Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Stroke adalah penyebab utama penyakit serebro vaskuler (CVD) dan merupakan
penyebab kematian kedua tersering dan kecacatan jangka panjang. Sekitar 80-85% dari
seluruh kasus Stroke disebabkan oleh infark dan lebih dari setengahnya merupakan
Stroke infark aterotrombotik.
Kadar fibrinogen yang meningkat telah dipastikan sebagai salah satu factor resiko
Sroke. Kadar fibrinogen plasma merupakan komponen penting dalam kas kade koagolasi
darah, disamping itu juga merupakan factor yang menentukan fiskositas dan aliran darah.
Peningkatan kadar fibrinogen secara epidemiologis berhubungan dengan penyakit
kardiovaskuler, Stroke, dan tromboemboli plasma.penelitian saat ini menyimpulkan
bahwa kadar fibrinogen plasma merupakan factor resiko independen terhadap stroke dan
penyakit jantung koroner.
Di Negara Eropa maupun di Asia sudah banyak, yang melaporkan bahwa kadar
fibrinogen merupakan salah satu factor yang berperan untuk terjadinya sroke dan onfark
miokardio. Di Indonesia belum banyak yang melaporkan peranan fibrinogen untuk
terjadinya stroke. Factor-faktor yang mempengaruhi kadar fibrinogen berbeda-beda tiap
individu seperti tinggi lemak, etnik dan factor genetic. Hasil meteanalalisis hubungan
fibrinogen dengan infark miokardium dan Stroke bervariasi dengan oddsrati: 1,8 (IK 95%
1,2:2,5) pad Framingham study dan 4,1 (IK 95% 2,3:6,9) pada Gottingen Risk Incidence
and Prevalence (GRIPS) study.
Mekanisme peranan fibrinogen dalam proses aterogenesis dan thrombosis belum
sepenuhnya jelas terungkap. Fibrinogen berpengaruh erat dengan hemostatis,
hemoneurologi, agregasi trombosit, dan fungsi endotel. Framingham study juga
memperlihatkan bahwa fibrinogen merupakan satu factor resiko independen sama seperti
dengan factor resiko, kolesterol, dan merokok. Kadar fibrinogen ditemukan lebih tinggi
daripada penderita dengan factor resiko lain seperti hipertensi, diabetes mellitus, obesitas,
dan peninggian hematokrit.
1

gejala klinis. BAB III :PENUTUP. klasifikasi. tujuan penulisan. klasifikasi. meliputi latar belakang. gejala klinik. epidemiologi. Defenisi Stroke adalah deficit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terkena (WHO. meliputi kesimpulan dan saran. BAB II PEMBAHASAN KONSEP MEDIS A. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah mengenai penyakit tidak menular “Stroke” ini yaitu untuk memahami pengertian. C. meliputi pengertian. 2 . Sistematika Penulisan BAB I :PENDAHULUAN. pengobatan dan pencegahan. BAB II :PEMBAHASAN. pengobatan dan pencegahannya supaya kita dapat mengantisipasi terjadinya kekembuhan Stroke. penyebab. 1989). dan sistematika penulisan. penyebab.B.

Thrombosis (bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak) 2. hal 2131). Penyakit ini merupakan peringkat ketiga penyebab kematian di United State. 9. Komsumsi alcohol. 1996. hal 67). Penyakit kardiovaskuler : arteria koronaria. 4. atrium. C. 5. Akibat Stroke pada setiap tingkat umur yang paling sering pada usia antara 75-85 tahun (Long C. (Smeltzer C. Faktor Resiko Pada Stroke 1. 7. Gejala itu muncul bervariasi. Sementara 3 . D. Barbara. penyakit jantung kongestif) Kolesterol tinggi Obesitas Peningkatan hematokrit (resiko infark cerebral). Suzanne. Penyalahgunaan obat (kokain). merokok. Gejala-gejala itu antara lain bersifat : a. 1996.2002. Iskemia (penurunan aliran darah ke area otak). gagal jantung kongestif. tergantung bagian otak yang terganggu. 8. Embolisme cerebral (bekuan darah atau material lain) 3. Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi.Gangguan peredaran darah di otak (GPDO) atau dikenal dengan CVA (Cerebro Vaskular Accident) adalah gangguan system saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu (Harsono. Diabetes mellitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi). hipertensi 2. Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah di bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit cerebrovaskuler selama beberapa tahun. Etiologi Penyebab-penyebabnya antara lain : 1. fibrilasi 3. Manifestasi Klinis Gajala-gajala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. dan kadar estrogen tinggi). 6. hal 176) B.

Kesulitan menilai jarak. Sudah menetap/permanen Gangguan yang muncul tertulis pada tabel : N DEFISIT NEUROLOGIK O 1. Homonimus hemianopsia (kehilangan setengah lapang penglihatan) b. d. Hemiparese b. a. c.Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. Kehilangan penglihatan perifer. lengan dan kaki pada sisi yang sama 4 . Kesulitan melihat pada - malam hari. DEFISIT LAPANG PENGLIHATAN a. Hal ini disebut Traisient Ischemic Attack (TIA). Diplopia DEFISIT MOTORIK 2. Mengabaikan salah satu - sisi tubuh. Hemiplegia MANIFESTASI - Tidak menghindari orang/objek ditempat - kehilangan penglihatan. memperberat atau malah menetap. Gejala makin lama makin berat (progresif) Hal ini disebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut progresif stroke atau stroke Inevolution. Sementara namun lebih dari 24 jam Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini disebut Reversible Ischemic Neurologik Defisit (RIND). b. Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama. - Kelemahan wajah. c. Tidak menyadari objek - atau batas objek Penglihatan ganda.

Tidak mampu menyusun - kata-kata yang diucapkan Kombinasi baik afasia reseptif dan ekspresif. Afasia ekspresif b. Ataksia d. DEFISIT VERBAL a. DEFISIT KOGNITIF - Kehilangan Memori Jangka Pendek dan - panjang Penurunan lapang perhatian 5 . perlu dasar berdiri yang luas - Kesulitan dalam membentuk kata 3.c. disfagia - Paralisis wajah. - Kesulitan dalam menelan - Kebas dan kesemutan - pada bagian tubuh Kesulitan dalam DEFISIT SENSORI Parestesia (terjadi pada sisi berlawanan dari lesi) propisepsi 4. tegak - Tidak mampu menyatukan kaki. Disatria e. lengan dan kaki pada sisi yang sama - Berjalan tidak mantap. Afasia global - Ketidakmampuan menggunakan symbol - berbicara. Afasia reseptif c. 5.

CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan atau infark 3. 2. MRI untuk mengetahui adanya edema. Penatalaksanaan medis 6 . Ultrasonografi Dopler : mengidentifikasi penyakit arteriovena 8. F. fungsi Lumbal .tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya pendarahan 6. Sinar X Tengkorak : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng penieal. laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap. bermusuhan - dan marah Perasaan isolasi E. angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang terganggu 5. hematom dan bergesernya struktur otak 4. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang penunjang yang dapat dilakukan adalah : 1. elektrolit. gula darah dsb. dan bila perlu analisa gas darah. EEG : memperlihatkan daerah lesi yang spesifik 7.menunjukkan adanya tekanan normal . kolesterol.6. DEFISIT EMOSIONAL - Kerusakan kemampuan - untuk berkosentrasi Alasan abstrak buruk Perubahan penilaian - Kehilangan control diri Labilitas emosional Penurunan toleransi pada situasi yang menimbulkan - stress Menarik diri Rasa takut. infark.

Data Objektif - Perubahan tingkat kesadaran Perubahan tonus otot (flaksid atau spastic).Gangguan penglihatan. kelemahan umum .Pulsasi : kemungkinan bervariasi . paralysis (hemiplegia). Diuretika : untuk menurunkan edema serebral. Sirkulasi Data Subjektif . femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal C.Distritmia. . Komplikasi 1.Hipertensi arterial . polisitemia. gagal jantung. Anti Koagulan : mencegah memberatnya thrombosis dan embolisasi G. B. 2. Hipoksia Serebral.atau paralysis. kesulitan istirahat (nyeri dan kejang otot). Pengkajian 1) Aktifitas dan Istirahat Data Subjektif . distritmia. 2.Denyut karotis.Kesulitan dalam beraktivitas : kelemahan. penatalaksanaan pada pasien stroke adalah: 1. Luasnya area cedera. Data Objektif . endokarditis bacterial). Integritas Ego 7 . perubahan EKG . Penurunan darah serebral 3.Mudah lelah. kehilangan sensasi.Riwayat penyakit jantung (penyakit katup jantung.Secara umum. KONSEP KEPERAWATAN STROKE A.

. kegembiraan. kesemutan/ kebas. gangguan tingkah laku (seperti : letergi. kesedihan.Nafsu makan hilang . .Obesitas (factor resiko).Inkontenesia.Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK . pipi. . sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/ mati. D.Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat. apatis. Makan/ Minum Data Subjektif . Data Objektif - Status mental : koma biasanya menandai stadium perdarahan. Sensori Neural Data Subjektif . peningkatan lemak dalam darah.Data Subjektif .Riwayat DM.Kelemahan. Data Objektif .Kesulitan berekspresi diri. disfagia . Eliminasi Data Subjektif .Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada - muka ipsilateral (sisi yang sama).Nyeri kepala : pada pendarahan intracerebral atau pendarahan subarachnoid. tenggorokan. anuria .Penglihatan berkurang .Distensi abdomen (kandung kemih sangat penuh). Gangguan rasa pengecapan dan penciuman. menyerang) dan gangguan fungsi kognitif.Pusing/ syncope (sebelum CVA / sementara selama TIA) .Problem dalam mengunyah (menurunnya reflek palatum dan faring) . tidak adanya suara usus (ileus paralitik).Perasaan tidak berdaya Data Objektif . F. E. 8 .Kehilangan sensasi lidah.

- Ekstremitas : kelemahan/ paralysis (kontralateral pada semua jenis stroke. kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata-kata. global/ - kombinasi dari keduanya. perhatian sedikit terhadap keamanan. pendengaran. Apraksia : kehilangan kemampuan mengguunakan motorik. . genggaman tangan tidak imbang. ketidakmampuan berkomunikasi 9 .Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan nafas. Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tidak bereaksi pada sisi ipsilateral. Wajah : paralisis/ parese (ipsilateral) Afasia (kerusakan atau kehilanga fungsi bahasa.Timbulnya pernafasan yang sulit dan/ atau tak teratur.Problem berbicara.Perokok (factor resiko) Tanda .Motorik/ sensorik : masalah dengan penglihatan . dan wajah yang pernah dikenali Gangguan berespon terhadap panas. Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat. Nyeri/ kenyamanan Data Subjektif . G.Suara nafas terdengar rinchi/ aspirasi I. warna. J.Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya Data Objektif . kesulitan untuk melihat objek. berkurang kesadaran diri. Interaksi sosial Data Objektif . berkurangnya reflek tendon dalam - (kontralateral). gelisah. dan dingin/ gangguan regulasi suhu - tubuh Gangguan dalam memutuskan. kata. ketegangan otot/ fasial H.Perubahan persepsi terhadap tubuh. stimuli taktil. .Tingkah laku yang tidak stabil. Keamanan Data Objektif . hilang - kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit Tidak mampu menenali objek. reseptif/ kesulitan berkata-kata komprehensif. Respirasi Data subjektif .

hilangnya refleks Kriteria hasil : Berikan posisi semi fowler Bunyi nafas vesikuler batuk) sesuai dengan kebutuhan (tidak bertentangan dgn masalah normal Tidak ada tanda-tanda sianosis dan pucat Tidak ada sputum keperawatan lain) Lakukan penghisapan lender dan pasang OPA jika kesadaran menurun Bila sudah memungkinkan lakukan fisioterapi dada dan latihan nafas dalam 10 .Riwayat hipertensi keluarga. shoping.Bantuan untuk transportasi. perawatan diri dan pekerjaan rumah. jalan nafas yang paten.Menentukan regimen medikasi/ penanganan terapi . menyiapkan makanan.d. Ukur tanda-tanda vital penumpukan sputum (karena kelemahan. Pertimbangan rencana pulang .Pengguunaan kontrasepsi oral L. Pengajaran/ Pembelajaran Data Subjektif .K. stroke . DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA KEPERAWATAN HASIL INTERVENSI Bersihan jalan nafas Pasien mampu mempertahankan Auskultasi bunyi nafas tidak efektif b. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN STROKE NO 1.

Kolaborasi: Pemberian ogsigen Laboratorium: Analisa gas darah. edema Kriteria hasil : atau oklusi pembuluh darah serebral Tingkat kesadaran membaik (GCS meningkat) fungsi kognitif. Penurunan perfusi Perfusi serebral membaik serebral b. darah lengkap dll Pemberian obat sesuai kebutuhan 2. bahasa respon pupil dll Observasi tanda-tanda vital (tiap jam sesuai kondisi pasien) Pantau intake-output cairan. mengejan dsb Pertahankan ligkungan yang nyaman Hindari fleksi leher untuk mengurangi resiko jugular Kolaborasi: Beri ogsigen sesuai indikasi Laboratorium: AGD. adanya perdarahan. memori dan motorik membaik TIK normal Tanda-tanda vital stabil Tidak ada tanda perburukan neurologis Pantau adanya tanda-tanda penurunan perfusi serebral :GCS. balance tiap 24 jam Pertahankan posisi tirah baring pada posisi anatomis atau posisi kepala tempat tidur 15-30 derajatHindari valsava maneuver seperti batuk. gula darah dll Penberian terapi sesuai advis CT scan kepala untuk diagnosa 11 .d. memori.

jika berat hindari memberi isyarat non verbal Kriteria hasil : Klien dapat mengekspresikan perasaan Lakukan komunikasi dengan wajar. Kriteria hasil : hemiparese tidak ada kontraktur atau foot drop kontraksi otot membaik mobilisasi bertahap Pantau tingkat kemampuan mobilisasi klien Pantau kekuatan otot Rubah posisi tiap 2 jan Pasang trochanter roll pada daerah yang lemah Lakukan ROM pasif atau aktif sesuai kemampuan dan jika TTV stabil Libatkan keluarga dalam memobilisasi klien Kolaborasi: fisioterapi 4. kerusakan mobilisasi aktif neuromuskuler.d. kerusakan neuromuscular. bahasa jelas. kelemahan. Gangguan komunikasi verbal b.dan monitoring 3. sederhana dan bila perlu diulang Memahami maksud dan pembicaraan orang lain dengarkan dengan tekun jika pasien mulai berbicara Pembicaraan pasien dapat dipahami Berdiri di dalam lapang pandang pasien pada saat bicara Latih otot bicara secara optimal Libatkan keluarga dalam melatih 12 .d. Gangguan mobilitas Pasien mendemonstrasikan fisik b. kerusakan sentral bicara Komunikasi dapat berjalan dengan baik Evaluasi sifat dan beratnya afasia pasien.

(Risiko) gangguan Kebutuhan nutrisi terpenuhi nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. BUN dalam batas normal Beri latihan menelan Beri makan via NGT Kolaborasi : Pemeriksaan lab(Hb. konsul ahli gizi 6.d. perubahan psikologi Cari tahu proses patogenesis yang mendasari Evaluasi adanya gangguan persepsi: penglihatan.Persepsi dan kesadaran akan sensori b. pemasangan NGT. lingkungan dapat dipertahankan perubahan transmisi saraf sensori. Hb. BUN). intake Kriteria hasil : nutrisi tidak adekuat Tidak ada tanda-tanda malnutrisi Kaji factor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum Hitung kebutuhan nutrisi perhari Berat badan dalam batas normal Observasi tanda-tanda vital Conjungtiva ananemis Catat intake makanan Tonus otot baik Timbang berat badan secara berkala Lab: albumin. integrasi. taktil Ciptakn suasana lingkungan yang nyaman Evaluasi kemampuan membedakan panas-dingin. Perubahan persepsi. 13 . Albumin.komunikasi verbal pada pasien Kolaborasi dengan ahli terapi wicara 5.

Kurang kemampuan Kemampuan merawat diri merawat diri b. konsultasi dengan ahli okupasi atau fisioterapi 14 . gangguan neuromuscular.d. pola hidup untuk memenuhi depresi. kebutuhan hidup sehari-hari kerusakan persepsi Melakukan perawatan diri sesuai kemampuan Mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber bantuan Pantau tingkat kemampuan klien dalam merawat diri Berikan bantuan terhadap kebutuhan yang benar-benar diperlukan saja Buat lingkungan yang memungkinkan klien untuk melakukan ADL mandiri Libatkan keluarga dalam membantu klien Motivasi klien untuk melakukan ADL sesuai kemampuan Sediakan alat Bantu diri bila mungkin Kolaborasi: pasang DC jika perlu.posisi dan proprioseptik Catat adanya proses hilang perhatian terhadap salah satu sisi tubuh dan libatkan keluarga untuk membantu mengingatkan Ingatkan untuk menggunakan sisi tubuh yang terlupakan Bicara dengan tenang dan perlahan Lakukan validasi terhadap persepsi klien dan lakukan orientasi kembali 7. meningkat kelemahan. penurunan mendemonstrasikan perubahan koordinasi otot. Kriteria hasil : kekuatan otot menurun. nyeri.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Stroke adalah penyebab utama penyakit serebro vaskuler (CVD) dan merupakan penyebab kematian kedua tersering dan kecacatan jangka panjang. 15 . Sekitar 80-85% dari seluruh kasus Stroke disebabkan oleh infark dan lebih dari setengahnya merupakan Stroke infark aterotrombotik.

Jakarta : EGC Pasambo. Doenges. Rencana Asuhan Keperawatan. Yourisna (2009). E Marylin (1999).B.  Jika penderita perokok dan alcohol menghentikan kebiasaannya akan sangat membantu. DAFTAR PUSTAKA Webs link : www. Makassar : EGC 16 . untuk mencegah terjadinya serangan ulang stroke perlu memperhatikan hal-hal di bawah ini :  Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter sehingga dokter dan penderita dapat bekerja bersama-sama untuk meningkatkan kesehatan penderita. Geoogle. Com/ penyakit Stroke 2009. Saran Bagi penderita stroke. Keperawatan Medikal Bedah III.