Anda di halaman 1dari 7

A.

Pendahuluan
Mikroteknik adalah sebuah teknik atau metode untuk membuat suatu sediaan
atau preparat untuk pengamatan mikroskopik. Tujuan dari mikroteknik ini untuk
mengamati perubahan yang terjadi secara struktural dalam tingkatan seluler pada suatu
jaringan atau organ. Pengamatan ini tentu saja tidak dapat dilakukan dengan mata
telanjang, oleh sebab itu digunakan alat berupa mikroskop sebagai alat bantu untuk
melihat. Pengamatan yang dilakukan pada tingkatan sel seperti ini dinamakan
pengamatan mikro, dan proses pembuatan sediaan mikro dinamakan mikroteknik.
Pada metode pembuatan preparat ini, baik membuat sediaan jaringan hewan
maupun tumbuhan terdapat proses pengirisan dan pewarnaan. Proses pengirisan
bertujuan untuk menghasilkan preparat

atau sediaan yang berukuran sangat tipis

sehingga mampu ditembus oleh cahaya. Proses pewarnaan bertujuan untuk memberikan
warna-warna tertentu pada bagian jaringan atau sel sehingga mudah dibedakan pada
saat pengamatan.
Pewarnaan merupakan suatu tahap dalam mikroteknik untuk mempertajam atau
memperjelas berbagai elemen jaringan, pewarnaan dilakukan dengan melihat
karakteristik dari jaringan yang akan diamati. Sehingga dapat dengan mudah diamati
dan pewarnaan yang dilakukan tepat sasaran sesuai dengan jaringan yang ingin diamati.
B. Pewarnaan Jaringan
Dalam pembuatan sediaan preparat, akan malakukan pewarnaan jaringan.
Tujuan dari pewarnaan jaringan tersebut adalah untuk mewarnai jaringan atau sel yang
akan diamati, sehingga terjadi diferensiasi dan memudah untuk dibedakan dan diamati.
Pewarnaan itu sendiri dilakukan sesuai dengan karakteristik jaringan yang diamati,
sesuai ddengan keperluan penelitian.
Pewarnaan itu sendri dibagi menjadi 3 bagian. Yaitu:
1. Pewarnaan vital
Pewarnaan vital, adalah proses pewarnaan yang dilakukan pada
jaringan dan sel selagi jaringan dan sel yang akan diamati masih dalam
keadaan hidup. Sel-sel yang masih hidup tersebut diharapkan mampu
untuk menyerap warna maupun mengikat atau memfagosit partikelpartikel zat warna. Dengan demikian zat warna hendaknya tidak bersifat

toksik bagi sel-sel tersebut. misalnya, tinta china dan lithium carmine
secara umum digunakan untuk mengamati penyebaran sifat sel-sel RES,
karena sel-sel tersebutmampu memfagosit zat warna.
2. Pewarnaan non-vital
Pewarnaan non-vital, adalah pewarnaan yang dilakukan setelah
jaringan dimatikan dengan cepat dan tidak merubah bentuk jaringan
melalui fiksasi. Teknik ini merupakan teknik dan cara yang paling sering
digunakan, terutama untuk pekerjaan rutin sehari-hari dan pembuatan
preparat atau sediaan praktikum bagi mahasiswa.
3. Pewarnaan supra-vital
Pewarnaan supra-vital adalah pewarnaan yang sifatnya lebih
khusus. Misalnya pewarnaan organel sel. Seperti pada pewarnaan
mitokondria pada mukosa mulut. Pewarnaan ini dilakukan pada hasil
kultur sel dan jaringan.
C. Zat Warna
Dalam pewarnaan jaringan, tentu memerlukan zat warna yang digunakan untuk
mewarnai jaringan. Zat warna adalah senyawa organic kompleks yang mempunyai
kemampuan khusus untuk mewarnai bagian-bagian sel dan dapat dipertahankaan di
dalam jaringan sel.
Zat warna di klasifikasikan berdasarkan sifatnya, asalnya, kemampuan
mewarnai jaringan dan pelarut yang digunakan.
1. Berdasarkan sifatnya, zat warna dibedakan menjadi:
a) zat warna asam berupa garam-garam dari asam pembawa warna
dengan radikal basa yang tidak berwarna. Sebagian besar zat warna
asam adalah garam-garam dari K atau Na.
b) zat warna basa berupa sulfat basa organik. Garam dari basa
pembawa warna dengan radikal asam yang tidak berwarna. Sebagian
besar zat warna basa adalah garam-garam klorida atau fosfat.
2. Berdasarkan asalnya, zat warna dibedakan menjadi zat warna alami yang
diperoleh dari alam seperti Hematoxilin dan zat warna sintesis yang dibuat
di pabrik seperti basic fuchsin.
3. Berdasarkan kemampuan mewarnai jaringan, yaitu:
a) zat warna substantif yang mampu mewarnai jaringan secara langsung
dengan baik. Misalnya Neutral red dan james green.
b) zat warna ajektif yang mampu mewarnai jaringan dengan bantuan
mordan misalnya Hematoksilin.

c) zat warna metachromatis, zat warna tunggal yang dapat member


variasi warna pada jaringan yang berbeda.
d) zat warna polikromatis, beberapa zat warna bekerja sebagai satu unit
dalam pewarnaan.
4. Menurut pelarutnya
a) Zat warna aquos yaitu pelarut dari zat warna tersebut menggunakan
akuades.
b) Zat warna spirituous yaitu zat warna yang pelarutnya menggunakan
etanol dengan persentase tertentu.
D. Cara pewarnaan
1. Berdasarkan jumlah zat warna yang diberikan
a) Pewarnaan tunggal, hanya menggunakan satu macacn zat warna.
Misalnya Gentian violet.
b) Pewarnaan ganda, yaitu pewarnaan yang menggunakan dua macam
zat warna. misalnya hematoksilin-eosin.
c) Pewarnaan rangkap tiga, yaitu pewarnaan yang menggunakan tiga
macam zat warna. misalnya formula Marllory triple stain.
d) Pewarnaan rangkap empat. yaitu pewarnaan yang menggunakan
empat macam zat warna. Namun pewarnaan ini sangat jarang
digunakan.
2. Berdasarkan pengaruh zat warna terhadap bahab yang diwarnai
a) Perwarnaan efektif yaitu pewarnaan yang hanya mewarnai satu atau
beberapa bagian jaringan saja Misalnya: Toluidin blue untuk jaringan
mesenterium yang jelas hanya granula mastsel
b) Pewarnaan difus Mewarnai seluruh jaringan hanya daya serapnya
tidak sama Misalnya : eosin, mewarnai seluruh seluruh sel atau
jaringan, hanya daya serap setiap organel berbeda.
3. Berdasarkan cara pemberian zat warna
a) Pewarnaan simultan, merupakanpewarnaan dengan dua atau lebih
macam zat warna dipakai bersama-sama Misalnya : larutan malory
(anilin blue & orange G). reaksi kedua zat warna tersebut
berlangsung bersamaan.
b) Pewamaan suksedan yaitu pewarnaan dua atau lebih zat warna
diberikan bergantian diselingi pencucian Misalnya : Safranin-fast
green hematoxylien-eosin
4. Beradasarkan tebal atau tipis zat wara yang diberikan
a) Pewarnaan progresif pewarnaan diberikan sangat tipis dan perlu
waktu yang lama untuk memperoleh warna yang tepat.

b) Pewarnaan regresif adalah pewarnaan Jaringan menyerap zat warna


tebal untuk mendapatkan pewarnaan yang tepat, perlu dilakukan
penipisan sedikit demi sedikit (diferensiasi).
E. Alur pewarnaan
1. Pewarnaan tunggal
Setelah paafin dihilangkan dengan xilol, maka dilanjutkan dengan
mewarnai dan didehidrasi dengan alur sebagai berikut :
Xilol I

Xilol II

Xilol-Alkohol absolute (1:1) Alkohol absolut

95% 80% 70% 50% Akuades Hematoksilin Air ledeng mengalir(dua kali
ganti) Akuades(2 kali ganti) Eosin Alkohol 70% Alkohol 80%

Alkohol

96% Xilol I Xilol II Menutup.


Permukaan larutan dalam setiap jaringan harus diatur sedemikian rupa
sehingga persis dapat merendam seluruh sayatan dengan baik. Semua larutan
dalam coplin jar harus ditutup untuk mencegah penguapan yang dapat
mengkontaminasi ruangan tempat kerja. Setiap jar harus diberi label secara
memadai untuk menghindari kekeliruan selama pewarnaan.
Proses Pewarnaan dimulai dengan memasukan slide ke dalam jar berisi
xilol I. Biarkan sampai lima menit (sampai seluruh parafin larut dalam xilol),
dan untuk lebih membersihkan sayatan dari parafin pindahkan kedalam xilol II
selama 3-5 menit lagi. Setelah itu, dengan menggunakan forceps, pindahkan
slide satu per satu ke jar berisi xilol-alkohol absolute (1:1). Pada saat
memindahkan sentuhkan sudut slide yang bebas pada bibir jar sehingga larutan
dari slide dapat mengalir kembali ke dalam jar dengan baik. Selalu lakukan
pemerasan slide dengan cara seperti ini, sehingga larutan dari jar yang pertama
tidak terlalu banyak bercampur dengan larutan yang ada pada jar berikutnya.
Dari jar berisi alkohol-xilol ini,pindahkan slide ke dalam jar berisi
alkohol absolut kemudian ke alkohol 95% dan seterusnya sampai alkohol 50%
dan terakhir pada jar berisi akuades. Ketika waktu hidrasi dalam akuades telah
tercapai,tuangkan air dari jar dan gantikan dengan pewarna Hematoksilin
(Hematoksilin Ehrlich). Biarkan slide dalam Hematoksilin selama 2-3 menit,
kemudian tuangkan larutan pewarna ke tempatnya semula. Segera alirkan air
ledeng ke dalam jar sampai penuh, kemudian tuangkan air tersebut dan isi lagi
dengan air ledeng untuk kedua kalinya, biarkan air tetap mengalir sampai 5

menit. Air ledeng yang pertama berfungsi untuk membuang sisa pewarna dari
slide, sementara yang kedua bertujuan untuk mendiferensiasi pewarna yang
terdapat dalam sayatan.
Perlu dicatat bahwa jika air sedikit bersifat basa warna sayatan akan
semakin gelap. Jika air tidak cukup basa, air tersebut perlu dibuat menjadi
sedikit basa dengan cara menambahkan sedikit lithium karbonat.
Selanjutnya bilas slide dengan akuades kemudian biarkan sampai tahap
berikutnya dalam akuades kedua. Pada saat menunggu slide berdiferensiasi,
kosongkan seluruh jar yang sudah digunakan tadi kemudian isi lagi dengan
larutan yang sama untuk setiap jar,kemudian urutkan dengan urutan terbalik
dengan urutan jar pada saat hidrasi tadi. Ketika mengisi jar, hati-hati jangan
sampai masuk ke dalam jar berisi xilol atau alkohol. Ambil jar yang bersih untuk
digunakan sebagai wadah untuk eosin.
Pindahkan slide dari akuades ke dalam eosin,biarkan sampai 30-60
detik,lalu

pindahkan

berturt-turut

ke

alkohol

70%

sampai

alkohol

absolut,kemudian ke xilol I dan II. Biarkan beberapa menit dalam xilol.


Sekarang sayatan siap untuk ditutup dengan kaca penutup.
2. Pewarnaan rangkap 2
Prosedur dimulai Deparafinasi atau penghilangan paraffin selanjutnya
dilakukan dengan pencelupan preparat ke Xilol I dan II dan dilakukan rehidrasi
(alcohol absolute ke 30%) menggunakan alcohol bertingkat untuk membawa
kondisi preparat ke pewarna safranin yang berada dalam air. Safranin
merupakan pewarna tandingan yang diberikan bersama Fast Green.
Pewarnaan atau staining mengunakan safranin dilakukan dengan
merendam jaringan minimal dua hari, dan dilanjutkan dengan membilas preparat
menggunakan aquades. Dehidrasi dilakukan dengan alkohol absolut kemudian
ke alkohol 95% dan seterusnya sampai alkohol 30% untuk membawa preparat
pada kondisi pewarna Fast Green yang berada dalam alcohol. Preparat
selanjutnya dicelupkan pada pewarna Fast Green selama lima detik dan
dicelupkan pada campuran Xilol dan alcohol dengan perbandingan berturutturut 1:3, 1:1, dan 3:1. Preparat selanjutnya diseka dan dimasukan pada Xilol I

dan II, yang selanjutnya diseka dan diberikan entelan. Langkah terakhir,
preparat ditutup menggunakan cover glass dan menjadikan preparat awetan
yang permanen.
F. Kesimpulan
Pewarnaan merupakan suatu tahap dalam pembuatan sediaan preparat dengan
tujuan untuk mempertajam atau memperjelas berbagai elemen jaringan, pewarnaan
dilakukan dengan melihat karakteristik dari jaringan yang akan diamati, jenis zat warna
yang digunakan, metode yang digunakan untuk pewarnaan, dan lain-lain.
Terdapat beberapa metode dan jenis zat warna, yang dapat digunakan sesuai
dengan kebutuhan, Sehingga jaringan atau sel yang diamati dapat dengan mudah diteliti
dan pewarnaan yang dilakukan tepat sasaran sesuai dengan jaringan yang ingin diamati.

DAFTAR PUSTAKA
http://dokumen.tips/download/link/teknik-pembuatan-preparat-jaringani
http://tirmaputri.blogspot.co.id/2015/03/pewarnaan-mikroteknik.html
https://seiaryuu.wordpress.com/2015/12/22/laporan-mikroteknik-parafin-sediaan-irisantumbuhan/
https://www.academia.edu/29356269/Handout_Mikroteknik
http://bio.unsoed.ac.id/sites/default/files/Fiksatif,%20Zat%20Pewarna%20dan
%20Pewarnaan-TBS-.pdf
https://www.scribd.com/doc/58385684/Mikroteknik
http://diarzahrah.blogspot.co.id/2015/10/makalah-pewarnaan-dan-pembagian-zat.html