Anda di halaman 1dari 6

1.

TEORI DASAR
1.1 Serat Kapas dan Kandungannya
Kapas tersusun dari polimer selulosa yang struktur kimianya merupakan senyawa
benzena yang mengandung gugus hidroksil yang mudah menyerap air yang sebagian besar
terdiri dari selulosa (komponen utama), lemak, malam, pektin, dsb. Derajat polimerisasinya
sekitar 10.000 dengan berat molekul 1.580.000. Selulosa mengandung gugus hidroksil
yaitu 1 gugus promer dan 2 gugus sekunder. Selulosa terdapat pada dinding primer dan
dinding sekunder.

Gambar struktur selulosa


Didalam komposisi serat kapas, terdapat zat yang bukan serat seperti lilin,pektat, lemak,
dan kotoran-kotoran yang berasal dari luar yaitu kotoran seperti debu, potongan daun,
minyak pelumas dan yang lainnya yang menempel pada serat. Kotoran-kotoran tersebut
harus dihilangkan agar tidak mengganggu proses

selanjutnya berikut merupakan

kandungan dari serat kapas


Pektin
Pektin adalah karbohidrat dengan berat molekul tinggi dan mempunyai struktur
molekul seperti selulosa. Terutama terdiri dari susunan linier asam d-galakturonat
dalam garam-garam kalsium dan besi yang tidak larut. Selulosa pecah menjadi
glukosa, tetapi pektin terurai menjadi galaktosa, pentosa, asam poligalakturonat,
dan metil alkohol.

Struktur pektin
hampir semua pectin dapat dihilangkan dalam proses pemasakan dengan larutan
natrium hidroksida Proses penghilangan pectin tidak banyak mempengaruhi
kekuatan maupun kerusakan serat.
Zat-zat yang mengandung protein
diperkirakan bahwa zat-zat protein dalam kapas adalah sisa-sisa protoplasma yang
tertinggal didalam lumen setelah selnya mati ketika buahnta membuka. kadar
nitrogen didalam kapas kira-kira 3,5% dan apabila dirubah menjadi protein
dengan factor 6,25 % akan memberikan kadar protein 1,875% . Pemasakan kapas
mengurangi kadar nitrogen menjadi kira-kira 1/10 dari kadar aslinya.
Lilin
lilin merupakan lapisan pelindung yang tahan air pada serat-serat kapas mentah
lilin mempermudah proses pemintalan karena bertindak sebagai pelumas tetapi
dengan adanya lilin akan mengurangi geseran antara serat sehingga kekuatan
benangnya lebih rendah. Kadar lilin berkisar antara 0,4 sampai 1,3% rata rata
0,6%
Abu
Kapas yang dianalisa setela proses ginning mempunyai kadar abu kita kira 2
sampai 3% kemungkinan karena adanya bagian daun, kulit buah dan kotoran
kotoran yang menempel pada serat. Analisa menunjukan bawa abu terutama
terdiri dari magnesium, kalsium atau kalium karbonat, fosfat, sulfat atau Chlorida
dan garam garam karbonat merupakan bagian yang terbesar. Zat zat lain yang
ada mungkin hanyalah kotoran kotoran yang menempel karena proses mekanik.
Pemasakan dan pemutihan mengurangi kadar abu kapas menjadi kurang dari
0,1% dan abu serat kapas bersifat sangat alkalis.
1.2 Struktur Poliester dan Karakteristiknya

Poliester dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol, dibuat dari
asamnya. berikut reaksi pembuatan polyester.

Reaksi pembentukan polyester


Poliester memiliki kekuatan dan mulur dari 4,5 gram/denier sampai 7,5
gram/denier bergantung pada jenisnya. Kekuatan dan mulur dalam keadaan
basahnya sama dengan dalam keadaan kering. MR polyester hanya 0,4% dan sifat
kimia polyester yaitu tahan terhadap asam lemah dan basa lemah serta larut dalam
meta kresol panas, tahan zat oksidator, alkohol, keton, sabun, dan zat-zat untuk
pencucian kering. Polyester meleleh pada suhu 250 0C dan tidak menguning pada
suhu tinggi. Karena polyester merupakan serat sintetik, maka mengandung
kotoran-kotoran seperti minyak pelumas dan zat-zat kimia lainnya.
1.3 Optical Brightening Agent
Pemutih optik

adalah zat yang dapat menambah kecerahan bahan karena

pembesaran pemantulan sinar, sehingga kain putih yang diberi zat pemutih optik nampak
lebih putih dan lebih cerah. Pembesaran pemantulan sinar ini disebabkan karena zat
pemutih optik tersebut bersifat fluoressensi. Sinar Ultraviolet diserap dan selanjutnya
diubah menjadi sinar-sinar yang panjang gelombangnya berubah-ubah.
Fluoressensi violet sampai hijau kebiru-biruan banyak dipergunakan untuk zat
pemutih optik karena mengandung warna kuning yang memisah, sehingga dapat dilihat
dengan mata dan nampak berkilau bila menyerap sinar ultraviolet.
Pemutih optik yang efektif, paling sedikit mengandung 4 ikatan rangkap yang
terletak berselang-seling dengan ikatan tunggal, seperti :

- C = C C = C- C = C- C = C atau
-

N = C C = C- C = N C = C

Pada prinsipnya dikenal 2 golongan zat pemutih optik, yaitu :


1. Golongan hetero-siklik
Bagian lingkaran heteronya cukup banyak mengandung ikatan rangkap, misalnya
derivat pirazolina, imidazol, dan benzotiazol. Golongan ini dapat dipakai untuk
memberi kilau pada serat-serat sintetik.
2. Golongan asam flavonat
Golongan ini terdiri dari derivat 4,4 diamina stilben 2,2 asam disulfonat.

Dari golongan ini dikenal beberapa zat pemutih optik , antara lain :
a. Ultrasan, Blankopohor BB4, BA dibuat dari asam flavonat dan khlorida sianurat.

b. Blankophor R, dibuat dari asama flavonat dan fenilisosianat.

c. Blankophor G, dibuat dari asam flavonat yang mengandung gugus triazol.

Apabila kain tersebut ingin dibuat berwarna putih, setelah proses pengelantangan
biasanya dilakukan dengan proses pemutihan optic 0,05-0,5% pada suhu 40-60 0C selama
15-30 menit. Kadang ditambah dengan NaCl 5 gr/L untuk menambah daya serap
kemudian diperas dan dikeringkan.

DISKUSI
Pada praktikum Proses OBA dilakukan pada dua jenis kain yaitu kain kapas dan
kain polyester. digunakan tiga jenis metode yaitu Pad batching, exhaust dan pad
thermosol dengan resep yang berbeda. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan:
OBA Pada Poliester
Pada proses pemutihan optic kain polyester dilakukan pada dua kain polyester
dengan metoda dan resep yang berbda. Pada resep 4, digunakan metoda exhaust dengan
suhu 1000C selama 30 menit dengan menggunakan zat pendispersi dan carrier sebanyak 1
ml. Pada resep 5 tidak digunakancarrier dan menggunkaan metode pad thermosol pada
suhu 2000C selama 1 menit. hasil whiteness menunjukkan kain polyester yang diproses
dengan resep 4 memiliki whiteness yang lebih baik dibandingkan dengan resp 5. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai spektrofotometer whitness resep 4 bernilai 149,42 dan
whiteness pada resep 5 bernilai 142,32. resep 4 memiliki hasil yang lebih baik karena

diproses menggunakan exhaust sehingga kontak kain dengan larutan terjadi secara
langsung selain itu, dip roses selama 30 menit sedangkan pada pad thermosol hanya
diproses selama 1 menit meskipun digunakan suhu yang lebih tinggi, namun ontak kain
dengan larutan sebentar, lalu adanya penambahan laruta carrier pada resep 4 sehingga
menghasilkan derajat putih yang lebih baik dari pada resep 5.