Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai salah satu negara yang sedang berkembang, Indonesia
memerlukan dukungan dana yang cukup besar. Dukungan dana ini sangat
potensial diperoleh dari kegiatan investasi lewat peran pasar modal sebagai
sumber pendanaan pembangunan jangka panjang yang stabil.
Kemajuan pasar modal di suatu negara ditandai dengan besarnya
kapitalisasi pasar, likuiditas pasar, perlindungan terhadap investor dan
mekanisme pasar yang berjalan teratur. Semakin meningkatnya instrumen
yang diperdagangkan di bursa dan semakin meningkatnya likuiditas pasar
maka para investor internasional akan tertarik untuk masuk ke dalam pasar
modal Indonesia. Selain itu, pasar modal yang maju akan menghambat larinya
dana investor dalam negeri ke pasar luar negeri.
Salah satu instrumen yang akhir-akhir ini populer di Indonesia adalah
reksa dana. Dalam waktu singkat, jumlah reksa dana yang ditawarkan kepada
para pemodal telah menunjukkan banyak perubahan. Sifat instrumennya yang
tidak terlalu rumit, membuat reksa dana cepat populer. Dibandingkan dengan
pilihan untuk berinvestasi langsung dalam bentuk saham reksa dana lebih
sederhana sifatnya dan dibandingkan dengan bunga deposito yang sekarang
kurang diminati karena bunganya tidak lagi mengundang orang untuk
berinvestasi di bank.
Dengan kata lain reksa dana adalah wadah sekaligus wahana investasi
bagi masyarakat yang ingin berinvestasi pada instrumen investasi. Namun
dalam setiap investasi selalu ada resiko yang perlu diketahui terlebih dahulu
sebelum memiliki suatu produk investasi.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1

1.

Untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diharapkan (expected


return) dari reksa dana

2.

Untuk mengetahui tingkat risiko yang terkandung dari setiap reksa


dana

1.3 Batasan Penelitian


1. Penelitian dilakukan pada reksa dana yang berjenis reksa dana saham yang
masih aktif.
2. Analisis pengukuran pengembalian dan kinerja reksa dana saham syariah
dan reksa dana saham konvesional menggunakan indeks Sharpe.
1.4 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
a. Tujuan Penelitian
Hasil penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada investor
dalam memilih suatu reksa dana sebagai pilihan investasi dengan
memperhatikan risiko dan tingkat pengembalian yang dimiliki reksa dana,
sehingga investor dapat mengambil keputusan yang tepat. Adapun tujuan
dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui

besarnya tingkat pengembalian dan risiko reksa

dana saham syariah dan reksa dana saham konvesional serta untuk
mengetahui reksa dana mana yang terbaik untuk wahana berinvestasi
masyarakat.
2. Untuk mengukur kinerja reksa dana saham syariah dan reksa dana
saham konvesional sehingga akan diketahui dari kedua reksa dana
tersebut, mana yang akan memperlihatkan kinerja yang lebih baik.
b.

Kegunaan Penelitian
1.

Bagi Peneliti
Penelitian ini dilakukan untuk mengamalkan dan mengembangkan
keilmuan, khususnya ilmu tentang pasar modal dan instrument pasar
modal berupa reksa dana syariah dan reksa dana konvesional.

2.

Bagi Investor dan Calon Investor Reksa Dana


Peneliti memberikan bahan pertimbangan kepada calon investor dalam
mengambil keputusan investasi. Hasil penelitian ini dapat menjadi

acuan dalam menilai kinerja suatu reksa dana baik reksa dana syariah
maupun konvesional.
3.

Bagi Pihak Lain


Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan ataupun wawasan
bagi pihak lain yang akan memberikan sumbangan pemikiran yang
dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan referensi bagi peneliti
lain.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Investasi dan Reksa Dana


Investasi pada hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada
saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang.
Umumnya investasi dibedakan menjadi dua, yaitu : investasi pada aset-aset
finansial (financial assets) dan investasi pada aset-aset riil (real assets).
Investasi pada aset-aset finansial dilakukan di pasar uang, misalnya berupa
sertifikat deposito, commercial paper, surat berharga pasar uang, dan lainnya.
Investasi dapat juga dilakukan di pasar modal, misalnya berupa saham,
obligasi, waran, opsi, dan lain-lain. Sedangkan investasi pada aset-aset riil
dapat berbentuk pembelian aset produktif, pendirian pabrik, pembukaan
pertambangan, pembukaan perkebunan dan lainnya. (Abdul Halim, 2005, 4)
Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat
pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak
waktu dan keahlian untuk menghitung resiko atas investasi mereka. Reksa
dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang
memiliki modal dan mempunyai keinginan untuk melakukan investasi,
namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu,
reksa dana juga diharapkan dapat meningkatkan para pemodal lokal yang
berinvestasi di pasar modal.
a. Karakteristik Reksa Dana
Menurut Adler HM (2008, 2), definisi yang diuraikan sebelumnya
secara jelas disebutkan bahwa Reksa Dana mempunyai beberapa karakteristik.
Yaitu pertama, kumpulan dan dana pemilik, dimana pemilik Reksa dana
adalah berbagai pihak yang menginvestasikan atau memasukan dananya ke
Reksa Dana dengan berbagai variasi.

Artinya, investor dari Reksa Dana dapat perorangan dan lembaga


dimana pihak tersebut melakukan investasi ke Reksa Dana sesuai dengan
tujuan investor tersebut.
Kedua, diinvestasikan kepada efek yang dikenal dengan instrumen
investasi. Dana yang dikumpulkan dari masyarakat tersebut diinvestasikan ke
dalam instrumen investasi seperti rekening koran, deposito, surat utang jangka
pendek yang dikenal dengan Repurchase Agreement (REPO), Commercial
Paper (CP) / Promissory Notes (PN); surat utang jangka panjang seperti
Medium Term Notes (MTN); Obligasi dan Obligasi Konversi; dan efek saham
maupun ke efek yang beresiko tinggi seperti opsi, future dan sebagainya.
Manajer investasi melakukan investasi pada berbagai instrument tersebut
mempunyai besaran yang berbeda-beda sesuai dengan perhitungan manajer
investasi untuk mencapai tingkat pengembalian yang diharapkan.
Ketiga, Reksa dana tersebut dikelola oleh manajer investasi. Manajer
investasi dapat diperhatikan dari dua sisi yaitu sebagai lembaga dan sebagai
perorangan. Sebagai lembaga harus mempunyai izin perusahaan untuk
mengelola dana, dimana izin tersebut diperoleh dari OJK bagi perusahaan
yang bergerak dan berusaha di Indonesia.
Keempat, Reksa Dana merupakan instumen investasi jangka menengah
dan panjang. Jangka menengah dan panjang merupakan refleksi dari investasi
Reksa Dana tersebut, karena umumnya Reksa Dana melakukan investasi
kepada instrumen investasi jangka panjang seperti Medium Term Notes,
Obligasi dan saham. Dengan konsep karakteristik tersirat ini maka Reksa
Dana tidak dapat dianggap sebagai saingan dari deposito produk perbankan
tersebut. Reksa Dana dianggap produk komplemen dari produk yang
ditawarkan perbankan.
Kelima, Reksa Dana merupakan produk investasi yang beresiko.
Berisikonya reksa dana karena oleh instrumen investasi yang menjadi
portofolio Reksa Dana tersebut, dan pengelola Reksa Dana (manajer investasi)
yang bersangkutan. Beresikonya Reksa Dana karena harga instrumen
portofolionya yang berubah setiap waktu. Bila reksa dana berisikan obligasi
5

maka kebijakan pemerintah Bank Indonesia menaikkan tingkat bunga akan


membuat harga obligasi mengalami penurunan. Manajer investasi juga bisa
membuat reksa dana beresiko dengan tindakan disengaja atau tidak disengaja.
b. Jenis-jenis Reksa Dana
Memahami jenis reksa dana yang tersedia, sangat perlu untuk
mengetahui mengenai instrumen dimana reksa dana melakukan investasi,
karakteristik potensi keuntungan serta resiko yang akan terjadi. Setidaknya
ada empat jenis reksa dana, yaitu:
1. Reksa Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income Funitd)
Reksa dana pendapatan tetap adalah reksa dana yang melakukan investasi
sekurang-kurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek
yang bersifat hutang. Efek yang bersifat hutang umumnya memberikan
penghasilan yang bersifat bunga (bagi hasil), seperti deposito, obligasi
yang bersifat syariah, SBI, dan instrumen lainnya.
2. Reksa Dana Campuran (Disretionary Funitd/Mixed Funitd)
Reksa dana campuran adalah reksa dana yang melakukan investasinya
dalam bentuk efek hutang maupun ekuitas dengan porsi alokasi yang lebih
fleksibel. Artinya, melihat sisi fleksibilitasnya baik dalam pemilihan jenis
investasi (saham, obligasi, deposito atau efek lainnya) serta komposisi
alokasinya, reksa dana campuran dapat berorientasi pada saham, obligasi
atau pasar uang.
3. Reksa Dana Pasar Uang
Reksa dana pasar uang adalah reksa dana yang investasinya 100% pada
efek pasar uang. Efek pasar uang adalah efek-efek yang berjangka kurang
dari satu tahun. Pada umumnya, instrumen atau efek yang termasuk dalam
kategori ini adalah meliputi deposito, SBI, obligasi serta efek hutang
lainnya dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun. Reksa dana pasar uang
memiliki tingkat resiko paling rendah, tetapi keuntungan yang didapat juga
sangat terbatas.
4. Reksa Dana Saham
Reksa dana saham adalah reksa dana yang melakukan investasi sekurangkurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek yang
6

bersifat ekuitas (saham). Efek saham pada umumnya memberikan saham


hasil yang lumayan tinggi, berupa capital gain melalui pertumbuhan hargaharga saham dan deviden. Reksa dana saham biasanya dinikmati oleh
investor yang mengerti potensi investasi pada saham untuk jangka
panjang, sehingga dana yang digunakan untuk investasi merupakan dana
yang jangka panjang.
2.2 Pasar Modal
Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan
dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan
sekuritas. Dengan demikian,pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar
untuk memperjualbelikan sekuritas yang pada umumnya memiliki umur lebih
dari satu tahun, seperti saham dan obligasi. Sedangkan tempat dimana
terjadinya jual beli sekuritas disebut dengan bursa efek.(Tandelilin, 2010 :13).
Jadi, jelaslah bahwa pasar modal adalah tempat bertemunya penjual dan
pembeli sekuritas atau instrumen keuangan. Instrumen keuangan ini salah
satunya adalah saham.
a. Peran Pasar Modal
Menurut (Sunariyah, 2004:7) peranan pasar modal ditinjau dari sisi:
1. Kepentingan Para Pelaku Pasar Modal, Meliputi :
a) Sebagai tempat interaksi antara pembeli dan penjual saham
b) Sebagai tempat para pemodal dalam menentukan return yang
diharapkan.
c) Sebagai tempat investor untuk menjual lagi saham yang dimiliki
d) Sebagai

tempat

partisipasi

masyarakat

dalam

perkembangan

perekonomian.
e) Sebagai pengurang dari biaya transaksi surat berharga dan biaya
informasi.
2. Peranan Pasar Modal bagi Perekonomian Negara, Antara Lain :
a) Fungsi Tabungan (Saving Function)
Bagi penabung, metode yang akan digunakan sangat dipengaruhi oleh
kemungkinan rugi sebagai akibat penurunan nilai mata uang, inflasi,
risiko hilang dll.
7

b) Fungsi Kekayaan (Wealth Function)


Semakin bertambah umur kekayaan tersebut semakin besar nilai
penyusutannya. Akan tetapi, obligasi, saham, deposito, dan instrumen
surat berharga lainnya tidak mengalami depresiasi.
c) Fungsi Likuiditas (Liquiduty Function)
Kekayaan yang disimpan dalam surat-surat berharga, bisa dilikuidasi
melalui pasar modal dengan risiko yang sangat minimal dibandingkan
dengan aktiva lain. Proses likuid surat berharga dengan biaya relatif
elbih murah dan lebih cepat.
d) Fungsi Pinjaman (Credit Function)
Pinjaman merupakan utang kepada masyarakat. Pasar modal bagi
suatu

perekonomian

negara

merupakan

sumber

pembiayaan

pembangunan dari pinjaman yang dihimpun dari masyarakat.


b. Alasan Dibentuknya Pasar Modal

Pasar modal banyak dijumpai dibanyak negara karena pasar modal


menjalankan fungsi ekonomi dan keuangan. (Husnan, 2009:4)
a) Fungsi Ekonomi
Pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari
lender (pihak yang kelebihan dana) ke borrower (pihak yang
memerlukan dana). Dengan menginvestasikan kelebihan dana yang
mereka miliki, lenders mengharapkan akan memperoleh imbalan dari
penyerahan dana tersebut.
b) Fungsi Keuangan
Fungsi ini dilakukan dengan jalan menyediakan dana yang diperlukan
oleh para borrower, dan para lenders menyediakan dan tanpa harus
terlibat langsung dalam kepemilikan aktiva riil yang diperlukan untuk
investasi tersebut.
2.3 Reksa Dana Saham
a.

Pengertian Reksa Dana Saham


Reksa Dana Saham (RDS) adalah Reksa Dana yang melakukan
investasi sekurang-kurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke
dalam efek bersifat ekuitas (saham). (Eko Priyo Pratomo, 2005, 72)
8

Berbeda dengan efek pendapatan tetap seperti deposito dan


obligasi, dimana investor lebih berorientasi pada pendapatan bunga, efek
saham umumnya memberikan potensi hasil yang lebih tinggi berupa
capital gain melalui pertumbuhan harga-harga saham. Selain hasil dari
capital gain, efek saham juga memberikan hasil lain berupa deviden.
b.

Jenis-jenis Reksa Dana Saham (RDS)


Reksa Dana Saham (RDS) dapat dikelompokan menjadi beberapa
jenis yaitu:

1)

Berdasarkan kapitalisasi pasar saham yang bersangkutan


a. RDS berkapitalisasi besar
Memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 1 triliun.
b. RDS berkapitalisasi medium
Memiliki kapitalisasi pasar diantara Rp 100 miliar Rp 1 triliun.
c. RDS berkapitalisasi kecil
Memiliki kapitalisasi pasar kurang dari Rp 100 miliar.

2)

Analisis sekuritas
Berdasarkan sektor industri dari bisnis saham yang bersangkutan, sehingga
RDSnya disebut RDS sektor.

3)

Berdasarkan regionalisasi investasi


Adapun RDS ini seperti international equity fund, domestic equity fund,
dan campuran saham domestik dan internasional.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan adalah deskiptif yaitu penelitian yang
bertujuan untuk menyusun gambaran atau fenomena suatu permasalahan
secara detail dan sistematis pada berbagai produk reksa dana. Tujuan dari
studi ini adalah untuk, menjelaskan aspek-aspek yang relevan dengan
fenomena yang diamati. Studi ini membantu peneliti untuk menjelaskan
karakteristik subyek yang diteliti, mengkaji berbagai aspek dalam fenomena
tertentu dan menawarkan ide masalah untuk penelitian selanjutnya
(Indriantoro dan Supomo, 1999: 88)
3.2 Populasi dan Sampel
Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode purposive random
sampling yaitu pengambilan sampel yang menyesuaikan diri dengan kriteria
tertentu. Jadi, penulis tidak mengambil semua produk reksa dana sebagai
objek penulisan tetapi hanya yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Sampel yang diambil merupakan reksa dana yang ditawarkan pada periode
2013 sampai dengan 2015 dan masih aktif hingga saat ini.
2. Sampel yang diambil merupakan produk dari perusahaan reksa dana yang
aktif selama tahun 2013 sampai dengan 2015 dan memiliki Nilai Aktiva
Bersih (NAB) yang dipublikasikan di media cetak.
3. Data Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana yang akan diambil sebagai
sampel penulisan ini adalah data bulanan untuk tahun yang bersangkutan.
Dari syarat tersebut diperoleh sebanyak 3 sampel produk reksa dana yang
memenuhi kriteria tersebut:
1. Schroder Dana Prestasi
2. Sam Indonesia Equity Fund
3. Simas Saham Unggulan

10

3.3 Jenis dan sumber data


a.

Jenis Data
Penelitian yang dalam pengumpulan data dan penafsiran hasilnya

menggunakan angka, maka penelitian tersebut dinamakan penelitian


kuantitatif. (Arikunto, 2002:10). Oleh karena itu, jenis data yang digunakan
adalah data kuantitatif, karena data yang diperoleh adalah berupa angka.
b.

Sumber Data
Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah sumber data

sekunder yang diperoleh dari situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


3.4 Teknik pengumpulan data
Metode perhitungan evaluasi kinerja reksa dana saham yang
digunakan adalah metode Sharpe, Treynor, dan Jensen. Data yang diperlukan
antara lain:
1.

Data NAB per unit penyertaan bulanan dari 3 reksa dana saham yang
akan digunakan sebagai sampel dalam penulisan. Data NAB per unit
penyertaan dari periode bulan Januari 2013 sampai dengan Desember
2015, sehingga ada 108 data yang selanjutnya akan diolah sebagai bahan
penulisan.

2.

Data IHSG bulanan di BEI yang selajutnya akan digunakan sebagai


benchmark dalam penulisan ini. Data tersebut diambil dari periode yang
sama yaitu bulan Januari 2013 sampai dengan Desember 2015, sehingga
terdapat 36 data. Data IHSG tersebut diperoleh dari Pusat Referensi Pasar
Modal (PRPM) di BEI.

3.

Data LQ45 bulanan di BEI yang selajutnya juga akan digunakan


sebagai benchmark dalam penulisan ini. Data tersebut diambil dari
periode yang sama yaitu bulan Januari 2013 sampai dengan Desember
2015, sehingga terdapat 36 data. Data LQ45 tersebut diperoleh dari Pusat
Referensi Pasar Modal (PRPM) di BEI.

4.

Data tingkat suku bunga SBI periode 1 bulan, yang akan digunakan
sebagai Risk Free dalam penulisan ini. Data tersebut diambil dari periode
bulan Januari 2006 sampai dengan Desember

11

3.5 Teknik analisis data


Dalam menganalisis data mentah tersebut penulis menggunakan
beberapa rumus sehingga data tersebut nantinya dapat dimasukan dalam
perhitungan selanjutnya, antara lain:
1. Rumus tingkat pengambilan reksa dana (return reksa dana)
Nilai ini diperoleh dari angka NAB per unit penyertaan untuk masingmasing reksa dana saham yang diteliti, dengan rumus (Eko P. Pratomo
2005):
Kinerja Rd =

NAK - NAW
NAW

Dimana,
Kinerja Rd

= Rata-rata kinerja reksa dana sub-periode tertentu

NAK

= Nilai Aktiva Bersih /unit akhir bulan ini

NAW

= Nilai Aktiva Bersih /unit akhir bulan sebelumnya

2. Mencari resiko investasi reksa dana dengan menggunakan rumus standar


deviasi (Suharyadi, Purwanto SK, 2008, 103):

Dimana,
S =

standard deviasi sampel

= simbol dari operasi penjumlahan

X = nilai data yang berada dalam sampel


= rata-rata hitung sampel
n = jumlah total data
3. Rumus tingkat pengembalian pasar

12

Dimana,
Rp1

= Kinerja pasar (IHSG) pada sub periode tertentu

IHSGt

= Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bulan sekarang

IHSGt-1 =Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bulan sebelumnya


Rp2

= Kinerja pasar (LQ45) pada sub periode tertentu

LQ45t

= LQ45 bulan sekarang

LQ45t-1 = LQ45 bulan sebelumnya

4. Perhitungan Kinerja Berdasarkan Metode Sharpe, Treynor, Dan Jensen


a. Indeks Sharpe
Dalam penggunaan metode Sharpe, kinerja reksa dana dihitung
tanpa memperhatikan pasarnya dan hanya didasarkan pada penyimpangan
dari portofolio reksa dana tersebut.
Langkah pengerjaan indeks Sharpe adalah sebagai berikut:
1)

Menghitung terlebih dahulu return dari portofolio reksa


dana yang diperoleh dengan cara menselisihkan antara NAB per unit
penyertaan tahun sekarang dengan NAB per unit penyertaan tahun
sebelumnya (rumus kinerja Rd).

2)

Masing-masing portofolio reksa dana tersebut, langkah


berikutnya adalah mencari standar deviasi untuk masing-masing reksa
dana tersebut dengan program excel. Data berikutnya yang juga
dibutuhkan dalam perhitungan ini adalah data risk free (Rf) yang
diperoleh dari tingkat suku bunga BI.

3)

Langkah terakhir adalah memasukkan data-data tersebut


ke dalam rumus sebagai berikut:

13

SRD = KinerjaRd - KinerjaRf

Dimana,
SRD

= Nilai Ratio Sharpe

Kinerja Rd

= rata-rata kinerja reksa dana sub-periode tertentu

Kinerja Rf

= rata-rata kinerja investasi bebas resiko subperiode tertentu

= Standar deviasi reksa dana untuk sub-periode


tertentu
Dengan bantuan program excel, penulis dapat memperoleh nilai
indeks Sharpe untuk masing-masing reksa dana.
b.

Indeks Treynor
Dalam penggunaan metode Treynor, kinerja reksa dana dihitung
dengan memperhatikan fluktuasi pasarnya. Langkah pengerjaan indeks
Treynor adalah sebagai berikut:

1) Menghitung return portofolio reksa dana untuk masing-masing


reksa dana yang pengerjaannya sama seperti dalam indeks Sharpe.
2) Melakukan regresi sedehana untuk mencari beta () yang
merupakan fluktuasi relatif terhadap risiko pasar. Dalam mencari
beta digunakan program SPSS 17.0.
3) Langkah terakhir adalah memasukan data tersebut kedalam rumus
sebagai berikut:
TRD = KinerjaRD - KinerjaRf

Dimana,
TRD

= Nilai ratio Treynor

Kinerja Rd

= rata-rata kinerja reksa dana sub-periode tertentu


14

Kinerja Rf

= rata-rata kinerja investasi bebas resiko subperiode tertentu

c.

= Slope persamaan garis hasil regresi linier

Indeks Jensen

Pengukuran metode ini untuk menilai kinerja Manajer Investasi


apakah mampu memberikan kinerja diatas kinerja pasar sesuai risiko
yang dimilikinya.
Langkah pengerjaan indeks Jensen adalah sebagai berikut:
Langkah pengerjaannya sama seperti Treynor, tetapi untuk
mengukur indeks Jensen dilakukan penyelisihan antara return portofolio
(reksa dana) terhadap return bebas risiko (SBI) lalu dikurangi dengan
hasil dari beta yang dikalikan dengan selisih antara return pasar (IHSG
dan LQ45) terhadap return bebas resiko (SBI).
(Kinerja RD - Kinerja RF) = Alfa + x (Kinerja RP - Kinerja RF)
atau
Alfa = (Kinerja RD - Kinerja RF) - x (Kinerja RP - Kinerja RF)
Dimana,
Alfa = nilai perpotongan Jensen

15

DAFTAR PUSTAKA

Halim, Abdul. 2005. Analisis Investasi. Jakarta : Salemba Empat.


Jensen., Michael C. (1965). The performance of Mutual Funds in the Periode of
1945 - 1964. Journal of Finance.
Kiyoshi, Watari. (1998). A Guide to Understanding Mutual Funds, Washington:
ICI.
_____________. (1998). Mutual Fund The Greatest Investment Ever Invested,
Mutual Fund Magazine.
_____________. (1998). Risk and Rewards Potential for Typers of Funds,
Investment Company Institute.
_____________. (1997). How to Get the most Bank From Your Buck, Mutual
Fund Magazine.
Manurung, Adler Haymans. 2008. Reksa Dana Investasiku. Jakarta : Penerbit
Buku Kompas.
Mariani, Ani. 2007. Analisis Kinerja Reksa Dana Syariah Dengan Metode
Sharpe, Treynor, Dan Jensen. Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi.
Universitas Gunadarma, Depok.
Pratomo, Eko Priyo. 2004. Berwisata ke Dunia Reksa Dana. Jakarta : Gramedia
Media Utama.
Pratomo, Eko Priyo., Ubaidillah Nugraha. 2005. Reksa Dana Solusi Perencanaan
Investasi di Era Modern. Jakarta : Gramedia Media Utama.
Siahaan, Hinsa. 2006. Penilaian Kinerja Investasi Dengan Menggunakan Sharpes
Performance Index, dan Treynors Performance Index. Jakarta :
Departemen Keuangan.
Suharyadi., Purwanto SK. 2008. Statistika Untuk Ekonomi Dan Keuangan
Modern. Jakarta : Salemba Empat.

16