Anda di halaman 1dari 11

TUGAS KASUS STROKE

A) Subjektif
Pasien bapak BP berumur 30 tahun datang ke RSUD Tidar untuk melakukan pengecekan
kesehatan, dan saat melakukan pengecekan pasien mengalami kejang-kejang dan segera
masuk ke ICU.
Nama
Umur
Pekerjaan
Keluhan

Bapak BP
30 tahun
Pedagang
Kejang-kejang saat akan diperiksa
kesadaran pasien

B) Objektif
Pasien memiliki riwayat penyakit lemah jantung yang berasal dari bapak pasien. Setelah
dilakukan CT-Scan, dokter menyatakan bahwa pasien mengalami Space Occupying Lesion
(SOL) Cerebri Parietal Sinistra yaitu tumor otak yang disebabkan oleh abses cerebri (abses
otak yaitu suatu proses infeksi dengan pernanahan yang terlokalisir diantara jaringan otak
yang disebabkan oleh berbagai macam variasi bakteri, fungus dan protozoa) dan tuberculoma
( salah satu komplikasi kronik akibat dari infeksi tuberculosis yang menyerang paru-paru atau
otak ). Selain itu, pasien juga mengalami bronchitis kronis yaitu terjadi infeksi bronkus pada
3 bulan hingga 1 tahun dan berulang pada tahun berikutnya.
Riwayat penyakit
Suhu
BM
Suspect

Hari

Lemah jantung
37C
60 Kg
SOL Cerebri Parietal Sinistra (abses cerebri
dan tuberculoma), dan bronchitis akut

RR

SPo2

HR

CR
T

TD

Map

HB

Al

At

HMT

GDS

Na

Erit

2.4x 91%
100 <3
135 82
16,8 2 1 46,3 171
13
5,6
Rabu
x/m deti /69
0 8
3
26-10- /mi
n
in
k
0
2016
<3
168 96
Kamis 26x. 96%
min
deti
/77
27-10k
2016
24x 94%
69x <3
103 64
Jumat
/mi
deti /52
28-10- /mi
n
n
k
2016
15x 98%
68x <3
98/
61
Sabtu
/mi
/mi
deti
55
29-10n
n
k
2016
140
Mingg 13x 92% 108 3
/mi
x/m deti /90
u,30n
in
k
102016
15,4 12 17 46,1
129
Senin, 21x 96% 88x <3 110/ 76
/mi
/mi
deti
60
,8
1
31-11n
n
k
2016
126
Selasa, 20x 95% 87x <3 110/ 80
/mi
/mi
deti
70
1-11n
n
k
2016
18x 90%
95x <3
128
Rabu,
/mi
/mi
deti
2-11n
n
k
2016
Data Hasil Laboratorium ( Keterangan : Merah = Melebihi batas normal, Biru = dibawah
batas normal )

Cl

Ur

Krea

3,
2
4

8
4

29,
3

0,63

2,
15

75

2,
51

73

2,
05

73

C) Assesment
Penggunaan obat dalam 8 hari :
Obat
Hari
Rabu
26-102016
Kamis
27-102016
Jumat
28-102016

Piracetam

Ceticolin

Stesolid

phenobarbital

Ceftriaxone

Dexametasone

Fenintoin

KSR

Sabtu
29-102016
Mingg
u, 30102016
Senin,
31-112016
Selasa,
1-112016
Rabu,
2-112016

Indikasi Obat
1. Piracetam Inj
a. Indikasi : efektif dalam pengobatan cerebrovascular insufficiencies, dan ageassociated cognitive impairment dan pengobatan cortical myoclonus ( kelainan
kontraksi otot yang terjadi tanpa disadari yang disebabkan oleh gangguan pada
sistem saraf seperti epilepsi, stroke dan tumor otak ).
b. Kontraindikasi : hipersensitivitas dengan piracetam, end-stage renal disease dan
cerebral haemorrhage.
c. Interaksi : Acenocoumarol dan antiepilepsi drug seperti carbamazepine,
phenytoin, phenobarbitone (meningkatkan efek antiepilepsi drugs)
d. Adverse Reaction : nervousness dan depression
e. Mekanisme : Piracetam berikatan secara fisik pada phisphilipid membrane models
pada polar head, termasuk dalam mengembalikan struktur membrane lamellar
dari drug-phospholipid complexes. Hal ini akan meningkatkan stabilitas membran
dan mengembalikan fungsi dari sel tersebut. Piracetam memiliki efek neuronal
dan vascular effects.
f. Dosis yang digunakan: 3 x 3 gram
g. Referensi :
Dosis untuk terapi cerebrovascular insufficiencies atau stroke untuk dewasa
dengan sediaan parenteral yaitu dapat lebih dari 10 dan hingga 15 gram dalam
sehari. Untuk cortical myoclonus,dosis yang dianjurkan yaitu 7.2 g/hari dan
meningkat 4.8 g/hari tiap tiga atau 4 hari maksimal 24 g/hari. Obat dapat
diberikan dua atau tiga kali sehari. Berdasarkan FDA 2011, penggunaan dosis
piracetam injeksi tergantung dari fungsi renal dari tiap-tiap pasien. Fungsi renal
yang diperhatikan yaitu jumlah serum kreatinin (mg/dl) menggunakan rumus
formula :

2.

Citicoline Inj
a. Indikasi : mengembalikan fase dari infaksi cerebral (ischemia saat stroke),
cognitive dysfunction due to degenerative and cerebrovascular disease, cerebral
insufficiency dan parkinsons disease
b. Kontraindikasi : patients with hypertonia of the parasympathetic nervous system.
c. Interkasi : meclophenoxate
d. Adverse Effects : gastrointestinal disorders, hypotension, bradycardia
e. Mekanisme : repair of the neuronal membrane via increased synthesis of
phosphatidylcholine, repair of damage cholinergic neurons via potentiation of

acetycholine production and reduction of free fatty acid build-up at the site of
stroke-induced nerve damage
f. Dosis yang digunakan : 3 x 250 mg
g. Referensi :
Head injury or brain surgery : dosis dewasa 100-500 mg diberikan satu atau dua
kali sehari. (Takeda Chemical Industries, 1989).

3. Stesolid inj
a. Indikasi : menenangkan mental, menstabilkan saraf otonom dan menimbulkan efek
hipnotik sedatif
b. Kontraindikasi : glaucoma, miastenia gravis, hipersensitif terhadap diazepam,
penderita koma, syok, intoksikasi.
c. Interaksi : sodium oxybate
d. Adverse effect : rasa mengantuk, ataksia, depresi pernafasan, tremor, vertigo,
konstipasi dan kesukaran berbicara
e. Mekanisme : bekerja mempengaruhi behavioural system di otak.
f. Dosis yang digunakan : 10 mg
g. Referensi : Dosis dewasa untuk kejang otot berat yaitu 5-10 mg, jika perlu dapat
diulang dengan interval 3-4 jam (PT. Sanbe Farma)

4. Phenobarbital inj
a. Indikasi : sedatif, hipnotik, anticonvulsant jangka panjang.
b. Kontraindikasi : tidak cocok bagi pasien yang memiliki sensitive terhadap
barbiturate, depresi pernapasan berat, disfungsi hati atau ginjal
c. Interaksi : anticoagulants (dicumarol, warfarin), corticosteroids, griseofulvin,
doxycycline, phenytoin dan valproic acid.
d. Adverse effect : mengantuk, depresi mental, ataksia, nistagmus, reaksi alergi pada
kulit
e. Mekanisme : menurunkan ambang stimulasi sel saraf di korteks motorik sehingga
terjadi hambatan penyebaran aktivitas listrik dari focus aktivitas epilepsy di otak.
Fenobarbital bekerja pada reseptor GABA sehingga menyebabkan peningkatan
inhibisi sinaptik yang menyebabkan berkurangnya kejang.
f. Dosis yang digunakan : Jika perlu 200 mg
g. Referensi : dosis dewasa pada acute convulsions yaitu 20 sampai 320 mg IV dapat
diulang tiap 6 jam sehari (NIH)

5. Ceftriaxone inj
a. Indikasi : uncomplicated gonorrhoea, prophylaxis yang disebabkan infeksi karena
operasi, rentan terkena infeksi
b. Kontraindikasi : hipersensitif terhadap obat golongan sefalosporin,
hipoalbuminemia dan hiperbilirubinemia

c. Interaksi : vancomycin, amsacrine, aminoglycosides, fluconazone, mengandung


kalsium.
d. Adverse effect : mual, diare, muntah, neutropenia, anemia, demam, pancreatitis.
e. Mekanisme : ceftriaxone akan mengikat satu atau lebih penicillin-binding protein
(PBP) dimana PBP menghambat tahap final transpeptidation dari sintesis
peptidoglikan di dinding sel, kemudian menghambat biosintesis dan menahan
pementukan dinding sel yang mengakibatkan kematian sel bakteri.
f. Dosis yang digunakan : 2 x 1 gram
g. Referensi : (FDA)

6. Dexametasone Inj
a. Indikasi : sebagai antiinflamasi steroid, antiemetic, antineoplastik, hormonal,
glukokortikoid topical
b. Kontraindikasi : hipersensitif terhadap obat golongan kortikosteroid dan pasien
tukak lambung, osteoporosis, diabetes mellitus, infeksi jamur sistemik, galukoma,
herpes simplex atau gangguan fungsi ginjal
c. Interaksi :Aminoglutethimide, antibiotika makrolida, antidiabetik, isoniazid,
ketoconazole.
d. Adverse effect : peningkatan kadar gula dalam darah, pengeroposan tulang.
e. Mekanisme : Dexametasone bekerja dengan cara menekan migrasi neutrofil,
mengurangi produksi prostaglandin dan menyebabkan dilatasi kapiler.
f. Dosis yang digunakan : penggunaan 2 ampul @ 5 mg, sehingga total 10 mg
g. Referensi : pada umumnya 0,5 mg/hari sampai 9 mg/hari. Untuk pengobatan
cerebral edema memerlukan 10 mg diikuti 4 mg intramuscular setiap 6 jam sekali
hingga hasil maksilal didapatkan.
7. Phenytoin inj
a. Indikasi : mengontrol status epileptikus dari tipe grand mal serta pencegahan dan
pengobatan dari bangkitan yang terjadi selama pembedahan saraf
b. Kontraindikasi : hipersensitif terhadap fenitoin, takikardia

c. Interaksi : amiodarone, kloramfenikol, diazepam, dikumarol, isonoazid,


fenobarbital.
d. Adverse effect : nistagmus, ataksia, pusing, insomnia, gugup, kejang motorik, sakit
kepala, mual, muntah, konstripasi toksis, hepatitis, kerusakan hati.
e. Mekanisme : memblokade pergerakan ion melalui kanal Na dengan menurunkan
aliran ion Na yang tersisa maupun aliran ion Na yang mengalir selama penyebaran
potensial aksi, memblokade dan mencegah potensial post tetanik.
f. Dosis yang digunakan : 200 mg
g. Referensi : pemberian dosis 300 mg dalam sehari dengan kadar minimal dalam
darah 100 mg untuk mendapatkan hasil yang optimal.
8. KSR tablet
a. Indikasi : Pencegahan dan pengobatan untuk pasien dengan kadar kalium dalam
darah rendah (hypokalemia)
b. Kontraindikasi : gagal ginjal gantung, hiperkalemia, dehidrasi akut dan obstruksi
GI
c. Interaksi : pemberian bersama dengan ACE inhibitor, siklosporin, diuretik hemat
kalium seperti spironolakton, triamteren.
d. Adverse effect : mual, muntah, diare dan nyeri perut
e. Mekanisme : kalium merupakan kation utama dari cairan intraseluler dan
menginduksi impuls syaraf di jantung, otak, otot rangka, kontraksi dan otot halus,
memelihara fungsi normal ginjal, keseimbangan asam basa, metabolisme
karbohidrat dan sekresi GI.
f. Dosis yang digunakan : 2 x 1 tablet (600 mg)
g. Referensi : dosis untuk pencegahan hipokalemia yaitu 20 mEq per hari dan dosis
untuk pasien yang kekurangan kalium yaitu 40-100 mEq per hari. Pemberian dosis
tidak boleh melebihi 20 mEq pada sekali pemberian obat, sehingga jika dosis
melebihi 20 mEq, pemberian dosis harus dibagi (FDA).
9. Metronidazole tablet
a. Indikasi : efektif dalam pengobatan trikomoniasis seperti vaginitis danuretritis
yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, amebiasis seperti amebiasis
intestinal dan amebiasis hepatic yang disebabkan oleh E. Histolytica dan sebagai
obat pilihan untuk giardiasis
b. Kontraindikasi : hipersensitif terhadap metronidazole atau derivate nitroimidazol
lainnya dan kehamilan trisemester pertama
c. Interaksi : menghambat metabolisme warfarin dan dosis antikoagulan kumarin
lainnya harus dikurangi, pemberian alcohol dapat menimbulkan gejala seperti
pada disulfiram yaitu mual, muntah, sakit perut dan sakit kepala, dengan obat
yang menekan enzim mikrosormal hati seperti simetidina akan memperpanjang
waktu paruh metronidazole.
d. Adverse effect : mual, sakit kepala, anoreksia, diare, nyeri epigastrum dan
konstipasi.
e. Mekanisme : metronidazole berinterakasi sebagai bakterisid, amebisid dan
trikomonosid.
f. Dosis yang digunakan : 3x1 tablet (500 mg)

g. Referensi : Dosis untuk amebiasis yaitu 750 mg tiga kali sehari selama 5-10 hari.
Untuk amebi liver abscess yaitu 500 atau 700 mg diminum 3 kali sehari selama 510 hari, untuk membunuh anaerobic bacterial infections digunakan intravenous
metronidazole dengan dosis 7,5 mg/kg selama 6 jam.
10. Ambroxol tablet
a. Indikasi : sebagai obat batuk berdahak (terapi sekretolitik) pada penyakit
bronkopulmonal akut dan kronis yang berhubungan dengan dahak atau lendir
berlebih dan gangguan transportasi lendir. Ambroxol digunakan untuk mengobati
tracheobronchitis, emfisema bronchitis pneumoconiosis, radang paru kronis,
bronkiektasis, bronchitis dengan bronkospasme asma. Dikombinasi dengan
antibiotic pada bronchitis eksaserbasi akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri
b. Kontraindikasi : hipersensitif dengan ambroxol dan pasien dengan ulkus lambung
atau penyakit maag
c. Interaksi : penggunaan bersama dengan antibiotik seperti amoxicillin, cefuroxime,
eritromisin, doksisiklin dapat menyebabkan konsentrasi antibiotik yang lebih
tinggi dalam jaringan paru-paru.
d. Adverse effect : reaksi alergi, gatal-gatal, ruam kemerahan, bengkak
e. Mekanisme : ambroxol menghambat NO dependent dari aktivasi larut guanylate
cyclise sehingga dapat menekan sekresi lendir yang berlebihan.
f. Dosis yang digunakan : 3 x 1 tablet (30 mg)
g. Referensi :

11. OBH sirup


a. Indikasi : sebagai obat batuk karena gejala influenza seperti pilek dan dahak
berlebihan. Selain itu, bisa juga digunakan untuk batuk karena bronchitis, asma
dan batuk akibat merokok.
b. Kontraindikasi : hipersensitif dengan obat ini
c. Interaksi : penggunaan bersama anti depresan tipe menghambat MAO dapat
mengakibatkan krisis hipertensi
d. Adverse effect : mengantuk, gangguan pencernaan, sakit kepala, insomnia, gelisah,
eksitasi, tremor, mulut kering, palpitasi dan retensi urine.
e. Mekanisme : bekerja sebagai ekspektoran, antihistamin, analgesic dan antipiretik
serta dekongestan.
f. Dosis yang digunakan : 3x1 sendok makan
g. Referensi : dewasa 1 sendok makan 1-4 kali sehari

12. Salbutamol tablet


a. Indikasi : menghilangkan gejala sesak nafas pada penderita asma bronchial,
bronchitis asmatis dan emfisema pulmonum.

b. Kontraindikasi : hipersensitif dengan salbutamol


c. Interaksi : dengan MAOI dan penyekat beta selektif dan non selektif
d. Adverse effect : nausea, sakit kepala, palpitasi, tremor, vasodilatasi peripheral,
takikardi dan hipokalemi yang kadang-kadang timbul sesudah pemberian dosis
tinggi.
e. Mekanisme : senyawa selektif merangsang reseptor B2 adrenergik terutama pada
otot bronkus. Golongan B2 agonis akan merangsang produksi AMP siklik dengna
cara mengaktifkan kerja enzim adenil siklase. Efek utama setelah pemberian
peroral adalah efek bronkodilatasi yang disebabkan terjadinya relaksasi otot
bronkus.
f. Dosis yang digunakan : 3 x 1 tablet ( 2mg)
g. Referensi : dosis dewasa 2-4 mg diberikan 3-4 kali sehari
D) Plan
1. Melihat dan melakukan pengecekan interaksi keseluruhan penggunaan obat oleh
pasien. Berdasarkan www.drug.com melalui drug interaction report, terjadi interaksi
sebagai berikut :
a. Moderate : Stesolid dengan Phenobarbital yaitu dapat meningkatkan efek
samping seperti dizziness, drowsiness, confusion dan kesulitan konsentrasi.
Monitoring : melakukan pengawasan dan pengecekan CNS dan efek sesak pada
pernafasan.
b. Moderate : Dexamethasone dengan Phenobarbital yaitu membuat efek
dexamethasone menjadi kurang efektif. Diperlukan test khusus untuk penggunaan
kedua obat yang aman.
Monitoring : barbiturate dapat menurunkan konsentrasi kortikosteroid di dalam
darah karena barbiturate dapat menginduksi enzim CYP450 3A4 sehingga terjadi
metabolisme kortikosteroid. Untuk mendapatkan efek yang diharapkan, perlu
dilakukan monitoring dengan tepat saat dilakukan peningkatan dosis.
Kesimpulan : Berdasarkan data interaksi obat, tidak didapatkan masalah major
sehingga rasio penggunaan obat tidak memberikan efek merugikan yang besar dan
perlu dilakukan monitoring pada hari pertama penggunaan bersama antara stesolid
dengan phenorbarbital dan penggunaan dexametason dengan Phenobarbital.
2. Kesesuaian dosis dan tepat indikasi
- Piracetam Inj : Penggunaan obat ini diberikan pada hari 1 hingga hari ke 8,
penggunaan piracetam inj sudah tepat indikasi bagi pasien yang mengalami stroke
dan tumor di otak. Untuk melihat kesesuaian dosis penggunaan piracetam bagi
pasien, perlu dilakukan pengujian kreatinin terlebih dahulu. Hasil laboratorium
hari pertama menunjukkan hasil kreatinin pasien yaitu 0,63 mg/dl (dibawah
normal yaitu 0,67-1,17 mg/dl). Jika diukur menggunakan jumlah serum kreatinin,
maka pasien memiliki jumlah serum kreatinin yaitu 145,6 ml/min sehingga
dikategorikan normal. Dosis yang diterima pasien selama 1 hari yaitu 9 gram
dibandingkan dengan referensi yaitu dapat lebih dari 10 hingga 15 gram, sehingga
dosis piracetam inj telah sesuai.
- Citicoline Inj : Penggunaan citicoline diberikan pada hari 1 hingga hari ke 8.
Penggunaan citicoline inj sudah tepat indikasi bagi pasien yang baru mengalami

stroke karena citicolin dapat mengurangi kerusakan jaringan otak. Pemberian


dosis kepada pasien yaitu 750 mg dalam 1 hari, dan referensi menyatakan dosis
minimal 200-1000 mg dalam satu hari. Kesimpulannya adalah penggunaan
citicoline Inj sudah tepat indikasi dan tepat dosis.
Stesolid inj : Penggunaan obat ini diberikan hanya pada hari pertama. Stesolid
yang mengandung diazepam berfungsi untuk mengurangi rasa sakit, kejang atau
menenangkan pasien pasca stroke. Dosis yang diberikan pada pasien yaitu 10 mg,
dan jika dibandingkan dengan referensi yaitu 5-10 mg dalam 1 hari. Kesimpulan
penggunan obat ini yaitu obat tepat untuk penenang serta mengurangi rasa sakit
dari pasien, dan dosis telah sesuai.
Phenobarbital inj : Penggunaan obat ini diberikan hanya pada hari pertama. Fungsi
Phenobarbital yaitu meredakan dan mencegah kejang-kejang yang dialami oleh
pasien. Dosis yang diberikan kepada pasien yaitu 200 mg dan pemberiannya jika
pasien kejang. Referensi dosis yang diberikan yaitu 20-320 mg kepada pasien.
Kesimpulan penggunaan Phenobarbital telah tepat yaitu mengurangi kejangkejang pasca stroke, dan dosis yang digunakan telah tepat.
Ceftriaxone inj : Penggunaan obat ini diberikan pada hari pertama hingga hari ke
delapan. Penyakit bronchitis disebabkan oleh bakteri-bakteri seperti Chlamydia
pneumonia ataupun Mycoplasma pneumoniae. Pemberian ceftriaxone inj
bertujuan untuk membunuh bakteri-bakteri penyebab bronchitis akut. Dosis yang
diberikan kepada pasien yaitu 2 gram dalam 1 hari, dan jika dibandingkan dengan
referensi, pemberian untuk dewasa yaitu 1-2 gram per hari. Kesimpulan yaitu
penggunaan ceftriaxone inj sudah tepat indikasi dan tepat dosis.
Dexamethasone inj : Pemberian obat ini diberikan pada hari pertama hingga hari
ke empat. Penggunaan dexamethasone kepada pasien untuk mengurangi inflamasi
yang dirasakan pasien akibat dari adanya tumor di otak. Pemberian dosis
dexamethasone kepada pasien yaitu 10 mg, dan jika dibandingkan dengan
referensi yaitu 10 mg per hari. Dosis telah diberikan dengan tepat, akan tetapi
terdapat interaksi antara dexamethasone dengan Phenobarbital menyebabkan
penurunkan kadar dexamethasone. Untuk mendapatkan hasil yang optimal,
diperlukan pengawasan dan pemantauan langsung outcome yang diinginkan telah
terpenuhi atau tidak. Jika hasil yang diinginkan tidak terpenuhi dapat menaikkan
dosis 4 mg sesuai dengan referensi tiap 6 jam sekali beserta dengan pengawasan
yang ketat.
Phenytoin : Pemberian phenytoin diberikan mulai hari ke 2 hingga hari ke 8
menggantikan Phenobarbital. Phenytoin memiliki fungsi yang sama dengan
Phenobarbital yaitu untuk mengurangi kejang-kejang yang diderita oleh pasien.
Pemilihan phenytoin lebih rasional dibandingkan dengan Phenobarbital yang
dapat menurunkan kadar dexamethasone di dalam tubuh. Dosis yang diberikan
kepada pasien yaitu 200 mg secara peroral, dan jika dibandingkan dengan
referensi yaitu 300 mg dalam sehari. Kesimpulan penggunaan phenytoin sudah
tepat indikasi, dan untuk mendapatkan hasil yang optimal dapat menaikkan dosis
phenytoin menjadi 300 mg (diminum 3x1 @100 mg) jika pasien masih
mengalami kejang-kejang.

KSR : Pengukuran Kalium dilakukan pada hari pertama yaitu 3,24 mEq/L
(normalnya 3,5-5,1 mEq/L). Pemberian KSR diberikan mulai hari ke 2 hingga hari
ke dua hingga hari ke 7. Pada kasus bapak BP, terjadi penurunan kesehatan dan
kesadaran pasien pada tiap harinya. Penurunan kesehatan dan kesadaran pasien
juga menyebabkan kalium dalam darah menurun terukur pada hari ke 6 yaitu 2,15
mEq/L, hari ke 7 meningkat 2,51 mEq/L dan hari ke 8 yaitu 2,05 mEq/L. Upaya
untuk membantu meningkatkan kadar kalium di dalam tubuh yaitu dengan
pemberian potassium chloride atau KSR sehingga sudah tepat indikasi. Dosis
yang diberikan yaitu 1200 mg dalam sehari dan jika dibandingkan dengan
referensi sudah tepat yaitu 1560 mg 3900 mg (40-100 mEq).
Metronidazole : pemberian metronidazole diberikan pada hari ke 2 hingga ke 8.
Pemberian antibiotic metronidazole untuk membunuh bakteri pada penyakit
bronchitis akut. Dosis yang diberikan kepada pasien yaitu 1500 mg dalam 1 hari
dan jika dibandingkan dengan literature telah tepat dosis.
Ambroxol : obat ini digunakan pada hari ke 2 hingga ke 8. Penggunaan Ambroxol
mengeluarkan dahak akibat dari brokitis akut. Dosis yang diberikan kepada pasien
yaitu 30 mg, dan jika dibandingkan dengan referensi telah sesuai. Kesimpulan
yaitu penggunaan ambroxol telah tepat indikasi dan tepat dosis.
OBH sirup : obat ini digunakan pada hari ke 2 hingga hari ke 8. Penggunaan OBH
dikombinasi dengan ambroxol untuk meningkatkan efek ekspektoran. Dosis yang
digunakan yaitu dengan meminum 3 kali 1 sendok makan dan telah sesuai dengan
referensi.
Salbutamol tablet : obat ini diberikan pada hari ke 8. Penggunaan salbutamol
membantu mengurangi sesak nafas yang dialami oleh pasien pada hari ke 8. Dosis
yang diberikan kepada pasien yaitu 6 mg dan jika dibandingkan dengan dosis
referensi telah sesuai yaitu 2-4 mg diberikan 3-4 kali. Kesimpulan yaitu
penggunaan salbutamol telah tepat indikasi dan tepat dosis.