Anda di halaman 1dari 9

PENERAPAN TEORI-TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

1. Penerapan Teori Kognitivisme dalam Pembelajaran Kimia
Materi : Larutan elektrolit dan Nonelektrolit
Sasaran

Kompetensi
Dasar

Materi

Kelas X semester 2
1.1 Menyadari adanya keteraturan struktur partikel materi sebagai wujud
kebesaran Tuhan YME dan pengetahuan tentang struktur partikel materi
sebagai hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat
tentatif.
2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, disiplin,
jujur, objektif, terbuka, mampu membedakan fakta dan opini, ulet, teliti,
bertanggung jawab, kritis, kreatif, inovatif, demokratis, komunikatif)
dalam merancang dan melakukan percobaan serta berdiskusi yang
diwujudkan dalam sikap sehari-hari.
3.8 Menganalisis sifat larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit
berdasarkan daya hantar listriknya.
4.8 Merancang, melakukan, dan menyimpulkan serta menyajikan hasil
percobaan untuk mengetahui sifat larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit.
Larutan elektrolit dan Nonelektrolit

KD tersebut dipilih karena sebelum mengikuti pembelajaran mengenai larutan
elektrolit dan nonelektrolit, siswa telah memiliki konsep – konsep yang relevan dalam
struktur kognitifnya mengenai mengenai larutan yang dapat menghantarkan listrik dan tidak
dapat menghantarkan listrik.
Dengan dimilikinya konsep – konsep dasar yang relevan dalam struktur kognitif siswa
tersebut, maka guru perlu mengaitkan informasi baru yang akan diterima oleh siswa dengan
konsep – konsep dalam struktur kognitif yang telah ada. Inilah yang dinamakan belajar
bermakna menurut Ausubel.
Jika kompetensi dasar yang dipilih tidak memiliki persyaratan bahwa anak harus
memiliki konsep – konsep dasar yang relevan dalam struktur kognitifnya, maka informasi
baru akan dipelajari secara hafalan. Bila tidak dilakukan usaha untuk mengasimilasikan
pengetahuan baru pada konsep-konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif, akan terjadi
belajar hafalan.
Pada kenyataannya, banyak guru dan bahan-bahan pelajaran jarang sekali menolong
para siswa untuk menentukan dan menggunakan konsep-konsep relevan dalam struktur
kognitif mereka untuk mengasimilasikan pengetahuan baru, dan akibatnya pada para siswa
hanya terjadi hafalan. Lagi pula sistem evaluasi di sekolah menghendaki hafalan, jadi timbul
pikiran pada para siswa untuk apa bersusah payah belajar secara bermakna.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemilihan KD 3.8 SMA kelas X semester
2 untuk diaplikasikan sebagai teori Ausubel adalah bahwa sebelum belajar dengan KD ini,
siswa telah memiliki konsep – konsep dalam struktur kognitifnya mengenai adana larutan
yang dapat menghantarkan listrik dan tidak dapat menghantarkan listrik.

Secara garis besar. langkah – langkah yang dapat dilakukan dalam rangka mencapai KD 3. dan mempersilahkan siswa untuk mempersiapkan diri. Guru menanyakan apa hubungan larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan sifat dalam menghantarkan listrik 5. Guru menjelaskan sedikit mengenai larutan elektrolit dan nonelektolit. 4. Siswa menyebutkan contoh larutan elektrolit (air aki. Guru memberikan tugas siswa untuk merancang percobaan mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit 7. Guru menunjuk salah satu siswa untuk menyebutkan contoh larutan elektrolit dan nonelektrolit yang ada dalam kehidupan sehari – hari. baterai jam) dan nonelektrolit (air suling) yang ada dalam kehidupan sehari – hari. Pengatur Awal (Advance Organizer) Hal -hal yang guru lakukan 1. sedangkan larutan nonelektrolit merupakan larutan yang tidak dapat digunakan untuk mengalirkan listrik 3. Guru menanyakan apa yang murid ketahui mengenai larutan yang dapat menghantarkan listrik dan yang tidak dapat menghantarkan listrik. Siswa bertanya bagaimana membedakan larutan elektrolit dan nonelektrolit dalam kehidupan sehari . Guru mengatakan bahwa hari ini akan mempelajari materi mengenai larutan elektrolit dan nonelektrolit. siswa merancang percobaan mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit dengan memanfaatkan berbagai media yang mendukung untuk pencarian informasi 7. 6. Siswa melakukan percobaan . Guru memberi tugas siswa untuk melakukan percobaan berdasarkan rancangan percobaan yang telah Hal -hal yang murid lakukan 1. Siswa menjawab bahwa mereka belum tahu. Tahapan Ausubel A. Siswa menjawab bahwa larutan yang dapat menghantarkan listrik merupakan larutan yang dapat digunakan untuk mengalirkan listrik. 2. 4.8 SMA kelas berdasarkan Teori Belajar Ausubel adalah sebagai berikut.hari 6. 3. 5. Siswa mendengarkan kemudian menyiapkan buku tulis dan buku panduan yang mendukung materi yang akan dipelajari 2.

1. 4. Siswa mendengarkan dan mengajukan pertanyaan mengapa hal tersebut dapat terjadi. B. Pembahasan langkah – langkah untuk Mencapai Kompetensi Dasar 3. 8. 3. Penyesuaian Integratif 1. larutan garam dapur juga merupakan larutan yang bersifat netral 8. Guru menunjuk 3 orang siswa untuk menunjukkan peta konsep yang telah dibuatnya. 4.ditentukan. Guru menjelaskan peta konsep mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. 1.Belajar Superordinat D. Siswa menganalisis peta konsep yang diberikan guru mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit.teman sekelasnya. Guru memberi tugas siswa untuk menyajikan hasil percobaan larutan elektrolit dan nonelektrolit. siswa menuliskan apa hubungan larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan sifat dalam menghantarkan listrik dengan menggunakan peta konsep . Guru menjelaskan bahwa selain bersifat elektrolit kuat. 3. Siswa menyajikan hasil percobaan : Ada larutan yang menyebabkan lampu menyala dan timbul gelembung gelembung. 1. Diferensiasi Progresif C. 2. 3 orang siswa menunjukkan peta konsep yang telah dibuat kepada teman . Guru menunjukkan peta konsep yang benar mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. Siswa mendengarkan dan mengamati hubungan konsep – konsep khusus ini dengan konsep inklusif yang telah disampaikan sebelumnya. Guru menjelaskan konsep – konsep khusus dari sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya. Murid memahami peta konsep mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. tidak menyala tapi timbul gelembung serta tidak menyala dan tidak ada gelembung.8 SMA kelas berdasarkan Teori Belajar Ausubel adalah sebagai berikut. . 1. Guru memberikan tugas untuk siswa menuliskan apa hubungan larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan sifat dalam menghantarkan listrik dengan menggunakan peta konsep 2.

larutan dapat dibedakan menjadi larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. Dengan demikian. Penjelasan yang disampaikan oleh guru dimulai dari hal – hal yang paling konklusif kemudian menuju ke konsep yang kurang konklusif. Adapun peta konsep yang dijelaskan oleh guru adalah sebagai berikut. Adanya peta konsep disini berfungsi untuk memudahkan guru dalam melakukan pembelajaran. Dengan demikian. meyajikan serta menyimpulkan percobaan mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. Seperti contoh ada larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dan ada yang dapat menghantarkan arus listrik. 1. . Untuk menyelidiki apa yang telah diketahui siswa. Dengan adanya tugas dari guru untuk membuat sebuah peta konsep mengenai larutan elektrolit maupun nonelektrolit dari pengetahuan dasar yang telah dimiliki dalam struktur kognitif siswa. Suatu pengatur awal dapat dianggap sebagai pertolongan mental dan disajikan sebelum materi baru. melakukan. dan menolong mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat digunakan untuk membantu menanamkan pengetahuan baru. yaitu dengan menyatakan bahwa larutan elektrolit merupakan larutan yang dapat menghantarkan listrik seperti contoh yang telah disebutkan siswa pada tahapan pengatur awal. Pengatur Awal (Advance Organizer) Pada tahapan ini guru mengarahkan siswa ke materi yang akan mereka pelajari yaitu sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya. Diferensiasi Progresif Pada tahapan langkah ini guru menerangkan mengenai peta konsep. Mempelajari cara belajar. Begitu pula dengan larutan non elektrolit. B. Setelah itu guru memberikan tugas kepada siswa untuk merancang. guru akan mengetahui seberapa besar pengetahuan anak – anak didiknya mengenai larutan elektrolit maupun larutan nonelektrolit.A. Sehingga pembelajaran lebih efektif dan diharapkan lebih prestatif. maka ia akan menumpahkan segala yang ia tahu mengenai larutan elektrolit dan nonelektrolit dalam sebuah peta konsep. tak lupa guru mengaitkan dengan konsep – konsep dasar yang telah dimiliki oleh struktur kognitif siswa. guru dapat menentukan materi mana yang harus ditekankan dalam proses pembelajaran. kemudian menuju ke penjelasan konsep yang khusus seperti contoh – contoh dari masing – masing konsep. Misalnya mula – mula guru menerangkan konsep inklusif terlebih dahulu. selain itu peta konsep juga dapat digunakan sebagai berikut. 2. seperti apa itu larutan. Kemudian guru menjelaskan bahwa berdasarkan daya hantar listriknya. Siswa disini berperan dalam proses pengumpulan data serta disini siswa mulai mengkaitkan informasi baru yang ia peroleh dengan konsed – konsep dasar yang terdapat dalam struktur kognitifnya.

Bila seorang siswa diminta untuk membuat peta konsep. Ketika siswa menyusun peta konsep. Dengan demikian. 4. Mengungkapkan konsepsi yang salah. yng pernah dibacanya dan yang pernah didengarnya. yaitu larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. Sedangkan hal yang benar yaitu sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya ada 2. Proses subsumsi ini berlangsung hingga pada suatu saat ditemukannya hal baru. materi mana yang masih samar – samar dan materi mana yang tidak dimengerti siswa sama sekali. Kesalahan konsepsi tersebut dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan sang anak dengan materi yang sedang dipelajari. Penggunaan peta konsep dapat sebagai alat evaluasi dimisalkan ketika seorang guru akan melakukan evaluasi. 3. guru dapat mengulangi pembelajaran pada bagian yang tidak dipahami siswa untuk pertemuan selanjutnya. bila konsep – konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur – unsur dari suatu konsep yang lebih luas. Sehingga dapat dipastikan bahwa materi larutan elektrolit dan nonelektrolit telah dipahami oleh siswa dengan jelas. dapat diketahui materi mana saja yang siswa pahami dengan pasti. Setelah itu menempatkan konsep yang paling inklusif misalnya larutan d tempat yang paling puncak dalam peta konsep. dapat terjadi kesalahan konsepsi yang mereka tuangkan dalam peta konsep tersebut. guru dapat mempersilahkan siswa untuk membuat sebuah peta konsep dari apa yang telah dipelajari hari ini misalnya mengenai sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya. Dari tugas yang telah dikerjakan oleh siswa. . ia akan berusaha mengeluarkan konsep – konsep dari apa yang diketahuinya. tugas gurulah untuk membenarkan konsepsi yang salah hingga konsep dasar salah yang ada dalam struktur kognitif siswa berganti menjadi konsep dasar yang benar. Sebagai alat evaluasi. lebih inklusif. Lalu siswa akan mencari kata penghubung dari semua konsep – konsep yang telah dituliskan dalam peta konsep hingga membentuk sebuah proposisi yang bermakna. larutan elektrolit lemah. Dengan adanya salah konsepsi seperti ini. Belajar superordinat terjadi. konsep itu tumbuh atau mengalami diferensiasi. serta larutan non elektrolit. secara tidak langsung seorang siswa telah berusaha untuk memahami materi yang diajarkan dan menunjukkan bahwa dalam diri anak ini telah terjadi suatu proses belajar berakna. C. Lebih dari itu mereka akan berusaha mengingat konsep – konsep yang telah diketahuinya di pelajaran yang lalu. Dengan demikian. Belajar Superordint Selama informasi diterima dan diasosisasikan dalam struktur kognitif (subsumsi). Misalnya : seorang siswa menuliskan bahwa sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya ada 3 yaitu larutan elektrolit kuat. atau mengingat konsep – konsep yang telah diterapkannya dalam kehidupan sehari – hari.

sedangkan sifat elektrolit kuat pada NaCl didasarkan pada kemampuannya dalam menghantarkan listrik yang baik.D. Misalnya seorang siswa telah mengetahui bahwa larutan NaCl atau garam dapur merupakan larutan elektrolit kuat. atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih dari satu konsep. Dengan adanya pertentangan kognitif seperti ini sudah pasti tugas guru yaitu untuk melakukan penyesuaian kognitif dengan cara menjelaskan pada siswa bahwa larutan NaCl bersifat netral itu didasarkan pada [H+] dan[OH-] dalam larutan. Untuk mengatasi atau mengurangi sedapat mungkin pertentangan kognitif ini. Penerapan Teori Behavioristik dalam Pembelajaran Kimia Materi : Secara umum langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang dikemukakan oleh Sociati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan dalam merancang pembelajaran. namun dalam pembahasan lain disebutkan bahwa larutan NaCl tersebut merupakan larutan yang bersifat netral. Penyesuaian Integratif Kadang – kadang seorang siswa dihadapkan pada suatu kenyataan yang disebut pertentangan kognitif (cognitive dissonance). Ausubel menyarankan suatu prinsip lain yang dinamakan prinsip penyesuaian kognitif. Hal ini terjadi bila dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama. langkah-langkah pembelajara tersebut antara lain : . 2.

sifat materi pelajaran. sebagaimana dijelaskan Jean Piaget adalah sebagai berikut:  Skemata. Skema terbentuk karena pengalaman. anak senang bermain dengan kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu . dapat berupa. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. 3. ataupun hukuman 9. apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid. Memberikan penguatan atau reinforcement (mungkin penguatan positif ataupun penguatan negatif). Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal siswa. sub pokok bahasan. media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. tidak berubah. Memberikan stimulus baru 10. tes atau kuis. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi. topik dsb 5. Memberikan stimulus. Sejak kecil anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema (schema). Penerapan Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran Kimia Materi : Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah. Memberikan penguatan lanjutan atau hukuman 11.1. Proses mengkonstruksi. 1989: 159) menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. pasti. Memecah materi pembelajaran menjadi bagian kecil-kecil. pertanyaan baik lisan maupu tertulis. Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan siswa 8. sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran 2. Artinya. sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. tetap. meliputi pokok bahasan. Evaluasi belajar Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif. Sekumpulan konsep yang digunakan ketika berinteraksi dengan lingkungan disebut dengan skemata. latihan atau tugas-tugas 7. karakteristik pebelajar. Menentukan materi pembelajaran 4. Misalnya. 3. Menyajikan materi pembelajaran 6.

perkembangan intelektual dapat dipahami hanya bila ditinjau dari konteks historis dan budaya pengalaman anak. Proses penyempurnaan sekema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Kedua. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. dikehendakinya setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar kelompok-kelompok siswa dengan kemampuan yang berbeda. Dengan scaffolding.   a.  Keseimbangan. semakin lama siswa semakin dapat mengambil tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri. pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan perancahan (scaffolding). Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada.  Asimilasi. berkat pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk skema tentang binatang berkaki empat dan binatang berkaki dua. Berkat keseringannya. ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya. Kedua. konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Proses asimilasi ini berjalan terus. Pertama.  Akomodasi. dengan demikian perkembangan kognitif anak mensyaratkan sistem komunikasi budaya dan belajar menggunakan sistem-sistem ini untuk menyesuaikan proses-proses berfikir diri sendiri. Pada akhirnya. berkomunikasi dan memecahkan masalah. 2004:49) ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan.putih. Akomodasi tejadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Pengelolaan pembelajaran . ia dapat menangkap perbedaan keduanya. Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai.   Menurut Slavin (Ratumanan. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian orang itu berkembang. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Semakin dewasa anak. sehingga siswa dapat berinteraksi dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam daerah pengembangan terdekat/proksimal masing-masing. Pertama. Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi. yaitu bahwa kucing berkaki empat dan kelinci berkaki dua.   Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky Ratumanan (2004:45) mengemukakan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide utama. perkembangan bergantung pada sistem-sistem isyarat mengacu pada simbol-simbol yang diciptakan oleh budaya untuk membantu orang berfikir. Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi. maka semakin sempunalah skema yang dimilikinya.

   Interaksi sosial individu dengan lingkungannya sengat mempengaruhi perkembanganbelajar seseorang. Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000). pada saat peserta didik melaksanakan aktivitas di dalam daerah perkembangan terdekat mereka. tujuan belajar akan tercapai dengan belajar menyelesaikan tugastugas yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah perkembangan terdekat mereka (Wersch. b.1985). yaitu tugas-tugas yang terletak di atas peringkat perkembangannya. peserta didik melaksanakan aktivitas belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sejawat yang mempunyai kemampuan lebih. Pemberian bimbingan Menurut Vygotsky. sehingga perkemkembangan sifat-sifat dan jenis manusia akan dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut. Interaksi sosial ini memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual peserta didik. tugas yang tidak dapat diselesaikan sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan bimbingan atau bantuan orang lain. . Menurut Vygotsky.