Anda di halaman 1dari 22

Kabar Terbaru

Perawatan Umum

Tentang Saya
ANATOMI FISIOLOGI CAIRAN TUBUH
Posted on Juli 24, 2008. Filed under: Kesehatan Umum | Kaitkata:Anatomi, cairan
tubuh, fisiologi, plasma |
Jenis dan komposisi tubuh dan pergerakan keseimbangan cairan
Lebih kurang 60% berat badan orang dewasa pada umumnya terdiri dari cairan (air
dan elektrolit). Faktor yang mempengaruhi jumlah cairan tubuh adalah umur, jenis
kelamin,
dan
kandungan
lemak
dalam
tubuh.
Secara umum orang yang lebih muda mempunyai persentase cairan tubuh yang
lebih tinggi dibanding dengan orang yang lebih tua, dan pria secara proporsional
mempunyai lebih banyak cairan tubuh dibanding dengan wanita. Orang yang lebih
gemuk mempunyai jumlah cairan yang lebih sedikit dibandingkan dengan orang
yang
lebih
kurus,
karena
sel
lemak
mengandung
sedikit
air.
Cairan tubuh terdiri dari dua kompartemen cairan, yaitu: ruang intra seluler (cairan
dalam sel) dan ruang ekstra seluler (cairan luar sel). Kurang lebih 2/3 cairan tubuh
berada dalam kompartemen cairan intra sel, dan kebanyakan terdapat pada massa
otot skeletal.
Kompartemen cairan ekstra sel lebih jelas dibagi menjadi ruang:
- Intra vascular (cairan dalam pembuluh darah), mengandung plasma.
8 pada orang dewasa.
Contohnya limfe.- Ruang interstitial, mengandung
cairan yang mengelilingi sel dan jenisnya
- Ruang muskuler, merupakan bagian terkecil dari cairan ekstra seluler dan
mengandung kurang lebih 1 liter cairan setiap waktu.
Pergerakan Cairan /Keseimbangan Cairan
Cairan tubuh normalnya berpindah antara kedua kompartemen atau ruang utama
dalam upaya untuk mempertahankan keseimbangan nilai cairan. Hilangnya cairan
intra seluler (CES) ke dalam ruang yang tidak mempengaruhi keseimbangan antara
cairan intra seluler dengan ekstra seluler, (CIS) dan (CES) disebut sebagai
perpindahan cairan ruang ketiga. Efek dari perpindahan cairan ruang ketiga yaitu
ditandai dengan pening, peningkatan frekuensi jantung, penurunan tekanan darah,

penurunan tekanan intra sentral (TIS), edema, peningkatan berat badan, dan
ketidakseimbangan
dalam
masukan
dan
haluaran
cairan.
Pergerakan cairan yang normal melalui dinding kapiler ke dalam jaringan
tergantung pada kenaikan tekanan hidrostatik (tekanan yang dihasilkan oleh cairan
pada dinding pembuluh darah) pada kedua ujung pembuluh arteri dan vena.
Tekanan osmotik yang dihasilkan oleh cairan plasma
Arah perpindahan cairan tergantung pada perbedaan dari kedua arah yang
berlawanan ini (tekanan hidrostatik dari osmotik).
Selain elektrolit CES juga mengangkut substansi lain, seperti enzim dan hormon.
CES juga membawa komponen darah seperti sel merah dan sel darah putih, ke
seluruh tubuh.
Osmosis dan osmolaritas
Perpindahan air terjadi melalui membran dari daerah dengan konsentrasi zat
terlarut yang rendah ke daerah dengan konsentrasi zat terlarut tinggi sampai
dengan kedua konsentrasi tersebut sama.
- Difusi
Merupakan kecenderungan alami dari suatu substansi untuk bergerak dari suatu
area dengan konsentrasi yang lebih tinggi ke daerah konsentrasi yang rendah.
Difusi terjadi melalui perpindahan tidak teratur dari ion dan molekul.
- Filtrasi
Tekanan hidrostatik dalam kapiler cenderung untuk menyaring cairan yang keluar
dari kompartemen vascular ke dalam cairan intra seluler.
- Pompa natrium-kalium
Konsentrasi natrium lebih besar dalam CES di banding di CIS oleh karena itu ada
kecenderungan natrium untuk memasuki sel dengan cara difusi. Hal ini diimbangi
juga oleh pompa natrium-kalium yang terdapat pada membran sel dan sel aktif
memindahkan natrium dari sel ke dalam CES. Sebaliknya konsentrasi kalium
intraseluler yang terjadi dipertahankan dengan memompakan kalium ke dalam sel.
Rute pemasukan dan kehilangan
Air dan elektrolit diperoleh dengan berbagai cara. Dalam keadaan sehat, seorang
memperoleh cairan dengan cara minum dan makan. Tapi dalam berbagai jenis
penyakit cairan mungkin diberikan melalui jalur parenteral, atau melalui selang
nutrisi enteral dalam lambung atau intestin. Jika keseimbangan cairan bersifat kritis,
semua cara pemenuhan dan semua cara kehilangan harus dicatat dan volumenya

dibandingkan. Organ-organ tampak kehilangan cairan termasuk ginjal, kulit, paruparu dan gastrointestinal.
Pengaturan Keseimbangan Cairan
Organ yang berperan dalam pengaturan keseimbangan cairan meliputi:
Ginjal
Fungsi-fungsi utama ginjal dalam mempertahankan keseimbangan cairan:
- Pengaturan volume dan osmolalitas CES melalui retensi dan eksresi selektif cairan
tubuh.
- Pengaturan kadar elektrolit dalam CES dengan retensi selektif substansi yang
dibutuhkan
.
Pengaturan
pH
CES
melalui
retensi
ion-ion
hidrogen.
Ekskresi
sampah
metabolik
dan
substansi
toksik.
Oleh karena itu gagal ginjal jelas mempengaruhi keseimbangan cairan, karena ginjal
tidak dapat berfungsi.
Jantung dan pembuluh darah
Kerja pompa jantung mensirkulasi darah melalui ginjal di bawah tekanan yang
sesuai untuk menghasilkan urine. Kegagalan pompa jantung ini mengganggu
perfusi ginjal dan karena itu mengganggu pengaturan air dan elektrolit.
Paru-paru
Melalui ekhalasi paru-paru mengeluarkan air sebanyak +300L setiap hari pada
orang dewasa. Pada kondisi yang abnormal seperti hiperpnea atau batuk yang
terus-menerus akan memperbanyak kehilangan air; ventilasi mekanik dengan air
yang berlebihan menurunkan kehilangan air ini.
Kelenjar pituitari
Hipotalamus menghasilkan suatu substansi yaitu ADH yang disebut juga hormon
penyimpan air, karena fungsinya mempertahankan tekanan osmotik sel dengan
mengendalikan retensi atau ekskresi air oleh ginjal dan dengan mengatur volume
darah.
Kelenjar adrenal
Aldosteron yang dihasilkan/disekresi oleh korteks adrenal (zona glomerolus).
Peningkatan aldosteron ini mengakibatkan retensi natrium sehingga air juga
ditahan, kehilangan kalor. Sedangkan apabila aldosteron kurang maka air akan
banyak keluar karena natrium hilang. Kortisol juga menyebabkan retensi natrium.
Kelenjar paratiroid

Mengatur keseimbangan kalsium dan fosfat melalui hormon paratiroid (PTH).


Sehingga dengan PTH dapat mereabsorbsi tulang, absorbsi kalsium dari usus dan
reabsorbsi kalsium dari ginjal.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keseimbangan Cairan
1. Usia
Dengan bertambahnya usia, semua organ yang mengatur keseimbangan akan
menurun fungsinya, hasilnya fungsi untuk mengatur keseimbangan juga menurun.
Misalnya: gagal ginjal, gagal jantung, dll.
2. Temperatur Lingkungan
Lingkungan yang panas bisa menyebabkan kita berkeringat banyak sehingga cairan
banyak keluar
3. Diet
Diet tinggi natrium akan berfungsi meretensi urine, demikian juga sebaliknya.
4. Obat-Obatan
Seperti steroid, diuretik.
5. Stress
Mempengaruhi metabolisme sel, meningkatkan gula darah, meningkatkan osmotik
dan ADH akan meningkatkan sehingga urine menurun
6. Sakit
Seperti bahan bakar, dalam keadaan sakit jelas mengeluarkan air yang banyak,
seperti gagal ginjal.

Kompartemen cairan tubuh1


Seluruh cairan tubuh didistribusikan di antara dua kompartemen utama : cairan ekstraselular dan
cairan intraselular. Kemudian cairan ekstraselular dibagi menjadi cairan interstitial dan plasma
darah.

Ada juga kompartemen cairan yang kecil yang disebut sebagai cairan transelar. Kompartemen ini
meliputi cairan dalam rongga sinovial, peritoneum, perikardial, dan intraokular juga cairan
serebrospinal; biasanya dipertimbangkan sebagai jenis cairan ekstraselular khusus, walaupun
pada beberapa kasus, komposisinya dapat sangat berbeda dengan yang di plasma
atau cairan interstitial. Cairan transelular seluruhnya berjumalah sekitar 1 2 liter.
Pada orang normal dengan berat 70 kg, total cairan tubuhnya kira kira 60% berat
badan atau sekitar 42 L. Persentase ini dapat berubah bergantung pada umur, jenis
kelamin, dan derajat obesitas. Seiring dengan pertumbuhan seseorang, persentase
total cairan terhadap berat badan berangsur angsur turun. Hal ini sebagian adalah
akibat dari kenyataan bahwa penuaan biasanya berhubungan dengan peningkatan
persentase berat badan yaitu lemak, yang kemudian menurunkan persentase cairan
dalam tubuh. Karena wanita mempunyai lebih sedikit cairan daripada pria dalam
perbandingan dengan berat badan.
o Kompartemen cairan intraselular
Sekitar 28 dari 42 liter cairan tubuh merupakan cairan interselular. Cairan
intraseluler dipisahkan dari cairan ekstraselular oleh membran selektif yang sangat
permeabel terhadap air, tetapi tidak permeabel terhadap sebagian elektrolit dalam
tubuh. Membran sel mempertahankan komposisi cairan di dalam agar serupa
seperti yang terdapat di berbagai sel tubuh lainnya.
Berbeda dengan cairan ekstraselular, maka cairan intraselular hanya mengandung
sejumlah kecil ion natrium dan klorida dan hampir tidak ada ion kalsium. Malah ,
cairan ini mengandung sejumlah besar ion kalium dan fosfat ditambah ion
magnesium dan sulfat dalam jumlah sedang. Semua ion ini memiliki konsentrasi
yang rendah pada cairan ekstraselular. Juga sel mengandung sejumlah besar
protein, hampir empat kali lipat lebih banyak daripada dalam plasma.
o Kompartemen cairan ekstraselular
Seluruh cairan di luar sel disebut cairan ekstraselular. Cairan ini merupakan 20
persen dari berat badan. Dua kompartemen terbesar cairan ekstraseluler adalah
cairan interstitial yang merupakan tiga perempat cairan ekstraselular, dan plasma
yang hampir seperempat cairan ekstraselular. Plasma adalah bagian darah
nonselular dan terus menerus berhubungan dengan cairan interstitial melalui
celah membran kapiler. Celah ini bersifat sangat permeabel untuk hampir semua
zat terlarut dalam cairan ekstraselular, kecuali protein. Karenanya cairan
ekstraselular secara konstan terus tercampur sehingga plasma dan cairan
interstitial mempunyai komposisi yang sama kecuali untuk protein, yang
konsentrasinya lebih tinggi pada plasma. Konstituen ekstraselular terdiri dari
natrium dan klorida dalam jumlah besar, ion bikarbonat yang juga dalam jumlah
cukup besar, tapi hanya sedikit ion kalium, magnesium, fosfat, dan asam organik.
Komposisi cairan ekstraselular diatur dengan cermat oleh berbagai mekanisme, tapi

khususnya oleh ginjal. Hal ini memungkinkan sel untuk tetap terus terendam dalam
cairan yang mengandung konsentrasi elektrolit dan nutrien yang sesuai untuk
fungsi sel yang optimal.
o Asupan cairan
Cairan ditambahkan ke dalam tubuh dari dua sumber utama : (1) berasal dari
larutan atau cairan makanan yang dimakan, yang normalnya menambah cairan
tubuh sekitar 2100 ml/hari, dan (2) berasal dari sintesis dalam badan sebagai hasil
oksidasi karbohidrat, menambah sekitar 200 ml/hari. Kedua hal ini memberikan
asupan cairan harian total sekitar 2300 ml/hari. Asupan cairan sangat bervariasi
bergantung pada cuaca, kebiasaan, dan tingkat aktivitas fisik.
o Keluaran cairan
- Insensibe fluid loss
Variasi asupan cairan harus hati hati disesuaikan dengan pengeluaran cairan
harian. Beberapa pengeluaran cairan tidak dapat diatur dengan tepat. Sebagai
contoh, ada pengeluaran cairan yang berlangsung terus menerus melalui evaporasi
sekitar 700 ml/hari pada keadaan normal. Inilah yang disebut insensible water loss.
- Sensible fluid loss
Kehilangan cairan ini dapat melalui tiga jalur yaitu keringat, feses, dan urine. Jumlah
cairan yang hilang melalui keringat sangat bervariasi bergantung pada aktivitas
fisik dan suhu lingkungan. Volume keringat normal hanya sekitar 100 ml/hari, tapi
pada keadaan cuaca panas ataupun latihan berat, kehilangan cairan kadang
kadang meningkat sampai 1 2 liter/jam. Kehilangan cairan lewat feses bisa
mencapai 100 ml/hari yang bisa bertambah pada penderita diare. Untuk kehilangan
cairan lewat urine, volumenya tidak dapat ditentukan dengan pasti bergantung
pada keadaan cairan dan elektrolit tubuh.
Keseimbangan Cairan Tubuh2
Cairan ekstraselular merupakan perantara antara sel dan lingkungan luar. Semua
pertukaran air dan konstituen lainnya antara ICF dan lingkungan luar harus terjadi
melewati ECF.
Plasma hanyalah satu satunya cairan yang bisa diatur secara langsung baik
volume maupun komposisinya. Cairan ini berada dalam sirkulasi. Perubahan
komposisi dan volume plasma juga akan mempengaruhi cairan interstitial. Oleh
karena itu, semua kontrol terhadap plasma akan mengatur keseluruhan ECF juga.
Dua faktor yang diatur untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh adalah
volume dan osmolaritasnya. Walaupun, regulasi keduanya saling berhubungan
(kadar NaCl dan H2O), alasan mengapa keduanya dikontrol sangatlah berbeda :

o Volume ECF sangat diatur untuk mempertahankan tekanan darah.


Mempertahankan keseimbangan garam adalah bagian terpenting untuk pengaturan
volume ECF jangka panjang.
o Osmolaritas ECF sangat diatur untuk mencegah pembengkakan dan pengerutan
sel. Mempertahankan keseimbangan air adalah bagian terpenting untuk mengatur
osmolaritas ECF.
Pengaturan Volume ECF1,2
Volume cairan ekstraselular terutama ditentukan oleh keseimbangan antara asupan
dan keluaran air dan garam secara jangka panjangnya. Untuk jangka pendeknya,
volume ECF diatur oleh baroreseptor jantung yang nantinya akan mengubah kardiak
output dan pergeseran cairan sementara dan otomatis antara plasma dan cairan
interstitial.
Mungkin mekanisme yang paling kuat untuk mengontrol volume darah dan cairan
ekstraselular juga untuk mempertahankan keseimbangan natrium dan air adalah
pengaruh tekanan darah terhadap natrium dan eksresi air yang disebut mekanisme
natriuresis tekanan diuresis tekanan. Diuresis tekanan merujuk pada pengaruh
peningkatan tekanan darah untuk meningkatkan eksresi volume urin, sedangkan
natriuresis tekanan merujuk pada peningkatan ekskresi natrium yang terjadi pada
peningkatan tekanan darah. Kedua mekanisme tersebut biasanya terjadi paralel
karena pergerakan ion natrium biasanya diikuti dengan pergerakan air.
Pengaruh peningkatan tekanan darah untuk meningkatkan keluaran urin adalah
bagian dari sistem umpan balik yang bekerja untuk mempertahankan asupan dan
keluaran cairan.
Faktor saraf dan hormonal dalam pengaturan volume ECF1
Kontrol sistem saraf simpatis : refleks baroreseptor arterial dan refleks reseptor
regangan tekanan rendah.
Karena ginjal menerima persarafan simpatis yang luas, perubahan aktivitas simpati
dapat menghambat ekskresi natrium ginjal dan air, juga pengaturan volume cairan
ekstraselular dalam beberapa kondisi. Sebagai contoh, bila volume darah berkurang
karena perdarahan, tekanan dalam pembuluh darah paru dan daerah tekanan
bertekanan rendah lainnya pada toraks akan menurun, menyebabkan aktivasi
refleks sistem saraf simpatis. Hal ini kemudian meningkatkan aktivitas simpatis
ginjal, yang mempunyai beberapa efek terhadap penurunan ekskresi natrium dan
air; 1) Konstriksi arteriol arteriol ginjal, dengan hasilnya penurunan GFR; 2)
Peningkatan reabsorpsi tubulus terhadap garam dan air; dan 3) Perangsangan
pelepasan renin dan peningkatan pembentukan angiotensin II dan aldosteron, yang
selanjutnya meningkatkan reabsorpsi tubulus. Dan bila pengurangan volume darah
cukup besar untuk menurunkan tekanan arteri sistemik, aktivasi sistem saraf
simpatis selanjutnya terjadi akibat penurunan regangan baroreseptor arterial yang

terletak di sinus karotikus dan arkus aorta. Semua refleks ini bersama sama
memainkan peranan penting dalam pemulihan volume darah yang cepat yang
terjadi dalam kondisi akut seperti perdarahan. Penghambatan refleks aktivitas
simpatis ginjal mungkin turut juga berperan terhadap eliminasi kelebihan cairan
yang cepat dalam sirkulasi yang terjadi secara akut setelah makan makanan yang
mengandung sejumlah besar garam dan air.
Angiotensin II
Salah satu pengontrol ekskresi natrium yang paling kuat dalam tubuh adalah
angiotensin II. Perubahan asupan natrium dan cairan berhubungan dengan
perubahan timbal balik pada pembentukan angiotensin II, dan hal ini kemudian
sangat membantu mempertahankan keseimbangan natrium dan cairan tubuh.
Artinya, bila asupan natrium meningkat di atas normal, sekresi renin menurun,
menyebabkan penurunan pembentukan angiotensin II. Karena angiotensin II
memiliki beberapa pengaruh penting untuk meningkat reabsorpsi tubulus terhadap
natrium dan air. Jadi, meningkatkan ekskresi ginjal terhadap natrium dan air. Hasil
akhirnya adalah meminimalkan peningkatan volume cairan ekstraselular dan
tekanan arterial yang sebaliknya akan terjadi bila asupan natrium meningkat
Sebaliknya, bila asupan natrium menurun di bawah normal, peningkatan kadar
angiotensin II menyebabkan retensi garam dan air dan melawan penurunan
tekanan darah arterial yang akan terjadi sebaliknya. Jadi, perubahan aktivitas
sistem renin angiotensin berperan sebagai amplifier yang kuat terhadap
mekansime natriuresis tekanan untuk mempertahankan tekanan darah dan volume
cairan tubuh yang stabil.
Aldosteron
Aldosteron meningkatkan reabsorpsi natrium, terutama pada tubulus koligens.
Peningkatan reabsorpsi natrium juga berhubungan dengan peningkatan reabsoprsi
air dan sekresi kalium. Oleh karena itu, pengaruh akhir aldosteron adalah membuat
ginjal menahan natrium dan air serta meningkatkan ekskresi kalium dalam urin.
Fungsi aldosteron dalam mengatur keseimbangan natrium berhubungan erat
dengan yang dijelaskan di atas mengenai angiotensin II. Yaitu, dengan penurunan
asupan natrium, peningkatan kadar angiotensin II yang terjadi merangsang sekresi
aldosteron, yang kemudian membantu untuk menurunkan ekskresi natrium urin.
Proses sebaliknya terjadi pada peningkatan asupan natrium.
Anti Diuretic Hormone
ADH memainkan peranan penting terhadap ginjal untuk membentuk sedikit volume
urin pekat sementara mengeluarkan garam dalam jumlah yang normal. Pengaruh
ini terutama penting selama deprivasi air, yang dengan kuat meningkatkan kadar
ADH plasma yang kemudian meningkatkan reabsorpsi air oleh ginjal dan membantu
meminimalkan penurunan volume cairan ekstraselular dan tekanan arteri.
Sebaliknya, bila terdapat volume ekstraselular yang berlebihan, penurunan kadar

ADH mengurangi reabsorpsi air oleh ginjal, jadi membantu menghilangkan volume
yang berlebihan dari tubuh. Sebagai tambahan, sebenarnya sekresi ADH yang
berlebihan biasanya hanya menyebabkan sedikit peningkatan volume cairan
ekstraselular, tetapi besar pengaruhnya dalam penurunan konsentrasi natrium.
Atrial Natriuretic Peptide
Ini adalah hormon yang dilepaskan serat otot atrium jantung. Rangsangan untuk
melepaskan peptida ini adalah peregangan atrium secara berlebihan yang dapat
ditimbulkan oleh volume darah yang berlebihan. Sekali dilepaskan oleh atrium
jantung, ANP memasuki sirkulasi dan bekerja pada ginjal untuk menyebabkan
sedikit peningkatan GFR dan penurunan reabsorpsi natrium oleh duktus koligens.
Kerja gabungan dari ANP ini menimbulkan peningkatan ekskresi garam dan air,
yang membantu mengkompensasi kelebihan volume darah.
Perubahan kadar ANP mungkin membantu meminimalkan perubahan volume darah
selama berbagai kelainan, seperti peningkatan asupan garam dan air. Akan tetapi,
produksi ANP yang berlebihan atau bahkan tidak adanya ANP sama sekali tidak
menyebabkan perubahan besar dalam volume darah karena efek efek ini dengan
mudah diatasi dengan mekanisme lain seperti natriuresis tekanan.
Pengaturan Osmolaritas ECF
Pengaturan osmolaritas cairan ekstraselular berhubungan erat dengan konsentrasi
natrium karena natrium adalah ion yang paling banyak jumlahnya dalam ruang
ekstraselular. Dua sistem utama yang terlibat khusus dalam pengaturan konsentrasi
natrium dan osmolaritas cairan ekstraselular adalah : (1) Sistem osmoreseptor ADH
dan
(2)
mekanisme
rasa
haus.1
Sistem Osmoreseptor ADH1
Sebagai contoh, bila osmolaritas meningkat akibat defisit air, sistem umpan balik ini
bekerja sebagai berikut.
o Peningkatan osmolaritas cairan ekstraselular menyebabkan sel saraf khusus yang
disebut sel sel osmoreseptor yang terletak di hipotalamus anterior dekat nukleus
supraoptik menyusut.
o Penyusutan sel sel osmoreseptor menyebabkan sel sel tersebut terangsang,
mengirimkan sinyal sinyal saraf ke sel sel saraf tambahan di nukleus supraoptik,
yang kemudian memancarkan sinyal sinyal ini ke bawah melintasi batang kelenjar
hipofise ke hipofise posterior.
o Potensial aksi ini yang disalurkan ke hipofise posterior akan merangsang
pelepasan ADH yang disimpan dalam granula granula sekretori di ujung saraf.

o ADH memasuki aliran darah dan ditranspor ke ginjal, di mana ADH meningkatkan
permeabilitas air di bagian akhir tubulus distal, tubulus koligens dan duktus koligens
dalam medula.
o Peningkatan permeabilitas air di segmen nefron distal menyebabkan
peningkatkan reabsorpsi air dan ekskresi sejumah kecil urin yang pekat.
Jadi, air disimpan dalam tubuh, sedangkan natrium dan zat terlarut lainnya terus
dikeluarkan dalam urin. Hal ini menyebabkan pengenceran zat terlarut dalam cairan
ekstraselular mula mula yang berlebihan.
Pelepasan ADH juga dikontrol oleh refleks kardiovaskular sebagai respons untuk
menurunkan tekanan darah atau volume darah termasuk (1) refleks baroreseptor
arterial dan (2) refleks kardiopulmonal. Jalur refleksi ini berasal daerah sirkulasi
bertekanan tinggi, seperti arkus aorta dan sinus karotikus, dan daerah bertekanan
rendah terutama di atrium jantung.
Jadi, penurunan tekanan arterial dan penurunan volume darah dapat meningkatkan
sekresi
ADH,
misalnya
pada
kasus
perdarahan.
Mekanisme Rasa Haus1,2
Haus adalah sensasi subjektif yang meningkatkan keinginan untuk intake air. Pusat
haus terletak di hipotalamus, dekat dengan sel pensekresi vasopressin.
Ada beberapa stimulus yang dapat memicu rasa haus. Salah satu yang paling
penting adalah peningkatan osmolaritas cairan ekstraselular yang menyebabkan
dehidrasi intraselular di pusat rasa haus, dengan demikian merangsang sensasi
rasa haus. Kegunaan dari respons ini sangat jelas yaitu membantu mengencerkan
cairan ekstraselular dan mengembalikan osmolaritas kembali ke normal.
Penurunan volume cairan ekstraselular dan tekanan arterial juga merangsang rasa
haus melalui suatu jalur yang tidak bergantung pada jalur yang distimulasi oleh
peningkatan osmolaritas plasma. Jadi, kehilangan volume darah melalui perdarahan
akan merangsang rasa haus walaupun mungkin tidak terjadi perubahan osmolaritas
plasma. Hal ini mungkin terjadi akibat input neutral dari baroreseptor
kardiopulmonar dan baroreseptor arterial sistemik dalam sirkulasi.
Stimulus rasa haus ketiga yang penting adalah angiotensin II. Karena angiotensin II
juga distimulasi oleh faktor faktor yang berhubunagn dengan hipovolemia dan
tekanan darah rendah, pengaruhnya pada rasa haus membantu memulihkan
volume darah dan tekanan darah kembali normal, bersama dengan kerja lain dari
angiotensin II pada ginjal untuk menurunkan ekskresi cairan.
Masih ada faktor faktor lain yang dapat mempengaruhi asupan air. Kekeringan
pada mulut dan membran mukosa esofagus dapat mendatangkan sensasi haus.
Sebagai hasilnya, seseorang yang kehausan dapat segera merasakan kelegaan

setelah dia minum air walaupun air tersebut belum diabsorpsi di sistem
pencernaan.
Ambang batas stimulus osmolar untuk minum. Ginjal terus menerus harus
mengeluarkan sejumlah cairan, bahkan saat seseorang dehidrasi untuk
membebaskan tubuh dari kelebihan zat terlarut yang dikonsumsi atau dihasilkan
oleh metabolisme. Air juga hilang melalui evaporasi dari paru dan saluran
pencernaan serta melalui evaporasi dan keringat dari kulit. Oleh karena itu, selalu
ada kecenderungan untuk dehidrasi, dengan akibat peningkatan osmolaritas dan
konsentrasi natrium ekstraselular. Ambang batas untuk minum manusia rata rata
adalah peningkatan natrium sekitar 2 mEq/L di atas normal.1
DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton CA, Hall JE. Textbook of Medical Physiology.9th ed. Philadelphia:
W.B.Saunders; 1996.p. 375 -9, 450 467.
2. Sherwood L. Human physiology from cells to system.6th ed. Canada: Thomson
Brooks/ Cole; 2007. p. 550 558.

2.9
Masalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
A. Hiponatremia
Hiponatremia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma
darah yang ditandai dengan adanya kadar natrium dalam plasma tinggi. Cirri ci
yang dapat ditimbulkan yaitu mukosa kering, turgor kulit buruk dan permukaan kulit
membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan kemerahan, suhu badan naik.
kondisi demikian dapat disebabkan karena dehidrasi, diare, pemasukan air yang
berlebihan sementara asupan garam sedikit.
B.
Hipernatremia
Etiologi :
asupan berlebih peroral/enteral
Perpindahan K+ ke ekstrasel pada asidosis
Pseudohiperkalemia: pada pem. Penderita dg. Lekositosis/trombositosis
ok.proses koagulasi/hemolisis.
Gejala:
kelemahan otot s/d paralisa
Utk.menurunkan K+, meningkatkan hormon2 aldosteron, insulin, epinephrin,
glukagon u/ menstabilkan gula darah
Jantung: aritmia/arrest
C.
Hipokalsemia
Etiologi :
1.
Def.vit.D: makanan kurang lemak, sindrom malabsorbsi( gastrektomi,
pankreatitis, obat pencahar), ggn.metab.vit.D (vit.D deficient Rickets= kel.otosomal
resesif), renal insuf., ggn.fgs.hati, obat anti kejang
2.
Hipoparatiroidism

3.
Pseudohipoparatiroidism
4.
Keganasan
5.
Hipofosfatemia
Pengobatan : koreksi defisiensi dg kalsium iv( Ca.Gluconat/ klorida 10%)
atau peroral (Ca.Gluconas/karbonat); dpt. Disertai pemberian vit.D dosis besar
D. Hiperkalsemia
Etiologi:
1.
Hiperparatiroidisme
2.
Tumor ganas yg mengeluarkan PTH
3.
Intoksikasi vit.D
4.
Intoksikasi vit. A
5.
Hipertiroid
6.
Insufisiensi adrenal
7.
Milk Alkali Syndrome: ok pemberian antasid disertai pemberian susu> pada
ulkus peptikum atau pemberian tiasid lama bersama vit.D.
E.
Gangguan keseimb.fosfor
Etiologi:
1.
Antasid pengikat fosfat dosis besar
2.
Luka bakar yg luas & berat
3.
Diet rendah fosfat
4.
Alkalosis respiratorik
5.
Ketoasidosis diabetik
6.
alkoholisme
Gejala
1.
Kerusakan eritrosit
2.
Gangguan fungsi lekosit
3.
Gangguan fungsi trombosit
4.
Gangguan fingsi saraf pusat
5.
Rabdomiolisis
Pengobatan
Pemberian garan fosfat peroral/intravena
Dan masih banyak lagi gangguan yang dapt disebabkan oleh gangguan
keseimbangan asam basa
b. Klasifikasi protein
1) Berdasarkan komponen-komponen yang menyusun protein :
a. Protein Bersahaja (simple protein). Hasil hidrolisis total
protein jenis ini merupakan campuran yang hanya terdiri atas
asam-asam amino.
b. Protein Kompleks (complex protein, conjugated protein).
Hasil hidrolisa total dari protein jenis ini. Selain terdiri atas
berbagai jenis asam amino juga terdapat komponen lain
miisalnya unsur logam gugusan phosphat dan sebagainya
(contoh: hemoglobin, lipoprotein, glikoprotein, dan
sebagainya)
c. Protein Derivat (protein derivative).Merupakan ikatan antara
(intermediate product) sebagal hasil hidrolisa parsial dari
protein native, miisalnya albumosa, peptone dan sebagainya
2) Berdasarkan sumbernya, protein dikiasifikasikan menjadi:
a. Protein hewani,yaitu protein dalam bahan makanan yang

berasal dan binatang, seperti protein dari daging, protein


susu, dan sebagainya.
b. Protein nabati adalah protein yang berasal dan bahan
makanan turnbuhan, seperti protein dari jagung (zein), dan
terigu, dan sebagainya.
3) Berdasarkan fungsi fisiologiknya, berhubungan denga daya
dukungnya bagi pertumbuhan badan dan bagi pemeliharaan
jaringan:
a. Protein sempurna, bila protein ini sanggup mendukung
pertumbuhan badan dan pemeliharaan jaringan.(telur, susu)
b. Protein setengah sempurna, bila sanggup mendukung
pememiharaan janingan, tetapi tidak dapat mendukung
pertumbuhan badan.(daging, ikan)
c. Protein tidak sempurna, bila sama sekali tidak sanggup
menyokong pertumbuhan badan, maupun pemeliharaan
jaringan.(kacang-kacangan, biji-bijian).
4) Berdasarkan bentuknya :
1. Protein bentuk serabut, terdiri dari beberapa rantai peptida
berbentuk spiral yang terjalin satu sama lain sehingga
menyerupai batang yang kaku. Karakteristiknya adalah
rendahnya daya larut, mempunyai kekuatan mekanis yang
tinggi dan tahan terhadap enzim pencernaan. Protein ini
terdapat dalam unsur-unsur struktur tubuh seperti kolagen
(protein utama jaringan ikat), elastin (dalam urat, otot, arteri,
jaringan elastis lain), keratin (protein rambut dan kuku) dan
miosin (protein utama serat otot)
2. Protein globular, berbentuk bola, terdapat dalam cairan
jaringan tubuh, larut dalam garam dan asam encer, mudah
berubah di bawah pengaruh suhu konsentrasi garam dan
mudah mengalami denaturasi. Contohnya yaitu albumin 3. Protein konjugasi, protein sederhana yang terikat dengan
bahan-bahan nonasam amino(gugus prostetik). Contohnya
nukleoprotein, lipoprotein, fosfoprotein, metaloprotein
ebutuhan tubuh akan kandungan lemak
Lemak merupakan salah satu zat yang dibutuhkan oleh tubuh
dan menurut ahli kesehatan tubuh memerlukan 20-30% lemak dari
jumlah keseluruhan makanan yang kita konsumsi. Berdasarkan
sumbernya, lemak dapat digolongkan menjadi 2 jenis yakni lemak yang
berasal dari hewan dan tumbuhan atau yang dikenal sebagai lemak
nabati.
Lemak yang berasal dari hewan mengandung banyak kolesterol
sedangkan lemak nabati mengandung fitosterol, yaitu lebih banyak
mengandung asam lemak tak jenuh yang bermanfaat bagi tubuh.
Lemak yang berasal dari hewan biasanya berbentuk padat berbeda
dengan lemak nabati yang biasanya berbentuk cair. Pandangan yang
umum tentang lemak adalah sifatnya yang membahayakan kesehatan.

Namun, tidak selalu seperti itu. Lemak memang dapat membahayakan


tubuh jika dikonsumsi berlebihan. Tetapi, dalam jumlah seimbang,
lemak dapat memberikan manfaat penting bagi tubuh.
Di dalam lemak terkandung kolesterol yang sangat tinggi. Kolesterol ini
akan menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Ini lah yang akan menyebabkan
penyakit jantung, stroke, hingga berujung kematian pada manusia. Juga bagi yang
mengalami kelebihan berat badan harus membatasi konsumsi lemak, karena akan
mengalami kelebihan asupan kalori dalam tubuh. Tetap konsumsi lemak, namun
batasi pula penggunaan nya. Lemak omega 3 dan omega 6 sangat baik untuk
dikonsumsi untuk mencukupi kebutuhan harian lemak.
Jadi, lemak ini tidak berbahaya jika dikonsumsi, tentunya dengan
mengkonsumsi lemak secara baik. Karena disamping manfaat lemak yang sehat,
juga akan mengalami bahaya besar jika mengkonsumsi secara berlebihan. Untuk
itu, tetap lah hidup sehat dengan berolahraga agar terhindar dari penumpukan
lemak berlebih.
Pola makan dengan kadar lemak tinggi berhubungan dengan
peningkatan resiko terkena penyakit kanker, tak peduli jenis lemak mana
yang lebih dominan. Lemak tak jenuh cenderung untuk menjadi busuk,
dengan penguraian produknya (radikal bebas) yang terbukti bersifat kanker.
Pada saat lemak-lemak ini mengalami hidrogenasi, seperti yang diuraikan
sebelumnya, susunan tak alami dari trans-asam lemak yang terbentuk juga
memiliki sifat kanker. Lemak hewan pada umumnya, yang dipenuhi oleh
kolesterol dan asam lemak jenuh, menyebabkan peningkatan hormon yang
berhubungan dengan penyakit tumor tertentu (seperti payudara, saluran
indung telur, dan prostat). Maka sumber yang paling tidak membahayakan
adalah lemak monounsaturated yang berasal dari tumbuhan (khususnya
minyak zaitun, dan minyak kacang) yang tidak begitu tak-jenuh sehingga
tidak mudah menjadi busuk, namun tetap bebas dari trans-asam lemak,
kolesterol dan memiliki asam lemak jenuh berkadar rendah. Tapi
bagaimanapun, mereka masih tetap mengandung 9 kkal per gram. Tidak
ditemukan bukti yang menunjukkan bahwa pemakaian lemak ini tidak lebih
baik atau bahkan sama baiknya dengan pola makan rendah lemak secara
keseluruhan.
Mikronutrien

D. GANGGUAN METABOLISME

Gangguan Metabolisme Lemak


1. Kelebihan lemak (Obesitas)
Terjadi karena kalori yang didapat lebih besar dari kalori yang dimetabolisme
(hipometabolisme). Terjadi pada hipopituitarisme dan hipotiroidisme. Selain itu terjadi akibat
kalori yg dibutuhkan menurun yang menyebabkan berat badan naik, meskipun diberi makan
tidak berlebihan. Didalam tubuh lemak ditimbun pada jaringan subkutis, jaringan
retroperitoneum, peritoneum, omentum, pericardium dan pankreas. Obesitas dapat
mengakibatkan memperberat hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

2. Hiperlipemia
Terjadi akibat jumlah lipid darah total dan kolesterol meningkat, hiperlipema terdapat
pada : diabetes melitus tidak diobati, hipotiroidisme, nefrosis lupoid, penyakit hati, sirhrosis

biliaris, xantomatosa, hiperlipidemi, hiperkholesterolemi. Penimbunan lemak terjadi di dinding


pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya arteriosclerosis.

3. Defisiensi lemak
Defisiensi lemak pada umunya terjadi pada pasien-pasien kelaparan (starvation),
gangguan penyerapan (malabsorption), penyakit celiac, sprue, penyakit whipple. Tubuh terpaksa
mengambil kalori dari simpanannya karena intake kurang, yang mula-mula dimobilisasi oleh
karbohidrat dan lemak, dan hanya pada keadaan gizi buruk akhirnya protein diambil dari
jaringan. Pada penyakit whipple selain difisiensi lemak, juga difisensi protein, karbohidrat dan
vitamin.
Gangguan Metabolisme Karbohidrat
1. Diabetes melitus (Hiperglykemia)
Dasar penyakit adalah defisiensi insulin.
Gejala klinis penyakit :
Hiperglikemia
Glikosuria
Dapat diikuti gangguan sekunder metabolisme protein dan lemak
Dapat berakhir dengan kematian
Insidensi terbanyak usia 50 60 thn
Dapat juga dekade pertama atau pada yang sudah lanjut
Penyakit ini diturunkan secara autosomal resesif
Sebab tepat belum diketahui
berhubungan dgn kelainan hormonal
Insulin
Growth hormon
Hormon steroid
Keadaan diabetes timbul akibat ketidak seimbangan dalam interaksi pankreas, hipofisis dan
adreanal
2. Pankreas
Pankreas mempunyai pulau Langerhans : sel beta dan sel alpha
Sel beta : hormon insulin
Sel alpha : menghasilkan hormon glukgon
Efek anti insulin berfungsi sebagai faktor hiperglikemik dan glikogenolitik meningkatkan
kadar gula darah
3. Pembuluh darah
Bila gangguan metabolisme karbohidrat terlalu lama hiperglikemik menahun, pada otot, hati
dan jantung terjadi difisiensi.
Lemak dimobilisasi sebagai sumber tenaga lemak dalam darah bertambah.
Lipaemia dan cholestrolimia gangguan vaskular, dengan komplikasi aterioskelosis merata
skeloris pembuluh darah arteri coronaria, ginjal dan retina
4. Mata
Skelosis arteri retina retinitis diabetika.
Berupa :
perdarahan kecil-kecil tidak teratur
pelebaran pembuluh darah retina dan berkeluk-keluk
kapiler-kapiler membentuk mikroaneurisma
5. Jantung

Sklerosis arteri coronaria infrak otot jantung


6. Ginjal
Kelainan degeneratif pada alat vaskular glomeruler tubular
pyleonepritis akut maupun kronis
7. Kulit
Penimbunan lipid dlm makropag-makropag pada dermis xantoma diabetikum
8. Susunan syaraf
Pada syaraf tepi dan kadang medula spinalis
Perubahan degeneratif
Demyelinisasi
Fibrosis
Mungkin berhubungan dengan skelosis pembuluh darah
9. Hati
Perlemakan hepatomegali dan infiltasi glikogen
Disebabkan karena defisiensi karbohidrat sumber tenaga dari lemak imobilisasi lemak
berlebihan defisiensi lipotropik lemak tidak dapat diangkut dari sel penimbunan lemak
berlebihan
10. Klinis
Polyphagia : tubuh tidak dapat memetabolisme karbohidrat yg dimakan penderita banyak
makan
Polidipsia : glycosuria (diuresis osmotik) kompensasi: penderita banyak minum
Polyuria : glycosuria (diuresis osmotik) penderita banyak kencing
11. Hipoglykemia
Patologis : Sering ditemukan pada 3 keadaan:
1. Akibat pemakaian insulin berlebihan pada diabetes
2. Pada pengobatan psykosis dengan shock hipoglikemik
3. Akibat pembentukan insulin berlebihan pada tumor pankreas yg dibentuk oleh sel beta
Gangguan Metabolisme Protein
Penyakit akibat kelebihan protein (-)
1. Defisiensi protein
Terjadi pada pemasukan protein kurang kekurangan kalori, asam amino, mineral, dan faktor
lipotropik .
Akibatnya :
Pertumbuhan tubuh
Pemeliharaan jaringan tubuh
Pembentukkan zat anti dan serum protein akan terganggu.
Penderita mudah terserang penyakit infeksi, perjalanan infeksi berat, luka sukar sembuh dan
mudah terserang penyakit hati akibat kekurangan faktor lipotropik
Macam-Macam Defisiensi Protein
1. Hipoproteinemia
Sebab :
Exkresi protein darah berlebihan melalui air kemih
Pembentukan albumin terganggu spt pada penyakit hati
Absorpsi albumin berkurang akibat kelaparan atau penyakit usus, juga pada penyakit ginjal

2.

Hipo dan Agammaglubulinemia


Ada 3 jenis :
a. Hipoagammaglobulinemia kongenital
Penyakit herediter, terutama anak laki-laki antara 9 12 thn
Mudah terserang infeksi. Kematian sering terjadi akibat infeksi
Plasma darah tidak mengandung gamma protein
Dapat terjadi penyakit hipersensitivas (ex: penyakit artritis) krn tubuh tidak dapat membentuk Ig
3. Hipo/ (a) gammaglobulinemia didapat
Pada pria dan wanita pada semua usia
Penderita mudah terkena infeksi
Terjadi hiperplasi konpensatorik sel retikulum mengakibatkan limfadenopathi dan
splenomegali
4. Hipoagammaglobulinemia sementara
Hanya ditemukan pada bayi
Merupakan peralihan pada waktu gamma globulin yang didapat dari ibu habis dan anak harus
membentuk gamma globulin sendiri
5. Pirai atau gout
Akibat gangguan metabolisme asam urat asam urat serum meninggi pengendapan urat
pada berbagai jaringan
Asam urat merupakan hasil akhir dari pada metabolisme purin.
Secara klinis :
Arthritis akut yg sering kambuh secara menahun
Pada jaringan ditemukan tonjolan-tonjolan disebut tophus
Di sekitar sendi
Bursa
Tulang rawan
Telinga
Ginjal
Katup jantung

Fisiologi Cairan dan Elektrolit Tubuh


cairan tubuh terdiri dari 3 bagian, yaitu intrasel (CIS) dan ekstrasel (plasma darah, intertis
ial)untuk memahami, cairan intrasel berada didalam sel dan ekstrasel berada didalam sel. Cairan
ekstrasel (CES)dibagi dua yaitu cairan intravaskuler (berada dalam pembuluh darah) dan cairan i
ntertisial berada diluar sel dandiluar pembuluh darah.

Distribusi Cairan Tubuh


Air merupakan komponen terbesar dari tubuh, sekitar 45- 75% total berat badan, nya m
erupakancairan intrasel dan sisanya ekstrasel dengan nya tardapat pada intravaskuler dan sis
anya merupakanintertisial. Lemak tubuh bebas air, sehingga kurus memiliki jumlah air lebih ban
yak dibanding yanggemuk.
Distribusi cairan tubuh adalah relatif tergantung pada ukuran tubuh itu sendiri.
dewasa 60%
anak-anak 60 77%
infant 77%
embrio 97%
manula 40 50 %
pada manula, prosentase total cairan tubuh berkurang dikarenakan sudah mengalami kehi
langan jaringantubuh.
intracellular volume = total body water extracellular volume
interstitial fluid volume = extracellular fluid volume plasma volume
total bloods volume = plasma volume / (1 - hematocrite)
Fungsi Cairan Tubuh
memberi bentuk pada tubuh
berperan dalam pengaturan suhu tubuh
berperan dalam berbagai fungsi pelumasan
sebagai bantalan
sebagai pelarut dan tranfortasi berbagai unsur nutrisi dan elektrolit
media untuk terjadinya berbagai reaksi kimia dalam tubuh
untuk performa kerja fisik
Regulasi Cairan Tubuh
Tubuh memiliki mekanisme pengaturan untuk mempertahankan komposisi cairan agar da
lam kondisiyang setimbang atau tetap. Banyak organ yang terlibat dalam proses mekanisme ini.
Normal kebutuhan cairan adalah 35 cc/KgBB/hr. Namun bila dirata-ratakan, kebutuhan in
take(masukan) air pada orang dewasa adalah dari ingesti liquid 1500 cc, daro makanan 700 cc, ai

r dari oksidasi 200cc sehingga totalnya 2400 cc/hari. Sedangkan untuk pengaturan keseimbangan
cairan tubuh terdapatmekanisme pembuangan cairan tubuh yang melibatkan berbagai organ. Org
an tersebut adalah melalui kulit300-400 cc berupa keringat dan penguapan namun tergantung pad
a aktivitas dan suhu. Dari paru-paru300
sampai
400cc berupa uap air dari ekspirasi. Dari GIT sekitar 200 cc/ hari dan akan meningkat pada kasus
diare.Pengeluaran air yang terbanyak terjadi di ginjal, sekitar 1200-1500 cc/hr. Ketika defisit vol
ume cairanekstraseluler, maka akan terjadi beberapa mekanisme
diproduksi ADH (anti diuretic hormone) yang berfungsi untuk mereabsorpsi air
aldosteron diproduksi oleh corteks adrenal, berfungsi untuk mereabsorpsi Na yang . beref
ek padapeningkatan air di ekstraseluler
renin yang dilepaskan sel jukstaglomerural ginjal, berfungsi untuk vasokontriksi . . dan se
kresialdosteron.
Proses Perpindahan Cairan Tubuh
a. Difusi
Perpindahan partikel melewati membran permeabel dan sehingga kedua kompartemen
larutan atau gas menjadi setimbang. Partikel listrik juga dapat berdifusi karena ion yang berbeda
muatan dapat tarik menarik. Kecepatan difusi (perpindahan yang terus menerus dari molekul
dalam suatu larutan atau gas) dipengaruhi oleh :
ukuran molekul ( molekul kecil lebih cepat berdifusi dari molekul besar)
konsentrasi molekul (molekul berpindah dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah)
temperatur larutan (temperatur tinggi meningkatkan kecepatan difusi)
b. Osmosis
Pelarut bergerak melewati membran menuju larutan yang berkonsentrasi lebih tinggi. Tekanan os
motikterbentuk ketika dua larutan berbeda yang dibatasi suatu membran permeabel yang selektif.
Proses osmosis(perpindahan pelarut dari dari yang konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi), dip
engaruhi oleh :
pergerakan air
semipermeabilitas membran.
c. Transfor Aktif
Merupakan proses pemindahan molekul atau ion yang memiliki gradien elektrokimia dari area be
rkonsentrasirendah menuju konsentrasi yang lebih tinggi. Pada proses ini memerlukan molekul A
TP untuk melintasimembran sel.
d. Tekanan Hidrostatik
Gaya dari tekanan zat cair untuk melawan tahanan dinding pembuluh darah. Tekanan hidrostatik
beradadiantara arteri dan vena (kapiler) sehingga larutan ber[indah dari kapiler ke intertisial. Tek
anan hidrostatikditentukan oleh :
kekuatan pompa jantung
kecepatan aliran darah
tekanan darah arteri
tekanan darah vena
e. filtrasi

Filtrasi dipengaruhi oleh adanya tekanan hidrostatik arteri dan kapiler yang lebih tinggi dari ruan
g intertisial.Perpindahan cairan melewati membran permeabel dari tempat yang tinggi tekanan hi
drostatiknya ke tempatyang lebih rendah tekanan hidrostatiknya.
f. Tekanan Osmotik Koloid
Terbentuk oleh larutan koloid (protein atau substansi yang tidak bisa berdifusi) dalam plasma. Te
kananosmotik koloid menyebabkan perpindahan cairan antara intravaskuler dan intertisial melew
ati lapisansemipermeabel. Hal ini karena protein dalam intravaskuler 16x lebih besar dari cairan i
ntertisial, cairan masuk kecapiler atau kompartemen pembuluh darah bila pompa jantung efektif.
Elektrolit Tubuh
elektrolit tubuh, bisa terlarut dalam air atau dalam larutan lain. Elektrolit memiliki fungsi
fisiologisyang khusus didalam tubuh seperti misalnya dalam proses kerja neuromuskuler. Elektro
lit bermuatan listrikpositif (kation), biasanya berupa unsur logam, dan bermuatan negatif (anion),
merupakan unsur non logam.Beberapa kation utama dalam tubuh adalah natrium (Na+), kalium/
potasium (K+), kalsium (Ca+), magnesium(Mg+). Sedangkan anion utama dalam tubuh adalah
klorida (Cl ), bikarbonat (HCO3), phospat (HPO4 ).
Komposisi elektrolit tubuh
Jenis elektrolit
Intresel (mEq/L)
Ekstrasel (mEq/L)
Na
15-20
135-154
K
150-155
3,5-5
Ca
1-2
4,5-5,5
Mg
27-29
4,5-5,5
Cl
1-4
98-106
HCO3
10-12
25-27
phosphat (HPO4) 100-104
1,7-1,4
sulfat (SO4)
2
1
a. Natrium / Sodium
Fungsi dasar dari natrium adalah mengatur volume CES, meningkatkan permeabilitas
membran, mengatur tekanan osmotik vaskuler, mengontrol distribusi cairan intraseluler dan
ekstraseluler, berperan dalam hantaran inpuls sarap, memelihara iritabilitas neuromuskuler.
b. Kalium / Potasium
Fungsi dasar kalium adalah mengatur CIS, membantu transmisi inpuls sarap,
berperan/membantu kontraksi otot skeletal dan otot polos, membantu reaksi enzimatik pada
proses metabolisme karbohidrat dan restrukturisasi asam amino menjadi protein, menhaut
keseimbangan asam-basa (bertukar tempat dengan ion hidrogen).
c. Calsium
Fungsi dasar dari kalsium adalah mendukung kekuatan dan penyusun tulang dan gigi, me
mbentukketebalan dan kekuatan membran sel, membantu transmisi impuls sarap, menurunkan ek
sitabilitasneuromuskuler, bahan pentung pembekuan darah, membantu absorbsi dan penggunaan
vit B12, mengaktifkanreaksi enzim dan sekresi hormon.
d. Magnesium

Fungsi dasar magnesium adalah mengaktifkan sistem enzim, sebagian besar bersama
dengan metabolisme vit B dan penggunaan K, Ca dan protein. Membantu regulasi kadar serum
kalsium, pospor dan kalsium. Membantu aktivitas neuromuskuler.
Keseimbangan Asam Basa
keseimbangan asam basa berkenaan dengan homeostasis konsentrasi ion hidrogen dalam
cairanekstrasel. Sedikit perubahan pada konsentrasi ion hidrogen akan menyebabkan perubahan
berbagai reaksikimia intrasel. Tanda pH digunakan untuk menunjukan konsentrasi ion hidrogen
dalam cairan tubuh, normalnya sekitar 7,35 7,45. ion hidrogen (H+ ), adalah proton dan
bermuatan positif. Keberadaan ion hidrogen dengan konsentrasi tertentu menyebabkan suatu
larutan berada dalam keadaan asam, netral ataupun alkalin (basa). Peningkatan kadar H+
menyebabkan suasana menjadi asam. Bila H+ berkurang, larutan menjadi alkalis dan pH
meningkat, larutan dalam kondisi basa. Asam pH < 7, netral pH = 7, basa pH > 7.
cairan tubuh memiliki pH 7,34 7,45. dikatakan asidosis apabila pH < 7,35 (konsentrasi
ion hidrogen meningkat) dan dikatakan alkalosis bila pH > 7,45 (konsentrasi ion hidrogen
menurun).
Pengaturan Keseimbangan Asam-Basa
Tubuh memiliki tiga sistem kontrol dalam pengaturan keseimbangan asam basa untuk
mengatasi atau menghindari kondisi asam ataupun basa. Sistem tersebut adalah sistem buffer,
respirasi dan ginjal.
a. sistem buffer
Semua cairan tubuh dilengkapi dengan acid-base buffer system (yaitu beberapa senyawa
kimia yang bisa mengubah konsentrasi ion hidrogen ketika larutan dalam suasana asam atau
basa). Sistem buffer bereaksi ketika ada perubahan konsentrasi ion hidrogen.
Ada beberapa senyawa kimia sistem buffer dalam cairan tubuh, bicarbonate-carbonic acid
system (carbinate system) adalah sistem buffer yang utama. Carbonate system terdiri dari
carbonic acid ( H2CO3 --- HCO3 + H+) dan sodium bicarbonate (NaHCO3 --- HCO3 + Na+).
Pada cairan ektraseluler, pH dapat dikembalikan ke kondisi normal oleh sistem buffer ini karena
asam karbonat adalah asam lemah dan bikarbonat adalah basa lemah.
Secara reaksi kimia dapat digambarkan sebagai berikut
CO2 + H2O ------- H2CO3 ------- HCO3 + H+
Apabila terjadi peningkatan konsentrasi ion hidrogen di ekstraseluler, maka reaksi akan
mengarah ke kiri, namun bila terjadi penurunan konsentrasi ion hidrogen, maka reaksi akan
mengarah ke kanan.
b. Sistem Respirasi
Pengaturan keseimbangan asam-basa pada respirasi melalui pengontrolan kadar karbon
dioksida (CO2). Dalam cairan ektraseluler laju metabolisme akan mempengaruhi jumlah karbon
dioksida. CO2 secara kontinyu dibentuk dalam proses metabolisme intrasel yang berbeda.
Mekanisme pengaturan respirasi akan berespon sesaat setelah terjadi perubahan level CO 2.
Ketika CO2 meningkat di cairan ekstrasel, maka napas akan cepat dan dalam sehingga CO2
dapat dikeluarkan.
c. Pengaturan Konsentrsi Ion Hidrogen Oleh Ginjal
ginjal mengatur pH pada cairan ekstrasel dengan mengeluarkan ion hidrogen atau ion
bikarbonat (HCO3 ) dari cairan tubuh. Bila konsentrasi bikarbonat lebih dari normal maka ginjal

akan mengekskresikannya sehingga urin menjadi alkalin, bila ion hidrogen di ekskresikan maka
urin menjadi asam. Pengaturan pH oleh ginjal tidak bisa cepat namun akan berlangsung beberapa
jam atau hari untuk bisa mengembalikan asam-basa dalam keadaan seimbang.
Daftar Pustaka
DeLaune. Sue C., (2002), Fundamental of Nursing Standar &Practice, Louisiana USA, Delmar
Guyton, (2005), Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Jakarta, EGC