Anda di halaman 1dari 15

LAJU REAKSI

Kecepatan yang digunakan reaktan untuk berubah menjadi produk


disebut dengan laju reaksi.
Agar sebuah reaksi dapat terjadi maka partikel reaktan harus
bertumbukan
dengan
energi
yang
cukup
sehingga
reaksi
berhasil terjadi, energi ini disebut energi Aktivasi.
Teori Tumbukan dapat digunakan untuk menjelaskan laju reaksi kimia.

Berdasarkan teori tumbukan


-

Agar sebuah reaksi kimia dapat terjadi, maka partikel reaktan harus
bertumbukan satu sama lain.
Tidak semua tumbukan dapat menghasilkan pembentukan produk.
Hanya beberapa dari tumbukanlah yang dapat menyebabkan reaksi
kimia. Tumbukan semacam ini disebut dengan "tumbukan yang
berhasil".
Agar reaksi dapat terjadi, maka partikel reaktan harus bertumbukan
dengan energi minimum yang disebut energi aktivasi Ea.
Energi aktivasi pada umumnya lebih tinggi daripada partikel reaktan
dalam kondisi normal. Hanya tumbukan yang memiliki energi yang
sama atau lebih besar dari energi aktivasi akan menghasilkan
pembentukan produk.
Jika terdapat banyak tumbukan yang berhasil terjadi per satuan
waktu, maka reaksi akan berlangsung lebih cepat.

Laju reaksi berbanding secara langsung dengan frekuensi dari


tumbukan yang berhasil.

Sejumlah faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu:.


a. Temperatur/ Suhu
Jika temperatur/ suhu sebuah reaksi mengalami peningkatan, maka
energi kinetik dalam partikel juga akan meningkat. Hal ini
menyebabkan partikel dapat bergerak lebih leluasa sehingga jumlah
tumbukan yang berhasil mengalami peningkatan, demikian pula
dengan laju reaksi. Baik pada reaksi eksotermis maupun endotermis,
laju reaksi akan meningkat bersama dengan temperatur. Pada semua
reaksi kimia, laju reaksi akan meningkat pada saat temperatur
mengalami peningkatan per 10C.
b. Konsentrasi
Jika konsentrasi reaktan dalam sebuah larutan mengalami peningkatan,
maka terdapat jumlah partikel reaktan yang lebih besar tiap satuan
volume dan memungkinkan bertambahnya jumlah tumbukan yang
berhasil , sehingga meningkatkan laju reaksi.
c. Tekanan
Meskipun meningkatan tekanan pada sebuah reaksi hanya dapat
dilakukan pada zat padat sedangkan peningkatan tekanan pada zat
cair tidak berpengaruh pada laju reaksi, namun meningkatkan tekanan
pada reaktan yang berwujud gas dapat mempercepat laju reaksi.
Tekanan dapat ditingkatkan dengan menambahkan reaktan berwujud
gas atau dengan menggunakan bejana reaktan yang lebih kecil. Hal ini
akan meningkatkan jumlah tumbukan yang berhasil, dan dengan
sendirinya meningkatkan kecepatan laju reaksi.
d. Percampuran
Jika sejumlah reaktan dicampurkan, mereka berada dalam kondisi
bergerak sehingga meningkatkan jumlah tumbukan yang berhasil dan
dengan demikian meningkatkan laju reaksi.
e. Areal Permukaan
JIka reaktan berupa benda padat dihaluskan, maka reaksi akan lebih
cepat terjadi dibandingkan pada reaktan padat yang berwujud irisan
atau gumpalan. Dengan dihaluskan maka areal permukaan reaktan
juga akan mengalami peningkatan. Banyaknya jumlah reaktan yang
saling terkait satu sama lain dengan sendirinya meningkatkan peluang
terjadinya tumbukan yang berhasil dan laju reaksi. Sama halnya
dengan katalisator padat yang diubah dalam bentuk bubuk pada saat
digunakan untuk sebuah reaksi kimia.
f. Orientasi reaktan
Partikel reaktan harus berada pada orientasi spasial yang tepat serta
dianjurkan guna
memutuskan
rantai
reaksi. Semakin
besar
kemungkinan terjadinya tumbukan antara reaktan dengan orientasi

yang dibutuhkan, semakin besar peluang terjadinya tumbukan yang


berhasil dan mempercepat terjadinya laju reaksi.
g. Katalisator
Katalisator adalah sebuah substansi yang meningkatkan kecepatan
pada reaksi kimia, namun zat itu sendiri tidak mengalami perubahan.
Hal ini juga meningkatkan jumlah tumbukan efektif diantara reaktan,
yakni dengan menurunkan energi aktivasi atau mengubah orientasi
pada reaktan.

Reaksi kimia memanfaatkan pengaturan atom dalam molekul.


Rantai kimia dapat menjadi rusak dan dibentuk dengan melakukan
transfer atau membagikan elektron. Mereka membutuhkan penyerapan
atau pelepasan energi. Semua molekul memiliki sejumlah energi
kinetik dan potensial. Energi kinetik memungkinkan mereka bergerak
bebas dan saling bertumbukan satu sama lain, sementara energi
potensial disimpan dalam jaringan mereka. Semakin cepat molekul
bergerak, semakin besar pula peluang terjadinya tumbukan. Tumbukan
bertanggung jawab untuk membuat dan memecah jaringan. Dengan
hanya memiliki jumlah tumbukan yang besar tidak akan
mengakibatkan terjadinya reaksi. Molekul harus berorientasi dengan
tepat agar reaksi dapat terjadi. Dengan kata lain, jika molekul
bertumbukan satu sama lain pada sudut yang kurang tepat maka
jaringan tidak akan terpecah maupun terbentuk.
Batasan energi minimum yang harus dimiliki sebuah reaksi kimia untuk
dapat terjadi disebut dengan energi aktivasi (E a). Energi ini biasanya

ditulis dengan kilojoule per mol. Semakin besar energi aktivasi,


semakin lama waktu yang dibutuhkan sebuah reaksi untuk berakhir
dan semakin sulit reaksi dimulai. E a adalah perbedaan energi antara
reaktan dan kondisi transisi. Kondisi transisi adalah bagian reaksi yang
memiliki energi terbesar. Contoh reaksi:

Kompleks yang diaktifkan adalah ClN2O3. Ini adalah molekul tidak stabil
yang cukup tinggi. Kompleks ini akan segera terpecah menjadi produk
NO2(g) dan ClNO(g).
Kompleks yang diaktifkan memiliki energi tertinggi pada diagram
energi.
Katalisator mengurangi energi aktivasi dengan mengatur molekul
dengan tepat sehingga mereka dapat membentuk jaringan dengan
lebih mudah. Katalisator juga meningkatkan laju reaksi dan
memungkinkan reaksi untuk terjadi lebih cepat. Mereka tidak habis
digunakan dalam reaksi. Anda tidak perlu menambahkan banyak
katalisator untuk menghasilkan dampak besar dari reaksi Anda.
Katalisator tidak mempengaruhi konstanta ekuilibrium reaksi. Dengan
kata lain, zat ini tidak merubah hubungan antara produk dengan
reaktan.
Selain katalisator, hal lain yang mempunyai efek pada laju reaksi
adalah temperatur. Ketika temperatur substansi meningkat, kecepatan
partikel individual pun juga meningkat. Sehingga, ketika temperatur
meningkat, energi kinetik juga meningkat. Seiring dengan
meningkatnya energi kinetik, pemisahan molekul yang mempunyai
energi kinetik cukup tinggi untuk membentuk energi aktivasi untuk
reaksi juga meningkat.
Pemisahan molekul yang memiliki energi sama atau lebih besar
daripada Ea dilakukan oleh aturan eksponensial e-(Ea/RT) dalam persamaan
Arrhenius:

k adalah rerata konstanta


Ea adalahenergi aktivasi
R adalah konstanta gas
T adalah temperatur dalam Kelvin
A adalah faktor Arrhenius.

Ini mengindikasikan rerata tumbukan dan pemisahan tumbukan


dengan orientasi terbaik untuk terjadinya reaksi. Kita menghilangkan

faktor ini atau menuliskannya sebagai "1" karena kita biasanya


mengikutsertakan faktor ini bahkan ketika menuliskan E a . A selalu
diberikan dalam syarat M-1s-1, dimana M = Molaritas dan s = sekon
Anda dapat menghitungnya ketika terdapat dua temperatur tidak
diketahui dan sebuah rerata konstanta pada tiap temperatur. Ln berada
pada satu sisi sehingga:

Jadi,

Mengurangi dua persamaan :

Grafik berikut ini menerangkan konsep energi aktivasi dalam reaksi


reversibel:

Para
ilmuwan
telah
mengembangkan
teori
untuk menjelaskan bagaimana materi berperilaku sebagai benda
padat, benda cair dan gas,teori ini disebut dengan Teori Kinetik
Molekular. Berikut ini adalah Dalil dari Teori Kinetik Molekular:
1. Semuanya terdiri dari atom dan molekul yang tidak berubah.
2. Atom dan molekul berada dalam gerakan acak yang konstan.
3. Tabrakan antara partikel ini benar-benar elastis. (Ini berarti bahwa
tidak ada energi yang hilang ketika partikel menabrak satu sama
lain.)

Konsekuensi dari tiga dalil ini adalah bahwa benda padat, benda cair
dan gas mempunyai perbedaan hanya pada cara partikelnya bergerak
dan berinteraksi dengan satu sama lain.

Suhu adalah ukuran rata-rata energi kinetik dari suatu partikel. Tidak
masalah apakah partikel berada dalam bentuk padat, cair atau gas,
semua partikel pada suhu yang sama akan juga memiliki rata-rata
energi kinetik yang sama.

Gas

Gas dapat berpindah dengan mudah. Gas selalu bisa menyesuaikan


bentuk sesusai dengan wadah dimana gas berada dan tidak memiliki
bentuk atau volume tertentu.

Partikel gas bergerak dengan cepat, dengan sedikit gaya tarik menarik
atau tidak ada gaya sama sekali diantara partikel.

Dalam gas, ada jarak antara partikel-partikel. Partikel gas bergerak


dalam garis lurus sebelum berbenturan satu sama lain.Volume partikel
dalam gas sangat kecil dibandingkan dengan total volume dalam
wadah dimana gas itu berada. Ini berarti gas mempunyai kerapatan
yang lebih rendah dibandingkan benda padat atau cair, karena
partikelnya tidak berdekatan satu sama lain. Gas juga dapat di
mampatkan, karena adanya jarak diantara partikel.

"Tekanan" diberikan oleh gas, karena partikel gas yang kecil secara
konstan menabrak dinding wadah dengan kekuatan. Tekanan adalah
kekuatan rata-rata partikel gas per luas permukaan.

Benda Cair

Benda cair memiliki sedikit jarak diantara partikel. Benda cair memiliki
volume pasti, tapi tidak memiliki bentuk yang pasti. Partikel dalam
benda cair selalu dalam gerakan konstan dan selalu kontak dengan
partikel di sekitarnya, sehingga partikel benda cair mengalir melewati
satu sama lain.

Tidak seperti gas, benda cair tidak dapat di mampatkan.

Alasan mengapa partikel cair tidak bergerak terpisah ketika bergerak


disekitar adalah karena partikel cair memiliki daya tarik kuat antara
partikel. Jika partikel mendapat energi yang cukup untuk keluar dari
tarikan itu, makan akan berubah menjadi partikel gas. Sebagai contoh,
ketika Anda meninggalkan segelas air di luar, partikel air mendapatkan
energi yang cukup untuk menguap.

Jadi kenapa air menguap bahkan jika tidak mendidih? Ini dikarenakan
air mempunyai suhu "rata-rata". Partikel individual dalam air

mempunyai berbagai macam energi kinetik masing-masing. Beberapa


partikel bisa bergerak sangat cepat, dan sebagian lain nya bergerak
sangat lambat. Partikel-partikel yang mempunyai cukup energi untuk
melepaskan diri, memiliki "suhu" yang lebih tinggi dibanding yang
tidak memiliki.

Untuk itu, semua cairan memiliki tekanan uap pada suhu tertentu.
Tekanan uap adalah tekanan yang diberikan oleh partikel cairan
terbatas.

Benda Padat

Benda padat mempunyai volume dan bentuk yang pasti. Partikel tidak
bergerak dari posisi relatif-nya, tapi bergetar terhadap satu sama lain.
Partikel dalam benda padat disatukan oleh kekuatan paling kuat dari
tiga wujud materi.

Seperti benda cair, benda padat tidak dapat di mampatkan, karena


sedikitnya ruang yang tersedia dalam padat atau cair.

Semua benda padat terbuat dari kristal, yang mempunyai pola berulang.Benda padat tak berbentuk (Amorphous solids), atau benda
padat yang memiliki krital sedikit, bukan merupakan benda padat
"sesungguhnya" dalam artian ilmiah. Contoh-nya: mentega, lilin, kaca,
dan plastik.

Selain mencair, benda padat bisa langsung ke fase gas melalui proses
sublimasi.
Gas memiliki beberapa sifat khusus:

1. Gas tidak memiliki bentuk atau volume yang pasti. Mereka


mengambil volume dan bentuk dariwadah apapun yang mereka masuki

2. Partikel gas bergerak sangat cepat. Mereka juga bergerak secara


acak, dalam gerak Brown.

3. Partikel bergerak dalam garis lurus sampai mereka menabrak satu


sama lain secara elastis sempurna. Ini berarti bahwa tidak ada energi
yang hilang sebagai akibat dari tumbukan.

4. Gas mempunyai kepadatan lebih rendah dibanding benda padat dan


benda cair karena memiliki jarak/ruang diantara partikel.

5. Karena jarak/ruang ini, gas bisa dimampatkan.

Karena ada begitu banyak ruang antara partikel, ilmuwan sering


menganggap bahwa partikel gas sendiri memiliki volume dan daya
tarik antar partikel yang dapat diabaikan. Dalam perhitungan, anda
akan menganggap bahwa volume dan kekuatan daya tarik antara
partikel keduanya adalah NOL.

Energi kinetik dari partikel gas dijelaskan seperti:


KE = 1/2 mv2
Dimana m adalah massa partikel, dan v adalah kecepatan.

Perlu diingat, hubungan ini memberi kita kecepatan RATA-RATA dari


partikel gas yang berada dalam wadah tertentu.

Pada suatu tiitik, energi Kinetik berlaku sama untuk semua gas.
Sebagai contoh, 1 mol dari O2 gas mempunyai energi kinetik yang
sama pada 25 sebagai 1 mol dari H2 gas pada 25.

Sebagai fakta bahwa keduanya mempunyai energi kinetik yang sama,


dan fakta bahwa H2 lebih ringan daripada O2, kita bisa lihat
bahwa O2 bergerak dengan kecepatan lebih lambat dari H2. H2 harus
bergerak lebih cepat untuk memiliki energi kinetik yang sama.

Tekanan yang diberikan gas pada dinding wadah dimana gas berada
berhubungan dengan seberapa keras dan seberapa sering molekul
menabrak dinding wadah tersebut.

Hukum boyle

Hukum Boyle menyatakan bahwa Tekanan dan Volume jumlah tetap


gas berbanding terbalik pada temperatur tertentu:

PV = k

Dengan kata lain, jika anda mengurangi volume gas, tekanan akan
meningkat. anda dapat menulis hubungan ini menggunakan
persamaan berikut:

P1V1 = P2V2 (karena P1/V1 = P2/V2 = k)

Hukum Charles

Hukum Charles menyatakan bahwa suhu sebanding dengan volume


pada jumlah gas yang tetap pada tekanan tetap. Persamaan untuk
hukum Charles adalah

V/T = k

Dengan kata lain, jika anda meningkatkan temperatur gas, tekanan


juga akan meningkat. Anda dapat menulis hubungan ini menggunakan
persamaan berikut:

V1/T1 = V2/T2

Hukum Gay-Lussac

Hukum Gay-Lussac menyatakan bahwa suhu proporsional dengan


tekanan untuk jumlah gas yang tetap pada volume yang juga tetap.
Persamaan untuk hukum Gay-Lussac adalah

P/T = k

Dengan kata lain, jika anda meningkatkan tekanan gas, suhu juga akan
meningkat. Anda dapat menulis hubungan ini menggunakan
persamaan berikut:

P1/T1 = P2/T2

Hukum Avogadro

Hukum Avogadro menyatakan bahwa volume gas sebanding dengan


jumlah gas mol pada suhu dan tekanan tetap. Persamaan untuk hukum
Avogadro adalah

V/n = k

Dengan kata lain, jika anda meningkatkan mol gas dengan memompa
ke dalam wadah sambil menjaga agar tekanan dan temperatur tetap
stabil, volume akan meningkat. Anda dapat menulis hubungan ini
menggunakan persamaan berikut

V1n1 = V2n2

Hukum Gas Ideal

Kombinasi dari hukum ini adalah "Hukum Gas Ideal" Hukum ini disebut
"ideal" karena hanya menjelaskan"gas ideal." Gas ideal adalah salah
satu istilah yang ilmuwan gunakan untuk menjelaskan pendekatan
perilaku gas yang sebenarnya. Pendekatan ini bekerja sangat baik. Gas
ideal adalah salah satu partikel yang tidak memiliki kekuatan daya tarik
atau volume. Hukum nya adalah sebagai berikut:

PV = nRT

dimana
P: Tekanan di atmosfer
V: Volume dalam liter
n: jumlah mol
R: gas yang ideal konstan = 0.08205746 (Liter)(atmosfer)/(Kelvin)(mol)
T: Suhu dalam Kelvin

Hukum ini membantu menjelaskan hubungan antara Tekanan, Volume,


Kuantitas dan Suhu gas .

Kecepatan yang dibutuhkan oleh reaktan berubah menjadi produk


disebut dengan laju reaksi. Molekul reaktan memiliki energi kinetik
dengan jangkauan cukup luas.Namun hanya sebagian kecil dari partikel
yang memiliki energi kinetik yang cukup untuk menembus jaringan
sehingga menghasilkan reaksi kimia.
Energi minimum yang harus ditimbulkan agar reaksi kimia
dapat terjadi, inilah yang disebut dengan energi aktivasi atau
energi awal.
Energi aktivasi lebih besar daripada partikel reaktan pada kondisi
normal. Hanya tumbukan yang memiliki energi yang sama atau lebih
besar daripada energi aktivasi akan menghasilkan pembentukan
produk. Jika energi tumbukan lebih kecil daripada energi aktivasi, maka
partikel akan terpental.

Hubungan antara temperatur dan energi aktivasi


Partikel individu dalam sebuah substansi memiliki energi kinetik yang
berbeda. Beberapa dari partikel bergerak perlahan, sebagian lainnya
bergerak cepat dan sebagian besar partikel bergerak dalam kecepatan
menengah. Saat meningkatkan temperatur, energi panas yang didapat
akan meningkatkan energi kinetik pada partikel. Kemudian partikel
akan memperoleh energi kinetik awal, yaitu sejumlah energi minimum
yang dibutuhkan partikel reaktan untuk bereaksi. Energi ini mirip
dengan energi aktivasi yang merupakan level energi yang harus
ditimbulkan agar sebuah reaksi dapat terjadi. Jumlah molekul dengan
energi lebih besar atau sama dengan energi aktivasi juga akan
meningkat. Maka peluang terjadinya tumbukan yang berhasil
meningkat seiring dengan meningkatnya laju reaksi. Pada sebagian
besar reaksi, laju reaksi bertambah untuk setiap peningkatan
temperatur 10.
Peningkatan temperatur juga meningkatkan jumlah tumbukan yang
berhasil
dan
laju
reaksi.
Namun
ini
hanyalah
faktor
minor. Meningkatnya jumlah molekul yang memiliki energi hampir
sama atau sama besar dengan energi aktivasi setelah naiknya
temperatur adalah faktor utama yang menentukan laju reaksi.
Hubungan antara katalisator dan energi aktivasi
Katalisator adalah sebuah substansi yang meningkatkan laju reaksi.
Namun substansi ini tidak berubah secara kimiawi dan jumlahnya tetap
pada saat reaksi berakhir. Hal ini meningkatkan laju reaksi dengan
menyediakan jalur alternatif untuk reaksi dengan energi aktivasi lebih

rendah. Sehingga partikel reaktan mempunyai energi minimum yang


dibutuhkan untuk memecah jaringan dan meningkatkan laju reaksi.
-

Katalisator mengurangi energi aktivasi dengan mengubah


orientasi relatif pada partikel reaktan.
Menyediakan jalur alternatif bagi reaksi.
Menyumbangkan kepadatan elektron pada partikel reaktan.
Mengurangi ikatan antar molekul pada partikel reaktan.

Efek dari tekanan atau konsentrasi pada laju reaksi


Tekanan mempengaruhi laju reaksi yang melibatkan reaktan gas,
dimana zat ini harus ditekan hingga memiliki volume lebih kecil. Karena
adanya massa yang sama pada volume yang lebih kecil, tekanan dan
konsentrasi meningkat. Sekarang partikel reaktan memiliki ruang lebih
sempit untuk bergerak. Hal ini meningkatkan peluang tumbukan yang
berhasil dan dengan sendirinya meningkatkan laju reaksi.
Meningkatkan volume gas akan menurunkan tekanan dan turut
menurunkan konsentrasi, jumlah tumbukan yang berhasil dan laju
reaksi.
Efek dari areal permukaan pada laju reaksi
Areal permukaan adalah bagian utama bagi sebuah substansi padat.
Hal ini dapat ditingkatkan dengan menghaluskan reaktan padat,
meningkatkan frekuensi tumbukan yang berhasil, menghasilkan laju
reaksi lebih tinggi.