Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)

Disusun Oleh:

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS

PEMBAHASAN
Definisi
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA
meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang
dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai
gelembung paru (alveoli), beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang
telinga tengah dan selaput paru. Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan
hanya bersifat ringan seperti batuk, pilek dan tidak memerlukan pengobatan
dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi
paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian.
ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih
dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran
bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan
pleura. ISPA umumnya berlangsung selama 14 hari. Yang termasuk dalam
infeksi saluran nafas bagian atas adalah batuk pilek biasa, sakit telinga, radang
tenggorokan, influenza, bronchitis, dan juga sinusitis. Sedangkan infeksi yang
menyerang bagian bawah saluran nafas seperti paru itu salah satunya adalah
Pneumonia.(WHO)
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernafasan
akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung
kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas laring, tetapi
kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah secara
stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008).
Jadi disimpulkan bahwa ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut akibat
infeksi yang terjadi disetiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang
berhubungan dengan pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari.
Epidemiologi
Salah satu penyakit yang di derita oleh masyarakat terutama adalah ISPA
(Infeksi Saluran Pernafasan Atas), yaitu meliputi infeksi akut saluran pernafasan
bagian atas dan akut saluran pernafasan bagian bawah. ISPA masih merupakan
masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita
yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dan 4 kematian yang terjadi. Setiap anak

diperkirakan mengalami 3 6 episode ISPA setiap tahunnya. Data yang


diperoleh dari kunjungan ke puskesmas mencapai 40 60 % adalah oleh
penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan ISPA adalah karena
pneumonia dan pada bayi berumur kurang 2 bulan. Hingga saat ini angka
mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi, kematian seringkali disebabkan
karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering disertai
penyulit-penyulit kurang gizi.
Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak tahun
1984, dengan tujuan beerupaya untuk menurunkan kesakitan dan kematian
khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA, namun
kelihatannya angka kesakitan dan kematian tersebut masih tetap tinggi seperti
yang telah dilaporkan berdasarkan penelitian yang telah disebutkan di atas.
Etiologi
Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan richetsia.
Bakteri penyebab ISPA antara lain

adalah dari

genus

Streptococcus,

Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophylus, Bordetella dan Corinebacterium.


Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus,
Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.
Etiologi Pneumonia pada Balita sukar untuk ditetapkan karena dahak
biasanya sukar diperoleh. Penetapan etiologi Pneumonia di Indonesia masih
didasarkan pada hasil penelitian di luar Indonesia. Menurut publikasi WHO,
penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa di negara berkembang
streptococcus pneumonia dan haemophylus influenza merupakan bakteri yang
selalu ditemukan pada dua per tiga dari hasil isolasi, yakni 73, 9% aspirat paru
dan 69, 1% hasil isolasi dari spesimen darah. Sedangkan di negara maju,
dewasa ini Pneumonia pada anak umumnya disebabkan oleh virus.
a.

Faktor Pencetus ISPA

1)

Usia

Anak yang usianya lebih muda, kemungkinan untuk menderita atau


terkena penyakit ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan anak yang usianya
lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih rendah.
2)

Status Imunisasi

Anak dengan status imunisasi yang lengkap, daya tahan tubuhnya lebih
baik dibandingkan dengan anak yang status imunisasinya tidak lengkap.

3)

Lingkungan

Lingkungan yang udaranya tidak baik, seperti polusi udara di kota-kota


besar dan asap rokok dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA pada anak.
b.

Faktor Pendukung terjadinya ISPA

1)

Kondisi Ekonomi

Keadaan

ekonomi

yang

belum

pulih

dari

krisis

ekonomi

yang

berkepanjangan berdampak peningkatan penduduk miskin disertai dengan


kemampuannya menyediakan lingkungan pemukiman yang sehat mendorong
peningkatan jumlah Balita yang rentan terhadap serangan berbagai penyakit
menular termasuk ISPA. Pada akhirnya akan mendorong meningkatnya penyakit
ISPA dan Pneumonia pada Balita.
2)

Kependudukan

Jumlah penduduk yang besar mendorong peningkatan jumlah populasi


Balita yang besar pula. Ditambah lagi dengan status kesehatan masyarakat yang
masih rendah, akan menambah berat beban kegiatan pemberantasan penyakit
ISPA.
3)

Geografi

Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki potensi daerah endemis


beberapa penyakit infeksi yang setiap saat dapat menjadi ancaman bagi
kesehatan masyarakat. Pengaruh geografis dapat mendorong terjadinya
peningkatan kaus maupun kemaian penderita akibat ISPA. Dengan demikian
pendekatan dalam pemberantasan ISPA perlu dilakukan dengan mengatasi
semua faktor risiko dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
4)

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

PHBS merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA. Perilaku


bersih dan sehat tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya dan tingkat
pendidikan penduduk. Dengan makin meningkatnya tingkat pendidikan di
masyarakat diperkirakan akan berpengaruh positif terhadap pemahaman
masyarakat dalam menjaga kesehatan Balita agar tidak terkena penyakit ISPA
yaitu melalui upaya memperhatikan rumah sehat dan lingkungan sehat.
5)

Lingkungan dan Iklim Global

Pencemaran lingkungan seperti asap karena kebakaran hutan, gas


buang sarana transportasi dan polusi udara dalam rumah merupakan ancaman
kesehatan terutama penyakit ISPA. Demikian pula perubahan iklim gobal

terutama suhu, kelembapan, curah hujan, merupakan beban ganda dalam


pemberantasan penyakit ISPA.
Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari
terjadinya infeksi saluran pernafasan. Ada beberapa jenis kuman yang
merupakan penyebab utama yakni golongan A -hemolityc streptococus,
clamydia trachomatis, mycoplasma danstaphylococus, haemophylus influenzae,
pneumokokus.
Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan air susu ibu
angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas
dari air susu ibu. Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut
berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. Karena dengan lobang yang
semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara
keseluruhan dari jalan nafas.
Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya
infeksi antara lain malnutrisi, anemia, kelelahan. Keadaan yang terjadi secara
langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi, asthma serta kongesti
paru.
Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan
musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong; 1991;
1420).
Patofisiologi
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu :
1. Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan
reaksi apa-apa.
2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh
menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala
demam dan batuk.
Tahap lanjut penyaklit, dibagi menjadi empat yaitu :
a)

Dapat sembuh sempurna.

b)

Sembuh dengan atelektasis.

c)

Menjadi kronos.

d)

Meninggal akibat pneumonia.

Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar


sehingga untuk mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif
dan efisien. Ketahanan saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan
gas yang ada di udara amat tergantung pada tiga unsur alami yang selalu
terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan epitel mukosa dan gerak mukosilia,
makrofag alveoli, dan antibodi.
Antibodi setempat yang ada di saluran nafas ialah Ig A. Antibodi ini
banyak ditemukan di mukosa. Kekurangan antibodi ini akan memudahkan
terjadinya infeksi saluran nafas, seperti yang terjadi pada anak. Penderita yang
rentan (imunokompkromis) mudah terkena infeksi ini seperti pada pasien
keganasan yang mendapat terapi sitostatika atau radiasi.Penyebaran infeksi
pada ISPA dapat melalui jalan hematogen, limfogen, perkontinuitatum dan udara
nafas.
Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel
mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu. Selain hal itu, hal-hal yang
dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok
dan gas SO2 (polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil,
pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau lebih).
Tanda Dan Gejala
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernafasan dimulai dengan
keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit
mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh
dalam keadaan kegagalan pernafasan dan mungkin meninggal.
Bila

sudah

dalam

kegagalan

pernafasan

maka

dibutuhkan

penatalaksanaan yang lebih rumit dengan mortalitas yang lebih tinggi. Maka,
perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah
berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan
pernafasan.
Berikut ini adalah tanda bahaya yang perlu diwaspadai pada penderita ISPA:
Tanda gejala secara umum/klinis:
a. Pada sistem pernafasan
Nafas cepat dan tidak teratur (apnea), retraksi/tertariknya kulit ke dalam
dinding dada, nafas cuping hidung, sesak, kulit wajah kebiruan(sianosis),

suara nafas lemah atau hilang, mengi, suara nafas seperti ada cairannya
sehingga terdengar keras dan tachypnea.
b. Pada sistem peredaran darah
Denyut jantung cepat dan lemah (takikardi atau bradikardi), tekanan
darah tinggi atau rendah (hipertensi atau hipotensi) dan gagal jantung
(cardiac arresst).
c. Pada sistem syaraf
Gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung,kejang dan koma.
d. Gangguan umum
Letih dan keringat banyak.
Tanda tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun :
tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor/mendengkur dan gizi
buruk.
Tanda tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan :
kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang dari
setengah volume yang biasa), kejang, kesadaran menuru,, mendengkur,
mengi, demam dan dingin.
Tanda tanda labolatorium
a. Hypoxemia
b. Hypercapnia
c. Acydosis (metabolic atau respiratorik)
Tanda dan gejala ISPA menurut Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh
Indonesia (PRSSI), 2002 adalah:
a. Batuk
b. Serak (penderita bersuara parau)
c. Pilek
d. Panas atau demam dengan suhu badan lebih dari 38,50C
e. Sesak nafas
Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan yang dilakukan
adalah :
1. Biakan virus
2. Serologis

3. Diagnostik virus secara langsung.


Sedangkan diagnosis ISPA oleh karena bakteri dilakukan dengan
pemeriksaan sputum, biakan darah, biakan cairan pleura.

Strategi Penanggulangan
Pencegahan dan Pengendalian ISPA di Fasilitas Kesehatan menurut WHO
(2008):
a. Pengawasan administrasi:

Struktur

organisasi

pencegahan

dan

pengendalian

infeksi

(komite

pencegahan dan pengendalian infeksi, tim pencegahan dan pengendalian


infeksi yang terlatih) dan kebijakan-kebijakan (misalnya: pedoman)

Tersedianya staf dan suplai yang memadai, pelatihan petugas kesehatan,


penyuluhan pasien dan pengunjung.

b. Pengendalian sumber: kebersihan pernapasan dan etika batuk

Petugas kesehatan, pasien, dan keluarga harus menutup mulut dan hidung
saat batuk, bersin, dan membersihkan tangan.

c. Pengendalian lingkungan dan teknik

Jaga jarak minimal 1 meter antarpasien.

Jaga ventilasi dengan baik, antara lain dengan ventilasi alami (misalnya:
jendela terbuka) atau dengan ventilasi mekanik.

Bersihkan secara rutin permukaan yang sering disentuh dan bersihkan


segera saat tampak kotor.

d. Pengenalan dini dan pelaporan ISPA yang cenderung epidemi atau


pandemi

Segera informasikan kepada yang berwenang (Dinkes/Depkes).

Dinkes/Depkes memberitahukan kepada fasilitas pelayanan kesehatan


apabila ada KLB dalam masyarakat atau di rumah sakit lain.

e. Penempatan pasien

Tempatkan pasien di ruang terpisah dengan ventilasi yang baik.

Jika kamar terpisah tidak dimungkinkan, kelompokkan pasien dengan


diagnosis yang sama dan dengan jarak sedikitnya 1 meter pada satu
ruangan (cohorting).

f.

Pencegahan dan pengendalian infeksi saat memberikan pelayanan


pada pasien SARS dan flu burung

Membersihkan tangan secara memadai dan gunakan sarung tangan, gaun


pelindung, masker bedah, dan kacamata pelindung

Batasi jumlah petugas pelayanan kesehatan/anggota keluarga/pengunjung


pasien ISPA.
Kewaspadaan Standar (Rutin) : dengan dipromosikan kesemua PPK

untuk merawat semua pasien, kewaspadaan standar merupakan dasar


pencegahan dan pengendalian infeksi yang dirancang untuk meminimalisasi
pajanan langsung terhadap darah, cairan tubuh, atau sekret.
Pencegahan dan pengendalian infeksi spesifk tambahan:
a. Untuk perawatan semua pasien ISPA disertai demam.

Petugas kesehatan harus memakai masker bedah saat memberikan


perawatan dengan jarak dekat.

Jaga jarak antarpasien minimal 1 meter.


Cohorting dapat memfasilitasi penerapan pencegahan dan pengendalian
infeksi.

b. Memberikan pelayanan pasien anak dengan ISPA pada musim ISPA


tertentu (parainfuenza virus, adenovirus)

Petugas kesehatan harus menggunakan masker bedah, gaun pelindung,


dan sarung tangan saat merawat pasien & menggantinya bila beralih ke
pasien lain.

Jaga jarak antarpasien minimal 1 meter.

Cohorting dapat memfasilitasi penerapan pencegahan dan pengendalian


infeksi

1. Perawatan penyakit akut pada anak-anak


Beberapa aspek berlaku khusus pada pasien anak-anak dan harus
dipertimbangkan

saat

melakukan

langkah

pencegahan

dan

pengendalian infeksi.
a. Anggota keluarga sangat penting bagi dukungan emosional pasien
anak-anak rawat inap.

b. Hak anak untuk didampingi oleh orang tua/keluarga pasien setiap


waktu harus dijamin

c. Anggota keluarga mungkin sangat penting dalam membantu


perawatan pasien anak-anak rawat inap, terutama bila tenaga
petugas kesehatan kurang
d. Pasien anak-anak mungkin saja sudah lebih lama terinfeksi ISPA
dibandingkan orang dewasa; ini akan mempengaruhi jangka waktu
pelaksanaan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi
e. Pasien

anak-anak

mungkin

tidak

dapat

mematuhi

praktik

kebersihan pernapasan.
f.

Sebagian patogen lebih sering ditemukan di kalangan pasien anakanak

dan

memerlukan

Kewaspadaan

Transmisi

(misalnya,

Kewaspadaan Kontak yang diperlukan untuk RSV atau virus


influenza; dan Kewaspadaan Kontak ditambah Kewaspadaan
Droplet untuk adenovirus atau metapneumovirus)
g. Kontaminasi lingkungan mungkin lebih menonjol dibandingkan
dengan kontaminasi yang terjadi pada pasien dewasa atau
continent patient.
h. Mainan harus dibersihkan dan didisinfeksi sehabis dimainkan anak
yang berbeda, dan petugas harus berhati-hati saat mengumpulkan
pasien di ruang bermain (ikuti prinsip yang sama dengan prinsip
penggabungan/cohorting pasien)
2. Perawatan di rumah untuk pasien ISPA
a. Selama keadaan darurat kesehatan masyarakat, seperti terjadinya
pandemi, tidak mungkin memberikan pelayanan perawatan penyakit
akut

atau

perawatan

keliling

untuk

semua

orang

yang

membutuhkannya. Ada kemungkinan fasilitas pelayanan kesehatan


yang memberikan pelayanan perawatan penyakit akut akan
mengklasifikasikan pasien dan mungkin hanya dapat memberikan
perawatan

bagi

pasien

yang

paling

berat

yang

dianggap

mempunyai peluang hidup. Ada juga kemungkinan fasilitas


pelayanan kesehatan keliling tidak dapat memenuhi permintaan
pelayanan perawatan kesehatan.
b. Pasien yang terinfeksi ISPA yang dapat menimbulkan kekhawatiran
mungkin memerlukan perawatan di rumah. Pasien seperti ini
mungkin sakitnya cukup berat. Selain itu, pasien seperti ini akan
berbahaya bagi orang lain dalam jangka waktu tertentu dan dapat

menularkan patogen dan infeksi atau penyakit sekunder ke anggota


keluarganya.
Diagnosa Keperawatan/ Masalah
Kolaborasi

Rencana keperawatan
NOC

NIC

Bersihan Jalan Nafas tidak efektif


NOC:
berhubungan dengan:
Respiratory status : Ventilation
Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning.
Infeksi, disfungsi neuromuskular,
Respiratory status : Airway patency
Berikan O2 l/mnt, metode
hiperplasia dinding bronkus, alergi jalan Aspiration Control
Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam
nafas, asma, trauma
Setelah dilakukan tindakan
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Obstruksi jalan nafas : spasme jalan
keperawatan selama ..pasien
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
nafas, sekresi tertahan, banyaknya
menunjukkan keefektifan jalan nafas
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
mukus, adanya jalan nafas buatan,
dibuktikan dengan kriteria hasil :
sekresi bronkus, adanya eksudat di
Mendemonstrasikan batuk efektif dan Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
alveolus, adanya benda asing di jalan
suara nafas yang bersih, tidak ada Berikan bronkodilator :
nafas.
sianosis dan dyspneu (mampu -
DS:
mengeluarkan sputum, bernafas - .
dengan mudah, tidak ada pursed lips) -
Dispneu

Menunjukkan
jalan nafas yang paten Monitor status hemodinamik
DO:
(klien
tidak
merasa
tercekik, irama Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
Penurunan suara nafas
nafas, frekuensi pernafasan dalam Berikan antibiotik :
Orthopneu
rentang normal, tidak ada suara nafas .
Cyanosis
abnormal)
.
Kelainan suara nafas (rales, wheezing)
Mampu mengidentifikasikan dan
Kesulitan berbicara
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
mencegah faktor yang penyebab.
Batuk, tidak efekotif atau tidak ada
Monitor respirasi dan status O2
Saturasi O2 dalam batas normal
Produksi sputum
Pertahankan hidrasi yang adekuat untuk mengencer
Foto thorak dalam batas normal
Gelisah
sekret
Perubahan frekuensi dan irama nafas
Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang penggun
peralatan : O2, Suction, Inhalasi.

ASKEP

Diagnosa Keperawatan/ Masalah


Kolaborasi

Rencana keperawatan
NOC

NIC

Pola Nafas tidak efektif berhubungan


dengan :
Hiperventilasi
Penurunan energi/kelelahan
Perusakan/pelemahan muskulo-skeletal
Kelelahan otot pernafasan
Hipoventilasi sindrom
Nyeri
Kecemasan
Disfungsi Neuromuskuler
Obesitas
Injuri tulang belakang

NIC:
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Setelah dilakukan tindakan
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
keperawatan selama ..pasien Berikan bronkodilator :
menunjukkan keefektifan pola nafas,
-..
dibuktikan dengan kriteria hasil:
.
Mendemonstrasikan batuk efektif dan
Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
suara nafas yang bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu (mampu Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
mengeluarkan
sputum,
mampu Monitor respirasi dan status O2
DS:
bernafas dg mudah, tidakada pursed Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
Pertahankan jalan nafas yang paten
Dyspnea
lips)
Nafas pendek
Menunjukkan jalan nafas yang paten Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
DO:
(klien tidak merasa tercekik, irama Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi
nafas, frekuensi pernafasan dalam Monitor vital sign
Penurunan pertukaran udara per menit
rentang normal, tidak ada suara nafas Informasikan pada pasien dan keluarga tentang te
relaksasi untuk memperbaiki pola nafas.
Menggunakan otot pernafasan tambahan
abnormal)
Orthopnea
Tanda Tanda vital dalam rentang Ajarkan bagaimana batuk efektif
Pernafasan pursed-lip
normal (tekanan darah, nadi, Monitor pola nafas
Tahap ekspirasi berlangsung sangat lama pernafasan)
Penurunan kapasitas vital
Respirasi: < 11 24 x /mnt

Diagnosa Keperawatan/ Masalah


Kolaborasi

NOC:
Respiratory status : Ventilation
Respiratory status : Airway patency
Vital sign Status

Rencana keperawatan
NOC

NIC

Gangguan Pertukaran gas


NOC:
Berhubungan dengan :
Respiratory Status : Gas exchange

ketidakseimbangan perfusi ventilasi Keseimbangan asam Basa, Elektrolit


perubahan membran kapiler-alveolar Respiratory Status : ventilation

DS:
Vital Sign Status

sakit kepala ketika bangun


Setelah
dilakukan
tindakan

Dyspnoe
keperawatan selama . Gangguan
Gangguan penglihatan
pertukaran pasien teratasi dengan
kriteria hasi:
DO:

Mendemonstrasikan
peningkatan
Penurunan CO2
ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
Takikardi
Memelihara kebersihan paru paru dan
Hiperkapnia
bebas dari tanda tanda distress
Keletihan
pernafasan
Iritabilitas

Mendemonstrasikan batuk efektif dan


Hypoxia
suara nafas yang bersih, tidak ada
kebingungan
sianosis dan dyspneu (mampu
sianosis
mengeluarkan
sputum,
mampu
warna kulit abnormal (pucat, kehitaman)
bernafas dengan mudah, tidak ada
Hipoksemia

pursed lips)
hiperkarbia

Tanda
tanda
vital
dalam
rentang
normal
AGD abnormal

AGD dalam batas normal


pH arteri abnormal

frekuensi dan kedalaman nafas abnormal Status neurologis dalam batas normal

NIC :
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Berikan bronkodilator ;
-.
-.
Barikan pelembab udara
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2
Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan otot
tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
Monitor suara nafas, seperti dengkur
Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul,
hiperventilasi, cheyne stokes, biot
Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya
ventilasi dan suara tambahan
Monitor TTV, AGD, elektrolit dan ststus mental
Observasi sianosis khususnya membran mukosa
Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang persiapan
tindakan dan tujuan penggunaan alat tambahan (O2, Suction,
Inhalasi)
Auskultasi bunyi jantung, jumlah, irama dan denyut jantung

DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff H, Mukty A (ed) : Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlanggga Unversity


Press.Surabaya. 1995 : 110-21.
Arif, Muttaqin, Skep. ( 2008 ). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem.
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC
Dahlan Z. Pneumonia. Dalam : Suyono S, Waspaji S (ed) Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam II. Balai Penerbit FKUI.Jakarta.2001:801-10.
Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, 2002. Musin Kemarau, Anak
Rawan Terkena ISPA. http://www.pdpersi.co.id
Rahmatullah P. 1993.Epidemiologi dan pengobatan infeksi saluran nafas akut
bagian bawah. Ilmu Penyaki Paru FK UNDIP.Semarang. :1-19
Rasmaliah.

2004.

Infeksi

Saluran

Pernafasan

Akut

(ISPA)

dan

Penanggulangannya. Sumatra Utara: Fakultas Kesehatan Masyarakat


Universitas Sumatra Utara.
WHO.2008. Pencegahan dan pengendalian infeksi saluran pernapasan akut
(ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi di fasilitas
pelayanan kesehatan. Jenewa: WHO