Anda di halaman 1dari 9

SEJARAH PERADABAN ISLAM

OLEH
NAMA
NIM

: MUSFIRA
: 60400114050

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2015

1. PROSES HIJRAH RASULULLAH SAW


Kaum Quraisy berencana untuk membunuh Nabi Muhammad SAW pada
malam hari. Hal ini direncanakan karena ketakutan orang Quraisy akan hijrahnya
Nabi Muhammad SAW ke Yastrib untuk memperkuat diri di sana. Semua rencana
yang digendakan oleh orang Quraisy dengan izin Allah terdengar oleh Nabi

Muhammad SAW sehingga dia dapat mempersiapkan segala sesuatu yang seharusnya
dilakukan dengan lebih dini. Memang tidak ada orang yang menyangsikan bahwa
Nabi Muhammad SAW menggunakan kesempatan itu untuk hijrah tetapi karena
begitu kuatnya dia menyimpan rahasia sehingga tidak ada seorangpun yang
mengetahui, sekalipun itu Abu Bakr. Ketika dia sudah mengetahui keadaan Quraisy
dan kaum Muslimin sudah tidak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian kecil Nabi
Muhammad berkeinginan untuk hijrah ke Yastrib. Dalam dia menantikan perintah
Tuhan yang mewahyukan kepadanya supaya hijrah, ketika itulah ia pergi ke rumah
Abu Bakr dan memberitahukan, bahwa Allah telah mengijinkan dia hijrah. Kemudian
Nabi Muhammad SAW meminta Abu Bakr untuk menemaninya dalam hijrahnya,
yang kemudian diterima baik oleh Abu Bakr. Sebelum peristiwa itu Abu Bakr
memang sudah menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya
kepada Abdullah bin Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan. Tatkala kedua
orang itu sudah siap-siap meninggalkan Mekah mereka sudah yakin sekali, bahwa
Quraisy pasti membuntuti mereka. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW
memutuskan untuk menempuh jalan lain dari yang biasa, juga akan berangkat bukan
pada waktu yang biasa
Pemuda-pemuda yang sudah disiapkan Quraisy untuk membunuhnya malam
itu sudah mengepung rumahnya, karena dikhawatirkan dia akan lari. Pada malam
akan hijrah itu pula Nabi Muhammad SAW membisikkan kepada Ali bin Abi Talib
supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di
tempat tidurnya. Menjelang larut malam waktu itu, dengan tidak setahu mereka Nabi
Muhammad SAW sudah keluar menuju ke rumah Abu Bakr. Jalan yang ditempuh
oleh mereka berdua adalah jalan yang tidak mungkin dilewati manusia. Sebelum
melakukan perjalanan ke Madinah, Nabi bersama Abu Bakar bersembunyi di gunung
tsur dalam Gua tsur selama 3 hari 3 malam. Pada saat itu Nabi dan Sahabat Abu Bakar
tengah pengejaran para kaum musyrikin quraisy. Mereka hendak membunuh Nabi
sebagai upaya memadamkan cahaya islam. Namun, upaya pengejaran belum berhasil
karena banyak pertolongan Allah diberikan kepada Nabi dan Abu Bakar. Terlihat dari
adanya

sarang laba-laba,

Sehingga

mengindikasikan

tidak

ada orang di

dalamnya. Barulah setelah itu, Nabi bersama sahabat Abu Bakar memulai
perjalanan menuju Madinah.
Diriwayatkan bahwa Nabi dan Abu bakar melakukan perjalanan bersama dua
orang penunjuk jalan yaitu Abdullah bin Uraiqith dan Amir Bin Fuhairah dengan

berkendaraan unta. Kaum musyrikin quraisy setelah kehilangan Nabi dan Abu Bakar,
mereka sibuk menyiarkan ke sekeliling kota Mekah dan kepada Suku-suku dan
kabilah, kepala-kepalanya dimintai pertolongan untuk mencari Nabi Muhammad.
Siapapun yang berhasil menangkap nabi akan diberikan 100 ekor unta. Di tengah
perjalanan di sebuah dusun bernama qudaidin. Salah seorang penduduknya mengenali
Nabi dan sahabat Abu bakar. Kemudian diceritakan kepada pemimpin kabilahnya
bernama Suraqah bin Malik Al Mudlij. Namun Suraqah menyangkalnya karena ia
ingin menangkapnya sendirian. Secepatnya Suraqah mengejar perjalanan Nabi dan
Sahabat Abu Bakar. Abu bakar yang mengetahui ada seseorang mengejarnya merasa
khawatir sampai menangis kalau orang tersebut menangkap Nabi. Nabi pun berdoaa
kepada Allah dan dengan kehendak Allah berulang kali kuda yang ditunggangi
Suraqah tergelincir dan Suraqah jatuh terpelanting ke tanah. Keluarlah rasa bahwa
kemenangan akan di dapat oleh Nabi Muhammad. Kemudian Suraqah memanggil
nama Nabi dan meminta perlindungan dari bahaya dan juga mengucapkan beribu
maaf. Akhirnya mengadakan perjanjian tertulis. Dari Suraqahlah Nabi mulai
mengetahui tentang imbalan 100 ekor unta jika berhasil menangkapnya. Nabi
tersenyum dan memerintahkan untuk merahasiakan tentang kepergian dirinya.
Selanjutnya Nabi dan sahabat Abu Bakar singgah di sebuah perkemahan milik
seorang perempuan bernama Ummu Mabad. Mereka hendak membeli kurma, daging,
dan air susu. Pada saat itu nabi melihat seekor kambing yang kurus menderita payah
dan sakit. Beliau hendak memerah susunya dengan ijin Allah memancarlah begitu
banyak air susu, padahal kambing itu sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air susu.
Peristiwa menakjubkan ini diceritakan kembali oleh Ummu Mabad kepada suaminya
Abu Mabad. Sampai-sampai ia pun bercita-cita jika bertemu Nabi ingin menjadi
pengikut dansahabatnya. Sesudah itu, bertemu pula dengan rombonganm kafilah dari
Qabilah Banu Sahmin yang dikepalai oleh Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslamy.
Buraidah yang berhasrat mendapatkan hadiah 100 ekor unta ingin pula menangkap
Nabi. Beserta 70 orang kaumnya hendak menangkap Nabi namun dengan kehendak
Allah seketika itu mereka semua membaca Syahadat dan berislam. Sebelum sampai di
Madinah beliau telah mendapat pengikut baru yang dijumpai selama perjalanan.
Mereka mengiringi Nabi hingga ke Madinah. Saat masuk ke Madinah dikibarkanlah
bendera.
2. PENYEBAB RUNTUHNYA DAULAH ABBASIYAH

Faktor internal
1) Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan
Banyak sejarawan yang menyatakan bahwa perebutan kekuasaan
antara keluarga Bani Abbasiyah ialah ketika terjadinya perang saudara antara
al-Amin dan al-Makmun.

Tetapi kalau kita cermati lebih dalam bahwa

perebutan kekuasaan antara keluarga Bani Abbasiyah adalah ketika masa


khalifah Musa al-Hadi yaitu ketika Musa al-Hadi ingin membatalkan putra
mahkota yang diberikan khlaifah al-Mahdi kepada Harun ar-Rasyid dan
membaiahkan putranya sendiri yang bernama Jafar. Walaupun hal ini tidak
kesampaian dilaksanakan oleh Musa al-Hadi karena dia telah diburu ajalnya.
2) Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil Yang Memerdekakan Diri
Dinasti yang lahir dan memisahkan diri dari kekuasaan Baghdad pada
masa khilafah Abbasiyah, di antaranya adalah:
Yang berkembasaan Persia: Thahiriyyah di Khurasan (205-259
H), Shafariyah di Fars (254-290 H), Samaniyah di Transoxania
(261-389 H), Sajiyyah di Azerbaijan (266-318 H), Buwaihiyyah,
bahkan menguasai Baghdad (320-447).
Yang berbangsa Turki: Thuluniyah di Mesir (254-292 H),
Ikhsyidiyah di Turkistan (320-560 H), Ghaznawiyah di Afganistan
(352-585 H), Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya
Yang berbangsa Kurdi: al-Barzukani (348-406 H), Abu Ali (380489 H), Ayubiyah (564-648 H).
Yang berbangsa Arab: Idrisiyyah di Marokko (172-375 h),
Aghlabiyyah di Tunisia (18-289 H), Dulafiyah di Kurdistan (210285 H), Alawiyah di Tabaristan (250-316 H), Hamdaniyah di
Aleppo dan Maushil (317-394 H), Mazyadiyyah di Hillah (403545 H), Ukailiyyah di Maushil (386-489 H), Mirdasiyyah di
Aleppo 414-472 H).
Yang Mengaku sebagai Khalifah : Umawiyah di Spanyol dan
Fatimiyah di Mesir.
3) Munculnya Aliran-Aliran Sesat dan Fanatisme Keagamaan
Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai untuk menjadi
penguasa,

maka

kekecewaan

mempropagandakan

itu

ajaran Manuisme,

mendorong

sebagian

mereka

Zoroasterisme dan Mazdakisme.

Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa
keimanan para khalifah.

Faktor eksternal
1) Disintegrasi
Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan
peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu, provinsiprovinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani
Abbasiyah, dengan berbagai cara di antaranya pemberontakan yang dilakukan
oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh.
Bahkan berusaha merebut pusat kekuasan di Baghdad. Hal ini dimanfaatkan
oleh pihak luar dan banyak mengorbankan umat, yang berarti juga
menghancurkan Sumber Daya Manusia (SDM). Yang paling membahayakan
adalah pemerintahan tandingan Fatimiah di Mesir walaupun pemerintahan
lainnyapun cukup menjadi perhitungan para khalifah di Baghdad. Pada
akhirnya, pemerintah-pemerintah tandingan ini dapat ditaklukan atas bantuan
Bani Saljuk atau Buyah
2) Perang Salib
Kekalahan tentara Romawi telah menanamkan benih permusuhan dan
kebencian orang-orang kristen terhadap ummat Islam. Kebencian itu
bertambah setelah Dinasti Saljuk yang menguasai Baitul Maqdis menerapkan
beberapa peraturan yang dirasakan sangat menyulitkan orang-orang Kristen
yang ingin berziarah kesana. Oleh karena itu pada tahun 1095 M, Paus
Urbanus II menyerukan kepada ummat kristen Eropa untuk melakukan perang
suci, yang kemudian dikenal dengan nama Perang Salib.
Perang salib yang berlangsung dalam beberapa gelombang atau periode telah
banyak menelan korban dan menguasai beberapa wilaya Islam. Setelah
melakukan peperangan antara tahun 1097-1124 M mereka berhasil menguasai
Nicea, Edessa, Baitul Maqdis, Akka, Tripoli dan kota Tyre.
3) Serangan Mongolia ke Negeri Muslim dan Berakhirnya Dinasti
Abbasiyah
Orang-orang Mongolia adalah bangsa yang berasal dari Asia Tengah.
Sebuah kawasan terjauh di China. Terdiri dari kabilah-kabilah yang kemudian
disatukan oleh Jenghis Khan (603-624 H). Sebagai awal penghancuran Bagdad

dan Khilafah Islam, orang-orang Mongolia menguasai negeri-negeri Asia


Tengah Khurasan dan Persia dan juga menguasai Asia Kecil.
3. PENGARUH PERADABAN DAULAH UMAYYAH II DI ANDALUSIA
TERHADAP PERADABAN ISLAM
Peradaban daulah umayyah II sangat berpengaruh dalam perkembangan
perdaban islam di Andalusia, diantaranya :
a) Perkembangan Pembangunan
Kemajuan Bani Umayyah di Andalusia ditandai dengan pembangunan yang
megah diantaranya:
al-Qashr al-Kabir , kota satelit yang didalamnya terdapat gedunggedung istana megah.
Rushafat, istana yang dikelilingi oleh taman yang di sebelah barat laut
Cordova
Masjid jami Cordova, dibangun tahun 170 H/786 M yang hingga kini
masih tegak.
Al-Zahra, kota satelit di bukit pegunungan Sierra Monera pada tahun
325 H/936 M. Kota ini dilengkapi dengan masjid tanpa atap (kecuali
mihrabnya) dan air mengalir ditengah masjid, danau kecil yang berisi
ikan-ikan yang indah, taman hewan (margasatwa), pabrik senjata, dan
pabrik perhiasan.
b) Kemajuan Intelektual
Perkembangan tersebut meliputi:

Filsafat.
Filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama
pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd alRahman (832-886 M). Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat ArabSpanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal
dengan Ibn Bajjah dan Abu Bakr ibn Thufail.

Sains.
Abbas ibn Farnas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang
pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu.

Fiqih.

Dalam bidang fikih, Spanyol dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang
memperkenalkan mazhab ini disana adalah Ziyad ibn Abd al-Rahman.
Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pad
masa Hisyam ibn Abd al-Rahman. Ahli-ahli fikih lainnya yaitu Abu Bakr ibn
al-Quthiyah, Munzir ibn Said al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.

Musik dan Kesenian.


Seni musik Andalusia berkembang dengan datangnya Hasan ibn Nafi yang
lebih dikenal dengan panggilan Ziryab. Ia adalah seorang maula dari Irak,
murid Ishaq al Maushuli seorang musisi dan biduan kenamaan di istana Harun
al Rasyid. Ziryab tiba di Cordova pada tahun pertama pemerintahan Abd al
Rahman II al Autsath. Keahliannya dalam seni musik dan tarik suara
berpengaruh hingga masa sekarang. Hasan ibn Nafi dianggap sebagai peketak
pertama dasar dari musik Spanyol modern. Ialah yang memperkenalkan notasi
do-re-mi-fa-so-la-si. Notasi tersebut berasal dari huruf Arab.

Kedokteran
Ada banyak sumbangan Islam yang sangat menonjol dan telah menjadi dasar
kemajuan Barat dalam ilmu kedokteran. Dokter Islam, al-Kindi (809-873 M),
telah menulis buku Ilmu Mata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin
menjadi Optics. Selain itu, terkenal pula ar-Razi (865-925 M) yang oleh orang
Barat-Latin disebut Rhazez. Ia mengarang sebuah buku kedokteran
berjudul al-Hawi. Ahli kedokteran yang terkenal pada saat itu antara lain
adalah Abu al-Qasim al-Zahrawi. Di Eropa ia dikenal dengan nama
Abulcassis. karya besarnya adalahKulliyat al-Thib. Dokter islam lain yang
terkenal adalah Ibnu Sina (Avecinna). Ia menulis buku yang berjudul alQonun fit-Thib, diterjemahkan dalam bahasa Latin dengan judul Qonun of
Medicinedan menjadi buku pegangan diperguruan-perguruan tinggi selama 30
tahun terakhir dari abad 15. Buku kedoteran lain Ibn Sina berjudulMateria
Medica memuat kira-kira 760 macam ilmu dipakai pedoman terutama di
Barat. Dikatakan oleh William Osler, bahwa diantara kitab-kitab yang lain,
kitab Ibnu Sina lah yang tetap merupakan dasar ilmu ketabiban untuk masa
yang paling lama.

Sejarah

Dalam bidang ilmu sejarah ternyata karya-karya ilmu sejarah ternyata juga
memberikan sumbangan dan pengaruh dalam pemikiran-pemikiran sarjana
Barat. Ibnu Khaldun, melalui karya Muqaddimah-nya, dialah yang pertama
kali

mengemukakan

teori

perkembangan

sejarah,

baik

berdasarkan

penyelidikan faktor jasmani dan iklim, maupun kekuatan moral dan ruhani.
Sebagai orang yang mencari dan merumuskan hukum kemajuan dan
keruntuhan bangsa, maka Ibnu Khaldun dapat dianggap sebagai pencipta ilmu
baru, karena tak ada penulis Arab maupun Eropa yang mempunyai pandangan
sejarah

yang

sejelas

itu

dan

mengulasnya

secara

filsafat.

Buku Muqaddimah Ibnu Khaldun menjadi tumpuan studi para ahli Barat dan
ahli-ahli lainnya, dan kebebasan Ibnu Khaldun diakui oleh sejarawan Toynbee.

Matematika
Ilmu eksakta yakni matematika mulai berkembang karena didorong dengan
adanya perkembangan filsafat. Ilmu pasti dikembangkan orang Arab berasal
dari buku India yaitu Sinbad, yang diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh
Ibrahim al-fazari (154 H/ 771 M).[9] Dengan perantara buku ini, kemudian
Nasawi seorang pakar matematika memperkenalkan angka-angka India seperti
0,1, 2, hingga 9), sehingga angka-angka India di Eropa lebih dikenal dengan
angka Arab.

Bahasa dan Sastra.


Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di
Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non-Islam.
Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor duakan bahasa asli mereka

4. MANFAAT SEJARAH
Dengan mempelajari sejarah kita dapat mengetahui perkembangan islam dari
masa ke masa, semangat dan kesabaran yang dimiliki oleh para pahlawan islam dalam
menyebarkan agama serta dapat memperluas wawasan kita mengenai negara yang
pernah dikuasai oleh islam yang kemudian kembali menjadi islam yang minoritas.