurangan
vitamin A subklinis yang ditandai dengan rendahnya kadar vitamin A tingkat
subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A dalam darah
laboraturium. Sedangkan masalah vitamin A pada balita secara klinis bukan lagi
masalah kesehatan masyarakat (prevalensi xeropthalmia <0,5%). Kurangnya asupan
vitamin A dapat berdampak pada terganggunya perkembangan organ pengelihatan
pada anak. Penyakit mata yang sering muncul akibat kurang vitamin A disebut
dengan Xeroptalmia (Dapkes,2015).
Gambar.1 Dampak kekurangan Vitamin A pada mata (Dapkes,2015)

Ada beberapa cara untuk menganggulangi KVA, salah satunya dengan pemberian
kapsul vitamin A dosis tinggi. Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada
bulan februari dan Agustus, sejak anak berumur enam bulan. Kapsul merah (dosis
100.000 IU) diberikan untuk bayi umur 6-11 bulan dan kapsul biru (dosisi 200.000

IU) untuk anak umur 12-59 bulan. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita
usia 6-59 bulan di Indonesia tahun 2013 mencapai 83,9%. Capaian ini sedikit lebih
tinggi dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 82,8%. Dengan peningkatan yang tidak
terlalu tinggi, maka masih diperlukan upaya untuk meningkatkan cakupan pemberian
kapsul vitamin A. upaya itu antara lain melalui peningkatan intergrasi pelayanan
kesehatan anak, sweeping pada daerah yang cakupannya masih rendah dan kampanye
pemberian kapsul vitamin A. Selain itu pastikan memberikan makanan yang kaya
dengan vitamin A kepada anak seperti hati, ikan,keju, alpukat, ortel, bayam, dan
sayuran hijau lainnya (Dapskes,2015)
DF : situasi kesehatan anak balita di Indonesia.2015.Infodatin.ISSN 2442-7659
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-anakbalita.pdf
B. Anemia
Anemia secara umum didefinisikan sebagai berkurangnya volume eritrosit atau

konsentrasi hemoglobin. Anemia bukan suatu keadaan spesifik, melainkan dapat


disebabkan oleh bermacam-macam reaksi patologis dan fisiologis. Anemia ringan
hingga sedang mungkin tidak menimbulkan gejala objektif, namun dapat berlanjut ke
keadaan anemia berat dengan gejala-gejala keletihan, takipnea, napas pendek saat
beraktivitas, takikardia, dilatasi jantung, dan gagal jantung. Anemia dapat
diklasifikasikan berdasarkan umur dan jenis kelamin dengan melihat jumlah
hemoglobin, hematokrit, dan ukuran eritrosit (Henry,2013).
Selain itu dengan dasar ukuran eritrosit (mean corpuscular volume/MCV) dan
kemudian dibagi lebih dalam berdasarkan morfologi eritrositnya. Pada klasifi kasi
jenis ini, anemia dibagi menjadi anemia mikrositik, normositik dan makrositik.
Klasifikasi anemia dapat berubah sesuai penyebab klinis dan patologis. Penyebab

anemia secara garis besar dibagi menjadi dua kategori yaitu gangguan produksi
eritrosit yaitu kecepatan pembentukan eritrosit menurun atau terjadi gangguan
maturasi eritrosit dan perusakan eritrosit yang lebih cepat. Kedua kategori tersebut
tidak berdiri sendiri, lebih dari satu mekanisme dapat terjadi (Henry,2013)

Tabel.1 Anemia Berdasarkan Ukuran Eritrosit (Hendry,2013)

Anak dengan anemia berkaitan dengan gangguan psikomotor, kognitif, prestasi


sekolah buruk, dan dapat terjadi hambatan pertumbuhan dan perkembangan. Anak
usia kurang dari 12 bulan dengan anemia terutama defi siensi besi kadar
hemoglobinnya bisa normal, denga nilai prediktif positif 10-40%.Oleh karena itu
diperlukan anamnesis dan pemeriksaan fi sik teliti untuk mendeteksi dan menentukan
penyebabnya sehingga pemeriksaan laboratorium dapat seminimal mungkin
(Hendry,2013).
DF : Pendekatan diagnosis anemia pada anak.2013.hendry irawan.fakultas kedokteran
katolik atmajaya, Jakarta Indonesia
http://www.kalbemed.com/Portals/6/08_205Pendekatan%20Diagnosis%20Anemia
%20pada%20Anak.pdf

ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA ANAK.

Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan masalah defisiensi nutrien tersering pada anak
di seluruh dunia terutama di negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Penyakit ini
disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh penderita. Secara epidemiologi, prevalens
tertinggi ditemukan pada akhir masa bayi dan awal masa kanak-kanak diantaranya karena
terdapat defisiensi besi saat kehamilan dan percepatan tumbuh masa kanak-kanak yang
disertai rendahnya asupan besi dari makanan, atau karena penggunaan susu formula dengan
kadar besi kurang (Ending,2013)
Selain itu ADB juga banyak ditemukan pada masa remaja akibat percepatan tumbuh,
asupan besi yang tidak adekuat dan diperberat oleh kehilangan darah akibat menstruasi pada
remaja puteri. Data SKRT tahun 2007 menunjukkan prevalens ADB. Angka kejadian anemia
defisiensi besi (ADB) pada anak balita di Indonesia sekitar 40-45%. Gejala yang paling
sering ditemukan adalah pucat yang berlangsung lama (kronis) dan dapat ditemukan gejala
komplikasi, a.l. lemas, mudah lelah, mudah infeksi, gangguan prestasi belajar, menurunnya
daya tahan tubuh terhadap infeksi dan gangguan perilaku (Ending,2013)

Menangani anemia defisiensi besi menurut Ending,2013 :


Penanganan anak dengan anemia defisiensi besi yaitu :
1. Mengatasi faktor penyebab.
2. Pemberian preparat besi

Oral
1. Dapat diberikan secara oral berupa besi elemental dengan dosis 3 mg/kgBB sebelum
makan atau 5 mg/kgBB setelah makan dibagi dalam 2 dosis.

2. Diberikan sampai 2-3 bulan sejak Hb kembali normal


3. Pemberian vitamin C 2X50 mg/hari untuk meningkatkan absorbsi besi.
4. Pemberian asam folat 2X 5-10 mg/hari untuk meningkatkan aktifitas eritropoiesis
5. Hindari makanan yang menghambat absorpsi besi (teh, susu murni, kuning telur, serat)
dan obat seperti antasida dan kloramfenikol.
6. Banyak minum untuk mencegah terjadinya konstipasi (efek samping pemberian preparat
besi)
Parenteral
Indikasi:
1. Adanya malabsorbsi
2. Membutuhkan kenaikan kadar besi yang cepat (pada pasien yang menjalani dialisis yang
memerlukan eritropoetin)
3. Intoleransi terhadap pemberian preparat besi oral
DF : IDAI Indonesian pediatric society. 2013. Ending widiastuti
http://idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-anak