Anda di halaman 1dari 16

LOG GAMMA RAY

MAKALAH
(Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Well logging)
Dosen Pengampu : Irjan, M.Si

Oleh :
LAILATUL MAGHFIROH
NIM. 13640046

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK
IBRAHIM MALANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Logging adalah suatu alat yang dirancang guna mendapatkan
informasi tentang keadaan bawah permukaan (subsurface).
Untuk

interpretasi

maupun

analisa

baik

kualitatif

maupun

kuantitatif, jenis-jenis logging geofisika yang umum digunakan


salah satunya adalah Log Radioaktif. Log radioaktif adalah jenis
log yang dihasilkan dari perekaman yang menggunakan elemenelemen radioaktif yaitu log gamma Ray, Densitas dan Neutron.
Log gamma ray merupakan metoda untuk mengukur radiasi sinar gamma
yang dihasilkan oleh unsur-unsur radioaktif yang terdapat dalam lapisan batuan di
sepanjang lubang bor. Unsur radioaktif yang terdapat dalam lapisan batuan
tersebut diantaranya Uranium, Thorium, Potassium, Radium, dll.
Didalam formasi hampir semua batuan sedimen mempunyai sifat radioaktif
yang tinggi, terutama terkonsentrasi pada mineral clay. Formasi yang bersih (clean
formasi) biasanya mengandung sifat radioaktif yang kecil, kecuali lapisan tersebut
mengandung mineral-mineral tertentu yang bersifat radioaktif atau lapisan berisi
air asin yang mengandung garam-garam potassium yang terlarutkan (sangat
jarang), sehingga harga sinar gamma akan tinggi.
1.2 Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui prinsip,
macam, kegunaan, peralatan, hasil pengukuran, faktor-faktor
yang mempengaruhi respon alat dalam Gamma Ray Log.

BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Gamma Ray Dasar
Prinsip dari GR adalah perekaman radioaktivitas alami bumi. Radioaktivitas
GR berasal dari 3 unsur radioaktif yang ada dalam batuan yaitu Uranium -U,
Thorium -Th dan Potasium -K, yang secara kontinu memancarkan GR dalam
bentuk pulsa-pulsa energi radiasi tinggi. Sinar Gamma ini mampu menembus
batuan dan dideteksi oleh sensor sinar gamma yang umumnya berupa detektor
sintilasi. Setiap GR yang terdeteksi akan menimbulkan pulsa listrik pada detektor.
Parameter yang direkam adalah jumlah dari pulsa yang tercatat per satuan waktu
(sering disebut cacah GR).

1.2 Log Gamma Ray


Gamma Ray Log adalah metoda untuk mengukur radiasi sinar
gamma

yang

dihasilkan

oleh

unsur-unsur

radioaktif

yang

terdapat dalam lapisan batuan di sepanjang lubang bor. Unsur


radioaktif

yang

terdapat

dalam

lapisan

batuan

tersebut

diantaranya Uranium, Thorium, Potassium, Radium, dan lain-lain.


Pada dasarnya Gamma Ray Log (GR Log) merekam pancaran
radioaktif dari formasi. Sinar radioaktif alami yang direkam

berupa uranium, thorium, dan potassium. Log gamma ray


sederhana memberikan rekaman kombinasi dari tiga unsur
radioaktif, sedangkan spectral gamma ray menunjukkan masingmasing unsur radioaktif.
Distribusi energi dari masing-masing kontributor utama
radiasi gamma alami dari formasi berbeda-beda. Puncak yang
berlabel adalah energi yang dominan (kebanyakan sinar gamma
memiliki energi ini). Tiap batuan mengandung jumlah radioisotop yang berbeda. Distribusi energy juga tersebar dalam
ruang energi sebagai hasil hamburan compton. Namun, puncak
energy dari masing-masing kontributor utama radiasi gamma
masih dapat dikenali.
Unsur radioaktif umumnya banyak terdapat dalam shale
(serpihcampuran

lempung

dan lanau) dan

sedikit

sekali

terdapat dalam sandstone, limestone, dolomite, coal, gypsum,


dan lain-lain. Oleh karena itu shale akan memberikan response
gamma ray yang sangat signifikan dibandingkan dengan batuan
yang lainnya. Log gamma ray merekam unsur radioaktif dalam
skala API (American Petroleum Institute). Satuan dasarnya adalah
CPS (count per second) yang kemudian dirubah menjadi API
setelah dikalibrasi dengan suatu formasi yang sudah diketahui
persis kandungan mineral radioaktifnya (U, Th and K). Log
gamma ray umumnya direkam dalam satu kolom bersama log
caliper. Batuan yang hanya mengandung sedikit unsur radioaktif
dan akan memberikan defleksi kurva sinar gamma yang relatif
kecil,seperti pada batubara. Defleksi kurva sinar gamma pada
batuan yang mengandung banyak unsur radioaktif, akan relatif
besar seperti pada batu lempung. Pada interpretasi lapisan
batubara, nilai gamma ray memperlihatkan harga yang paling
rendah, karena batubara sangat sedikit mengandung unsur
Kalium. Respon gamma dengan harga yang lebih besar daripada

batubara diperlihatkan oleh respon lapisan keras yang banyak


mengandung silica, dan kemudian oleh respon batupasir. Respon
gamma yang tinggi diperlihatkan oleh batu lanau dan batu
lempung. Potasium,Uranium dan Thorium (unsur radioaktif yang
memancarkan

sinar

gamma)

banyak

tedapat

pada

batu

lempung. Berikut ini adalah contoh kandungan unsur radioaktif


dari lempung Kimmeridgian di daerah laut utara.
Unsur

Jumlah

Uranium
Thorium
Potasium

5.27 ppm
10.46 ppm
1.34 %

Presentase sinar
gamma
61
33
6

Dengan demikian besaran gamma ray log yang terdapat


didalam rekaman merupakan jumlah total dari radiasi yang
dihasilkan oleh semua unsur radioaktif yang ada di dalam
batuan. Untuk memisahkan jenis-jenis bahan radioaktif yang
berpengaruh pada bacaan gamma ray dilakukan gamma ray
spectroscopy. Karena pada hakikatnya besarnya energy dan
intensitas setiap material radioaktif tersebut berbeda-beda.
Spectroscopy ini penting dilakukan ketika kita berhadapan
dengan batuan non-shale yang memungkinkan untuk memiliki
unsur radioaktif, seperti mineralisasi uranium pada sandstone,
potassium feldsfar atau uranium yang mungkin terdapat pada
coal dan dolomite.
Radioaktivitas

dari

lumpur

akan

mempengaruhi

pembacaan Log Gamma Ray berupa tingkatan latar belakang


radiasi yang tinggi. Selain itu, log gamma ray dapat digunakan
sebagai

pengganti

SP

Log

untuk

pendeteksian

lapisan

permeable,karena untuk formasi yang tidak terlalu resistif hasil


SP Log tidak terlalu akurat.
2.3

Macam Macam Log Gamma Ray

1 Log yang menggunakan sinar gamma natural yang disebut


dengan Spectral Gamma Ray Log (SGR).
2 Log yang menggunakan sinar gamma non-natural (gamma
ray total). Densitas (density) atau rapat massa batuan
dapat diukur dengan memanfaatkan sinar gamma. Untuk
keperluan ini dipakai sumber sinar gamma misalnya
Cesium-137 yang mampu memancarkan sinar gamma ke
2.4

dalam formasi batuan.


Peralatan

Sensor yang dapat dipakai untuk mendeteksi sinar gamma


adalah kristal sodium iodida yang diaktivasi dengan telurium, Na
I (Tl). Di bagian belakang dari detektor ini dilapisi dengan bahan
photo katoda yang mudah melepaskan elektron bila dikenai
cahaya. Apabila radiasi sinar gamma menegnai kristal terjadilah
proses photo listrik.

Gambar 1.2 The Spectral Gamma Ray Sonde (SGS).


Detektor sinar gamma yang lain adalah PMT (Photo
Multiplier Tube). Pada prinsipnya PMT mula-mula menerima
cahaya (sinar ) yang menyebabkan munculnya elektron pada
emitter. Tiap elektron ini menghasilkan lagi 2 elektron pada
degnoda berikutnya. Proses ini berlangsung secara bertingkat
yang pada akhirnya diperoleh elektron yang cukup banyak pada
kolektor. Elektron yang cukup banyak ini selanjutnya dapat
dialirkan ke rangkaian elektronik berikutnya. Jadi dari seberkas
sinar gamma yang lemah dapat dideteksi keberadaannya setelah
dilewatkan proses di dalam PMT. Diagram yang menunjukkan
cara kerja PMT diperlihatkan oleh gambar di bawah ini

Gambar 1.3 Prinsip pelipatgandaan elektron di dalam tabung


PMT
Alat SGR dikalibrasi menggunakan 4 sumber komposisi
yang

diketahui

secara

akurat,

masing-masing

hanya

mengandung K40, U238, Th232, dan satu mengandung campuran.


Setiap sumber ditempatkan di samping detektor dan alat (tool)
digunakan untuk melakukan pengukuran. Kalibrasi ini dirancang
sedemikian rupa sehingga pembacaan dikalibrasi secara akurat
pada alat melaporkan perbedaan jumlah radiasi dari masingmasing

sumber

radiasi,

dan

rata-rata

total

penghitungan

dikalibrasi dengan test pit Houston.


2.5

Hasil Pengukuran

Format pelaporan data SGR lebih kompleks daripada log sinar


gamma total karena mengandung lebih banyak informasi rinci.
Kolom 1 digunakan untuk merekam turunan log sinar gamma
total (SGR), yang merupakan jumlah dari semua kontribusi
radiasi, serta log CGR, yang merupakan jumlah respon kalium
dan thorium, meninggalkan kontribusi dari uranium. Kolom 2 dan
3 digunakan untuk merekam kelimpahan dihitung terkait dengan

radiasi dari kontribusi individu dari masing-masing K 40, U238, dan


Th232. Perlu dicatat bahwa kalium dilaporkan sebagai persentase,
sedangkan U238 dan Th232 dilaporkan dalam bagian per juta
(ppm).

Gambar 1.4 Presentasi dari log spektral sinar gamma.


Pada GR Log didapatkan suatu kurva yang menunjukkan
besarnya intensitas radioaktif yang ada dalam formasi. Dengan
menarik garis GR yang mempunyai harga minimum dan harga
maksimum pada penampang log maka kurva GR yang jatuh
diantara kedua lapisan kurva tersebut merupakan indikasi
adanya lapisan shale.

Gambar 1.6 Respon Umum GR Log


Gambar dibawah ini menunjukkan contoh interpretasi
lapisan batuan untuk mendiskriminasi sandstone dari shale
dengan menggunakan log gamma ray.

Gambar 1.7 interpretasi lapisan batuan

Dikarenakan log gamma ray memiliki kapabilitas untuk


mengukur derajat kandungan shale di dalam lapisan batuan,
maka didalam industri migas gamma

ray log kerap kali

digunakan untuk memprediksi besaran volume shale atau


dikenal dengan Vshale dengan formulasi:

Gambar dibawah ini menunjukkan teknis perhitungan


Vshale untuk shale A dari sebuah gamma ray log. Perhatikan
bahwa penentuan nilai-nilai tersebut bersifat interpretatif.

Gambar 1.8 Teknis perhitungan Vshale A


2.6 Faktor yang Mempengaruhi Respon Alat
1 Kecepatan logging

Gambar 1.9 Efek Konstanta Waktu dan Kecepatan Loging


Sementara

semua

argumen

tentang

kecepatan

logging untuk alat sinar gamma total juga cocok untuk alat
spektral, fluktuasi statistik kini harus diterapkan pada
proporsi rata-rata perhitungan gamma total. Jika kualitas
data baik untuk masing-masing K40, U238 dan Th232
harus diperoleh, akibatnya kecepatan logging harus lebih
rendah. Dalam prakteknya, log biasanya dijalankan 2
sampai 3 kali lebih lambat dari total gamma ray log.
Namun, hasil ini dalam log SGR merupakan kualitas yang
sangat tinggi.
2 Borehole Effect
Dipengaruhi oleh tipe alat dan ukuran lubang bor.
Seperti dengan log sinar gamma total, alat spektral dapat
dijalankan berpusat di lubang bor atau mendorong dinding
lubang

bor

ambrukan,

(eccentred).
log

gamma

Jika

lubang

ray

spectral

bor

mengalami

dapat

sangat

terpengaruh dengan cara yang sama sebagai alat sinar

gamma total, meskipun efeknya tidak seburuk untuk versi


eccentred. Koreksi grafik untuk alat sinar gamma spektral
juga

diberikan

oleh

perusahaan

alat

logging

untuk

konfigurasi centred dan eccentred.


3 Tipe Lumpur
Densitas lumpur memiliki pengaruh pada tingkat
deteksi, lumpur dengan densitas tinggi menyerap sinar
gamma

lebih

efisien

dan

mengurangi

rata-rata

perhitungan. Hal ini diperhitungkan untuk koreksi lubang


bor, yang dilakukan untuk densitas lumpur pemboran yang
diberikan (berat lumpur). Efek terburuk yang terlihat ketika
digunakan lumpur barit (barite mud), sebagaimana barite
efisien dalam menyerap sinar gamma. Sekali lagi, versi
eccentred kurang rentan terhadap berat lumpur.
Permasalahan lumpur pemboran berbasis KCl dengan
alat spektral juga jelas. Namun, efeknya dari lumpur KCl
hanya akan terlihat dalam log SGR, CGR dan kalium. Sekali
lagi, versi eccentred kurang rentan terhadap lumpur KCl.
2.7

Kegunaan
Log gamma ray digunakan untuk membedakan lapisan-

lapisan shale dan non shale pada sumur-sumur open hole atau
cased hole dan juga pada kondisi ada lumpur maupun tidak. Log
Sinar Gamma digunakan untuk identifikasi litologi, korelasi antar
formasi,

dan

perhitungan

volume

shale

atau

prosentase

kandungan shale pada lapisan permeable. Log ini juga bisa


menentukan kedalaman perforasi yang telah diinjeksi air (water
plugging).
Sinar gamma sangat efektif dalam membedakan lapisan
permeable dan non permeable karena unsur-unsur radioaktif
cenderung berpusat di dalam serpih yang non permeable dan

tidak banyak terdapat dalam batuan karbonat atau pasir yang


secara

umum

besifat

permeable.

Kadangkala

lumpur

bor

mengandung sejumlah unsur Potasium karena zat Potassium


Chloride

ditambahkan

pembengkakan

serpih.

kedalam

lumpur

Radioaktivitas

untuk

dari

mencegah

lumpur

akan

mempengaruhi pembacaan Log Gamma Ray berupa tingkatan


latar belakang radiasi yang tinggi.
1 Identifikasi Lithologi
2 Korelasi Inter-Well : Abu vulkanik (bentonitic intervals)
memungkinkan

untuk

terkumpul

pada

waktu

yang

bersamaan pada area yang luas. Oleh karena itu mereka


dapat digunakan untuk mengkorelasikan antar sumur.
Puncak dalam log thorium umumnya menunjukkan tanda
yang tepat dalam korelasi ini.
3 Deteksi Phosphat : Uranium juga berasosiasi dengan
phosphat
4 Sedimentologi : beberapa data sedimentologi yang penting
ditunjukkan pada tabel di bawah ini

Tabel Sedimentological inferences dari data SGR


5 Estimasi Potensi Uranium
6 Kapasitas
tingkat
Kation

dapat

dihitung

dengan

mengetahui tipe dan kuantitas clays dalam batuan dari


data SGR
7 Potensi Hidrokarbon : Materi organic mengandung uranium.
Jika terkumpul dalam lingkungan dan dapat dipertahankan
maka

bertransformasi

terdapat

korelasi

menjadi

antara

hidrokarbon.

kandungan

Sehingga,

uranium

dan

hidrokarbon. Hal ini memungkinkan untuk mengevaluasi


total

kandungan

karbon

organic

pada

batuan

dari

kandungan uranium yang didapatkan dari SGR Log -menyediakan hubungan dikalibrasi menggunakan data inti
(core data). Potensi hidrokarbon dari batuan dapat berasal
dari total kandungan karbon organik.
8 Deteksi Rekahan : Garam Uranium terlarut kemudian dapat
diendapkan di sepanjang rekahan, menyebabkan puncak
lokal dalam uranium SGR Log. Namun, puncak uranium
lokal

tidak

jelas

mengindikasikan

rekahan,

sehingga

kehadiran mereka harus diperiksa pada beberapa gambar


log.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1 Gamma Ray Log adalah metoda untuk mengukur radiasi
sinar gamma yang dihasilkan oleh unsur-unsur radioaktif
yang terdapat dalam lapisan batuan di sepanjang lubang bor
2 Unsur radioaktif umumnya banyak terdapat dalam shale
(serpihcampuran lempung dan lanau) dan sedikit sekali
terdapat

dalam

sandstone,

limestone,

dolomite,

coal,

gypsum, dan lain-lain


3 Sensor yang dapat dipakai untuk mendeteksi sinar gamma
adalah

kristal

sodium

iodida

yang

diaktivasi

dengan

telurium, Na I (Tl).
4 Pada GR Log didapatkan suatu kurva yang menunjukkan
besarnya intensitas radioaktif yang ada dalam formasi.
Dengan menarik garis GR yang mempunyai harga minimum

dan harga maksimum pada penampang log maka kurva GR


yang

jatuh

diantara

kedua

lapisan

kurva

merupakan indikasi adanya lapisan shale.


5 Faktor yang mempengaruhi respon alat

tersebut

diantaranya

kecepatan logging, borehole effect dan tipe lumpur


6 Log gamma ray digunakan untuk membedakan lapisanlapisan shale dan non shale pada sumur-sumur open hole
atau cased hole dan juga pada kondisi ada lumpur maupun
tidak. Log Sinar Gamma digunakan untuk identifikasi litologi,
korelasi antar formasi, dan perhitungan volume shale atau
prosentase kandungan shale pada lapisan permeable. Log
ini juga bisa menentukan kedalaman perforasi yang telah
diinjeksi air (water plugging).

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Agus. 2009. Gamma Ray Log. Diakses tanggal 6
November 2012
Admin. 2012. A Short Lecture Of Petrophysics : Well Log
Interpretation di Universitas Indonesia. Diakses tanggal 7
November 2016
Harsono, Adi. Pengantar Evaluasi Log
Munadi, Suprajitno. 2001. Intrumentasi Geofisika. Depok :
Universitas Indonesia Press