Anda di halaman 1dari 16

A.

Definisi
Dermatitis venenata adalah dermatitis yang disebabkan oleh gigitan, liur,
atau bulu serangga. Penyebabnya adalah toksin atau allergen dalam cairan gigitan
serangga tersebut.
B. Etiologi
Serangga

yang

menyebabkan

dermatitis

venenata

biasa

dikenal

dengansebutan tom cat. Tom cat (Paederus sp) atau yang sering dikenal dengan
semutkayap, merupakan kumbang dengan habitat di sawah, semak-semak, dan
tambakliar dengan sedikit semaksemak. Tom cat merupakan predator dari hama
wereng.Kumbang ini temasuk dalam ordo Orthotera, sub ordo Rove
Beetle,

genusStaphylinidae dengan banyak spesies. Ciri kumbang ini adalah

kepala berbentukseperti semut, berwarna hitam, punggung hitam, dan oranye,


sayap kebiruan.ukurannya sekitar 7-0 mm. Kumbang ini terkenal dengan sebutan
tom at karenamirip dengan pesawat tempur Tomcat F-14. Tomcat memilki
zat pederin

disirkulasi darah, sehingga telur, pupa, dan kumbang dewasa ini

akan mengeluarkanzat pederin saat tubuhnya hancur atau merasa terancam.


C. Patogenesis
Dermatitis venenata termasuk reaksi tipe IV ialah hipersentivitas
tipelambat. Patogenesisnya melalui 2 fase yaitu :

Fase induksi :Saat kontak pertam anergen dengan kulit sampai limposit
mengenal danmemberi respon, memerlukan waktu 2 3 minggu.Fase Elisitas

:Terjadi kontak ulang dengan hapten yang sama atau serupa sel efektor yangtelah
tersintisasi mengeluarkkan limforkrim yang mampu menarik berbagaisel badan
sehingga terjadi gejala klinis.
D. Manifestasi Klinis
Erupsi

dimulai

ketika

unsur

penyebeb

mengenai

kulit.

Reaksi

pertamamencakup rasa gatal, terbakar dan eritama yang segera diikuti oleh gejela
edema,pakula, vesikel serta perembesan atau sekret. Pada fase subkutis,
perubahanvesikuler ini tidak begitu mencolok lagi dan berubah menjadi
pembentukankrusta, pengeringan atau bila pasien terus menerus menggaruk
kulitnya, penebalankulit (likenifikasi) dan pigmentasi (perubahan warna) akan
terjadi infasi sekundertimbul kembali
E. Diagnosis Diagnosis berdasarkan anamnese dan gambaran klinis.
Percobaan tempeltidak dapat dilakukan pada stadium akut, karena akan
memberatkan penyakit.
F. Pengobatan
Proteksi

terhadap

merupakantindakan

zat

penyebab

penting. Pada

reaksi

dan
lokal

penghindaran
diberikan

kontakan

kortikosteroid,

hidrokortisonmeupakan lini pertama pengobatan sebagai antiinflamasi ringan,


apabila terjadireaksi
secara

sistemik

maka

dipertimbangkan

pemberian

obat

sistemik.Antihistamin sistemik tidak di indikasikan pada stadium

permulaan, sebab tidakada pembebasan histamin. Pada stadium selanjutnya terjadi


pembebasan histaminsecara pasif. Kortikosteroid sistemik hanya diberikan
penyakit berat misalnya

prednison 20 mg sehari. Terapi topikal digunakan sesuai dengan petunjuk


umumpengobatan dermatitis. Penatalaksanaan pada dermatitis venenata pada
tahap lanjut adalah1. Kortikosteroid oral (dexametason 4 x 5 mg selama 5 hari)
diberikan untukmengurangi dan mencegah berkembangnya dermatitis alergi
semakin luas.2. Antihistamin (ciproheptadine 3 x 4 mg selama5 hari) diberikan
untuk

keadaanpruritus penderita dengan mencegah degranulasi sel mast3.

Antibiotik

sistemik

(sefadroksil

pengobataninfeksi sekunder

x500

mg

selama

hari)

untuk

I. DEFINISI
Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai
respons terhadappengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan
kelainan klinis berupaefloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel,
skuama, likenifikasi) dan keluhangatal.(3)Dermatitis Kontak Iritan adalah
peradangan kulit yang disebabkan terpaparnya kulitdengan bahan dari luar yang
bersifat iritan yang menimbulkan kelainan klinis efloresensipolimorfik berupa
eritema, vesikula, edema, papul, vesikel, dan keluhan gatal, perih sertapanas.
Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan hanya beberapa
saja.Dermatitis

Venenata

adalah

Dermatitis

Kontak

Iritan

yang

disebabkan olehterpaparnya bahan iritan dari beberapa tanaman seperti rumput,


bunga, pohon mahoni,kopi, mangga, serta sayuran seperti tomat, wortel dan
bawang. Bahan aktif dari seranggajuga dapat menjadi penyebab.(1)Dermatitis
yang disebabkan spesifik diakibatkan oleh bahan aktif yang dikandung
olehserangga genus Paederus, yakni pederin, disebut dengan paederus dermatitis
atau dermatitislinearis(4) atau blister beetle dermatitis
II. EPIDEMIOLOGIDKI adalah penyakit kulit akibat kerja yang paling
sering ditemukan, diperkirakansekitar 70%-80% dari semua penyakit kulit akibat
kerja. DKI dapat diderita oleh semuaorang dari berbagai golongan umur, ras
dan

jenis

kelamin.

Jumlah

penderita

DKIdiperkirakan cukup banyak

terutama yang berhubungan dengan pekerjaan (DKI akibatkerja).(3) Insiden dari


penyakit kulit akibat kerja di beberapa negara adalah sama, yaitu 50-70 kasus per
100.000 pekerja pertahun. Pekerjaan dengan resiko besar untuk terpaparbahan
iritan

yaitu

pemborong,

pekerja

industri mebel,

pekerja

rumah

sakit

(perawat,cleaning services, tukang masak), penata rambut, pekerjaindustri kimia,


pekerja logam
penanam bunga, pekerja di gedung. Adapun pada DKI akibat serangga
khususnya yangdisebabkan

kumbang Paederus

kejadiannya meningkat pada

musim penghujan, karenacuaca yang lembab merupakan lingkungan yang sesuai


bagi organism penyebab dermatitisvenenata (misal: Genus Paederus). Paederus
dermatitis terjadi di seluruh bagian dunia,khususnya daerah beriklim tropis seperti
Indonesia, dan pernah dilaporkan kejadian yangmerebak di Australia, Malaysia,
Srilanka, Nigeria, Kenya, Iran, Uganda, Okinawa, SierraLeone, Argentina, Brazil,
Venezuela, EcuETIOLOGIPenyebab munculnya dermatitis

kontak iritan

ini

adalah bahan yang bersifat iritan,misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak


pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu.(3) Bahanaktif dari serangga juga dapat
menjadi penyebab.(1)Spesies serangga yang paling sering menyebabkan
dermatitis venenata adalah darigenus

Paederus.

Spesies

dari

genus

ini

menyebabkan paederus dermatitis. Paederusdermatitis sendiri di Indonesia


paling

disebabkan

tumbuhnya

7-10

oleh Pederus
mm

dan

peregrines. Paederusdewasa
lebar

0,5

mm

seukuran

panjang
dengan

nyamuk.Paederus berkepala hitam dengan abdomen di caudalnya dan juga elytral


( struktur yangmembungkus sayap dan sepertiga atas segmen abdomen).
Meskipun

paederus

dapatterbang, namun paederus lebih sering berlari dan

meloncat. Paederus memiliki karateristikmengangkat bagian abdomennya ketika


mereka lari ataupun merasa terganggu. Spesiesyang
paederus
brasiliensis

dermatitis
di

adalah

Paederus

Amerika Latin,

biasa

menyebabkan

di

India,Paederus

melampus

Paederus colombius

di

Venezuela,

Paederusfusipes di Taiwan dan tentunya Paederus peregrinus di Indonesia.(6)


Kumbang ini tidakmenggigit atau menyengat, namun tepukan keras pada
kumbang ini diatas kulit akanmemicu pengeluaran bahan aktifnya yang berupa
paederinador, India
Paederus merupakan makhluk nocturnal dan tertarik dengan cahaya putih
dan terang.Hemolimfe dari paederus mengandung suatu
paederin

bahan aktif

yakni

yang kemudianmenyebabkan keluhan gatal, rasa panas tebakar,

kemerahan pada kulit yang timbul dalam12-48 jam setelah kulit terpapar.(8)
Paederin yang berumus kimia C25H45O9N adalah sebuahstruktur amida dengan
dua cincin tetrahydropyran
PATOGENESISKelainan

kulit timbul akibat kerusakan sel yang

disebabkan oleh bahan iritan melaluikerja kimiawi atau fisis.(1) Ada 4 mekanisme
yang

berhubungan

dengan

DKI.1.

Hilangnya

membran

lemak

(Lipid

Membrane)2. Kerusakan dari sel lemak3. Denaturasi keratin epidermal4. Efek


sitotoksik secara langsung(9)Kerusakan membran mengaktifkan fosfolipase dan
melepaskan asam arakidonat (AA),diasilgliserida (DAG), platelet activating factor
(PAF), dan inositida (IP3). AA dirubahmenjadi prostaglandin (PG) dan leukotrien
(LT). PG dan LT menginduksi vasodilatasi, danmeningkatkan permeabilitas
vaskular sehingga mempermudah transudasi komplemen dankinin. PG dan LT
juga bertindak sebagai kemoaktraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil,serta
mengaktifasi sel mas melepaskan histamin, LT dan PG lain, dan PAF,
sehinggamemperkuat perubahan vaskular
DAG dan second messengers lain menstimulasi ekspresi gen dan sintesis
protein,misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyte-macrophage colony

stimulating factor(GMCSF). IL-1 mengaktifkan sel T-helper mengeluarkan IL-2


dan mengekspresi reseptorIL-2, yang menimbulkan stimulasi autokrin dan
proliferasi sel tersebut.Keratinosit juga membuat molekul permukaan HLA-DR
dan adesi intrasel-1 (ICAM-1). Pada kontak dengan iritan, keratinosit juga
melepaskan

TNF ,

suatu

sitokinproinflamasi

yang

dapat

mengaktifasi

sel T, makrofag dan granulosit, menginduksiekspresi molekul adesi sel dan


pelepasan sitokin.Rentetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan
klasik di tempat terjadinyakontak di kulit berupa eritema, edema, panas, nyeri,
bila iritan kuat. Bahan iritan lemahakan menimbulkan kelainan kulit setelah
berulang kali kontak, dimulai dengan kerusakanstratum korneum oleh karena
delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsisawarnya, sehingga
mempermudah kerusakan sel dibawahnya oleh iritan
TANDA DAN GEJALA Gejala klinis yang terjadi sangat beragam,
bergantung pada sifat iritan. Iritan kuatmemberi gejala akut, sedang iritan lemah
memberi gejala kronis meskipun faktor individudan lingkungan sangat
berpengaruh.Kelainan kulit bergantung pada stadium penyakit, pada stadium akut
kelainan kulitberupa eritema, edema, vesikel, atau bula, erosi dan eksudasi,
sehingga tampak basah.Stadium sub akut, eritema berkurang, eksudat mengering
menjadi krusta, sedang padastadium kronis tampak lesi kronis, skuama,
hiperpigmentasi, likenifikasi, papul, mungkinjuga terdapat erosi atau ekskoriasi
karena garukan. Stadium tersebut tidak selalu berurutan,bisa saja sejak awal
suatu dermatitis memberi gambaran klinis berupa kelainan kulitstadium kronis
demikian

pula

hanyaoligomorfik

efloresensinya

tidak

selalu

harus

polimorfik.

Mungkin

Pada paederus dermatitis, lesi biasanya terjadi pada bagian tubuh yang
tidak tertutupi,misalnya tangan, kaki juga leher dan wajah, khususnya area
periorbital, yang merupakanbagian tubuh paling sering menjadi predileksi
paederus dermatitis.(10) Tidak berbeda jauhdengan jenis dermatitis kontak iritan
lainnya, lesi yang biasa ditimbulkan oleh bahan aktif
paederin berupa patch eritem linear yang kemudian berlanjut menjadi bula,
terkadang buladapat menjadi pustular. Pada pasien yang datang ke tenaga medis,
bula dapat intak ataupunsudah terjadi erosi dengan dasar eritem.(10) Lesi mulai
muncul setelah 12-48 jam pascapaparan paederin dan membaik dalam waktu
seminggu
DIAGNOSIS
Diagnosis DKI didasarkan anamnesis yang cermat dan pengamatan
gambaran klinis.DKI akut lebih mudah diketahui karena munculnya lebih cepat
sehingga penderita padaumumnya masih ingat apa yang menjadi penyebabnya.
Sebaliknya, DKI kronis timbulnyalambat serta mempunyai variasi gambaran
klinis yang luas, sehingga adakalanya sulitdibedakan dengan dermatitis kontak
alergik. Untuk ini diperlukan uji tempel dengan bahanyang dicurigai untuk
menyingkirkan diagnosa bandingnya.

Tabel. Kriteria Diagnostik DKI


VII. DIAGNOSIS BANDINGDKI sering didiagnosis dengan berbagai jenis
dermatitis termasuk DKA. Untukmenegakkan diagnosis perlu anamnesa
detail,

termasuk

pekerjaan,

hobi,

riwayatpengobatan dan beberapa

pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan.Perbedaan DKA dan DKI sebagai


berikut :

PENATALAKSANAANPenanganan dermatitis kontak yang tersering adalah


menghindari bahan yang menjadipenyebab.Pengobatan medikamentosa terdiri
dari:A. Pengobatan sistemik :1. Kortikosteroid, hanya untuk kasus yang berat dan
digunakan dalam waktu singkat.
PrednisoneDewasa : 5-10 DexamethasoneDewasa : 0,5-1 mg/dosis, sehari 2-3
kali p.oAnak : 0,1 mg/KgBB/hari
TriamcinoloneDewasa : 4-8 mg/dosis, sehari 2-3 kali p.oAnak : 1
mg/KgBB/hari2. Antihistamin
Chlorpheniramine maleatDewasa : 3-4 mg/dosis, sehari 2-3 kali p.oAnak : 0,09
mg/KgBB/dosis, sehari 3 kali
Diphenhydramine HClDewasa : 10-20 mg/dosis i.m. sehari 1-2 kaliAnak : 0,5
mg/KgBB/dosis, sehari 1-2 kali
LoratadineDewasa : 1 tablet sehari 1 kalmg/dosis, sehari 2-3 kali p.oAnak : 1
mg/KgBB/hari\

B. Pengobatan topikal :1. Bentuk akut dan eksudatif diberi kompres larutan garam
faali (NaCl 0,9%)2. Bentuk kronis dan kering diberi krim hydrocortisone 1% atau
diflucortolone valerat 0,1%atau krim betamethasone valerat 0,005-0,1%(11)IX.
PROGNOSISPrognosis dari DKI akut baik jika penyebab iritasi dapat dikenali
dan dihilangkan.Prognosis untuk DKI kumulatif atau kronis tidak pasti dan
bahkan lebih buruk dariDermatitis Kontak Alergi. Latar belakang pasien atopi,
kurangnya

pengetahuan

mengenaipenyakit,

dan

atau

diagnosis

dan

penatalaksanaan adalah faktor-faktor yang membawa keperburukan dari


prognosis.

Pasien laki-laki umur 6 tahun datang dengan keluhan keluhan kulit lecet di atas
bibir dan pipikiri. Pada bagian yang lepuh terasa perih yang disertai dengan rasa
panas, tidak nyeri. Kulitlepuh dirasakan sejak 1 hari sebelum pasien datang ke RS.
Kulit yang lepuh awalnya dirasakansebagai kulit lecet kemerahan 1 hari yang lalu
saat pagi hari setelah bangun tidur. Kulit terasagatal, panas dan tidak bertambah
gatal ketika berkeringat. Diagnosis didasari oleh anamnesis danpemeriksaan klinis
yang lengkap.Dari anamnesis, didapatkan bahawa penyakit ini merupakan suatu
kejadian yang akutdimana keluhan dirasakan 1 hari sebelum ke RS. Pasien juga
merasakan permukaan kulit padaawalnya panas seperti terbakar yang sesuai
dengan gejala klinis dermatitis kontak iritan. Daripemeriksaan klinis didapatkan
lesi di daerah muka yang mana merupakan salah satu predileksidari paederus
dermatitis. Pada paederus dermatitis, lesi biasanya terjadi pada bagian tubuh
yangtidak tertutupi, misalnya tangan, kaki juga leher dan wajah, khususnya area
periorbital. Lesi berupa lesi linear dengan erosi dan dilapisi oleh krusta
kecoklatan. Hal ini sesuaidengan ciri-ciri paederus dermatitis yaitu berupa patch
eritem linear yang kemudian berlanjutmenjadi bula, terkadang bula dapat menjadi
pustular. Pada pasien yang datang ke tenaga medis,bula dapat intak ataupun sudah
terjadi erosi dengan dasar eritem.Pemanfaatan modalitas terapi yang dipilih untuk
penanganan kasus pasien diatas adalahberupa medikamentosa yaitu agen lokal.
Oleh kerana dasar patogenesis dari paederus dermatitisadalah suatu peradangan
ditempat kontak dengan cairan dari serangga tersebut, maka agen yangdiberikan
merupakan agen lokal kortikosteroid sebagai antiradang. Agen lokal yang
diberikanadalaPrognosis pasien tergantung dari ada tidaknya lagi kontak dengan
bahan pencetus yaitucairan

dari

serangga

Paederus.

Dengan

cara

menghindari

dari

paparan

serangga

tersebutumumnya prognosis pasien ini

baik.h Hydrocortisone Cream 1%


BAB 5KESIMPULANDermatitis Kontak Iritan adalah peradangan kulit yang
disebabkan terpaparnya kulitdengan bahan dari luar yang bersifat iritan
yang

menimbulkan

kelainan

klinis

efloresensipolimorfik berupa eritema,

vesikula, edema, papul, vesikel, dan keluhan gatal, perih serta panas.Tanda
polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan hanya beberapa saja. Dermatitis
yangdisebabkan spesifik diakibatkan oleh bahan aktif yang dikandung oleh
serangga genus Paederus,yakni pederin, disebut dengan paederus dermatitis atau
dermatitis lineari atau blister beetledermatitis.Dasar dari patogenesis penyakit ini
ialah terjadi gejala peradangan klasik di tempatterjadinya kontak di kulit berupa
eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat. Bahan iritanlemah akan
menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak, dimulai dengan
kerusakanstratum korneum oleh karena delipidasi yang menyebabkan desikasi
dan

kehilangan

fungsisawarnya,

sehingga

mempermudah

kerusakan

sel

dibawahnya oleh iritan.Pada prinsipnya penatalaksanaan penyakit ini yang


baik

adalah

mengidentifikasipenyebab dan menyarankan pasien untuk

menghindarinya, terapi individual yang sesuai dengantahap


perlindungan

pada

kulit.

Pengobatan

berupapengobatan topikal dan sistemik.

yang

penyakitnya
diberikan

dan
dapat

Di samping pengobatan secara

farmakologis, juga pentingadanya KIE terhadap pasien dan keluarganya guna


melakukan pencegahan terjadinya paederusdermatitis, seperti
ika

menemukan

serangga

ini,

sebaiknya

tidak

dipencet,

agar

racun

tidakmengenai kulit. Lebih baik disingkirkan dengan cara ditiup atau

dihalaumengunakan kertas. 2. Hindari terkena kumbang ini pada kulit terbuka. 3.


Jangan menggosok kulit dan atau mata bila kumbang ini terkena kulit . 4. Segera
cuci dengan air mengalir dan sabun pada kulit yang bersentuhan dengankumbang.
5. Mencegah serangga ini masuk ke dalam rumah dengan cara selalu menutup
pintudan menutup jendela menggunakan kasa nyamuk.6. Tidur menggunakan
kelambu.7. Membersihkan lingkungan sekitar rumah, terutama tanaman yang
tidak terawatyang ada disekitar rumah yang bisa menjadi tempat kumbang
Paederus.

Abdullah

B.,Dermatologi

Pengetahuan

Dasar

dan

Kasus

di

Rumah

Sakit,Indonesia: PusatPenerbitan Universitas Airlangga., 2009, hal 94-96.2. James


WD.,

Berger

TG.,

Elston

DM.,

Andrews

Diseases

of

The

Skin:

ClinicalDermatology,10th ed, Canada: Elsevier Inc., 2006, pg 421-427.3. Djuanda


A.,

Hamzah M.,

IlmuPenyakit
Kedokteran

Kulit

Aisah S.,
dan

editor. Djuanda S., Sularsito SA., penulis.

Kelamin,

Edisi

Kelima,

Jakarta

Fakultas

UniversitasIndonesia, 2007, hal 129-138.4. Morsy TA, Arafa MA,

Younis TA, Mahmoud IA. Studies

on Paederus alfieni Koch(Coleoptera:

Staphylinide) with special reference to the medical importance. J Egypt


SocParasitol 1996;26:337-515. Zargari O, Asadi AK, Fathalikhani F, Panahi M.
Paederus dermatitis in northern Iran: Areport of 156 cases. Int J Dermatol
2003;42:608-126. Gurcharan Singh, Syed Yousuf Ali. Paederus Dermatitis.
Indian J Dermatol VenerolLeprol January-February 2007.Vol 73
Gelmetic C, Grimalt R. Paederus dermatitis: An easy diagnosable but
misdiagnosederuption. Eur J Pediatr 1993;153:6-88. Kamaladasa SD, Perera WD,

Weeratunge L. An outbreak of Paederus dermatitis in asuburban hospital in Sri


lanka. Int J Dermatol 1997; 36(1): 34-6.9. Wolff K., Goldsmith LA., Katz SI.,
Gilchrest BA., Paller AS., Leffell DJ., FitzpatricksDERMATOLOGY IN
GENERAL MEDICINE, 7th ed, USA: McGraw-Hill Companies.,2008, pg 39540110. Syed Nurul Rasool Qadir MMBS1, Naeem Raza MMBS2, Simeen Ber
Rahman MD3.Paederus dermatitis In Sierra Leone. In Dermatology Online
Journal Vol 12 Num.711. Pohan SS., Hutomo MM., Sukanto H., Pedoman
Diagnosis dan Terapi Bag/SMF IlmuPenyakit Kulit dan Kelamin, Indonesia: Pusat
Penerbitan Universitas Airlangga., hal 5-8