Anda di halaman 1dari 7

4 NABI YANG MENERIMA SUHUF

Dalam shahh Ibnu Hibbn, Rasulullah ditanya tentang shuhuf yang diturunkan kepada suhuf
Nabi Allah Musa a.s. Rasulullah s.a.w berkata :
Sebahagian daripada kandungan suhuf Nabi Musa a.s adalah:
1). Aku heran pada orang yang telah meyakinkan akan datangnya kematian (yakin dirinya akan mati
dan ditanya tentang amalannya), tetapi mengapa mereka merasa bahagia dan gembira di dunia (tidak
membuat persediaan).
(2). Aku heran kepada orang yang yakin akan neraka, tapi mereka malah banyak tertawa,
(3) Aku heran kepada orang yang telah meyakini akan adanya qadar (ketentuan) Allah, tetapi mengapa
mereka marah-marah (bila sesuatu musibah menimpa dirinya).
(4) Aku heran dengan orang yang melihat dunia dengan cara yang berlebihan dan bergaul dengan
ahlinya,
(5) Aku heran pada orang yang telah meyakini akan adanya hisab (hari pengiraan amal baik dan buruk),
tetapi mengapa mereka tidak berbuat kebaikan?.
Allah berfirman dalam Surah Al-A'la ayat 18-19 yang artinya sebagai berikut:
"Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa."
1. Perbedaan antara Kitab dan Suhuf Allah
a. Kitab ialah wahyu Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul, yang
jumlahnya sebanyak 4 buah yaitu: Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur'an. Yang berisi tentang Akidah,
Ibadah, Syariah dan Muamalah.
b. Suhuf ialah firman Allah yang ditulis dalam lembaran-lembaran yang diturunkan kepada Nabi dan
Rasul. Yang berisi tentang puji-pujian dan zikir-zikir kepada Allah swt.
2. Para Nabi yang Menerima Suhuf
a. Nabi Adam a.s menerima 10 Suhuf (10 naskah)
b. Nabi Musa a.s menerima 10 Suhuf (10 naskah)
c. Nabi Ibrahim a.s menerima 30 Suhuf (30 naskah)
d. Nabi Idris a.s menerima 30 suhuf (30 naskah)
e. Nabi Syis a.s menerima 50 suhuf (50 naskah)
Adapun kedudukan Al-Qur'an terhadap kitab-kitab suci yang lain, dijelaskan oleh Allah dalam Surat alMa'idah ayat 48 sebagai berikut yang artinya:
"Dan kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran,
yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya..." (Q.S al-Ma'idah/5:48)
Dari satu-satunya hadits yang penulis temukan mengenai suhuf Musa di atas, dapat kita identifikasi
hal-hal berikut:
Pertama, bahwa budaya masyarakat ketika Nabi Musa berdakwah penuh dengan hipokritas yang sudah
memuncak. Di satu sisi masyarakat Yahudi ketika itu benar-benar meyakini akan datangnya kematian,

namun di sisi lain, pengetahuannya hanya tinggal sebatas pengetahuan. Hal ini diperkuat oleh beberapa
Ayat Al-Quran. (lihat, Al-Baqarah, 44; Al-Jumuah, 5).
Hipokritas ini relevan dengan sikap mereka terhadap hari akhir yang dengan pengetahuan yang mereka
miliki tentang tanda-tanda hari akhir, namun tidak memiliki konsekwensi moral dalam perilaku
keseharian mereka. Kedua, pengetahuan-pengetahuan tentang akhirat, qadar, hisab, dan kesementaraan
dunia merupakan materi yang sinergi dengan kandungan Al-Quran. Hal ini menjadi bukti bahwa suhuf
Musa a.s. merupakan penjelas dari wahyu Allah.
Sedangkan dalam surat Al-Najm, 53. Allah SWT berfirman :
Apakah tidak pernah diberitakan apa yang ada dalam suhuf Musa dan Ibrahim yang telah
ditunaikan?.
Dan surat Al-Al, 19., Suhuf Ibrahim dan Musa.
Dalam Tafsir Jalalain, suhuf Musa diartikan sebagai lembaran-lembaran Taurat atau lembaranlembaran yang berisi ajaran para nabi sebelumnya. Sedangkan dalam tafsir Al-Thabari, suhuf Musa
berisi tentang ancaman Allah di akhirat. Sedangkan suhuf Ibrahim, adalah risalah yang telah
disampaikan oleh Ibrahim dan telah tertunaikan.
Sedangkan Ibnu syr mengatakan bahwa suhuf musa itu adalah Taurat. Sebagaimana juga suhuf
Musa, inti dari suhuf Ibrahim adalah apa yang ada dalam surat Al-Ala.
Sedangkan dalam Ibnu Katsir, beliau mengetengahkan sebuah hadits dari Ibnu Hatim tentang
pernyataan Rasulullah tentang kenapa Nabi Ibrahim disebut orang yang telah menunaikan? Rasul
menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim selalu berdakwah setiap pagi dan sore, Bertasbihlah kepada Allah di
waktu sore hari dan shubuh (QS. Al-Rum, 17).
Dalam footnote Al-Quran terjemah Depag, disebutkan bahwa yang dimaksud bertasbih adalah,
Shalat.
Dalam Aisar Al-Tafasir, ditambahkan bahwa suhuf Ibrahim itu terdiri dari 10 buah.
Sedangkan dalam tafsir Al-Zamakhsyary, disebutkan bahwa suhuf Nabi Ibrahim terdiri dari 30 buah
suhuf, sepuluh pokok tentang pertaubatan, sepuluh pokok tentang ciri-ciri mukmin, dan sepuluh pokok
lainnya tentang konsekwensi keimanan.
Mengenai surat Al-Al terdapat berbagai macam pendapat, diantaranya Tafsir Al-Tabari mengutip
berbagai macam tawil mengenai ayat terakhir surat Al-Al. Pendapat Ikrimah bahwa suhuf Musa dan
Ibrahim adalah maksudnya ayat-ayat yang ada dalam surat ini. Sedangkan Abu Al-Aliyah mengenai
suhuf Musa dan Ibrahim mengatakan bahwa kisah mengenai kandungan surat AlAl terdapat dalam
suhuf-suhuf terdahulu. Sedangkan Qatadah mengatakan bahwa yang ada dalam suhuf Musa dan
Ibrahim hanya ayat, Dan sungguh bahwa akhirat itu lebih baik dan kekal. Dan setelah mengungkap
beragam pendapat di atas, Imam Al-Thabari mengatakan bahwa, Pendapat yang paling tepat adalah,
bahwa ayat 14-17 lah yang benar-benar ada dalam suhuf Musa dan Ibrahim. Sebab ayat sebelumnya
ditujukan kepada Nabi Muhammad.
Sedangkan mengenai istilah kitab, hadits panjang dari Abu Hurairah bercerita tentang ucapan
Rasulullah mengenai keistimewaan hari jumat, Hari jumat adalah sebaik-baiknya hari di mana

matahari diterbitkan, yaitu karena pada hari itu Adam diciptakan, kemudian di keluarkan dari surga,
pada hari itu juga ia bertaubat, dan hari itu juga ia meninggal. Hari jumat adalah ditetapkannya hari
kiamat Kemudian Kaab membuka Taurat kemudian membenarkan ucapan Rasulullah karena
bersesuaian dengan Taurat.
Hadits dari Ibnu Umar menjelaskan tentang ucapan Nabi terhadap dua orang Yahudi yang berzinah,
dengan merujuk pada Taurat nabi bertanya, Apakah kalian mengetahui bahwa pezina mendapatkan
rajam dalam Taurat?. Mereka menjawab, Tidak baginda, kami hanya menemukan dalam taurat
mengenai hukum jilid, Rasul bersabda, Kalian telah berbohong, sesungguhnya dalam taurat ada
hukum rajam, mereka menjawab, Engkau benar-benar jujur wahai Rasul, dalam Taurat terdapat ayat
tentang rajam. Kemudian para pezina itu mendapat hukum rajam.
Dalam Sahih Bukhari, riwayat Amr bin Ash menerangkan bahwa dalam Taurat sudah dijelaskan sifatsifat Nabi Akhir Zaman.[17] Dalam Sahih Bukhari, riwayat dari Abu Hurairah menjelaskan bahwa,
Taurat itu berbahasa Ibrani.
Sedangkan injil, diceritakan ada namus atau tanda-tanda seperti juga dalam Taurat, tentang kenabian
Muhammad SAW.
Salah satu surat dalam Al-Quran yang tidak diturunkan dalam Zabur, Taurat, dan Injil adalah surat AlFtihah.
Secara etomologi, Ibnu Hajar mendefinisikan zabur sebagai kitab. Bahkan Rasulullah menyebut zabur
sebagai bacaan dalam riwayat Al-Kusymihanni. Disebut zabur karena ia mazbr atau maktb atau
tertulis. Dan berarti zabur juga karena berupa kumpulan tulisan tertentu. Sebagian ulama mengatakan
bahwa yang dimaksud dengan zabur adalah taurat itu sendiri. Qatadah berkata, bahwa zabur terdiri dari
150 surat keseluruhannya berisi wejangan dan sanjungan terhadap Allah SWT. Di dalamnya tidak ada
halal, haram, kewajiban (faraid) ataupun hudd (hukum publik). Akan tetapi, untuk kebutuhan hal
tersebut merujuk kepada taurt. Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dan lain-lainnya. Imam
Nawawi berkata, Orang sholeh di zaman Daud mengkhatamkan zabur empat kali di waktu malam, dan
empat kali di waktu siang.

KEPADA SIAPA SAJAKAH KITA HARUS TAAT


SELAIN KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA
Taat kepada Allah selaku pencipta semua ciptaan-Nya dan kepada Rasullullah saw selaku
pembawa risalah yang benar dari Sang Maha Benar merupakan suatu hal yang harus dilakukan. Lantas
apakah hanya Allah dan Rasul-Nya yang patut kita taati?. Siapakah orang-orang yang wajib kita taati
selain Allah dan Rasul-Nya?. Berikut orang-orang yang patut kita taati juga:
Taat Kepada Kedua orang tua
Taat kepada orang tua merupakan suatu hal yang harus kita lakukan, karena mereka berdualah
kita ada, karena mereka berdualah yang memberikan kasih sayang yang tak terhingga kepada kita
menjadi tumbuh besar, dan juga karena jasa mereka berdualah kita menjadi orang yang terpilih. AlQuran mengisyaratkan kepada kita untuk taat kepada mereka berdua, sebagaimana firman Allah :
Artinya : Dan Tuhanmu telah memerintahkan kepadamu agar jangan menyembah selain Dia dan
berbuat baiklah kepada kedua bapak dan ibu. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya
sampai berusia lanjut dalm pemeliharaanmu, maka janganlah engkau sekali-kali mengatakan kepada
keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak kedunya, dan ucpkanlah kepada keduanya
perkataan yang baik.
Dalam ayat tersebut terdapat kata ( )yang berarti berbuat baik, dalam hal ini kata tersebut
juga memiliki banyak pengertian dalam kaitan berbuat baik, seperti taat dan lain-lain, maka pemakalah
menyimpulkan bahwa kalimat ( )dapat juga diartikan sebgai taat, sehingga tidaklah salah jikalau
al-Quran mengisyaratkan agar kita taat kepada kedua orang tua, khususnya pada ayat ini.
Taat Kepada Ulil Amri (pemimpin)
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada awal bahasan, bahwasanya kita harus menaati perintah
atasan atau pemimpin, baik dalam hal yang sulit, menyenangkan, ataupun menjemukan. Dalam hal ini
Rasulullah bersabda :

:

:
) .
Taat Kepada Para guru-guru
Selian kepada kedua orang tua dn Ulil Amri (pemimpin) pemakalah mencoba menambahkan
bahwa kita harus taat kepada guru-guru yang telah mengajari kita segala hal. Mereka bagaikan orang
tua bagi kita mekipun mereka bukanlah orang yang telah membesarkan kita. Namun membrikan kasih
sayangnya lewat ilmu yang telah mereka berikan seharusnya jepada mereka jugalah kita taat. Sayyidina
Ali bin abi Tholib berkata :

Artinya : Aku adlah hamba orang yang mengajarkan ilm walaupun hanya satu huruf.
Ali mengaku dirinya adalah seorang hamba dari orang yang telah mengajarkannya ilmu
walaupu satu huruf. Dari perkataan Ali bin Abi Tholib ra. di atas dapat kita ambil ibarat bahwa kita
adalah seorang hamba dari guru-guru kita, dan seorang hamba harus mentaati sayyidnya, maka kita
juga seharusnya mentaati guru-guru kita.
APAKAH BALASAN BAGI ORANG YANG TAAT?
Allah swt. menciptakan sesuatu pasti memiliki maksud tertentu dan tidak akan pernah sia-sia,
begitu pula Allah menciptakan pahala atau balasan bagi orang-orang yang taat, sehingga mereka tidak
akan mungkin lagi merasa bahwa Allah menyia-nyiakan apa yang telah mereka lakukan. Lantas apakah
balasan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan rasulNya, serta kepada para pemimpin hingga
kedua orang tua mereka.
a) Orang yang taat akan dimasukkan ke dalam surge
Allah berfirman :Artinya : Itulah batas-batas (hukum) Allah. Barangsiapa taat kepada Allah
dan RasulNya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungaisungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung.(QS. An-Nisaa : 13)
Dari ayat di atas Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang taat kepadaNya dan taat kepada
RasulNya.
b) Allah akan memberikan kemenangan kepada orang yang taat
Sebagaiman firman Allah yang berbunyi :Artinya : Dan barangsiapa yang taat kepada Allah
dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya, maka mereka adalah orang-orang yang
mendapat kemenangan. (QS. An-Nuur : 52)
Dapat disimpulkan dengan bercermin kepada arti dari ayat tersebut bahwa Allah akan memberikan
kemenangan. Kemenangan seperti apakah yang dimaksud dalam ayat ini?. Adalah seperti yang
ditafsirkan oleh As-Suyuthi dlam kitabnya Tafsir Jalalain, beliau menafsirkan kemenangan di atas
dengan lafadz jannah, yaitu surga.
c) Orang yang taat akan mendapatkan petunjuk
Allah berfirman : Artinya : Katakanlah taatlah kepada Allah dan tatlah kepada rasul; jika
kamu berpaling, mak sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankn
kepadanya, dan kewajibanmua hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya,
niscaya kamu akan mendapatkan petunjuk. Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah)
dengan jelas. (QS An-Nuur : 54)
Penjelasannya bahwa orang yang taat maka dia akan mendpt petunjuk, sehingga dia mampu
melaksanakan kewajibannya.
d) Orang yang taat akan mendapatkan Rahmat
Allah berfirman : Artinya : Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul
(Muhammad), agar kamu diberi rahmat. (QS. An-Nuur : 56)
Allah menjanjikan rahmat bagi orang-orang taat kepada rasulNya dan bagi orang-orang yang
mendirikan shalat dan menunaikan zakat.

SIFAT MULIA PARA RASUL ALLAH SWT

Rasul adalah seorang manusia. Laki-laki merdeka yang Allah memilihnya dari nasab pilihan.
Dia menjadikannya orang yang paling sempurna akalnya, paling suci jiwanya, dan paling utama
penciptaannya, supaya menunaikan pekerjaan-pekerjaan besar di antaranya menerima wahyu,
mentaatiNya, menyampaikannya serta memimpin umat. Maka para rasul adalah panutan dalam hal sifat
dan akhlak mereka. Dan pembicaraan tentang sifat-sifat mereka panjang sekali, tetapi diantaranya yang
terpenting adalah:
a. Sifat Shidq (jujur dan benar)
Allah memberitahukan tentang para rasulNya,
Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan Kami dari tempat-tidur
Kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).
Tentang nabi Ibrahim, Dia berfirman,
Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia
adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.[2]
Tentang Ismail u Allah berfirman:
dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran.
Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan Dia adalah seorang Rasul dan Nabi.[3]
SIFAT AGUNG PARA RASUL pilihan
Tentang Idris Dia berfirman:
dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al-Quran.
Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi.[4]
Tentang Nabi Kita Muhammad, Dia berfirman:

dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang
yang bertakwa.
Tidaklah diragukan bahwa sifat shidq adalah inti risalah dakwah; dengannya akan luruslah segala
urusan,dan berbuahlah amal perbuatan. Sedangkan kadzib (bohong, dusta) adalah sifat kekurangan
yang mustahil bagi manusia pilihan dan merupakan maksiat yang justru mereka peringatkan.
b. Sifat Sabar
Allah mengutus para RasulNya kepada manusia sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi
peringatan, mengajak mereka untuk taat kepada Allah I serta memperingatkan untuk tidak
mendurhakaiNya. Ini adalah tugas berat dan sulit, tidak semua orang mampu memikulnya, akan tetapi
orang-orang pilihanlah yang pantas dan mampu untuk itu. Karenanya para Rasul Allah menemui

bermacam-macam kesulitan dan beraneka ragam gangguan, tetapi mereka tidak patah semangat
karenanya, juga hal itu tidak membuat mereka melangkah surut kebelakang.
Allah telah mengisahkan kepada kita sebagian dari nabi-nabiNya, sekaligus berbagai rintangan
yang menghadangnya di jalan dakwah, juga sikap sabar mereka untuk memenangkan yang haq dan
meninggikan kalimat Allah. Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad untuk bersabar, sebagai
bentuk peneladanan kepada para Ulul Azmi. Allah berfirman:
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah
bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab
yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada
siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang
fasik.[6]
Tentu kita mendapat pelajaran dengan apa yang dikisahkan Allah I tentang Nabi Nuh, Ibrahim,
Musa dan Isa alaihumus salam, dengan umatnya yang menentang dan mengganggu, namun demikian
mereka tetap bersabar, teguh dan tegar sampai Allah menurunkan putusanNya.