Anda di halaman 1dari 4

Journal Reading

Classification of Subcutaneous and Systemic Mycoses

Disusun oleh :
Eunike
112013122

Pembimbing :
dr. Oedayati Djarot., Sp. KK

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit Kelamin
Rumah Sakit Mardi Rahayu
Universitas Kristen Krida Wacana
Periode 12 Oktober – 14 November 2015
Klasifikasi Mikosis Subkutaneus dan Sistemik

terutama pada penyakit yang jarang di observasi yang terdapat pada daerah geografis tertentu. sistemik. Oliverio Welsh. beberapa infeksi klinis mirip disebabkan oleh bakteri actinomycetic aerobik dan lain-lain disebabkan oleh parasit (rhinosporidiosis) yang secara tradisional termasuk dalam deskripsi penyakit mikotik. sedangkan organisme dengan veirulensi yang lebih rendah lainnya menyebabkan penyakit oportunistik pada individu dengan imunosupresi. Akhirnya. Pada buku-buku ajar tentang Mikologi menyatakan bahwa mikosis sistemik disebabkan oleh jamur dimorfik dan memisahkan mereka dari penyakit disebabkan oleh ragi (Candida spp. Klasifikasi yang paling umum adalah memisahkan infeksi sistemik dari penyakit oportunistik menurut virulensi jamur dan respon imun pada host. dan Paracoccidioides brasiliensis merupakan jamur patogenik dimorfik sistemik. MD. dan oportunistik. Untuk menentukan konsep ini. namun terdapat suatu kesepakatan. Istilah "mendalam" kadang-kadang digunakan sebagai sinonim untuk sistemik. Pendahuluan Walaupun tidak ada konsensus mengenai klasifikasi mikosis subkutaneus dan sistemik. Terdapat perbedaan. Hal ini disebabkan beberapa agen berperan sebagai organisme oportunistik pada pasien dengan imunosupresi. Gabriela Moreo-Coutino.Roberto Arenas. Blastomyces dermatitides. Coccidioides spp. Histoplasma spp. Cryptococcus spp). digunakan untuk menggambarkan subkutan dan penyakit sistemik. dimana dapat menimbulkan efek pada jaringan subkutaneus dan menyebar menjadi penyakit sistemik. MD Abstrak Klasifikasi infeksi fungal terhadap manusia pada laporan medis terkadang membingungkan. terlepas dari status imun dari pasien . dan di lain waktu. kita sebaiknya mengklasifikasikan mikosis subkutan sebagai infeksi mikotik yang terutama melibatkan jaringan subkutan. meskipun terkadang dapat menyebar ke tempat lain dan dapat menyebar atau menjadi infeksi sistemik. MD. Berdasarkan kontribusi ini para dokter memiliki klasifikasi pada infeksi jamur secara subkutan.

infeksi jamur telah dikelompokkan menurut presentasi klinis. Insiden dan prevalensi bervariasi. . Kondisi ini mendukung pengembangan jamur tertentu. tergantung pada kondisi lingkungan di daerah di mana mereka terjadi. Chromoblastomycosis. Beberapa tahun belakangan ini. sebelumnya dikenal sebagai mikosis dalam. Mikosis Subkutaneus Mikosis subkutaneus. dan kekurangan gizi. dan mikosis oportunistik. sistemik. Kofaktor lain yang juga berkontribusi untuk pengembangan penyakit ini termasuk jenis kelamin laki-laki. dan meninggalkan tuan rumah dengan resistensi khusus untuk reinfeksi. jenis pekerjaan. Meskipun jamur ini mampu menyebabkan penyakit pada individu imunokompeten. Inokulasi disebabkan oleh trauma implantasi. termasuk dalam kelompok ini.tersebut. Mikosis endemik. termasuk infeksi primer atau reaktivasi penyakit. lalu dikelompokan menjadi superfisial. dan blastomycosis. latar belakang genetik. Mereka adalah jamur dimorfik yang biasanya masuk ke dalam organisme melalui saluran pernapasan. sporotrichosis. dan 90% dari infeksi tanpa gejala atau dapat sembuh sendiri. dan eumycetoma yang lebih umum. Mikosis Sistemik Mikosis sistemik yang disebabkan oleh jamur patogen yang mampu menyebabkan penyakit ketika inokulum cukup. dengan pertumbuhan perifer yang lambat. histoplasmosis. Infeksi ini lebih banyak terjadi di daerah pedesaan pada negara-negara terbelakang. subkutan. paracoccidioidomycosis. termasuk kelompok infeksi yang diperoleh dari jamur saprofit di mana mempengaruhi kulit dan jaringan subkutan. namun gejala yang terjadi lebih parah pada pasien dengan imunosupresi. dan infeksi ini memiliki evolusi subakut atau kronis. Tempat lain dari infeksi primer jarang terjadi (primer coccidioidomycosis). Limfatik atau diseminasi hematologi jarang terjadi. Lacaziosis dan conidiobolomycosis (entomophthoramycosis) yang langka dan memiliki asosiasi yang rendah dengan keadaan imunosupresi. Penyakit jamur tetap lokal dengan daerah inokulasi. seperti coccidioidomycosis. meskipun jamur ini dianggap memiliki virulensi yang rendah.

Jamur dalam kelompok ini termasuk cetakan dan ragi yang khas tidak dimorfik. Kesimpulan Penulis menyajikan klasifikasi klinis dari penyakit jamur superfisial. sering terdapat pada pasien dengan leukemia. tapi jarang pada individu yang terinfeksi HIV.Mikosis Oportunistik Jamur oportunistik memiliki virulensi yang rendah. misalnya. Jamur oportunistik dapat diinokulasi melalui pernafasan atau saluran pencernaan. sehingga mereka menyebabkan penyakit hanya dalam keadaan tertentu. mucormycosis. Pemulihan tidak meninggalkan kekebalan spesifik. dan infeksi karena Penicillium marneffei. Trichosporon spp. Infeksi jarang tergantung pada ukuran inokulum. subkutaneus. atau etnis. memperjelas konsep. dan Fusarium spp. seks. Mucormycosis. pada mereka yang telah menerima transplantasi organ atau transplantasi sumsum tulang. kriptokokosis. atau melalui intravaskular. melalui lesi traumatik di kulit. dan tidak ada perbedaan usia. Individu dengan HIV / AIDS dan pasien yang diobati dengan obat imunosupresan membuat infeksi oportunistik lebih mudah terjadi dan gejala lebih buruk. . sistemik dan oportunistik untuk menghindari kekeliruan. dan pada mereka yang diobati dengan steroid atau yang mengalami neutropenia. berbeda dengan infeksi yang disebabkan oleh jamur patogen. dan mengkategorikan gejala klinis pada infeksi jamur ini. pada individu dengan diabetes ketoasidosis. Penyakit yang paling umum terjadi dalam kategori ini adalah kandidiasis. Komorbiditas merupakan penentu dalam jenis dan keparahan infeksi oportunistik.