Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemberlakuan peraturan dan perundangan-undangan yang berkaitan dengan pelaksanaan
otonomi pendidikan menuntut adanya upaya pembagian kewenangan dalam berbagai bidang
pemerintahan.

Hal

tersebut

membawa

implikasi

terhadap

sistem

dan

penyelenggaraan pendidikan termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Dua hal


penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu diversifikasi kurikulum dan standar
kompetensi.
Untuk merespon hal tersebut di atas, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah
melakukan penyusunan Standar Isi (SI), yang kemudian dituangkan kedalam Peraturan
Menteri

Pendidikan

Nasional

(Permendiknas)

nomor

22

tahun

2006

yang

minimal

yang

mencakup dua komponen, yaitu:


1. Standar

Kompetensi

(SK)

merupakan

ukuran

kemampuan

mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dicapai, diketahui, dan
mahir dilakukan oleh peserta didik pada setiap tingkatan dari suatu materi yang
diajarkan.
2. Kompetensi Dasar (KD) merupakan penjabaran SK peserta didik yang cakupan
materinya lebih sempit dibanding dengan SK peserta didik.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah yang akan kami bahas adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator ?
2. Bagaimana cara menyusun standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator
dalam silabus ?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah

yang

telah

kami

kemukakan di atas, maka

yang

menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah :


1. Mengetahui pengertian standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator.
2. Mengetahui cara menyusun standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator
dalam silabus.

BAB II
1

PEMBAHASAN
A. Kompetensi dan Unsur-unsurnya
1. Pengertian Kompetensi
Menurut Mendiknas (SK.04/U/2002), kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas
dan penuh tanggung jawab yang dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk dianggap
mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang tertentu. Definisi
tersebut mengandung tiga potensi, yaitu: akal berpikir (mental) yaitu seperangkat tindakan
cerdas; potensi perasaan (emosi) yaitu penuh tanggung jawab; dan potensi unjuk kinerja
(melaksanakan tugas-tugas).
Mc. Ashan mengemukakan kompetensi adalah knowledge, skills, and abilities or
capacities that a persons achieves, which became part of his or her being to the extent he or
she can satisfactorily

perform

particular

cognitive,

affective, and pshycomotor

behaviors. Yaitu sebuah pengetahuan, keterampiln dan kemampuan yang diperoleh


seseorang untuk dapat melakukan sesuatu dengan baik, termasuk perilaku-perilaku kognitif,
afektif dan psikomotorik.
Oliva

mengatakan

bahwa

kompetensi

sering

dipahami

sebagai instructional

objectives (tujuan pembelajaran).


2. Unsur-unsur Kompetensi
Stephen P. Becker dan Jack Gordon berpendapat bahwa dalam suatu kompetensi
terkandung beberapa unsur, yaitu:
a. Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran di bidang kognitif. Misalnya, seorang guru
mengetahui cara melaksanakan kegiatan identifikasi, penyuluhan dan proses
pembelajaran terhadap siswa.
b. Pengertian (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif siswa. Misalnya,
ketika seorang guru akan melaksanakan kegiatan pembelajaran harus sudah
menguasai pemahaman yang baik terhadap keadaan siswa sehingga pembelajaran
tersebut akan berjalan dengan baik dan efektif.
c. Keterampilan (skill), yaitu kemampuan individu untuk melakukan suatu tugas atau
pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
d. Nilai (value), yaitu suatu norma yang telah diyakini secara psikologis telah menyatu
dalam diri individu.
e. Minat (interest), yaitu keadaan yang mendasari motivasi individu, keinginan yang
berkelanjutan dan orientasi psikologis. Misalnya, seorang guru yang baik selalu

tertarik dalam membina dan memotivasi siswa agar dapat belajar sebagaimana yang
diharapkan.
3. Desain Kompetensi
Mendesain kompetensi, yakni dengan kita menyesuaikan dengan tabiat ilmu yang akan
dikembangkan. Dalam mendesain kompetensi juga harus disesuaikan dengan desain
kurikulum, yaitu dengan mempertimbangkan visi, misi dan tujuan pembelajaran.
Dalam mendesain kompetensi berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK),
lazimnya ada tiga komponen yang harus dirumuskan yaitu:
1. Standar kompetensi
2. Kompetensi dasar
3. Indikator
B. Pengertian Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator
1. Pengertian Standar Kompetensi
Standar kompetensi adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang
menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapkan dicapai
pada setiap tingkat dan semester.Standar kompetensi terdiri atas sejumlah kompetensi dasar
sebagai acuan baku yang harus dicapai dan berlaku secara nasional.Sedangkan standar
kompetensi mata pelajaran sebagai pernyataan tentang pengetahuan, ketrampilan dan sikap
yang harus dikuasai serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari
suatu mata pelajaran.
Menurut Majid, standar kompetensi mata pelajaran dapat diartikan sebagai kemampuan
siswa-siswi dalam:
a. Melakukan suatu tugas atau pekerjaan berkaitan dengan mata pelajaran tertentu
b. Mengorganisasikan tindakan agar pekerjaan dalam mata pelajaran tertentu dapat
dilaksanakan
c. Melakukan reaksi yang tepat bila terjadi penyimpangan dari rancangan semula
d. Melaksanakan tugas dan pekerjaan berkaitan dengan mata pelajaran dalam situasi dan
kondisi yang berbeda.

2. Pengertian Kompetensi Dasar


Kompetensi dasar adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang minimal harus
dikuasai peserta didik untuk menunjukan bahwa mereka telah menguasai standar kompetensi
yang ditetapkan.
3

Untuk memperoleh perincian tersebut perlu dilakukan analisis standar kompetensi.


Caranya dengan mengajukan pertanyaan: kemampuan atau kemampuan dasar apa saja
yang harus dikuasai siswa-siswi dalam rangka mencapai standar kompetensi?. Jawaban
atas pertanyaan tersebut berupa daftar lengkap pengetahuan, keterampilan, dan atau sikap
yang harus dikuasai siswa-siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi. Kompetensi
dasar untuk setiap standar kompetensi dapat berkisar antara 5 sampai 6 butir.
Pada proses analisis standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
sebagaimana yang tercantum pada standar isi, harus memperhatikan hal-hal berikut:
a. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu atau tingkat kesulitan materi
b. Keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran
c. Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran. Demikian
juga halnya kajian kompetensi dasar sama dengan kajian standar kompetensi.
3. Pengertian Indikator
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh
perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan
yang dapat dijadikan sebagai pedoman atau acuan dalam penyusun alat penilaian. Indikator
adalah kompetensi dasar yang secara spesifik dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui
ketercapaian hasil pembelajaran. Karena indikator merupakan KD yang spesifik, apabila
serangkaian indikator dalam suatu kompetensi sudah dapat terpenuhi berarti target
kompetensi dasar tersebut sudah terpenuhi.
Adapun pertimbangan dalam pengembangan indikator adalah :
a. Dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan
pendidikan, dan potensi daerah.
b. Dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan terobservasi. Indikator
juga digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
Ada beberapa fungsi indikator yang dengannya menjadikan penting pada perumusan
indikator dalam penyusunan silabus. Fungsi-fungsi tersebut yaitu:
a. Sebagai tanda-tanda yang menunjukkan terjadinya perubahan perilaku pada siswa,
yang mana tanda-tanda tersebut akan lebih spesifik dan dapat diamati pada diri siswa
setelah siswa mengikuti kegiatan pembelajaran.
b. Sebagai pedoman dalam menyusun alat ukur. Alat ukur tersebut dapat dijadikan
sebagai alat pembuktian bagi keberhasilan siswa dalam mencapai standar kelulusan
yang telah ditentukan.
c. Sebagai pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran.
Penentuan materi pembelajaran ini harus sesuai dengan indikator yang dikembangkan.
Indikator yang dirumuskan secara cermat dan akurat dapat memberikan arah dalam
4

pengembangan materi pembelajaran yang efektif yang sesuai dengan karakteristik


mata pelajaran, potensi dan kebutuhannya baik kebutuhan peserta didik, sekolah
ataupun lingkungan.
Sebagai pedoman dalam merencanakan kegiatan pembelajaran.
d. Rencana pembelajaran perlu dirancang secara efektif agar kompetensi dapat dicapai
secara maksimal.
e. Sebagai pedoman dalam mngembangkan bahan ajar.
Bahan ajar merupakan materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana untuk
mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Oleh karena itu, pemilihan bahan
ajar yang efektif harus sesuai dengan tuntutan indikator, sehingga dapat meningkatkan
pencapaian kompetensi secara maksimal.
f. Sebagai pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar.
Rancangan penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan jenis
penilaian, serta pengembangan indikator penilaian. Pengembangan indikator penilaian
harus mengacu pada indikator pencapaian yang dikembangkan sesuai dengan tuntutan
SK dan KD.
Sedangkan fungsi indikator menurut DikNas adalah untuk memudahkan guru dalam
mengukur atau mengetahui ketercapaian kompetensi dasar. Oleh karena itu, indikator juga
dapat bermanfaat sebagai:
1. Acuan dalam pengembangan instrumen penilaian
2. Acuan dalam pemilihan atau pengembangan bahan ajar
3. Acuan dalam penentuan kegiatan atau pengalaman pembelajaran, dan
4. Acuan dalam penentuan alat, bahan, media dan sumber belajar

C. Cara Menyusun Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, dan Indikator dalam


silabus.
Adapun langkah-langkah perumusan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar
(KD) sebagai berikut :
a. Guru perlu berpedoman atau mengambil rumusan SK dan KD yang telah disusun oleh
BSNP berdasarkan mata pelajaran yang diampu
b. Guru memilih SK dan KD yang telah dirumuskan oleh BSNP untuk setiap mata
pelajaran. Pemilihan SK dan KD harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan, mata
pelajaran, dan semester. SK dan KD yang diambil menjadi pedoman dalam
mengembangkan komponen-komponen silabus berikutnya.
c. Setelah SK dan KD dipilih, selanjutnya dilakukan analisis dengan mengajukan
pertanyaan dasar: Apa sajakah tanda-tanda bahwa siswa siswi telah menguasai
kompetensi?.
5

Untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan dasar tersebut, dapat digunakan tiga
pertanyaan bantuan, berikut :
1. Pengetahuan apa sajakah yang harus dikuasai siswa-siswi. Jawaban terhadap
pertanyaan ini dapat berupa konsep, fakta, prosedur, prinsip, atau rumus daribody of
knowledge ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan mata pelajaran.
2. Keterampilan apa sajakah yang harus dapat ditampilkan siswa. Jawaban terhadap
pertanyaan ini adalaha semua bentuk keterampilan yang harus diperagakan siswa,
sehubungan dengan kompetensi yang sedang kita analisis. Keterampilan dapat dipilah
menjadi

dua

bagian

yaitu:

keterampilan

yang

muara

akhirnya

berupa

barang (product) dan keterampilan yang muara akhirnya berupa penampilan


kinerja (performance).
3. Sikap atau perilaku apa sajakah yang dibatinkan dan diterapkan siswa. Jawaban
terhadap pertanyaan ini berupa rumusan perilaku atau kebiasaan yang berkaitan
dengan penerapan sikap nilai dalam kehidupan siswa sehari-hari. Karena indikator
yang hendak kita kembangkan bertumpu pada kompetensi dasar dari mata pelajaran
tertentu, maka hendaknya dipilih sikap/perilaku yang berhubungan dengan mata
pelajaran tersebut, terutama dengan kompetensi bersangkutan.
Terkait dengan ketiga aspek diatas, maka Bloom (et al). (1965:17) Hisyam Zaini
menganalisis kompetensi menjadi tiga aspek, dengan tingkatan yang berbeda-beda setiap
aspeknya, yaitu kompetensi:
a. Kognitif, meliputi tingkatan pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan
penilaian.
b. Afektif, meliputi pengenalan, pemberian proses, penghargaan terhadap nilai,
pengorganisasian, dan pengamalan.
c. Psikomotorik, meliputi peniruan, penggunaan, penggunaan, ketepatan, perangkaian,
dan kreativitas.
Pada proses perumusan SK dan KD perlu memilih kata-kata kerja umum operasional
berdasarkan level kompetensi pembelajaran.Guru perlu memerlukan tingkat kompetensi yang
diharapkan tercapai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Penentuan tingkat
kompetensi yang harus dicapai oleh siswa, juga perlu mempertimbangkan kemampuan awal
siswa. Jika kompetensi yang telah disusun tidak memenuhi kemampuan awal siswa, maka
kompetensi tersebut hanya sia-sia dan tidak mungkin tercapai oleh siswa.
Adapun langkah-langkah perumusan Indikatorsebagai berikut :
1. Menganalisis tingkat kompetensi dalam SK dan KD yang telah dirumuskan atau
dikembangkan sebelumnya.
6

2. Menganalisis karakteristik mata pelajaran, keragaman kompetensi siswa, dan potensi


sekolah.
3. Menganalisis kata-kata operasional dalam merumuskan indikator.
4. Penggunaan kata-kata operasional dalam rumusan SK dan KD di atas,
biasanyadikembangkan dengan menggunakan level-level kompetensi yang relevan.
Artinya pengembangan indikator harus mengakomodasi kompetensi yang sesuai
dengan tendensi perumusan SK dan KD.
Jika perumusan SK dan KD-nya lebih menonjol aspek keterampilan, maka indikator
yang dirumuskan harus mencapai kemampuan keterampilan yang diinginkan, apabila afektif
yang ditonjolkan maka indikator yang dirumuskan harus mencapai level kompetensi afektif
yang diinginkan.
Adapun dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:
a. Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam
Kompetensi Dasar.
b. Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah
c. Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan atau daerah.

Dalam perumusan indikator, perlu adanya pengembangan pada kompetensi dasar.


Adapun cara menjabarkan atau mengembangkan kompetensi dasar ke dalam indikator, ada
dua yaitu:
1. Mengidentifikasi kata-kata untuk indikator kompetensi
Cara yang paling mudah dalam menjabarkan kompetensi dasar ke dalam indikator
adalah menambah kolom di sebelah kanan pada format standar kompetensi dan kompetensi
dasar, seperti contoh:
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1.Memahami 11.Mendiskripsikan

Indikator
1.1.1 1.1.1 Menguraikan

lingkungan

muka
1.1.2 1.1.2 Menunjukkan

manusia.

kehidupan keragaman

bentuk

bumi, proses pembentukan


1.1.3 1.1.3 Menjelaskan
dan

dampaknya

kehidupan

terhadap
1.2.1 1.2.1 Mengurutkan

.1.2.Mendeskripsikan

1.2.2 1.2.2 Menggambarkan

kehidupan pada masa 1.2.3


pra- 1.2.3 Menulis ulang
aksara di Indonesia
7

1.2.4 1.2.4 Menafsirkan

2. Mengembangkan kalimat indikator


Setelah indikator dari kompetensi dasar diidentifikasi, selanjutnya dikembangkan ke
dalam kalimat indikator yang merupakan karakteristik kompetensi dasar, seperti dalam
contoh berikut:
SK

: Memahami lingkungan kehidupan manusia

KD

: 1.1 Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan

dampaknya terhadap kehidupan


Indikator

1.1.1

Menguraikan keragaman bentuk muka bumi

1.1.2

Menunjukkan proses pembentukan muka bumi

1.1.3

Menjelaskan dampak keragaman bentuk muka bumi terhadap kehidupan


Kata-kata operasional yang digunakan untuk mengembangkan indikator disesuaikan

dengan aspek kompetensinya baik itu kognitif, afektif, maupun psikomotorik (Moore, 2001:
92-94, Rosyada, 2004: 140-142).
Aspek : Kognitif
No Kompetensi
1. Knowledge
(Pengetahuan)

Indikator Kompetensi
Menyebutkan,
menuliskan,
mengurutkan,

menyatakan,

mengidentifikasi,

mendefinisikan,

mencocokkan, memberi nama, memberi label, dan


2.

Comprehension

melukiskan.
Menerjemahkan,

(Pemahaman)

menguraikan,
membedakan,

mengubah,

menuliskan

menggeneralisasi,

kembali,

mempertahankan,

merangkum,

menyimpulkan,

Application

mengemukakan pendapat dan menjelaskan.


Mengoperasikan,
menghasilkan,
mengubah,

(Penerapan)

mengatasi,

4.

Analysis

mempersiapkan dan menghitung.


Menguraikan,
membagi-bagi,

5.

(Analisis)
Synthesis

membedakan.
Merancang,
merumuskan,

6.

(Sintesis)
Evaluation

menerapkan, memadukan dan merencanakan.


Mengkritisi, menafsirkan, mengadili dan memberikan

3.

menggunakan,

menunjukkan,
memilih

dan

mengorganisasikan,

(Evaluasi)
Aspek : Afektif

evaluasi.

No Kompetensi
1. Receiving

Indikator Kompetensi
Mempercayai, memilih, mengikuti, bertanya dan

2.

(Penerimaan)
Responding

mengalokasikan.
Konfirmasi, menjawab, membaca, membantu,

3.

(Menanggapi)
Valuing

melaksanakan, melaporkan dan menampilkan.


Menginisiasi,
mengundang,
melibatkan,

4.

(Penanaman nilai)
Organization

mengusulkan dan melakukan.


Memverifikasi,
menyusun,

5.

(Pengorganisasian)
Characterization

menghubungkan dan mempengaruhi.


Menggunakan nilai-nilai sebagai pandangan hidup

(Karakterisasi)

dan mempertahankan nilai-nilai yang sudah

menyatukan,

diyakini.
Aspek : Psikomotorik (Gerak Jiwa)
No Kompetensi
1. Observing

Indikator Kompetensi
Mengamati proses, memberi perhatian pada tahap-

(Pengamatan)

tahap sebuah perbuatan dan memberi perhatian

Imitation

pada sebuah artikulasi.


Melatih, mengubah, membongkar sebuah struktur,

(Peniruan)

membangun

3.

Practicing

menggunakan sebuah model.


Membiasakan perilaku yang sudah dibentuknya

4.

(Pembiasaan)
Adapting

dan mengontrol kebiasaan agar tetap konsisten.


Menyesuaikan model, mengembangkan model dan

(Penyesuaian)

menerapkan model.

2.

kembali

sebuah

struktur

dan

D. Perumusan Materi Pembelajaran


1. Pengertian Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran adalah salah satu komponen sistem pembelajaran yang memegang
peranan penting dalam membantu siswa mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Materi pembelajaran merupakan salah satu sumber belajar yang berisi pesan dalam
bentuk konsep, prinsip, definisi, gugus isi atau konteks, data maupun fakta, proses, nilai,
kemampuan dan keterampilan. Materi yang dikembangkan guru hendaknya mengacu pada
kurikulum atau terdapat dalam silabus yang penyampaiannya disesuaikan dengan kebutuhan
dan lingkungan siswa.
9

Secara garis besar, materi pembelajaran berisi tentang pengetahuan, keterampilan dan
sikap atau nilai yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang
telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan
(fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan dan sikap atau nilai.
Termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa sejarah, lambang,
nama tempat, nama orang dan sebagainya. Contoh, Negara RI merdeka pada tanggal 17
Agustus 1945.
Termasuk jenis materi konsep adalah pengertian, definisi, ciri khusus, komponen atau
bagian dari suatu obyek. Contohnya, kursi adalah tempat duduk berkaki empat, ada sandaran
dan lengan-lengannya.
Termasuk jenis materi prinsip adalah dalil, rumus, postulat, teorema atau hubungan
antar konsep yang menggambarkan jika....maka.... Misalnya, Jika logam dipanaskan maka
akan memuai; rumus menghitung luas bujur sangkar adalah sisi kali sisi.
Termasuk jenis materi prosedur adalah materi yang berkenaan dengan langkah-langkah
secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas. Misalnya, langkah-langkah
mengoperasikan peralatan mikroskop.
Termasuk jenis materi sikap (afektif) adalah materi yang berkenaan dengan sikap atau
nilai, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar
dan lain sebagainya.
2. Prinsip-prinsip Pemilihan Materi Pembelajaran
Dalam menyusun dan memilih materi pembelajaran, ada beberapa prinsip yang harus
diperhatikan, yaitu:
a. Prinsip relevansi (keterkaitan).
Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada hubungannya dengan dengan
pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebagai contoh, jika kompetensi yang
diharapkan dapat dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang
diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan.
b. Prinsip konsistensi (keajegan).
Apabila kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar
yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam.
c. Prinsip kecukupan.
Prinsip ini berarti materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu
siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan
10

tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit, akan kurang membantu mencapai standar
kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan membuangbuang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
3. Langkah- langkah Perumusan Materi Pembelajaran
Dalam merumuskan suatu materi pembelajaran ada beberapa langkah yang harus
diperhatikan, yaitu:
1. Menentukan KD yang akan dikembangkan menjadi materi pokok.
2. Memahami substansi rumusan KD, apakah pernyataan KD tersebut berupa fakta,
konsep, prinsip, dan prosedur.
3. Setelah memahami substansi KD yang mengarah pada fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur, maka langkah berikutnya adalah merumuskan materi pokok pembelajaran.
4. Uraian materi pokok pembelajaran harus disusun secara sistematis, agar memudahkan
guru dalam menyampaikan materi pembelajaran.
Adapun untuk mengidentifikasi materi pokok atau pembelajaran yang menunjang
pencapaian kompetensi dasar dilakukan dengan mempertimbangkan:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Potensi peserta didik


Relevansi dengan karakteristik daerah
Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik
Kebermanfaatan bagi peserta didik
Struktur keilmuan
Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran
Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan
Alokasi waktu yang tersedia.

11

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar merupakan arah dan landasan untuk
mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi
untuk penilaian.
Menurut Stephen P. Becker dan Jack Gordon, kompetensi mempunyai lima unsur, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Pengetahuan (knowledge)
Pengertian (understanding)
Keterampilan (skill)
Nilai (value)
Minat (interest)

Kompetensi mempunyai tiga aspek yang penting, yaitu:


1. Aspek kognitif
2. Aspek afektif
3. Aspek psikomotorik
Dalam menyusun kompetensi ada beberapa langkah yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Merumuskan kompetensi dasar, langkah-langkahnya yaitu:
1. Guru berpedoman pada rumusan SK dan KD yang telah disusun oleh BSNP
2. Guru memilih SK dan KD yang telah dirumuskan oleh BSNP untuk setiap mata
pelajaran.
3. Analisis terhadap SKKD yang dipilih dengan mengajukan pertanyaan dasar: Apa
sajakah tanda-tanda bahwa siswa siswi telah menguasai kompetensi?.
4. Memilih kata-kata kerja umum operasional berdasarkan level kompetensi
pembelajaran.
5. Menentukan tingkat kompetensi yang akan dicapai oleh siswa
b. Merumuskan indikator kompetensi, langkah-langkahnya adalah:
1. Menganalisis tingkat kompetensi dalam SK dan KD yang telah dirumuskan atau
dikembangkan sebelumnya.

12

2. Menganalisis karakteristik mata pelajaran, keragaman kompetensi siswa, dan


potensi sekolah.
3. Menganalisis kata-kata operasional dalam merumuskan indikator .
4. Penggunaan kata-kata operasional dalam rumusan SK dan KD.
c. Merumuskan materi pembelajaran, langkah-langkahnya yaitu:
1. Menentukan KD yang akan dikembangkan menjadi materi pokok.
2. Memahami substansi rumusan KD, apakah pernyataan KD tersebut berupa fakta,
konsep, prinsip, dan prosedur.
3. Merumuskan materi pokok pembelajaran.
4. Uraian materi pokok pembelajaran harus disusun secara sistematis.
B. Saran
Dalam penyusunan standard kompetensi, kompetensi dasar dan juga indikator
pembelajaran, diharapkan guru dapat merumuskannya sebaik mungkin untuk dimasukkan
kedalam silabus. Karna ketiga hal ini sangatlah penting guna menunjang pendidikan terutama
di Indonesia, dan juga keberhasilan kurikulum yang dipakai.

13

DAFTAR PUSTAKA
Anwar Kasful dan Harmi Hendra, 2011, Perencanaan Sistem Pembelajaran KTSP, Bandung:
Alfabeta.
Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan, Jakarta.
Darmadi Hamid, 2010, Kemampuan Dasar Mengajar, Bandung: Alfabeta.
Munthe Bermawy, 2014, Desain Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, cet.ke10.
www.izzatulfikriyah.blogspot.com/d-winur.blogspot.com

14