Anda di halaman 1dari 10

Laporan Diagnosis Komunitas dan Program Intervensi dalam Upaya Penurunan Insiden Diabetes

Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Provinsi
Banten periode 10 Oktober – 3 Desember 2016

BAB 3
Identifikasi Masalah
3.1

Analisis Situasi

Dasar penentuan masalah yang dipilih:
1. Diabetes melitus tipe II merupakan salah satu masalah yang didapati di Puskesmas
Kecamatan Cikupa, dimana dari data dalam periode Januari 2016 sampai September
2016 terdapat 478 kasus.
2. Diabetes melitus tipe II termasuk dalam 10 besar penyakit terbanyak di Puskesmas
di Cikupa.
3. Dari hasil mini survei di Puskesmas, terdapat 10 kasus Diabetes Mellitus tipe II dari
90 pasien yang datang berobat. Dari 10 kasus tersebut, terdapat 4 orang yang
berasal dari Desa Cikupa.
4. Di antara 14 desa di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cikupa ada 4 desa dengan
jumlah kasus > 30 dan Desa Cikupa merupakan desa dengan kasus tertinggi yaitu
42 kasus.
5. Masalah Diabetes melitus tipe II merupakan masalah spesifik yang ada di wilayah
tersebut (berdasarkan wawancara dengan kader dan bidan Desa Cikupa)
6. Di Desa Cikupa terdapat banyak jumlah warga yang berisiko dan menderita
Diabetes Mellitus tipe II, pendidikan masyarakatnya yang rata-rata rendah
dibanding desa lainnya dan sedikitnya penyuluhan yang dilakukan di kampung
tersebut sehingga kurangnya pengetahuan, sikap, dan perbuatan mengenai penyakit
diabetes melitus.
7. Jumlah warga berusia 25-55 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cikupa
sebesar 2.856 orang dan Desa Cikupa sebesar 294 orang (10,29%). Dari total
jumlah warga berusia 25-55 tahun dengan diabetes melitus sebesar 335 orang
(11,73%) dan dari Desa Cikupa sebesar 42 orang (14,29%).

Tabel 3.1 Data Kasus Diabetes Melitus Tipe II pada Wilayah Kerja Puskesmas
Kecamatan Cikupa Bulan Januari 2016 – September 2016
Kepaniteraan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 10 Oktober – 3 Desember 2016

29

Desa / Kelurahan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Desa Cibadak Desa Talaga Desa Talagasari Desa Dukuh Desa Cikupa Desa Sukanagara Desa Bitung Jaya Desa Pasir Gadung Desa Suka Damai Desa Pasir Jaya Desa Budi Mulya Desa Bojong Kelurahan Sukamulya Kelurahan Bunder TOTAL Jumlah Kasus Baru 2 3 2 2 7 3 2 2 2 2 1 3 2 2 35 Jumlah Kasus Lama 40 33 26 31 59 36 20 25 30 28 31 44 23 17 443 Total 42 36 28 33 66 39 22 27 32 30 32 47 25 19 478 Tabel 3.Laporan Diagnosis Komunitas dan Program Intervensi dalam Upaya Penurunan Insiden Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa. Provinsi Banten periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 No.2 Data Jumlah Warga Berusia 25 – 55 Tahun pada Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Cikupa Bulan Januari 2016 – September 2016 No. Desa / Kelurahan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Desa Cibadak Desa Talaga Desa Talagasari Desa Dukuh Desa Cikupa Desa Sukanagara Desa Bitung Jaya Desa Pasir Gadung Desa Suka Damai Desa Pasir Jaya Desa Budi Mulya Desa Bojong Kelurahan Sukamulya Kelurahan Bunder TOTAL Kepaniteraan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 Jumlah Pasien Umur 25-55 tahun 202 273 263 187 294 175 126 158 211 197 228 161 244 137 2856 30 . Kecamatan Cikupa. Kabupaten Tangerang.

3. Kecamatan Cikupa.Laporan Diagnosis Komunitas dan Program Intervensi dalam Upaya Penurunan Insiden Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa. Provinsi Banten periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 Tabel 3. Status kesehatan: 1. sikap. terdapat 8 kasus Diabetes Mellitus tipe II dari 30 pasien yang datang berobat. pendidikan masyarakatnya yang rata-rata rendah dibanding desa lainnya dan sedikitnya penyuluhan yang dilakukan di kampung tersebut sehingga kurangnya pengetahuan.3 Data Jumlah Warga Berusia 25 – 55 Tahun dengan Diabetes Melitus Pada Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Cikupa Bulan Januari 2016 – September 2016 No. Genetik : Tidak dinilai Kepaniteraan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 31 . Desa / Kelurahan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Desa Cibadak Desa Talaga Desa Talagasari Desa Dukuh Desa Cikupa Desa Sukanagara Desa Bitung Jaya Desa Pasir Gadung Desa Suka Damai Desa Pasir Jaya Desa Budi Mulya Desa Bojong Kelurahan Sukamulya Kelurahan Bunder TOTAL Jumlah Pasien Umur 25-55 Tahun dengan DM 31 22 17 19 42 19 21 26 33 18 27 15 32 13 335 3. Dari 8 kasus tersebut.3 Identifikasi Masalah Dengan Paradigma BLUM Dilakukan wawancara dengan sebagian masyarakat dapn penanggung jawab program / petugas puskesmas. Di desa tersebut terdapat banyak jumlah warga yang berisiko dan menderita Diabetes Mellitus tipe II. dan perbuatan mengenai penyakit diabetes melitus. terdapat 3 orang yang berasal dari Desa Cikupa. Kabupaten Tangerang.2 Scope Tempat Desa Cikupa di pilih karena dari hasil kuisoner di Balai Pengobatan.

 Sembilan puluh tiga persen (93%) responden mengetahui bahwa makan makanan yang manis dapat meningkatkan resiko timbulnya penyakit darah.  Sembilan puluh persen (90%) responden tidak mengetahui bahwa penyakit darah tinggi dapat meningkatkan resiko timbulnya penyakit darah.  Delapan puluh empat persen (84%) responden tidak mengetahui bahwa kegemukkan dapat meningkatkan resiko timbulnya penyakit darah. 3.  Delapan puluh persen (80%) responden tidak mengetahui bahwa kurangnya olahraga dapat meningkatkan resiko timbulnya penyakit darah.Laporan Diagnosis Komunitas dan Program Intervensi dalam Upaya Penurunan Insiden Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa. Kurangnya profesionalisme dan kepedulian para bidan desa. Fasilitas pelayanan kesehatan sulit dijangkau (jarak yang jauh. Life style : Hasil survei yang dilakukan pada 30 responden di Puskesmas Kecamatan Cikupa tanggal 3 November 2016 didapatkan : a. Medical Care Services :  Kurangnya jumlah tenaga kesehatan khususnya dokter. Provinsi Banten periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 2.  Tujuh puluh persen (70%) responden tidak mengetahui bahwa sering buang air kecil merupakan gejala dari penyakit gula darah Kepaniteraan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 32 .  Enam puluh persen (60%) responden tidak mengetahui bahwa faktor keturunan dapat meningkatkan resiko timbulnya penyakit darah. jumlah angkutan umum yang belum memadai. Kurangnya jangkauan tenaga kesehatan ke desa-desa tertentu. perawat. Kabupaten Tangerang.  Tujuh puluh persen (70%) responden mengetahui cara menegakkan penyakit gula darah melalui hasil pemeriksaan laboratorium gula darah. Pengetahuan  Delapan puluh empat persen (84%) responden mengetahui tentang penyakit gula darah  Tujuh puluh enam persen (76%) responden tidak mengetahui bahwa penyakit gula darah sama dengan penyakit kencing manis  Enam puluh enam persen (66%) responden tidak mengetahui bahwa caracara menegakkan penyakit gula darah melalui keluhan – keluhan pasien. Kecamatan Cikupa. Kurangnya jumlah tenaga kesehatan yang mengikuti posbindu dan sarana     prasarana dalam posbindu. Aturan pemberian obat yang terlalu sedikit jumlahnya. bidan  dan kader. ekonomi yang rendah).

Provinsi Banten periode 10 Oktober – 3 Desember 2016  Sembilan puluh tiga persen (93%) responden tidak mengetahui bahwa sering merasa haus merupakan gejala dari penyakit gula darah  Delapan puluh sembilan persen (90%) responden tidak mengetahui bahwa sering merasa lapar merupakan gejala dari penyakit gula darah  Delapan puluh tiga persen (83%) responden tidak mengetahui bahwa mata kabur merupakan akibat dari penyakit gula jika tidak berobat dengan baik  Enam puluh lima persen (65%) responden mengetahui bahwa kesemutan pada kaki dan tangan merupakan akibat dari penyakit gula jika tidak berobat dengan baik  Delapan puluh empat persen (84%) responden tidak mengetahui bahwa luka sulit sembuh merupakan akibat dari penyakit gula jika tidak berobat dengan baik  Sembilan puluh persen (90%) responden tidak mengetahui bahwa kaki dapat di amputasi merupakan akibat dari penyakit gula jika tidak berobat dengan baik  Sembilan puluh tiga persen (93%) responden tidak mengetahui bahwa kerusakkan pada ginjal merupakan akibat dari penyakit gula jika tidak berobat dengan baik b.Laporan Diagnosis Komunitas dan Program Intervensi dalam Upaya Penurunan Insiden Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa. Sikap  Empat belas persen (14%) responden tidak menyetujui bahwa olahraga rutin dapat menjaga kadar gula darah supaya tidak naik  Empat puluh persen (40%) responden tidak menyetujui bahwa menurunkan berat badan dapat menjaga kadar gula darah supaya tidak naik  Sembilan puluh tiga persen (93%) responden menyetujui bahwa mengurangi makanan manis dapat menjaga kadar gula darah supaya tidak naik  Seratus persen (100%) responden menyetujui bahwa minum obat dapat menjaga kadar gula darah supaya tidak naik  Sembilan puluh persen (90%) responden tidak menyetujui bahwa cara minum obat yang benar pada pasien penyakit gula darah dengan minum obat setiap hari meskipun tanpa keluhan c. Kabupaten Tangerang. Perilaku Kepaniteraan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 33 . Kecamatan Cikupa.

2 – 3 kali selingan ) dalam mengatur pola makan pada penderita penyakit gula darah  Sembilan puluh tiga persen (93%) responden menghindari makan makanan manis dalam mengatur pola makan pada penderita penyakit gula darah  Tujuh puluh persen (70%) responden tidak menghindari makan nasi putih yang banyak dalam mengatur pola makan pada penderita penyakit gula darah  Delapan puluh enam persen (86%) responden makan banyak sayur dan buah dalam mengatur pola makan pada penderita penyakit gula darah  Tiga puluh delapan persen (38%) responden melakukan olahraga yang benar pada penderita penyakit gula darah dengan senam dan empat puluh dua persen (42%) melakukan olahraga yang benar pada penderita penyakit gula darah dengan berlari santai  Tujuh puluh lima persen (75%) responden melakukan olahraga yang benar pada penderita penyakit gula darah dengan frekuensi sekali dalam seminggu  Enam puluh sembilan persen (69%) responden melakukan olahraga yang benar pada penderita penyakit gula darah dengan durasi 15 – 30 menit tiap kali olahraga  Enam puluh tujuh persen (67%) responden tidak makan sebelum melakukan olahraga yang benar pada penderita penyakit gula darah  Tiga puluh empat persen (34%) responden makan gorengan sesudah melakukan olahraga yang benar pada penderita penyakit gula darah dan tiga puluh enam (36%) minum manis sesudah melakukan olahraga yang benar pada penderita penyakit gula darah  Tujuh puluh persen (70%) responden tidak memakai sepatu yang ketata saat olahraga 4. Lingkungan :  Fisik :  Kurangnya transportasi umum yang memadai dalam menunjang jarak yang jauh ke sarana pelayanan kesehatan.Laporan Diagnosis Komunitas dan Program Intervensi dalam Upaya Penurunan Insiden Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa.  Nonfisik : Kepaniteraan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 34 . Kecamatan Cikupa. Provinsi Banten periode 10 Oktober – 3 Desember 2016  Delapan puluh empat persen (84%) responden tidak melakukan makan sehari 5 – 6 kali ( 3 kali utama. Kabupaten Tangerang.

gejala-gejala. -Status ekonomi yang rendah Insiden Diabetes Melitus tipe II yang Meningkat a. dan komplikasi) sulit dijangkau b. faktor risiko yang dapat meningkatkan timbulnya penyakit diabetes . Memiliki pemikiran bahwa minum obat yang sering dan banyak dapat  merusak tubuh.950. Sikap o Tidak menganggap pentingnya olah raga dan menurunkan berat badan dapat menjaga kadar gula darah supaya tidak baik o Masih adanya anggapan makan nasi yang penting kenyang o Tidak menganggap pentingnya minum obat penyakit diabetes melitus setiap hari -Status pendidikan formal meskipun tanpa ada keluhan c. Kabupaten Tangerang.043. Status ekonomi yang rendah (64% responden mempunyai pendapatan  dibawah UMR yaitu Rp 3.Laporan Diagnosis Komunitas dan Program Intervensi dalam Upaya Penurunan Insiden Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa.Fasilitas pelayanan kesehatan melitus. Pengetahuan - Kurangnya - kesehatan Kurangnya - dalam posbindu.4 Paradigma BLUM Genetik Lingkungan Fisik : Kurangnya umum transportasi yang memadai dalam menunjang yang jauh ke jarak Medical care services: sarana pelayanan kesehatan Nonfisik : -Lebih sering berobat ke bidan desa oleh karena lokasi yang lebih mudah dijangkau -Memiliki pemikiran bahwa minum obat yang sering dan banyak dapat merusak tubuh.00) Status pendidikan formal yang rendah (86% responden tidak memenuhi progam pendidikan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun) 3. Provinsi Banten periode 10 Oktober – 3 Desember 2016  Lebih sering berobat ke bidan desa oleh karena lokasi yang lebih mudah  dijangkau. Kecamatan Cikupa. Perilaku yang rendah o Kurangnya mengatur pola makan Kepaniteraan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat o Kurangnya olah raga Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 35 . Kurangnya jangkauan - kesehatan ke desa-desa tertentu Kurangnya profesionalisme dan Lifestyle : jumlah sarana tenaga prasarana tenaga kepedulian para bidan desa o Kurangnya pengetahuan mengenai penyakit -diabetes melitus (cara menegakkan Aturan pemberian obat yang terlalu sedikit jumlahnya diagnosa.

Lifestyle dipilih dengan alasan: Warga Desa Cikupasaat ini masih kurang pengetahuan mengenai diabetes melitus dan hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian gula darah baik dari minum obat. Kabupaten Tangerang. sehingga hal ini menimbulkan keprihatinan tentang life style Kepaniteraan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 36 . komplikasi jika gula darah tidak terkendali. dan perilaku warga tentang cara mengontrol gula darah yang baik dan bahaya jika gula darah tidak terkontrol pada pasien DM. Kecamatan Cikupa. sikap.5 Penentuan Prioritas Masalah Penentuan prioritas masalah ini dilakukan dengan Non Scoring Technique (Delbeq) Wawancara dilakukan di Puskesmas Cikupa dan Desa Cikupa:    Dengan para dokter di Puskesmas Cikupa Dengan para bidan puskesmas dan bidan desa Dengan para kader di Desa Cikupa dan masyarakat Dari hasil wawancara di atas.1 Paradigma Blum 3. Lifestyle yang menjadi permasalahan utama berupa kurangnya pengetahuan. pola hidup (diet dan olahraga). disepakati dari empat faktor Blum. Hal ini dapat menyebabkan resiko tinggi pasien mengalami komplikasi. Sebagian besar pasien yang menderita diabetes melitus juga masih tergolong kelompok usia produktif (25–55 tahun).Laporan Diagnosis Komunitas dan Program Intervensi dalam Upaya Penurunan Insiden Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa. yang menjadi penyebab masalah utama adalah dari segi lifestyle yang telah disebutkan dalam Paradigma Blum. Provinsi Banten periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 Gambar 3.

Minum obat teratur Insiden Diabetes Melitus tipe II yang Meningkat 37 . Kabupaten Tangerang. Perubahan lifestyle berupa peningkatan pengetahuan warga akan pentingnya pengontrolan gula darah dengan berobat secara teratur.medical care services dan lingkungan tidak diipilih karena: a. b.Makan makanan Kepaniteraan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakatyang sehat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Pengetahuan tentang DM yang kurang Kurangnya edukasi mengenai DM oleh tenaga kesehatan Tingkat pendidikan formal yang rendah Sumber informasi yang terbatas Lifestyle Jarang berolahraga Tidak menjaga pola makan yang sehat dan teratur Tidak rutin minum obat Tidak rutin pemeriksaan medical check up Masih adanya anggapan makan nasi yang penting kenyang Tidak menganggap pentingnya : . olahraga teratur. c. Genetik merupakan masalah yang tidak dapat diintervensi secara langsung. BAB 4 Identifikasi Masalah Penyebab dan Alternatif Pemecahan Masalah Setelah dilakukan penetapan prioritas masalah menggunakan cara non scoring technique (Delbeq).Laporan Diagnosis Komunitas dan Program Intervensi dalam Upaya Penurunan Insiden Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa. dan komplikasi jika gula darah tidak terkendali. pola makan yang baik sehingga dapat meningkatkan produktivitas pasien dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Genetik. Provinsi Banten periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 yang tidak baik sejak beberapa tahun yang lalu sebelum pasien terdiagnosa penyakit diabetes melitus.Rutin medical check up Periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 . Lingkungan tidak dipilih karena cakupan terlalu luas dan tidak ada hubungan langsung ke diabetes melitus tipe II. maka didapatkan permasalahan yang akan diidentifikasi adalah masalah pengetahuan mengenai diabetes melitus dan hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian gula darah baik dari minum obat. Kecamatan Cikupa.Aktivitas fisik. Medical care services dinilai memiliki permasalahan yang cukup besar dan sulit karena melibatkan banyak stakeholder atau pemegang kepentingan dan membutuhkan waktu yang panjang. pola hidup. Perilaku yang berolahraga kurang baik .

Provinsi Banten periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 Sikap yang kurang baik Gambar 4.Laporan Diagnosis Komunitas dan Program Intervensi dalam Upaya Penurunan Insiden Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa.1 Fishbone Perumusan Masalah Kepaniteraan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 10 Oktober – 3 Desember 2016 38 . Kabupaten Tangerang. Kecamatan Cikupa.