Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR


IMS (Infeksi Menular Seksual)

Kelompok 12
Cici Delsi

1511212029

Sri Budi Mulyani

1511212038

Shahibatul Ihsani

1511212039

Nisa Abdilah

1511212040

Fitri Aulia

1511212060

Dosen Pengampu: Ratno Widoyo, SKM, MKM (RW)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang IMS dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Ratno
Widoyo, SKM, MKM selaku Dosen mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular Fakultas
Kesehatan Masyarakat Unand yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai IMS. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam
makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap
adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Padang, November 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................3
1.1

Latar Belakang..........................................................................................3

1.2

Rumusan Masalah.....................................................................................4

1.3

Tujuan........................................................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................5


2.1

IMS............................................................................................................5

2.1.1

Definisi...............................................................................................5

2.1.2

Epidemiologi Penyakit.......................................................................5

2.1.3

Triad Epidemiologi dan Riwayat Alamiah Penyakit IMS..................6

2.1.4

Jenis jenis IMS................................................................................9

2.1.5

Penularan..........................................................................................28

2.1.6

Diagnosis..........................................................................................29

2.1.7

Analisis Situasi.................................................................................31

2.1.8

Penanggulangan...............................................................................32

BAB III KESIMPULAN.......................................................................................34


3.1

Kesimpulan..............................................................................................34

3.2

Saran........................................................................................................34

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................35

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Infeksi Menular Seksual (IMS) sampai saat ini masih merupakan masalah

kesehatan masyarakat di seluruh dunia, baik di negara maju (industri) maupun di


negara berkembang. Insiden maupun prevalensi yang sebenarnya diberbagai
negara tidak diketahui dengan pasti. IMS merupakan satu kelompok penyakit
yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Berdasarkan laporan
laporan yang dikumpulkan oleh WHO (World Health Organization), setiap tahun
diseluruh negara terdapat sekitar 250 juta penderita baru yang meliputi penyakit
gonore, sifilis, herpes genetalis dan jumlah tersebut menurut hasil analisis WHO
cenderung meningkat dari waktu kewaktu (Daili, 2004, p.251).
Terdapat lebih dari 15 juta kasus IMS dilaporkan pertahun. Kelompok
remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki
risiko paling tinggi untuk tertular IMS, 2 juta kasus baru tiap tahun adalah dari
kelompok ini (Center for Disease Control and Preventation, 2004). Saat ini di
dunia terjadi peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS dari 36.6 juta pada tahun
2002 menjadi 39.4 juta orang pada tahun 2004 sedangkan di Asia diperkirakan
mencapai 8,2 juta orang dengan HIV/AIDS (UNAIDS, 2004). Di Indonesia
beberapa tahun terakhir ini tampak kecenderungan meningkatnya prevalensi IMS
misalnya prevalensi sifilis meningkat sampai 10% pada beberapa kelompok WTS
(Wanita Tuna Susila), 35% pada kelompok waria dan 2% pada kelompok ibu
hamil, prevalensi gonore meningkat sampai 30 40% pada kelompok WTS dan
juga pada penderita IMS yang berobat ke rumah sakit. Demikian juga prevalensi
HIV pada beberapa kelompok perilaku risiko tinggi meningkat tajam sejak tahun
1993 (Daili, 2004, pp.252-253).
Melihat dengan banyaknya kasus Infeksi Menular Seksual yang terjadi,
maka kami memaparkan dalam makalah ini mengenai IMS serta cara pencegahan
3

dan penularannya, sehingga dengan itu diharapkan kasus penyakit ini dapat
berkurang atau bahkan dihapuskan.
1.2

Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan IMS?
2. Bagaimana epidemiologi IMS?
3. Bagaimana Triad Epidemiologi Penyakit IMS?
4. Bagaimana jenis-jenis penyakit IMS?
5. Bagaimanakah penularan penyakit IMS?
6. Bagaimana analisis situasi IMS?
7. Bagaimana cara penanggulangan IMS?

1.3

Tujuan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan IMS.
2. Untuk menjelaskan epidemiologi IMS.
3. Untuk menjelaskan Triad Epidemiologi penyakit IMS.
4. Untuk menjelaskan jenis-jenis penyakit IMS.
5. Untuk menjelaskan penularan penyakit IMS.
6. Untuk menganalisis situasi penyakit IMS.
7. Untuk menjelaskan cara penanggulangan penyakit IMS.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

IMS

2.1.1 Definisi
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama
melalui hubungan seksual yang mencakup infeksi yang disertai gejala-gejala
klinis maupun asimptomatis (Daili, 2009). Penyebab infeksi menular seksual ini
sangat beragam dan setiap penyebab tersebut akan menimbulkan gejala klinis atau
penyakit spesifik yang beragam pula.
Penyebab IMS dapat dikelompokkan atas beberapa jenis, yaitu : (WHO,2007)
1. bakteri ( diantaranya N.gonorrhoeae, C.trachomatis, T.pallidum)
2. virus (diantaranya HSV, HPV, HIV, Herpes B virus, Molluscum
contagiosum virus),
3. protozoa (diantaranya Trichomonas vaginalis)
4. jamur (diantaranya Candida albicans)
5. ektoparasit (diantaranya Sarcoptes scabiei)
2.1.2 Epidemiologi Penyakit
WHO pada tahun 2001 memperkirakan penderita PMS di seluruh dunia
sebanyak 340 juta orang. Sebagian besar penderita di Asia Selatan dan Asia
Tenggara yaitu sebanyak 151 juta, diikuti Afrika sekitar 70 juta, dan yang
terendah adalah Australia dan Selandia Baru sebanyak 1 juta.
Semakin

lama

jumlah

penderita

PMS

semakin

meningkat

dan

penyebarannya semakin merata di seluruh dunia. WHO memperkirakan


morbiditas PMS di dunia sebesar 250 juta orang setiap tahunnya. Peningkatan
insindensi PMS ini terkait juga dengan perilaku berisiko tinggi yang ada di
masyarakat dewasa ini.
Di Indonesia, angka prevalensi PMS bervariasi menurut daerah. Hasil
survey ISR (Infeksi Saluran Reproduksi) tahun 2005 melaporkan angka PMS di

kalangan WTS di Bitung 35%, Jakarta 40%, dan Bandung 50%. Hasil pelaporan
periodic presumptive treatment (PPT) periode I bulan Januari 2007 menunjukkan
hasil yang hampir sama, yaitu angka PMS di Banyuwangi 74,5%, Denpasar
36,6%, Surabaya 61,21%, dan Semarang 79,7%.
2.1.3 Triad Epidemiologi dan Riwayat Alamiah Penyakit IMS
1.

Agent
IMS disebabkan oleh lebih dari 30 bakteri yang berbeda, virus, dan parasit

dan tersebar terutama melalui kontak seksual, termasuk vaginal, anal, dan oral
seks. Berikut beberapa pathogen penyebab IMS dan manifestasi klinis yang
ditimbulkan oleh bakteri (Neisseria gonorrhroeae, Chlamydia trachomatis,
Treponema pallidum, Haemophilus ducreyi, Klebsiela granulomatis, Mycoplasma
genitalium, ureaplasma urealyticum), virus (Human Immunodeficiency Virus /
HIV, Herpes simplex virus / HSV tipe 1 dan 2, Human papillomavirus / HPV,
virus hepatitis B, Virus moluskum kontagiosum), dan parasit (Phtirus pubis,
Sarcoptes scabiel) pada pedoman nasional penanganan infeksi menular seksual
2011.
Pathogen Penyebab dan Jenis IMS yang Ditimbulkan
Pathogen

Manifestasi Klinis dan Penyakit yang Ditimbulkan


INFEKSI BAKTERI

Neisseria gonorrhroeae

GONORE
Laki-laki: Uretritis, epidemitis, orkitis,
kemandulan.
Perempuan: Servisitis, endometritis, salpingitis,
bartolintis, penyakit radang panggul, kemandulan,
ketuban pecah dini, perihepatitis.
Laki-laki dan perempuan: Proktitis, faringitis,
infeksi gonokokus diseminata.
Neonatus: Konjungtivitis, kebutaan.

Chlamydia trachomatis

KLAMIDIASIS (INFEKSI KLAMIDIA)


Laki-laki: Uretritis, epidemitis, orkitis,

kemandulan.
Perempuan: Servisitis, endometritis, salpingitis,
bartolintis, penyakit radang panggul, kemandulan,
ketuban pecah dini, perihepatitis, umumnya
asimptomatik.
Laki-laki dan perempuan: Proktitis, faringitis,
sindrom Relter.
Neonatus: Konjungtivitis, pneumonia.

Chlamydia trachomatis
(Galur L1 L3)

LIMFOGRANULOMA VENEREUM
Laki-laki dan perempuan: Ulkus, bubo
inguinalis, proktitis.

Treponema pallidum

SIFILIS
Perempuan: Abortus, bayi lahir mati, kelahiran
premature.
Laki-laki dan perempuan: Ulkus durum dengan
pembesaran kelenjar getah bening local, erupsi
kulit, kandiloma lata, kerusakan tulang,
kardiovaskular dan neurologis.
Neonatus: Lahir mati, sifilis kongenital.

Haemophilus ducreyi

CHANCROID (ULKUS MOLE)

INFEKSI VIRUS
Human

INFEKSI HIV / ACQUIRED

Immunodeficiency Virus

IMMUNODEFICIENCY SYNDROME (AIDS)


Laki-laki dan perempuan: Penyakit yang

(HIV)

berkaitan dengan infeksi HIV, AIDS.


Herpes simplex virus
(HSV) tipe 1 dan 2

HERPES GENITALIS
Laki-laki dan perempuan: Lesi vesicular dan /
atau ulseratif di daerah genitalia dan anus.
Neonatus: Herpes neonates.

Human papillomavirus
(HPV)

KUTIL KELAMIN
Laki-laki: Kutil di daerah penis dan anus, kanker
penis dan anus.
Perempuan: Kutl di daerah vulva, vagina, anus
dan serviks; kanker serviks, vulva, dan anus.
Neonatus: Papiloma larings.

virus hepatitis B

HEPATITIS VIRUS
Laki-laki dan perempuan: Hepatitis akut, serosis
hati, kanker hati.

Virus moluskum
kontagiosum

MOLUSKUM KONTAGLOSUM
Laki-laki dan perempuan: Papul multiple,
diskret, berumbilikasi di daerah genitalia atau
generalisata.
INFEKSI PARASIT

Phtirus pubis

PEDIKULOSIS PUBIS
Laki-laki dan perempuan: Papul eritromatosa,
gatal, terdapat kutu dan telur di rambut pubis.

Sarcoptes scabiel

SKABIES
Papul gatal di tempat predileksi terutama malam
hari.

2.1.4

Jenis jenis IMS

Beberapa jenis IMS yang paling umum ditemukan di Indonesia adalah:


2.1.4.1 Gonore
2.1.4.1.1.1 Defenisi

Gonore merupakan semua penyakit yang disebabkan oleh bakteri


Neisseria gonorrhoeae yang bersifat purulen dan dapat menyerang permukaan
mukosa manapun di tubuh manusia (Behrman, 2009).
2.1.4.1.1.2 Epidemiologi
Di dunia, gonore merupakan IMS yang paling sering terjadi sepanjang
abad ke 20, dengan perkiraan 200 juta kasus baru yang terjadi tiap tahunnya
(Behrman, 2009). Sejak tahun 2008, jumlah penderita wanita dan pria sudah
hampir sama yaitu sekitar 1,34 tiap 100.000 penduduk untuk wanita dan 1,03 tiap
100.000 penduduk untuk pria (CDC,2009).Sedangkan di Indonesia, dari data
rumah sakit yang beragam seperti RSU Mataram pada tahun 1989 dilaporkan
gonore yang sangat tinggi yaitu sebesar 52,87% dari seluruh penderita IMS.
Sedangkan pada RS Dr.Pirngadi Medan ditemukan 16% dari sebanyak 326
penderita IMS (Hakim, 2009).
2.1.4.1.1.3 Etiologi dan morfologi
Gonore disebabkan oleh gonokokus yang ditemukan oleh Neisser pada
tahun 1879. Kuman ini masuk dalam kelompok Neisseria sebagai N.gonorrhoeae
bersama dengan 3 spesies lainnya yaitu, N.meningitidis, N.catarrhalis dan
N.pharyngis sicca.Gonokok termasuk golongan diplokokus berbentuk biji kopi
dengan lebar 0,8 u dan pajang 1,6 u. Kuman ini bersifat tahan asam, gram negatif,
dan dapat ditemui baik di dalam maupun di luar leukosit.
Kuman ini tidak dapat bertahan hidup pada suhu 39 derajat Celcius, pada
keadaan kering dan tidak tahan terhadap zat disinfektan. Gonokok terdiri atas 4
tipe yaitu tipe 1, tipe 2, tipe 3 dan tipe 4. Namun, hanya gonokok tipe 1 dan tipe 2

yang bersifat virulen karena memiliki pili yang membantunya untuk melekat pada
mukosa epitel terutama yang bertipe kuboidal atau lapis gepeng yang belum matur
dan menimbulkan peradangan (Daili, 2009).
2.1.4.1.1.4 Gejala klinis
Masa tunas gonore sangat singkat yaitu sekitar 2 hingga 5 hari pada pria.
Sedangkan pada wanita, masa tunas sulit ditentukan akibat adanya kecenderungan
untuk bersifat asimptomatis pada wanita.Keluhan subjektif yang paling sering
timbul adalah rasa gatal, disuria, polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen dari
ujung uretra yang kadang-kadang dapat disertai darah dan rasa nyeri pada saat
ereksi.
Pada pemeriksaan orifisium uretra eksternum tampak kemerahan, edema,
ekstropion dan pasien merasa panas. Pada beberapa kasus didapati pula
pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral maupun bilateral.Gambaran
klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dari pria. Pada wanita, gejala
subjektif jarang ditemukan dan hampir tidak pernah didapati kelainan objektif.
Adapun gejala yang mungkin dikeluhkan oleh penderita wanita adalah rasa nyeri
pada panggul bawah, dan dapat ditemukan serviks yang memerah dengan erosi
dan sekret mukopurulen (Daili, 2009).
2.1.4.1.1.5 Pemeriksaan
1.

Pemeriksaan Gram dengan menggunakan sediaan langsung dari duh uretra

memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi terutama pada duh uretra pria,
sedangkan duh endoserviks memiliki sensitivitas yang tidak begitu tinggi. Pemeriksaan

ini akan menunjukkan N.gonorrhoeae yang merupakan bakteri gram negatif dan dapat
ditemukan baik di dalam maupun luar sel leukosit.
2.
Kultur untuk bakteri N.gonorrhoeae umumnya

dilakukan pada media

pertumbuhan Thayer-Martin yang mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan


kuman gram positif dan kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-gram dan
nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur. Pemeriksaan kultur ini merupakan
pemeriksaan dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, sehingga sangat dianjurkan
dilakukan terutama pada pasien wanita.
3.
Tes defenitif: dimana pada tes oksidasi akan ditemukan semua Neisseria akan
mengoksidasi dan mengubah warna koloni yang semula bening menjadi merah muda
hingga merah lembayung. Sedangkan dengan tes fermentasi dapat dibedakan
N.gonorrhoeae yang hanya dapat meragikan glukosa saja.
4.
Tes beta-laktamase: tes ini menggunakan cefinase TM disc dan akan tampak
perubahan warna koloni dari kuning menjadi merah.
5.
Tes Thomson: tes ini dilakukan dengan menampung urine setelah bangun pagi ke
dalam 2 gelas dan tidak boleh menahan kencing dari gelas pertama ke gelas kedua. Hasil
dinyatakan positif jika gelas pertama tampak keruh sedangkan gelas kedua tampak jernih
(Daili, 2009).

2.1.4.1.1.6 Komplikasi
Komplikasi gonore sangat erat hubungannya dengan susunan anatomi dan faal
genitalia (Daili, 2009). Komplikasi lokal pada pria dapat berupa tisonitis, parauretritis,
littritis, dan cowperitis. Selain itu dapat pula terjadi prostatitis, vesikulitis, funikulitis,
epididimitis yang dapat menimbulkan infertilitas.
Sementara pada wanita dapat terjadi servisitis gonore yang dapat menimbulkan
komplikasi salpingitis ataupun penyakit radang panggul dan radang tuba yang dapat
mengakibatkan infertilitas atau kehamilan ektopik. Dapat pula terjadi komplikasi
diseminata seperti artritis, miokarditis, endokarditis, perikarditis, meningitis dan

dermatitis. Infeksi gonore pada mata dapat menyebabkan konjungtivitis hingga kebutaan
(Behrman, 2009 ).

2.1.4.1.2 Infeksi Genital Non-Spesifik (IGNS)


2.1.4.1.2.1 Defenisi
IGNS merupakan infeksi traktus genital yang disebabkan oleh penyebab
yang nonspesifik yang meliputi beberapa keadaan yaitu Uretritis Non-spesifik
(UNS), proktitis nonspesifik dan Uretritis Non-Gonore (UGN) (Lumintang,
2009).
2.1.4.1.2.2 Epidemiologi
Di dunia, WHO memperkirakan terdapat 140 juta kasus yang terjadi akibat
infeksi C.trachomatis. Terdapat 1,1 juta kasus dilaporkan di Amerika Serikat
dengan prevalensi tertinggi terjadi pada wanita diusia 15-24 tahun pada tahun
2007 (Struble, 2010). Sedangkan di Indonesia, dari data yang diambil dari
poliklinik IMS RS dr.Pirngadi Medan didapatkan prevalensi UNG sebesar 54%
pada tahun 1990-1991. Di RSUP Denpasar prevalensi UNG/IGNS sebesar 13,8%
pada tahun 1993-1994.
Sedangkan pada penelitian yang dilakukan terhadap kelompok pramuwaria
di Jakarta mendapatkan data prevalensi klamidia sebesar 35,48% dari 62 orang
yang diperiksa sedangkan pada pemeriksaan terhadap WTS di Medan
menunjukkan prevalensi sebesar 45% (Hakim, 2009).

2.1.4.1.2.3 Etiologi dan morfologi


Penyebab

30%

hingga

50%

kasus

IGNS

adalah

Chamydia

trachomatis,sedangkan kasus selebihnya umumnya disebabkan oleh Ureaplasma


urealyticum. Chlamydia trachomatis, imunotipe D sampai dengan K, ditemukan
pada 35 50 % dari kasus uretritis non gonokokus. Klamidia yang menyebabkan
penyakit pada manusia diklasifikasikan menjadi tiga spesies, yaitu: (Struble,
2010)
1.
2.

Chlamydia psittaci, penyebab psittacosis.


C. trachomatis, termasuk serotipe yang menyebabkan trachoma infeksi alat
kelaminn Chlamydia conjunctivitis dan pneumonia anak dan serotipe lain

3.

yang menyebabkan Lymphogranuloma venereum.


C. pneumoniae, penyebab penyakit saluran pernapasan termasuk pneumonia
dan merupakan penyebab penyakit arteri koroner.

2.1.4.1.2.4 Gejala klinis


Penting untuk mengetahui adanya koitus suspektus yang biasanya terjadi 1
hingga 5 minggu sebelum timbulnya gejala. Juga penting untuk mengetahui
apakah telah melakukan hubungan seksual dengan istri pada waktu keluhan
sedang berlangsung, mengingat hal ini dapat menyebabkan fenomena penularan
pingpong (Lumintang, 2009).
Menurut Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual Depkes RI,
infeksi melalui hubungan seksual ini pada pria muncul sebagai uretritis dan pada
wanita sebagai servisitis mukopurulen. Manifestasi klinis dari uretritis kadang
sulit dibedakan dengan gonorrhea dan termasuk adanya discharge mukopurulen
dalam jumlah sedikit atau sedang, terutama pada pagi hari (morning drops) dan
dapat pula berupa bercak di celana dalam, gatal pada uretra dan rasa panas ketika

buang air kecil. Infeksi tanpa gejala bisa ditemukan pada 1-25% pria dengan
aktivitas seksual aktif.
Pada wanita, manifestasi klinis mungkin sama dengan gonorrhea, dan
seringkali muncul sebagai discharge endoservik mukopurulen, disertai dengan
pembengkakan, eritema dan mudah mengakibatkan perdarahan endoservik
disebabkan oleh peradangan dari epitel kolumner endoservik. Namun, 70 % dari
wanita dengan aktivitas seksual aktif yang menderita klamidia, biasanya tidak
menunjukkan gejala. Infeksi kronis tanpa gejala dari endometrium dan saluran
tuba bisa memberikan hasil yang sama. Manifestasi klinis lain namun jarang
terjadi seperti bartolinitis, sindroma uretral dengan disuria dan pyuria,
perihepatitis (sindroma Fitz-Hugh-Curtis) dan proktitis. Infeksi yang terjadi
selama kehamilan bisa mengakibatkan ketuban pecah dini dan menyebabkan
terjadinya kelahiran prematur, serta dapat menyebabkan konjungtivitis dan radang
paru pada bayi baru lahir. Infeksi klamidia endoserviks meningkatkan risiko
terkena infeksi HIV. Infeksi klamidia bisa terjadi bersamaan dengan gonorrhea,
dan tetap bertahan walaupun gonorrhea telah sembuh.
Oleh karena servisitis yang disebabkan oleh gonokokus dan klamidia sulit
dibedakan secara klinis maka pengobatan untuk kedua mikroorganisme ini
dilakukan pada saat diagnosa pasti telah dilakukan. Namun pengobatan terhadap
gonorrhea tidak selalu dilakukan jika diagnosa penyakit disebabkan C.
trachomatis.
2.1.4.1.2.5 Pemeriksaan

Diagnosa Uretritis Non Gonokokus (UNG) atau diagnosa servisitis non


gonokokus ditegakkan biasanya didasarkan pada kegagalan menemukan Neisseria
gonorrhoeae melalui sediaan apus dan kultur. Klamidia sebagai penyebab
dipastikan dengan pemeriksaan preparat apus yang diambil dari uretra atau
endoserviks atau dengan tes IF langsung dengan antibodi monoklonal, EIA, Probe
DNA, tes amplifikasi asam nukleus (Nucleic Acid Amplification Test, NAAT), atau
dengan kultur sel. NAAT bisa dilakukan dengan menggunakan spesimen urin.
Organisme intraseluler sulit sekali dihilangkan dari discharge.
Pada pemeriksaan sekret uretra dengan pewarnaan Gram ditemukan
leukosit lebih dari 5 pada pemeriksaan mikroskop dengan pembesaran 1000 kali.
Pada pemeriksaan mikroskopik sekret serviks dengan pewarnaan Gram
didapatkan leukosit lebih dari 30 per lapangan pandang dengan pembesaran 1000
kali. Tidak dijumpai diplokokus negatif gram, serta pada pemeriksaan sediaan
basah tidak didapati parasit Trichomonas vaginalis (Lumintang,2009).
Pembiakan C.trachomatis yang bersifat obligat intraseluler harus
dilakukan pada sel hidup. Sel hidup ini dibiakkan dalam gelas kaca yang disebut
biakan monolayer seperti Mc Coy dan BHK yang dapat dilihat hasil
pertumbuhannya pada hari ketiga. 2.4.2.6. Komplikasi
Komplikasi dan gejala sisa berupa salpingitis dengan risiko infertilitas,
kehamilan diluar kandungan atau nyeri pelvis kronis. Komplikasi dan gejala sisa
mungkin terjadi dari infeksi uretra pada pria berupa epididimitis, infertilitas dan
sindroma Reiter. Pada pria homoseksual, hubungan seks anorektal bisa
menyebabkan proktitis klamidia (Ditjen PP&PL).

2.1.4.1.3 Sifilis
2.1.4.1.3.1 Defenisi
Sifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum
yang bersifat kronis dan sistemik ditandai dengan lesi primer diikuti dengan
erupsi sekunder pada kulit dan selaput lendir kemudian masuk kedalam periode
laten tanpa manifestasi lesi di tubuh diikuti dengan lesi pada kulit, lesi pada
tulang, saluran pencernaan, sistem syaraf pusat dan sistem kardiovaskuler. Infeksi
ini dapat ditularkan kepada bayi di dalam kandungan (sifilis kongenital) (Hutapea,
2010).
2.1.4.1.3.2 Epidemiologi
Sifilis tersebar diseluruh dunia dan telah dikenal sebagai penyakit kelamin
klasik yang dapat dikendalikan dengan baik. Di Amerika Serikat kejadian sifilis
dan sifilis kongenital yang dilaporkan meningkat sejak tahun 1986 dan berlanjut
sampai dengan tahun 1990 dan kemudian menurun sesudah itu. Peningkatan ini
terjadi terutama di kalangan masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah dan
di kalangan anak-anak muda dengan kelompok usia yang paling sering terkena
infeksi adalah golongan usia muda berusia antara 20 29 tahun, yang aktif secara
seksual.
Adanya perbedaan prevalensi penyakit pada ras yang berbeda lebih
disebabkan oleh faktor sosial daripada faktor biologis. Dari data tahun 1981-1989

insidensi sifilis primer dan sekunder di Amerika Serikat meningkat 34% yaitu
18,4% per 100.000 penduduk. Dibanyak wilayah di AS, terutama di daerah
perkotaan dan di daerah pedesaan bagian selatan faktor risiko yang
melatarbelakangi peningkatan prevalensi sifilis pada kelompok ini antara lain
pemakaian obat-obat terlarang, prostitusi, AIDS dan hubungan seks pertama kali
pada usia muda. Pada tahun 2003-2004 terjadi peningkatan prevalensi sifilis
sebanyak 8 % dari 2,5 menjadi 2,7 per 100.000 populasi. Sedangkan pada tahun
2006 2007 terjadi peningkatan 12% dari 3,3 menjadi 3,7 per 100.000 populasi
(Liu,2009).
2.1.4.1.3.3 Etiologi dan morfologi
Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang merupakan spesies
Treponema dari famili Spirochaetaceae, ordo Spirochaetales. Treponema
pallidum berbentuk spiral, negatif-Gram dengan panjang rata-rata 11 m (antara
6-20 m) dengan diameter antara 0,09 0,18 m. Treponema pallidum
mempunyai titik ujung terakhir dengan 3 aksial fibril yang keluar dari bagian
ujung lapisan bawah. Treponema dapat bergerak berotasi cepat, fleksi sel dan
maju seperti gerakan pembuka tutup botol (Hutapea, 2009).
2.1.4.1.3.4 Gejala klinis
Menurut hasil pemeriksaan histopatologis, perjalanan penyakit sfilis
merupakan penyakit pembuluh darah dari awal hingga akhir. Dasar perubahan
patologis sfilis adalah inviltrat perivaskular yang terdiri atas limfosit dan plasma
sel. Hal ini merupakan tanda spesifik namun tidak patognomonis untuk sfilis. Sel
infiltrat tampak mengelilingi endotelial yang berproliferasi sehingga menebal.

Penebalan ini mengakibatkan timbulnya trombosis yang menyebabkan fokusfokus nekrosis kecil sebagai lesi primer.
Periode inkubasi sifilis biasanya 3 minggu. Fase sifilis primer ditandai
dengan munculnya tanda klinis yang pertama yang umumnya berupa tukak baik
tunggal maupun multipel. Lesi awal biasanya berupa papul yang mengalami erosi,
teraba keras dan terdapat indurasi. Permukaan dapat tertutup krusta dan terjadi
ulserasi. Bagian yang mengelilingi lesi meninggi dan keras. Pada pria biasanya
disertai dengan pembesaran kelenjar limfe inguinal media baik unilateral maupun
bilateral. Masuknya mikroorganisme ke dalam darah terjadi sebelum lesi primer
muncul, biasanya ditandai dengan terjadinya pembesaran kelenjar limfe (bubo)
regional, tidak sakit, keras nonfluktuan. Infeksi juga dapat terjadi tanpa
ditemukannya chancer (ulkus durum) yang jelas, misalnya kalau infeksi terjadi di
rektum atau serviks. Tanpa diberi pengobatan, lesi primer akan sembuh spontan
dalam waktu 4 hingga 6 minggu.
Sepertiga dari kasus yang tidak diobati mengalami stadium generalisata,
stadium dua, dimana muncul erupsi di kulit yang kadang disertai dengan gejala
konstitusional tubuh. Timbul ruam makulo papuler bisanya pada telapak tangan
dan telapak kaki diikuti dengan limfadenopati. Erupsi sekunder ini merupakan
gejala klasik dari sifilis yang akan menghilang secara spontan dalam beberapa
minggu atau sampai dua belas bulan kemudian. Sifilis sekunder dapat timbul
berupa ruam pada kulit, selaput lendir dan organ tubuh dan dapat disertai demam
dan malaise. Juga adanya kelainan kulit dan selaput lendir dapat diduga sifilis
sekunder, bila ternyata pemeriksaan serologis reaktif. Pada kulit kepala dijumpai

alopesia yang disebut moth-eaten alopecia yang dimulai di daerah oksipital.


Dapat dijumpai plakat pada selaput lendir mulut, kerongkongan dan serviks. Pada
beberapa kasus ditemukan pula splenomegali. Penularan dapat terjadi jika ada lesi
mukokutaneus yang basah pada penderita sifilis primer dan sekunder. Namun jika
dilihat dari kemampuannya menularkan kepada orang lain, maka perbedaan antara
stadium pertama dan stadium kedua yang infeksius dengan stadium laten yang
non infeksius adalah bersifat arbitrari, oleh karena lesi pada penderita sifilis
stadium pertama dan kedua bisa saja tidak kelihatan.
Lesi pada sifilis stadium dua bisa muncul berulang dengan frekuensi
menurun 4 tahun setelah infeksi. Namun penularan jarang sekali terjadi satu tahun
setelah infeksi. Dengan demikian di AS penderita sifilis dianggap tidak menular
lagi setahun setelah infeksi. Transmisi sifilis dari ibu kepada janin kemungkinan
terjadi pada ibu yang menderita sifilis stadium awal namun infeksi dapat saja
berlangsung selama stadium laten. Penderita stadium erupsi sekunder ini,
sepertiga dari mereka yang tidak diobati akan masuk kedalam fase laten selama
berminggu minggu bahkan selama bertahun tahun. Fase laten merupakan stadium
sifilis tanpa gejala klinis namun dengan pemeriksaan serologis yang reaktif. Akan
tetapi bukan berarti perjalanan penyakit akan berhenti pada tingkat ini, sebab
dapat terjadi sifilis stadium lanjut berbentuk gumma, kelainan susunan syaraf
pusat dan kardiovaskuler. Terserangnya Susunan Syaraf Pusat (SSP) ditandai
dengan

gejala

meningitis

sifilitik

akut

dan

berlanjut

menjadi

sifilis

meningovaskuler dan akhirnya timbul paresis dan tabes dorsalis. Periode laten ini
kadang kala berlangsung seumur hidup. Pada kejadian lain yang tidak dapat

diramalkan, 5 20 tahun setelah infeksi terjadi lesi pada aorta yang sangat
berbahaya (sifilis kardiovaskuler) atau gumma dapat muncul dikulit, saluran
pencernaan tulang atau pada permukaan selaput lendir.
Stadium awal sifilis jarang sekali menimbulkan kematian atau disabilitas
yang serius, sedangkan stadium lanjut sifilis memperpendek umur, menurunkan
kesehatan dan menurunkan produktivitas dan efisiensi kerja. Mereka yang
terinfeksi sifilis dan pada saat yang sama juga terkena infeksi HIV cenderung
akan menderita sifilis SSP. Oleh karena itu setiap saat ada penderita HIV dengan
gejala SSP harus dipikirkan kemungkinan yang bersangkutan menderita
neurosifilis (neurolues).
Infeksi pada janin terjadi pada ibu yang menderita sifilis stadium awal
pada saat mengandung bayinya dan ini sering sekali terjadi sedangkan
frekuensinya makin jarang pada ibu yang menderita stadium lanjut sifilis pada
saat mengandung bayinya. Infeksi pada janin dapat berakibat terjadi aborsi,
stillbirth atau kematian bayi karena lahir prematur atau lahir dengan Berat Badan
Lahir Rendah (BBLR) atau mati karena menderita penyakit sistemik.
Bayi yang menderita sifilis mempunyai lesi mukokutaneus basah yang
muncul lebih menyebar dibagian tubuh lain dibandingkan dengan penderita sifilis
dewasa. Lesi basah ini merupakan sumber infeksi yang sangat potensial.
Infeksi kongenital dapat berakibat munculnya manifestasi klinis yang
muncul kemudian berupa gejala neurologis terserangnya SSP. Dan kadangkala
infeksi

kongenital dapat mengakibatkan berbagai kelainan fisik yang dapat


menimbulkan stigmatisasi di masyarakat seperti gigi Hutchinson, saddlenose
(hidung berbentuk pelana kuda), saber shins (tulang kering berbentuk pedang),
keratitis interstitialis dan tuli. Sifilis kongenital kadang asimtomatik, terutama
pada minggu-minggu pertama setelah lahir (Hutapea, 2009).
2.1.4.1.3.5 Pemeriksaan
Beberapa pemeriksaan terhadap sifilis dapat dilakukan dengan berbagai
cara:
1.

Pemeriksaan lapangan gelap (dark field) dengan bahan pemeriksaan dari

bagian dalam lesi. Ruam sifilis primer dibersihkan dengan larutan NaCl fisiologis.
Serum diperoleh dari bagian dasar atau dalam lesi dengan cara menekan lesi
sehingga serum akan keluar. Kemudian serum diperiksa pada lapangan gelap
untuk melihat ada tidaknya T.pallidum berbentuk ramping, dengan gerakan lambat
dan angulasi. Bahan apusan lesi dapat pula diperiksa dengan metode mikroskop
fluoresensi, namun pemeriksaan ini memberikan hasil yang kurang dapat
dipercaya sehingga pemeriksaan dark field lebih umum dilaksanakan.
2.

Penentuan antibodi di dalam serum yang timbul akibat infeksi T.pallidum.

Tes yang dilakukan sehari-hari dapat menunjukkan reaksi IgM dan juga IgG tetapi
tidak dapat menunjukkan antibodi spesifik adalah tes Wasserman, tes Kahn, tes
VDRL (Veneral Diseases Research Laboratory), tes RPR (Rapid Plasma Reagin)
dan tes Automated Reagin. Tes-tes tersebut merupakan tes standar untuk sifilis
dan memiliki spesifisitas rendah sebab dapat menunjukkan hasil positif semu.
Sedangkan tes RPCF ( Reiter Protein Complement Fixation) merupakan tes yang

dapat menunjukkan kelompok antibodi spesifik. Tes dengan spesifitas tinggi dan
dapat menentukan antibodi spesifik sifilis ini adalah tes TPI, tes FTA-ABS, tes
TPHA dan tes Elisa (Hutapea, 2009).
Menurut Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual Depkes RI
tahun 2006, diagnosa sifilis dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium yaitu
pemeriksaan serologis terhadap darah dan likuor serebrospinalis. 2.4.3.6.
Komplikasi
Sifilis stadium lanjut yang dapat menyebakan neurosifilis, sifilis
kardiovaskuler, dan sifilis benigna lanjut dapat menyebabkan kematian bila
menyerang otak.
2.1.4.1.4 Herpes genitalis
2.1.4.1.4.1 Defenisi
Herpes genitalis adalah infeksi pada genital yang disebabkan oleh Herpes
Simplex Virus (HSV) dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok
dengan dasar eritema dan bersifat rekurens (CDC Fact Sheet, 2007).
2.1.4.1.4.2 Epidemiologi
Data- data di beberapa RS di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi
herpes genital rendah sekali pada tahun 1992 di RSUP dr.Moewardi yaitu hanya
10 kasus dari 9983 penderita IMS. Namun, prevalensi di RSUD Dr.Soetomo agak
tinggi yaitu sebesar 64 dari 653 kasus IMS dan lebih tinggi lagi di RSUP
Denpasar yaitu 22 kasus dari 126 kasus IMS (Hakim, 2009).

2.1.4.1.4.3 Etiologi dan morfologi


Herpes Simplex Virus (HSV) dibedakan menjadi 2 tipe oleh SHARLITT
tahun 1940 menjadi HSV tipe 1 dan HSV tipe 2. Secara serologik, biologik dan
fisikokimia, keduanya hampir tidak dapat dibedakan. Namun menurut hasil
penelitian, HSV tipe 2 merupakan tipe dominan yang ditularkan melalui hubungan
seksual genito-genital. HSV tipe 1 justru banyak ditularkan melalui aktivitas
seksual oro-genital atau melalui tangan (Salvaggio, 2009).
2.1.4.1.4.4 Gejala klinis
Gejala awalnya mulai timbul pada hari ke 4-7 setelah terinfeksi. Gejala
awal biasanya berupa gatal, kesemutan dan sakit. Lalu akan muncul bercak
kemerahan yang kecil, yang diikuti oleh sekumpulan lepuhan kecil yang terasa
nyeri. Lepuhan ini pecah dan bergabung membentuk luka yang melingkar. Luka
yang terbentuk biasanya menimbulkan nyeri dan membentuk keropeng. Penderita
bisa mengalami nyeri saat berkemih atau disuria dan ketika berjalan akan timbul
nyeri. Luka akan membaik dalam waktu 10 hari tetapi bisa meninggalkan jaringan
parut. Kelenjar getah bening selangkangan biasanya agak membesar. Gejala awal
ini sifatnya lebih nyeri, lebih lama dan lebih meluas dibandingkan gejala
berikutnya dan mungkin disertai dengan demam dan tidak enak badan (Salvaggio,
2009).
Pada pria, lepuhan dan luka bisa terbentuk di setiap bagian penis, termasuk
kulit depan pada penis yang tidak disunat. Pada wanita, lepuhan dan luka bisa
terbentuk di vulva dan leher rahim. Jika penderita melakukan hubungan seksual

melalui anus, maka lepuhan dan luka bisa terbentuk di sekitar anus atau di dalam
rektum. Pada penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita infeksi
HIV), luka herpes bisa sangat berat, menyebar ke bagian tubuh lainnya, menetap
selama beberapa minggu atau lebih dan resisten terhadap pengobatan dengan
asiklovir.
Gejala-gejalanya cenderung kambuh kembali di daerah yang sama atau di
sekitarnya, karena virus menetap di saraf panggul terdekat dan kembali aktif
untuk kembali menginfeksi kulit. HSV-2 mengalami pengaktivan kembali di
dalam saraf panggul. HSV-1 mengalami pengaktivan kembali di dalam saraf
wajah dan menyebabkan fever blister atau herpes labialis. Tetapi kedua virus bisa
menimbulkan penyakit di kedua daerah tersebut. Infeksi awal oleh salah satu virus
akan memberikan kekebalan parsial terhadap virus lainnya, sehingga gejala dari
virus kedua tidak terlalu berat.
2.1.4.1.4.5 Pemeriksaan
Diagnosis secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa
vesikel berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekuren. Pemeriksaan
laboratorium yang paling sederhana adalah tes Tzank yang diwarnai dengan
pengecatan Giemsa atau Wright dimana akan tampak sel raksasa berinti banyak.
Cara terbaik dalam menegakkan diagnosa adalah dengan melakukan kultur
jaringan karena paling sensitif dan spesifik. Namun cara ini membutuhkan waktu
yang banyak dan mahal. Dapat pula dilakukan tes-tes serologis terhadap antigen
HSV baik dengan cara imunoflouresensi, imunoperoksidase maupun ELISA
(Daili, 2009).

2.1.4.1.4.6 Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakutkan adalah akibat dari penyakit ini pada
bayi yang baru lahir (Daili, 2009). Herpes genitalis pada trimester awal kehamilan
dapat menyebabkan abortus atau malformasi kongenital berupa mikroensefali.
Pada bayi yang lahir dari ibu pengidap herpes ditemukan berbagai kelainan seperti
hepatitis, ensefalitis, keratokonjungtifitis bahkan stillbirth.
2.1.4.1.5 Kondiloma Akuminata
2.1.4.1.5.1 Defenisi
Kondiloma akuminata (KA) adalah infeksi menular seksual dengan
kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit dan mukosa (Zubier, 2009).
2.1.4.1.5.2 Epidemiologi
Di Amerika Serikat dari 122 juta penduduk berusia 15 49 diperkirakan
lebih dari 1% yang menderita kondiloma akuminata dan 2% yang subklinis. Di
Swedia, dengan menggunakan metode PCR, ditemukan prevalensi KA akibat
infeksi VPH tipe 6 atau 16 pada 84% pria yang datang di klinik IMS (Hakim,
2009).
2.1.4.1.5.3 Etiologi
Lebih dari 90% kondiloma akuminata disebabkan oleh Virus Papiloma
Humanus (VPH) tipe 6 dan 11. VPH merupakan virus DNA yang merupakan
virus epiteliotropik (menginfeksi epitel ) dan tergolong dalam famili
Papovaviridae. Berdasarkan kemungkinan terjadinya displasia epitel dan

keganasan maka VPH dibagi menjadi VPH berisiko rendah (low risk), VPH
beresiko sedang (moderate risk)
dan VPH berisiko tinggi (high risk). VPH tipe 6 dan tipe 11 paling sering
ditemukan pada kondiloma akuminata yang eksofitik dan pada displasia derajat
rendah (low risk), sedangkan VPH tipe 16 dan 18 sering ditemukan pada displasia
keganasan yang berisiko tinggi (high risk) sedangkan risiko menengah (moderate
risk) terdiri atas VPH tipe 33, 35, 39, 40, 43, 45, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 58. Pada
sekitar 10% pasien mengalami kondiloma akuminata yang diakibatkan oleh
kombinasi beberapa VPH (Ghadishah, 2009).
2.1.4.1.5.4 Gejala klinis
Kondiloma akuminata atau yang umum dikenal sebagai kutil genitalis
paling sering tumbuh di permukaan tubuh yang hangat dan lembab. Pada pria,
area yang sering terkena adalah ujung dan batang penis dan di bawah prepusium
jika tidak disunat. Pada wanita, kutil timbul di vulva, dinding vagina, leher rahim
(serviks) dan kulit di sekeliling vagina. Kutil genitalis juga bisa terjadi di daerah
sekeliling anus dan rektum, terutama pada pria homoseksual dan wanita yang
melakukan hubungan seksual secara genitoanal. Kutil biasanya muncul dalam
waktu 1-6 bulan setelah terinfeksi, dimulai sebagai pembengkakan kecil yang
lembut, lembab, berwarna merah atau pink. Mereka tumbuh dengan cepat dan bisa
memiliki tangkai. Pada suatu daerah seringkali tumbuh beberapa kutil dan
permukaannya yang kasar memberikan gambaran seperti bunga kol. Pada wanita
hamil, pada gangguan sistem kekebalan (penderita AIDS atau pengobatan dengan

obat yang menekan sistem kekebalan) dan pada orang yang kulitnya meradang,
pertumbuhan kutil ini sangat cepat.
Keadaan klinis kondiloma akuminata dibagi dalam 3 bentuk yaitu bentuk
akuminata, bentuk papul dan bentuk datar. Selain itu, dikenal pula sebutan Giant
Condyloma untuk keadaan klinis KA tampak sangat besar, bersifat invasif lokal
dan tidak bermetastasis (Zubier, 2009).
2.1.4.1.5.5 Pemeriksaan
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Kutil yang menetap bisa diangkat melalui pembedahan dan diperiksa dibawah
mikroskop untuk meyakinkan bahwa itu bukan merupakan suatu keganasan.
Wanita yang memiliki kutil di leher rahimnya, harus menjalani pemeriksaan Papsmear secara rutin.
Pada lesi yang meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang
dengan tes asam asetat, kolposkopi dan pemeriksaan histopatologis.
2.1.4.1.5.6 Komplikasi
Kondiloma akuminata yang diakibatkan oleh VPH berisiko tinggi dapat
berkembang menjadi keganasan. Infeksi VPH akan semakin buruk pada pasien
imunodefisiensi dan memperbesar kemungkinan terjadinya keganasan. Penyakit
laten semakin sering kambuh pada wanita yang sedang hamil. Pendarahan sering
terjadi pada flat penile wart (Ghadishah, 2009).
2.1.5 Penularan
Cara penularan IMS adalah dengan cara kontak langsung yaitu kontak
dengan eksudat infeksius dari lesi kulit atau selaput lendir pada saat melakukan

hubungan seksual dengan pasangan yang telah tertular. Lesi bisa terlihat jelas
ataupun tidak terlihat dengan jelas. Pemajanan hampir seluruhnya terjadi karena
hubungan seksual (vaginal, oral, anal). Penularan IMS juga dapat terjadi dengan
media lain seperti darah melalui berbagai cara,yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Transfusi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV


Saling bertukar jarum suntik pada pemakaian narkoba
Tertusuk jarum suntik yang tidak steril secara sengaja/tidak sengaja
Menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril
Penggunaan alat pisau cukur secara bersama-sama (khususnya jika terluka

6.

dan menyisakan darah pada alat).


Penularan juga pada terjadi dari ibu kepada bayi pada saat hamil, saat
melahirkan dan saat menyusui. Penularan karena mencium atau pada saat
menimang bayi dengan IMS kongenital jarang sekali terjadi.

2.1.6 Diagnosis
Pemeriksaan klinis pada IMS memiliki 3 prinsip yaitu anamnese,
pemeriksaan fisik dan pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium (Daili,
2009). Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan informasi penting terutama pada
waktu menanyakan riwayat seksual. Hal yang sangat penting dijaga adalah
kerahasiaan terhadap hasil anamnese pasien. Pertanyaan yang diajukan kepada
pasien dengan dugaan IMS meliputi:
- Keluhan dan riwayat penyakit saat ini.
- Keadaan umum yang dirasakan.
- Pengobatan yang telah diberikan, baik topikal ataupun sistemik dengan
penekanan pada antibiotik.
- Riwayat seksual yaitu kontak seksual baik di dalam maupun di luar
pernikahan, berganti-ganti pasangan, kontak seksual dengan pasangan setelah
mengalami gejala penyakit, frekuensi dan jenis kontak seksual, cara melakukan
kontak seksual, dan apakah pasangan juga mengalami keluhan atau gejala yang
sama.

- Riwayat penyakit terdahulu yang berhubungan dengan IMS atau


penyakit di daerah genital lain. - Riwayat penyakit berat lainnya.
- Riwayat keluarga yaitu dugaan IMS yang ditularkan oleh ibu kepada
bayinya. - Keluhan lain yang mungkin berkaitan dengan komplikasi IMS,
misalnya erupsi kulit, nyeri sendi dan pada wanita tentang nyeri perut bawah,
gangguan haid, kehamilan dan hasilnya. Universitas Sumatera Utara
- Riwayat alergi obat.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan kepada pasien harus memperhatikan
hal penting seperti kerahasiaan pribadi pasien, sumber cahaya yang baik untuk
dokter pemeriksa dan selalu harus menggunakan sarung tangan setiap kali
memeriksa pasien. Pada pasien pria, organ reproduksi lebih mudah diraba. Mulamula inspeksi daerah inguinal dan raba adakah pembesaran kelenjar dan catat
konsistensi, ukuran, mobilitas, rasa nyeri, serta tanda radang pada kulit di atasnya.
Pada waktu bersamaan, perhatikan daerah pubis dan kulit sekitarnya, adanya
pedikulosis, folikulitis atau lesi kulit lainnya. Lakukan inspeksi skrotum, apakah
asimetris, eritema, lesi superfisial dan palpasi isi skrotum dengan hati-hati. Dan
akhirnya perhatikan keadaan penis mulai dari dasar hingga ujung. Inspeksi daerah
perineum dan anus dengan posisi pasien sebaiknya bertumpu pada siku dan lutut.
Berbeda dengan pasien pria, organ reproduksi wanita terdapat dalam
rongga pelvik sehingga pemeriksaan tidak segampang pria. Pemeriksaan meliputi
inspeksi dan palpasi dimulai dari daerah inguinal dan sekitarnya. Untuk menilai
keadaan di dalam vagina, gunakan spekulum dengan memberitahukannya kepada
pasien terlebih dahulu. Dan akhirnya lakukan pemeriksaan bimanual untuk
menilai ukuran, bentuk, posisi, mobilitas, konsistensi dan kontur uterus serta
deteksi kelainan pada adneksa. Pengambilan bahan duh tubuh uretra pria, dapat
dilakukan dengan menggunakan sengkelit maupun lidi kapas yang dimasukkan ke
dalam uretra. Sedangkan pengambilan duh tubuh genital pada wanita dilakukan
dengan spekulum dan mengusapkan kapas lidi di dalam vagina dan kemudian
dioleskan ke kaca objek bersih.

2.1.7

Analisis Situasi
Gonore, Herpes genital, Klamida, dan Kandidas adalah beberapa contoh

yang termasuk dalam Infeksi Menular Seksual (IMS) atau Penyakit Menular
Seksual (PMS). IMS disebabkan oleh lebih dari 30 bakteri yang berbeda,
virus, dan parasit dan tersebar terutama melalui kontak seksual, termasuk
vaginal, anal, dan oral seks. Umumnya, seseorang tidak sadar menderita IMS
karena kebanyakan bersifat asimptomatik atau tidak menunjukkan gejala
khusus.
IMS dapat memiliki konsekuensi serius diluar dampak langsung dari
infeksi itu sendiri. Beberapa IMS dapat meningkatkan risiko penularan HIV
hingga 3 kali lipat atau lebih. Jika terjadi transmisi dari ibu ke anak, IMS
dapat menyebabkan lahir mati, kematian neonatal, berat lahir rendah dan
prematu, sepsis, pneumonia, konjungtivis neonatal, dan cacat bawaan. Sifilis
pada kehamilan menyebabkan sekitar 305.000 kematian janin dan bayi yang
baru lahir setiap tahun dan sebanyak 215.000 bayi mengalami peningkatan
risiko kematian akibat lahir premature, berat lahir rendah ataupun penyakit
bawaan. Infeksi HPV menyebabkan 530.000 kasus kanker serviks dan
275.000 kematian akibat kanker serviks setiap tahun. IMS seperti gonore dan
klamidia adalah penyebab utama penyakit radang panggul (PRP) dan apabila
tidak diobati dapat menyebabkan infertilitas hingga 85% pada wanita.
Di Asia Tenggara terdapat 11 negara, dengan prediksi total kejadian IMS
sekitar 78,5 juta yang disembuhkan diantara jumlah populasi 945,2 juta orang
dewasa (usia 15 49 tahun) atau sekitar 8% dari total populasi.
Di Indonesia sendiri, menurut Survey Terpadu Biologis dan Perilaku
(STBP) Kemenkes yang bertujuan untuk menentukan kecendrungan
prevalensi Gonore, Klamidia, Sifilis dan HIV diantara populasi paling berisiko
di beberapa kota di Indonesia. Tahun 2011 prevalensi HIV tertinggi terdapat di
kelompok penasun (36%), prevalensi sifilis tertinggi pada kelompok waria
(25%) dan prvalensi gonore dan/atau klamidia pada WPS (Wanita Penjaja
Seks) adalah 56% (WPS langsung / WPSL) dan 49% (WPS tidak langsung /
WPSTL)

2.1.8 Penanggulangan
Program Penanggulangan
1. Sasaran
a. Primer : kelompok masyarakat berisiko tinggi yaitu WTS, PSK,
pramuria panti pijat/bar/diskotik/klab malam/hotel, waria/gay/lesbian.
b. Sekunder : masyarakat yang bisa mempengaruhi sasaran primer yaitu
tokoh agama, masyarakat, ketua organisasi, LSM, pemilik tempattempat hiburan.
c. Tersier : masyarakat umum, khususnya remaja dan pemuda.
2. Strategi
a. Memutus rantai penularan PMS.
b. Memberikan dukungan pelayanan.
3. Kegiatan
a. Pengumpulan data dasar
b. Serosurvei sifilis
c. Pengobatan penderita sifilis
d. Monitoring PMS di rumah sakit
e. Penyuluhan dan sosialisasi kondom
4. Langkah-langkah
P1:
a. Pengumpulan data dasar : jumlah PSK dan orang berisiko tinggi
b. Penetapan target dan lokasi
c. Persiapan sumber daya
d. Pemberitahuan ke sector terkait
P2 :
a. Membantu pengambilan sampel darah (4 mL serum)
b. Mengumpulkan sampel darah
c. Pengiriman sampel
P3:
a. Serosurvei sifilis/AIDS 2 kali per tahun.
b. Tindak lanjut hasil : VDRL (+) titer 1 : 4/TPHA (+) diobati VDRL
titer 1 : 1 atau 1 : 2 pemeriksaan ulang.
5. Monitoring dan Evaluasi
a. Indikator pemerataan :
Jumlah kelompok risiko tinggi yang diperiksa PMS
X 100%
Jumlah kelompok risiko tinggi yang terdaftar
b. Indikator efektivitas :
Jumlah kelompok risiko tinggi dengan PMS (+)
X 100%
Jumlah kelompok risiko tinggi yang diperiksa PMS

Jumlah ibu hamil dengan PMS (+)


X 100%
Jumlah ibu hamil yang diperiksa PMS

BAB III
KESIMPULAN
3.1

Kesimpulan
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama

melalui hubungan seksual yang mencakup infeksi yang disertai gejala-gejala


klinis maupun asimptomatis (Daili, 2009). Penyebab infeksi menular seksual ini
sangat beragam dan setiap penyebab tersebut akan menimbulkan gejala klinis atau
penyakit spesifik yang beragam pula.
Di Indonesia, angka prevalensi PMS bervariasi menurut daerah. Hasil
survey ISR (Infeksi Saluran Reproduksi) tahun 2005 melaporkan angka PMS di
kalangan WTS di Bitung 35%, Jakarta 40%, dan Bandung 50%. Hasil pelaporan
periodic presumptive treatment (PPT) periode I bulan Januari 2007 menunjukkan
hasil yang hampir sama, yaitu angka PMS di Banyuwangi 74,5%, Denpasar
36,6%, Surabaya 61,21%, dan Semarang 79,7%.
Cara penularan IMS adalah dengan cara kontak langsung yaitu kontak
dengan eksudat infeksius dari lesi kulit atau selaput lendir pada saat melakukan
hubungan seksual dengan pasangan yang telah tertular. Sedangkan, pemeriksaan
klinis pada IMS memiliki 3 prinsip yaitu anamnese, pemeriksaan fisik dan
pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium.
3.2

Saran
Disarankan kepada penulis selanjutnya untuk lebih membahas lagi secara

detail mengenai penyakit IMS dalam pembelajaran mata kuliah Epidemiologi


Penyakit Menular dengan sumber-sumber terpercaya .

DAFTAR PUSTAKA
J. Kunoli, Firdaus. 2013. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular untuk
Mahasiswa Kesehatan Masyrakat. Jakarta : CV. Trans Info Media.
Najmah. 2016. Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta : CV. Trans Info Media.
Widoyono. 2008. Penyakit Tropis : Epidemiologi, Penularan, Pencegahan &
Pemberantasannya. Jakarta : Penerbit Erlangga.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26065/4/Chapter
%20II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26200/4/Chapter
%20II.pdf
https://www.unicef.org/indonesia/id/HIV-AIDSbooklet_part3.pdf