Anda di halaman 1dari 18

AUDIT INTERNAL

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Audit Internal
Dosen : Dr. Ibnu Rachman, M.M., M.Si., Ak., CA., QIA

Di susun Oleh :
Rini Rachmawati

(5211131055)

Eka Saktiawan

(5211131069)

Yunita

(5211131103)

Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Jenderal Achmad Yani
2016

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatNya kami dapat menyelesaikan paper yang berjudul RISK OF FRAUD AND
ILLEGAL ACTS( RISIKO KECURANGAN DAN TINDAKAN ILEGAL).
Yang merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Audit Internal di Program Studi
Akuntansi.
Dalam penulisan penelitian ini kami mengucapkan terimakasih kepada
Bapak Dr. Ibnu Rachman, M.M., M.Si., Ak., CA., QIAselaku dosen mata
kuliah Audit Internal di Universitas Jendral Achmad Yani dan juga pihak-pihak
yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun
pikirannya untuk dapat membantu kami menyelesaikan paper ini.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin
masih banyak kekurangan dalam penulisan dan isi dari paper ini, oleh karena itu
kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca untuk
kesempurnaan penulisan makalah ini.
Akhir kata penulis berharap semoga ketulusan doa dan bantuan yang telah
diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dai Allah SWT.
Wassalamualaikum Wr.Wb

Cimahi, September 2016

Tim Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu risiko paling signifikan yang dihadapi organisasi kontemporer adalah risiko
fraud/kecurangan. Ketika fraud muncul, apakah dilakukan oleh indibidual karyawan, kolusi
diantara banyak karyawan, atau pihak ketiga diluar perusahaan yang merugiikan perusahaan
bisa menyebabkan kerugian tidak hnaya kerugian finansial tetapi juga rusaknya reputasi yang
serius. Dalam banyak kasus, terjadinya fraud pada perusahaan publik dengan cepat
menyebabkan penurunan pada harga saham dan kapitalisasi pasar, dan dapat menjadi
indikator awal dari financial distress/ kesulitan keuangan.
Mengingat konsekuensi ekonomi yang serius dari fraud, manajemen senior dan
governing boards semakin menekankan program anti fraud dan kontrol untuk menangani
bisnis utama, kepatuhan terhadap peraturan, dan driver pasar. Pembaruan fokus global pada
tata kelola perusahaan berasal dari kesadaran bahwa kecurangan pelaporan keuangan dengan
mudah dapat menyebabkan kegagalan organisasi.
Tindakan llegal adalah kegiatan yang melanggar hukum dan peraturan yurisdiksi
tertentu di mana perusahaan beroperasi. Auditor internal di perusahaan besar sering
mengambil peran untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan. Langkah pertama
biasanya termasuk penyelesaian penilaian risiko fraud. Telah terjadi peningkatan dalam
penerapan peran baru dalam banyak organisasi, seperti direktur kepatuhan (CCO) dan pejabat
risiko kepala (CRO).
1.2 TujuanPenulisan
1.2.1
1.2.2
1.2.3

Memahami prevalensi tindakan ilegal dan penipuan di dunia saat ini.


Membandingkan dan membedakan berbagai definisi tindakan illegal/ fraud.
Menjelaskan fraud triangle dan mengapa ketiga unsur tersebut muncul ketika

1.2.4
1.2.5

terjadi fraud.
Menentukan jenis fraud dan faktor-faktor fraud risk.
Mendefinisikan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian dalam konteks

1.2.6
1.2.7
1.2.8
1.2.9

fraud.
Menjelaskan pencegahan fraud, penghindaran, dan teknik deteksi.
Memahami aspek perilaku fraud.
Menjelaskan aspek perilaku dari fraudsters.
Menjelaskan kepatuhan auditor internal dihubungkan dengan tanggung jawab

terkait terkait untuk melindungi organisasi dari pelanggaran peraturan..


1.2.10 Memahami perkembangan tanggung jawab fungsi audit internal, termasuk
keterlibatan akuntan forensik dan spesialis pemeriksaan fraud.
3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

OVERVIEW OF FRAUD IN TODAY'S BUSINESS WORLD


Fraud tidak terbatas hanya pada negara atau industri tertentu. Fraud dapat timbul

dalam organisasi hampir setiap saat. Pada awal abad kedua puluh satu, skandal akuntansi
besar di AS (misalnya, Enron dan World Com) adalah berita utama di seluruh dunia. Skandal
perusahaan tersebut tidak hanya merugikan investor miliaran dolar AS, kejadian tersebut juga
mengakibatkan hilangnya kepercayaan pasar modal AS.
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) melakukan survei dua tahunan kepada
anggotanya dan menyiapkan A Report To The Nation On Occupational Fraud And Abuse
(Report To Nation).. Akhir tahun 2012 Laporan mencakup 94 negara dan dengan demikian
memberikan wawasan tentang fraud di seluruh dunia. Laporan tahun 2012 didasarkan pada
data yang dikumpulkan dari 1.388 kasus penipuan dari berbagai industri yang diteliti pada
tahun 2010 dan 2011. Fraud terus menjadi perhatian utama bagi organisasi di seluruh dunia,
dengan lebih dari seperlima dari insiden fraud yang menyebabkan kerugian sebesar $ 1 juta
pada 2011.
Informasi dari kasus-kasus tersebut dilaporkan oleh certified fraud examiners (CFEs)
yang menyelidiki kasus-kasus
tersebut . Berikut rangkuman dari beberapa temuan selama tahun 2012 :
1. Peserta dalam survei memperkirakan bahwa organisasi kehilangan 5 persen dari
pendapatan tahunan mereka dari fraud, sedikit menurun dari 6 persen diperkirakan
(untuk AS saja) pada tahun 2010 laporan kepada bangsa.
2. Skema penipuan kerja cenderung sangat mahal.
3. Skema penipuan Kerja sering berlanjut selama bertahun-tahun sebelum mereka
terdeteksi.
4. Skema penipuan yang paling umum adalah penyalahgunaan aset, yang terjadi pada 87
persen dari semua kasus, dan mengakibatkan kerugian rata-rata $ 120.000.
5. Penipuan kerja jauh lebih mungkin untuk dideteksi dengan tip(petunjuk/informasi)
daripada audit, kontrol, atau cara lain.
6. Corruption and billing schemes menimbulkan risiko terbesar bagi organisasi di
7.

seluruh dunia.
Semakin lama pelaku fraud telah bekerja untuk sebuah organisasi, kerugian akan

8.

fraud cenderung semakin tinggi.


Fraud dapat terjadi dalam setiap jenis organisasi, industri yang paling sering menjadi
korban adalah perbankan dan jasa keuangan, pemerintah dan administrasi publik, dan
manufaktur.
4

9.

Occupational frauds yang paling sering dilakukan oleh individu yang bekerja di salah
satu dari enam departemen: akuntansi, operasional, penjualan, eksekutif / manajemen

atas, layanan pelanggan, dan pembelian.


10. Occupational fraudsters umumnya merupakan pelanggar pertama kali.
11. Fraud perpetrators / Pelaku penipuan sering menampilkan ciri-ciri perilaku yang
mengindikasikankemungkinan perilaku ilegal; ini tercatat dalam 81 persen dari kasus
yang dilaporkan.
Poin kunci di sini adalah bahwa tidak ada organisasi yang kebal terhadap fraud. Hal ini
dapat terjadi di organisasi besar dan kecil, dan di negara atau industri. Selama manusia,
dengan kelemahan yang melekat pada mereka, yang
terlibat dalam organisasi, risiko fraud adalah nyata.

2.2

DEFINITIONS OF FRAUD
Fraud adalah istilah generik, yang mencakup segala cara dimana kecerdikan manusia

dapat merancang, dan yang dilakukan oleh satu individu untuk mendapatkan keuntungan
lebih dari yang lain dengan saran palsu atau dengan menekan kebenaran, dan mencakup
semua kejutan, trik, licik, dissembling, dan cara yang tidak adil dimana ada pihak lain yang
ditipu.( Black's Authoritative Definition Of Fraud)
Menurut (From the Glossary to its Standards in the International Professional Practices
Framework) Fraud adalah setiap tindakan ilegal yang ditandai dengan tipu daya,
penyembunyian, atau pelanggaran kepercayaan. Penipuan dilakukan oleh partai dan
organisasi untuk memperoleh uang, properti, atau layanan; untuk menghindari hilangnya
pembayaran jasa, atau untuk mengamankan keuntungan pribadi atau bisnis.
Menurut The American Institute of Certified Public Accountants (AICPA)
(From Statement on Auditing Standard No. 99) Fraud adalah tindakan disengaja yang
mengakibatkan salah saji material dalam laporan keuangan yang tunduk
pada audit. Salah saji timbul dari kecurangan pelaporan keuangan dan penyalahgunaan aset.
Sedangkan menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE)
(From the 2008 Report to the Nation on Occupational Fraud) Penggunaan kedudukan
seseorang untuk memperkaya diri melalui penyalahgunaan yang disengaja atau
penyalahgunaan sumber daya atau aset organisasi.
The ACFE's Occupational Fraud and Abuse Classification System menjelaskan tiga jenis
utama fraud: pernyataan palsu, yang umumnya melibatkan pemalsuan laporan keuangan
5

suatu organisasi (misalnya, melebih-lebihkan pendapatan dan mengecilkan kewajiban dan


beban); penyalahgunaan aset, yang melibatkan pencurian atau penyalahgunaan aset
organisasi (misalnya, menggelapkan pendapatan, mencuri persediaan, atau penipuan gaji);
dan korupsi, di mana pelaku fraud menggunakan pengaruh mereka dalam sebuah transaksi
bisnis untuk mendapatkan manfaat bagi diri sendiri atau orang lain, bertentangan dengan
kewajiban mereka kepada atasan mereka atau hak-hak dari pihak lain.
2.3

OUTLINE OF THE ACFE'S OCCUPATIONAL FRAUD AND ABUSE


CLASSIFICATION SYSTEM

1. Manipulasi secara sengaja terhadap laporan keuangan, yang dapat menyebabkan:


a. Tidak tepatnya pelaporan pendapatan.
b. Tidak tepatnya pelaporan biaya.
c. Tidak tepatnya penggambaran jumlah neraca, termasuk cadangan.
d. Tidak tepatnya peningkatan dan / atau pengungkapan yang tidak transparan.
e. Menyembunyikan penyalahgunaan aset.
f. Menyembunyikan penerimaan dan pengeluaran yang tidak sah.
g. Menyembunyikan akuisisi tidak sah, disposisi, dan penggunaan aset.
2. Penyelewengan atas:
a. Aset berwujud oleh:
i. Karyawan
ii. Pelanggan
iii. Vendors.
iv. Mantan karyawan dan lain-lain di luar organisasi
b. Aset tak berwujud.
c. Peluang bisnis yang dimilik.
3. Korupsi, termasuk:
a. Penyuapan dan Bribery and gratifikasi untuk:
i. Perusahaan
ii. Individu
iii. Pejabat publik
b. Penerimaan suap, kickbacks dan gratifikasi
c. Membantu dan bersekongkol penipuan oleh pihak lain (misalnya, pelanggan, vendor)
2.4

THE FRAUD TRIANGLE

Sebuah kerangka konseptual penting dalam memahami fraud adalah konsep fraud
triangle yang terdiri dari kesempatan (opportunity), kebutuhan/tekanan (need/pressure) dan
rasionalisasi (rationalization).

Opportunity biasanya muncul sebagai akibat lemahnya pengendalian inernal di organisasi


tersebut. Terbukanyakesempatan ini juga dapat menggoda individu atau kelompok yang
sebelumnya tidak memiliki motif untukmelakukan fraud.
Pressure atau motivasi pada sesorang atau individu akan membuat mereka mencari
kesempatan melakukan fraud, beberapa contoh pressure dapat timbul karena masalah
keuangan pribadi, Sifat-sifat buruk seperti berjudi, narkoba, berhutang berlebihan dan tenggat
waktu dan target kerja yang tidak realistis.
Rationalization terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas aktivitasnya yang
mengandung fraud. Pada umumnya para pelaku fraud meyakini atau merasa bahwa
tindakannya bukan merupakan suatu kecurangan tetapi adalah suatu yang memang
merupakan haknya, bahkan kadang pelaku merasa telah berjasa karena telah berbuat banyak
untuk organisasi. Dalam beberapa kasus lainnya terdapat pula kondisi dimana pelaku tergoda
untuk melakukan fraud karena merasa rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan
tidak menerima sanksi atas tindakan fraud tersebut.
2.5

KEY PRINCIPLES FOR MANAGING FRAUD RISK


The Fraud Guide menekankan betapa pentingnya bagi entitas untuk menetapkan

upaya ketat dan berkelanjutan untuk melindungi diri dari tindakan penipuan. Ada lima prinsip
inti yang perlu diikuti oleh organisasi:
Prinsip 1: Fraud Risk Governance

Sebuah entitas perlu membangun struktur tata kelola yang kuat untuk mengawasi manajemen
risiko dan aktivitas lainnya yang berada di tempat untuk membantu memastikan pencapaian
tujuan bisnis, terutama untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko fraud.
Prinsip 2: Fraud Risk Assessment
Entitas harus terlebih dahulu mengidentifikasi kejadian fraud yang potensial atau scenario
yang mungkin rentan.
Prinsip 3 dan 4: Fraud Prevention and Detection
Program manajemen risiko fraud harus memiliki keseimbangan pencegahan dan deteksi
kontrol yang tepat. Kontrol Pencegahan dapat dirancang untuk menghentikan penipuan dari
yang terjadi. Sementara organisasi biasanya lebih memilih untuk mencegah penipuan, yang
tidak selalu efektif, adalah penting untuk merancang dan menerapkan kontrol deteksi yang
efektif juga.
Prinsip 5: Fraud Reporting, Investigation and Resolution
Penting bagi suatu organisasi untuk membangun sistem pelaporan untuk memfasilitasi dan
mendorong pelaporan insiden penipuan potensial.
2.6

GOVERNANCE OVER THE FRAUD RISK MANAGEMENT PROGRAM


Pada organisasi yang telah mengembangkan budaya perusahaan yang mencakup

praktik tatakelola dewan sampai


dengan operasional di level manajemen, termasuk:

Arus informasi dan agenda Dewan Komisaris


Akses ke berbagai level manajemen dan pengendalian efektif dari jalur whistleblower
Proses nominasi yang independen
Tim Manajemen Senior yang efektif evaluasi, manajemen kinerja, kompensasi dan

rencana suksesi
Pedoman perilaku yang spesifik bagi manajemen senior, sebagai tambahan pedoman
perilaku organisasi
Penekanan yang kuat pada efektivitas independen BoC dan proses melalui evaluasi BoC,
sesi pimpinan dan partisipasi aktif dalam upaya pengawasan strategis dan mitigasi risiko.
2.7

ROLES AND RESPONSIBILITIES


Peran dan Tanggung Jawab dalam program manajemen risiko fraud harus dilakukan

secara formal dan dikomunikasikan. Kebijakan dan prosedur, job description, piagam dan
delegasi dari pihak berwenang penting dalam mendefinisikan beragam peran dan
tanggungjawab program tersebut.
1. Board of Directors

Board of Director melakukan praktik governace seperti yang dijelaskan di atas. Board of
Director menjalankan peran oversight termasuk dalam program manajemen risiko perusahaan
2. Manajemen
Manajemen senior selain harus memberikan contoh atau tone of the top juga berperan
dalam membangun sistem monitoring dan pelaporan yang memungkinkan evaluasi apakah
manajemen risiko fraud berjalan secara efektif.
3. Pegawai
Pelaksanaan program manajemen risiko fraud, khususnya kontrol yang dirancang untuk
mencegah dan mendeteksi kecurangan, harus melibatkan setiap orang dalam organisasi.
Seluruh pegawai dilibatkan dalam pelaksanaan program manajemen risiko fraud melalui
internalisasi budaya perusahaan dan dibekali pemahaman untuk membangun fraud
awareness
4. Unit Audit Internal
Sebagai unit yang memiliki peran assurance dalam perusahaan memegang peran penting
dalam tatakelola dan program manajemen risiko kecurangan di perusahaan.
Components of a Fraud Risk Management Program
Meskipun tidak ada "satu ukuran cocok untuk semua" pendekatan untuk merancang program
manajemen risiko fraud, ada komponen tertentu yang umum umumnya efekti. Biasanya,
program-program yang terintegrasi sukses memiliki komponen kunci tertentu, yaitu:
1. Komitmen board dan senior manajemen
2. Fraud awareness yang membantu karyawan dalam memahami tujuan, persyaratan, dan
tanggung jawab program.
3. Affirmation proses/ penegasan berkala kepada karyawan agar karyawan memahami dan
mematuhi kebijakan dan prosedur.
4. A conflict disclosure protocol/ prosedur pengungkapan konflik
5. Assesment atas risiko fraud yang membantu untuk mengidentifikasi semua skenario
penipuan
6. Prosedur pelaporan dan perlidungan terhadap whistleblower
7. Proses investigasi yang menjamin semua hal dilaksanakan tepat waktu dan penyelidikan
yang menyeluruh.
8. Tindakan disipliner dan / atau perbaikan yang mengatasi ketidakpatuhan dengan
menetapkan kebijakan dan membantu mencegah perilaku fraud.
9. Prose evaluasi dan perbaikan untuk memberikan jaminan kualitas bahwa program ini akan
berlanjut untuk mencapai tujuan.
9

10. Pemantauan terus-menerus untuk memastikan program secara konsisten beroperasi


aeperti yang dirancang.
2.7

FRAUD RISK ASSESMENT


Proses Fraud Risk Assesment mirip dengan tahapan pelaksanaan pengukuran risiko

perusahaan secara keseluruhan.


Terdapat tiga langkah kunci sbb:
1. Mengidentifikasi Risiko Fraud yang melekat (inherent)
2. Mengukur dampak dan keterjadian (impact & likelihood) dari risiko yang diidentifikasi
3. Mengembangkan respon atas risiko yang memiliki dampak dan keterjadian tinggi pada
kejadian diluar toleransi manajemen
Dalam melakukan pengukuran risiko fraud, penting untuk melibatkan individu dengan
beragam pengetahuan, kemampuan dan perspektif. Umumnya terdiri atas personel sebagai
berikut:
Personel Akuntansi dan Keuangan
membantu mengidentifikasi skenario kecurangan pelaporan keuangan maupun pencurian aset
perusahaan
Personel Unit Bisnis Non-Keuangan
meningkatkan pengetahuan mereka dari operasi harian perusahaan, interaksi dengan
pelanggan dan vendor, serta skenario kecurangan terkait industri lainnya
Personel Bidang Hukum dan Kepatuhan (Legal & Compliance Officer)
meningkatkan pengetahuan mereka dari operasi harian perusahaan, interaksi dengan
pelanggan dan vendor, serta skenario kecurangan terkait industri lainnya
Personel Manajemen Risiko
membantu mengidentifikasi skenario kecurangan pasar dan asuransi dan memastikan bahwa
fraud risk assesment terintegrasi dengan risk assesment perusahaan secara keseluruhan
Auditor Internal
sebagai pihak yang memiliki pemahaman luas tentang skenario risiko kecurangan dan
pengendalian
Serta Pihak lain dari intern maupun ekstern yang dapat menyediakan tambahan keahlian
Proses Fraud Risk Assesment mirip dengan proses risk assesment dalam tahapan manajemen
risiko perusahaan (enterprise Risk Management) yang di Garuda dijalankan oleh fungsi VP
Risk Management, yaitu menilai dampak dan keterjadian (impact & likelihood) fraud pada

10

perusahaan. Metode yang dilakukan antara lain melalui (1) Wawancara ; (2) Survei, dan (3)
Rapat fasilitasi (facilitated meeting) dengan pihak terkait.
2.8

FRAUD RISK IDENTIFICATION


Identifikasi Fraud Risk yang dilakukan harus dapat mengidentifikasi hal-hal sebagai

berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Insentif, Tekanan dan Kesempatan


Risiko Pelanggaran Pengendalian dari manajemen
Populasi Fraud Risk
Kecurangan Pelaporan Keuangan
Penyalahgunaan Aset
Korupsi
Risiko Kecurangan Lainnya

Penilaian dampak dan kemungkinan risiko Fraud


Menentukan potential impact dan likelihood dari tiap scenario fraud merupakan proses yang
subjektif. Berikut adalah
beberapa poin yang harus dipertimbangkan ketika melakukan assessment resiko fraud
1. Impact
Penting untuk mempertimbangkan impact yang tidak hanya terkait laporan keuangan maupun
dampak moneter. Karena impact yang lain bisa jadi mempunyai kemungkinan dampak
negative yang lebih besar terhadap laporan keuangan maupun dampak moneter. Contohnya,
legal impact, reputational impact, operational impact, dll
2. Likelihood
Response to Fraud Risk
Berikut merupakan COSO ERM Integrated Framework dalam merespon resiko fraud
1.

Jika resiko tidak dapat ditoleransi untuk terjadi pada perusahaan, bahkan dalam skala

kecil, manajemen dapat mempertimbangkan untuk menghindari resiko tersebut


2.

Jika organisasi tidak mempunyai toleransi terhadap resiko, tetapi tidak dapat

menghindarinya tanpa mengganggu tujuan organisasi, pengendalian harus didesign untuk


mengurangi kemungkinan terjadinya insiden/resiko.
3.

jika suatu organisasi menginginkan untuk mengurangi dampak atau kemungkinan


risiko, tetapi tidak yakin

memiliki keterampilan atau pengalaman untuk melakukannya secara efektif dan efisien,
organisasi dapat membagi pengoperasian kontrol preventif dan detektif dengan organisasi
yang lebih siap untuk melaksanakan kontrol tersebut

11

4. jika terjadinya risiko dapat ditoleransi, manajemen dapat memutuskan untuk


menerima risiko sebagaimana level saat ini dan tidak membuat upaya khusus untuk
mengelola risiko
Illegal Act and Response
IIA mendefinisikan fraud sebagai setiap tindakan ilegal dengan karakteristik tipu daya,
menyembunyikan, atau pelanggaran terhadap kepercayaan. Beberapa topik seputar Foreign
Corrupt Practices Act (FCPA) yang relevan untuk auditor internal yang berfokus pada upaya
kepatuhan adalah:
- Ketentuan anti-penyuapan dan masalah terkait kepatuhan.
- pencatatan dan ketentuan pengendalian akuntansi internal.
- melakukan due diligence dan menetapkan langkah-langkah terhadap kepatuhan.
- penyelidikan internal, kewajiban keterbukaan, dan monitor
- bisnis terkait, kontrak, dan masalah ketenagakerjaan.
- tindakan untuk tetap menghindari pelanggaran terhadap FCPA dan tindakan penegakan
hukum preemptif
Fraud Prevention
Sebagai tambahan terhadap pelaksanaan lingkungan tata kelola yang kuat, panduan fraud
menguraikan unsur-unsur
umum yang dapat memainkan peran penting dalam mencegah penipuan:
- Melakukan investigasi latar belakang
- memberikan pelatihan anti-fraud
- mengevaluasi kinerja dan program kompensasi
- melakukan wawancara ketika pegawai keluar
- Pembatasan otoritas
- Prosedur transaksi yang berlapis
Fraud Prevention
Berikut ini merupakan beberapa metode deteksi:
- Whistleblower hotlines
- Process Control
Pengendalian yang umum dilakukan adalah melalui proses yang dilakukan sehari-hari.
- Proactive fraud detection procedures
Proactive procedure yang umum dilakukan termasuk diantaranya data analysis, auditing
berkelanjutan, dan penggunaan tools lainnya yang dapat mendeteksi anomaly, maupun tren
yang tidak wajar.
12

Fraud investigation and corrective action


Menerima Tuduhan/laporan. The investigation and response system should include a process
for:
- Mengkategorikan permasalahan
- Mengkonfirmasi validitas laporan/aduan
- Mendefinisikan tingkat keparahan laporan/aduan
- Menyelidiki permasalahan disaat yang tepat
- Mengacu pada isu isu permasalahan di luar lingkup program
- Melakukan investigasi dan pencarian fakta
- Menjaga permasalahan yang dikategorikan confidential
- Mendefinisikan bagaimana investigasi akan didokumentasikan
- Mengelola dan mempertahankan, menjaga keamanan dokumen dan informasi
Mengevaluasi laporan/aduan
- Menentukan apakah laporan ini memerlukan investigasi formal atau informasi sudah
didapatkan secara cukup untuk menarik kesimpulan
- Siapa yang harus memimpin investigasi?
- Apakah diperlukan keahlian atau tools khusus untuk investigasi?
- Siapa yang perlu diwaspadai, dan kapan?
- Menentukan prosedur formal
Establishing investigation protocols
- Time sensitivity
- Notification
- Confidentiality
- Legal previleges
- Compliance
- Securing evidence
- Objectivity
- Goals
2.9

UNDERSTANDING FRAUDSTERS
Selain harus memiliki pengetahuan mengenai karakteristik fraud, teknik-teknik yang

digunakan dalam melakukan fraud, dan jenis-jenis fraud yang mungkin terjadi pada berbagai
proses bisnis, Auditor internal harus mampu memahami pola pikir dan perilaku para pelaku
fraud serta memiliki rasa professional skepticism yang tinggi dan tidak berasumsi bahwa
orang akan "melakukan hal yang benar." Auditor internal harus "berpikir seperti seorang
13

penjahat untuk menangkap penjahat." Mereka harus mencoba untuk memahami mengapa
seorang individu yang dinyatakan jujur akan melakukan tindakan yang tidak jujur. Dengan
pemahaman ini maka akan meningkatkan kemungkinan bahwa internal auditor dapat
mendeteksi, dan dalam beberapa kasus bahkan mencegah, seorang individu dari
melakukan fraud. Behavioral science/ Ilmu perilaku sejauh ini belum mampu
mengidentifikasi satu karakteristik psikologis atau seperangkat karakteristik yang dapat
berfungsi sebagai penanda yang andal atas kecenderungan seseorang untuk melakukan fraud.
Salah satu forensic accountant and fraud examiner berpengalaman, Thomas Golden, percaya
bahwa pelaku fraud pelaporan keuangan akan sesuai dengan salah satu dari dua profil berikut
ini, yaitu: "greater good oriented" or "scheming, self-centered" types. Mereka yang cocok
dengan profil greater good oriented adalah "individu tidak jujur yang menggambarkan angka
dengan rasionalisasi bahwa apa yang mereka lakukan yang terbaik bagi perusahaan.
Scheming, self-centered adalah "individu yang menunjukkan pengabaian atas kebenaran,
sangat menyadari apa yang mereka lakukan, dan mencoba untuk mencapai tujuan dengan
tidak jujur.
Dengan mendapatkan wawasan atas red flag potensial yang mensinyalkan individu
yang lebih rentan terhadap melakukan fraud akan membantu auditor internal memahami
kapan risiko penipuan akan meningkat. Red flags tersebut adalah termasuk orang-orang yang:
Menunjukkan gaya hidup yang tampaknya di luar kemampuan mereka saat ini.
Apakah mengalami masalah keuangan yang ekstrim dan / atau memiliki utang pribadi
yang luar biasa.
Memiliki kecenderungan yang tidak biasa untuk menghabiskan uang.
Apakah menderita depresi atau masalah emosional lainnya.
Memiliki obsesi perjudian.
Memiliki kebutuhan atau keinginan atas status, dan percaya bahwa uang bisa membeli
status.
Auditor internal tidak diharapkan untuk menjadi behavioral psychologists or criminologists/
psikolog perilaku atau kriminolog. Namun, dengan mendapatkan wawasan yang mendalam
tentang apa yang memotivasi pelaku fraud dapat membantu auditor internal "menjaga antena
mereka" di tempat kerja dan mengantisipasi individu yang dapat menimbulkan risiko fraud
yang lebih besar.
2.10

IMPLICATIONS FOR INTERNAL AUDITORS AND OTHERS

14

Seharusnya sudah jelas bahwa auditor internal memainkan peran kunci dalam
program manajemen risiko fraud. Standar memberikan petunjuk khusus untuk auditor
internal. Sebagai contoh:
Standar 1210.A2 - Auditor internal harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk
mengevaluasi risiko fraud dan cara yang dikelola oleh organisasi, tetapi tidak diharapkan
memiliki keahlian seseorang yang tanggung jawab utamanya adalah mendeteksi dan
menyelidiki fraud.
Standar 1220.A1 - Auditor internal harus bekerja secara profesional dengan
mempertimbangkankemungkinan kesalahan yang signifikan, fraud, atau ketidakpatuhan.
Standar 2060 - Kepala eksekutif audit (CAE) harus melaporkan secara berkala kepada
manajemen senior dan dewan pada risiko fraud
Standar 2120.A2 - audit internal [fungsi] harus mengevaluasi potensi terjadinya fraud dan
bagaimana organisasi mengelola risiko fraud. Sebagai "mata dan telinga, lengan dan kaki dari
komite audit," auditor internal perlu mempertimbangkan pertanyaanpertanyaan
berikut:
a. Risiko fraud apa yang sedang dipantau oleh manajemen secara periodik atau berkala?
Apakah risiko kritis fraud yang berulang dan bahkan terus menerus, monitoring?
b. Apa prosedur khusus yang sedang dilakukan oleh fungsi audit internal untuk
mengatasi pengesampingan manajemen atas kontrol internal?
c. Apakah sesuatu telah terjadi yang mengarahkan fungsi audit internal untuk mengubah
penilaian risiko atas pengesampingan manajemen atas kontrol internal?
d. Kompetensi dan keterampilan apa yang auditor internal butuhkan untuk mengatasi
risiko fraud dalam organisasi? Kapan mereka harus memakai/mendapatkan layanan
dari spesialis dari luar untuk menangani masalah yang sangat kompleks?
e. Sebagai tambahan untuk membagun jalur langsung pelaporan kepada komite audit,
bagaimana status organisasi independen dari fungsi audit internal bisa diperkuat?
Apakah mereka diandalkan sebagai profesional yang kompeten dan obyektif dalam
menangani risiko dan pengendalian masalah fraud?
f. Bagaimana seharusnya fungsi audit internal mencurahkan perhatiannya pada
g.

pencegahan, penghindaran, detektif, dan aspek investigasi fraud?


Bagaimana audit internal menambahkan perangkat lunak analisis data untuk
memberikan deteksi dini?

Professional Skepticism, Professional Judgment, And Forensic Technology


Pelaksanaan professional judgment terletak di kegiatan assurance dan konsultasi
fungsi audit internal. Ketika menilai risiko fraud, auditor internal harus menunjukkan tingkat

15

professional skepticism yang tinggi, yaitu, kemampuan secara kritis mengevaluasi bukti dan
informasi yang tersedia. Hal ini khususnya terjadi karena pelaku fraud yang biasanya
"menutupi jejak mereka". Sebagai contoh, diperlukan ketekunan yang kuat oleh 2004 Time
magazine's Person of the Year, Cynthia Cooper dan tim audit internal nya di WorldCom,
untuk menggali fraud besar-besaran yang dilakukan oleh manajemen WorldCom.
Dengan menggunakan teknologi komunikasi, investigasi forensik dan pemeriksaan fraud di
depan akan sangat bergantung pada forensik komputer, pencitraan data komputer, penemuan
bukti elektronik, dan analisis data terstruktur dan tidak terstruktur. Dengan kata lain,
penggunaan teknologi tidak akan terbatas pada analisis data (setelah data terstruktur telah
dikumpulkan); sebaliknya, penggalian dan pelestarian bukti elektronik biasanya dalam
bentuk tekstual, data tidak terstruktur yang membutuhkan pencarian kata kunci. Dalam
konteks seperti itu, akan sangat penting bagi pemeriksa fraud untuk memiliki pemahaman
dan penguasaan yang baik atas alat dan teknik digital teknologi forensik.
Use of Fraud Specialists
Fungsi audit internal dapat memainkan berbagai peran untuk memerangi fraud dalam suatu
organisasi, termasuk melakukan training kesadaran fraud, menilai rancangan program
antifraud dan kontrol, menguji efektivitas operasi pengendalian tersebut, menyelidiki
kejanggalan dan keluhan whistleblower, dan melakukan investigasi penuh dengan
matang atas perintah komite audit. Namun, fungsi audit internal mungkin tidak memiliki
pengalaman dan keterampilan untuk melakukan semua peran ini. Akibatnya, adalah umum
bagi CAE untuk mencari bantuan spesialis fraud untuk melengkapi keterampilan mereka
dalam fungsi tersebut.
Ada banyak keuntungan untuk menggunakan outside fraud specialists, ditambah lagi
independensi yang mereka bawa dalam pekerjaan. Sebagai contoh, mereka memiliki
pengalaman yang luas dalam mengidentifikasi dan menyelidiki
berbagai skema fraud yang berbeda. Oleh karena itu, mereka dapat membantu dalam
mengidentifikasi dan menilai "usual suspect (tersangka biasa)" dan merekomendasikan
metode optimal penyelidikan. Selain itu, dengan pernah bekerja bersama penasihat
independen, penasihat umum, pengacara negara, regulator, aparat penegak hukum,
akuntan dan auditor lain, dan jaksa, mereka memiliki pemahaman yang baik tentang isu-isu
seperti:
1. Cara terbaik untuk menyelidiki jenis tertentu skema fraud.
2. Menilai kualitas dan kuantitas bukti yang dibutuhkan.
3. Mengevaluasi diterimanya bukti berkonsultasi dengan pengacara luar.
4. Melestarikan bukti dan chain of custody.
16

5. Kebutuhan, serta potensi untuk bertindak sebagai, saksi fakta atau sebagai ahli.
Communicating Fraud Audit Outcomes
Auditor internal merangkum hasil temuan mereka dan mengkomunikasikannya secara
sistematis, terorganisir untuk
meningkatkan kejelasan dan pemahaman, yang biasanya meliputi:
1. Sebuah pernyataan yang singkat dan jelas tentang masalah.
2. Sebuah kutipan dari kebijakan yang relevan, peraturan, standar, hukum, dan
peraturan yang mungkin berlaku untuk kasus yang ditangani.
3. Analisis atas bukti yang terkumpul untuk membentuk pendapat professional
4. Kesimpulan; yaitu temuan dan rekomendasi.
Ini akan membantu membuat komunikasi yang jelas dan berguna, terutama jika sedang
diandalkan oleh penasihat umum (general counsel) atau pengacara luar melakukan
penyelidikan, yang mungkin ingin membuat bagian komunikasi bagian dari komunikasi
mereka. Pada setiap waktu, komunikasi yang dikeluarkan oleh auditor internal
harus berisi fakta-fakta saja, dan setiap upaya harus dilakukan untuk menjauhkan diri dari
pendapat pribadi atau segala jenis bias atau spekulasi yang berpotensi masuk ke analisis.
Dalam hal apapun, mereka tidak harus berusaha untuk memperbaiki kesalahan pada
karyawan tertentu, tetapi hanya harus menyatakan bahwa bukti yang dikumpulkan muncul
untuk mendukung kesimpulan bahwa fraud mungkin telah dilakukan. Menentukan kesalahan
adalah fungsi dari pengadilan (hakim dan juri), dan biasanya di luar lingkup tanggung jawab
auditor internal.
OPPORTUNITIES TO PROVIDE INSIGHT
Auditor internal dapat memberikan pemahaman kepada manajemen senior mengenai
pencegahan dan deteksi fraud dan tindakan ilegal dalam beberapa cara. Sepuluh peluang
utama bagi auditor internal untuk memberikan pemahaman diuraikan dalam exhibit 8-13.
EXHIBIT 8-13
10 oppotunities fungsi auditor internal untuk menyediakan wawasan tentang risiko fraud dan
tindakan ilegal
1. Membantu organisasi dalam pengembangan penilaian risiko fraud yang komprehensif.
2. Mengembangkan proses untuk deteksi dini fraud.
3. Mengembangkan alat analisis data yang dapat digunakan untuk mendeteksi fraud pada
tahap awal.
4. Membantu dengan pengembangan prosedur hotline call.
5. Memberikan pelatihan kesadaran akan fraud di seluruh organisasi.
6. Bertindak tegas pada peristiwa fraud yang signifikan.
17

7. Membantu dalam analisis postmortem ketika fraud terjadi.


8. Menginformasikan kepada manajemen dari tindakan hukum potensial yang berisiko untuk
organisasi.
9. Membantu manajemen dalam mengembangkan budaya perilaku etis dan toleransi rendah
terhadap fraud.
10. Tetap mengikuti dan menginformasikan pengelolaan atas masalah-masalah yang muncul
dan isu-isu yang berkembang terkait dengan kepatuhan dan peraturan.

18