Anda di halaman 1dari 17

Pengertian dari Teori Belajar Konstruktivisme

Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu
tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan teori behavioristik yang
memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus dan respon,
sedangkan teori kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun
atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan
pengalamannya.Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain, karena setiap
orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Pembentukan pengetahuan
merupakan proses kognitif dimana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu
keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema yang baru.
Teori konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih menekankan pada
proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan
cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar, cara
belajar, dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir dan skema berpikir
seseorang. Sebagai upaya memperoleh pemahaman atau pengetahuan, siswa ”mengkonstruksi”
atau membangun pemahamannya terhadap fenomena yang ditemui dengan menggunakan
pengalaman, struktur kognitif, dan keyakinan yang dimiliki.
Dengan demikian, belajar menurut teori konstruktivisme bukanlah sekadar menghafal, akan
tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil
”pemberian” dari orang lain seperti guru, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang
dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari ”pemberian” tidak akan bermakna. Adapun
pengetahuan yang diperoleh melalui proses mengkonstruksi pengetahuan itu oleh setiap individu
akan memberikan makna mendalam atau lebih dikuasai dan lebih lama tersimpan/diingat dalam
setiap individu.

Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut:
1.

Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.

2.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri
pertanyaannya.
3.
Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara
lengkap.
4.

Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.

5.

Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.

Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky. Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu.1993. 1993. Misalnya.Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk. kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin. menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan. 1997). Teslow dan Taylor. memberikan contoh. pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi. akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. Dalam pembelajaran . Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar. dorongan. 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Selanjutnya. 1997). 1988: 132). Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. peringatan. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno. Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia (Ernest. Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. Sedangkan. yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Wilson. Atwel. 1998). 1996: 7). sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988:133). Pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial) disebut pendekatan konstruktivis sosial. Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin. Bleicher & Cooper. yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding. 1991). Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran. dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.

Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid. Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio (socio-constructivism). 5. Menyokong pembelajaran secara koperatif mengambil kira sikap dan pembawaan murid. 3. 3. dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi untuk merespon masalah yang diberikan. Menggalakkan soalan/idea yang dimulakan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran. . Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri. 2. Cobb. 4. sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah. 7. siswa berinteraksi dengan guru. prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah: 1. kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar. 2. Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya. Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen. 6.3 Prinsip-Prinsip Konstruktivisme Secara garis besar.2 Ciri-Ciri Pembelajaran Secara Konstuktivisme Adapun ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah: 1.matematika. Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran. Mengambil kira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide. 8. 2. 2. Karakteristik pendekatan konstruktivis sosio ini sangat sesuai dengan karakteristik RME.

Siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar. 7. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.4. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa. 5. 6. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa. Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya sematamata memberikan pengetahuan kepada siswa. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan. 8. . Mmencari dan menilai pendapat siswa.

mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. Faham : Oleh ksrana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru. 4.Kelebihan Dan Kelemahan Teori Konstruktivistik · Kelebihan 1. · Kelemahan Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik sepertinya kurang begitu mendukung. Ingat : Oleh karana murid terlibat secara langsung dengan aktif. maka mereka akan berasa seronok belajar dalam membina pengetahuan baru. murid berfikir untuk menyelesaikan masalah. . menjana idea dan membuat keputusan. yakin dan berinteraksi dengan sihat. Kemahiran sosial : Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan rakan dan guru dalam membina pengetahuan baru. Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka. Seronok : Oleh kerana mereka terlibat secara terus. ingat. mereka akan ingat lebih lama semua konsep. mereka faham. Berfikir : Dalam proses membina pengetahuan baru. 5. 3. Justru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru. 2.

Proses belajar konstruktivistik Esensi dari teori konstruktivistik adalah siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain. Sehingga dalam proses belajar. serta membuat kesimpulan-kesimpulan. 5. siswa menjadi pusat kegiatan dan guru sebagai fasilitator. siswa membangun sendiri pengetahuan mereka dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar mengajar.Proses belajar konstrutivistik dapat dilihat dari berbagai aspek. untuk membuat hubungan ide-ide atau gagasan-gagasan. b. aktivitas kolaboratif. . Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah ditetapkan. 4. Menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes. Sarana belajar Sarana belajar dibutuhkan siswa untuk mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh agar mendapatkan pengetahuan yang maksimal. Peranan guru Guru atau pendidik berperan sebagai fasilitator artinya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan proses pengkonstruksian pengetahuan agar berjalan lancar. kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut. dan apabila dikehendaki. refleksi serta interpretasi yang harus dilukukan oleh siswa sendiri. Aplikasi Teori Konstruktivistik Dalam Pembelajaran : a. Peranan siswa Dalam pembelajaran konstruktivistik. yaitu: 1. dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengmbangkan ide-idenya secara lebih bebas. maka kita dapat mengetahui seberapa besar suatu pengetahuan telah dipahami oleh siswa. Dengan cara ini. Karena belajar merupakan suatu proses pemaknaan atau pembentukan pengetahuan dari pengalaman secara konkrit. 2. Evaluasi hasil belajar Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar yang menekankan pada ketrampilan proses baik individu maupun kelompok. 3. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya pada siswa tetapi guru dituntut untuk memahami jalan pikiran atau cara pandang setiap siswa dalam belajar. informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

. Guru bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks. sukar dipahami. tidak teratur. d.c. Guru mengakui bahwa proses belajar serta penilaianya merupakan suatu usaha yang kompleks. dimana terjadi bermacam-macam pandangan tentang kebenaran yang datangnya dari berbagai interpretasi. dan tidak mudah dikelola.

tes atau kuis. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran 2. 3. Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan siswa 8. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi. ataupun hukuman 9. dapat berupa. Memberikan penguatan lanjutan atau hukuman 11. Memberikan penguatan atau reinforcement (mungkin penguatan positif ataupun penguatan negatif). karakteristik pebelajar. Memberikan stimulus. tidak berubah. Menyajikan materi pembelajaran 6. pertanyaan baik lisan maupu tertulis. media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.Secara umum langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang dikemukakan oleh Sociati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan dalam merancang pembelajaran. Memberikan stimulus baru 10. meliputi pokok bahasan. tetap. Memecah materi pembelajaran menjadi bagian kecil-kecil. Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal siswa. Menentukan materi pembelajaran 4. topik dsb 5. sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan. pasti. sifat materi pelajaran. latihan atau tugas-tugas 7. Evaluasi belajar Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran. . sub pokok bahasan. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif. langkah-langkah pembelajara tersebut antara lain : 1.

Prinsip Penerapan Teori Ausubel dalam Mengajar Agar terjadi belajar bermakna. pengembangan konsep berlangsung paling baik bila unsur – unsur yang paling umum. model belajar menurut ausubel. Konsep – konsep atau prinsip – prinsip tersebut adalah sebagai berikut. Menurut Ausubel.4. 2. Novak (1985) dalam bukunya learning how to learn mengemukakan bahwa hal itu dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep atau pemetaan konsep.4. Belajar superordinat terjadi. 2. konsep itu tumbuh atau mengalami diferensiasi. Kompetensi Dasar yang Cocok dengan Teori Belajar Ausubel Ada beberapa kompetensi dasar dalam pembelajaran kimia SMA yang dapat di aplikasikan menggunaka teori belajar Ausubel.3Belajar Superordinat Selama informasi diterima dan diasosisasikan dalam struktur kognitif (subsumsi). dan menolong mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat digunakan untuk membantu menanamkan pengetahuan baru. Hal ini terjadi bila dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama. lebih inklusif. Proses subsumsi ini berlangsung hingga pada suatu saat ditemukannya hal baru.4 Penyesuaian integratif Kadang – kadang seorang siswa dihadapkan pada suatu kenyataan yang disebut pertentangan kognitif (cognitive dissonance). konsep baru atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsep – konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa. . bila konsep – konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur – unsur dari suatu konsep yang lebih luas. Kompetensi dasar tersebut diantaranya sebagai berikut.4. Untuk mengatasi atau mengurangi sedapat mungkin pertentangan kognitif ini. 1989). Suatu pengatur awal dapat dianggap semacam pertolongan mental dan disajikan sebelum materi baru. Kelas X semester 2 KOMPETENSI DASAR 3.8 Menganalisis sifat larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit berdasarkan daya hantar listriknya. Dalam menerapkan teori ausebel dalam mengajar. 2. paling inklusif dari suatu konsep diperkenalkan terlebih dahulu.4. Dengan perkataan lain. perlu terjadi pengembangan dan elaborasi konsep – konsep ang tersubsumsi. pada umumnya berlangsung dari umum ke khusus. ada beberapa konsep dan prinsip lain yang perlu kita perhatikan. 2.1 Pengatur Awal Pengatur awal mengarahkan par siswa ke materi yang akan mereka pelajari. selain konsep – konsep yang terdahulu.2 Diferensiasi progresif Selama belajar bermakna berlangsung. atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih dari satu konsep. dan kemudian baru diberikan hal – hal yang lebih mendetail dan khusus dari konsep itu. Ausubel menyarankan suatu prinsip lain yang dinamakan prinsip penyesuaian kognitif (Dahar.

Kelas XII semester 1 3. 3. Materi 4.7Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan menentukan orde reaksi berdasarkan data hasil percobaan. Kelas XI semester 2 3. penulis memilih kompetensi dasar 3. kritis. ulet. melakukan. jujur. bertanggung Kompetens i Dasar jawab.8 kelas X semester 1 dengan rincian sebagai berikut.8 Menganalisis sifat larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit berdasarkan daya hantar listriknya.Kelas XI semester 1 3.elektrolit.3Mengevaluasi dampak pembakaran senyawa hidrokarbon terhadap lingkungan dan kesehatanserta cara mengatasinya. maka guru perlu mengaitkan informasi baru yang akan diterima oleh siswa dengan konsep – . kenaikan titik didih.8 Merancang.2 Alasan pemilihan Kompetensi Dasar 3.8 SMA kelas X Semester 2 KD tersebut dipilih karena sebelum mengikuti pembelajaran mengenai larutan elektrolit dan nonelektrolit.10Menganalisis sifat larutan berdasarkan konsep asam basa dan/atau pH larutan. terbuka.1Menganalisis penyebab adanya fenomena sifat koligatif larutan pada penurunan tekanan uap.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu. Larutan elektrolit dan Nonelektrolit 3. kreatif. dan menyimpulkan serta menyajikan hasil percobaan untuk mengetahui sifat larutan elektrolit dan larutan non. teliti. 2. inovatif. objektif. disiplin. siswa telah memiliki konsep – konsep yang relevan dalam struktur kognitifnya mengenai mengenai larutan yang dapat menghantarkan listrik dan tidak dapat menghantarkan listrik. Dari beberapa kompetensi dasar yang dapat diaplikasikan menggunakan teori belajar Ausubel. demokratis. mampu membedakan fakta dan opini. komunikatif) dalam merancang dan melakukan percobaan serta berdiskusi yang diwujudkan dalam sikap seharihari. penurunan titik beku dan tekanan osmosis. Dengan dimilikinya konsep – konsep dasar yang relevan dalam struktur kognitif siswa tersebut.1 Menyadari adanya keteraturan struktur partikel materi sebagai wujud kebesaran Tuhan YME dan pengetahuan tentang struktur partikel materi sebagai hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentatif. Kelas XI semester 2 3. Sasaran Kelas X semester 2 1.

8 SMA kelas berdasarkan Teori Belajar Ausubel adalah sebagai berikut. jadi timbul pikiran pada para siswa untuk apa bersusah payah belajar secara bermakna.2 Langkah – Langkah untuk Mencapai Kompetensi Dasar 3. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemilihan KD 3.8 SMA kelas X semester 2 untuk diaplikasikan sebagai teori Ausubel adalah bahwa sebelum belajar dengan KD ini.8 SMA kelas berdasarkan Teori Belajar Ausubel Secara garis besar. dan mempersilahkan siswa untuk mempersiapkan diri. Bila tidak dilakukan usaha untuk mengasimilasikan pengetahuan baru pada konsep-konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif. siswa telah memiliki konsep – konsep dalam struktur kognitifnya mengenai adana larutan yang dapat menghantarkan listrik dan tidak dapat menghantarkan listrik. 2.konsep dalam struktur kognitif yang telah ada. langkah – langkah yang dapat dilakukan dalam rangka mencapai KD 3. Lagi pula sistem evaluasi di sekolah menghendaki hafalan. Guru menanyakan apa yang murid ketahui mengenai larutan yang dapat menghantarkan listrik dan yang tidak dapat Hal -hal yang murid lakukan 1. dan akibatnya pada para siswa hanya terjadi hafalan. maka informasi baru akan dipelajari secara hafalan. Guru mengatakan bahwa hari ini akan mempelajari materi mengenai larutan elektrolit dan nonelektrolit. Siswa menjawab bahwa larutan yang dapat menghantarkan listrik merupakan larutan yang dapat digunakan untuk . Tahapan Ausubel A. 3. banyak guru dan bahan-bahan pelajaran jarang sekali menolong para siswa untuk menentukan dan menggunakan konsep-konsep relevan dalam struktur kognitif mereka untuk mengasimilasikan pengetahuan baru. Jika kompetensi dasar yang dipilih tidak memiliki persyaratan bahwa anak harus memiliki konsep – konsep dasar yang relevan dalam struktur kognitifnya. akan terjadi belajar hafalan. Inilah yang dinamakan belajar bermakna menurut Ausubel. Pengatur Awal (Advance Organizer) Hal -hal yang guru lakukan 1. Pada kenyataannya. Siswa mendengarkan kemudian menyiapkan buku tulis dan buku panduan yang mendukung materi yang akan dipelajari 2.

Siswa menunjuk salah satu menyebutkan contoh siswa untuk larutan elektrolit (air menyebutkan contoh aki. sehari – hari. Siswa melakukan percobaan . Siswa menjawab bahwa mereka belum tahu. 4. 4. Guru menjelaskan sedikit mengenai larutan elektrolit dan nonelektolit. Guru memberikan tugas siswa untuk merancang percobaan mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit 7. Guru memberi tugas siswa untuk melakukan percobaan berdasarkan rancangan percobaan yang telah ditentukan. siswa merancang percobaan mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit dengan memanfaatkan berbagai media yang mendukung untuk pencarian informasi 7. Guru 3. 6. 5. Guru menanyakan apa hubungan larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan sifat dalam menghantarkan listrik 5. Siswa bertanya bagaimana membedakan larutan elektrolit dan nonelektrolit dalam kehidupan sehari hari 6. mengalirkan listrik.menghantarkan listrik. sedangkan larutan nonelektrolit merupakan larutan yang tidak dapat digunakan untuk mengalirkan listrik 3. baterai jam) dan larutan elektrolit dan nonelektrolit (air nonelektrolit yang ada suling) yang ada dalam kehidupan dalam kehidupan sehari – hari.

Guru menjelaskan peta konsep mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. 1. Guru memberi tugas siswa untuk menyajikan hasil percobaan larutan elektrolit dan nonelektrolit. B. 8. Diferensiasi Progresif 1. Guru menunjuk 3 orang siswa untuk menunjukkan peta konsep yang telah dibuatnya. Belajar 1. Siswa mendengarkan dan mengamati hubungan konsep – konsep khusus ini dengan konsep inklusif yang telah disampaikan . siswa menuliskan apa hubungan larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan sifat dalam menghantarkan listrik dengan menggunakan peta konsep . 3.teman sekelasnya.8. 3 orang siswa menunjukkan peta konsep yang telah dibuat kepada teman . Guru memberikan tugas untuk siswa menuliskan apa hubungan larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan sifat dalam menghantarkan listrik dengan menggunakan peta konsep 2. Guru menunjukkan peta konsep yang benar mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. Guru menjelaskan konsep – konsep khusus dari sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya. C. 4. Murid memahami peta konsep mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. 1. Superordinat 4. Siswa menganalisis peta konsep yang diberikan guru mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. Siswa menyajikan hasil percobaan : Ada larutan yang menyebabkan lampu menyala dan timbul gelembung gelembung. tidak menyala tapi timbul gelembung serta tidak menyala dan tidak ada gelembung. 3.

Penyesuaian Integratif 1. Pembahasan langkah – langkah untuk Mencapai Kompetensi Dasar 3. yaitu dengan menyatakan bahwa larutan elektrolit merupakan larutan yang dapat menghantarkan listrik seperti contoh yang telah disebutkan siswa pada tahapan pengatur awal. A. Begitu pula dengan larutan non elektrolit. tak lupa guru mengaitkan dengan konsep – konsep dasar yang telah dimiliki oleh struktur kognitif siswa. Misalnya mula – mula guru menerangkan konsep inklusif terlebih dahulu. Penjelasan yang disampaikan oleh guru dimulai dari hal – hal yang paling konklusif kemudian menuju ke konsep yang kurang konklusif. Suatu pengatur awal dapat dianggap sebagai pertolongan mental dan disajikan sebelum materi baru. B.8 SMA kelas berdasarkan Teori Belajar Ausubel adalah sebagai berikut. Kemudian guru menjelaskan bahwa berdasarkan daya hantar listriknya.D. 2. . meyajikan serta menyimpulkan percobaan mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit. Siswa disini berperan dalam proses pengumpulan data serta disini siswa mulai mengkaitkan informasi baru yang ia peroleh dengan konsed – konsep dasar yang terdapat dalam struktur kognitifnya. Adapun peta konsep yang dijelaskan oleh guru adalah sebagai berikut. Diferensiasi Progresif Pada tahapan langkah ini guru menerangkan mengenai peta konsep. Pengatur Awal (Advance Organizer) Pada tahapan ini guru mengarahkan siswa ke materi yang akan mereka pelajari yaitu sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya. seperti apa itu larutan. larutan garam dapur juga merupakan larutan yang bersifat netral sebelumnya. larutan dapat dibedakan menjadi larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. melakukan. Guru menjelaskan bahwa selain bersifat elektrolit kuat. Seperti contoh ada larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dan ada yang dapat menghantarkan arus listrik. Setelah itu guru memberikan tugas kepada siswa untuk merancang. Siswa mendengarkan dan mengajukan pertanyaan mengapa hal tersebut dapat terjadi. dan menolong mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat digunakan untuk membantu menanamkan pengetahuan baru. kemudian menuju ke penjelasan konsep yang khusus seperti contoh – contoh dari masing – masing konsep.

Mengungkapkan konsepsi yang salah. 2. Dengan adanya salah konsepsi seperti ini. ia akan berusaha mengeluarkan konsep – konsep dari apa yang diketahuinya. tugas gurulah untuk membenarkan konsepsi yang salah hingga konsep dasar salah yang ada dalam struktur kognitif siswa berganti menjadi konsep dasar yang benar. Dengan demikian. Setelah itu menempatkan konsep yang paling inklusif misalnya larutan d tempat yang paling puncak dalam peta konsep. atau mengingat konsep – konsep yang telah diterapkannya dalam kehidupan sehari – hari. secara tidak langsung seorang siswa telah berusaha untuk memahami materi yang diajarkan dan menunjukkan bahwa dalam diri anak ini telah terjadi suatu proses belajar berakna. Lebih dari itu mereka akan berusaha mengingat konsep – konsep yang telah diketahuinya di pelajaran yang lalu. Penggunaan peta konsep dapat sebagai alat evaluasi dimisalkan ketika seorang guru akan melakukan evaluasi. maka ia akan menumpahkan segala yang ia tahu mengenai larutan elektrolit dan nonelektrolit dalam sebuah peta konsep. selain itu peta konsep juga dapat digunakan sebagai berikut. Untuk menyelidiki apa yang telah diketahui siswa. Dengan demikian. 1. serta larutan non elektrolit. Dengan adanya tugas dari guru untuk membuat sebuah peta konsep mengenai larutan elektrolit maupun nonelektrolit dari pengetahuan dasar yang telah dimiliki dalam struktur kognitif siswa. guru dapat menentukan materi mana yang harus ditekankan dalam proses pembelajaran. Bila seorang siswa diminta untuk membuat peta konsep. Dengan demikian. Kesalahan konsepsi tersebut dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan sang anak dengan materi yang sedang dipelajari. Sebagai alat evaluasi. guru dapat mempersilahkan siswa untuk membuat sebuah peta konsep dari apa yang telah dipelajari hari ini misalnya mengenai sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya. guru akan mengetahui seberapa besar pengetahuan anak – anak didiknya mengenai larutan elektrolit maupun larutan nonelektrolit. Misalnya : seorang siswa menuliskan bahwa sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya ada 3 yaitu larutan elektrolit kuat. Lalu siswa akan mencari kata penghubung dari semua konsep – konsep yang telah dituliskan dalam peta konsep hingga membentuk sebuah proposisi yang bermakna. Ketika siswa menyusun peta konsep. Sedangkan hal yang benar yaitu sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya ada 2. yng pernah dibacanya dan yang pernah didengarnya. dapat terjadi kesalahan konsepsi yang mereka tuangkan dalam peta konsep tersebut. Sehingga pembelajaran lebih efektif dan diharapkan lebih prestatif. yaitu larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit.Adanya peta konsep disini berfungsi untuk memudahkan guru dalam melakukan pembelajaran. . larutan elektrolit lemah. 3. Mempelajari cara belajar. 4.

Sehingga dapat dipastikan bahwa materi larutan elektrolit dan nonelektrolit telah dipahami oleh siswa dengan jelas. lebih inklusif. . Dengan demikian. guru dapat mengulangi pembelajaran pada bagian yang tidak dipahami siswa untuk pertemuan selanjutnya. Belajar Superordint Selama informasi diterima dan diasosisasikan dalam struktur kognitif (subsumsi). Hal ini terjadi bila dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama. C. Untuk mengatasi atau mengurangi sedapat mungkin pertentangan kognitif ini. atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih dari satu konsep. konsep itu tumbuh atau mengalami diferensiasi. materi mana yang masih samar – samar dan materi mana yang tidak dimengerti siswa sama sekali. dapat diketahui materi mana saja yang siswa pahami dengan pasti.Dari tugas yang telah dikerjakan oleh siswa. D. bila konsep – konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur – unsur dari suatu konsep yang lebih luas. Ausubel menyarankan suatu prinsip lain yang dinamakan prinsip penyesuaian kognitif. sedangkan sifat elektrolit kuat pada NaCl didasarkan pada kemampuannya dalam menghantarkan listrik yang baik. Dengan adanya pertentangan kognitif seperti ini sudah pasti tugas guru yaitu untuk melakukan penyesuaian kognitif dengan cara menjelaskan pada siswa bahwa larutan NaCl bersifat netral itu didasarkan pada [H+] dan[OH-] dalam larutan. namun dalam pembahasan lain disebutkan bahwa larutan NaCl tersebut merupakan larutan yang bersifat netral. Belajar superordinat terjadi. Penyesuaian Integratif Kadang – kadang seorang siswa dihadapkan pada suatu kenyataan yang disebut pertentangan kognitif (cognitive dissonance). Misalnya seorang siswa telah mengetahui bahwa larutan NaCl atau garam dapur merupakan larutan elektrolit kuat. Proses subsumsi ini berlangsung hingga pada suatu saat ditemukannya hal baru.