Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KASUS

BARTHOLINITIS
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Program Pendidikan Profesi
Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakutas Kedokteran Universitas Trisakti
Di Rumah Sakit Umum Kardinah Tegal

Pembimbing :
dr. Dody Suhartono, Sp.KK.,MM.

Disusun Oleh :
Vivy Desyanti
030.11.303
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH TEGAL
PERIODE 01 FEBRUARI 2016 05 MARET 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

LAPORAN KASUS

BARTHOLINITIS
Pembimbing : dr. Dody Suhartono, Sp.KK
Oleh : Vivy Desyanti (030.11.303)
I. PENDAHULUAN
Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ genitalia eksterna.
Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan, salah satunya adalah infeksi,
infeksi dapat mengenai organ genitalia interna maupun eksterna dengan berbagai macam
manifestasi dan akibatnya. Tidak terkecuali pada glandula vestibularis mayor atau dikenal
dengan kelenjar bartolini. Kelenjar bartolini merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian
bawah introitus vagina. Jika kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung lama dapat
menyebabkan terjadinya kista bartolini.

(1)

Kelenjar bartolini adalah kelenjar bilateral yang

terletak pada vulva, normalnya diameter kurang dari 1 cm, dan sekresi mukus untuk lubrikasi
vagina. Duktus pada bartolini, normalnya dilapisi oleh epitel transisional. Kelenjar bartolini
dapat membesar dan melebar jika duktus tersumbat. (2,3)
Bartolinitis adalah infeksi pada kelenjar bartolin. Etiologi bartolinitis disebabkan oleh
infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina. Infeksi alat
kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : virus (kondiloma akuminata dan
herpes simpleks), jamur (kandida albikan), protozoa (amobiasis dan trikomoniasis), dan
bakteri (neiseria gonore). (1,4)
Manifestasi klnis dari bartolinitis pada vulva adalah perubahan warna kulit,
membengkak, timbunan nanah dalam kelenjar, dan nyeri tekan. Selain itu, gejala lain adalah
kelenjar bartolini membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan atau duduk, juga
dapat disertai demam. Keluhan lain yang dapat muncul pada bartolinitis adalah keputihan,
gatal, rasa sakit saat berhubungan dengan suami, rasa sakit saat buang air kecil, atau ada
benjolan di sekitar alat kelamin dan terdapat abses pada daerah kelamin. (1,3)
Bartolinitis merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan kasus terjadi
pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dari 50 wanita akan mengalami bartolinitis
dalam hidup mereka, sehingga hal ini merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. (4)
2

Keluhan pasien pada umumnya adalah benjolan, nyeri, dan dispareunia. Penyakit ini
cukup sering rekurensi. Bartolinitis sering kali timbul pada gonorrhea, akan tetapi dapat pula
mempunyai sebab lain, misalnya streptokokus. Pada bartolinitis akut kelenjar membesar,
merah, nyeri, dan lebih panas dari daerah sekitarnya. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat
keluar melalui duktusnya, atau jika duktusnya tersumbat, mengumpul didalamnya dan
menjadi abses yang kadang-kadang dapat menjadi sebesar telur bebek. Jika belum menjadi
abses, bisa diatasi dengan antibiotik, jika sudah bernanah harus dikeluarkan dengan sayatan.(4)

II.

KASUS
Seorang wanita berusia 30 tahun, sudah menikah, memiliki satu orang anak, beragama

islam, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, dan pendidikan terakhir SMA datang ke Poli
kulit dan kelamin RSUD Kardinah Tegal pada tanggal 12 Februari 2016 jam 11.15 WIB
dengan keluhan utama benjolan di kemaluan, yang dirasakan nyeri sejak kurang lebih satu
minggu yang lalu.

ANAMNESIS KHUSUS
(Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 12 Februari 2016 pukul 11.20 WIB di Poli kulit dan
kelamin RSUD Kardinah Tegal).

Pasien datang ke Poli kulit dan kelamin RSUD Kardinah Tegal dengan keluhan
muncul benjolan di kemaluan yang dirasakan nyeri lebih kurang satu minggu yang lalu.
Benjolan tersebut berada di sebelah kiri pada bibir kemaluan. Benjolan yang disertai
kemerahan terasa sakit terutama saat berjalan dan duduk. Selain benjolan tersebut, terdapat
cairan berwarna putih kekuningan, jumlahnya banyak dan berbau yang keluar dari kemaluan
pasien. Pasien mengaku nyeri saat berhubungan seksual dengan suaminya.
Dua bulan yang lalu suami pasien mengalami gejala kencing nanah dan membeli obat
diapotik tanpa resep dokter, dan gejalanya berkurang sehingga suami pasien tidak
memeriksakan ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Pasien mengatakan bahwa suaminya
pernah melakukan hubungan seksual selain dengan dirinya.
Pasien mengatakan belum pernah berobat untuk mengurangi gejala yang dialami
sekarang. Pasien menyangkal adanya demam dan pasien mengaku memiliki riwayat alergi
obat asam mefenamat. Pasien mengatakan tidak adanya riwayat konsumsi pemakaian
antibiotik oral jangka panjang, konsumis pil KB, dan penggunaan obat kortikosteroid. Pasien
tidak merokok dan minum alkohol.
Pasien mengaku bahwa benjolan ini adalah yang ketiga kalinya. Benjolan pertama
muncul pada tahun 2013 dan dilakukan pengobatan sampai sembuh. Benjolan kedua muncul
pada tahun 2015 dan tidak menimbulkan gejala sehingga pasien tidak mengobatinya. Pasien
menyangkal adanya riwayat keputihan dan riwayat penyakit menular seksual sebelumnya.
Pasein juga menyangkal adanya riwayat kencing manis dan hipertensi.
PEMERIKSAAN FISIK
1. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda Vital
:
Tekanan Darah
Nadi
Suhu
Pernafasan
Berat Badan
Tinggi
Status Gizi

: Baik, tampak sakit ringan.


: Compos Mentis
: 120/80 mmHg
: 78 x/menit
: Afebris
: 20 x/menit
: 45 Kg
: 150 cm
: Baik (BMI=20)

Kepala

: Bentuk Normocephali

Mata

: Conjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik


4

Hidung

: Tidak ada septum deviasi, sekret (-)

Mulut

: Bibir tidak sianosis, karies gigi (-), tonsil T1-T1 tenang, faring
tidak hiperemis.

Telinga

: Normotia, serumen (-)

Leher

: Tidak terdapat pembesaran KGB

Thorax

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Bentuk simetris, gerak napas simetris.


: Vokal fremitus sama kuat kanan dan kiri
: Sonor di semua lapang paru
: Suara napas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-.

Abdomen

: Dasar, supel, tidak tampak kelainan kulit.

Ekstremitas

: Superior : Oedem (-), deformitas (-), kelainan sendi (-),


kelainan kulit (-).
Inferior : Oedem (-), deformitas (-), kelainan sendi (-),
kelainan kulit (-).

Kuku

: Pitting nail (-), onikolisis (-), diskolorisasi (-).

2. STATUS VENEROLOGIKUS
Inguinal : KGB (Kelenjar Getah Bening) tidak teraba membesar, nyeri (-), tanda
radang (-).
Pubis : tidak tampak kelainan.
OUE (Orifisium Urethra Eksterna) : Eritema (-)
Liang Vagina : Eritema (+), duh tubuh (+), mukopurulen, berwarna putih kekuningan,
jumlah banyak, dan berbau.
Vulva : tampak massa di labia minora sinistra dengan diameter 1,5cm, disertai
eritema.
Perineum dan Anus : tidak ada kelainan.

Gambar 1. Tampak labia minor kiri oedem

Gambar 2. Tampak kelenjar bartholini kiri mengalami oedem dan eritema serta
tampak sekret mukopurulen berwarna putih kekuningan.

PEMERIKSAAN KHUSUS
Tidak dilakukan pemeriksaan khusus.

RESUME
Seorang wanita berusia 30 tahun, sudah menikah, memiliki satu anak, beragama
islam, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dan pendidikan terakhir SMA datang ke Poli kulit
dan kelamin RSUD Kardinah Tegal pada tanggal 12 Februari 2016 pada pukul 11.15 WIB
dengan keluhan utama benjolan di kemaluan yang dirasakan nyeri sejak kurang lebih satu
minggu yang lalu.
Dari anamnesis didapatkan benjolan di kemaluan yang dirasakan nyeri lebih kurang
satu minggu yang lalu. Benjolan tersebut berada di sebelah kiri pada bibir kemaluan yang
disertai kemerahan ,terasa sakit terutama saat berjalan dan duduk. Selain benjolan tersebut,
terdapat cairan berwarna putih kekuningan, jumlahnya banyak dan berbau yang keluar dari
kemaluan pasien. Pasien mengaku nyeri saat berhubungan seksual dengan suaminya.
Dari pengakuan pasien, dua bulan yang lalu suami pasien mengalami gejala kencing
nanah dan membeli obat diapotik tanpa resep dokter, dan menurut suami pasien gejalanya
berkurang sehingga tidak memeriksakan ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Pasien
mengatakan bahwa suaminya pernah melakukan hubungan seksual selain dengan dirinya.
Dari pemeriksaan fisik: Status generalis: dalam batas normal. Status venerologikus:
Liang Vagina : Eritema (+), duh tubuh (+), mukopurulen, berwarna putih kekuningan, jumlah
banyak, dan berbau. Vulva : tampak massa di labia minora sinistra dengan diameter 1,5cm
disertai eritema.

DIAGNOSIS BANDING
7

1. Bartholinitis
2. Kista bartholini
3. Abses bartholini

DIAGNOSIS KERJA
Bartholinitis

USULAN PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Laboratorium
2. Pemeriksaan Kultur untuk mengidentifikasi jenis bakteri penyebab infeksi
dan untuk mengetahui ada tidaknya kaitan dengan penyakit menular seksual
seperti Gonore. Dari pemeriksaan ini juga dapat diketahui antibiotik yang tepat
untuk diberikan terhadap pasien.

PENATALAKSANAAN
1. UMUM
Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya dan pengobatannya.
Memotivasi pasien untuk rutin berobat.
Sarankan pasien agar suami juga ikut diperiksakan ke dokter dan diobati jika

positif terinfeksi.
Menyarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual terlebih dahulu.

2. KHUSUS
a. Sistemik
Antibiotik : Cefixime 100mg dan Doksisiklin

100mg diberikan 2x sehari

selama 7 hari.

PROGNOSIS
-

Quo ad vitam
Quo ad fungtionam
Quo ad sanationam
Quo ad cosmeticum

:
:
:
:

Ad bonam
Ad bonam
Dubia ad bonam
Ad bonam

III.

PEMBAHASAN
Bartolinitis merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan kasus terjadi

pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dari 50 wanita akan mengalami bartolinitis
dalam hidup mereka, sehingga hal ini merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. (4)
Keluhan pasien pada umumnya adalah benjolan, nyeri, dan dispareunia. Penyakit ini
cukup sering rekurensi. Bartolinitis sering kali timbul pada gonorrhea, akan tetapi dapat pula
mempunyai sebab lain, misalnya streptokokus. Pada bartolinitis akut, kelenjar membesar,
merah, nyeri, dan lebih panas dari daerah sekitarnya. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat
keluar melalui duktusnya, atau jika duktusnya tersumbat, mengumpul didalamnya dan
menjadi abses yang kadang-kadang dapat menjadi sebesar telur bebek. Jika belum menjadi
abses, keadaan bias diatasi dengan antibiotik, jika sudah bernanah harus dikeluarkan dengan
sayatan. (4)
Diagnosis bartolinitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan khusus. Pada anamnesis didapatkan keluhan benjolan di kemaluan, yang
dirasakan nyeri sejak kurang lebih satu minggu yang lalu. Benjolan tersebut berada di sebelah
kiri pada bibir kemaluan. Benjolan yang disertai kemerahan terasa sakit terutama saat
berjalan dan duduk. Selain benjolan tersebut, terdapat cairan berwarna putih kekuningan,
jumlahnya banyak dan berbau yang keluar dari kemaluan pasien. Pasien mengaku nyeri saat
berhubungan seksual dengan suaminya.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis didapatkan dalam batas normal. Status
venerologikus: Liang Vagina : Eritema (+), duh tubuh (+), mukopurulen, berwarna putih
kekuningan, jumlah banyak, dan berbau. Vulva : tampak massa di labia minora sinistra
dengan diameter 1,5cm, disertai eritema. Berdasarkan dari pemeriksaan fisik tersebut sesuai
dengan teori tentang bartolinitis.

Dalam menegakkan diagnosis bartholinitis, perlu juga dilakukan pemeriksaan kultur


untuk mengidentifikasi jenis bakteri penyebab infeksi dan untuk mengetahui ada tidaknya
kaitan dengan penyakit menular seksual seperti Gonore. Dari pemeriksaan ini juga dapat
diketahui antibiotik yang tepat untuk diberikan terhadap pasien. Selain itu, perlu juga
dipikirkan apabila terjadi pembengkakan pada kelenjar bartolini kemungkinan lain adalah
kista bartolini dan abses bartolini.
Kista bartolini tidak selalu menyebabkan keluhan akan tetapi kadang dirasakan
sebagai benda yang berat dan menimbulkan kesulitan pada waktu koitus. Jika kista bartolini
masih kecil dan tidak terinfeksi, umumnya asimptomatik. Tetapi bila berukuran besar dapat
menyebabkan rasa kurang nyaman saat berjalan atau duduk. Gejala yang paling umum seperti
nyeri, dispareunia, rasa tidak nyaman saat duduk atau berjalan. Tanda kista bartolini yang
tidak terinfeksi berupa penonjolan yang tidak nyeri pada salah satu sisi vulva disertai
kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva.(5,6)
Ada kalanya bartolinitis menjadi abses karena duktus kelenjar tertutup dan terjadi
proses pernanahan didalam kelenjar tersebut. Gambaran klinis pada abses bartolini yaitu akut,
pembengkakan labia unilateral disertai nyeri. Abses bartolini biasanya berkembang selama
dua sampai empat hari dan dapat menjadi lebih besar dari 8 cm. Cenderung pecah dan
mengering empat sampai lima hari, dispareunia, kesulitan dalam berjalan atau duduk.
Ditemukan adanya vaginal discharge terutama jika infeksi disebabkan oleh organisme
menular seksual, dan dapat disertai demam. (6)
Penatalaksanaan pada kasus ini yaitu secara umum dan khusus. Penatalaksanaa umum
pada pasien ini yaitu dengan menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya dan
pengobatannya.
Penatalaksanaan khusus untuk pasien ini yaitu berupa terapi sistemik antibiotik
spektrum luas. Diberikan Cefixime 100mg 1x sehari untuk menahan sintesis dinding sel
bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri. Selain itu juga diberikan Doksisiklin 100mg
1x sehari untuk menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara menghambat sintetis protein
bakteri.
Prognosis dari penyakit ini adalah baik jika dilakukan pengobatan secara teratur.
Tidak menyebabkan kematian, tetapi bersifat rekurensi.
.

10

DAFTAR PUSTAKA
1. Sastrawinata RS. Infeksi Alat Kandungan. Dalam: Ginekologi Ed. 2nd. Bagian
Obstetri dan Ginekologi FK UNPAD, Bandung: 2010. 81-114
2. Jonathan S. Marsupialization of Bartholin Gland Cyst. In : Rock JA, Jones
HW,eds. Telindes Atlas of Gynecology Surgery. Philadelphia, PA : Lippincott
Williams dan Wilkins; 2014: 73-77.
3. Prawirohardjo S. Ilmu Kandungan. Ed. IV. PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta : 2014.
4. Anwar M, Baziad A, Prabowo RP. Tumor Jinak Vulva, Kista Bartolini. Dalam:
Ilmu Kandungan. Edisi 3. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono. 2011.p. 252-3.
5. Stenchever MA, Droegemuller W, Herbst AL, Mishell DR. Infection of the lower
genital tract : vulva, vagina, cervix, toxic shock syndro,e, HIV infection in
Comprehensive Gynecology 4th ed. USA: 2007.
6. Quinn A. Bartholin Gland Diseases. Emedicine Medscape. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/777112-overview#showall.

11