Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Geometri berasal dari kata Latin Geometria. Geo yang artinya tanah dan metria
yang artinya pengukuran. Berdasarkan sejarah Geometri tumbuh jauh sebelum Masehi
karena keperluan pengukuran tanah, di sekitar kawasan sungai Nil setelah terjadi
banjir, dalam bahasa Indonesia Geometri dapat diartikan sebagai Ilmu Ukur (Moeharti,
1986: 1.2). Geometri didefinisikan juga sebagai cabang Matematika yang mempelajari
titik, garis, bidang dan benda-benda ruang serta sifat-sifatnya, ukuran-ukurannya dan
hubungannya satu sama lain.
Garis dan bidang merupakan salah satu contoh dari istilah tak terdefinisikan yang
menjadi pijakan awal dari geometri, sehingga konsep garis dan bidang sering digunakan
dalam geometri. Misalnya adalah perpotongan dari dua bidang akan menghasilkan sebuah
garis yang terletak pada dua bidang yang saling berpotongan. Kubus, balok dan lain
sebagainya merupakan kumpulan dari bidang bidang, walaupun bidang merupakan
perpotongan dari beberapa garis. Dari contoh di atas dapat dipahami bahwa garis dan bidang
merupakan faktor dasar geometri, tentunya dengan tidak melupakan bahwa titik juga
merupakan dasar dari geometri.
Sistem dari geometri yang dipelajari dari sekolah dasar hingga menengah
digunakannya pasangan bilangan terurut lebih dari tiga, karena para ahli matematika dan
fisika menyadari bahwa tidak harus berhenti pada ganda tiga. Diakui bahwa bilangan ganda
empat ( a1, a2, a3, a4 ) dapat dianggap sebagai titik pada ruang dimensi-4, ganda lima ( a1,
a2, a3, a4, a5 ) sebagai titik pada ruang dimensi-5 dan seterusnya. Walaupun visualisasi
geometrik tidak melebihi ruang dimensi tiga.
Perluasan garis dan bidang pada ruang yang melebihi dimensi-3 dapat dilakukan
dengan bekerja melalui sifat sifat analitisnya dan bukan melalui sifat sifat geometris.
B. Permasalahan
Permasalahan yang dikaji dalam penulisan ini adalah
1. Bagaimana bentuk dari persamaan garis lurus-n dan bidang datar-n?
2. Bagaimana persamaan kedudukan dua garis lurus-n dan dua bidang datar-n?
3. Bagaimana persamaan jarak antara sebuah titik dengan garis lurus-n dan jarak antara
dua garis lurus-n?
4. Bagaimana persamaan jarak antara sebuah titik dengan bidang datar-n?
C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui persamaan dari garis lurus-n dan
didang datar-n serta relasi yang terkait dengan gair lurus-n dan bidang datar-n.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Garis dan Bidang
Sebuah garis (garis lurus) dapat dibayangkan sebagai kumpulan dari titik titik yang
memanjang secara tak terhingga ke kedua arah ( Kohn, 2003 : 4 )
Sebuah bidang dapat dianggap sebagai kumpulan titik yang jumlahnya tak terhingga
yang membentuk permukaan rata yang melebar ke segala arah sampai tak terhingga ( Kohn,
2003 : 4 )
B. Ruang Linear

Sebuah ruang linear atas lapangan

EE

dengan operasi penjumlahan

adalah sebuah himpunan

yang dilengkapi

FE E

dan operasi perkalian

dimana kedua

operasi tersebut harus memenuhi aksioma-aksioma berikut.


a.

x, y ,z

Untuk semua

x, y

b. Untuk semua

di

di

c. Ada elemen identitas 0 di

E berlaku

E berlaku

x+ ( y+ z ) =( x+ y ) + z .

x+ y= y + x .

E sehingga

E .

e. Untuk semua

a , b di

F dan

x di

E berlaku a( bx)=(ab) x .

f.

a , b di

F dan

x di

E berlaku (a+ b) x=ax +bx .

g. Untuk semua

a di

F dan

h. Untuk semua

x di

E berlaku 1 x=x .

di

E sehingga

x di

x di

x, y

x di

untuk setiap

d. Untuk semua

Untuk semua

E , ada elemen

x+ 0=x

x+(x)=0 .

E berlaku a(x + y )=ax +ay .


(Ruckle, 1961:31)

Contoh 1
Selidiki apakah
atas lapangan

Rn

dengan operasi penjumlahan dan perkalian merupakan ruang linear

R .

Penyelesaian:

Rn=R R R R={( x 1 , x 2 , , x nx 1 , x 2 , , x n R ) } .
Ambil

z=( z 1 , z 2 , , z n ) R
a) Jelas

x=( x 1 , x 2 , , x n ) ,

sembarang

y=( y 1 , y 2 , , y n )

x+ ( y+ z ) =( x 1 , x 2 , , x n )+ ( y 1 , y 2 , , y n + z 1 , z 2 , , z n )
( x 1+ y1 + z 1 , x 2 + y 2+ z2 , , xn + y n + z n )
( x 1+ y1 , x2 + y 2 ) + ( z 1 , z 2 , , z n )

dan

( x+ y )+ z
b) Jelas

x y=( x 1 , x 2 , ..., x n)( y 1 , y 2 ,... , y n)


=(

x1

y1 ,

x2

y 2 ,..., x n

=(

y1

x1 ,

y2

x2

,...,

y x
c) Pilih
Jelas

0=(01 , 02 ,... , 0n ) Rn
x+ 0=(x 1 , x 2 , ... , x n )+(01 , 02 ,... , 0n )
0+ ( x 1 , x 2 , , x n )
x

d) Pilih
Jelas

(x1 ,x 2 ,... ,x n ) Rn
x+( x)=(x 1 , x 2 , ... , x n )+(x 1 ,x 2 , ... ,x n)
( x 1x 1 , x 2x 2 ,... , x nx n)=0.

Ambil sembarang
e)

a,bR

a b ( x )=a ( b x 1 , b x 2 , ... , b x n )
a ( b( x 1 , x 2 , ... , x n ) )
( ab ) x .

f)

( a+b )=(a+b) ( x1 , x2 , ..., x n)


a ( x1 , x2 , ... , x n )+ b (x 1 , x 2 ,... , x n)
ax +bx .

g)

a(x + y )=a {( x 1 , x 2 , ... , x n )+( y 1 , y 2 , ... , y n ) }

a (x1 , x2 , ... , x n )+ a ( y1 , y 2 , ... , y n)


ax +a y .
h) 1 x=1(x 1 , x 2 , ... , x n )

yn

yn )
xn )

( x 1 , x 2 ,... , x n)
x

( x 1 , x 2 , ... , x n ) ,

Jadi
maka

( y 1 , y 2 , ..., y n )

merupakan ruang linear atas

dan

( z 1 , z 2 , , z n ) Rn

dan

a,bR

R.

Ruang hasil kali dalam (Inner Product Space)


Dipunyai V ruang linear atas lapangan real R. Jika terdapat fungsi
sehingga untuk setiap vektor

x , y , z V dan skalar R

a.

x , y = y , x

b.

x , y = y , x

c.

x , y+ z = x , y + x , z

d.

x , x 0 dan
x , x =0 x=

, :V V R

memenuhi:

vektor nol di V

, merupakan ruang inner product.

Sehingga

( Wuryanto, 2003 : 36 )
Contoh 2 :
n

Rn

terhadap perkalian titik yang didefinisikan

x , y = xi y i merupakan ruang
i=1

inner product. Ditunjukkan bahwa perkalian titik tersebut adalah suatu inner product.
n

Dibentuk fungsi

setiap vektor

, dari R R R yang didefinisikan x , y = xi y i . Untuk


i=1
n

x=( x 1 , x 2 , , x n ) ,

y=( y 1 , y 2 , , y n ) di

Fungsi tersebut merupakan suatu inner product pada

x=( x 1 , x 2 , , x n ) ,

y=( y 1 , y 2 , , y n ) di

Rn

sebab, untuk setiap vektor

Rn dan skalar real

memenuhi:

x , y = y , x oleh sebab

a. Jelas

i=1

i=1

x , y = xi y i= y i xi = y , x
x , y = y , x oleh sebab,

b. Jelas

i=1

i=1

x , y = xi y i= x i y i= y , x .
x , y+ z = x , y + x , z

c. Jelas

y
( i+ z i )
Karena

x , y+ z = x i
i=1

xi y
( i+ xi z i)
n


i=1

i=1

i=1

x i y i + x i z i= x , y + x , z
d.

x , x 0 oleh sebab
n

x , x = x i2 0
i=1

Jadi berdasarkan a, b dan c maka Rn terhadap perkalian titik yang didefinisikan


n

x , y = xi y i
i=1

untuk

i=1, 2, , n .

C. Ruang Vektor
1. Ruang Vektor
Sebuah ruang vektor V adalah sebuah himpunan dari objek

x , y , z , ....

yang disebut vektor. Satu vektor yang dikenal dinamakan vektor nol yang dinotasikan
dengan . Untuk setiap vektor x dimana dikenal sebuah vektor x, dinamakan invers dari
x. Aksioma aksioma yang mengikuti agar asumsi dari ruang vektor terpenuhi adalah
a. Untuk setiap sepasang vektor x, y dimana penjumlahan vektor dari x, y dinotasikan

x+ y . Penjumlahan dari vektor harus memenuhi:


i.

x + y = y + x .

ii.

( x + y )+ z =x + ( y + z ) .

iii.

x + 0=x .

iv.

x +( x )=0.

b. Untuk setiap skalar k dan setiap vektor x dimana perkalian vektor dari x oleh k
dinotasikan kx. Perkalian vektor oleh skalar harus memenuhi:
i.

k ( x + y )=k x +k y .

ii.

( k + j ) x =k x + j x .

iii.

( kj ) x =k ( j x )

iv.

1 x = x

Pada b.i) simbol + memiliki dua arti yaitu untuk penjumlahan skalar dan vektor. Pada
b.iii) memiliki dua arti yaitu perkalian dua skalar atau perkalian sebuah skalar dan
sebuah vektor.
( Berberian, 1961 : 1 )
Contoh 3 :
Tunjukan

Rn merupakan ruang vektor.

Penyelesaian:

Ambil

sembarang

x =( x 1 , x 2 , , x n ) ,

y =( y 1 , y 2 , , y n )

z =( z 1 , z 2 , , z n ) Rn
(a) Jelas

x + y =( x 1 , x 2 , , x n ) + ( y 1 , y 2 , , y n )
x1 y 1 + x2 y 2 ++ x n y n
y 1 x 1 + y 2 x 2 ++ y n x n
( y 1 , y 2 , , y n) + ( x 1 , x 2 , , x n)
y + x .

(b)

( x + y )+ z =( ( x 1 , x 2 , , x n ) + ( y 1 , y 2 , , y n ) ) + ( z 1 , z 2 , , z n )
(( x 1 , x2 , , x n ) +( y 1 , y 2 , , yn ) +( z 1 , z 2 , , zn ) )
( x 1 , x 2 , , x n ) +(( y 1 , y 2 , , y n ) +( z 1 , z 2 , , zn ) )
x + ( y + z ) .

(c) Pilih
Jelas
(d) Pilih
Jelas

0=( 01 , 02 , , 0n ) R n
x + 0=0+ x =( 01 , 02 , ,0 n )+ ( x 1 , x 2 , , x n )=x .
x = (x 1 ,x 2 , ,x n ) R

x + (x )=( x 1 , x 2 , , x n ) + ( x 1 ,x 2 , ,xn )
( x 1x 1 , x 2x 2 , , x nx n )=0

Ambil sembarang
(e)

k , jR

k ( x + y )=k {( x1 , x2 , , xn ) + ( y 1 , y 2 , , y n ) }

k ( x1 , x2 , , xn )+ k ( y1 , y2 , , yn )
k x + k y .

dan

( k + j ) x =( k + j ) ( x 1 , x 2 , , x n )

(f)

k ( x 1 , x 2 , , x n ) + j ( y 1 , y 2 , , y n )
k x + j x .

( kj ) x =( kj ) ( x 1 , x 2 , , x n )=k ( j ( y 1 , y 2 , , y n ) )

(g)

k ( j x )
1 x =1 ( x1 , x2 , , xn ) =( x 1 , x 2 , , x n )=x

(h)

Karena aksioma ruang vektor

Rn dipenuhi, maka

Rn merupakan ruang vektor.

2. Hasil Kali Dalam (Inner Product) dan Norm


Jika V suatu ruang vektor, maka inner product adalah fungsi dari VV ke R,
didefinisikan dengan
a.

( x , y ) x , y ,

memenuhi aksioma berikut.

x , y 0, x V .

c.

x , x =0 jika dan hanya jika x =0.


x , y V .
x , y = y , x

d.

( x + y ) , z = x , z + y, z

e.

a x , y =a x , y = x , a y .

b.

x , y V

x , y V .

Ruang vektor yang dilengkapi dengan hasil kali dalam (inner product) dinamakan ruang
hasil kali dalam.
( Rochmad, 2000 : 24 )
Contoh 4 :
n

terhadap perkalian titik yang didefinisikan

x . y = x i y i
i=1

merupakan ruang

hasil kali dalam. Ditunjukkan perkalian titik tersebut adalah suatu inner product.
Dibentuk suatu fungsi

Rn Rn R

yang didefinisikan

x , y = x . y

untuk

setiap vektor

x =( x 1 , x 2 , , x n ) , y =( y 1 , y 2 , , y n )

dan skalar a di

Rn

maka

fungsi tersebut merupakan suatu inner product sebab memenuhi aksioma dari ruang
inner product.
Bukti:
a.

c = y , x sebab
n

i=1

i=1

x , y = x . y = x i y i = y i x i= y , x
b.

a x , y =a x , y sebab,
n

i=1

i=1

a x , y = ( a x . y )= a x i y i=a x i y i =a ( x . y )=a x , y .
c.

( x + y ) , z = x , z + y , z

sebab

( x + y ) , z =x ( y + z )
n

( xi y i + xi zi )
i=1

i=1

i=1

x i y i + xi zi
x . y + x . z

x , z + y , z
d. Jelas

x , x =( x , x ) jika dan hanya jika x =0.


n

e.

x , y >0, andaikan x bukan vektor nol karena x , x =x .x= x 2i >0 .


i =1
n

Jadi perkalian titik yang didefinisikan

x . y = x i y i
i=1

dalam.
D. Ruang Metrik

10

merupakan ruang hasil kali

X .

Misalkan

Suatu fungsi bernilai real d yang didefinisikan pada

yaitu pasangan berurutan dalam

X , disebut metrik atau fungsi jarak pada

X xX
bila dan

hanya bila fungsi tersebut memenuhi aksioma aksioma berikut, yaitu untuk setiap

a,b,c X:
(i)

d (a , b)0 dan d (a , a)=0.

Definit Positif

(ii)

d ( a , b )=d ( b , a ) .

Simetris

(iii)

d (a , c )d ( a , b)+ d (b , c)

Ketaksamaan Segitiga

(iv)

Bila maka d (a , b)>0

Bilangan Real

d (a , b) disebut jarak dari a ke b .

Himpunan X yang dilengkapi dengan suatu metrik d, dituliskan dengan


Ruang Metrik (Metric Space). Anggota ruang metrik
untuk setiap

ada bilangan non-negatif

(X ,d)

(X ,d)

disebut

disebut titik atau point dan

d (a , b) yaitu jarak titik a dengan b .

Contoh 5 :
1.

Fungsi

yang didefinisikan oleh

d (a , b)= ab , dengan

dan

b bilangan-bilangan Real, adalah metrik dan disebut Metrik Biasa pada garis Real R.
Bukti:
(i)

d (a , b)= ab0 dan d (a ,b)=0 jika dan hanya jika a=b .

(ii)

d ( a , b )=|ab|=|ba|=d ( b , a ) .

(iii)

ab+ bc ab+bc

11

|ac|.
atau
(iv)

d ( a , c ) d ( a , b ) +d ( b , c ) , a<b< c .

d ( a , b )=|ab|>0 jika.

2. Fungsi

yang didefinisikan oleh

, dengan

adalah metrik dan disebut Metrik Biasa pada

R2

dan

adalah titik dalam bidang

Bukti:

d p, q

a1 b1 2 a 2 b2 2
0 dan

(i)
d(p,q) = 0

a1 b1 2 a 2 b2 2

a1 b1 2 a 2 b2 2 0
a1 b1 2

a 2 b2

a1 b1 a 2 b2

a1 b1 a 2 b2
a1 a 2 b1 b2

Jadi

d ( p , q)=0

a1 b1
jika dan hanya jika

(ii)

12

a 2 b2
dan

d p, q d q , r
(iii)

a1 b1 2 a 2 b2 2

b1 c1 2 b2 c2 2

a1 b1 2 a 2 b2 2 b1 c1 2 b2 c2 2

2a1b1 b1 a 2 2a 2 b2 b2 b1 2b1c1 c1 b2 2b2 c 2 c 2

2a1c1 c1 a 2 2a 2 c 2 c 2

a1 c1 2 a 2 c2 2

Jad i

d p, r d p, q d q, r
atau

d p, q
(iv)

p a1 , a 2 q b1 ,b2
dengan

a1 b1 2 a 2 b2 2

pq
>0 jika

13

, dimana p<q<r.

r c1 , c 2
dan

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kajian Pustaka
Terdapat materi yang menarik terkait dengan bidang geometri yang mungkin pernah
disinggung dalam perkuliahan tapi tidak diangkat dalam bentuk tulisan yaitu mengenai garis
dan bidang dalam ruang berdimensi n.
Dengan melakukan telaah pustaka dari berbagai referensi yang ada, penulis
menyusun gagasan tersebut dalam bentuk makalah.
B. Perumusan Masalah
Dengan menemukan tema yang cocok, langkah selanjutnya adalah merumuskan
masalah dari tema yang diangkat tersebut sesuai dengan bahasan yang akan digunakan.
Perumusan masalah dinyatakan dalam bentuk pernyataan yang singkat dan jelas sehingga
mudah untuk dipahami.

14

C. Pemecahan Masalah
Pada tahap ini, dilakukan analisis dari permasalahan yang telah dirumuskan dengan
didasari teori dan argumentasi yang tepat. Pemecahan masalah ini meliputi penjelasan tema
yang telah ditetapkan dan pembahasan mengenai masalah yang telah diungkapkan
sebelumnya secara lengkap dengan landasan teori yang ada, tentunya dengan menggunakan
referensi yang ada. Dalam proses pemecahan masalah ini, diterangkan berbagai cara
menyelesaikan masalah dengan pendekatan yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan
landasan teori yang sudah ada.
D. Penarikan Kesimpulan
Hasil dari pembahasan ini dituangkan dalam bentuk simpulan akhir yang
menyimpulkan secara umum pemecahan masalah tersebut. Simpulan ini dijadikan sebagai
hasil kajian akhir dan merupakan hasil akhir dari proses penulisan makalah

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Titik
Titik sering dipandang di dalam kerangka kerja geometri Euklides, di mana ia adalah
salah satu objek yang mendasar. Euclid mulanya mendefinisikan titik secara kabur, sebagai
"yang tak memiliki bagian". Di dalam ruang Euclidean dua dimensi, titik dinyatakan oleh
pasangan terurut,

(x , y ) , bilangan, di mana bilangan pertama yang menurut konvensi

menyatakan horizontal dan sering dituliskan sebagai

y , dan bilangan kedua secara

konvensi menyatakan vertikal dan sering dituliskan sebagai x

. Gagasan ini mudah

diperumum ke dalam ruang Euclid tiga dimensi, di mana titik dinyatakan oleh pasangan

15

terurut ganda-tiga,

( x , y , z) , dengan bilangan tambahan ketiga menyatakan kedalaman

dan diwakili oleh

z . Perumumuman lebih lanjut dinyatakan oleh pasangan terurut ganda-

n,di mana n adalah dimensi ruang tempat titik berada.


Dalam ruang euclid dimensi n titik disimbolkan sebagai pasangan terurut bilangan

real yang biasa dinotasikan dengan, misalkan titik A pada


Telah

ditunjukkan

d ( x , y )=

( (
i=1

xi R

x i y i )

bahwa

1
2 2

yi R

dan

d :R n Rn R

yaitu

A ( x1 , x2 , x3 ) .

yang

didefinisikan

memenuhi semua sifat metric. Jadi jarak antara dua titik

adalah

d ( x , y )=

( (
i=1

x i y i )

1
2 2

( x1 y 1) + ( x2 y 2) + + ( x n y n )
Contoh 6:
1. Misal

A (2, 5, 8) dan B (4, 5, 6) hitung jarak antara titik A dan B.

Penyelesaian:

d ( x , y )=

( x i y i )2 2 = ( x1 y 1) 2+( x2 y 2) 2+ ( x3 y 3 )2
i=1

(24 ) + ( 55 ) + ( 86 ) =5 .
2

2. Misal

A ( 4,6, 8, 10) dan B (3,2, 5, 4) hitung jarak antara dua titik tersebut.

Penyelesaian:
n

d ( x , y )=

( (
i=1

x i y i )

1
2 2

16

( x1 y 1) + ( x2 y 2) + ( x3 y 3 ) + ( x 4 y 4 )

( 43 ) + ( 62 ) + ( 85 ) + ( 104 ) = 62
2

B. Garis Lurus Real


1. Persamaan Garis lurus-n
Diberikan X adalah ruang Euclid dan

Himpunan

x1 , x2 X

G= { x X : xx 1=t ( x 2x 1) dan t R }

atas lapangan di

R .

disebut garis lurus (real line),

dengan syarat keanggotaannya adalah

xc=t ( x 2x 1) dan t R
Jadi

x=x 1+ t ( x 2x 1) dant R

Jika

X R

x(1)=(a1 , a2 , , an) R n

persamaan garis real yang melalui

x(1) dan

dan

x(2)=(b1 , b2 , ,b n) R n

maka

x(2) adalah

xx(1)=t ( x(2)x (1 ) ) ( x 1 , , x n )( a1 , , an ) =t {( b1 , , bn )( a1 , , an ) }
( x 1a1 , , x na n )=t {( b1 a1 , ,b na n ) }

t=

( x 1a1 , , xn an )
( b 1a1 , , bnan )

t=

( x 1a1 ) ( x 2a 2 )
( x nan )
=
==
.
( b 1a1 ) ( b 2a2 )
( b na n )

Dari persamaan di atas dapat dipahami bahwa garis lurus-n yang melalui atau memuat
titik

(1)

dan mempunyai bilangan arah

dalam bentuk parametrik adalah

17

{ a1 , a2 , , an }

mempunyai persamaan

x 1=a1 + 1 t
x 2=a2 + 2 t
.
x n=a n+ n t .
R

Jadi persamaan parametrik garis lurus di

adalah

X n =an + n t .

Contoh 7 :
a. Tulis persamaan parametrik untuk garis h yang melalui titik A(3, 0, -1, 2) dan titik
B(2, -1, 4, 6).
penyelesaian:
Karena bilangan arah
pada

g,

maka

= AB=(1,
1,5, 4 )
persamaan

sejajar g dan A(3, 0, -1, 2) terletak

parametriknya

garis

adalah

x=3t , y=t , z=15 t dan w=2+ 4 t


b. Tulis persamaan parametrik untuk garis g yang melalui titik A(2, 4, -1) dan titik B(5,
0, 7).
c. penyelesaian:
Karena bilangan arah
pada

garis

= AB=(3,4,
8)
g,

maka

sejajar garis g dan A(2, 4, -1) terletak


persamaan

parametriknya

x=2+3 t , y=44 t , dan z=1+ 8t


2. Jarak Titik terhadap Garis Lurus-n
Diberikan dua garis lurus-n g dan h dengan bilangan arahnya berturut-turut
adalah

( 1 , 2 , ... , n ) dan

( 1 , 2 , ... , n ) . Selanjutnya, jika

x , y g dan

u , v h maka vektor x-y dan vektor u-v berturut-turut sejajar dengan bilangan arah
( 1 , 2 , ... , n )

dan

( 1 , 2 , ... , n ) . Oleh karena itu, sudut antara g dan h

18

sama dengan sudut antara vektor x-y dan vektor u-v. Jadi, jika sudut antara g dan h
diperoleh rumus

, 1 1+ 2 2 + + n n
=
.

cos =

Dengan
n

1
2 2

( )

= i

( )

dan=

i=1

1
2 2

i=1

Dengan demikian diperolaeh hubungan sebagai berikut


a. Garis lurus-n g dan garis lurus-n h sejajar (g // h) jika dan hanya jika mempunyai
bilangan arah yang sebanding.

1 2

= == n .
1 2
n
b. Garis lurus-n g dan garis lurus-n h saling tegak lurus (g h) jika dan hanya jika

, =0 atau 1 1+ 2 2 ++ n n=0

c.

Contoh 8:
1. Tentukan besar sudut dua garis lurus-n, jika diketahui g: x = 2 + 3t, y = 4 4t, z =
1 + 8t, w = 3 + 6t
2. penyelesaian:
Karena bilangan arah g: (3, 4, 8, 6) dan garis h: (4, 5, 7, 2)
Maka

C os =

( 3 4 ) + ( (4 ) 5 ) + ( 8 (7 ) ) +(6 2)

3 +(4 ) + 8 +6 + 4 + 5 + (7 ) +2
2

3.

, 1 1 + 2 2+ + n n
=


2

52
=0,48=118,69 .
11,18 9,69

Diberikan persamaan parameter garis g: x = 3 t, y = t, z = 1 5t, w = 2 + 4t


dan garis h: x = 2 5t, y = 1 2t, z = 4 + 3t, w = 6 + t. Tentukan besar sudut

antara kedua garis tersebut?


4. penyelesaian:

19

Bilangan arah g : (-1, -1, 5, 4) dan garis h : (-5, -2, 3, 1) sehingga

cos =

1 1 + 2 2 ++ n n

( (1 ) (5 ) ) + ( (1 ) (2 ) )+ ( 5 3 ) +( 4 1)

(1 ) + (1 ) +5 +4 + (5 ) +(1 ) +3 +1
2

26
=0,66=48,66 .
6,56 6

5. Tunjukan garis g dan h sejajar jika x = 6 + 3t, y = 4 2t, z = 2 + 4t, w = 4 6t


adalah persamaan parametrik garis h dan persamaan parametrik garis g adalah x = 2
6t, y = 4 + 4t, z = 2 8t, w = 6 + 12t.
Penyelesaian:
Bilangan arah dari g adalah (3, 2, 4, 6) dan h adalah (6, 4, 8, 12).
Maka

3 2 4 6
=
= =
.
6 4 8 12

jadi kedua bilangan arah tersebut sebanding

sehingga garis g dan h sejajar.


6. Tunjukan garis g dan h tegak lurus jika x = 1 + t, y = 4 + 8t, z = 3 9t adalah
persamaan parametrik garis h dan x = 2 6t, y = 4 + 3t, z = 2 + 2t persamaan
parametrik garis g.
Penyelesaian:
Bilangan arah dari g adalah (1, 8, 9) dan h adalah (6, 3, 2). Kedua garis tersebut
tegak lurus jika , = 0. Diperoleh , = (1( 6))+ (83)+ ((9)2) = 0
Jadi kedua garis tersebut saling tegak lurus.
3. Jarak Titik terhadap Garis Lurus-n
Jarak antara sebuah titik
terdekat antara titik

a R n

dengan sebuah garis lurus-n g adalah jarak

dengan setiap titik

d ( a , g)=inf {d ( a , x ) : x g } .

20

g , yang dinotasikan

Jadi terdapat
1
a x

x 1 g

sehingga

d ( a , g)=d ( a , x 1) . Perlu diingat bahwa vektor

saling tegak lurus dengan arah g.

Teorema 3.1

a Rn

Jika diberikan sebuah titik


arah

( 1 , 2 , ... , n ) dan suatu titik

dengan sebuah garis lurus-n g dengan bilangan

b g , maka jarak antara titik

dan g

adalah

d ( a , g )= ( a , b )

a b ,
2

4. Jarak Antara Dua garis Lurus-n


Jarak antara dua garis lurus-n adalah jarak terpendek antara titik titik pada salah
satu garis lurus-n dengan titik titik pada garis lurus-n lainya. Dari definisi diatas jika
diketahui dua garis lurus-n g dan h, maka jarak antara g dan h dapat ditulis

d ( g , h)=inf {d ( x , y ): x g , y h}
a. Jarak Antara Dua Garis Lurus-N Yang Sejajar
Ambil dua garis lurus-n yang sejajar g dan h.
Misal

g : x=a +t , t R

t ,t R .
h : y=b+

21

Ambil satu titik di g dan h, misal

dengan vektor arah

a )
d ( a , h )= ( b

ag

dan

b h . Dibentuk vektor

b a

diperoleh :

a ,
b

Dengan kata lain, didapat jarak antara garis lurus-n g dan h adalah

d (g , h)=d ( a ,h) .
b. Jarak Antara Dua Garis Lurus-N Yang Bersilangan
Ambil dua garis lurus-n yang bersilangan g dan h. Misal

t ,t R .
h : y=b+
Ambil satu titik di g, misal

g : x=a +t , tR dan

a g .

Karena pada setiap titik di garis lurus-n h dapat dibuat garis lurus-n yang sejajar g dan

b i sehingga dapat dibentuk himpunan sebagai berikut

melalui titik

t , t R }
hi={ y R : y=b+
Dimana
n

hi

untuk setiap

i=(i=1,2, 3,...)

adalah garis lurus-n yang memotong h dan sejajar g. Sehingga jarak garis lurus-n g dan
garis lurus-n h adalah

a b i ,
d ( g ,h i )=d ( a , hi ) = ( a b i )
.
2

Dengan kata lain

d (g , hi )=inf {d( a , hi)} .

Contoh:

1.

A(4, 0, 0)

E(4, 0, 8)

B(4, 6, 0)

F(4, 6, 8)

C(0, 6, 0)

G(0, 6, 8)

D(0, 0, 0)

H(0, 0, 8)

Pada sebuah balok pada gambar 4.1 hitung

22

(a). Jarak titik A terhadap garis BC.


(b). Jarak garis BC terhadap garis AD.
Penyelesaian:
(a). Misal garis BC g
Maka bilangan arah
Karena

g=(0, 6,0)( 4,6, 0)=( 4,0, 0)= .

AC ( a b)=(0,

( a b)
6, 0)( 4,0, 0)=( 4, 6,0)

a b ,
d ( A , BC ) =d ( a , g ) = ( ab )

(4,6, 0 ) , (4, 0,0 )

16+0+ 0
(4, 0, 0 )
16

(4, 6, 0 )

(4, 6, 0 )

( (4 )2 +02 +0 2)

(4,0, 0 )

(4, 6, 0 )(4, 0, 0 )=( 0, 6, 0 )


62=6
(b). Misal

BC g dan

Sehingga bilangan arah

AD h

( 1)
g=( 0, 6, 0 ) ( 4, 6,0 )=( 4, 0,0 )=

h=( 0,0, 0 )( 4, 0, 0 )=( 4, 0, 0 )=

(2 )

Ambil satu titik di g dan h, misal

ag

( b a ) AB ( b a )=( 4,6, 0 ) ( 4, 0, 0 )=( 0, 6, 0 )

dan bilangan arah

a ) ba ,
( a , h )= ( b
d
jadi
2

23

dan

b h

Karena

( 0, 6, 0 )

( 0,6, 0 ) ,(4,0, 0)

( (4 ) +0 +0 )
2

(4, 0,0 )

( 0, 6, 0 )
02+ 62 +02=6
C. Bidang Datar-n
1. Persamaan Bidang Datar-n
Diberikan

x R n , dan ( x a ) , dengan

Himpunan

V = { x R n ,( x a ) a }

a adalah vektor tetap di

{ x R , ( x a ) , a =0 } disebut hyperplane di
n

Karena

R .

Rn .

x a , a =0

x , a a , a =0
x , a = a , a
2

x , a =a
Jika

disebut persamaan bidang datar-n (hyperplane)

x=( x 1 , x 2 , ..., x n)

dan

a=(a 1 , a2 , ... ,a n)

maka persaman bidang datar-n

berbentuk
n

a1 x1 + a2 x 2 ++a n x n=a21+ a22 ++ a2n ai x i= .


i=1

Contoh:
(a) Tulis persamaan bidang datar di

R3 , R 4 , R 5

Penyelesaian:
Persamaan bidang datar di

R3 , artinya n = 3 diperoleh

24

a1 x1 + a2 x 2 +a3 x3 = Ax + By+Cz=D
Persamaan bidang datar di

R4 , artinya n = 4 diperoleh

a1 x1 + a2 x 2 +a3 x3 + a4 x 4= Ax+ By +Cz+ Dw=E


Persamaan bidang datar di

, artinya n = 5 diperoleh

a1 x1 + a2 x 2 +a3 x3 + a4 x 4 +a5 x 5= Ax+ By+Cz + Dw+ Eu=F


2. Persamaan Hesse Bidang Datar-n
Persamaan Hessee bidang datar-n adalah persamaan bidang datar-n dengan norm
vektor arah sama dengan satu. Jika bidang datar-n V dengan persamaan

a , x =c

1
1
a , x =c
a
a

1
c
, x =
a
a

, x = p

Jadi persamaan Hesse

: , x = p dengan

k =cos k =

a , ek
a

3. Jarak Titik terhadap Bidang Datar-n


Jika a adalah vektor arah dan sekaligus titik yang termuat di V, maka persamaan bidang
datar-n V menjadi

V : a , x a =0 atau V : a , x =aa
Jadi persamaan Hesse dari V adalah

a
, x =a
a

Hal ini menunjukkan bidang jarak titik O terhadap bidang datar-n


a. Jarak Titik O Terhadap Bidang Datar-n V

25

( O ,V ) =a. .

Jika bidang datar-n V mempunyai persamaan umum

a , x =c , maka jarak V

terhadap titik O adalah

| |

d (O , V ) =

b. Jarak Titik

a R n Terhadap Bidang Datar-n V

Diberikan sebarang titik

a R n dan bidang datar-n V : , =c


a dengan V adalah

Maka jarak antara titik

d ( a , v )=

c
.
a

| , a |
a

Bukti:
Bidang datar-n V : , =c , p=0

Dengan

a dan

Ditentukan
Melalui
Jarak

p=

c
a

d (a , V )

a dibuat bidang datar-n V 1 /V .


V dan V 1 terhadap O disebut d .

Jadi persamaan bidang datar-n

V 1 adalah

V 1= , x p d=0

26

Bidang datar-n melalui

a , diperoleh

V 1= , a p d =0
Karena

d ( a ,V )=d , diperoleh

d=| , x p| d ( a , V )=

| , a c|
a

R3 :V Ax +By +Cz+ D=0 dan

Terbukti di

P( x 1 , x 2 , x 3)

Maka jarak P terhadap V

d ( P , V )=

di

| A x 1+ B y 1 +C z 1+ D|

A 2 +B 2+ C2

R4 :V A x 1+ B x 2+C x3 + D x 4 + E=0 dan

P(v 1 , x1 , y 1 , z 1)

maka jarak P terhadap V

d ( P , V )=

| A v 1+ B x 1+C y 1+ D z 1+ E|

A2 + B2+ C 2 + D 2

Contoh:

A(4, 0, 0)

E(4, 0, 4)

B(4, 4, 0)

F(4, 4, 4)

C(0, 4, 0)

G(0, 4, 4)

D(0, 0, 0)

H(0, 0, 4)

(a) Tentukan jarak titik E terhadap bidang BDG pada kubus 4 satuan?
Penyelesaian:
Persamaan Bidang BDG

27

( 4,4, 4 )=(1,1, 1)
a =CE=
dan a BDG
Sehingga

a , ( x b ) =0
( a , x ) ( a , b ) =0

a , x = a , b
(1,1, 1) , x = ( 1,1,1 ) ,( 4, 4,0)
(1,1, 1) , x =0
Jarak titik E terhadap bidang BDG:

d ( E , BDG )=

| ( 1,1, 1 ) ,(4, 0, 4) 0| 8 3
=
.
3
12 +(2)2 +12

(b) Tentukan jarak titik A terhadap bidang BDG pada kubus 4 satuan.
Persamaan Bidang BDG

=(4,4,0 ) , BG=
( 4, 0, 4 )
BD
dan
Misalkan

DG=(0,
4, 4 )

a=(a 1 , a2 , a3 ) dan a BDG

Sehingga berlaku

=0
a , BD
=0
a , BG
=0
a , DG

Maka

= (4,4, 0 ) ,(a1 , a2 , a3) =4 a1 4 a2=0


a , BD

................ (1)

= ( 4, 0, 4 ) , (a1 , a2 ,a 3) =4 a 1+ 4 a3 =0
a , BG

..........................(2)

= ( 4, 0, 4 ) ,(a1 , a2 , a3) =4 a 1+ 4 a 3=0


a , DG

..........................(3)

28

Dari (1), (2) dan (3) diperoleh

a =(a 1 , a2 , a3 )

(1,1,1)
Sehingga

=0
a ,( x d)
( a , x ) ( a , d ) =0
a , x = a , d
(1,1, 1) , x = ( 1,1,1 ) ,(0, 0, 0)
(1,1, 1) , x =0

Jarak titik A terhadap bidang BDG:

d ( A , BDG )=

| ( 1,1, 1 ) ,(4, 0, 0) 0| 4 3
=
.
3
12 +(1)2+12

(c) Tentukan jarak A(2, 4, -3, 0) terhadap bidang yang melalui empat titik yaitu B(1, 3,
-5, 2), C(3, 4, -1, 4), D(4, -2, 1, 0) dan E(2, 4, -3, 0)?
Penyelesaian:
Persamaan bidang datar-n di

2,1, 4, 2
),

BC=
misalkan

=(3,1,6, 2)
BD

CD=(1,2,2,4
) ,

a =(a 1 , a2 , a3 , a4 ) dan a BCDG

Sehingga berlaku

=0
a , BC

=0
a , DE

=0
a , BE

=0
a , BD

Maka
1.

= (2,1, 4,2) ,(a1 , a2 , a3 , a 4 ) =2 a1+ a2 +4 a3 +2 a4 =0


a , BC

29

BE=(1,
1, 2,2)

2.

= (3,1,6, 2),(a1 , a2 , a 3 , a 4) =3 a1a 2+ 6 a3 +2 a4 =0


a , BD

3.

= (1,1, 2,2) ,(a1 , a2 , a3 , a4 ) =a1 + a2+ 2a 3+ 2 a4=0


a , BE

4.

= (1,2, 2,4 ),(a1 , a2 ,a 3 , a 4 ) =a12 a 2+2 a3 4 a4 =0


a , CD

Dari (1), (2), (3) dan (4) diperoleh

a =(a 1 , a2 , a3 , a4 )

(2,2,1, 1)
Bidang BCDG:

a , x =C (2,2,1, 1), x = ( 2,2,1, 1 ) ,(2, 4,3, 0)


(2,2,1,1) , x =1
Jarak titik A terhadap bidang BCDG di

R4

| (2, 4,3, 0), ( 2,2,1, 1 ) (1)|

d ( A , BCD ) =

10

4. Kedudukan Dua Bidang Datar-n


Misal diberikan dua bidang datar-n

V : x ,a =
V : x ,b =
adalah sudut antara U dan V sehingga

cos =cos ( )=

a ,b
a .b

a. Dua bidang tegak lurus

U V =

30

=0.

a ,b

cos =cos =
2
2 a .b

a , b =0 a b .
b. Dua bidang sejajar

U / V =0
cos 0=cos ( )=

a , b
a.b

a , b =a.b
Ambil sebarang

a=b sehingga

a , a =a. a
2

a , a =||.a a =||a .

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dapat ditarik simpulan sebagai berikut.
1. Persamaan garis lurus-n dan bidang datar-n (hyperplane)

2.

Garis lurus-n adalah

Bidang datar-n adalah

X n =an + n t .

x , a =a2 .

Kedudukan antara dua garis lurus-n dan dua bidang datar-n (hyperplane)
i. Kedudukan antara dua garis lurus-n
Dua garis lurus-n g dan h dikatakan sejajar jika dan hanya jika mempunyai
bilangan arah yang sebanding.

1 2

= == n
1 2
n

Garis lurus-n g dan h dikatakan saling tegak lurus jika dan hanya jika

31

, =0 atau 1 1+ 2 2+ + n n=0
ii. Kedudukan antara dua bidang datar-n
Dua bidang datar-n tegak lurus

U V =

a ,b

cos =cos =
2
2 a .b

a , b =0 a b .

Dua bidang sejajar

U / V =0
cos 0=cos ( )=

a , b
a.b

a , b =a.b
Ambil sebarang

a=b sehingga

a , a =a. a
2

a , a =||.a a =||a .
3. Persamaan sudut antara dua garis lurus-n dan bidang datar-n
i. Sudut antara dua garis lurus-n

, 1 1+ 2 2 + + n n
=
.

cos =

ii. Sudut antara dua bidang datar-n

cos =cos ( )=

a ,b
a .b

4. Persamaan jarak antara sebuah titik dengan garis lurus-n dan jarak antara dua garis
i.

lurus-n
Jarak antara sebuah titik dengan garis lurus-n adalah

a b ,
d ( a , g )= ( a , b )
.
2
ii. Jarak antara dua garis lurus-n adalah

32

a )
( a , h )= ( b

a ,
b

5. Persamaan jarak sebuah titik terhadap bidang datar-n adalah

d ( a , v )=

| , a |

B. Saran
1. Diharapkan tulisan ini dapat digunakan untuk membantu dalam pemecahan soal
soal geometri pada ruang dimensi 3 khususnya garis dan bidang.
2.

DAFTAR PUSTAKA
Kohn, Ed. 2003. Cliffs Quick Review Geometry. Bandung : Pakar Karya
Ruckle, William. H. 1960. Modern Analysis. Boston : PWS KENT Publishing Company
Wuryanto. 2003. Analisis Real I. Semarang : UNNES
Berberian, Sterling. K. 1961. Introduction to Hilbert Space. New York : Oxford University
Press
Rochmad. 2001. Analisis Real II. Semarang : UNNES
33

Website:
https://id.scribd.com/doc/56688181/RUANG-METRIK
https://id.wikipedia.org/wiki/Struktur_abstrak#Ruang_vektor
https://id.wikipedia.org/wiki/Titik_(geometri)
https://id.wikipedia.org/wiki/Bidang_(geometri)
https://id.wikipedia.org/wiki/Ruang_metrik

34