Anda di halaman 1dari 6

Dalam perkembangan dunia saat ini, masalah sosial mulai muncul sebagai masalah yang sangat

komplek. Kehidupan sosial kemasyarakatan sering dihadapkan pada permasalahan yang serius.
Kita akan membahas masalah aborsi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Aborsi yaitu
pengguguran kandungan karena berbagai alasan. Aborsi pada dasarnya malanggar hak setiap
manusia untuk hidup. Aborsi yang dilakukan oleh manusia sering kali dilakukan oleh anak-anak
muda yang melakukan hubungan seks bebas sebelum menikah tanpa memperhitungkan akibat
yang akan ditimbulkan. Anak muda yang melakukan hubungan kelamin secara bebas akan
menimbulkan dampak yang negatif karena pasangan wanitanya bisa hamil. Hal tersebut yang
membuat kebingungan dari pasangan muda tersebut karena dalam usia yang masih muda mereka
akan menjadi orang tua, belum mempunyai perekonomian yang mapan, dan lain sebagainya
karena alasan tersebut maka pasangan wanita akan melakukan aborsi.
Selain aborsi yang dilakukan oleh anak muda juga dilakukan oleh ibu yang telah mengandung
karena berbagai alasan. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan aborsi bisa dilakukan dengan
alasan bayi dalam kandungan dapat mempengaruhi kesehatan ibu bahkan dapat mengancam
keselamatan nyawa ibu. Dalam kasus pemerkosaan, abosi dapat dilakukan karena dapat
mengganggu kesehatan mental si ibu. Janin didalam kandungan dalam kondisi abnormal serta
seorang ibu yang terkena penyakit HIV/AIDS, maka aborsi bisa dilakukan. Dari faktor sosial
ekonomi, seorang ibu bisa melakukan aborsi, misal ibu tersebut tidak mempunyai cukup uang
untuk menghidupi calon bayi dan mempengaruhi kehidupan si bayi nantinya. Serta dalam suatu
negara yang mempunyai populasi yang sangat cepat, aborsi mungkin dilakukan untuk
menghindari pertambahan penduduk yang cepat. Hal-hal tersebut yang menjadi alasan mengapa
aborsi diperbolehkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dari sudut pandang Buddhis aborsi bisa di toleransi dan dipertimbangkan untuk dilakukan.
Agama Buddha, umat Buddha terdiru dari dua golongan yaitu pabbajita dan umat awam.
Seorang pabbajita mutlak tidak boleh melakukan aborsi karena melanggar vinaya yaitu parajjika.
Tetapi sebagai umat awam aborsi boleh dilakukan dengan alasan yang kuat. Misal janin dalam
kandungan dalam kondisi abnormal yang dapat membahayakan kesehatan ibu bahkan dapat
mengancam keselamatan ibu. Aborsi dalam agama Buddha merupakan suatu pembunuhan yang
tidak diperbolehkan yang dapat menimbulkan karma buruk. Tetapi agama Buddha tidak
melarang secara multak orang yang melakukan aborsi. Dengan alasan yang sangat kuat aborsi
dapat dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Hal terbaik untuk tidak melakukan aborsi adalah
menghindari terjadinya aborsi misal tidak melakukan hubungan seks bebas yang bisa
memungkinkan terjadinya aborsi. Dalam kasus lain yang tidak dapat dihindari untuk terjadinya
aborsi boleh dilakukan dengan alasan tidak ada cara lain yang terbaik dan dengan alasan yang
sangant kuat. Aborsi boleh dilakukan dengan kondisi yang sangat sulit akan tetapi seminimal
mungkin untuk menghindari terjadinya aborsi karena dalam agama buddha aborsi merupakan
suatu pembunuhan yang tidak diperbolehkan karena menghilangkan nyawa suatu mahluk yang
mengakibatkan karma buruk.

.sebab anda melakukannya karena ada unsur 'terpaksa dan ada paksaan dari pihak lain' Mengenai anak kecil yang sering datang dan minta makan dalam mimpi anda itu.. tapi setidaknya akibat karma buruk dari aborsi itu tidak sebesar/ seberat suami anda..saya gak tahu dan siapapun akan sulit untuk melacak akibat dari perbuatan itu. namun tunjukkanlah rasa penyesalan anda tersebut dengan melakukan perbuatan bajik dan bermanfaat bagi diri anda sendiri maupun .. lebih lanjut mengenai kebenarannya .. yang intinya "Karma itu terlahir dari 'Kehendak'/ Niat kita sendiri". dan mengenai bentuk karma yang akan diterimanya.wordpress. diatas ... yang secara gamblang saya katakan bahwa sudah ada unsur pembentuk batin dan makhluk yang sedang bertumimbal lahir didalam rahim anda.hanya menurut pandangan saya saja begitu.. Mengenai hukum karma yang diterima masing-masing atas perbuatan aborsi tsb..com/2010/04/22/pandangan-agama-buddha-tentangaborsi/ Melakukan aborsi didalam Agama Buddha sudah termasuk pelanggaran sila pertama atau pembunuhan dalam Pancasila Buddhis. Semoga anda tidak terlalu tenggelam dalam perasaan-perasaan bersalah karena telah melakukan aborsi tsb. . Sedangkan anda bukannya terbebas dari 'akibat' perbuatan itu lho....http://amitofo...yang memiliki 'Niat/kehendak' untuk aborsi adalah suami anda.... sebab dalam Buddha Dhamma kehamilan itu dihitung sejak bertemunya sel telur dengan sperma .saat ini hal itu sudah tidak penting lagi... Dalam hal tsb.. maka akan semakin kecil pula buah karma yang diterima'.. karena sudah terlanjur dilakukan dan telah berlalu pula.yang berarti saat itulah 'kesadaran penerus' (patisandhi citta) itu datang .. saya sendiri juga tidak tahu ... kita dapat mengacu pada ajaran Sang Buddha tentang Karma .saya cenderung berpandangan bahwa itu adalah pengaruh secara kejiwaan/phsykis akibat timbulnya perasaan bersalah karena anda telah melakukan aborsi.. maka dapat dipastikan bahwa buah karma buruk terbesar adalah pada suami anda. jadi semakin kita 'terpaksa' melakukan suatu perbuatan. Sekarang yang terpenting adalah lakukanlah lebih banyak perbuatan bajik dengan melimpahkan jasa kepada calon bayi tsb.. Benar atau salah.

. Sesungguhnya di mana ada orang yang ingin hamil maka di tempat yang sama juga ada kehamilan yang tidak diinginkan. No Comments Received Peristiwa aborsi memang ada di sepanjang sejarah manusia.. c) Ada aturan perusahaan yang tidak memperbolehkan karyawatinya hamil (meskipun punya suami) selama dalam kontrak dan kalau ketahuan hamil akan dihentikan dari pekerjaannya. . b) Masyarakat cenderung menyisihkan dan menyudutkan wanita yang hamil di luar nikah.. Padahal masih banyak sikap-sikap di masyarakat kita sendiri yang mendorong perempuan untuk terpaksa melakukan aborsi.. Wanita selalu disalahkan. ucapan dan badan jasmani anda. Kenyataannya ada kesenjangan antara respons masyarakat yang kebanyakan bernada tunggal tersebut dengan realita yang terjadi.. Banyaknya kasus aborsi di kalangan remaja saat ini yang berakibat merenggut nyawa menunjukkan pendidikan seks bagi remaja sudah saatnya dipikirkan. Published on 31 January 2011. Sikap yang ditanamkan sesungguhnya memang mempunyai latar belakang yang berbeda seperti : a) Keluarga yang tidak siap karena memiliki ekonomi pas-pasan sehingga cenderung bersikap menolak kelahiran anak. Dari fakta hasil penelitian selama ini jelas salah kalau kita menganggap bahwa kehamilan yang tidak dikehendaki selalu dihubungkan dengan akibat pergaulan bebas apalagi kalau berpikir bahwa itu hanya terjadi pada remaja.bagi semua makhluk yang tampak dan tak tampak melalui pikiran. dan tentu saja tidak akan mengulangi lagi dikemudian hari. Sejauh ini masyarakat khususnya kalangan remaja intelektual tergesa-gesa dalam menyimpulkan kasus aborsi hanya dilakukan karena pergaulan bebas dan mengutuk perilaku sang pelaku tanpa mempertimbangkan faktorfaktor lain yang ada di dalamnya. Mencermati kasus ini memang dibutuhkan pemikiran jernih. tidak ditolong atau dibesarkan jiwanya tetapi malah ditekan dan disudutkan sehingga dalam reaksinya wanita tersebut akan melalukan aborsi... Aborsi Menurut Pandangan Agama Buddha Posted by administrator .

Ditambah dengan tekanan masyarakat yang menyisihkan sehingga akhirnya ia melakukan aborsi supaya tetap eksistensi di masyarakat dan dapat melanjutkan sekolah. psikis dan sehat sosial). Karena merasa malu. Sementara itu dalam RUU Kesehatan tentang aborsi terdapat pada pasal 60 ayat 1 dan 2 yang menyebutkan pemerintah berkewajiban melindungi kaum perempuan dari praktik pengguguran kandungan yang tidak bermutu. Padahal sebagaimana tercantum dalam UU Kesehatan No. Dengan kata lain seseorang diperkenankan melakukan aborsi (dengan alasan kesehatan badan/keselamatan jiwa) asalkan dilakukan oleh dokter yang profesional dengan fasilitas yang memadai dan ditunjuk oleh pemerintah. mengakibatkan kecelakaan dan membuahkan kehamilan. sehingga perempuan yang mengalaminya lebih menjurus menolak kehamilanya dan ujung-ujungnya akan melakukan aborsi. g) Praktik aborsi adalah fenomena yang timbul karena perubahan nilai di masyarakat. takut kalau kesempatan belajarnya terhenti dan barangkali masa depannya pun menjadi buruk. Maka hal ini akan memicu seorang wanita yang mengalami suatu masalah akan melakukan aborsi dengan alasan usia bayi belum sampai 3 bulan. praktik aborsi tidak dapat diantisipasi dengan hanya bentuk pelarangan semata. sementara batasan-batasan mengenai syarat dan kondisi seseorang diperbolehkan melakukan aborsi sama sekali tidak dibahas. Sama halnya dengan praktik pelacuran. 23 Tahun 1992 yang dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan. h) Selama ini indikasi medis yang dipakai sebagai dasar bolehnya aborsi hanya didasarkan pada kesehatan badan/keselamatan jiwa dan mengabaikan konsep definisi kesehatan secara keseluruhan (sehat fisik. f) Pandangan sebagian orang bahwa tanda-tanda kehidupan janin antara lain adanya detak jantung yakni umur sekitar tiga bulan. Dalam pasal itu terlihat bahwa pembatasan aborsi hanya pada upaya-upaya praktik aborsi oleh tenaga non medik seperti melalui dukun. tidak aman dan tidak bertanggungjawab melalui perundangundangan. . jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. e) Dari segi medis diketahui umur reproduksi sehat antara 20-35 tahun. Batasan ini sering menakutkan. dengan temantemannya. Dalam ayat 2 dijelaskan pengguguran kandungan yang tidak bermutu antara lain di lakukan tenaga kerja tidak profesional dan dilakukan tanpa mengikuti standar profesi yang berlaku. misal SMA.d) Pergaulan yang sangat bebas bagi remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Bila seorang wanita hamil di luar batasan umur itu akan masuk dalam kriteria risiko tinggi. obat-obat tradisional.

aborsi identik dengan pembunuhan. Dengan demikian konvensi ini memberi peluang bagi perempuan untuk malakukan aborsi sebagai pilihan bebas menyangkut hak-hak reproduksinya. menyangkut sila pertama yaitu panatipata. Baik dalam keputusan-keputusan di pengadilan maupun dalam pembelaan menyangkut soal perempuan konvensi ini jarang digunakan sebagai bahan pertimbangan. Syarat yang harus dipenuhi terjadinya makhluk hidup : a) Mata utuni hoti : masa subur seorang wanita b) Mata pitaro hoti : terjadinya pertemuan sel telur dan sperma c)Gandhabo paccuppatthito : adanya gandarwa. Antara lain hak untuk memutuskan kapan dan akankah perempuan mempunyai anak.7 tahun 1984. Dalam pandangan agama Buddha aborsi adalah suatu tindakan pengguguran kandungan atau membunuh makhluk hidup yang sudah ada dalam rahim seorang ibu. Dalam pandangan medis abortus yang diperbolehkan adalah abortus berdasarkan indikasi medis (abortus artificialis therapicus) selebihnya aborsi yang dilakukan tanpa indikasi medis dikategorikan sebagai abortus kriminal (abortus provocatus criminalis). Suatu pembunuhan telah terjadi bila terdapat lima faktor sebagai berikut : a) Ada makhluk hidup (pano) b) Mengetahui atau menyadari ada makhluk hidup (pannasanita) c) Ada kehendak (cetana) untuk membunuh (vadhabacittam) d) Melakukan pembunuhan ( upakkamo) e) Makhluk itu mati karena tindakan pembunuhan ( tena maranam) . Selain hak untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanan kesehatan. Inilah yang kemudian diadopsi di dalam substansi hukum sebagaimana yang diatur lewat KUHP. konvensi ini jelas menjamin hak-hak reproduksi perempuan. Apakah melakukan aborsi berarti melakukan pembunuhan? Seringkali pertanyaan ini menjadi bahan perdebatan dari berbagai sudut pengetahuan.Perlindungan terhadap kesehatan perempuan berkaitan dengan hak-hak reproduksinya pada dasarnya telah diatur dalam UU No. Dalam masalah aborsi pandangan medis maupun agama yang dikembangkan di masyarakat adalah satu. kesadaran penerusan dalam siklus kehidupan baru (pantisandhi-citta) kelanjutan dari kesadaran ajal (cuti citta). yang memiliki energi karma Dari penjelasan diatas agama Buddha menentang dan tidak menyetujui adanya tindakan aborsi karena telah melanggar pancasila Buddhis. Sebab sistem hukum yang ada sama sekali tidak sensitif gender dan cenderung mengabaikan kepentingan perempuan.

baik dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang. . Hendaknya kasus aborsi yang sering terjadi menjadi pelajaran bagi semua pihak. norma dan ajaran agama. akibat perbuatan yang telah dilakukannya itu ia akan dilahirkan kembali sebagai manusia di mana saja ia akan bertumimbal lahir. Ini juga sebagai akibat dari perbuatan (karma) buruk yang dilakukan saat ini. kejam dan gemar memukul serta membunuh tanpa belas kasihan kepada makhluk hidup. Oleh karena itu sila berhubungan erat dengan karma maka pembunuhan ini akan berakibat buruk yang berat atau ringannya tergantung pada kekuatan yang mendorongnya dan sasaran pembunuhan itu. Bagi para remaja tidak menyalahartikan cinta sehingga tidak melakukan perbuatan salah yang melanggar sila. Bagi mereka yang menyediakan jasa aborsi tidak resmi dan ketahuan tentu akan mendapat ganjaran menurut hukum negara. Dalam Majjhima Nikaya 135 Buddha bersabda “Seorang pria dan wanita yang membunuh makhluk hidup. umurnya tidaklah akan panjang”.Apabila terdapat kelima faktor dalam suatu tindakan pembunuhan. ibu sang bayi juga melakukan hal yang sama. maka telah terjadi pelanggaran sila pertama. Bagaimanapun mereka telah melakukan tindak kejahatan dan akan mendapatkan akibat di kemudian hari. Bukan hanya pelaku saja yang melakukan tindak pembunuhan. Bagi pasangan yang sudah berumah tangga mengatur kelahiran dengan program yang ada dan bagi pihak-pihak lain yang terkait tidak mencari penghidupan dengan cara yang salah sehingga melanggar hukum. Mudah-mudahan masyarakat luas dan umat Buddha pada khususnya dapat memahami hal ini sehingga tidak terjerumus pada perbuatan buruk yang merugikan diri sendiri dan makhluk lain. setelah melalui proses peradilan berdasarkan bukti-bukti yang ada.