Anda di halaman 1dari 4

Wawancara Ahli Gizi Rumah Sakit

Nama Pewawancara

: Ade Mutia Sari


Diana Prasta
Gita Lestari

Tanggal Wawancara

: 11 November 2016

Biodata Ahli Gizi


Nama

: Yuyun Rahmawati AMG

Tempat Tanggal Lahir

: Semarang, 16 Mei 1982

Alamat

: Kebon Nanas Jalan Sekneg RT.007 RW.01 Nomor 43


Kelurahan Panunggangan Utara Kecamatan Pinang Kota
Tangerang 15143

Riwayat Pendidikan

: SDN Rejosari
SMPN 6 Semarang
SMAN 11 Semarang
Politeknik Kesehatan Semarang (lulusan tahun 2003)

Pengalaman Kerja

: RS Banyumas (2004 2005)


RS Siloam Karawaci Tangerang (2005 2008)
RS Pondok Indah Puri Kembangan (2008 2010)
RS Grha Kedoya (2010 2011)
RS Sentra Medika Cibinong (Februari 2011 Oktober 2011)
RS Ciputra Citra Raya (Oktober 2011 2012)
RS Carolus Sumarecon (2012 30 September 2016)
RS Betshaida Serpong (1 Oktober sekarang)

Organisasi

: anggota PERSAGI

Seorang ahli gizi bernama ibu Yuyun Rahmawati AMG, yang bekerja disebuah
Rumah Sakit Betshaida Serpong Tangerang Selatan. Beliau seorang lulusan D3 Politektik
Kesehatan Semarang Jawa Tengah lulusan tahun 2003. Pada kesempatan ini, beliau
membagikan pengalamannya kepada kami melalui wawancara yang dilaksanakan pada
tanggal 11 November 2016. Beliau pertama kali kerja menjadi Ahli Gizi pada tahun 2003
setelah lulus kuliah di RS Banyumas selama 1 tahun, setelah itu beliau merantau ke
Tangerang dan bekerja di RS Siloam Karawaci tahun 2005 sampai tahun 2008. Lalu, beliau
melanjutkan bekerja di RS Pondok Indah cabang Puri Kembangan pada tahun 2008 sampai
tahun 2010. Tahun 2010 sampai tahun 2011 pindah tempat bekerja di RS Grha Kedoya.
Kemudian, pada awal bulan Februari tahun 2011 beliau pindah tempat bekerja ke RS Sentra
Medika Cibinong sampai bulan Oktober awal tahun 2011. Pada akhir bulan Oktober tahun
2011, beliau pindah ke RS Ciputra Citra Raya sampai tahun 2012. Selama tahun 2012 sampai
bulan September 2016 beliau bekerja di RS Carolus Sumarecon, kemudian resign dan saat ini
pindah bekerja ke RS Betshaida Serpong dari mulai bulan Oktober 2016 hingga sekarang.
Alasan beliau yang berpindah tempat bekerja karena ingin cari pengalaman baru, suasa baru,
dan biasanya juga karna ada faktor faktor tertentu. Sebelum menjadi Ahli Gizi Rumah
Sakit, sebelumnya beliau menjadi Ahli Gizi Katering di RS. Beliau mulai menjadi seorang
Ahli Gizi Rumah Sakit sejak bekerja di RS Carolus Sumarecon.
Beliau menjelaskan tentang perbedaan tugas antara Ahli Gizi Katering dengan Ahli
Gizi Rumah Sakit , menurut beliau Ahli Gizi Katering adalah ahli gizi yang pasif di dapur,
dan menerima data diet pasien tanpa melakukan visit ke ruangan pasien. Tugasnya menerima
data diet pasien dari perawat, lalu menyiapkan makan pasien yang telah dimasak oleh juru
masak didapur, lalu disiapkan oleh Ahli Gizi Katering dan dicek sebelum diberikan ke pasien
kemudia dicek kembali oleh Ahli Gizi Rumah Sakit. Ahli Gizi Rumah Sakit (AGRS) adalah
ahli gizi yang aktif yaitu ahli gizi yang visit ke kamar pasien untuk melihat jika ada
tambahan diet atau ada perubahan diet pada pasien. Seandainya ada pasien yang mengalami
perubahan diet AGRS menelfon Ahli Gizi Katering untuk menyiapkan menu diet baru pada
pasien tersebut.
Jumlah ahli gizi ditempat beliau bekerja ada sebanyak 3 orang ahli gizi dan 1 kepala
unit instalasi gizi. Kepala unit instalasi gizi membawahi ahli gizi, ahli gizi, juru masak,
service, steawed, dan gudang logistik.

Cara kerja beliau setiap hari adalah, saat datang ke RS briefing sebelum mulai
bekerja. Setelah briefing jika ada pasien baru atau yang ingin sudah keluar dari RS beliau
visit ke kamar pasien tersebut dan melakukan follow up jika ada pasien yang komplain. Lalu
membuat menu diet pasien, membuat SOP. Pentingnya membuat SOP menurut beliau, suatu
saat jika ada kunjungan akrediktasi Rumah Sakit dan data SOP tersebut diminta untuk
diperiksa. Lalu setelah membuat menu diet yang akan diberikan kepada cook, setelah
dimasak melakukan tester apakah baik dikonsumsi pasien atau tidak dan melakukan
pengecekan ulang agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Selama bekerja menjadi ahli gizi, banyak kesulitan yang harus dihadapi beliau.
Seperti ketentuan jenis makanan yang berbeda disetiap Rumah Sakitnya. Misalnya pada saat
beliau bekerja di RS X, diet lambung jenis makanan seperti pisang, apel, pepaya tidak
diperbolehkan diberikan kepada pasien namun, pada saat beliau bekerja di RS Y pisang masih
diperbolehkan diberikan kepada pasien dengan diet lambung. Menurut beliau hal seperti itu
perlu dicatat, agar saat evaluasi bisa dibahas secara jelas.
Banyaknya komplain juga membuat beliau terkadang kesulitan menanggapinya.
Seperti misalnya, pasien yang komplain tentang makanan yang keasinan atau tidak ada rasa
dan sayurannya yang masih keras padahal sudah dicoba dengan tester terlebih dahulu dan
sebenarnya pun sayuran tidak boleh dimasak terlalu matang. Atau pasien yang terkadang
cenderung lebih tau tentang makanan dari ahli gizi, misalnya pasien tersebut menanyakan
kenapa makanan ini boleh dimakan oleh saya, bukannya tidak boleh?. Cara beliau
mengatasinya adalah dengan follow up dan menjelaskan secara baik-baik kepada pasien.
Pada saat bekerja, beliau pun tak luput dari kesalahan. Misalnya, dari bagian ahli gizi
sudah melakukan pengecekan sebelum service mengantar makanan ke kamar pasien. Pada
saat service mengantar makanan, service keliru dan makanan tertukar. Harusnya pasien A diet
rendah garam tapi diberikan makanan biasa dengan kandungan garam yang tinggi. Dan beliau
terkadang salah memberi diet pada pasien, misalnya pada catatan diet ahli gizi sudah tertulis
akan diberikan bubur karna jenis dietnya makanan lunak, namun kesalahan dari service yang
memberikan nasi pada pasien. Hal ini juga menjadi kesalahan beliau karna tidak dilakukan
pengecekan ulang sebelum makanan dianta kepada pasien. Pada kasus lainnya, beliau pernah
menemukan pasien yang keracunan makanan karena kesalahan dari cook yang memberikan
sayur bayam yang sudah agak lama dimasak dan dari beliau juga tidak mengecek ulang
makanan yang akan diantar. Kejadian tak terduga seperti ini masuk kedalam Insiden Report.

Insiden report itu untuk evaluasi bersama kepala instalasi dan ahli gizi yang lainnya, jika
sekali melakukan masih menjadi teguran. Seringnya melakukan kesalahan akan membuat
kepala instalasi memberikan SP (Surat Peringatan).
Sanksi yang diberikan jika adanya ahli gizi yang melanggar peraturan atau membuat
kesalahan adalah membuat insiden report misalnya kita salah memberikan makanan, pasien
DM diberikan gula yang berlebih. Ahli gizi langsung membuat insiden report, jika pasien
sudah memakan makanan tersebut masuknya kedalam kejadian yang tidak diharapkan, dan
makanan yang sudah dimakanan dampaknya pada tubuh seperti apa, jika pasien baik-baik
saja masuknya ke dalam nyaris cidera. Kesalahan yang masih ditoleransi biasanya hanya
diberi teguran, namun biasanya kesalahan yang fatal biasanya diberikan SP 1, jika berikut nya
kesalahannya dilakukan lagi akan mendapat SP 2. Lalu, jika ahli gizi masih melanggar
langsung diberikan SP 3 (out).
Kode etik gizi menurut beliau yang beliau tau, ahli gizi tidak boleh membicarakan
pasien diarea Rumah Sakit, ahli gizi bersahabat dengan profesi sejawat, ahli gizi
berkolaborasi dengan tenaga medis lainnya, ahli gizi harus memberikan informasi yang benar
dan jelas kepada pasien, ahli gizi harus selalu berisikap ramah kepada pasien. Beliau tidak
banyak tau tentang kode etik pada ahli gizi. Beliau hanya mengetahui sedikit tentang kode
etik pada ahli gizi. Di Rumah Sakit tempat beliau kerja juga mempunyai peraturan yaitu tidak
boleh salah diet dan mengantar makanan tepat waktu.
Beliau sambil bekerja juga ikut aktif dalam organisasi PERSAGI. Beliau adalah
anggota PERSAGI Kota Tangerang. Beliau masih sering aktif mengikuti seminar yang
diadakan oleh PERSAGI maupun institusi lainnya.
Kesan pesan menjadi ahli gizi adalah menurut beliau bisa bertemu dengan dokter dan
bisa sharing ilmu. Postifnya lebih bisa mengembangkan ilmu, negatifnya banyaknya
komplain dan tanggung jawab yang besar.