Anda di halaman 1dari 29

KASUS UJIAN

TINEA KORPORIS

Oleh:
BETHA NURVIA

110.2010.048

Penguji:
dr. Dono Utoro, Sp.KK

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RS BHAYANGKARA TK.1 POLRI KRAMATJATI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
PERIODE 31 OKTOBER-3 DESEMBER 2016

1

BAB I
STATUS PASIEN
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. Sri Wahyuningsih

Umur

: 57 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Asrama Polri Cipinang

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

No. RM

: 582739

ANAMNESIS
Autoanamnesis, tanggal 22 November 2016

Keluhan utama

: Bercak kemerahan yang terasa gatal pada perut,

payudara kanan dan paha atas sejak 1 tahun yang lalu

Keluhan tambahan

: Bercak kemerahan terasa perih apabila digaruk terus

menerus
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RS Polri Kramatjati dengan
keluhan timbul bercak kemerahan pada bagian perut, payudara dan paha pasien
sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu. Keluhan tersebut disertai dengan rasa gatal
yang diraskan terus menerus hingga mengganggu aktivitasnya. Awalnya bercak
kemerahan tersebut muncul dengan ukuran kecil di bagian perut bawah, namun
sekarang sudah bertambah luas hingga ke bagian payudara kiri dan paha atasnya.
Keluhan semakin bertambah apabila pasien sedang berkeringat. Pasien mengaku
sering menggaruknya karena tidak tahan dengan gatal yang dirasakannya, dan
terkadang terasa perih apabila terlalu kencang menggaruknya. Pasien juga
mengaku sempat mengobati sendiri keluhannya dengan mengoleskan obat cina
(sensey) sejak keluhan tersebut timbul. Namun keluhan dirasakan semakin
bertambah sehingga kurang lebih 2 bulan yang lalu pasien juga meminum sendiri
obat Insidal untuk mengatasi keluhannya. Keluhan gatal terasa berkurang dengan
meminum obat tersebut, namun bercak kemerahannya makin lama makin melebar
2

Akibat keluhannya yang tidak kunjung sembuh juga. riwayat asma (-). ataupun udara dingin. Pasien juga membantah sempat meminum obat. Riwayat penyakit jantung (-). debu. Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien memiliki penyakit diabetes mellitus sejak 10 tahun yang lalu Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada anggota keluarga lain yang mempunyai keluhan serupa dengan pasien. tonsil T1-T1 Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid maupun KGB Jantung : Suara jantung S1-S2 reguler. memakai atau mengoleskan sesuatu yang baru saat sebelum keluhannya muncul. Pasien membantah mempunyai riwayat alergi terhadap obat. wheezing -/- Abdomen : Cembung. bising usus (+) normal. dinding perut supel. hepatosplenomegali (-) 3 . murmur -/-. ronki -/-. nyeri lepas (-). PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan umum : Baik Kesadaran : Kompos mentis Tanda-tanda vital Tekanan darah : 140/80 mmHg Nadi : 86x/menit Pernapasan : 20x/menit Suhu : 36. sklera ikterik -/- THT : Faring hiperemis -/-. nyeri tekan (-). gallop -/- Paru : Suara nafas vesikuler. diabetes mellitus (-) III. makanan.7OC Kepala : Normocephali Mata : Konjungtiva anemis -/-. pasien memutuskan untuk berobat ke dokter spesialis kulit dan kelamin RS Polri Kramatjati.dan ada yang mulai menghitam. riwayat rhinitis alergi (-).

perut. 4 . sebagian diskret. bentuk tidak teratur. edema tungkai (-). sebagian konfluens. disertai skuama ptiriasiformis. ukuran terkecil numuler dan ukuran terbesar plakat. kering. batas sebagian tegas sebagian tidak tegas. sebagian menimbul sebagian tidak menimbul dari permukaan.Ekstremitas : Akral hangat. capillary refill< 2 detik Status Dermatologis Distribusi A/R Lesi Regional Payudara kanan. tampak tepi lesi lebih aktif pada bagian tengah (central healing) Efloresensi makula hiperpigmentasi dan papula eritematosa dengan tepi lesi lebih aktif daripada bagian tengah lesi (central healing). dan paha atas kiri multipel.

ukuran terkecil numuler dan ukuran terbesar plakat. tidak ada riwayat penyakit jantung. ataupun rhinitis alergi. tampak tepi lesi lebih aktif pada bagian tengah (central healing). V. dan pasien semakin sering menggaruknya. diabetes mellitus. Pada pemeriksaan fisik umum dalam batas normal. Pasien mempunyai riwayat diabetes mellitus sejak 10 tahun yang lalu. sebagian diskret. asma. bentuk tidak teratur. DIAGNOSIS BANDING Pitiriasis Versikolor Dermatitis ec diabetikum VI. batas sebagian tegas sebagian tidak tegas. Pada pemeriksaan dermatologis pada Payudara kanan. DIAGNOSIS KERJA Tinea Korporis VII. sebagian menimbul sebagian tidak menimbul dari permukaan. tampak lesi multipel. Dalam keluarga pasien tidak ada anggaota keluarga lain yang mempunyai keluhan serupa dengan pasien. RENCANA/ANJURAN PEMERIKSAAN - Pemeriksaan sediaan langsung dengan larutan KOH 10% dari kerokan lesi - Kultur Jamur pada media agar seboroud - Pemeriksaan dengan lampu wood - Pemeriksaan fungsi SGOT dan SGPT VIII. sebagian konfluens. perut. kering. RINGKASAN Pasien. Keluhan semakin lama semakin bertambah. Pasien sempat mengoleskan obat cina (sensey) dan meminum obat insidal untuk mengatasi keluhannya. PENATALAKSANAAN Non Medikamentosa  Tidak menggaruk area yang gatal 5 . Bercak kemerahan tersebut awalnya muncul pada bagian perut namun lama kelamaan meluas hingga ke bagian payudara dan paha nya. Perempuan 57 tahun datang dengan keluhan terdapat bercak kemerahan yang terasa gatal sejak 1 tahun yang lalu. dan paha atas kiri.IV.

 Menjaga kebersihan kulit dengan mandi sehari 2 kali  Mencegah area lipatan kulit dari kelembaban yang berlebihan dengan cara mengeringkan kulit setelah mandi dan berkeringat. diminum selama 14 hari  Topikal Miconazole cream. mengganti pakaian dalam ketika mulai berkeringat  Menggunakan pakaian yang dapat menyerap keringat (bahan katun)  Menganjurkan untuk menjaga daerah lesi agar tetap kering  Menghindari pemakaian handuk secara bersama-sama Medikamentosa  Sistemik Ketokonazole tablet dosis 1x200mg. PROGNOSIS Quo ad vitam : Ad bonam Quo ad functionam : Ad bonam Quo Ad Sanactionam : Ad Bonam 6 . dioleskan 2 kali sehari pada lesi IX. diminum pagi hari sesudah makan selama 14hari Loratadin tablet dosis 1x10mg.

pasien memiliki kebiasaan mandi 2x sehari. bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup.8  Tinea kruris adalah penyakit infeksi jamur dermatofita di daerah lipat paha. menyerang daerah kulit tak berambut pada wajah. genitalia dan sekitar anus yang dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah. dhobie itch. awalnya timbul di daerah perut. Gatal dirasakan terutama saat berkeringat. paha kiri atas dan payudara kanan sejak 1 tahun yang lalut. Pasien mudah berkeringat karena pasien mempunyai berat badan yang berlebih. Teori  Tinea korporis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur superficial golongan dermatofita. Pasien sering menggaruk pada bagian bercak sampai kadang terasa perih. ringworm of groin. lalu lama kelamaan menyebar ke bagian payudara dan pahanya.8  Faktor Predisposisi:6. Tinea kruris merupakan salah satu bentuk klinis yang sering di lihat di Indonesia6. Pasien tidak memelihara hewan apapun dirumah. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun.BAB III ANALISA KASUS A.  Riwayat psikososial. dan tungkai. pasien sehari-hari adalah seorang ibu rumah tangga yang hobi memasak.7.9  Menyerang pria dan wanita  Semua umur. Tinea kruris disebut juga eczema marginatum. badan. Pasien mengaku ventilasi dirumahnya cukup baik dan menggunakan ac dirumahnya. lengan. tidak pernah bertukar pakaian dan handuk dengan orang lain.7. tetapi lebih sering menyerang orang dewasa  Paling banyak di daerah tropis  Musim panas dan banyak berkeringat  Kebersihan yang kurang diperhatikan 7 .6. mengganti handuk 2 minggu sekali dan pasien jarang menjemur handuknya. mengganti seprai tempat tidur 1 bulan sekali.7. Analisis Diagnosis Kasus Anamnesis pada kasus:  Perempuan Usia 57th terdapat bercak kemerahan dan bersisik halus disertai gatal yang semakin bertambah pada perut.

dada. sebagian diskret. sebagian menimbul sebagian tidak menimbul dari permukaan. ukuran terkecil numuler dan ukuran terbesar plakat. kering. punggung. dan paha atas kiri. Pada tepi lesi dijumpai papula eritematosa atau vesikel. Pada perjalanan penyakit yang kronik dapat dijumpai likenifikasi. Gambaran tersebut dapat polisiklis. Efloresensi dan sifat: lesi berbentuk makula atau plak yang merah atau hiperpigmentasi dengan tepi aktif dan penyembuhan sentral. sebagian konfluens. perut. bentuk tidak teratur. tampak tepi lesi lebih aktif pada bagian tengah (central healing). atau geografis Analisis Diagnosis Banding pada Kasus Diagnosis Banding pada Kasus: Tanda&Gejala Tinea Korporis Gatal bertambah ketika berkeringat √ Lesi berbatas tegas √ Polisiklis dengan tepi aktif. tampak lesi multipel. perut. Teori: Tinea korporis: Lokalisasi: wajah. batas sebagian tegas sebagian tidak tegas. Makula hiperpigmentasi √ Eritema √ Skuama √ 8 . tepi lesi √ tampak meninggi. anular. anggota gerak atas dan bawah. Lingkungan yang kotor dan lembab  Obesitas Pemeriksaan Status Dermatologis pada Kasus Status Dermatologis Pada Pemeriksaan fisik dermatologis didapatkan distribusi regional pada Payudara kanan.

11 atau tumbuhan6. Kultur Jamur pada media agar seboroud. disarankan untuk dilakukan perencanaan pemeriksaan penunjang seperti Pemeriksaan sediaan langsung dengan larutan KOH 10% dari kerokan lesi. Setelah kurang lebih  dua minggu koloni daripada jamur mulai dapat kita baca secara makroskopis.Kadang-kadang kita perlukan juga mikobiotik.Lesi pada lipatan paha √ Lesi pada perut - Teori: Epidetmophyton Trichopyton Microsporum Menyerang kulit Menyerang kulit. Beberapa kasus membutuhkan pemeriksaan dengan lampu wood yang mengeluarkan sinar UV dengan gelombang 3650 Å yang jika didekatkan pada lesi akan timbul warna kehijauan. dan dengan Pemeriksaan dengan lampu wood. 9 . dan Menyerang kulit dan rambut Penularan melalui tanah dan rambut Penularan hewan ke manusia6.11  Diagnosis banding tersebut pada kasus dapat disingkirkan sebagai diagnosis kerja dikarenakan perbedaan penularan sehingga diagnosis kerja tinea korporis dapat ditegakkan>  Untuk menajamkan kembali diagnosis. kuku. Analisis Rencana Pemeriksaan Penunjang - Pemeriksaan sediaan langsung dengan larutan KOH 10% dari kerokan lesi - Kultur Jamur pada media agar seboroud - Pemeriksaan dengan lampu wood Teori  Untuk mengetahui golongan ataupun spesies daripada jamur dilakukan pembiakan dengan media yang standar yaitu Sabouraud Dextrose Agar (SDA).11 Penularan manusia ke manusia6.Pemeriksaan dengan lampu wood dapat menolong dengan adanya effloresensi merah (coral red) pada penderita kandidiasis.

diminum pagi hari sesudah makan selama 14hari Loratadin tablet dosis 1x10mg. menjaga tubuh agar tidak terlalu berkeringat. mengganti pakaian dalam ketika mulai berkeringat  Menggunakan pakaian yang dapat menyerap keringat (bahan katun)  Menganjurkan untuk menjaga daerah lesi agar tetap kering  Menghindari pemakaian handuk secara bersama-sama Medikamentosa  Sistemik Ketokonazole tablet dosis 1x200mg. diminum selama 14 hari  Topikal Miconazole cream. dioleskan 2 kali sehari pada lesi Teori: Tatalaksana non medikamentosa terutama diarahkan untuk tetap menjaga higiene / kebersihan diri melalui mandi dan mengganti pakaian. Analisis Penatalaksanaan Kasus: Non Medikamentosa  Tidak menggaruk area yang gatal  Menjaga kebersihan kulit dengan mandi sehari 2 kali  Mencegah area lipatan kulit dari kelembaban yang berlebihan dengan cara mengeringkan kulit setelah mandi dan berkeringat. pemeriksaan ini dilakukan supaya penatalaksanaan yang diberikan kepada pasien tidak memberatkan fungsi hati pada pasien. tidak menggunakan handuk / barang pribadi lain secara 10 . Lalu pemeriksaan fungsi hati dilakukan untuk melihat fungsi hati pada pasien sebelum diberikan pengobatan karena pengobatan ketokonazole mempunyai efek samping terhadap fungsi hati.

Keadaan umum. Ketoconazole bekerja dengan menghambat enzim sitokrom jamur sehingga mengganggu sintesis ergosterol yang merupakan komponen penting dari membran sel jamur.Obat ini bersifat hepatotoksik sehingga tidak boleh diberikan pada pasien dengan kelainan hepar.Ketokonazolbersifat fungistatik dan dapat menjadi alternatif pilihan bila terjadi resistensi pada griseofulvin. serta kepatuhan berobat. 11 . asam undesilinat. Agar tidak residif. Candida Sp. pengobatan dilanjutkan selama 2 minggu setelah terjadi kesembuhan secara klinis. Sebagai alternatifnya. dan tonafal 1-2 kali sehari selama 2-4 minggu. penyebab penyakit. misalnya Tricophyton Sp. secara medikamentosa dapat diberikan administrasi obat topikal dan sistemik. menghindari kontak langsung dengan hewan yang disangka menularkan jamur. serta keadaan imunitas penderita. Berdasarkan pedoman PERDOSKI tahun 2011. Berdasarkan Prognosis  Quo Ad vitam : Ad Bonam Tidak ada gejala atau tanda yang mengarah kepada ancaman kematian. Lamanya pengobatan bergantung pada lokasi penyakit. Ketoconazole adalah suatu derivat imidazole-dioxolane sintetis yang memiliki aktivitas antimikotik yang poten terhadap dermatofit dan ragi. siklopiroksolamin. Obat topikal terpilih berasal dari golongan alilamin. atau gagal respons dengan pengobatan topikal. Pemberian dilakukan selama 10 hari – 2 minggu pada pagi hari setelah makan. serta terbinafin oral 1 x 250 mg/hari.bergantian. dapat diberikan golongan azol.Pemberian obat dilakukan hingga secara klinis ditemukan perbaikan diikuti dengan hasil negatif pada pemeriksaan laboratorium. terjadi lesi luas / ekstensif. Epidermophyton floccosum. Pilihan obatnya adalah griseofulvin oral 10-25 mg/kg BB/hari. dan tanda vital pasien masih dalam batas normal. Obat sistemik diberikan apabila lesi terjadi secara kronik. Pityrosporum Sp. diberikan sekali sehari selama 1-2 minggu. itrakonazol 2 x 100 mg/hari. ketokonazol 200 mg/hari. kesadaran.

 Quo Ad functionam : Ad Bonam tine menimbulkan lesi yang tidak mengganggu fisiologis kulit secara bermakna  Quo Ad Sanactionam : Ad Bonam Dengan menghilangkan faktor predisposisi maka penyakit ini dapat diobati secara tuntan dan sembuh Teori Prognosis penyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang tepat asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga 12 .

DEFINISI Mikosis superfisial disebabkan oleh jamur yang hanya menyerang jaringan yang berkeratin. stratum korneum. yang memiliki sejarah pribadi. Anak-anak lebih berpotensi untuk tertular patogen zoofilik. jika ada. Ia bisa dibagi lagi menjadi infeksi yang menimbulkan secara minimal. e. khususnya spesies zoofilik. menyebabkan respon inflamasi e.g. pekerjaan di luar ruangan. Ini termasuk lesi pada batang tubuh dan tungkai 3. Meluasnya tinea korporis mungkin merupakan tanda dari Acquired Iimmunodeficiency Syndrome (AIDS). Penderita tinea korporis yang mempunyai pekerjaan atau yang sering berekreasi dimana mereka sering terpapar (misalnya perumahan militer. Laki-laki lebih besar potensi untuk tertular berbanding perempuan 5. EPIDEMIOLOGI Faktor predisposisi infeksi mikosis datangnya dari hewan peliharaan yang merupakan faktor terpenting. II. dan mengalami imunosupresi 3. telapak kaki dan pangkal paha 2 . gulat). 13 . mempunyai kontak dengan pakaian dan furniture yang terkontaminasi.e. dan yang bisa menyebabkan peradangan kulit (kutaneus). gimnasium. dermatofitosis 1. Seterusnya. Tapi itu bisa terjadi pada usia berapapun 5. i.g. rambut dan kuku. Pitiriasis (Tinea) versikolor. Tinea korporis merujuk pada semua dermatofitosis pada kulit gundul kecuali telapak tangan. atau kontak yang dekat dengan penderita tinea kapitis atau tinea pedis. terutama Microsporum canis dari anjing dan kucing 2. ruang loker. atau mungkin terkait dengan penggunaan kortikosteroid topikal atau inhibitor kalsineurin 4.TINJAUAN PUSTAKA TINEA KORPORIS I.

Sering. seperti granular zoofilik. Wabah tinea korporis yang disebabkan oleh Trichophyton tonsurans dilaporkan banyak terjadi pada mahasiswa dan pegulat 5. Trichophyton mentagrophytes terkait dengan tikus bambu Asia Tenggara. Ia bisa menginfeksi melalui fomites. iklim lembab hangat terkait dengan seringnya dan parahnya suatu infeksi kerana ia menciptakan suatu lingkungan di mana dermatofit dapat berkembang biak 2. Jarang. babi guinea. tinea fasialis. tinea manum. Trichophyton Sapi.Pakaian dan. Trichophyton mentagrophytes Manusia. dan Trichophyton mentagrophytes adalah penyebab yang paling sering ditemukan. III. Microsporum canis.anak. tinea barbae. yang dapat menyebabkan wabah yang sangat meluas inflamasinya 4. tinea Sering. onikomikosis. tinea kapitis (biasanya kerion). Spesis Hos Gambaran klinis Frekuensi Trichophyton Trichophyton rubrum Manusia. granulosum Tikus. kuda. tinea korporis. interdigitale var. Tinea korporis. tinea barbae. ETIOLOGI Trichophyton rubrum. atau melalui autoinokulasi dari reservoir seperti kolonisasi kaki disebabkan oleh Trichophyton rubrum 2. Jalur penularannya dari infeksi manusia atau hewan. Tinea korporis. Trichophyton Manusia. Lesi kelompok kecil biasanya disebabkan oleh paparan terhadap hewan peliharaan yang mengandung Microsporum canis 4. var. Sering pada anak. tinea manum. Trichophyton erinacei Landak. Umum di Mediterania 14 . Jamur zoonosis yang lain. verrucosum Tinea korporis. Tinea kapitis. Tinea pedis. barbae. tinea kapitis.

meskipun transmisi fomite diketahui terjadi. Tinea kapitis Sering (Jarang di Amerika gypseum Microsporon Utara) audouinii Tabel 1: Etiologi infeksi dermatofitosis 6.tinea korporis. wilayah. Tinea kapitis (favus). Tinea kapitis. tinea korporis Sering. separuh dari infeksi dapat berasal dari orang tua mereka 3. Tinea kapitis. kucing. IV. Sumber infeksi biasanya berasal dari lesi aktif pada hewan atau manusia lain. di daerah endemic. Microsporon Tanah. Tinea kapitis (black dot). Manusia. Pada anak-anak yang terinfeksi Trichophyton rubrum dan Epidermophyton floccosum. pedis. Amerika Tengah. tinea korporis. tinea korporis Sering. tinea Jarang. Umum di Amerika Utara dan tinea korporis. 15 . PATOGENESIS Infeksi alami didapatkan melalui deposisi arthrospores atau hifa pada permukaan kulit individu yang rentan terhadap infeksi. dan infeksi dari tanah adalah yang sering terjadi dalam beberapa kejadian. Epidermophyton Epidermophyton Manusia. Microsporon Microsporon canis Anjing. floccosum Tinea inguinalis. tonsurans Trichophyton Manusia schoenleinii Onikomikosis. Jarang. violaceum Trichophyton Manusia.

Lesi tunggal bisa ditemukan. Tingkat 16 . yang biasanya berlangsung 1-3 minggu. bawah leher ke bagian badan yang atas. atau dari lipat paha ke bokong dan badan bagian bawah 3. 7. Cincin konsentris yang bersifat vesikuler menandakan ciri-ciri dari tinea inkognito yang disebabkan oleh Trichophyton rubrum. Menyebarnya dari infeksi lokal yang sudah ada (misalnya kaki. Namun. Lesi bisa serpiginous dan annular (seperti 'lingkaran-cacing "). Dalam kasus tersebut. sementara kasus khas seperti Trichophyton rubrum yang menyebabkan tinea korporis dapat bertahan selama bertahun-tahun lamanya 3. sedangkan cincin konsentris tinea imbrikata menunjukkan sedikit atau tidak ada vesikulasi sama sekali 2. respon jaringan terhadap infeksi menjadi semakin jelas 3. hasil dari eliminasi jamur dari pusat lesi. Pola klinis ini sering berubah terutama pada pasien dengan gangguan pada respon imun seluler. Setelah periode pembentukan (inkubasi) ini. Invasi kulit pada tempat infeksi diikuti oleh penyebaran sentrifugal melalui lapisan epidermis yang bertanduk. Beberapa kasus radang infeksi hewan dapat mengalami resolusi secara spontan dalam beberapa bulan. meskipun gelombang kedua penyebaran sentrifugal dari situs asli mungkin terjadi dengan pembentukan cincin inflamasi eritem yang konsentris. Yang keduanya ia mungkin tetap terpisah atau bergabung menjadi satu. epidemi mungkin terjadi diantara pasien. kulit kepala dan kuku) tidak lazim terjadi. atau mungkin juga ada beberapa plak yang terbentuk. Munculnya ciri khas dari infeksi iaitu banyak lesi yang berbentuk annular. banyak lesi kurang memiliki kecenderungan untuk pembersihan pada bagian sentral dari lesi sebelumnya. kecuali jika infeksinya merupakan perpanjangan dari infeksi yang sudah ada.Di bangsal geriatri. Perbatasan ini sering bersifat vesikular dan sentrifugal. V. infeksi dapat menyebar dari kulit kepala. MANIFESTASI KLINIS Lokasi terjadinya infeksi biasanya pada kulit yang terpapar. Presentasi klasik dari infeksi ini adalah lesi annular yang bersisik di seluruh perbatasan yang eritem. dan resolusi berikutnya adanya respon host inflamasi di lokasi tersebut. Pusat lesi biasanya bersisik tapi kelihatan seperti pembersihan. lipat paha. Daerah ini biasanya menjadi resisten terhadap terjadinya infeksi ulang. Riwayat alamiah dari infeksi ini sangat bervariasi.

Melanesia. bercak yang luas dengan batas polisiklik. Pada infeksi dengan inflamasi yang kurang. makula yang bulat di badan dan lengan. Asia Tenggara. Hal ini mungkin lebih sering pada lesi inflamasi. disebabkan oleh Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes yang menginfeksi pada rambut. Resolusi sentral yang sudah dinyatakan. perubahan tekstur atau sisa nodul kulit yang eritem 3. dan makula yang agak kecoklatan muncul di pusat dan mengalami proses pemecahan dan perluasan di perifer. annular. Eritema biasanya minimal. Hal ini berulang lagi dan lagi. Kadang-kadang. berkerak. sudah menjadi ciri khas tetapi tidak berubah-ubah dari tinea korporis. tetapi tidak berarti terbatas pada itu saja. lesi mungkin bersifat dalam dan nodular 4. Makula yang kecil membelah di pusat dan membentuk makula yang besar. 17 . makula yang membentuk seperti cincin menyebar di perifer. Fitur ini tidak hanya tergantung pada jenis jamur dan status kekebalan dari tuan rumah. Saat berkembang penuh erupsi ditandai dengan cincin konsentris disusun atau garis bergelombang sejajar yang bersisik yang bertumpang tindih antar satu sama lain seperti herpes zoster pada atap (imbrex berarti sirap). Dengan demikian. pustul atau vesikel dapat mendominasi dan bahkan pada infeksi ringan dengan observasi yang ketat kita dapat mengungkapkan satu atau dua pustul yang kecil. dan Amerika Tengah. meninggi. Lesi sering terlihat di daerah yang terjadi sumbatan seperti bagian yang sering dicukur atau ketika kortikosteroid topikal telah digunakan. tetapi juga bergantung dengan luasnya invasi dari folikel. Dalam lesi inflamasi. dan sisik yang terkelupas menempel di pinggiran. Ini paling sering terjadi pada tulang kering atau pergelangan tangan. sisik merupakan temuan umum tetapi tidak konstan pada setiap infeksi. Tinea imbrikata (Tokelau) adalah infeksi jamur superfisial sebatas barat daya Polinesia. Jenis lesi ini adalah folikulitis jamur (Majocchi Granuloma) yang paling sering. Penyebabnya adalah jamur adalah Trichophyton concentricum 4. India. Erupsi dimulai dengan satu atau beberapa yang ukurannya kecil. jenis pustular yang sama seperti tinea circinata menyerupai sebuah karbunkel atau kerion terdapat pada kulit yang berbulu. Pada pasien imunosupresi. Kulit yang di bagian sentral akan menunjukkan pigmentasi yang terjadi pasca inflamasi. Hal ini ditandai dengan cincin konsentris yang terbentuk serta bersisik. Hasilnya. dan granuloma berawa di mana folikel yang menggelembung dan mengandung bahan purulen yang kental.peradangannya juga sangat bervariasi. tinea korporis umumnya kurang inflamasi dibanding tinea kapitis atau tinea barbae. Ia muncul sebagai lesi berbatas tegas.

18 .

1 2 19 .

20 .Gambar: (1) Lesi di bagian badan atas (Makula eritema berbentuk annular R. DIAGNOSIS Anamnesis menyeluruh dan menentukan effloresensi dari lesi kulit. Trunkus superior) 8. 6. VI. kuret. Biasanya kita akan bisa melihat hifa atau spora setelah melarutkan keratin dalam larutan 10-15% dari kalium hidroksida (KOH pemeriksaan). Gunakan instrumen yang steril (scalpel blade. Palmar) 3. Pertama. (2) Lesi di bagian tungkai bawah (Makula eritema berbatas tegas skuama halus R. gunting) untuk mendapatkan jaringan dari zona perbatasan antara jaringan normal dan yang terlibat (di mana konsentrasi organisme biasanya adalah yang tertinggi) 4. Selain itu melakukan pemeriksaan mikroskopis. Pewarna (chlorazol hitam E) atau fluorochromes (untuk mikroskopi fluoresen) dapat ditambahkan 4. 7. Gambar 3: Hasil pemeriksaan mikroskopis dengan larutan KOH: hifa yang panjang dan bercabang 7. Mengambil specimen yang akan diperiksa dengan melakukan kerokan kulit pada lesi kulit tersebut. 6. mendisinfeksi situs untuk mengurangi kontaminasi.

Terdapat juga pemeriksaan lampu Wood yang bisa kita lakukan kerna ia biasanya berguna untuk mendeteksi infeksi dari spesies Microsporon dan Trichophyton 21 . Kita juga bisa melakukan kultur hasil dari kerokan kulit yang telah dilakukan. (c. Makrokonidia yang berbentuk seperti rokok kadang. Banyak media kultur standar yang tersedia. biasanya dua kultur dibuat. 6.Gambar 4: Mikrokonidia yang bergumpal. d): Hasil kultur dilihat dari bagian lateral 7 . 7 . Gambar 5: (a. b): SDA kultur pada hari ke 7 dan 10.kadang terlihat hifa yang spiral 7 . satu di media yang mengandung cycloheximide (untuk dermatofita) dan satu tanpa (ragi dan jamur) 4.

dan acantosis spongiosis di epidermis. DIAGNOSIS BANDING Terdapat beberapa infeksi yang dapat di jadikan diagnosa banding bagi tinea korporis. gatal. dengan mononuklear sel dan neutrofil jarang infiltrasi di dermis. sering terlihat pada individu atopic 2. VII.schoenleinii. 22 . Infeksi dari dermatosis refraktori kronis sering mengungkapkan infeksi dari tinea inkognito 4. Pemeriksaan lampu Wood yang negatif ini tidak mengecualikan infeksi jamur 4. Kronis. hiperkeratosis. dermatitis inflamasi yang terjadi dalam bentuk plak berbentuk koin terdiri dari dikelompokkan papula kecil dan vesikel pada dasar eritematosa. spongiosis acantosis dan di epidermis dengan sel mononuklear dan neutrophile jarang infiltrasi dalam dermis (H & E. Eksema nummular merupakan sumber umum kesalahan kerna ia adalah diagnosis yang hampir sama persis dengan tinea korporis. Hal ini biasanya pada ekstremitas selama musim dingin. x100) 9. psoriasis dan pitiriasis rosea 6. parakeratosis. Antarnya adalah eksema nummular. Bahan biopsi menunjukkan pembentukan kerak dangkal. dermatitis seboroik. Gambar 6: Pembentukan kerak di superfisial. hiperkeratosis. Plak dari papulovesicles cenderung terjadi simetris pada tungkai 3. 6. parakeratosis.

seperti sebagai wajah dan kulit kepala. dan tubuh lipatan 2. daerah presternal. Dermatitis seboroik sering menyebabkan kesulitan dalam mendiagnosis tinea korporis. Namun gambaran klinisnya biasanya simetris dan yang sering ada pada dermatitis seboroik adalah ia berhubungan pada kulit kepala dan mungkin intertrigo pada bagian lipatan tubuh 3. Sebuah dermatosis kronis yang sangat umum ditandai dengan kemerahan dan bersisik yang terjadi di daerah di mana kelenjar sebaceous yang paling aktif. sisik. Dari jarak dekat dari lesi pada pasien lain mengungkapkan bahwa plak inflamasi ini terdiri dari konfluen lesi papulovesikular yang cairan cairan serous dan menyebabkan pengerasan kulit dan biasanya berwarna kuning) 2.Gambar 10: Eksema nummular (A. B. nummular (koin berbentuk) plak dengan eritema. 23 . pruritus. bulat. dan kerak pada lengan bawah.

24 . lipatan nasolabial. siku dan kulit kepala.Gambar 7: Dermatitis seboroik (Lesi yang eritema dan kuning-oranye bersisik benbentuk annular dari dahi. pipi. terutama jika pitting hadir. Lesi tipikalnya adalah lesi yang kronis. Letusan berjerawat dan eritroderma bisa terjadi 2. dan yang mengenai kuku. berulang. dan dagu. Daerah kulit kepala dan retroauricular juga terlibat. Ia bisa terjadi pada lutut.) 2. sangat membantu membedakan dalam kasus ini 3. papula dan plak bersisik. Psoriasis dapat menyebabkan kebingungan dalam kasus kerana distribusinya tidak cukup khas.

Pruritus.absen (25%). (primer. Ada lesi Herald patch terjadi di hampir 80% pasien. B. Bentuk oval. 25 . ringan (50%). 1 atau 2 minggu kemudian letusan sekunder umum terjadi dengan pola distribusi yang khas. sedikit mengangkat plak atau patch 2-5 cm. Gambaran umum eksantema dari pitiriasis rosea dengan patch Herald yang ditunjukkan dalam B. Scaling halus dari papula yang merah seperti salmon yang tidak dapat dilihat pada perbesaran ini. droplike. Lesi biasanya oval.Gambar 8: Psoriasis (Lesi primer kemerahan atau warna salmon pink. biasanya pada trunkus. Warnanya pink kusam atau kuning kecoklatan. Prosesnya bisa sembuh spontan dalam 6 minggu. Collarette berarti bahwa sisik di pinggiran dan longgar menuju pusat lesi 2. Jarang di wajah 2. Ada juga exanthem yang papula bersisik halus dan plak dengan piggiran yang collarette. dengan distribusi karakteristik dengan sumbu panjang lesi oval mengikuti garis pembelahan seperti pola "pohon Natal". tersebar. sedangkan collarette patch herald cukup jelas. atau "herald") lesi plak tunggal dan bisa berkembang. papula. Terdapat Herald patch yang tunggal mendahului fase exanthematous. Lesi biasanya terbatas pada badan dan aspek proksimal lengan dan kaki. Sebuah eritematosa (salmon yang merah) plak dengan sisik collarette pada tepi ujung perbatasan . Pitiriasis rosea merupakan letusan exanthematous akut dengan morfologi yang khas dan sering dengan karakteristik perjalanan penyakit yang terbatas. Reaktivasi Human Herpes Virus (HHV) 7 dan HHV-6 adalah penyebab yang paling mungkin 2. atau berat (25%). Gambar 9: A. dengan sisik pipih putih keperakan ) 2. Ada papula dan plak kecil dengan konfigurasi oval yang mengikuti garis belahan dada. yang berkembang selama 1-2 minggu. Awalnya. bersisik collarette baik di pinggiran dan mungkin multipel. Herald Patch. dengan warna yang merah seperti salmon.

clotrimazole (Lotrimm atau krim Mycelex). Ekonazol. atau krim Micatin). dan terbinafine dapat digunakan sekali sehari. clclopirox olamine (Loprox). Dengan terbinafine saja dapat dipersingkat menjadi 1 minggu. Jadi penggunaannya harus dihentikan 4. oxiconazole. oxiconazole (Oxistat). 26 . VIII. terbinafine (Lamisil). ketoconazole (Nizoral).Dermatitis nunmular Pitiriasis rosea Dermatitis seboroik Dermatofit jamur Parakeratosi s Dari fokal ke difus Tumpukan fokal yang kecil Perifolikular Ringan Acanthosis Ringan Ringan Ringan Ringan Spongiosis Ringan Fokal ringan Ringan Ringan Ekstravasasi sel darah merah Tidak Ya Tidak Tidak Eosinofil Ya Tidak Tidak Kadangkadang Asam Schiff negatif Negative Biasanya positif (Pitirosporum) Positif (hifa) Tabel 3: Histologi dari diferensial diagnosis 8 . miconazole (Monistat krim atau lotion. dan Butenafine (Mentax) yang tersedia saat ini dan sangat efektif. ekonazol (Spectazole). PENATALAKSANAAN Penyakit lokal tanpa folikulitis jamur dapat diobati dengan terapi topikal Sulconazole (Exelderm). Naftifine (Naftin) . Waktu pengobatan adalah antara 2 dan 4 minggu dengan dua kali penggunaan sehari-hari. Produk kombinasi dengan kortikosteroid kuat (seperti clotrimazole / betametason) sering menghasilkan tinea luas dan jamur folikulitis. ketoconazole.

PROGNOSIS Infeksi jamur adalah sangat umum dijumpai di daerah tropis dan beberapa efek dari infeksi diantaranya serius dan bahkan bisa fatal. 200 mg / hari selama 1 minggu.Penyakit yang meluas atau folikulitis jamur. Mereka menghasilkan penularan pada 27 . Bentuk ultra-micronized dari griseofulvin mungkin efektif dalam dosis 5001000 mg / hari selama 4 sampai 6 minggu. telah dosis yang efektif untuk orang dewasa 4. terbinafine. T. flukonazol dan kesemuanya efektif. Perawatan dalam jangka masa yang pendek yang dapat dilakukan dengan antijamur yang lebih baru. 150 mg sekali seminggu selama 4 minggu. Terbinafine pada 250 mg / hari selama 1 sampai 2 minggu. Griseofulvin Ketoconazole Fluconazole Itraconazole Terbinafine (Nizoral) (Diflucan) (Sporanox) (Lamisil) Dewasa: 500 mg qd (2-4 200-400 mg/hari 150 mg /minggu 100 mg qd (1-2 250 mg qd (1-2 minggu) (2 minggu) (2-4 minggu) minggu) minggu) (Ultramicosize) Tinea korporis. Kapan tinea corporis ini disebabkan oleh T. atau T. membutuhkan pengobatan antijamur sistemik. dan flukonazol. meskipun dosis yang lebih tinggi biasanya diperlukan. Anak: 5-7 mg/kgbb/h 200 mg qd (1 (2-6 minggu) minggu) Tabel 2: Pengobatan tinea korporis 5. itraconazole. Penyerapan griseofulvin adalah baik ketika diberikan dengan susu atau es krim. Terapi terbinafine untuk M cnizts biasanya membutuhkan dosis yang lebih tinggi dan masa perawatan yang lebih lama 4. itraconazole. mettagrophytes. Pemberian obat yang efektif pada anak-anak adalah dengan dosis 10 sampai 20 mg / kg / hari. Sekitar 10% individu akan mengalami mual atau sakit kepala dengan pemberian griseofulvin. rubrum. griseofulvln. tonsurans. IX.

Sterry w. B.S. Wolff. Rook’s Textbook of Dermatology..manusia yang beragam mulai dari infeksi kulit superfisial sehingga invasi ke organ dalam (penyakit sistemik).R. Fitzpatrick's Color Atlas And Synopsis of Clinical Dermatology... One(2nd Edition).. K.G. DAFTAR PUSTAKA 1.. 420.427. 6. 2006(3rd Edition): p. Infeksi jamur yang paling dangkal dan subkutan mudah didiagnosis dan mudah bisa menerima pengobatan yang diberikan 10. Meskipun jarang mengancam kehidupan..A.T.. J. Cox N.L. M. 2008... Thieme Clinical Companions: Dermatology. Bolognia L. H. D. X.. 28 . P. Infeksi ini biasanya terjadi sebagai akibat dari penurunan pertahanan alami dari tubuh manusia 10.. 106-108. P. P. mereka dapat memiliki efek yang melemahkan pada kualitas hidup seseorang dan mungkin dalam beberapa keadaan bisa menyebar ke orang lain atau menjadi invasif. Rapini R. Dermatology. et al. Andrew’s Diseases Of Skin: Clinical Dermatology. L. 302-303. Clinical Dermatology: A Color Guide To Diagnosis And Therapy.J. 5. 2006: p. and R. 4. Elston D. B. Burns T. James W.. 2.T. 2010(8th Edition). Burgdorf W. Johnson. 2009(6th Edition). 2003(4th Edition): p. 3.

. 11. Alam TN.96-99. M.hal. 4. Dermatology: Clinical & Basic Science series/ 32 Color Atlas Of Dermatopathology. 40. Suseno LS. Adhi.Jakarta: Badan Penerbit FKUI.-K. Safruddin A. Jakarta: PP PERDOSKI.B.M. 2-4. 2010. .. 9. 8. et al. Panduan Pelayanan Medis Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin PERDOSKI.K. 10. Arif D. dkk. 2009.7.. S. editor. 2010. Generalized Inflammatory Tinea Corporis... Penyakit Kulit: Mikosis. Karakoca Y. 2013: p. Sugito TL.: p. 2.. Djuanda. G. D. Hakim L. 2007: p. Toruan TL. MD.E.. A Study on Superficial Fungal Infection from West Bengal: A Brief Report.J. 2011.: p. E.. Subha Ray. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisike enam. Tinea Corporis and Tinea Cruris Caused By Trichophyton Mentagrophytes Type Granular in Asthma Bronchiale Patient. Suriadiredja A. 29 . 37. Hal 89-105 12. Krishnendu Das.