Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH STUDI ISLAM II

KELOMPOK IV
MUHAMMADIYAH DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Disusun oleh :
1. Maryam Makhmudah
(1308010090)
2. Ulfi Fariah
(1308010092)
3. Sri Mardiyani
(1308010094)
4. Sulkhi Danu Pranoto
(1308010096)
5. Radika Afiko Pradesti
(1308010098)
6. Prasetyati Wirianti (1308010100)
7. Atia Askarima
(1308010102)
8. Ade Firmansyah
(1308010104)
9. Roro Rosalina Afridan(1308010110)
10. Rodiyah Kurnia W (1308010112)
11. Dzakiyyah Putri
(1308010114)
12. Evi Dwi Kusuma P (1308010116)
13. Nur Annisa
(1308010118)
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang PEMBERDAYAN PEREMPUAN
OLEH MUHAMMADIYAH . Makalah ini merupakan tugas yang dibuat sebagai bagian

dalam memenuhi kriteria mata kuliah studi islam 2. Semoga sholawat serta salam senantiasa
tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, keluarga, sahabat serta
seluruh pengikutnya yang senantiasa istiqomah hingga akhir zaman, aamiin.
Terimakasih kami sampaikan kepada Bapak Husenselaku dosen studi islam 2 yang
membantu membimbing dalam proses penyusunan makalah ini . Dalam penyusunan makalah
ini, tentu banyak kekurangan dan kekeliruan.Itu semata-mata karena keterbatasan kami.Untuk
itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.Semoga makalah ini sangat bermanfaat bagi kita
semua, Amin.

Tim Penyusun

Purwokerto,03 Juni 2015

DAFTAR ISI
COVER ................................. ......................
DAFTAR ISI ................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG ...........................................................

I
i
ii
4

1.2 RUMUSAN MASALAH..........................................


BAB II ISI
2.1 PERAN K.H A.DAHLAN MEMBERDAYAKAN
PEREMPUAN...................................................
2.2 AISYIAH DAN GERAKAN PEMBERDAYAAN
PEREMPUAN .............................
2.3 SEJARAH DAN IDENTITAS AISYIAH ..............................
2.4 TUJUAN AISYIAH .........................
2.5 MISI AISYIAH ...........................................................................
2.6 AISYIAH DALAM GERAKAN GENDER MODERN ............
2.7 PERAN DAN TANTANGAN BAGI PEREMPUAN
MUHAMMADIYAH DALAM BERBANGSA DAN
BERNEGARA .............................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN .....................................................
3.2 DAFTAR PUSTAKA ........ ........

8
9
10
11
12
13

15

17
19

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia.


Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga
Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut
Nabi Muhammad SAW.
Tujuan utama Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan
yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran
Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi.
Gerakan Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan
pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik. Menampilkan ajaran Islam
bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan
berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya.
Dalam pembentukannya, Muhammadiyah banyak merefleksikan kepada
perintah-perintah Al Quran, diantaranya surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung. Ayat tersebut, menurut para tokoh
Muhammadiyah, mengandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam menjalankan
dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak, yang juga mengandung
penegasan tentang hidup berorganisasi. Maka dalam butir ke-6 Muqaddimah
Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, melancarkan amal-usaha dan
perjuangan dengan ketertiban organisasi, yang mengandung makna pentingnya
organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya.Sebagai dampak positif dari organisasi
ini, kini telah banyak berdiri rumah sakit, panti asuhan, dan tempat pendidikan di
seluruh Indonesia.
Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung
Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H).[1]
Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad
Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang menurut anggapannya, banyak
dipengaruhi hal-hal mistik.Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah

untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu peran
dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan,
yang dikenal sebagai Hogere School Moehammadijah dan selanjutnya berganti
nama menjadi Kweek School Moehammadijah (sekarang dikenal dengan Madrasah
Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta khusus laki-laki, yang bertempat di Jalan S
Parman

no

68

Patangpuluhan

kecamatan

Wirobrajan

dan

Madrasah

Muhammadiyah Mu'allimiaat Yogyakarta khusus Perempuan, di Suronatan


Yogyakarta yang keduanya skarang menjadi Sekolah Kader Muhammadiyah) yang
bertempat di Yogyakarta dan dibawahi langsung oleh Pimpinan Pusat
Muhammadiyah
Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama
Muhammadiyah pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat
Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom
Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton
Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui shalat
istikharah (Darban, 2000: 34).[2] Pada masa kepemimpinan Kyai Dahlan (19121923), pengaruh Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti:
Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan, daerah Pekalongan sekarang.
Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada
tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah
ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam.Dalam tempo
yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh
Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke
seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.Pada tahun 1938, Muhammadiyah
telah tersebar keseluruh Indonesia.

Sebagaimana telah disebutkan bahwa perhatian KH. A. Dahlan dan Nyai


Dahlan sangat besar terhadap kedudukan, peran, dan pemberdayaan perempuan.
Hal ini dapat dilihat mulai dari pendiri Persyarikatan memberi kesempatan dengan
menganjurkan anak perempuan masuk sekolah formal dan mempersiapkan kader-

kader pemimpin perempuan melalui pendidikan formal dan gemblengan beliau dan
istrinya di internat (asrama puteri yang juga adalah rumah beliau). Kaum pemimpin
perempuan akan menjadi orang yang sangat membantu dan teman setia dalam
melancarkan Persyariakatan Muhammadiyah menuju cita-citanya. KH dahlan
berpesan supaya urusan dapur tidak dijadikan sebagai penghalang untuk
menjalankan tugas dalam menghadapi masyarakat. Sepintas lalu ungkapan tersebut
memberi kesan bahwa pendiri Persyarikatan ini memposisikan perempuan sebagai
yang dipimpin, di bimbing dan pembantu ungkapan ini seakan-akan
memposisikan perempuan sebagai yang kedua dan ungkapan urusan dapur tidak
dijadikan sebagai penghalang dapat bermakna double burden (beban kerja ganda)
bagi perempuan, namun bila dicermati dengan melihat situasi dan kondisi
masyarakat pada waktu itu dan membandingkan dengan gerakan emansipasi
diEropa yang baru dirintis sejak perang dunia pertama (1914-1918).
Perempuan Indonesia sudah menuntut ilmu setara dengan kaum laki-laki atas
anjuran KHA Dahlan pada tahun 1913, maka kita akan menyadari bahwa
pemahaman dan gerakan yang dilakukan Pendiri Muhammadiyah pada waktu itu
betul-betul sudah maju dan mendahului bangsa lain.
Dengan demikian kelahiran dan kehadiran para kaum pemimpin perempuan
merupakan bentuk pembaruan untuk menjunjung tinggi dan memuliakan kaum
perempuan serta mendorongnya untuk berkiprah di ruang publik guna membawa
misi dakwah dan tajdid bagi kemajuan hidup umat manusia.

Masalah masalah yang muncul pada abad milenium ini jika kita soroti dan
fokuskan, banyak persoalan yang berhubungan dengan kaum perempuan dan
sekarang juga masalah yang menimpa anak.
Dalam pokok pembahasan makalah ini kita akan membahas tentang
Pemberdayaan Perempuan Oleh Muhammadiyah, Aisyiyah dan Gerakan
Pemberdayaan Perempuan, Sejarah dan Identitas Aisyiyah, Tujuan Aisyiyah, Misi

Aisyiyah, Aisyiyah dalam Gerakan Gender Modern, dan Tantangan Bagi Kaum
Perempuan Muhammadiyah Pimpinan Muhammadiyah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Cara KH Ahmad Dahlan Memberdayakan Kaum Perempuan.
2. Organisasi Apa yang Dapat Menjadi Forum Pemberdayaan Perempuan Dalam
Muhammadiyah.
3. Bagaimana Peran Perempuan Muhammadiyah Dalam Kehidupan Berbangsa Dan
Bernegara.

BAB II
ISI
A. CARA KH AHMAD DAHLAN MEMBERDAYAKAN PEREMPUAN

KH. A. Dahlan dan Nyai Dahlan sangat besar terhadap kedudukan, peran, dan
pemberdayaan perempuan. Hal ini dapat dilihat mulai dari pendiri Persyarikatan ini
memberi kesempatan dengan menganjurkan anak perempuan masuk sekolah formal
dan mempersiapkan kader-kader pemimpin perempuan melalui pendidikan formal
dan gemblengan beliau dan istrinya di internat (asrama puteri yang juga adalah
rumah beliau).Selain itu, hal tersebut juga dapat dilihat dari pesan beliau kepada para
sahabatnya dan murid-muridnya supaya berhati-hati dengan urusan 'Aisyiyah
(organisasi perempuan Muhammadiyah). Kalau dapat memimpin dan membimbing
mereka, inshaa Allah mereka akan menjadi orang yang sangat membantu dan teman
setia dalam melancarkan Persyariakatan Muhammadiyah menuju cita-citanya, dan
kepada murid perempuannya beliau juga berpesan supaya urusan dapur tidak
dijadikan sebagai penghalang untuk menjalankan tugas dalam menghadapi
masyarakat. Sepintas lalu ungkapan tersebut memberi kesan bahwa pendiri
Persyarikatan ini memposisikan perempuan sebagai yang dipimpin, di bimbing dan
pembantu ungkapan ini seakan-akan memposisikan perempuan sebagai yang kedua
dan ungkapan urusan dapur tidak dijadikan sebagai penghalang dapat bermakna
double burden (beban kerja ganda) bagi perempuan, namun bila dicermati dengan
melihat situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu dan membandingkan dengan
gerakan emansipasi diEropa yang baru dirintis sejak perang dunia pertama (19141918). Perempuan Indonesia sudah menuntut ilmu setara dengan kaum laki-laki atas
anjuran KHA Dahlan pada tahun 1913, maka kita akan menyadari bahwa
pemahaman dan gerakan yang dilakukan Pendiri Muhammadiyah pada waktu itu
betul-betul sudah maju dan mendahului bangsa lain.
Dengan demikian kelahiran dan kehadiran Aisyiyah merupakan bentuk
pembaruan yang menjunjung tinggi dan memuliakan kaum perempuan serta
mendorongnya untuk berkiprah di ruang publik guna membawa misi dakwah dan
tajdid bagi kemajuan hidup umat manusia. Sebagaimana telah dikemukakan
sebelumnya bahwa dari awal berdiri hingga sekarang 'Aisyiyah lebih menyoroti dan
fokus pada persoalan yang berhubungan yang berhubungan dengan kaum perempuan
dan sekarang juga masalah yang menimpa anak. Oleh karena itu Ortom Khusus

Muhammadiyah ini memiliki garapan program kerja yang sangat khusus, strategis
dan visioner, yaitu perempuan dan anak.
Gerakan 'Aisyiyah dari waktu ke waktu terus meningkatkan peran dan
memperluas kerja dalam rangka peningkatan dan pemajuan harkat wanita dan anak
Indonesia sampai hari ini. Hasil yang sangat nyata adalah wujud amal usaha yang
terdiri atas ribuan sekolah Taman Kanak-kanak, yang selanjutnya berkembang
dengan sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi, rumah sakit, Balai
Bersalin untuk ibu dan anak, panti asuhan, rumah-rumah sosial (untuk anak jalanan,
anak terlantar, panti jompo, dll) lembaga ekonomi, dan lain sebagainya.

B. AISYIYAH DAN GERAKAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN


Aisyiyah merupakan gerakan perempuan Muhammadiyah yang telah diakui
dan dirasakan perannya dalam masyarakat. Sebagai salah satu organisasi otonom
(Ortom) pertama yang dilahirkan rahim Muhammadiyah, ia memiliki tujuan yang
sama dengan Muhammadiyah. Aisyiyah memiliki garapan program kerja yang
sangat khusus, strategis dan visioner, yaitu perempuan. Peran dan fungsi perempuan
merupakan bagian terpenting dalam gerak roda kehidupan, sebab pepatah bilang
wanita adalah tiang negara, apabilawanitanya baik maka akn makmur negaranya
tetapi kalau wanita di negara tersebut hancurmaka akan hancur pula derajat negara
tersebut. Komitmen Aisyiyah sebagai gerakanperempuan Islam di tanah air dapat
dibuktikan sampai usia menjelang satu abad ini.Muhammadiyah dalam bidang
perempuan dapat terbantu krena bidang ini digarap dandikembangkan oleh Ortom
tertua ini.Sebagai organisasi Aisyiyah memiliki struktur kepemimpinan yang
tersusun secaravertikal dan horizontal.Secara vertikal dari tingkat Ranting sampai
Pusat. Secara horizontal,yaitu memiliki Badan Pembantu Pimpinan (BPP), baik
Majelis, Lembaga, Bagian maupunurusan yang masing-masing dapat membentuk
divisi atau seksi-seksi sesuai kebutuhan.Aisyiyah bergerak dalam berbagai bidang
kehidupan dan memiliki amal usaha dalampendidikan, kesehatan, kesejahteraan
sosial, dan ekonomi.Gerakan Aisyiyah sejak awal berdiri, dan dari waktu ke waktu

terus berkembang danmemberi manfaat bagi peningkatan dan kemajuan harkat dan
martabat perempuan Indonesia.Pada tahun 1919 mendirikan Frobel, Sekolah Taman
Kanak-Kanak pertama milik pribumi diIndonesia. Bersama organisasi wanita lain
pada tahun 1928 mempelopori dan memprakarsaiterbentuknya federasi organisasi
wanita yang kemudian dan sampai sekarang dengan KOWANI.

C. SEJARAH DAN IDENTITAS AISYIYAH


K.H. Ahmad Dahlan menaruh perhatian yang sangat besar pada
perempuan.Menurutpendiri Muhammadiyah ini, perempuan pada umumnya kurang
memiliki pengetahuan danmasalah agama, terutama ibadah shalat sebagai amalan
ibadah yang paling pokok.Hal initerjadi karena perempuan pada masa itu tidak
berhak memperoleh pendidikan dan ilmupengetahuan yang memadai meskipun
pengetahuan agama.Padahal dalam Islam beramalibadah ritual, seperti shalat itu ada
ilmunya, dalm melaksanakan shalat ada syarat dan rukunyang harus dipenuhi ketika
mengamalkannya.Ilmu tersebut harus dipraktikan dalam setiapmelaksanakan
shalat.Karena hal ini maka pada tahun 1911, yaitu setahun sebelumnya
Muhammadiyahberdiri, didirikannya Madrasah Diniyah.Tahun 1913, yakni setahun
setelah Muhammadiyahberdiri, KH A. Dahlan menganjurkan kepada tetanggatetangganya untuk menyekolahkananak-anak perempuan mereka di sekolah Belanda
Neutraal Meisjes School di Ngupasan. Tigaorang gadis pada saat itu dapat masuk ke
sekolah itu, seperti Siti Bariyah, Siti Wandingah,Siti Dawimah. Keberhasilan ini
dilanjutkan untuk generasi berikut sampai keberikutnya.Tahun 1914, KH.A Dahlan
dan istrinya Nyai Siti Walidah mengadakan kursus-kursusagama atau pengajian
khusus untuk kaum perempuan yang dilaksanakan sesudah waktu ashardiberi nama
Wal

Asyhri,

kursus

itu

diikuti

pula

oleh

oleh

siswi-siswi

Sekolah

NetralBelanda.Berdasarkan usulan,
KH Dahlan membentuk organisasi yang secara khusus bertujuanuntuk
memajukan

kaum

perempuan1.Tanggal

tersebut

diperingati

sebagai

hari

berdirinyaAisyiyah. Aisyiyah adalah nama usulan yang diberikan KH Fachruddin,


salah seorang murid
KH A. Dahlan yang dilaksanakan di rumah beliau. Kelahiran Aisyiyah
bersamaan denganIsra Miraj Nabi Muhammd Tanggal 27 Rajab 1335 H bertepatan
dengan tanggal 19 Mei1917 dilaksanakan rapat Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah.
SAW, yang waktu itumerupakan perayaan pertama oleh Muhammadiyah, dengan
diketuai untuk pertama kali olehSiti Bariyah.Identitas Aisyiyah dapat dilihat dalam
Anggaran Dasar Organisasi perempuanMuhammadiyah ini, yaitu Aisyiyah adalah
organisasi perempuan PersyarikatanMuhammadiyah merupakan gerakan Islam,
dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid,yang berasas Islam serta bersumber
kepada Al-Quran dan As-Sunah. Status Aisyiyah terterapada bab yang sama, yaitu:
1. Aisyiyah adalah organisasi otonom Khusus Persyarikatan Muhammadiyah.
2. Organisasi otonom khusus adalah organisasi Otonom yang seluruh anggotanya
anggota Muhammadiyah dan diberi wewenanang menyelenggarakan amal usaha
yang ditetapkanoleh pimpinan Muhammadiyah dalam koordinasi Unsur Pembantu
Pimpinan yang membidangi sesuai denan ketentuan yang berlaku tentang amal
usaha tersebut.
D. TUJUAN AISYIYAH
Tujuannya dapat dilihat dari Anggaran Dasar nya, yaitu tegaknya agama
Islamsehingga terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (AD BAB III
Pasal

7).Visipengembangan

dari

organisasi

perempuan

persyarikatan

Muhammadiyah ini adalahtercapainya usaha-usaha Aisyiyah yang mengarah pada


penguatan dan pengembangandakwah amar makruf nahi munkar secara lebih
berkualitas munuju masyarakat madani, yaknimasyarakat Islam yang sebenarbenarnya.

E. MISI AISYIYAH

Misi tersebut diwujudkan dalam kegiatan :Menanamkan keyakinan,


memperdalam danmemperluas pemahaman, meningkatkan pengalaman serta
menyebarluaskan ajaran Islamdalam segala aspek kehidupan.
1. Meningkatkan harkat dan martabat kaum wanita sesuai dengan ajaran Islam.
2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pengkajian terhadap ajaran Islam.
3.Memperteguh

iman,

memperkuat

dan

menggembirakan

ibadah,

serta

mempertinggi akhlak.
4. Meningkatakn semangat ibadah, jihad, zakat, infaq, shodaqoh, wakaf, hibah, serta
membangun

dan memelihara tempat ibadah, dan amal usaha lain.

5. Membina AMM Puteri untuk menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna


gerakanAisyiyah.
6. Meningkatkan pendidikan, mengembangkan kebudayaan, memperluas ilmu
pengetahuandan teknologi, serta mengairahkan penelitian.
7. Memajukan perekonomian dan kewirausahaan kearah perbaikan hidup yan
berkualitas.
8. Meningkatkan dan mengembangkan kegiatan dalam bidang-bidang sosial,
kesejahteraanmasyarakat, kesehatan, dan lingkungan hidup.
9. Meninggkatkan dan mengupayakan penegakan hukum, keadilan dan kebenaran
sertamemupuk semangat kesatuan dan persatuan bangsa.
10. Meningkatkan komunikasi, ukhuwah, kerjasama, di berbagai bidang dan
kalanganmasyarakat dalam negeri.
11. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan organisasi.

F. AISYIYAH DALAM GERAKAN GENDER MODERN

Mengutif perkataan KH A. Dahlan mengenai berhati-hatilah dengan


urusanAisyiyah, kalau saudara-saudara memimpin dan membimbing mereka
insyaallah merekaakan menjadi pembantu dan teman yang setia dalam melancarkan
persyarikatan kita menujucita-citanya,Kepada para wanita beliau berpesan: urusan
dapur janganlah dijadikan halanganuntuk menjalankan tugas dalam menghadapi
masyarakat.Rupanya beliau mengetahui bahwa tak mungkin pekerjaan besar akan
berhasil tanpabantuan kaum wanita. Dalam melaksanakan cita-cita beliau, bantuan
dari kaum hawa yangberbadan halus itu diperlukan, dan ini sebetulnya ikut
menentukan berhasil tidaknya usahabeliau.Karenanya, mereka oleh beliau dihimpun
dan diajak serta melaksanakan tugaskewajiban yang berat, tetapi luhur itu.Oleh
karena itu wanita atau perempuan itu memegangperanan penting pula, tidak hanya
laki-laki yang memiliki peran penting dalamkemuhammadiyahan.Gender dipahami
juga sebagai suatu konsep budaya yang menghasilkan pembedaandalam peran, sikap,
tingkah laku mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki danperempuan
yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.Gender sering juga disebutdengan
istilah jenis kelamin sosial.Perbedaan gender sesunguhnya tidaklah menjadi
masalah sepanjang tidak melahirkanketidakadilan gender. Ketidakadilan gender
termanifestasi

dalam

berbagai

bentukketidakadilan,

yaitu

marjinalisasi

(peminggiran), subordinasi (penomorduaan atau anggapantidak penting), stereotipe


(pelabelan negatif biasanya dlam bentuk pencitraan yang negatif),violence
( kekerasan), double burden (beban kerja ganda atau lebih), dan sosialisasi ideology
peran gender. Perbedaan gender ini hanya dapat mempersulit baik laki-laki
maupunperempuan.Masyarakat

Islam

yang

sebenar-benarnya

yang

hendak

diwujudkan Muhammadiyahdan Aisyiyah adalah masyarakat yang rahmatan


lilalamin, masyarakat yang sejahtera lahirbatin dunia dan akhirat, baldatun
thoyyibatun warabbun ghafur, masyarakat utama,masyarakat madani, masyarakat
berkesetaraan dan berkeadilan jender.Aisyiyah sebagai komponen perempuan
Muhammadiyah dalam mewujudkanmasyarakat yang berkeseteraan dan berkeadilan
jender, berkiprah dengan merespon isu-isuperempuan (seperti KDRT, kemiskinan,
pengangguran, trafficking, pornografi dan aksi,pendidikan, kesehatan, dan
kesejahteraan) dan sekaligus memberdayakannya secaraterorganisir, terprogram,

dengan menggunakan dan memanfaatkan seluruh potensi.Model gerakannya


Aisyiyah dalam bentuk keluarga sakinah atau Qaryah Tayyibahmerupakan arus
utama strategi gerakan Aisyiyah dalam membangun kehidupan umat yanglebih
baik.Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan dan perubahan sosial,
agarlebih dekat dengan pertumbuhan dan perkembangan kondisi masyarakat modern,
makadilakukan pengkayaan, seperti model gerakan Aisyiyah berbasis jamaah
karena

jamaahmerupakan

bagian

paling

nyata

yang

hidup

dalam

masyarakat.Muhammadiyah dan Aisyiyah sampai sekarang tetap berkomitmen


dalampemberdayaan perempuan untuk kesetaraan dan keadila jender, hal ini dapat
dilihat dari hasilMuktamar Muhammadiyah ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta
mengenai Program BidangPemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang
terdiri dari Visi Pengembangan dan Program Pengembangan.
a. Visi Pengembangan, yaitu berkembangnya relasi dan budaya yang menghargai
perempuanberbasis ajaran Islam yang berkeadilan gender dan terlidunginya anakanak dari berbagaiancaman menuju kehidupan yang berkeadaban utama.
b.

Program Pengembangan, yaitu:


1.
Meningkatkan usaha-usaha advokasi terhadap kekerasan terhadap anak
danperempuan serta human trafficking yang merusak kehidupan keluarga dan
2.

masa depanbangsa.
Meningkatakan usaha dan kerjasama dengan berbagai pihak dalam mencegah
danmengadvokasi kejahatan human trafficking (penjualan manusia) yang pada

3.

umunyamenimpa anak-anak dan perempuan.


Meningkatakan usaha dan kerjasama dengan berbagai pihak dalam
melakukanperlindungan terhadap tenaga kerja perempuan dan anak-anak dari

4.

berbagai bentukeksploitasi dan pelanggaran hak asasi manusia.


Menyusun dan menyebarluaskan pandangan Islam yang berpihak pada
keadilangender disertai tuntunan-tuntunan produk Majelis Tarjih dan

5.

sosialisasinya yangbersifat luas dan praktis.


Mengembangkan model advokasi berbasis dakwah dalam menghadapi
berbagaibentuk eksploitasi terhadap perempuan dan anak di ruang publik yang
tidak kondusifseperti di penjara, pabrik, dan di tempat-tempat yang dipandang
rawan lainnya.

6.

Mengembangkan pendidikan informal dan non formal selain pendidikan formal


yang berbasis pada pendidikan anti kekerasan dan pendidikan perdamaian yang
properlindungan terhadap perempuan dan anak-anak.Menteri Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia SariGumelar menyatakan
dengan

tegas

bahwaAisyiyah

telah

membantu

percepatan

kesetaraan,persamaan dan keadilan gender terutama dan langsung dirasakan


melalui LembagaPendidikan dan Kesehatan yang dikelola Aisyiyah.Hal ini
disampaikan pada acara RapatKerja Nasional Pimpinan Pusat Aisyiyah, di
Wisma Makara UI Depok, 3 Juni 2011.
G. PERAN DAN TANTANGAN BAGI KAUM PEREMPUAN MUHAMMADIYAH
Karena melalui proses seleksi yang fair dan didasarkan ataskualitas
kemampuannya,

bukan

sebagaimana

kekhawatiran

sebagian

pihak,

jadi

pimpinankarena rasa belas kasihan. Yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah


bagaimana agar peluangbesar yang dibuka oleh Muhammadiyah melalui Anggaran
Rumah Tangganya tersebut dapatdirespon secara positif oleh warga Muhammadiyah
baik perempuan maupun laki-laki. Paraanggota Muhammadiyah perempuan
hendaknya mulai sekarang harus menata diri sehinggaketika peluang itu dibuka
nantinya tidak lagi timbul kegamangan dari para perempuanMuhammadiyah untuk
duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan para partnernyayang laki-laki.
Jangan sampai timbul kesan bahwa perempuan dapat memimpin diMuhammadiyah
hanya karena ada dispensasi.Akan lebih baik jika para perempuanMuhammadiyah
masuk menjadiDemikian pula bagi para anggota Muhammadiyah yang laki-laki,
sudah saatnya dalam alampikirannya memberi peluang bagi para perempuan untuk
memimpin, ketika memang merekapunya kapasitas untuk itu. Jangan sampai karena
egonya sebagai laki-laki lalu menghambatperempuan untuk berprestasi dan beramal
di Muhammadiyah dengan berlindung dibalikalasan syariat, budaya, maupun etika

KESIMPULAN

1. Aisyiyah merupakan bentuk pembaruan yang menjunjungtinggi dan memuliakan


kaum perempuan serta mendorongnya untuk berkiprah di ruang publik guna
membawa misi dakwah dan tajdid bagi kemajuan hidup umat manusia.

2. Gerakan 'Aisyiyah dari waktu ke waktu terus meningkatkan peran dan


memperluas kerja dalam rangka peningkatan dan pemajuan harkat wanita dan
anak Indonesia sampai hari ini
3. Sebagai salah satu organisasi otonom (Ortom) pertama yang dilahirkan rahim
Muhammadiyah, aisyiah memiliki tujuan yang sama dengan Muhammadiyah.
Aisyiyah memiliki garapan program kerja yang sangat khusus, strategis dan
visioner, yaitu perempuan.
4. Sebagai organisasi Aisyiyah memiliki struktur kepemimpinan yang tersusun
secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal dari tingkat Ranting sampai Pusat.
5. Aisyiyah bergerak dalam berbagai bidang kehidupan dan memiliki amal usaha
dalam pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan ekonomi.
Misi Aisyiah
a. Meningkatkan harkat dan martabat kaum wanita sesuai dengan ajaran Islam.
b. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pengkajian terhadap ajaran Islam.
c. Memperteguh iman, memperkuat dan menggembirakan ibadah, serta
d.

mempertinggi akhlak.
Meningkatakn semangat ibadah, jihad, zakat, infaq, shodaqoh, wakaf, hibah,

serta membangun
dan memelihara tempat ibadah, dan amal usaha lain.
e. Membina AMM Puteri untuk menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna
gerakan Aisyiyah.
f. Meningkatkan pendidikan, mengembangkan kebudayaan, memperluas ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta mengairahkan penelitian.
g. Memajukan perekonomian dan kewirausahaan kearah perbaikan hidup yan
berkualitas.
h. Meningkatkan dan mengembangkan kegiatan dalam bidang-bidang sosial,
kesejahteraan masyarakat, kesehatan, dan lingkungan hidup.
i. Meninggkatkan dan mengupayakan penegakan hukum, keadilan dan kebenaran
serta memupuk semangat kesatuan dan persatuan bangsa.
j. Meningkatkan komunikasi, ukhuwah, kerjasama, di berbagai bidang dan
kalangan masyarakat dalam negeri.
k. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan organisasi

6. Para anggota Muhammadiyah perempuan hendaknya mulai sekarang harus


menata diri sehingga ketika peluang itu dibuka nantinya tidak lagi timbul
kegamangan dari para perempuan Muhammadiyah untuk duduk sama rendah dan
berdiri sama tinggi dengan para partnernya yang laki-lak

DAFTAR PUSTAKA

Zamah Sari, Bunyamin, dkk., Kemuhammadiyahan, UHAMKA, Jakarta, 2011

DR. Abdul Muti, M. Ed., K.H. Ahmad Dahlan Amal dan Perjuangannya, Al-Wasat
Publishing House, Banten, 2009

Muhammad

Izzul

Muslimin,

PEREMPUAN

DALAM

KEPEMIMPINAN

MUHAMMADIYAH, Suara Muhammadiyah, Edisi 08 2002 di download pada tanggal 27


Desember 2011, jam 19.37 WIB.