Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KASUS

ABSES TUBA OVARIUM (ATO)

Oleh :
I Made Ari Sastrawan (1102005163)
Pembimbing :
dr. Wayan Indriani Eka Putri, M.Biomed, Sp.OG

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA
BAGIAN/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNUD/RSUD KARANGASEM
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas
berkatNya, laporan kasus ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Laporan kasus dengan judul “Abses Tuba Ovarium” ini ditulis dalam rangka
menjalani Kepaniteraan Klinik Madya di Lab/SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD
Karangasem, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Wayan Indriani Eka Putri, M.Biomed, Sp.OG selaku pembimbing dan penguji
penulisan laporan kasus ini.
2. Bagian/SMF Obsgyn RSUD Karangasem yang telah memfasilitasi dalam
penyusunan laporan kasus ini.
3. Para Resident, bidan, dan staf medis RSUD Karangasem serta pihak-pihak yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karya ini masih jauh dari sempurna,
karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Untuk ini penulis
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak.

Denpasar, September 2016
Penulis

ii

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR................................................................................................. ii
DAFTAR ISI..............................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN.........................................................................................1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi ..............................................................................................................3
2.2 Epidemiologi......................................................................................................3
2.3 Faktor Resiko.....................................................................................................4
2.4 Patogenesis.........................................................................................................5
2.5 Gejala Klinis.......................................................................................................6
2.6 Diagnosis............................................................................................................8
2.7 Penatalaksanaan.................................................................................................10
2.8 Komplikasi.........................................................................................................12
2.9 Prognosis............................................................................................................13
BAB 3 LAPORAN KASUS.......................................................................................14
BAB 4 PEMBAHASAN............................................................................................23
BAB 5 RINGKASAN................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................27

iii

6. riwayat penyakit radang panggul sebelumnya. Walaupun demikian. chlamydia serta makin banyaknya penggunaan jenis kontrasepsi dalam rahim seperti Intra Uterine Contraceptive Device (IUD). masih ditemukan sekitar 23% tidak mengalami peningkatan suhu tubuh dan memiliki nilai laboratorium leukosit yang normal. 1 ATO ini merupakan salah satu komplikasi yang serius dari penyakit radang panggul. Faktor resiko terjadinya abses ini hampir sama dengan faktor resiko dari penyakti radang panggul seperti antara lain pasangan seksual multipel.8 iv .5 Secara klinis.5 ATO umumnya terjadi pada wanita berusia antara 20-40 tahun atau dalam masa reproduksi dan aktif secara seksual. Prevalensi dari kejadian ATO disebutkan meningkat seiring dengan begitu pesatnya penyebaran penyakti menular seksual.7 Pemeriksaan penunjang laboratorium umumnya menunjukkan peningkatan leukosit. ATO dapat dikatakan sebagai salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan yang membutuhkan perhatian serta penanganan yang tepat.4.4. dari semua ATO yang memang telah terkonfirmasi lewat laparotomi.4 ATO disebutkan terjadi pada sekitar 5% dari wanita yang mengalami penyakit radang panggul. Dikatakan prevalensi ini meningkat hingga 30% dari wanita dengan penyakit radang panggul pada literatur lain. Keluhan ini dikatakan terjadi pada hampir 90% dari seluruh penderita.BAB I PENDAHULUAN Abses tuba ovarium (ATO) adalah salah satu penyebab bentukan massa pelvis yang paling sering pada wanita terutama yang masih dalam masa reproduksi.1.1.3.2 Sebagai hasil dari meningkatnya insiden penyakit menular seksual seperti Gonorrhea. serta yang sering yaitu riwayat instrumentasi seperti penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) sejenis IUD. ATO umumnya muncul dengan keluhan nyeri pada perut kanan atau kiri atau kedua-duanya.6 Keluhan ini dapat disertai atau tidak disertai dengan peningkatan temperatur badan.

1. Selanjutnya akan dilaporkan sebuah kasus mengenai ATO. Cara konservatif umumnya ditempuh terlebih dahulu dalam mengatasi ATO yang ada.4.6 Berikutnya akan dibahas secara lebih mendetail tentang ATO. Tindakan yang umumnya dilakukan apabila penanganan secara konservatif tidak berhasil adalah tindakan operasi berupa laparotomi.Penanganan ATO umumnya dibedakan menurut sifat penatalaksanaannya. Pemberian antibiotik yang adekuat diharapkan mampu memberi perbaikan. Kemudian secara klinis dan teoritis akan coba dibahas mengenai temuan-temuan yang didapatkan. v .

Prevalensi dari kejadian ATO disebutkan meningkat seiring dengan begitu pesatnya penyebaran penyakti menular seksual termasuk keadaan instrumentasi pada wanita yang juga dicurigai berperan sebagai faktor resiko.9 vi . diperkirakan sekitar 1 juta wanita mengalami panyakit radang panggul yang merupakan faktor resiko utama dari ATO.2. Penyakit radang panggul adalah peradangan organ genitalia wanita di atas niveu orifisium uteri internum.1 Definisi ATO dapat didefinisikan sebagai proses terjadinya pernanahan pada daerah tuba falopii dengan melibatkan ovarium. salphingitis. ATO ini umumnya terjadi pada wanita berusia antara 20-40 tahun atau dalam masa reproduksi dan aktif secara seksual.4. Penyakit ini termasuk endometritis. salphingooovoritis.4 ATO ini merupakan salah satu komplikasi yang serius dari penyakit radang panggul. Kondisi ini sering tanpa gejala yang pada akhirnya meningkatkan pula temuan ATO. pelvik selulitis. pelvioperitonitis hingga pembentukan abses. 5 Setiap tahunnya. Dikatakan prevalensi ini meningkat hingga 30% dari wanita dengan penyakit radang panggul pada literatur lain.2 Epidemiologi ATO disebutkan terjadi pada sekitar 5% dari wanita yang mengalami penyakit radang panggul. Dilaporkan pula bahwa satu dari 8 wanita muda mengalami penyakit radang panggul sebelum menginjak usia 20 tahun.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. per definisi ATO adalah radang bernanah yang terjadi pada ovarium dan atau tuba fallopii unilateral/bilateral.4 2. Abses yang terbentuk dapat berupa abses tuboovarian atau abses cavum Douglass. Menurut prosedur tetap bagian/SMF obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah Denpasar.

7. maka ATO kemungkinan besar akan terjadi. Faktor-faktor resiko tersebut antara lain:4. Hal ini terjadi mengingat ATO merupakan salah satu komplikasi dari penyakit radang panggul. Umur reproduktif dan aktif secara seksual yaitu antara 20-40 tahun merupakan salah satu faktor resiko.2. Kejadian pernyakit radang panggul adalah tertinggi pada usia dibawah 30 tahun dengan sepertiganya lebih muda dari 20 tahun dan 2/3 nya dibawah umur 25 tahun. Sebagian besar bahkan hampir semua faktor resiko terjadinya penyakit radang panggul merupakan faktor resiko terjadinya abses tuboovarian.6-8 2. Sebelum terbentuk abses.3 Faktor Resiko Faktor resiko terjadinya ATO dikatakan merupakan faktor resiko multipel. Penyakit radang panggul yang tidak teratasi dengan baik akan berakhir dengan berbagai komplikasi yang mungkin timmbul. Selain itu. tindakan instrumentasi serta faktor-faktor internal penderita yang memudahkan terjadinya infeksi. maka penyakit radang panggul umumnya terjadi terlebih dahulu.8. 1. Umur. Aktivitas seksual atau Penyakit Hubungan Seksual Sementara aktivitas seksual dan penyakit hubungan seksual memberikan resiko karena selain faktor mikroorganisme yang ditularkan sendiri juga pada vii . khusunya apabila terjadi di daerah tuba dan atau ovarium. selama perjalanannya.4. Umur dilaporkan juga merupakan faktor resiko terjadinya penyakit radang panggul yang dapat berlanjut menjadi ATO.6-8 1. penyakit radang panggul yang tidak ditangani dengan baik akan memberat dan berpotensi besar untuk menimbulkan pernanahan.4. Faktor-faktor ini dapat berupa gangguan barrier fisiologis serta vektor organisme atau perilaku penderita yang beresiko mengakibatkan penyakit radang panggul.10 Pengelompokkan faktor resiko sebagian besar merupakan penjabaran dari resiko dari penyakit hubungan seksual.

AKDR akan menimbulkan reaksi inflamasi dan perubahan kondisi hormonal pada bulan-bulan awal pemakaian.4 Patogenesis Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa terjadinya ATO berkaitan erat dengan terjadinya penyakit radang panggul.4.6-8 3.6-8 4. Keadaan ini dapat terjadi pada penderita yang memiliki faktor-faktor resiko seperti yang telah dibahas sebelumnya di atas.6 viii . Resiko terjadinya penyakit radang panggul semakin meningkat pada senggama yang dilakukan saat menstruasi.1. Menstruasi Menstruasi dianggap sebagai faktor resiko karena jaringan nekrotik haid merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan kuman salah satunya yaitu N. Hal ini menyebabkan menurunnya fungsi barier fisiologis dari organ genitalia itu sendiri.6-8 2. 1. Sebelum terjadi abses. Tindakan instrumentasi dan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Tindakan instrumentasi serta pemasangan AKDR dicurigai menjembatani masuknya mikroorganisme patologis melewati urifisium uteri internum.4. adanya vektor organisme. Selain itu.6 Ada 3 hal penting yang menjembatani masuknya organisme ke dalam orifisium uteri interna dan terjadinya peradangan atau infeksi yaitu gangguan pada barrier fisiologis.4. serta faktor resiko yang berpotensi memberikan suasana yang mendukung untuk perkembangan mikroorganisme patologis. 4.saat orgasme terjadi kontraksi uterus yang dapat menarik sperma dan kumankuman yang lain ke dalam kavum uterus melalui kanalis servikalis. maka keadaan yang harus terjadi untuk memulai peradangan adalah masuknya organisme ke dalam orifisium uteri internum.Gonorrhea. 4. Resiko PRP terbesar terjadi pada waktu pemasangan AKDR dan dalam 3 minggu pertama setelah pemasangan. 1. Hal ini terjadi terutama pada tindakan-tindakan yang kurang memperhatikan sterilisasi prosedur instrumentasi.

Colli yang merupakan organisme tersering yang ditemukan pada penyakit radang panggul. Spermatozoa dapat menjadi vektor kuman-kuman seperti N.4 Hal lainnya yang penting untuk diingat bahwa faktor sperma merupakan media yang sering membawa kuman ke dalam kavum unteri internum. kavum uterus (deskuamasi endometrium) dan lumen tuba uterina fallopii.Colli dapat melekat pada Trichomonas vaginalis dan mampu bergerak hingga mencapai tuba fallopii. Resiko terjadinya penyakit radang panggul semakin meningkat pada senggama yang dilakukan saat menstruasi.Gonorrhea. biokimia dan immunologik pada vagina.6-8 ix . U.6 Vektor organisme seperti Trichomonas Vaginalis dikatakan dapat menembus barier fisiologis.4. 1. 1. Namun demikian.1.4 Faktor lainnya seperti yang telah dibahas sebelummnya adalah aktivitas seksual dan penyakit hubungan seksual. Menstruasi dianggap sebagai faktor resiko karena jaringan nekrotik haid merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan kuman salah satunya yaitu N.4. instrumentasi kanalis servikalis dan dipermudah oleh faktor berupa vektor. Bakteri E. mikroorganisme yang lebih ditakutkan lagi ialah bakteri E.4. Barier fisiologis ini terganggu pada keadaan-keadaan seperti perdarahan.1. Faktor resiko tersebut seperti pada saat orgasme terjadi kontraksi uterus yang dapat menarik sperma dan kuman-kuman yang lain ke dalam kavum uterus melalui kanalis servikalis.Gonorrhea. Urealitika hingga bakteri Chlamydia Trachomatis. kuman akan mengalami hambatan mekanik.6-8 Tindakan instrumentasi serta pemasangan AKDR juga dicurigai menjembatani masuknya mikroorganisme patologis melewati urifisium uteri internum. Gangguan pada barier fisiologis ini akan memudahkan masuknya organisme-organisme yang bersifat patologis ke dalam niveu uteri internum. ostium uteri eksternum.Secara fisiologis. abortus.

Walaupun demikian. Temperatur rektal umumnya lebih dipercaya. umumnya didapatkan adanya perbedaan selisih temperature axilla dan rectal sebesar ≥0. terutama pada penderita yang datang dengan keluhan. Ovarium terkena dan mengalami peradangan di daerah tempat ovulasi. namun dapat pula mengenai organ-organ yang lain misalnya kandung kemih. masih ditemukan sekitar 23% tidak mengalami peningkatan suhu tubuh dan memiliki nilai laboratorium leukosit yang normal. tuba falopii (salpingitis). peningkatan suhu tubuh ini tidak selalu ditemukan pada setiap penderita. ovarium (oovoritis) secara tersendiri atau bersama-sama. Bakteri menyebar dari vagina ke uterus.6 1. umumnya ditemukan hal-hal seperti berikut:4. Pada permulaan proses lumen tuba masih terbuka.6. Kondisi selisih antara temperature axilla dan rectal juga penting diamati. Proses ini hanya mengenai tuba dan ovarium.05ºC. 4 Mekanisme pembentukan abses tuboovarian masih belum jelas.4. eksudat menyebar dari fimbria dan menyebabkan peritonitis.6 Keluhan ini dapat disertai atau tidak disertai dengan peningkatan temperatur badan. Batasan temperature rectal yang dianggap tinggi ialah minimal 38ºC.8 Pada pemeriksaan fisik.1. Keluhan ini dikatakan terjadi pada hampir 90% dari seluruh penderita.5 Gejala Klinis Secara klinis.7 Pemeriksaan penunjang laboratorium umumnya menunjukkan peningkatan leukosit.1. Peningkatan suhu tubuh. x .4 2.Mekanisme terbentuknya ATO merupakan akibat memberatnya radang yang terjadi pada tuba fallopii dan ovarium. Pada kasus-kasus penyakit radang panggul. Peningkatan suhu tubuh hendaknya dilakukan pada 2 tempat pemeriksaan yaitu pada axilla serta rectal. Seperti dibahas sebelumnya. ATO umumnya muncul dengan keluhan nyeri pada perut kanan atau kiri atau kedua-duanya. dari semua ATO yang memang telah terkonfirmasi lewat laparotomi.

Nyeri ini dapat disertai dengan fenomena rebound atau tidak. 2. 5. mulai daerah sekitar pecahnya abses menjalar ke seluruh dinding perut yang mengakibatkan peritonitis generalisata. Nyeri dapat unilateral pada salah satu sisi atau bilateral tergantung dari letak peradangan dan abses yang ada. 7. Ileus dapat terjadi oleh karena peritonitis. Anemia dapat dijumpai pada abses pelvik yang telah berlangsung beberapa lama. 6. 6. Nyeri dan pembengkakan labia.6 2. 1983).2. 4. Nyeri di daerah para-rektum. Massa. Peradangan akut serviks. Adapun kriteria tersebut yaitu: 1. metroragia) 4. 1. 3. Takikardia.2.4. Pembentukan massa akibat abses. Lekorea 3. selain teraba massa abses (jika memang cukup besar) saat pemeriksaan palpasi abdomen. Abses pecah memberikan gambaran khas yaitu nyeri mendadak pada perut bagian bawah.4.6 Berdasarkan kriteria Infection Disease Society for Obstetric & Gynecologic (USA. Keadaan ini dapat ditemukan akibat infeksi yang bersifat sistemik. akan teraba massa di daerah adneksa. 7. dapat ditemukan hal-hal sebagai berikut: 4.6 1. Menoragia dan metroragia dapat terjadi pada beberapa kasus. Pada pemeriksaan ginekologi. 5. Nyeri abdomen atau nyeri suprasimfisis. diagnosis abses tuboovarian hampir sama dengan diagnosis penyakit radang panggul pada umumnya. kriteria diagnosis dibedakan menjadi kriteria mayor dan kriteria minor.2. 4. Akut abdomen. Perdarahan ( menoragia. Jika terbentuk abses.6 Diagnosis Berdasarkan patofisiologinya. Akut abdomen dapat terjadi pada abses yang pecah dan menyebabkan peritonitis. Hanya saja pada kasus ATO harus dibuktikan adanya massa abses yang ditunjukkan dengan pemeriksaan penunjang seperti USG.6 xi .

Abses padat pada pemeriksaan bimanual atau USG. terbatas pada tuba dan ovarium.4. Secara garis besar.000 mm3 4. Mikroorganisme patologi pada sekret endoserviks 2. Kriteria Minor: 1.4. Pada derajat II didapatkan massa radang atau abses pada kedua tuba atau ovarium. 3.4. Suhu rektal di atas 38 C 3. 1. Kriteria Mayor: 1.2.6 Untuk lebih jelasnya mengenai pembagian derajat penyakit radang panggul. Penyakit radang panggul dibedakan menjadi 3 derajat. didapatkan massa radang atau abses pada kedua tuba atau ovarium DERAJAT III Radang panggul dengan penyebaran di luar organ-organ xii . Nyeri pada adneksa b. Hal ini sesuai dengan temuan klinis yang harus didapatkan untuk mengkategorikan penyakit radang panggul tersebut ke derajat II. Pus dalam kavum peritonium (dengan kuldosentesis atau laparoskopi) 5.6 DERAJAT DESKRIPSI DERAJAT I Radang panggul tanpa penyulit.a. berikut di sajikan klasifikasi penyakit radang panggul:1. penyakit radang panggul dibedakan berdasarkan derajat-derajat sesuai dengan berat ringannya gejala serta komplikasi serta penyulit yang menyertai. ATO termasuk dalam penyakit radang panggul derajat II.1.6 Perjalanan penyakit radang panggul hingga menjadi abses tuboovarioan dibedakan sesuai dengan perkembangan penyakit radang panggul itu sendiri. Leukosit lebih dari 10. 2.2. Nyeri tekan pada abdomen dengan atau tanpa fenomena rebound. Nyeri bila serviks uterus digerakkan. dengan atau tanpa pelvioperitonitis DERAJAT II Radang panggul dengan penyulit. Diagnosis penyakit radang panggul ditegakkan apabila didapatkan 3 kriteria mayor beserta salah satu dari kriteria minor. Penyakit radang panggul derajat II adalah penyakit radang panggul dengan penyulit.

Diagnosis banding terhadap ATO umumnya dibedakan berdasarkan ada tidaknya keluhan. Perforasi appendisitis 2. Ada tidaknya keluhan akan memberikan diagnosis banding yang berbeda pula.pelvik Pada kasus ATO.4. Hidrosalphing 5. Perforasi ulkus peptikum 4. diagnosis banding sangat perlu diketahui mengingat keluhan serupa pada daerah anatomis yang sama sangat memiliki banyak kemungkinan adanya kelainan pada organ-oragan lainnya. ATO dengan keluhan: 1. ditangani berdasarkan derajat dari penyakit radang panggul yang telah xiii . Abses periappendik 4. Tumor ovarium 2. menurut prosedur tetap bagian/SMF obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah Denpasar. Mioma uteri b. 2. Kehamilan ektopik 3. Pemberian antibiotik yang adekuat diharapkan mampu memberi perbaikan. Perforasi divertikel 3. 1.6 Pada penyakit radang panggul. ATO utuh tanpa keluhan: 1.7 Penatalaksanaan Penanganan ATO umumnya dibedakan menurut sifat penatalaksanaannya. Kista ovarium terinfeksi/terpeluntir. Cara konservatif umumnya ditempuh terlebih dahulu dalam mengatasi ATO yang ada.4 Diagnosis banding yang mungkin meliputi: a. Tindakan yang umumnya dilakukan apabila penanganan secara konservatif tidak berhasil adalah tindakan operasi berupa laparotomi.

4 a. Analgetika xiv . Analgetik b. penderita diberi terapi antibiotik kombinasi adekuat serta pengobatan yang bersifat simptomatis jika memang diperlukan. Pada penyakit radang panggul derajat I. - Kombinasi II: o Sefalosporin generasi III. Rawat jalan untuk Penyakit Radang Panggul derajat I. penderita cukup dirawat jalan. maka diharuskan untuk dirawat inap. 1. Selama perawatan. 2 x/hari selama 5-7 hari 2. 2-3x 1gr/hari selama 7 hari o Metronidazole i gr rectal supp. mengingat telah terjadi penyulit. Antibiotika - Kombinasi I: o Ampisilin 4x 1-2 gr/hari iv selama 5-7 hari. Sementara pada penderita dengan penyakit radang panggul derajat II dan III . Berikut dijabarkan secara lebih mendetail tentang penanganan penyakit radang panggul berdasarkan derajatnya serta antibiotik kombinasi yang diberikan secara lebih jelas. Rawat inap untuk Penyakit Radang Panggul derajat II dan III 1. Antibitiotika - Amoksisilin 3 gr x/hari selama 1 hari - Thiamfenikol 3.dievaluasi. 2x/hari selama 5-7 hari. o Gentamisin 5 mg/kgBB/hari im/iv 2x/hari selama 5-7 hari o Metronidazole 1 gr rectal supp.5gr per oral pada hari pertama - Dilanjutkan dengan 4x500mg/hari/peroral/ selama 7-10 hari - Eritromisin 4x500mg/hari/peroral selama 7-10 hari 2.

2x/hari selama 5-7 hari o Kombinasi II: -  Sefalosporin generasi III 2-3x1gr/hari selama 5-7 hari. ATO utuh. xv . 2 x/hari selama 5-7 hari.  Metronidazole i gr rektal supp. dsb) menetap atau memburuk - Dari hasil USG. ukuran massa atau abses menetap atau semakin besar. Berikut dijabarkan penalaksanaan ATO lebih jelas:4 a. maka penatalaksanaan dilakukan berdasarkan utuh tidaknya abses yang terbentuk. LED.Apabila telah terbentuk abses khususnya ATO. - Konservatif - MRS dengan IVFD bila perlu - Tirah baring semi Fowler - Observasi tanda vital dan produksi urine - Antibiotika o Kombinasi I:  Ampisilin 4x 1-2 gr/hari iv selama 5-7 hari  Gentamisin 5 mg/kgBB im/iv selama 5-7 hari  Metronidazole 1 gr rektal supp. Operatif laparotomi jika gagal konservatif o Kriteria gagal konservatif:   Klinis - Nyeri perut menetap atau bertambah berat - Demam menetap - Keputihan yang menetap atau bertambah buruk - Pendarahan pervaginam memburuk - Kondisi umum pasien memburuk Hasil pemeriksaan penunjang - Peningkatan marker infeksi (leukosit.

KET.11 xvi . 2. Ileus.6-8.1.b. paru dan otak.8 Komplikasi Komplikasi abses tuboovarian meliputi:1. 2 x/hari selama 5-7 hari.4. dan pasang drainase - Antibiotika :  Sefalosporin generasi III 2-3x1gr/hari selama 5-7 hari. Keadaan ini dapat memicu timbulnya penyulit.6-8 a. kultur pus. Syok septik ii. 2. Abses pecah: i. Pecah sampai sepsis (jangka pendek) ii. ATO pecah. infertilitas. Terlambatnya diagnosis serta penanganan dapat memperberat dan mempersulit perjalanan penyakit. Abses intra abdominal.9 Prognosis Prognosis dari penyakit radang panggul dan abses tuboovarian tergantung dari kecepatan dan ketepatan dalam penemuan kasus dan penatalaksanaan.  Metronidazole i gr rektal supp. subphrenikus. nyeri kronik (jangka panjang) b. - Laparotomi cito (salphingooovorektomi). Timbulnya penyulit semakin memperburuk prognosis. Abses utuh: i.4.

1 Identitas Nama : NWN No CM : 225014 Umur : 19 tahun Agama : Hindu Pendidikan : Tamat SMP Pekerjaan : Swasta Status : Kawin Alamat : Bebandem. Karangasem MRS : 09 September 2016 Pemeriksaan : 11 September 2016 xvii .BAB III LAPORAN KASUS 3.

lamanya 3 . Pasien juga mengalami keputihan sejak satu minggu SMRS. Saat mens. perut semakin lama semakin memberat hingga membuat pasien sulit untuk berjalan. Jumlah pendarahannya dikatakan 2 kali lipat dari biasanya. Selain itu. Keputihan berupa cairan seperti susu agak kekuningan dan berbau amis tanpa diikuti rasa gatal. Selain nyeri perut. Riwayat Menstruasi HPHT pasien pada tanggal 17Agustus 2016. sehingga ia dibawa ke puskesmas dan dirujuk untuk memeriksakan diri di RSUD. saat ia mengalami demam. pasien juga mengalami demam yang hilang timbul sejak satu hari setelah nyeri perut mulai muncul. Selama mengalami keluhan. Sebulan yang lalu pasien juga mengalami menstruasi yang tidak biasa. mengganti pembalut 3-4 kali sehari. siklus haid teratur 30 hari. dimana ia mengalami menstruasi selama 12 hari yakni dari tanggal 17-28 Agustus. pasien sempat memeriksakan diri ke bidan dan diberikan vitamin penambah darah. Nyeri perut dikatakan seperti teremas-remas.3. Riwayat Pernikahan dan Persalinan xviii . namun keluhan nyeri perut dan demam yang ia alami tidak membaik. Selain itu pasien juga mengeluhkan terasa seperti ada bengkakan pada daerah perut kanan bawah yang nyeri saat ditekan sejak 2 hari SMRS.2 Anamnesis Keluhan Utama: Nyeri perut Keluhan Penyakit Sekarang Pasien datang diantar keluarganya ke IGD RSUD Karangasem mengeluh nyeri perut kanan bawah hingga menjalar ke pinggang sejak lima hari sebelum pasien datang ke rumah sakit (04/09/2016). Pasien mengatakan menarche umur 12 tahun. pasien sempat diberi paracetamol.4 hari.

Riwayat Kehamilan: I :Tahun 2015. kencing manis. Riwayat penyakit dalam keluarga Pasien menyangkal terdapat riwayat penyakit sistemik seperti tekanan darah tinggi. Aterm. 09 September 2016 1. Status present Keadaan umum : Sakit sedang Kesadaran : E4V5M6 Tekanan Darah : 110/70 mmHg Nadi : 85x/menit Respirasi : 20x/menit Tinggi badan : 158 cm Berat badan : 45 kg Tax : 37.3 Pemeriksaan Fisik.80C 2. xix . tumor. ditolong bidan Riwayat Kontrasepsi Pasien tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi sebelumnya Riwayat sakit berat Pasien menyangkal memiliki riwayat penyakit sistemik seperti tekanan darah tinggi. Pervaginam. Ikterus (-)/(-). penyakit jantung. penyakit jantung. asma. 3. tumor. Riwayat Operasi Sebelumnya Pasien mengaku belum pernah menjalani operasi sebelumnya.Menikah satu kali dengan suami. Umur saat menikah 18 tahun. Isokor. Memiliki satu orang anak. asma. maupun gangguan kejiwaan. perempuan. kencing manis. maupun gangguan kejiwaan dalam keluarganya. epilepsi. epilepsi. Status General Kepala : Mata : Anemis (+)/(+).

jaringan parut (-) Auskultasi : bising usus (+).40 11. batas tegas. livide (-) Vaginal Toucher : flx (-). Wheezing (-)/(-).2 4.0 4.5. slinger pain (+) AP teraba massa padat kenyal. Abdomen :  status ginekologi. cavum douglas bulging (-) 3.22 9.Ronkhi (-)/(-). Status ginekologi Abdomen Inspeksi : luka bekas operasi (-).4 Pemeriksaan Penunjang: a. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Darah Lengkap Parameter WBC RBC HGB Hasil 11.Toraks : Jantung : S1S2 normal. erosi (-).2 cm pada andexa kanan. nyeri tekan (+) Perkusi : suara timpani (+) distribusi merata Anogenital Inspeksi : flx (-). Ekstremitas : akral hangat +/+.0 xx Satuan 103/μL 106/ μL g/dL .20 .0 x 5. Ø 5.0 – 16. fl (+). bruit (-) Palpasi : tinggi fundus uteri tidak teraba. Reguler. Odeme -/+/+ -/- 3. nyeri (+). fl (+). Murmur (-). Pulmo : vesikuler (+)/(+).26 Nilai Rujukan 4. portio licin.distensi (-).0 – 10.

Mc burney : tidak tampak target sign.0 32. Lesi kistik kesan pada adnexa kanan susp ATO dd/ kista terinfeksi 3.Tampak lesi kistik batas tegas kesan pada adnexa kanan ukuran 5. batas sinus cortex jelas.0 82.450 Pg fL g/dL 103/μL Pemeriksaan UL Parameter Warna Kekeruhan Leucosit Eritrosit Squamous Hasil Kuning Agak keruh + 3-5 + 0-1 + 5-10 Pemeriksaan lain Jenis Pemeriksaan Vaginal swab Hasil Bakteri gram (-). bacil (+) 19mM/jam LED b.Ginjal kanan : ukuran normal.0 – 31. Ultrasonografi (USG) . tak tampak batu/ kista/ massa .MCH MCV MCHC PLT 22.Uterus normal . PCS melebar ringan.0 69. nyeri tekan tranduser (+) .9 cm . dinding tidak menebal.0 – 95.8 x 5.Tak tampak echocairan bebas Kesimpulan : obs.1 31.5 Diagnosis/Analisis xxi .VU : terisi urine cukup. echocortex normal.8 356 27.0 – 36. tak tampak batu/ kista .0 150 .

vital sign c. IVFD NaCl 0. Gentamicin 2x80 mg (iv) f. Ampicillin 3x1 gram (iv) e. LED 2016 bagian bawah CM ovarium dd Tx kanan Status present Kista -Konservatif hari ke menjalar T : 110/80 mmHg terinfeksi + sampai ke N : 80x/menit anemia -Posisi semifowler pinggang R : 20x/menit ringan -IVFD NaCl 20 tpm kanan (+).7 Perjalanan Penyakit Tgl 10/09 S Nyeri perut O A P KU sedang.6 Rencana Kerja Terapi farmakologis a. Paracetamol 3x500 mg (iv) Monitoring : a. kesadaran Abses Tuba Cek lab: DL. Kondisi pasien b. DL/ LED @ 9 hari KIE: a. Rencana penanganan awal c. Keluhan b. Rencana diagnostik d. Penanganan konservatif dengan persiapan laparotomi b.9% 20 tpm d. Metronidazole 3x1 gram (iv) g.Abses Tuba Ovarium dd Kista Terinfeksi + Anemia ringan hipokronikmikrositer 3. Tax : 36.9oC hipo-mikro -Ampicillin 3x1 gram xxii : II . Posisi semiflower c. Meminta informed consent 3.

keputihan pendarahan aktif (-) 11 Nyeri perut KU baik.8oC hipo-mikro pinggang mual (+) +. R : 20x/menit ringan pusing Tax : 36.Status general pusing (+) (iv) Mata : an +/+ -Gentamicin 2x80 mg Cor : S1S2 N. BU (+) N Vagina: (+). Ginekologi Abdomen: nyeri tekan (+)membaik. (iv) reguler. reguler. gram (iv) Wh -/. kesadaran Abses Tuba -Konservatif hari ke September bagian bawah CM ovarium dd 2016 (D) menjalar Status present Kista -Posisi semifowler sampai T : 110/70 mmHg terinfeksi + -IVFD RL 20 tpm ke N : 80x/menit anemia -Ampicillin (+) membaik. Status general 3x1 gram (iv) -Gentamicin 2x80 mg (iv) Mata : an +/+ -Metonidazole 3x1 Cor : S1S2 N.. Rh -/-. Eks :Hangat -Paracetamol 3x500 mg (iv) . murmur (-) -Metonidazole 3x1 Pul : Ves +/+. distensi (-). III gram (iv) murmur xxiii -Paracetamol 3x500 . KIE Mx: Keluhan. Vital Edema Sign St.

8 LED: 8.3 PLT: 3. -transfusi PRC s.(-) mg (io) Pul : Ves +/+. R : 14x/menit IV 3x1 gram (iv) xxiv . BU (+) N Vagina: transfusi keputihan (+)membaik. Dipenhidramin 10 mg iv Edema St.73 HCT : 27. Ginekologi Abdomen: KIE nyeri tekan Mx: Keluhan.1 Hb : 8.d Hb Rh -/-. distensi Cek DL 6 jam post (-). Vital (+) Sign membaik. kesadaran Abses Tuba -Konservatif hari ke September bagian bawah CM ovarium dd 2016 Status present Kista -Posisi semifowler T : 110/80 mmHg terinfeksi + -IVFD RL 20 tpm N : 84x/menit anemia -Ampicillin (+) membaik. +dexametason 5 mg iv.. Pusing mual (-) (-). pendarahan aktif (-) Hasil lab 11/09/ 2016 Wbc : 11. Wh -/. ≥ 10 Eks : Hangat Premed: .5 Tgl 12 S Nyeri O A P perut KU baik.

Vital Sign . KIE Wh -/. Pusing mual (-) (-).3oC ringan hipo-mikro Status general (iv) -Metonidazole 3x Mata : an -/- 500mg (iv) Cor : S1S2 N. Edema St. Rh -/-. Eks : Hangat -Gentamicin 2x80 mg Mx: Keluhan. distensi (-). kesadaran Abses Tuba Konservatif hari ke V September bagian bawah CM ovarium dd -Posisi semifowler 2016 Status present Kista -IVFD RL 20 tpm T : 110/80 mmHg terinfeksi + -Ampicillin N : 84x/menit anemia R : 14x/menit ringan Tax : 36. BU (+) N Vagina: keputihan (-). 3x1 gram (iv) -Gentamicin 2x80 mg (iv) -Metronidazole 3x Status general 500mg (iv) xxv .. Ginekologi Abdomen: nyeri tekan (-). murmur(-) (k/p) Pul : Ves +/+. pendarahan aktif (-) Tgl 13 S Nyeri O A P perut KU baik. -Paracetamol 500 mg reguler.Tax : 36.3oC hipo-mikro (+) membaik.

(k/p) reguler. Evaluasi: USG ulang Wh -/. Eks : Hangat . Vital Sign Edema St. murmur(-) Pul : Ves +/+. BU (+) N Vagina: keputihan (-).. KIE Mx: Keluhan. Ginekologi Abdomen: nyeri tekan (-).Mata : an -/- -Paracetamol 500 mg Cor : S1S2 N. distensi (-). Rh -/-. pendarahan aktif (-) xxvi .

Pada pemeriksaan fisik didapatkan status present suhu rektal 37.1 Diagnosis Seorang pasien wanita 19 tahun. Indonesia datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah. Selain nyeri perut. nyeri pada adneksa (+). Jumlah pendarahannyapun dikatakan 2 kali lipat dari biasanya. Pasien juga mengalami keputihan sejak satu minggu SMRS. Pemeriksaan abdomen fundus uteri tidak teraba. Selain itu pasien juga mengeluhkan terasa seperti ada bengkakan pada daerah perut kanan bawah yang nyeri saat ditekan sejak 2 hari SMRS. semakin lama semakin memberat hingga membuat pasien sulit untuk berjalan. Nyeri dikatakan seperti rasa teremasremas. Dari pemeriksaan dalam didapatkan keputihan (+). Sebulan yang lalu pasien juga mengalami menstruasi yang tidak biasa. massa teraba pada adneksa kanan (+) . Rasa nyeri tidak berkurang dengan perubahan posisi atau istirahat. tanda cairan bebas tidak ada. Nyeri goyang serviks (+). suku Bali.8 C sementara status general didapatkan mata anemis. nyeri tekan ada. dimana ia mengalami menstruasi selama 12 hari yakni dari tanggal 17-28 Agustus. xxvii . Pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah sejak sekitar 5 hari sebelum masuk rumah sakit.BAB IV PEMBAHASAN 4. tidak didapatkan distensi. Keputihan berupa cairan seperti susu agak kekuningan dan berbau amis.200 mm3. agama Hindu. pasien juga mengalami demam yang hilang timbul sejak satu hari setelah nyeri perut mulai muncul. parametrium dan cavum douglasi dalam batas normal. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah lengkap didapatkan leukositosis sebesar 11.

Hal ini dilakukan untuk menilai keberhasilan terapi konservatif dan mempersiapkan laparotomy apabila terapi konservatif gagal. dilakukan USG ulang untuk menilai respon terapi. Pada kasus ini. Faktor-faktor yang lain seperti pencucian vagina. Direncanakan diberikan antibitiotika selama 5 hari sesuai dengan teori untuk kemudian dievaluasi respon abses terhadap terapi.2 Faktor predisposisi atau resiko Berdasarkan anamnesis.3 Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada kasus ini dilakukan secara konservatif.Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat diambil kesimpulan bahwa keluhan Pasien adalah nyeri perut. Walaupun telah terbentuk abses. namun pemberian antibitotik yang adekuat diharapkan mampu mengurangi progresivitas abses. nyeri serviks dan nyeri adneksa. xxviii . sesuai dengan teori. faktor resiko yang dicurigai sebagai pencetus terjadinya penyakit radang panggul dengan penyulit berupa abses tubo ovari pada penderita ini adalah. Penyakit radang panggul sudah dapat ditegakkan. 4. pasien juga mengeluh keputihan dan panas badan yang juga mendukung diagnosis.200 mm3. Kriteria mayor penyakit radang panggul dipenuhi yaitu nyeri abdomen tanpa rebound phenomenon.8 C dan leukositosis 11. Sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan penunjang berupa USG untuk mengetahui dimensi atau ukuran abses sebagai data dasar sebelum memulai terapi. 4. penderita memang termasuk dalam kategori rentang usia yang rentan terhadap kemungkinan penyakit radang panggul. Hal ini sesuai dengan teori bahwa sebagian besar (hampir 90%) penderita abses tuba ovarian akan merasakan keluhan nyeri abdomen. Kriteria minor yang dipenuhi adalah febris 37. hubungan saat menstruasi dan yang lainnya tidak ditemukan. Setelah dilakukan terapi antibiotik selama 5 hari. dari segi umur. Dari anamnesis tidak diapatkan riwayat aktivitas seksual beresiko seperti bergantiganti pasangan atau yang lainnya. Temuan berupa terabanya massa di adneksa kanan mengarah pada penyakit radang panggul dengan komplikasi berupa abses tubaovari (ATO).

Dan apabila terapi konservatif gagal. maka diperlukan penatalaksanaan dan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat kondisi penyakit dan kemungkinan penyulit yang ada. 4. xxix .Pada kasus ini. Ini dikarenakan pemeriksaan USG untuk menilai hasil terapi konservatif baru akan dikerjakan sampai laporan ini ditulis. Hal ini sesuai dengan pustaka. gentamiciin 2x80 mg iv dan metronidazole 3x1 gram (IV).4 Prognosis Prognosis pada pasien ini masih dubiuss. yang menyatakan pada penyakit radang panggul derajat II dapat diterapi dengan 3 kombinasi antibiotik yakni ampicilin. gentamicin dan metronidazole. Laparotomi dilakukan ababila terapi konservatif sudah dinyatakan gagal. antibitiotika yang diberikan adalah ampicillin 3x1 gram iv.

BAB V RINGKASAN ATO dapat diartikan sebagai proses terjadinya pernanahan pada daerah tuba falopii dengan melibatkan ovarium. pelvik selulitis.4 Faktor resiko terjadinya ATO dikatakan merupakan faktor resiko multipel. Prevalensi dari kejadian ATO disebutkan meningkat seiring dengan begitu pesatnya penyebaran penyakti menular seksual termasuk keadaan instrumentasi pada wanita yang juga dicurigai berperan sebagai faktor resiko. salphingooovoritis.2. ATO umumnya muncul dengan keluhan nyeri pada perut kanan atau kiri atau kedua-duanya. pelvioperitonitis hingga pembentukan abses. Penyakit ini termasuk endometritis. Secara klinis. Sebagian besar bahkan hampir semua faktor resiko terjadinya penyakit radang panggul merupakan faktor resiko terjadinya ATO. Penyakit radang panggul adalah peradangan organ genitalia wanita di atas niveu orifisium uteri internum. mengingat ATO merupakan salah satu komplikasi dari penyakit radang panggul. salphingitis. Keluhan ini dikatakan terjadi pada hampir 90% dari xxx . Abses yang terbentuk dapat berupa abses tuba ovari atau abses cavum Douglass. yang merupakan salah satu komplikasi yang serius dari penyakit radang panggul.

nih. MEDLINE. Pedoman Diagnosis-Terapi dan Bagan Alir Pelayanan Pasien. Burak. Cara konservatif umumnya ditempuh terlebih dahulu dalam mengatasi abses tubo ovarian yang ada. Tindakan yang umumnya dilakukan apabila penanganan secara konservatif tidak berhasil adalah tindakan operasi berupa laparotomi.gov/medlineplus/ency/article/000888. Sekai Tahir. 5. 2016. 28 (1998) 691-692. J. Imaging Studies.4.151(8):1098-110. Pelvic inflammatory disease (PID). masih ditemukan sekitar 23% tidak mengalami peningkatan suhu tubuh dan memiliki nilai laboratorium leukosit yang normal.seluruh penderita. xxxi . Am J Obstet Gynecol. Current trends in the diagnosis and treatment of tuboovarian abscess . 4. Karkata.6 Keluhan ini dapat disertai atau tidak disertai dengan peningkatan temperatur badan. Tubo Ovarian Abscess: Risk Factors and Clinical Features in Turkish Population. Walaupun demikian. IM Kornia et al. 2. MedlinePlus. National Institutes of Health. Accessed September 12. US National Library of Medicine. Updated 9/19/2006. 2003.nlm. dari semua kasus ATO yang memang telah terkonfirmasi lewat laparotomi. Pemberian antibiotik yang adekuat diharapkan mampu memberi perbaikan.1. Treatment.4. Pathophysiology and Microbiology.6 DAFTAR PUSTAKA 1.6.1. 1985 Apr 15. Available at http://www. Lab/SMF Obgyn FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar. Copyright © The McGraw-Hill Companies. Tuboovarian Abscess.8 Penanganan ATO umumnya dibedakan menurut sifat penatalaksanaannya. of Medical Sciences. Obstetric and Gynecologic Emergencies: Diagnosis and Management. 3.htm..7 Pemeriksaan penunjang laboratorium umumnya menunjukkan peningkatan leukosit. 1.

10. herbert. xxxii .. Jonathan S. Hutabarat. Department of Radiology. Last updated august 13. Sulivan (Editor) Manual of Outpatient Gynecology..emedicine. Sweet. Available at www.com. Accesed: September 12.. Ronald S.6. MD Gibbs Infectious Diseases of the Female Genital Tract. 2009 CBS Interactive Inc. 2008. 8. 2002 Novak's Gynecology: by Lippincott Williams & Wilkins. 4th edition: by By Lippincott Williams & Wilkins Publishers. 9. Md. Nancy D. Havens. Kate. Accessed : September 12. 2007. Richard L. Pelvic Inflammatory Disease/Tubo-ovarian Abscess. Medical therapy often cures tuboovarian abscess. 2016. 2016. Yayasan Bina Pustaka sarwono Parawirohardjo.. Carol S. MD. 7. 11. Carol Havens (Editor). Ilmu Kandungan. Berek. 4th edition: Lippincott Williams & Wilkins Publishers. Radang dan Beberapa Penyakit lain pada Alat-alat Genital Wanita. Nancy D. Consulting Staff. Shikha Mudgil. 1983. Riddle Memorial Hospital. Sullivan (Editor). Johnson.