Anda di halaman 1dari 17

Bantahan untuk Luqman Baabduh dan Buku

Mereka Adalah Teroris (bag. 1)


Dec 09, 2014Kontroversi0

Koreksi Buku Mereka Adalah Teroris karya


Luqman Baabduh (bag. 1)

Assalamualaikum warahmatullah.
Banyak komentar yang menyatakan bahwa kawan-kawan yang pernah tergabung
dalam FKAWJ & LJ sudah bertaubat termasuk saudara Luqman Baabduh dari
berbagai kesalahan yang disebutkan, lantas mengapa kok masih juga diungkit-ungkit?
Jawaban: benar demikian yang saja dengar dan baca, dan ini bukanlah hal yang baru
bagi saya, akan tetapi saya masih merasa sikap taubat tersebut masih tidak sempurna,
dengan sebab beberapa hal berikut:
1.
Betapa banyak dari saudara-saudara kita yang dimusuhi, diklaim sururi atau
dinyatakan sebagai ahlul bidah hanya karena menyelisihi dan tidak sudi untuk andil
dalam apa yang mereka sebut-sebut sebagai jihad, akan tetapi hingga kini tidak ada
perubahan sikap dari saudara-saudara kita mantan FKAWJ & LJ.
2.
Dahulu dan hingga saat ini saudara-saudara kita yang pernah tergabung di
FKAWJ& LJ senantiasa mengatakan bahwa jihad mereka berdasarkan fatwa ulama,
sampai-sampai terkesan itu adalah sikap seluruh ulama sehingga mereka
menganggap orang yang tidak sepaham dengan jihad mereka dianggap telah
menggembosi jihad yang syari. Padahal setiap orang tahu bahwa ulama tidak
semuanya sepakat dengan pendapat tersebut, bahkan kebanyakan ulama tidak
menyetujui jihad Ambon tersebut, termasuk Syeikh Muhammad bin Sholeh Al
Utsaimin, Abdul Muhsin Al Abbad, Sholeh As Suhaimy, dan ulama-ulama lainnya.
Sehingga semestinya ada upaya untuk meluruskan fakta ini dan upaya pembersihan
nama saudara-saudara mereka yang telah mereka tuding secara sepihak tanpa

alasan yang dibenarkan telah menggembosi jihad syari. Nyatanya hingga saat ini hal
tersebut tidak terjadi.
3.

Lebel Ihyaut Turats. Setiap atau kebanyakan orang yang dimusuhi oleh
saudara-saudara kita yang pernah tergabung dengan FKAWJ & LJ senantiasa ditudingtuding berlimang-limang atau berenang di riak-riak dinar Ihyaut Turats atau
menjadi dai Ihyaut Turats, sampai-sampai hal ini seakan-akan menjadi suatu
prinsip dalam aqidah saudara-saudara kita yang pernah tergabung dalam FKAWJ & LJ.
Padahal setiap dari kita sudah tahu bahwa para ulama berselisih pendapat dalam hal
ini, dan tidak setiap orang menerima dana dari mereka apalagi menjadi dainya.
Secara pribadi saya setuju untuk tidak menerima dana dari mereka, demi menjaga
persatuan dan kesatuan salafiyyin di Indonesia, walau demikian, tidak berarti saya
harus memusuhi setiap orang yang menerima dari mereka, sebagaimana yang
pernah dijelaskan oleh Syeikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily.

Karena beberapa hal di atas dan juga yang lainnya, maka kami masih merasa perlu
untuk mengingatkan saudara-saudara kita akan pentingnya introspeksi
Oleh karena itu kami masih merasa perlu untuk mengingatkan akan pentingnya koreksi
diri sehingga ruju kepada kebenaran dapat terwujud dengan sebaik-baiknya, bukan
dengan cara dipilah-pilah. Ini bukan berarti kami beranggapan bahwa kami adalah yang
terbenar dan bersih dari kesalahan, kami yakin bahwa kami memiliki kesalahan dan
banyak kekurangan, akan tetapi itu tidak menjadi penghalang bagi kami untuk
menyampaikan nasehat dan kritikan yang membangun.Dan perlu kami tegaskan sekali
lagi bahwa secara global kami setuju dan sepaham dengan pemaparan
saudara Luqman Baabduh dalam bukunya tersebut, dan kami mengucapkan banyakbanyak terima kasih kepada beliau dan seluruh saudara-saudara kami yang telah ikut
andil dalam penulisan buku beliau tersebut.
Semoga Allah melimpahkan taufiq dan inayahnya kepada kita semua, sehingga kita
dapat berjiwa besar dan menerima kebenaran dari manapun datangnya.

Koreksi Buku

Mereka Adalah Teroris

Adapun buku karya Saudara Luqman Baabduh, maka secara garis besar, kami sepakat
dengan muatan ilmiyahnya, hanya saja pada kesempatan ini, kami hanya ingin
menyampaikan tiga kritikan kepada saudara Luqman Baabduh, semoga dengan tiga
kritikan ini karya tulis beliau semakin bermanfaat bagi kaum Muslimin di Indonesia
secara umum, dan saudara-saudaraku yang telahmengenal manhaj salaf secara khusus:
Kritikan pertama: Penggunaan Kata Teroris
Kata teroris tidak pernah ada dalam kamus kaum muslimin, terlebih-lebih para ulama
ahlis sunnah wal jamaah. Kata teroris bukan hanya tidak ada dalam kamus umat
Islam, akan tetapi kata tersebut lebih sering digunakan untuk menjelek-jelekkan umat
islam secara umum, dan ahlis sunnah secara khusus. Ahlus sunnah dimana-mana
senantiasa mereka hantui dengan tuduhan-tuduhan semacam ini. Oleh karena itu
hingga saat ini musuh-musuh Islam beranggapan dan mempropagandakan bahwa pusat
teroris adalah negara tauhid dan negara yang berdiri di atas dasar aqidah Ahlis sunnah
wal jamaah, yaitu Saudi Arabia.

Padahal setiap orang tahu betapa besar teror dan kekejaman yang telah dilakukan oleh
Israel dan anteknya yaitu Amerika dan konco-konconya terhadap uamt manusia secara
umum dan umat islam secara khusus. Betapa banyak darah manusia yang telah mereka
tumpahkan?
Akan tetapi kenapa umat islamlah yang saat ini selalu dicurigai sebagai teroris, atau
dituduh berpaham teroris?!
Dahulu mereka senantiasa menghantui umat Islam secara umum dan ahlis sunnah
secara khusus dengan kata fundamentalis dan sekarang mereka menghantui mereka
dengan kata teroris. Momok semacam ini senantiasa diarahkan kepada umat islam,
dan tidak pernah ditujukan kepada selain mereka.
Fakta ini telah menjadi bagian nyata dari kehidupan umat islam di mana-mana,
sehingga menurut hemat kami tidak lagi memerlukan pembuktian. Dan saya yakin
saudara Luqman mengetahui akan hal ini.
Bila demikian ini halnya, maka tidaklah layak bagi seorang muslim untuk ikut membeo,
taklid dan latah dengan selain mereka sehingga menggunakan kata-kata sesat ini.
Sikap latah semacam ini termasuk cermin lemahnya kepribadian dan akidah seseorang.
Oleh karena itu jauh-jauh hari Nabi shallallahu alaihi sallam telah memperingatkan kita
dari sikap semacam ini, sampai-sampai beliau bersabda:
( )
Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia tergolong dari mereka. Riwayat
Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dll, serta dishahihkan oleh Al Albani.
Larangan menyerupai selain umat Islam bukan hanya pada perilaku, penampilan,
keyakinan, ibadah, ucapan, bahkan mencakup segala aspek kehidupan kita. Sebagai
salah satu penerapannya Allah Taala melarang kaum muslimin untuk menyerupai
orang-orang yahudi dalam hal ucapan :

104
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad),
Raaina, tetapi katakanlah, Unzhurna, dan Dengarlah. Dan bagi orang-orang yang
kafir siksaan yang pedih. Al Baqarah 104.
Kata raaina dalam bahasa arab berartikan : perhatikanlah/tunggulah kami akan
tetapi kata ini dapat diplesetkan menjadi raunah yang artinya dungu.
Allah Taala pada ayat ini melarang kaum muslimin untuk mengucapkan kata raaina
karena dahulu orang-orang Yahudi mengucapkan kata ini kepada Nabi shallallahu alaihi
sallam memngesankan mereka meminta kepada beliau shallallahu alaihi sallam agar
tidak terlalu cepat ketika berbicara, akan tetapi mereka memelesetkannya, sehingga
mereka denganya menghina Nabi shallallahu alaihi sallam dengan anggapan dungu.
Umat Islam di larang mengucapkan kata ini, walaupun maksud mereka benar dan tidak
ada niat keji semacam ini, guna menghindari segala hal yang menyerupai perbuatan
orang-orang
Ibnu katsir setelah menyebutkan hadits di atas berkata: Pada hadits ini terdapat
larangan keras, ancaman tegas dari menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan,
perilaku mereka, pakaian, hari perayaan, peribadatan dan urusan mereka lainnya yang
tidak disyariat kepada kita dan tidak juga kita diizinkan untuk melakukannya.([1])

Larangan untuk menyerupai kelompok sesat bukan hanya berlaku pada menyerupai
kaum kafir semata, bahkan menyerupai ahlil bidahpun kita dilarang.([2]) Oleh karena
itu dahulu para ulama tidaklah menggunakan istilah-istilah hasil rekayasa ahlul bidah,
kecuali dalam kesempatan tertentu dan dalam batasan tertentu pula. Ini semua demi
menjaga pemahaman, persepsi dan kepribadian umat Islam secara umum dan ahlus
sunnah secara khusus.
Imam Ibnu Abil Izzi Al Hanafy: Mengungkapkan kebenaran dengan menggunakan
istilah-istilah yang diajarkan dalam syariat Nabi dan yang diturunkan oleh Allah, adalah
metode/manhaj Ahlus sunnah wal Jamaah.([3])
Oleh karena itu amat mengherankan bila saudara Luqman yang berpenampilan ganas
dan garang dalam memperjuangkan as sunnah atau akidah atau manhaj ahlis sunnah
dan memerangi bidah ternyata amat mudah dan dengan perasaan tak bersalah
membeo dengan orang-orang lain sehingga ikut-ikutan menggunakan kata teroris.
Ditambah lagi, saudara luqman pasti tahu bahwa masyarakat internasional hingga saat
ini tidak pernah menyepakati akan definisi dan kriteria teroris. Masing-masing negara
atau organisasi yang ada menggunakan kata ini selaras dengan pemahamannya
masing-masing. Oleh karena itu tidak sepantasnya sebagai seorang dai untuk
menggunakan suatu kata yang memiliki banyak penafsiran dan diperselisihkan
kandungannya. Sehingga kata ini dapat diartikan selaras dengan alhaq/kebenaran, dan
juga dapat diartika dengan pemahaman yang menyelisihi al haq, dan bahkan malah
menghancurkan al haq.
Diantara metode Ahlus sunnah, adalah tidak menggunakan kata-kata semacam ini
kecuali setelah menjelaskan dan merinci kandunganya, sehingga tidak menimbulkan
kesalah pahaman dan kerancuan (talbis&tadlis). Dan hal ini tidak pernah dilakukan oleh
saudara Luqman, sehingga sikapnya ini dapat menimbulkan salah penafsiran tentang
kata teroris. Bahkan saudara Luqman dalam banyak kesempatan menafsirkan kata
teroris dengan khowarij. Misalnya pada ucapannya berikut ini: Pdahal jelas-jelas
dengan tegas Rasulullah shallallahu alaihi sallam telah menyatakan bahwa para
khawarij/ teroris itu sebagai anjing-anjing jahannam. (Mereka adalah teroris 14, cet II)
Penafsiran ini bila dipandang dari kaca mata ahlis sunnah, perlu ditinjau ulang dari
berbagai sisi pandang, diantaranya dari sisi pendalilan, sehingga dikatakan kepada
saudara Luqman: apa dalil anda bahwa khowarij adalah sinonim dengan teroris?
Siapakah panutan anda dalam penafsiran ini? Dst.
Tatkala menjabarkan tentang sikap ahlis sunnah terhadap berbagai istilah yang
digunakan oleh ahlul bidah dalam permasalahan asma dan sifat Allah Taala, Ibnu
Taimiyyah berkata: Adapun kata-kata yang diperselisihkan kandungannya oleh para
pencetusnya sendiri dari kalangan orang-orang mutaakhirin, misalnya kata: Al Jismu, Al
Jauhar, Al Mutahayyiz, Jihah([4]), dan kata-kata yang serupa dengannya, maka tidaklah
sepatutnya untuk diingkari secara mutlak dan tidak juga diakui secara mutlak, sampai
ditilik maksud pengucapnya. Bila ia memaksudkan dari penetapan dan pengingkaran
kata tersebut suatu makna yang benar lagi selaras dengan yang telah dikabarkan oleh
Rasulullah r, maka makna yang ia inginkan dari kata tersebut kita akui/benarkan, akan
tetapi seyogianya dia mengungkapkan makna tersebut dengan kata-kata yang telah

disebutkan dalam dalil. Tidak sepatutnya ia menggunakan kata-kata hasil rekayasa lagi
bersifat global semacam ini, melainkan pada saat diperlukan saja, dengan disertai
berbagai qarinah (pertanda) yang menunjukkan akan maksudnya..Adapun bila yang ia
maksudkan adalah suatu makna yang batil, maka makna tersebut harus diingkari, dan
bila kata tersebut mengandung makna yang benar dan batil secara bersamaan, maka
makna yang benar diakui dan yang batil diingkari.( Minhajus Sunnah oleh Ibnu
Taimiyyah 2/554-555.)
Demikianlah seyogyanya kita mensikapi kata teroris, tidaklah kita
menggunakannya kecuali setelah merinci berbagai penafsiran yang ada,
kemudian kita menjelaskan sikap kita terhadap setiap penafsiran tersebut.
Tunggu bantahan bagian ke-2.
Catatan:
[1] ) Tafsir Ibnu Katsir 1/148.
[2]) Tasyabuh dengan selain ahlis sunnah dilarang bila tidak memenuhi beberapa
persyaratan berikut ini: 1. Tidak ada kemanfaatan yang dapat dipetik darinya, 2.
Perbuatan tersebut tidak disyariatkan dalam Islam. 3. Adanya niat untuk sengaja
menyerupai. 4. Perbuatan tersebut merupakan kekhususan/ciri khas mereka.
Adapun hal-hal yang ada kemanfaatannya dan tidak ada larangan khusus darinya, maka
tidaklah dapat dikatakan sebagai tasyabbuh, misalnya menggunakan pesawat terbang,
stempel ketika bersurat menyurat, alat-alat telekomunikasi yang ada sekarang ini, dan
lain sebagainya. Atau hal tersebut merupakan syariat yang berlaku pada mereka dan
pada umat Islam pula, misalnya sholat, puasa, hukum qhishos dll, Atau hal tersebut
bukan merupakan kekhususan mereka misalnya: celana panjang yang tidak membentuk
lekak-lekuk aurat dan tidak transparan bagi kaum pria, baju kaos, menggunakan
sendok ketika makan, dll, maka tidak dapat dikatakan sebagai tasyabuh. Bagi yang
ingin mengetahui hukum tasyabuh lebih mendalam, silahkan baca kitab: At Tasyabuh Al
Manhi Anhu fil Fiqhil Islami, karya Jamil bin Habib Al Luwaihiq.
[3] ) Syarah Al Aqidah At Thahawiyyah , oleh Ibnu Abil Izzi 63. Silahkan baca
juga Majmu Fatawa 6/36-37.
[4] ) Ini adalah beberapa kata dan istilah hasil rekasaya ahlul kalam dalam mensifati
Allah Taala.

Bantahan untuk Luqman Baabduh dan Buku


Mereka Adalah Teroris (bag. 2)
Dec 10, 2014Kontroversi0

Kritikan kedua: Menghujat Diri Sendiri


Setelah membaca karya saudara Luqman baabduh ini, kami hanya memiliki satu
kesimpulan, yaitu: saudara Baabdu sebenarnya melalui karyanya ini sedang menghujat
diri sendiri. Mengapa demikian?
Kami berkesimpulan demikian ini karena kami membandingkan sepak terjang dan ulah,
serta berbagai ucapan saudara Luqman beberapa waktu lalu dengan apa yang tertera
dalam karyanya ini.
Setiap orang yang membandingkan antara perilaku saudara Luqman beberapa waktu
lalu dengan apa yang ia torehkan pada karyanya ini insya Allah- akan berkesimpulan
seperti kesimpulan kami ini. Agar kesimpulan ini menjadi jelas bagi setiap pembaca,
maka berikut akan kami nukilkan pengakuan seseorang yang pernah senasib dan
seperjuangan dengan saudara Luqman semasa menjalani jihad Ambon dibawah
komando panglima Jafar Umar Tholib dengan FKAWJ-nya.
Orang yang pernah senasib dan seperjuangan dengan saudara Luqman ini
dengan jujur dan penuh rasa tanggung jawab mengatakan: Tanpa terasa kami
terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan yang bermuara pada satu titik yaitu
politik massa atau penggunaan potensi massa dalam perjuangan. Sungguh kesesatan
seperti inilah yang terjadi pada Ahlul Bidah dan Hizbiyyun dari kalangan Ikhwanul
Muslimin, Qutthbiyyin (pengikut Sayid Quthub) dan Sururiyyin (pengikut Muhammad
Surur) dan lain-lain. Dengan penyimpangan yang kami jalani saat itu, muncullah
tindakan-tindakan persis seperti yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, diantaranya:
1.
Sistem komando yang meluas menjadi organisasi yang digerakkan dengan
sistem imarah dan baiat.
2.
Lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas dalam organisasi.
3.
4.

Demonstrasi, unjuk rasa dan yang sejenisnya menjadi hal yang biasa.
Mencari dukungan politik dari berbagai kelompok dengan tidak memperhatikan
apakah meeka ahlus sunnah, oang awam, atau ahlul bidah.

5.

Dari sinilah timbul ide untuk mengadakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas)
dengan mengundang tokoh-tokoh politik dan ahlul bidah.

6.

Mulai menggampangkan dusta dengan dalih bahwa perang adalah tipu


daya.
7.
Bermudah-mudah dalam maksiat, sepeti photografi, dan ikhtilath karena
mengimbangi oang awam.

8.

Mengingkari kemungkaran dengan menggunakan gerakan massa dan kekerasan,


yang akhirnya jatuh ke dalam kessalahan berikutnya, yaitu:
1.
2.
3.

Menghalalkan darah kaum muslimin.


Melawan aparat atau pemerintah yang sah.
Dan seterusnya. (Meredam Amarah Terhadap Pemerintah hal: xi-xii, oleh
Muhammad Umar As Sewed)

Bila pembaca membaca pengakuan ini kemudian membaca karya saudara Baabduh
yang nota bene adalah anggota FKAWJ, niscaya kesimpulan di atas akan menjadi hal
pertama yang terbetik dalam benaknya.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ustadz
Muhammad Umar As Sewed yang telah dengan tegas dan jujur mengakui kesalahannya
dan menyatakan ruju kepada kebenaran. Ini adalah satu pertanda bahwa beliau adalah
seorang yang benar-benar berjiwa salafi dan tidak dibelenggu oleh rasa egois walaupun
dalam kesalahan. Semoag Allah memberkati pengakuan beliau ini, dan senantiasa
melimpahkan hidayah& taufiq-Nya kepada Ustadz Muhammad As Sewed, serta orangorang yang berjiwa besar sehingga dengan lapang dada mau menerima kebenaran dan
mengakui kesalahan.
Saudara Baabduh yang semoga dirahmati Allah, mengapa anda tidak berterus terang
mengakui kesalahan dan menyatakan ruju darinya sebagaimana yang dilakukan oleh
Ustadz Muhammad As Sewed?! Mungkinkah anda mengingkari dan mendustakan
pengakuan Ustadz Muhammad As Sewed?!
Dan pada kesempatan ini kami juga menyeru seluruh saudara kami untuk
berintrospeksi diri, sebab bila kita sedikit menoleh kebelakang beberapa tahun silam,
niscaya kita akan dapat menyadari jati diri kita sendiri.
Beberapa tahun silam, kami dan juga banyak dari saudara-saudara kami yang telah
mengenal manhaj salaf dan berusaha untuk dapat menjiwai dan menerapkannya dalam
kehidupan nyata, harus mengakui kenyataan pahit dan kelam.
Beberapa tahun silam kita telah didoktrin dan dibisikkan ke telinga kita bahwa kita
meniti manhaj salaf dan berakidah salaf. Walau demikian bisikan dan doktrin yang
diajarkan, akan tetapi kitab-kitab yang diajarkan kepada kita kala itu, tidaklah beda
dengan kitab-kitab yang diajarkan kepada berbagai harokah atau gerakan-gerakan
dakwah lainnya. Sehingga kala itu kita diajari dengan kitab-kitab berikut:
1.
Tafsir Fi Dhilalil Quran karya Sayyid Quthub.
2.

Al Adalah Al Ijtimaiyyah, karya Sayyid Quthub.

3.

Maalim Al Inthilaqathul Kubra karya Abdul Hadi Al Mishry.

4.

Al Ghuraba Al Awwalun, karya Salman bin Fahed Al Audah.

5.

Sifatul Ghuraba, karya Salman bin Fahed Al Audah.

6.

Fiqhul Waqi karya Nashir Umar.

7.

Al Imamatul Uzhma karya Abdullah Ad Dumaijy.

8.

dll

Dan setelah sekian lama dan setelah berbagai ajaran dan pemahaman yang termuat
dalam kitab-kitab tersebut dan juga lainnya tertanam dengan baik dalam akal pikiran

kita, barulah kita mengetahui bahwa pada kitab-kitab tersebut terdapat berbagai
kesalahan fatal nan berbahaya menurut aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan
akhirnya kita rame-rame meninggalkan kitab-kitab tersebut.
Akan tetapi yang menjadi pertanyaan:, akankah semudah yang dibayangkan, berbagai
pemikian dan doktrin yang telah terlanjur tertanam dalam jiwa kita akibat langsung dari
mempelajari kitab-kita tersebut dapat kita ketahui letak kesalahannya lalu dengan
mudah kita menggantikannya dengan pemahaman yang benar?
Sebagai percontohan bahwa suatu pemahaman yang telah tertanam kokoh dalam hati
tidak mudah dihapuskan dan biasanya masih menyisakan bekas hingga beberapa
waktu, ialah kisah berikut:
: : . : :
: : .
.
dari sahabat Aisyah radhiallahu anha, ia menuturkan: Aku pernah bertanya kepada
Rasulullah shallallahu alaihi sallam tentang dinding (hijir Ismail, apakah itu termasuk
dari Kabah? Beliau menjawab: Ya. Aku-pun (Aisyah) bertanya: Mengapa mereka
(orang-orang Quraisy) tidak memasukkannya kedalam (bangunan) Kabah? Beliau
menjawab: Sesungguhnya kaummu kekurangan biaya. Aku-piun bertanya: Lantas
mengapa pintunya tinggi? Beliau menjawab: Kaummu melakukan itu agar mereka
dapat memasukkan orang yang mereka kehendaki dan menghalangi orang yang
mereka kehendaki. Dan kalulah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan
(kehidupan) jahiliyyah, sehingga aku khawatir hati-hati mereka akan merasa aneh
(menganggap sebagai kemungkaran/kesalahan-pen) niscaya aku akan masukkan
dinding itu (hijir Ismail-pen) ke Kabah, dan aku akan tempelkan pintunya dengan
bumi. Muttafaqun alaih
Rasulullah shallallahu alaihi sallam menyabdakan hadits ini pada tahun ke 10 H
sedangkan kota Makkah telah berhasil ditundukkan pada tahun ke 8 H, dan penduduk
Makkah telah masuk Islam pada tahun ke 8 H pula. Sehingga pada saat terjadi
percakapan antara Rasulullah shallallahu alaihi sallam dengan Aisyah ini telah berjarak
+ 2 tahun. Walau demikian Rasulullah shallallahu alaihi sallammasih mengkhawatirkan
tentang tersisanya berbagai hal-hal dan keyakinan jahiliyyah pada diri penduduk
Makkah, oleh karena itu beliau mengurungkan keinginannya untuk memugar Kabah.
Bila mereka para sahabat yang telah masuk Islam selama + 2 tahun dikhawatirkan
masih memiliki sisa-sisa akidah atau pemikiran jahiliyyah, padahal mereka hidup
semasa dnegan Rasululah shallallahu alaihi sallam, keimanan mereka, keilmuan,
pemahaman bahasa arab dll jauh lebih besar dan bagus dibanding kita sekarang ini,
apakah tidak lebih layak bagi kita untuk senantiasa mengkhawatirkan hal tersebut
terjadi pada diri kita?!
Oleh karena itu hendaknya kita tidaklah terlalu merasa besar kepala sehingga
mengganggap diri kita telah menjadi seorang salafy tulen tidak layak di kritik, atau
disalahkan atau bahkan merasa menjadi panutan dakwah salaf di negri kita.
Fakta dan fenomena yang terjadi pada perjalanan dakwah salaf di negri kita
membuktikan bahwa kita tidak mudah meninggalkan dan menghapuskan masa lampau

kelam tersebut, sehingga berbagai kejadian janggal dan menyeleweng sering menodai
perjalanan dakwah salaf.
Berikut beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa hingga kini masih banyak warisan
dari masa kelam itu yang masih melekat pada diri kita:
Indikasi pertama : Sikap fanatis dan kultus kepada seorang figur atau ustadz,
sehingga bila ustadz kita menguatkan suatu pendapat, maka banyak dari kita yang
merasa berang atau tidak suka bila ada ustadz lain atau orang lain yang mengamalkan
pendapat ulama yang menyelisihi pendapat ustadz kita. Dan tidak jarang kita menjadi
seperti orang yang kebakaran kumis bila diajak berdiskusi atau beradu argumen dengan
orang yang menyelisihi pendapat kita.
Sikap-sikap semacam ini sudah barang tentu menyelisih prinsip Dakwah Salaf yang
senantiasa mendahulukan kebenaran di atas segala hal. Sebagaimana sikap semacam
ini akan memadamkan ilmu dan sikap-sikap ilmiyyah yang tercermin pada kesiapan kita
untuk menerima kebenaran dari siapa saja datangnya dan meninggalkan kesalahan dari
siapa saja datangnya.
Indikasi kedua : Sikap ceroboh dalam menjatuhkan suatu vonis atau klaim terhadap
seseorang, misalnya dengan mengatakan fulan mubtadi atau ahlul ahwa, atau yang
serupa, tanpa melalui tahapan yang telah dijelaskan oleh para ulama. Sehingga tidak
jarang kita mendengar tuduhan: fulan sururi hanya karena berhubungan dengan suatu
yayasan tertentu, atau berbaik muka dengan orang-orang tertentu misalnya, atau yang
serupa, tanpa menempuh tahapan-tahapan yang semestinya ditempuh.
Indikasi ketiga : Masih berlakunya sebutan nama hijrah, yaitu bila ada seseorang
yang oleh orang tuanya diberi nama yang tidak islamy, misalnya diberi nama paijo,
kemudia ia mengganti nama tersebut dengan nama Ahmad, maka nama ahmad ini
disebut oleh banyak orang dengan nama hijrah. Kita tidak pernah bertanya: hijrah
dari mana? Bolehkah menyebut nama tersebut dengan sebutan semacam ini? Padahal
pergerakan-pergerakan yang biasa menggunakan sebutan tersebut memaksudkan
hijrah di situ ialah hijrah dari masyarakat jahiliyah. Mereka beranggapan bahwa
masyarakatnya ialah masyarakat jahiliyah alias kafir, karena tidak berhukum dengan
hukum Allah.
Indikasi keempat : Kesan bahwa seorang yang telah bermanhaj salaf atau beraqidah
tidak mungkin berbuat salah atau dosa, sehingga bila kita melihat seorang yang telah
lama belajar aqidah salaf dan rajin menghadiri pengajian-pangajian yang dipandu oleh
ustadz-ustadz salaf terjatuh dalam perbuatan dosa, muncullah ucapan-ucapan yang
aneh, misalnya: masak seorang ikhwan salafi berbuat demikian? Masak seorang ustadz
salafi berbuat demikian?! Masak seorang salafi atau ustadz salafi kok tidap tepat
membayar hutang atau memenuhi janjinya ..?! Seakan-akan ada kesan bahwa
seorang ustadz atau seorang salafi adalah seorang yang sempurna dan tak mungkin
salah atau berdosa? Subhanallah, seakan-akan setiap orang yang telah belajar manhaj
salaf atau beraqidah salaf adalah insan yang sempurna dan suci dari dosa, bak malaikat
atau nabi.

Dan bila ada seorang yang melakukan kesalahan atau dosa, dengan serta merta timbul
kesan bahwa orang tersebut telah keluar dari manhaj salaf atau bukan salafi lagi atau
anggapan yang serupa.
Sampai-sampai timbul kesan bahwa yang layak untuk dijuluki dengan sebutan ikhwan
atau akhwat hanyalah orang yang telah ngaji dengan seorang ustadz salafi, sedangkan
seorang muslim atau muslimah yang belum mengaji dengan seorang ustadz salafi, akan
tetapi ia orang awam atau mengaji kepada guru-guru ngaji lainnya tidak disebut dengan
ikhwan atau akhwat. Sehingga banyak dari kita yang akan tertawa kesal atau geli bila
ada orang yang mengatakan kepada kita : awas hati-hati, di depan rumah ada seorang
akhwat! Dan setelah dicek ternyata yang ada hanyalah seorang ibu-ibu muslimah yang
datang dari kampung dengan pakainnya yang khas jawa. Seakan-akan kita semua
mengubur dalam-dalam firman Allah Taala :
}10 }
Sesungguhnya orang-orang mumin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara
kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. Al
Hujurat 10. Dan juga sabda Nabi shallallahu alaihi sallam
( )
Jadilah kalian itu hamba-hamba Allah yang saling bersaudara, seorang muslim adalah
saudara muslim lainnya, ia tidaklah menzholiminya, tidaklah menyelahkannya kepada
musuh, dan tidaklah meremehkannya. Muslim.
Dan pada kesempatan ini kami juga ingin mengingatkan saudara-saudara kita yang
pernah ikut dalam FKAWJ dan juga LJ (Laskar Jihad) dibawah komando Ustadz Jafar
Umar Thalib, bahwa walaupun antum semua telah meninggalkan FKAWJ dan LJ, dan
telah banyak yang menyatakan bertaubat, akan tetapi, pelajaran yang diambil dari
kisah percakapan antara Rasulullah shallallahu alaihi sallam dengan Aisyah di atas
hendaknya senantiasa diilhami dan direnungkan kemudian diterapkan dalam kehidupan
nyata. Agar kesalahan masa lampau tersebut tidak kembali muncul atau bahkan tidak
menyisakan bekasnya dalam perilaku, ucapan dan pemikiran antum semua.
Semoga Allah Taala senantiasa melimpahkan taufiq dan inayah-Nya kepada kita
semua, sehingga kita dapat membersihkan diri kita dari noda warisan kelam masa
lampau dan dapat meningkatkan iman, amal serta ilmu kita.

Bantahan untuk Luqman Baabduh dan Buku


Mereka Adalah Teroris (bag. 3-Selesai)
Dec 15, 2014Kontroversi0

Kritikan Ketiga: Bersikaplah Lebih Lembut

Kesalahan dan dosa adalah suatu hal yang tidak mungkin dihindari secara keseluruhan.
Masing-masing manusia pasti memiliki kesalahan dan dosa, baik ia sengaja atau tidak.
Oleh karena itu syariat islam mensyariatkan amar maruf nahi mungkar, guna
menutupi kekurangan yang ada pada umat manusia ini.
Fakta yang ada pada setiap manusia ini perlu untuk senantiasa diingat oleh setiap
orang yang hendak menjalankan syariat amar maruf dan nahi mungkar. Dengan
mengingat kenyataan ini, kita akan bisa lebih sabar dan bersikap lembut kepada
orang yang memiliki kesalahan, karena kita akan selalu berkata kepada diri sendiri,
bahwa dahulu karena kebodohan- saya berbuat kesalahan seperti dia sekarang iniberbuat kesalahan. Sehingga kita akan merasa iba, dan kasihan terhadap orang
tesebut, akibatnya, kita akan lebih gigih untuk menjalankan segala daya dan upaya
agar orang tersebut bisa mendapatkan hidayah, sebagaimana kita telah mendapatkan
hidayah.
Marilah kita renungkan bersama ayat berikut :
]


[
Hai orangorang yang beriman, apabila engkau pergi (berperang) di jalan Allah, maka
telitilah, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam
kepadamu :kamu bukan seorang muslim (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud
mencari harta benda di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu
jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugrahkan nikmat-Nya atas kamu,
maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (An
Nisa 94).
Pada ayat ini Allah melarang orang-orang Muhajirin ketika dalam keadaan peperangandari mengatakan kepada seorang musuh yang menampakkan keislaman dengan cara
mengucapkan salam kepada kaum muslimin, :Engkau bukanlah seorang muslim,
engkau mengucapkan salam hanya sekedar takut dibunuh lalu dibunuh, karena sangat
dimungkinkan bahwa orang tersebut adalah orang yang benar-benar telah masuk islam,
akan tetapi takut untuk menampakkan keislamannya. Kemudian Allah mengingatkan
orang-orang Muhajirin akan keadaan mereka sebelum berhijrah, dimana didapatkan dari
mereka banyak orang yang telah masuk islam, akan tetapi takut untuk menampakkan
keislamannya.
Kaitannya dengan permasalahan yang kita hadapi, bila sekarang saudara Luqman telah
menyadari bahwa menghalalkan darah kaum muslimin tanpa alasan yang dibenarkan
adalah kesesatan dan sebagai salah satu perangai sekte khowarij. Dan bila sekarang
saudara Luqman menyadari bahwa melawan aparat pemerintah adalah dosa dan
merupakan satu dari sekian banyak kriteria sekte khowarij dst, maka mengapa saudara

Luqman tidak bisa bersikap sedikit lembut dan berkata-kata halus dalam mengkritik dan
membantah orang lain yang masih terfitnah atau tertipu dengan propaganda dan tipu
muslihat mereka? Bukankah kemarin saudara juga telah tertipu dan terfitnah dengan
propaganda mereka?
Mungkinkah sikap keras dan berlebih-lebihan saudara Baabduh adalah sebagai ekspresi
penyesalan saudara Baabduh dari penyelewengannya kala itu? Atau mungkinkah sikap
kerasnya dan berlebih-lebihannya ini adalah sisa-sisa dari penyelewengannya yang
telah sampai pada tingkat menghalalkan darah kaum muslimin?
Kami ingatkan saudara-saudaraku seiman dan seakidah, bahwa diantara kriteria ahlus
sunnah yang banyak dilalaikan oleh umat islam sekarang ini ialah :
:
Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi sallam adalah orang yang paling sayang terhadap
anak-anak dan keluarga dan pada riwayat lain: Orang yang paling sayang terhadap
orang lain. (Al Jami As Shoghir oleh As Suyuthi 1/211)
Dan sebagai salah satu contoh nyata bagi sikap lembut Rasulullah shallallahu alaihi
sallam kepada orang lain, bahkan kepada orang yang telah berbuat jahat kepadanya,
simaklah kisah berikut:
: . : ) :
: ) : : ) ! ( : .
.(
Dari sahabat Aisyah radhiallahu anha, ia menuturkan: Ada sebagian orang Yahudi
yang meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi sallam, dan mereka berkata:
Assaamu alaikum (semoga kematian menimpamu, sepontan Aisyah berkata: Atas
kalianlah semoga kematian menimpa, dan juga kutukan. Kemudian Rasulullah
shallallahu alaihi sallam bersabda: Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu mencintai
kelembutan dalam segala urusan. Aisyah menjawab: Tidakkah engkau mendengar apa
yang mereka katakan? Beliau menjawab: Aku telah menjawab :Dan semoga atas
kalian juga . Muttafaqun alaih.
Betapa lembut sikap Rasulullah shallallahu alaihi sallam , beliau hanya mencukupkan
untuk membalas doa jelek dan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi
dengan mengucapkan Dan semoga atas kalian juga . Bukan hanya itu, beliau juga
menegur Aisyah yang ketika membalas doa jelek mereka menambah dengan doa
kutukan.

Beliau shallallahu alaihi sallam menyebutkan alasan teguran ini, yaitu karena pada
sikap Asiyah tersebut terdapat pembalasan yang melebihi perbuatan, dan ini
menyelisihi sikap lembut yang diajarkan dalam syariat. Karena dalam syariat kita
hanya dibenarkan untuk membalas kejahatan orang lain dengan hal yang serupa dan
setimbang.
} 194 }
barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah dia seimbang dengan
serangannya terhadapmu. Al Baqarah 194 . Dan pada ayat lain Allah Taala berfirman :
}126 }


Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama
dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar,
sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. An Nahel 126.
Oleh karena itu hendaknya kita semua banyak-banyak belajar akan hal ini, sehingga
kita senantiasa dapat menjadi rahmat bagi orang lain.
Pada kahirnya kami menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang
telah ikut andil dalam penulisan makalah ini, baik dengan memberikan saran, atau
kritikan atau masukan, semoga Allah membalas kebaikan mereka semua dengan
ganjaran yang setimpal. Dan semoga Allah Taala senantiasa melindungi kita dari segala
fitnah dan mensucikan hati kita dari syubhat dan syahwat.
Tak lupa, kami mohon saran dan kritikan dari para pembaca, dan bila ada kesalahan
atau hal yang kurang berkenan maka kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan
ini bukanlah upaya dari kami untuk menyatakan bahwa kami adalah yang paling pandai
atau paling bersih dari kesalahan, akan tetapi tulisan ini adalah sarana yang kami
tempuh untuk menyampaikan nasehat dan menegakkan kebenaran yang sesuai dengan
keilmuan dan pemahaman kami yang amat dangkal ini. Kami menyadari bahwa pada
diri kami terdapat kesalahan dan kekhilafan, sehingga yang mungkin tidak kalah besar
dari kesalahan dua saudara kita ini, yaitu saudara Abduh Akaha dan Luqman Baabduh.
Oleh karena itu kami amat bersyukur kepada Allah kemudian kepada saudara kami,
siapapun dia yang dapat menghadiahkan kepada kami kesalahan dan aib kami.

.



.

Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kecintaan kepada keimanan dan jadikanlah ia


indah dalam hati kami, dan limpahkanlah kepada kami kebencian kepada kekufuran,
kefasikan, dan kemaksiatan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang
mendapat petunjuk. Ya Allah wafatkanlah kami dalam keadaan muslim, dan
hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, dan kumpulkanlah kami dengan orang-orang
sholeh tidak dalam keadaan hina tidak juga tertimpa fitnah. Amiin.