Anda di halaman 1dari 26

Kebutuhan Gizi Untuk Klien Dengan Berbagai Gangguan Sistem Tubuh

A. Diet Pada Penyakit Saluran Pencernaan


1. Diet Saluran Cerna Atas
a. Diet Disfagia
Disfagia adalah kesulitan menelan karena adanya gangguan aliran makanan pada
saluran cerna. Hal ini dapat terjadi karena kelainan sistem saraf menelan, pascastoke dan
adanya massa atau tomor yang menetupi saluran cerna.
b. Tujuan diet disfagia adalah :
(1) Menurunkan risiko aspirasi akibat masuknya makanan ke dalam saluran
pernapasan.
(2) Mencegah dan mengoreksi defisiensi zat gizi dan cairan.
c. Syarat-syarat diet disfagia adalah:
(1) Cukup energi, protein dan zat gizi lainnya.
(2) Mudah dicerna, porsi makanan kecil dan sering diberikan.
(3) Cukup cairan.
(4) Bentuk makanan bergantung pada kemampuan menelan,. Diberikan secara
bertahap,dimulai dari makanan cair penuh atau cair kental, makanan saring dan
makanan lunak.
(5) Makanan cair jernih tidak diberikan karena sering menyebabkan tersedak atau
aspirasi.
(6) Cara pemberian makanan dapat per oral atau melalui pipa (selang) atau sonde.
Disfagia dapat terjadi pada lansia, adanya gangguan saraf menelan, tumor esofagus dan
pascastoke. Bentuk makanan bergantung pada cara pemberian. Bila diberikan melalui
pipa, makanan diberikan dalam bentuk makanan cair penuh, bila diberikan per oral
maka makanan diberikan dalam bentuk makanan cair kental, saring, atau lunak.
2. Diet Pasca-Hematemesis-Melena
Hematemesis-melena adalah keadaan muntah dan buang air besar berupa darah akibat
luka atau kerusakan pada saluran cerna.
Tujuan diet pasca-hematomesis-melena adalah:
(1) Memberikan makanan secukupnya yang memungkinkan istirahat pada saluran cerna,
mengurangi risiko perdarahan tulang dan mencegah aspirai.
(2) Mengusahakan keadaan gizi sebaik mungkin.
Diet pasca-hematemesis-melena diberikan dalam bentuk makanan cair jernih, tiap 2-3
jam pasca perdarahan. Nilai gizi makanan ini sangat rendah, sehingga diberikan selama 12 hari saja.

3. Diet Penyakit Lambung


Penyakit lambung atau gastrointestinal meliputi gastritis akut dan kronis. Ulkus
peptikulum, pasca-operasi lambung sering diikuti dengan Dumping Sindrom dan kanker
lambung. Gangguan gastrointestinal sering dihubungkan dengan emosi atau psikoneurosis
dan atau makanan terlalu cepat karena kurang dikunyah serta terlalu banyak merokok.
Gangguan pada lambung umumnya berupa sindroma dispepsia, yaitu kumpulan gejala
yang terdiri dari mual, muntah, nyeri epigastrium, kembung, nafsu makan berkurang dan
rasa cepat kenyang.
Tujuan diet penyakit lambung adalah untuk memberikan makanan tidak memberatkan
lambu dan cairan secukupnya yang tidak memberatkan lambung serta mencegah dan
menetralkan sekresi aasam lambung yang berlebihan.
Syarat-syarat diet penyakit lambung adalah:
(1) Mudah dicerna, porsi kecil dan sering diberikan.
(2) Energi dan protein cukup, sesuai kemampuan pasien untuk menerimanya.
(3) Lemak rendah, yaitu 10-15 % dari kebutuhan energi total yang ditingkatkan secara
bertahap hingga sesuai dengan kebutuhan.
(4) Rendah serat, terutama serat tidak larut ait yang ditingkatkan secara bertahap.
(5) Cairan cukup, terutama bila ada muntah.
(6) Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara termis,
mekanis, maupun kimia (disesuaikan dengan daya terima perorangan).
(7) Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa, umumnya tidak dianjurkan minum
susu terlalu banyak.
(8) Makan secara perlahan di lingkungan yang tenang.
(9) Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-48 jam untuk
memberi istirahat pada lambung.
Diet lambung diberikan pada pasien dengan gastritis, ulkus peptikum, tifus abdomenalis
dan pasca bedah saluran cerna atas.
Diet Lambung I
Diet lambung I diberikan pada pasien gastritis akut, ulkus peptikum, pasca
pendarahan dan tifus abdomenalis berat. Makanan diberikan dalam bentuk saring dan
merupakan perpindahan dari diet pasca-hematemesis-melena atau setelah fase akut
teratasi. Makanan diberikan setiap 3 jam selama 1-2 hari saja karena membosankan serta
kurang energi, zat gizi, tiamin dan vitamin C.
Diet lambung II
Diet lambung II diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung I, kepada pasien
dengan ulkus peptikum atau gastritis kronis dan tifus abdominalis ringan. Makanan
berbentuk lunak, porsi kecil serta diberikan berupa 3 kali makanan lengkap dan 2-3 kali
makanan selingan.

Bahan Makanan Sehari


Bahan Makanan

Berat (g)

Ukuran

Beras

90

31/2 gls bubur

Roti

40

2 iris

Maizena

20

4 sdm

Daging

100

2 ptg sdg

Telur ayam

100

Btr

Tempe

100

4 ptg sdg

Sayuran

250

21/2 gls

Buah

200

2 sdg ptg pepaya

Margarin

35

31/2 sdm

Gula pasir

65

61/2 sdm

Susu

300

11/2 gls

Nilai Gizi
Energi

1942 kkal

Besi

28,5 mg

Protein

75 g

Vitamin A

15369 RE

Lemak

79 g

Tiamin

0,8 mg

Karbohidrat

241 g

Vitamin C

205 mg

Kalsium

817 mg

Pembagian Bahan Makanan Sehari


Pagi

Pukul 10.00

Beras

30 g = 11/2 gls bubur

Maizena

20 g = 4 sdm

Telur ayam

50 g = 1 btr

Gula pasir

25 gr = 21/2sdm

Sayuran

50 g = 1/ 2gls

Susu

100 g =1 /2 gls

Gula pasir

1 sdm

Margarin

/ 2 sdm

Siang

Pukul 16.00

Beras

30 g = 11 / 2 gls bubur

Roti

40 g = 2 iris

Daging

50 g = 1 ptg sdg

Margarin

10 g = 1 sdm

Tempe

50 g = 2 ptg sdg

Telur

50 g = 1 btr

Sayuran

100 g = 1 gls

Gula pasir

10 g = 1 sdm

Pepaya

100 g = 1 ptg sdg

Gula pasir

10 g = 1 sdm

Margarin

10 g = 1 sdm

Malam

Pukul 20.00

Beras

30 g = 11/2 gls bubur

Susu

200 g = 1 gls

Daging

50 g = 1 ptg sdg

Gula pasir

10 g = 1 sdm

Tempe

50 g = 2 ptg sdg

Sayuran

100 g = 1 gls

Pepaya

100 g = 1 ptg sdg

Margarin

10 g = 1 sdm

Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan


Bahan Makanan

Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Sumber karbohidrat

Beras dibubur atau ditim ;


kentang dipure ; makaroni
direbus ; roti dipanggang ;
biskuit ; krekers ; mie,
bihun,
tepung-tepungan
dibuat bubur atau puding.

Beras keta, beras tumbuk, roti


whole wheat, jagung ; ubui,
singkong, tales ; cake, dodol
dan berbagai kue yang terlalu
manis dan berlemak tinggi.

Sumber protein hewani

Daging sapi empuk, hati,


ikan, ayam digiling atau
dicincang dan direbus,
disemur,
ditim,
dipanggang ; telur ayam
direbus, didadar, ditim,
diceplok air dan dicampur
dalam makanan ; susu.

Daging, ikan, ayam yang


diawet, digoreng ; daging
babi ; telur diceplok atau
digoreng.

Sumber protein nabati

Tahu, tempe, direbus, ditim,


ditumis ; kacang hijau
direbus dan dihaluskan.

Tahu, tempe digoreng ; kacang


tanah ; kacang merah ; kacang
tolo.

Sayuran

Sayuran yang tidak banyak


serat
dan
tidak
menimbulkan gas ketika
dimasak : bayam, bit, labu

Sayuran mentah ; sayuran


berserat
tinggi
dan
menimbulkan gas seperti daun
singkong, kacang panjang, kol,

siam, labu kuning, wortel,


tomat direbus dan ditumis.

lobak, sawi dan asparagus.

Buah-buahan

Pepaya ; pisang ; jeruk


manis ; sari buah ; pir dan
peach dalam kaleng.

Buah yang tinggi serat dan


atau dapat menimbulkan gas
seperti jambu biji, nanas, apel,
durian, nangka; buah yang
dikeringkan.

Lemak

Margarin dan mentega ;


minyak untuk menumis dan
santan encer.

Lemak hewan, santan kental.

Minuman

Sirup, teh.

Minuman
yang
mengandungsoda dan alkohol,
kopi, ice cream.

Bumbu

Gula, garam, vetsin, kunci,


kencur, jahe, kunyit, terasi,
laos, salam dan sereh.

Lombok, bawang, merica,


cuka dan sebagainya yang
tajam.

Diet Lambung III


Diet lambung III diberikan sebagai perpindahan dari Diet Lambung II pada pasien dengan ulkus
peptikulum, gastritis kronik atau tifus abdominalis yang hampir sembuh. Makanan berbentuk
lunak atau biasa tergantung pada toleransi pasien.

Bahan Makanan Sehari


Bahan Makanan

Berat

Ukuran

Beras

200

4 gls tim

Maizena

15

3 sdt

Biskuit

20

2 buah

Daging

100

2 ptg sdg

Telur ayam

50

1 btr

Tempe

100

4 ptg sdg

Ssayuran

250

21 / 2 gls

Buah

200

2 ptg sdg pepaya

Minyak

25

21/2 sdm

Gula pasir

40

4 sdm

Susu

200

1 gls

Nilai Gizi
Energi

2054 kkal

Besi

26 mg

Protein

70 g

Vitamin A

29103 RE

Lemak

69 g

Tiamin

0,8 mg

Karbohidrat

290 g

Vitamin C

204 mg

Kalsium

653 mg

Pembagian Bahan Makanan Sehari


Pagi

Pukul 10.00

Beras

50 g = 1 gls tim

Maizena

15 g = 3 sdm

Telur ayam

50 g = 1 btr

Gula pasir

20 g = 2 sdm

Sayuran

50 g =1 /2 gls

Gula pasir

10 g = 1 sdm

Minyak

5 g = 1 /2 sdm

Siang dan Malam

Pukul 16.00

Beras

75 g = 11 / 2 gls tim

Biskuit

20 g = 2 bln

Daging

50 g = 1 ptg sdg

Susu

200 g = 1 gls

Tempe

50 g = 2 ptg sdg

Gula pasir

10 g = 1 sdm

Sayuran

100 g =m1 gls

Pepaya

100 g = 1 ptg sdg

Minyak

10 g = 1 sdm

Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan


Bahan Makanan

Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Sumber karbohidrat

Beras tim, nasi ; kentang


direbus, dipure ; makaroni,
mie, bihun direbus ; roti,
biskuit, krekers ; tepungtepungan dibuat puding
atau dibubur.

Beras ketan, beras tumbuk,


roti whole wheat, jagung ;
ubi, singkong, teles, kentang
digoreng,
dodol
dan
sebagainya.

Sumber protein hewani

Daging sapi empuk, hati,


ikan,
ayam
direbus,
disemur,
ditim,
dipanggang ; telur ayam
direbus, ditim, didadar,

Daging, ikan, ayam yang


dikaleng,
dikeringkan,
diasap, diberi bumbu-bumbu
tajam ; daging babi, telur
goreng.

diceplok air dan dicampur


dalam makanan ; susu.
Sumber protein nabati

Tahu, tempe direbus, ditim,


ditumis ; kacang hijau
direbus.

Tahu, tempe goreng; kacang


tanah, kacang merah, kacang
tolo.

Sayuran

Sayuran yang tidak banyak


serat
dan
tidak
menimbulkan gas seperti :
bayam, buncis, kacang
panjang, labu siam, wortel,
tomat, labu kuning, direbus,
ditumis, disetup dan diberi
santan.

Sayuran dikeringkan.

Buah-buahan

Pepaya, pisang, sawo, jeruk


manis, sari buah, buah
dalam kaleng.

Buah yang tinggi serat dan


atau dapat menimbulkan gas
seperti jambu biji, nanas,
kedongdong, durian, nangka
dan buah yang dikeringkan.

Lemak

Margarin, minyak
santan encer.

Lemak hewan dan santan


kental.

Minuman

Sirup, teh encer.

Kopi, teh kental, minuman


yang mengandung soda dan
alkohol, ice cream.

Bumbu

Garam, gula, vetsin, dalam


jumlah terbatas ; jahe,
kunyit, kunci, kencur, laos,
sarlam, sereh, terasi dan
sebagainya.

Lombok, merica, cuka dan


bumbu lainnya yang tajam.

dan

Contoh Menu Sehari


Pagi

Siang

Malam

Nasi tim / nasi

Nasi tim / nasi

Nasi tim / nasi

Telur dadar

Semur ayam

Ikan bumbu tomat

Setup wortel

Tahu bumbu tomatSayur


bening bayam
Pepaya

Tim tempeSayur lodeh


Pisang

Pukul 10.00

Pukul 16.00

Puding maizena / agar-agar


+ saos susuSusu

Bubur kacang hijau

2. Diet Penyakit Saluran Cerna Bawah


Diet Penyakit Usus Inflamatorik (Inflammatory Bowel Disease)
Penyakit usus inflamatorik adalah peradangan terutama pada ileum dan usus besar dengan
gejala diare, disertai darah, lendir, nyeri abdomen, berat badan berkurang, demam dan
kemungkinan terjadi streatorea (adanya lemak dalam feses). Penyakit ini dapat berupa Kolitis
Ulseratif dan Chrons Disease.
Tujuan diet penyakit inflamatorik adalah:
(1) Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
(2) Mengganti kehilangan zat gizi dan memperbaiki status gizi kurang.
(3) Mencegah iritasi dan inflamasi lebih lanjut.
(4) Mengistirahatkan usus pada masa akut.
Syarat-syarat diet penyakit usus inflamatorik adalah:
(1)
Pada feses akut dipuasakan dan diberi makanan secara parenteral saja.
(2)
Bila fase akut teratasi, pasien diberi makanan secara bertahap, mulai dari bentuk cair
(peroral maupun enteral), kemudian meningkat menjadi siet sisa rendah dan serat rendah.
(3)
Bila gejal ahilang dapat diberikan makanan biasa.
(4)
Kebutuhan gizi, tyaitu :
(a) Energi dan protein tinggi.
(b) Suplemen vitamin dan mineral antara lain vitamin A, C, D asm folat, vitamin B 12, kalsium,
zat besi, magnesium dan seng.
(5) Makanan enteral rendah atau bebas laktosa dan mengandung asam lemak rantai sedang
(medium chain trygliceride = MTC) dapat diberikan karena sering terjadi intoleransi laktosa dan
malabsorpsi lemak.
(6) Cukup cairan dan elektrolit.
(7) Menghindari makanan yang mengandung gas.
(8) Sisa rendah dan secara bertahap kembali ke makanan biasa

B. Diet Pada Penyakit Hati Dan Kandung Empedu


1. Definisi
Batu Empedu adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam
saluran empedu. Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu disebut kolelitiasis,
sedangkan batu di dalam saluran empedu disebut koledokolitiasis. Kandung empedu
merupakan organ berbentuk buah pir kecil yang terletak diperut sebelah kanan, dan
tersembunyi di bawah hati. Kandung empedu menyimpan cairan empedu yang dihasilkan
oleh hati. Selama makan, kandung empedu akan berkontraksi (menciut) sehingga
mengeluarkan sedikit cairan empedu yang berwarna hijau kecoklatan ke dalam usus
halus. Cairan empedu berguna dalam penyerapan lemak dan beberapa vitamin, seperti
vitamin A,D, E, dan K. Empedu merupakan campuran dari asam empedu, protein, garamgaram kalsium, pigmen dan unsur lemak yang disebut kolesterol.Sebagian dari empedu
yang memasuki usus halus akan diteruskan dan dikeluarkan melalui feses.
Kelainan utama yang dapat timbul pada kandung empedu adalah terbentuknya
batu. Hal ini juga dapat terjadi pada saluran empedu. Batu empedu disebabkan oleh
perubahan secara kimiawi pada empedu seseorang. Batu empedu terbentuk dari endapan
kolesterol, pigmen bilirubin dan garam kalsium yang mengeras, namun kebanyakan batu
kandung empedu terbentuk dari kolesterol. Timbulnya batu empedu akan menjadi
masalah bila masuk ke salah satu saluran yang menuju ke usus halus. Kadang-kadang
batu dapat terbentuk dalam saluran empedu itu sendiri, misalnya karena bekas jahitan
pada suatu operasi.
Pada kandung empedu, batu dapat menyebabkan peradangan yang disebut
kolestitis akut, hal ini karena adanya pecahan batu empedu di dalam saluran empedu yang
menimbulkan rasa sakit. Batu-batu yang melalui kantong empedu dapat menyangkut di
dalam hati dan saluran empedu, sehingga menghentikan aliran dari empedu ke dalam
saluran pencernaan. Di samping itu, terdapat faktor lainnya yang memulai terjadinya
proses pembentukan batu empedu. Unsur ini bisa berupa protein yang terdapat pada
cairan lendir yang dibentuk kandung empedu dalam jumlah kecil. Hal ini memungkinkan
kolesterol, bilirubin, dan garam kalsium membentuk partikel seperti kristal padat. Bentuk
dari batu empedu bermacam-macam,yaitu batu yang terbentuk dari kolesterol berwarna
kuning dan mengkilat seperti minyak, batu yang terdiri dari pigmen bilirubin bisa
berwarna hitam tetapi keras atau berwarna coklat tua tetapi rapuh. Ukurannya juga
bermacam-macam dari yang kecil hingga sebesar batu kerikil, tetapi rata-rata berdiameter
1 - 2 cm.
Meskipun penyakit kantong empedu tidak menunjukkan gejala, pada keadaan
memburuk gejala yang biasa ditimbulkan adalah serangan pada waktu makan makanan
yang mengandung lemak tinggi jika seseorang sudah mengidap batu empedu. Hal ini
terjadi karena lemak tersebut memicu hormon merangsang kantung empedu berkontraksi
sehingga memaksa empedu yang tersimpan masuk ke dalam duodenum yaitu jalan keluar
menuju usus kecil, jika batu menghambat aliran empedu maka akan timbul gejala seperti

sakit yang akut pada sebelah kanan atas perut dan mengarah ke punggung, antara bahu
dan ke dada depan. Gejala lainnya yaitu kolik, sendawa, gas dalam perut, gangguan
pencernaan, berkeringat, mual, muntah, kedinginan, suhu tubuh agak tinggi, penyakit
kuning (bila batu empedu menghalangi saluran empedu), dan feses berwarna coklat.
Hati (liver) merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia. Di dalam hati terjadi
proses-proses penting bagi kehidupan yaitu proses penyimpanan energi, pembentukan
protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun/obat
yang masuk dalm tubuh . Hati yang sehat bisa menyaring racun dan melakukan proses
detoksifikasi secara optimal. Bila hati sakit, otomatis racun bakal tertumpuk dan tubuh
rentan terkena penyakit serius.
Hati atau lever merupakan organ paling besar dan paling berat yang ada di dalam
tubuh. Beratnya sekitar 3 pound atau 1,3 kg. Letaknya berada di bagian atas sebelah
kanan abdomen dan di bawah tulang rusuk. Organ hati yang cukup besar ini setara
dengan fungsinya yang cukup berat. Setidaknya lebih dari 500 pekerjaan dilakukan oleh
lever. Hati menjadi tempat menyaring segala sesuatu yang dikonsumsi maupun dihirup
manusia, termasuk yang diserap dari permukaan kulit. Dalam situs Hepatitis Foundation
International disebutkan, lever bertindak sebagai mesin tubuh, dapur, penyaring,
pengolah makanan, pembuangan sampah, dan malaikat pelindung. Masalahnya, hati
merupakan teman yang pendiam. Manakala ada sesuatu yang salah, ia tidak mengeluh
hingga terjadi kerusakan lebih jauh.
Hati juga menyimpan beberapa vitamin, mineral (termasuk zat besi), dan gula,
mengatur penyimpanan lemak dan mengontrol produksi serta ekskresi kolesterol.
Empedu yang dihasilkan oleh sel hati membantu mencerna makanan dan menyerap zat
gizi penting. Juga menetralkan dan menghancurkan substansi beracun serta
memetabolisme alkohol, membantu menghambat infeksi, dan mengeluarkan bakteri dari
aliran darah. Sehinga dapat dibayangkan akibat yang akan timbul apabila terjadi
kerusakan pada hati.Hati adalah organ yang sangat penting dari tubuh, dan salah satu
fungsi utama adalah untuk memecah sel-sel darah dan mengubahnya menjadi energi.
Alam proses ini, juga memurnikan darah. Pada seseorang, yang menderita
penyakit hati, proses ini mungkin tidak dapat berfungsi properly.The darah dalam tubuh
kita terbuat dari apa yang kita makan. Protein yang rendah dianggap sehat untuk orang
dengan penyakit hati karena berbagai alasan. Nomor satu alasannya adalah bahwa hal itu
mudah untuk merobohkan dan menyucikan. Mengubah protein tinggi menjadi lebih rumit
struktur sel darah. Hati boleh pergi melalui banyak tekanan untuk mengubahnya menjadi
energi dan menyucikan itu. Juga, untuk hati yang normal jenis virus ini dapat
diperbolehkan, tapi tidak untuk hati yang berpenyakit.
Orang-orang dengan penyakit hati harus makan lebih banyak makanan berserat.
Hal ini juga baik bagi mereka jika mereka memeluk terutama vegetarian dan memiliki
lebih banyak sayuran dalam diet mereka. Sayuran berdaun hijau segar dan berbagai jenis
buah-buahan yang sangat baik untuk orang-orang dengan kondisi hati. Ikan adalah salah

satu jenis daging yang dianggap baik untuk hati. Juga, mereka harus benar-benar
menghindari garam dan pergi pada diet bebas garam.
Protein sangat penting bagi tubuh, tetapi terlalu banyak dapat menyebabkan
kerusakan pada hati jika tidak berfungsi dengan benar. Ada beberapa jenis makanan yang
memiliki protein rendah, tetapi dapat memberikan lebih banyak energi untuk
tubuh. Daging biasanya memiliki tingkat tinggi protein. Jadi, kita harus membatasi
asupan.
2. Penyebab Penyakit Hati Dan Kandung Empedu
Batu empedu lebih banyak ditemukan pada wanita dan faktor resikonya adalah :
a) usia lanjut
b) kegemukan (obesitas)
c) diet tinggi lemak
d) faktor keturunan.
Komponen utama dari batu empedu adalah kolesterol, sebagian kecil lainnya
terbentuk dari garam kalsium. Cairan empedu mengandung sejumlah besar kolesterol
yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika cairan empedu menjadi jenuh karena
kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk endapan diluar
empedu. Sebagian besar batu empedu terbentuk di dalam kandung empedu dan sebagian
besar batu di dalam saluran empedu berasal dari kandung empedu.
Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami
aliran balik karena adanya penyempitan saluran atau setelah dilakukan pengangkatan
kandung empedu. Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi
hebat saluran empedu (kolangitis), infeksi pankreas (pankreatitis) atau infeksi hati.Jika
saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan
infeksi di dalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan
infeksi di bagian tubuh lainnya.
Beberapa penyebab penyakit hati antara lain:
1) Penyakit hati karena infeksi misalnya hepatitis virus)
Yaitu ditularkan melalui makanan & minuman yang tekontaminasi, suntikan, tato,
tusukan jarum yang terkontaminasi, kegiatn seksual, dll.
2) Penyakit hati karena racun (misalnya karena alkohol atau obat tertentu)
Alkohol bersifat toksik tehadap hati. Adanya penimbunan obat dalam hati (seperti
acetaminophen) maupun gangguan pada metabolisme obat dapat menyebabkan penyakit
hati.
3) Genetika atau keturunan (misalnya hemochromatosis)
4) Gangguan imun (misalnya hepatitis autoimun)
Penyakit autoimun merupakan penyakit yang ditimbulkan karena adanya perlawanan
terhadap jaringan tubuh sendiri. Pada hepatitis autoimun umunya yang dilawan adalah
sel-sel hati, sehingga terjadi peradangan yang kronis.
5) Kanker (misalnya Hepatocellular Carcinoma)
Kanker hati dapat disebabkan oleh senyawa karsinogenik diantaranya aflatoxin,
polyvinyl chloride (bahan pembuat plastik),virus, dll. Aplatoxin merupakan racun yang
diproduksi oleh Aspergillus flavus dan dapat mengkontaminasi makanan selama penyim

pangan, seperti kacang-kacangan, padi & singkong terutama pada daerah tropis. Hepatitis
B dana C maupun sirosis hati dapat berkembang menjadi kanker hati.
3. Macam Macam Diet Pada Penyakit Hati Dan Kandung Empedu
Terdapat 3 jenis diet khusus penyakit hati. Hal ini didasarkan pada gejala dan
keadaan penyakit pasien. Jenis diet penyakit hati tersebut adalah Diet Garam Rendah I
(DGR I),Diet Hati I (DH I), Diet Hati II (DH II), dan Diet Hati III (DH III). Selain itu
pada diet penyakit hati ini juga menyertakan Diet Garam Rendah I.
1) Diet Garam Rendah I (DGR I)
Diet garam rendah I diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau atau
hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak menambahkan garam dapur.
Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya. Kadar Natrium pada Diet garam
rendah I ini adalah 200-400 mg Na.
2) Diet Hati I (DH I)
Diet Hati I diberikan bila pasien dala keadaan akut atau bila prekoma sudah dapat
diatasi dan pasien sudah mulai mempunyai nafsu makan. Melihat keadaan pasien,
makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak. Pemberian protein dibatasi (30
g/hari) dan lemak diberikan dalam bentuk mudah dicerna. Formula enteral dengan asam
amino rantai cabang (Branched Chain Amino Acid /BCAA) yaitu leusin, isoleusin, dan
valin dapat digunakan. Bila ada asites dan diuresis belum sempurna, pemberian cairan
maksimal 1 L/hari.Makanan ini rendah energi, protein, kalsium, zat besi, dan tiamin;
karena itu sebaiknya diberikan selama beberapa hari saja. Menurut beratnya retensi
garam atau air, makanan diberikan sebagai Diet Hati I Garam rendah. Bila ada asites
hebat dan tanda-tanda diuresis belum membaik, diberikan Diet Garam Rendah I. Untuk
menambah kandungan energi, selain makanan per oral juga diberikan makanan parenteral
berupa cairan glukosa.
Contoh Menu :
Pagi
Siang
Malam
Bubur ayam
Bubur nasi/tim
Bubur nasi/tim
Telur masak
Gadon daging
Perkedel daging
Jus tomat
Setup bayam
Sup wortel + labu siam
Pisang
Pukul 10
Pukul 16.00
Puding maizena + sirup
Sirup
Air jeruk
3) Diet Hati II (DH II)
Diet hati II diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet hati II kepada pasien
dengan nafsu makannya cukup. Menurut keadaan pasien, makanan diberikan dalam
bentuk lunak / biasa. Protein diberikan 1 g/Kg berat badan dan lemak sedang (20-25%
dari kebutuhan energi total) dalam bentuk yang mudah dicerna. Makanan ini cukup

mengandung energi, zat besi, vitamin A & C, tetapi kurang kalsium dan tiamin. Menurut
beratnya retensi garam atau air, makanan diberikan sebagai diet hati II rendah garam. Bila
asites hebat dan diuresis belum baik, diet mengikuti pola Diet Rendah garam I.
Contoh Menu :
Pagi
Siang
Malam
Bubur manado
Nasi/tim
Nasi/tim
Telur masak
Semur bola-bola
Lele bakar kecap
Teh manis
daging
Pepes tempe
Souffletahu saos tomat Sayur lodeh
Tumis bayam
Pepaya
Selada buah
Pukul 10
Pukul 16.00
Ongol-ongol + kelapa Puding karamel
muda
Sirup
Jus apel
4) Diet Hati III (DH III)
Diet Hati III diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diet Hati II atau kepada
pasien hepatitis akut (Hepatitis Infeksiosa/A dan Hepatitis Serum/B) dan sirosis hati yang
nafsu makannya telah baik, telah dapat menerima protein, lemak, mi9neral dan vitamin
tapi tinggi karbohidrat. Menurut beratnya tetensi garam atau air, makanan diberikan
sebagai Diet Hati III Garam Rendah I.
Contoh Menu :
Pagi
Siang
Malam
Nasi/tim
Nasi/tim
Nasi/tim
Telur ceplok air
Ikan bakar + saos Empal daging
Setup buncis
tomat
Oseng-oseng tempe
Susu
Tumis tahu
Sup kacanc polong +
Sup bayam
wortel
Apel
Pepaya
Pukul 10
Pukul 16.00
Bubur kacang hijau
Kelepon
Teh
Teh
Diet pada kandung empedu ini bertujuan memberikan istirahat pada kandung
empedu dan mengurangi rasa sakit serta memberi makanan dan minuman secukupnya
untuk memelihara berat badan normal dan keseimbangan carian tubuh.
Diet rendah lemak I diindikasikan untuk kolesistitis akut dan kolelitiatis dengan
kolik akut. Makanan diberikan berupa buah-buahan dan minuman manis. Makanan ini
rendah kalori dan semua zat, kecuali vitamin A dan C, serta sebaiknya hanya diberikan
selama 2-3 hari saja. Nilai gizi diet ini adalah 996 kalori, 5 g protein dan 244 g
karbohidrat.

Diet rendah lemak II diberikan secara berangsur bila keadaan akut sudah teratasi
dan perasaan mual sudah berkurang atau kepada pasien penyakit kandung empedu kronis
yang terlalu gemuk. Menurut keadaan pasien, makanan diberikan dalam bentuk cincang,
lunak, atau biasa. Makanan ini rendah kalori dan kalsium. Nilai gizi diet ini adalah 1338
kalori, 57 g protein, 33 g lemak, dan karbohidrat 211 g.
Contoh Menu :
Pagi
Bubur nasi/tim
Telur ceplok air + saos tomat
Rebusan kacang panjang
Teh

Siang
Malam
Bubur nasi/tim
Bubur nasi/tim
Perkedel daging
Ayam presto
panggang
Tahu bakso kukus
Tempe bacem
saos tomat
Sayur bening bayam
Sup sayuran
Apel
Pisang
Pukul 10
Pukul 16.00
Jus jeruk
Selada pepaya
Diet rendah lemak III diberikan kepada pasien penyakit kandung empedu yang tidak
gemuk dengan nafsu makan cukup. Menurut keadaan pasien, makanan diberikan dalam
bentuk lunak atau biasa. Makanan ini cukup dalam kalori dan semua zat gizi. Diet ini
mengandung 2073 kalori, 74 g protein, 34 g lemak, dan 369 g karbohidrat.
Contoh Menu :
Pagi
Siang
Malam
Roti bakar isi madu
Nasi/tim
Nasi/tim
Telur ceplok
Soto ayam
Fu yung hay
Susu skim
Perkedel tempe bakar
Sup tahu
Tumis taoge + kacang panjang Capcay
Semangka
Pepaya
Pukul 10
Pukul 16.00
Puding maizena + saos
Sirup
2.4 Syarat Diet Penyakit Hati Dan Kandung Empedu
Tujuan pengaturan diet pada penderita penyakit hati adalah memberikan makanan
cukup untuk mempercepat perbaikan fungsi tanpa memperberat kerja hati. Syaratnya
adalah sebagai berikut :
1.
Energi tinggi untuk mencegah pemecahan protein, yang diberikan bertahap sesuai
kemampuan pasien, yaitu 40-45 kkal/Kg BB.
2.
Lemak cukup, yaitu 20-25% dari kebutuhan energi total, dalam bentuk yang mudah
dicerna atau dalam bentuk emulsi. Bila pasien mengalami steatorea, gunakan lemak
dengan asam lemak rantai sedang. Pemberian lemak sebanyak 45 Kg dapat
mempertahankan fungsi imun dan proses sintesis lemak.

3.
Protein agak tinggi, yaitu 1.25-1.5 g/Kg BB agar terjadi anabolisme protein. Asupan
minimal protein 0.8-1g/Kg BB, protein nabati memberikan keuntungan karena
kandungan serat yang dapat mempercepat pengeluaran amoniak melalui feses.
4.
Vitamin dan mineral diberikan sesuai dengan tingkat defisiensi. Bila perlu,
diberikan suplemen vitamin B kompleks, C, dan K serta mineral Zn dan Fe bila ada
anemia.
5.
Natrium diberikan rendah, tergantung tingkat edema dan asites. Bila pasien
mendapat diuretika, garam natrium dapat diberikan lebih leluasa.
6.
Cairan diberikan lebih dari biasa, kecuali bila ada kontraindikasi.
7.
Bentuk makanan lunak bila ada keluhan mual dan muntah, atau makanan biasa
sesuai kemampuan saluran cerna.
Syarat diet pada kandung empedu ini adalah lemak rendah untuk mengurangi
kontraksi kandung empedu, di mana lemak diberikan dalam bentuk mudah dicerna.
Kalori, protein dan karbohidrat cukup dan bila terlalu gemuk, jumlah kalori dikurangi.
Makanan ini juga mengandung vitamin tinggi, terutama yang larut dalam lemak, mineral
cukup, serta cairan tinggi untuk membantu pengeluaran kuman atau sisa metabolisme dan
mencegah dehidrasi.Makanan tidak merangsang dan diberikan dalam porsi kecil tetapi
sering untuk mengurangi rasa kembung.
2.5 Bahan Makanan Yang boleh Maupun Yang Tidak Boleh Diberikan Pada Orang Yang
Menderita Penyakit Hati Dan Kandung Empedu.
1)
Bahan makanan yang diperbolehkan :
Makanan Sumber Zat Tenaga/Kalori
a)
Beras, kentang, makaroni, bihun, havermunt
b)
Gula pasir, sirup, madu, selai
c)
Minyak margarin, mentega, santan encer
Makanan Sumber Protein
a)
Daging sapi tanpa lemat, hati, ikan, ayam
b)
Telur
c)
Susu sapi, susu kental, skim, yogurt
d) Tahu, tempe, kacang ijo
Makanan Sumber Pengatur (vitamin & mineral)
a)
Semua sayuran kecuali yang menimbulkan gas seperti kol, sawi dan lobak
b)
Semua buah kecuali yang menimbulkan gas seperti nangka, duren, cipedak, apel
Bumbu-Bumbu
a)
Garam dapur dalam jumlah terbatas
b)
Lada, kayu manis, bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, salam dan sereh
2)
a)
b)

Yang Dibatasi, kalau perlu dihindari:


Beras ketan, ubi, singkong, talas
Daging berlemak (Sapi berlemak, kambing, babi)

c)
Daging/ikan diawetkan (kornet, sosis, sarden, diasapin, diasinin, pindang)
d) Keju
e)
Es krim
f)
Kacang merah, pasta kacang tanah
g)
Buah & Sayuran yang bergas serta buah dan sayuran asinan yang diawetkan
h)
Bumbu-bumbu kuat seperti cabe, garam tinggi (mecin, soda kue, petis, tauco, kecap
asin, saus)
i)
Alkohol, beer, wisky
j)
Tape dan rokok
k)
Terlalu lelah (workholic)/memporsir bekerja.
Bahan makanan yang tidak boleh diberikan pada orang terkena penyakit kandung
empedu adalah sumber lemak, yaitu semua makanan yang digoreng, semua makana dan
daging yang mengandung lemak tinggi, seperti mayones, daging kambing, dan babi;
bahan makanan yang menimbulkan gas, seperti ubi, kacang merah, kol, sawi, lobak,
durian, nangka, dan ketimun; bumbu-bumbu yang merangsang, seperti cabe, bawang,
merica, asam, cuka, dan jahe; serta minuman yang mengandung soda dan alkohol. Bahan
makanan yang baik diberikan adalah bahan makanan yang mengandung karbohidrat
tinggi dan mudah dicerna, seperti gula-gula, selai, sirup, manisan, dan madu.
Jenis-jenis tepung roti dan nasi adalah contoh zat-zat yang mengandung kalsium
anorganik itu. Makanan-makanan seperti itu menyebabkan munculnya batu di dalam
empedu. Kandungan empedu sangat perlu dijaga agar hati dapat berfungsi dengan
baik.Selain mengurangi makanan di atas, hindarilah makanan berlemak dan mengandung
berkolesterol tinggi, seperti daging dan telur. Sari buah jeruk lemon tanpa gula dan garam
dicampur dengan satu gelas air panas, tiga atau empat kali sehari dapat memecahkan
batu-batu di dalam kandung empedu. Bahkan minum sari buah semangka (bagian
putihnya yang terletak di antara dagingnya yang merah dan kulit luarnya) sangat
menolong penderita penyakit ini.
2.6 Pencegahan Terhadap Penyakit Hati Dan Kandungan Empedu
Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjaga organ hati agar tetap sehat.
Pertama adalah mengurangi beban kerja hati. Perubahan sederhana dalam diet dapat
membantu hal ini. Karena hati mengubah dan menghilangkan racun dari segala yang makan
dan minum, diet gizi seimbang yang baik merupakan permulaan yang baik.
Berikut beberapa anjuran diet yang mungkin membantu:
1.
Siram sistem tubuh dengan minum delapan gelas air sehari.
2.
Pertimbangkan diet rendah lemak, rendah sodium dan tinggi serat. Hindari makan
terlalu berlemak tinggi seperti makanan gorengan, kentang goreng dan sebagian besar
makanan cepat saji. Makanan bermutu rendah yang diolah seperti makanan kaleng atau
dibekukan dan daging dan keju proses kadang-kadang mengandung sedikit serat atau
kurang gizi. Sering kali makanan tersebut mengandung banyak garam dan sebaiknya
dihindari. Tetapi, tidak ada aturan yang mutlak berkaitan dengan hal ini. Makanan

bermutu tinggi yang diawetkan dengan baik dan makanan yang dibekukan juga dapat
mempunyai nilai gizi yang sangat tinggi jika dipakai dengan hati-hati.
3.
Biasakan diri dengan kandungan dan isi makanan yang dibeli. Jika memungkinkan,
makan buah dan sayuran dengan mutu terbaik, dan bahan tersebut, baik organik atau
komersial, harus dicuci dengan hati-hati sebelum dimakan.
4.
Hati-hati dengan makanan apa pun jika tidak tahu sumbernya. Misalnya, beberapa
jamur liar yang tampaknya aman dapat menghancurkan hati seseorang dalam beberapa
hari saja.
5.
Penting untuk mempertahankan pemasukan protein dan berat badan yang cukup.
6.
Jika hati rusak, kurangi garam dalam diet. Daging cenderung mengandung banyak
garam. Makanlah sayuran kaya protein. Protein hewani mencakup daging, ikan, telur,
unggas dan produk susu. Daging tidak berlemak adalah yang terbaik. Buang lemak dari
daging merah dan kulit dari unggas.
7.
Jangan mengkonsumsi ikan mentah atau ikan pemakan bangkai (ikan lele, dll.).
Bisa jadi mereka mengandung bahan kimia dan bakteri yang membahayakan hati. Pasien
dengan masalah hati terutama harus waspada terhadap segala macam kerang, karena
kerang dapat menjadi sumber hepatitis A. Seseorang dengan hati yang sudah rusak atau
terbebani tidak perlu mendapat tugas tambahan. Karena hati menjaga kadar glukosa, yang
penting untuk fungsi otak dan sistem saraf, dianjurkan makan makanan dalam jumlah
sedikit tetapi sering. Ini mengurangi kerja hati.
Karena komposisi terbesar batu empedu adalah kolesterol,sebaiknya menghindari
makanan berkolesterol tinggi yang pada umumnya berasal dari lemak hewani.Bagi
penderita batu empedu, prinsip utama perawatannya yaitu mengistirahatkan kandung
empedu. Hindari makanan berlemak karena lemak merangsang kandung empedu untuk
bekerja keras. Kandungan protein dalam diet cukup 1 - 1 gram per berat badan setiap
hari. Kalori perlu pula dibatasi, karena kebanyakan penderita batu empedu juga penderita
obesitas. Bahan makanan yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan juga harus
dihindari.
Cara alamiah yang dapat digunakan untuk mengatasi batu empedu yaitu :
a) 30 gram daun keji beling segar + 30 gram sambiloto segar + 60 gram rambut jagung
direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya disaring, diminum hangat-hangat.
b) 60 gram herba kumis kucing segar + 30 gram tongkol jagung + 30 gram daun
meniran segar direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya disaring, diminum
hangat-hangat.
c) 30 gram daun sendok segar + 30 gram daun kembang pukul empat segar + 100 gram
akar alang-alang direbus dengan 700 ccc air hingga tersisa 300 cc, airnya disaring,
diminum hangat-hangat.
d) Minum jus apel sebanyak 4 gelas setiap hari selama 5 hari. Pada hari ke-6 lakukan
puasa, dan pada saat berbuka puasa minum air putih + 30 gram garam inggris, pada pukul
20.00 minum gelas air lemon + gelas minyak zaitun, aduk lalu diminum.
2.7 Pengobatan Terhadap Penyakit Hati Dan Kandung Empedu

Pengobatan umum terhadap orang yang terkena penyakit kandung empedu termasuk
istirahat total, pemberian nutrisi parenteral, diet ringan, obat penghilang rasa nyeri seperti
petidin dan antipasmodik. Pemberian antibiotik pada fase awal sangat penting untuk
mencegah komplikasi peritonitis, kolangitis, dan septisemia. Golongan ampisilin,
sefalosporin dan metronidazol cukup memadai untuk mematikan kuman-kuman yang umum
terdapat pada kolesistitis akut seperti E.coli, strep. Faecalis dan Klebsiella. Jika tidak
ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri yang hilang-timbul bisa
dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau mengurangi makanan berlemak.Sedangkan
pada orang yang terkena penyakit hati diberi imunisasi dan imunitas sementara.

C. Diet Pada Diabetes Melitus


A. Konsep Diabetes Melitus
Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa
darah melebihi normal. Insulin yang dihasilkan koleh kelenjar pankreas sangat penting untuk
menjaga keseimbangan kadar glukosa darah yaitu untuk orang normal (non diabetes) waktu
puasa antara 60-120 mg/dL dan dua jam sesudah makan dibawah 140 mg/dL. Bila terjadi
gangguan pada kerja insulin, keseimbangan tersebut akan terganggu sehingga kadar glukosa
darah cenderung naik. Gejala bagi penderita Diabetes Mellitus adalah dengan keluhan
banyak minum (polidipsi), banyak makan (poliphagia), banyak buang air kecil (poliuri),
badan lemas serta penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, kadar gula darah
pada waktu puasa 126 mg/dL dan kadar gula darah sewaktu 200 mg/dL (Badawi, 2009).
Penyebab Diabetes Mellitus
Orang yang mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya Diabetes Mellitus adalah :
Usia Diatas 45 Tahun.
Pada orang-orang yang berumur fungsi organ tubuh semakin menurun, hal ini diakibatkan
aktivitas sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin menjadi berkurang dan sensitifitas sel-sel
jaringan menurun sehingga tidak menerima insulin.
Obesitas Atau Kegemukan.
Pada orang gemuk aktivitas jaringan lemak dan otot menurun sehingga dapat memicu
munculnya Diabetes Mellitus.

Pola Makan
Pola yang serba instan saat ini memang sangat digemari oleh sebagian masyarakat
perkotaan. Pola makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh dapat menjadi penyebab
Diabetes Mellitus, misalnya makanan gorengan yang mengandung nilai gizi yang minim.
Riwayat Diabetes Mellitus Pada Keluarga

Sekitar 15-20 % penderita NIDDM (Non Insulin Dependen Diabetes Mellitus)


mempunyai riwayat keluarga Diabetes Mellitus, sedangkan IDDM (Insulin Dependen Diabetes
Mellitus) sebanyak 57 % berasal dari keluarga DiabetesMellitus.
Kurangnya Berolahraga Atau Beraktivitas
Olahraga dapat dilakukan 3-5 kali seminggu, kurang berolahraga dapat menurunkan
sensitifitas sel terhadap insulin dapat menurun sehingga dapat mengakibatkan penumpukan
lemak dalam tubuh yang dapat menyebabkan Diabetes Mellitus (Waspadji, 2002).
Tipe Diabetes Mellitus
a.

Diabetes Mellitus Tipe I atau IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus).


Penyebab utama Diabetes Mellitus Tipe I adalah terjadinya kekurangan hormon insulin
pada proses penyerapan makanan. Fungsi utama hormon insulin dalam menurunkan kadar
glukosa secara alami dengan cara :
Meningkatkan jumlah gula yang disipan didalam hati.
Merangsang sel-sel tubuh agar menyerap gula.
Mencegah hati mengeluarkan terlalu banyak gula.
Jika insulin berkurang, kadar gula didalam darah akan meningkat. Gula dalam darah
berasal dari makanan kita yang diolah secara kimiawi oleh hati. Sebagian gula disimpan dan
sebagian lagi digunakan untuk tenaga. Disinilah fungsi hormone insulin sebagai stabilizer
alami terhadap kadar glukosa dalam darah. Jika terjadi gangguan sekresi (produksi) hormone
insulin ataupun terjadi gangguan pada proses penyerapan hormone insulin pada sel-sel darah
maka potensi terjadinya Diabetes Mellitus sangat besar sekali.
b. Diabetes Mellitus Tipe II atau NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus
Jika pada Diabetes Mellitus Tipe I penyebab utamanya adalah dari malfungsi kelenjar
pankreas, maka pada Diabetes Mellitus Tipe II, gangguan utama justru terjadi pada volume
reseptor (penerima) hormon insulin, yakni sel-sel darah. Dalam kondisi ini produktivitas
hormone insulin bekerja dengan baik, namun tidak terdukung oleh kuantitas volume reseptor
yang cukup pada sel darah, keadaan ini dikenal dengan resistensi insulin. Dibawah ini terdapat
beberapa fakor-faktor yang memiliki peranan penting terjadinya hal tersebut :
Obesitas.
Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat.
Kurang gerak badan (olahraga).
Faktor keturunan.
Diabetes Mellitus tidak menakutkan bila diketahui lebih awal. Gejala-gejala yang
timbul sangat tidak bijaksana untuk dibiarkan, karena justru akan menjerumuskan kedalam
komplikasi yang lebih fatal. Jika berlangsung menahun kondisi penderita Diabetes Mellitus
berpeluang besar menjadi ketoasidosis ataupun hipoglikemia (Soegondo, 2004).

Patofisiologi Diabetes Mellitus


Pengelolaan bahan makanan dimulai dari mulut kemudian kelambung dan selanjutnya
ke usus. Didalam saluran pencernaan makanan dipecah menjadi bahan dasar makanan
karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak.
Ketiga zat makanan itu akan diserap oleh usus kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan
diedarkan keseluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ dalam tubuh sebagai bahan
bakar. Agar dapat berfungsi sebagai bahan bakar, makanan itu harus masuk dulu kedalam sel
supaya dapat diolah yang akhirnya adalah timbulnya energi yang disebut dengan proses
metabolisme. Dalam proses metabolism itu insulin memegang peran yang sangat penting
yaitu bertugas memasukkan glukosa kedalam sel untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai
bahan bakar. Insulin ini adalah suatu zat atau hormon yang dikeluarkan oleh sel beta
dipankreas.
Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang
dapat membuka pintu masuknya glukosa kedalam sel, kemudian didalam sel glukosa itu
dimetabolisme menjadi tenaga. Bila insulin tidak aktif glukosa tidak dapat masuk kedalam
dengan akibat glukosa akan tetap berada didalam pembuluh darah yang artinya kadarnya
didalam meneingkat. Dalam keadaan seperti itu badan akan menjadi lemah tidak ada sumber
energi didalam sel. Pada keadaan tadi jumlah kuncinya yang kurang, meskipun anak kuncinya
(insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk
sel akan sedikit, sehingga akan kekurangn bahan bakar (glukosa) dan glukosa didalam
pembuluh darah meningkat (Waspadji, 2002).
B. Makanan Seimbang
Makanan seimbang merupakan makanan yang harus dimakan untuk memastikan tubuh
badan seseorang berfungsi dengan normal. Makanan seimbang seharusnya memberikan kita
tenaga. makanan yang mencukupi, karbohidrat, protein dan lemak secara optimum,
kandungan fiber yang mencukupi dan kandungan bahan galian, vitamin dan asid
lemak.Makanan yang memberi tenaga dapat membina badan, dan dapat menjauhi kita
daripada mendapat penyakit. Amalan pemakanan sihat adalah satu faktor yang penting ke
arah kesihatan sekeluarga dan seharusnya dipupuk dari rumah. Selain daripada
menyelerakan dan mampu dibeli, makanan yang dikongsi bersama sekeluarga mestilah
berkhasiat dan sihat. Makanan seimbang seharusnya memberi :
1.
Tenaga makanan yang mencukupi.
2.
Karbohidrat, protein dan lemak secara optimum.
3.
Kandungan fiber yang mencukup.
4.
Kandungan bahan galian, vitamin dan asid lemak.
Makanan ini terdiri dari tiga kumpulan iaitu makanan yang memberi tenaga, menjauhi
dari penyakit dan membina sel-sel dan tisu tubuh.
1) Makanan yang memberi tenaga

Di Indonesia tenaga 50-60% penduduk didapati dari pada nasi. Namun begitu
makanan lain yang menghasilkan tenaga termasuk semua jenis bijirin seperti jagung,
gandum, beras, bali, ubi keledek, keladi, ubi kayu, kentang dan lain-lain. Makanan lain
yang menghasilkan tenaga adalah makanan yang mengandungi gula seperti gula pasir,
sirap, jem dan madu.
2) Makanan membina badan
Protein adalah makanan membina badan. Protein membina sel-sel atau jeringan tisu
dalam badan kita. Punca protein adalah daripada ikan, ketam, kepah, sotong, ayam, itik,
dan lembu. Kekurangan sumber protein boleh membantutkan pertumbuhan seseorang
termasuk pembentukan otot. Kekurangan protein juga mempengaruhi pembentukan darah
dan ini menyebabkan badan menjadi lesu.
3) Makanan menjauhi penyakit
Makanan jenis ini merupakan makanan yang membekalkan tubuh dengan bahanbahan yang mengekalkan semua perjalanan organ di dalamnya. Ia mencegah tubuh
daripada menghidap penyakit. Makanan jenis ini meliputi sayur-sayuran dan buahbuahan.Pengaturan makan yang tepa tsangat penting dalam pencegahan dan pengendalian
diabetes melitus atau kencing manis yang secara medis didefinisikan sebagai kumpulan
gejala terkai metabolisme karbohidrat, protein dan lemak akibat kekurangan atau
gangguan fungsi insulin.
C. Mengendalikan Diet Pada Pasien Diabetes Dengan Pengaturan Pola Makan
Yang perlu diperhatikan dalam proses diet adalah:
v Makan secara teratur sesuai porsi natau jadwal makan yang sudah di tentukan oleh dokter
atau ahli gizi.
v Kurangi makanan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi, ketan, ubi, roti dan lain
lain.
v Hindari mengkonsumsi gula murni seperti gula, permen, coklat, sirop, kue yang manis
serta buah yang dikalengkan.
v Makanlah banyak sayur sayuran dan buah buahan.
D. Perawatan Diet Bagi Penderita Penyakit Diabetes Melitus
1.
Dasar-dasar Perawatan Dietik bagi Penderita Diabetes Melitus
Tujuanperawatan diet bagi penderita penyakit diabetes melitus adalah:
Mencegah terjadinya hiperglikemia postprandial yang berlebihan.
Mencegah terjadinya hipoglikemia apabila penderita memakai obat insulin
Memelihara agar tidak terjadi kelebihan berat badan
Menjaga agar kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah penderita tetap pada batas
yang normal
Mencegah kerusakan pada pembuluh darah
Agar diet lebih bervariasi, penderita dianjurkan menggunakan bahan makanan penukar
yang dapat dipilih dari Daftar Bahan Makanan Penukar yang khusus dibuat bagi penderita

diabetes melitus. Dengan menggunakan daftar itu, penderita dapat memilih bahan makanan
yang akan digunakan dalam dietnya asal kandungan hidrat arangnya tidak berbeda. Jadi jika
penderita ingin mengganti nasi dengan roti misalnya maka jumlah roti yang kandungan hidrat
arangnya setara dengan 100 gram beras adalah 80 gram roti.Demikian pula halnya dengan
bahan makanan yang lain sehingga praktis semua bahan makanan boleh dimakan oleh
penderita diabetes melitus, asalkan dalam jumlah yang ekivalen dengan kandungan hidrat
arang dari bahan makanan yang ditukar.Apa pun pendekatan yang digunakan dalam
perawatan penderita diabetes melitus, pengaturan diet bagi penderita tetap menjadi bagian
paling penting dalam upaya perawatan secara keseluruhan.
Dengan pembatasan-pembatasan dalam diet yang harus diikutinya, penderita harus
dapat memenuhi kebutuhan tubuhnya akan berbagai zat gizi yang lain seperti mineral,
vitamin, dan sebagainya.
Disamping itu pengaturan makanan penting oleh penderita, baik waktu waktu penderita
menggunakan insulin ataupun tidak. Ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi oleh penderita
diabetes harus diterjemahkan menjadi petunjuk praktis yang dapat digunakan sebagai
pedoman penderita dalam mengatur makanannya sehari-hari. Penderita, disamping harus
memperoleh kecukupan zat gizi sesuai dengan kebutuhannya, harus mampu memelihara
kandungan glukosa darahnya pada tingkat normal selama 24 jam.
2. Beberapa Ketentuan Khusus dalam Deit Penderita Diabetes Melitus
Diet yang dianjurkan untuk penderita diabetes tipe I sebagai berikut :
1. Karbohidrat 50% - 60% dari total kalori (terutama karbohidrat kompleks dan serat
yang dapat larut).
2. Lemak 25% atau kurang dari total kalori (kurang konsumsi lemak jenuh).
3. Protein 10% - 20% dari total kalori.
4. Batasi konsumsi alkohol.
5. Dianjurkan untuk menggunakan pemanis alternatif seperti sorbitol dan aspartam.
Tips untuk Penderita Diabetes Mellitus Untuk Penderita Diabetes Tipe I
1. Makanan lengkap dan snack untuk mencegah fluktuasi gula darah
2. Komposisi pati, protein, dan lemak yang berimbang pada setiap kali makan.
3. Konsumsi makanan yang banyak mengandung serat.
Untuk Penderita Diabetes Tipe II
Konsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat untuk mempertahankan berat
badan normal. Makanan yang harus dikurangi :
1. Produk makanan dengan kandungan gula murni tinggi.
2. Lemak jenuh yang dapat meningkatkan kadar kolesterol.
3. Makanan dengan kandungan garam tinggi untuk mencegah naiknya tekanan darah.
E. Penatalaksanaan Pola Makan Pada Pederita DM
Pola makan adalah pola makan yang seimbang antara zat gizi karbohidrat, protein,
lemak, vitamin dan mineral. Makanan yang seimbang adalah makanan yang tidak
mementingkan salah satu zat gizi tertentu dan dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan

(Ramadhan, 2008). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pola diartikan sebagai suatu
sistem, cara kerja atau usaha untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian pola makan dapat
diartikan sebagai suatu cara untuk melakukan kegiatan makan secara sehat. Pola makan
adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud
tertentu seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu
kesembuhan penyakit. Pola makan sehari-hari merupakan pola makan seseorang yang
berhubungan dengan kebiasaan makan setiap harinya (Depdiknas, 2001).
Pengaturan makan merupakan pilar utama dalam pengelolaan Diabetes Mellitus,
namun penderita Diabetes Mellitus sering memperoleh sumber informasi yang kurang tepat
yang dapat merugikan penderita tersebut seperti penderita tidak lagi menikmati makanan
kesukaan mereka, sebenarnya anjuran makan pada penderita Diabetes Mellitus sama dengan
anjuran makan sehat umumnya yaitu makan menu seimbang dan sesuai dengan kebutuhan
kalori masing-masing penderita Diabetes Mellitus (Badawi, 2009). Pengaturan diet pada
penderita Diabetes Melitus merupakan pengobatan yang utama pada penatalaksanaan
Diabetes Mellitus yaitu mencakup pengaturan dalam :
Jumlah Makanan
Syarat kebutuhan kalori untuk penderita Diabetes Mellitus harus sesuai untuk mencapai
kadar glukosa normal dan mempertahankan berat badan normal. Komposisi energy adalah 6070 % dari karbohidrat, 10-15 % dari protein, 20-25 % dari lemak. Makanlah aneka ragam
makanan yang mengandung sumber zat tenaga, sumber zat pembangun serta zat pengatur.
Makanan sumber zat tenaga mengandung zat gizi karbohidrat, lemak dan protein yang
bersumber dari nasi serta penggantinya seperti : roti, mie, kentang, dan lainlain.
Makanan sumber zat pembangun mengandung zat gizi protein dan mineral.
Makanan sumber zat pembangun seperti kacang-kacangan, tempe, tahu, telur, ikan, ayam,
daging, susu, keju, dan lain-lain.
Makanan sumber zat pengatur mengandung vitamin dan mineral. Makanan sumber zat
pengatur antara lain : sayuran dan buah-buahan.
Ada beberapa jenis diet dan jumlah kalori untuk penderita Diabetes Mellitus menurut
kandungan energi, karbohidrat, protein dan lemak :
Tabel 1. Jenis Diet Diabetes Mellitus Menurut Kandungan Energi,Karbohidrat, Protein
dan Lemak
Jenis Diet
Energi (Kkal)
Karbohidrat
Protein (g)
Lemak (g)
(gr)
I
1100
172
43
30
II
1300
192
45
35
III
1500
237
51,5
36,5
IV
1700
275
55,5
36,5
V
1900
299
60
48
VI
2100
319
62
53

VII

2300
VIII

369
2500

73
396

59
80

62

Sumber : Almatsier, 2006


Keterangan :
Jenis diet I s/d III diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk.
Jenis diet IV s/d V diberikan kepada penderita diabetes tanpa komplikasi.
Jenis diet VI s/d VIII diberikan kepada penderita kurus, diabetes remaja (juvenile diabetes)
atau diabetes dengan komplikasi.
Jenis Bahan Makanan
Banyak yang beranggapan bahwa penderita Diabetes Mellitus harus makan makanan
khusus, anggapan tersebut tidak selalu benar karena tujuan utamanya adalah menjaga kadar
glukosa darah pada batas normal. Untuk itu sangat penting bagi kita terutama penderita
Diabetes Mellitus untuk mengetahui efek dari makanan pada glukosa darah. Jenis makanan
yang dianjurkan untuk penderita Diabetes Mellitus adalah makanan yang kaya serat seperti
sayur-mayur dan buah-buahan segar. Yang terpenting adalah jangan terlalu mengurangi
jumlah makanan karena akan mengakibatkan kadar gula darah yang sangat rendah
(hypoglikemia) dan juga jangan terlalu banyak makan makanan yang memperparah penyakit
Diabetes Mellitus.

DAFTAR PUSTAKA

Nainggolan, Dr. R. A. 2006. Sehat Alami Terapi Jus & Diet. Jakarta: AgroMedia
Almatsier, Sunita. 2004. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Andra. 2005.Terapi Albumin pada Asites Refraktori. Majalah GERAI Edisi September
2006 (Vol.6 No.2).
Almatsier. 2005. Penuntun Diet. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama