Anda di halaman 1dari 25

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
BAB I

Pendahuluan.(3)
1.1 Latar Belakang ..(4)
1.2 Tujuan ...(4)

BAB II

Pembahasan (5)
2.1 Pengertian EYD.(5)
2.2 Ruang Lingkup EYD (6)
2.3 Pemakaian Huruf ..(7)
2.4 Pemenggalan Kata (9)
2.5 Nama Diri .(10)
2.6 Penulisan Huruf ...(12)

BAB III

Penutup ..(26)

Daftar Pustaka ...(27)

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt atas rahmat dan karunia-Nya
saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah yang berjudul Ejaan Yang
Disempurnakan ini membahas mengenai seperangkat aturan tentang cara menuliskan
bahasa dengan huruf, kata dan tanda baca sebagai sarananya.
Dalam penulisan makalah ini saya banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulisan makalah ini.
Saya sadar bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Hal itu di
karenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan saya. Oleh karena itu, saya sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.
Akhir kata, saya memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat
banyak kesalahan.

Serang, 14 November 2009

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena selain digunakan sebagai
alat komunikasi secara langsung, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secara
tulisan, di zaman era globalisasi dan pembangunan reformasi demokrasi ini, masyarakat
dituntut secara aktif untuk dapat mengawasi dan memahami infrormasi di segala aspek
kehidupan sosial secara baik dan benar, sebagai bahan pendukung kelengkapan tersebut,
bahasa berfungsi sebagai media penyampaian informasi secara baik dan tepat, dengan
penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakan
media tersebut secara baik dan benar. Dalam memadukan satu kesepakatan dalam etika
berbahasa, disinilah peran aturan baku tersebut di gunakan, dalam hal ini kita selaku warga
Negara yang baik hendaknya selalu memperhatikan rambu-rambu ketata bahasaan Indonesia
yang baik dan benar. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah sub. materi dalam ketata
bahasaan Indonesia, yang memilik peran yang cukup besar dalam mengatur etika berbahasa
secara tertulis sehingga diharapkan informasi tersebut dapat di sampaikan dan di fahami
secara komprehensif dan terarah. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut dapat
digunakan dalam keseharian Masyarakat sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesia
dapat digunakan secara baik dan benar.

1.2 Tujuan
Tujuan penulis menyusun makalah ini yaitu :

Memahami Konsep EYD


Ruang Lingkup EYD
Penulisan Huruf Kapital dan Huruf Miring
Penulisan Kata

BAB 2
PEMBAHASAN
3

2.1 Pengertian
Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa
dengan menggunakan huruf, Kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata
mengeja. Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau
kata; sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas
dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara
menuliskan bahasa.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa
demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis.
Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan
makna. Ibarat sedang mengemudi kendaraan, ejaan adalah rambu lalu
lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudi
mematuhi rambu-rambu yang ada, terciptalah lalu lintas yang tertib dan
teratur. Seperti itulah kira-kira bentuk hubungan antara pemakai bahasa
dengan ejaan.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan yang disempurnakan
(EYD). EYD muali diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan
ketiga dalam sejarah bahasa Indonesia ini memang merupakan upaya
penyempurnaan ejaan sebelumnya yang sudah dipakai selama dua puluh
lima tahun yang dikenal dengan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi
(Menteri PP dan K Republik Indonesia pada saat Ejaan itu diresmikan pada
tahun 1947).
Ejaan pertama bahasa Indonesia adalah Ejaan van Ophuijsen (nama
seorang guru besar belanda yang juga pemerhati bahasa), diberlakukan
pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang berkuasa di Indonesia
pada masa itu. Ejaan van Ophuijsen dipakai selama 46 tahun, lebih lama
dari Ejaan Republik, dan baru diganti setelah dua tahun Indonesia
merdeka.

Untuk sekedar memperoleh gambaran tentang ejaan yang pernah


berlaku pada masa lalu itu dan sekaligus untuk membandingkannya
dengan ejaan sekarang, perhtaikan pemakaian huruf dan kata-kata yang
ditulis dengan ketiga macam ejaan itu seperti berikut ini.

PERUBAHAN PEMAKAIAN HURUF


DALAM TIGA EJAAN BAHASA INDONESIA
Ejaan Yang

Ejaan Republik

Ejaan Van Ophuijsen

Disempurnakan

(Ejaan Soewandi)

(1901-1947)

(EYD)

(1947-1972)

(mulai 16 Agustus

2.2

1972)
khusus

chusus

choesoes

Jumat

Djumat

Djoemat

yakni

Jakni

jani

Ruang Lingkup Ejaan yang Disempurnakan (EYD)


Ruang lingkup EYD mencakupi lima aspek, yaitu (1) pemakaian

huruf, (2) penulisan huruf, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsur
serapan, dan (5) pemakaian tanda baca.
1) Pemakaian huruf membicarakan masalah yang mendasar dari suatu
bahasa, yaitu
(1)abjad
(4) pemenggalan
(2)vokal
(5) nama diri,
(3)konsonan
2) Penulisan huruf membicarakan beberapa perubahan huruf dari
ejaan sebelumnya yang meliputi
(1)huruf kapital
(2)huruf miring
3) Penulisan kata membicarakan bidang morfologi dengan segala
bentuk dan jenisnya berupa
(1)kata dasar

(6) kata depan di, ke, dan dari


5

(2)kata turunan
(7) kata sandang si, dan sang
(3)kata ulang
(8) partikel
(4)gabungan kata
(9) singkatan dan akronim
(5)kata ganti kau, ku, mu, dan nya
(10)
angka
dan
lambang
bilangan.
4) Penulisan unsur serapan membicarakan kaidah cara penulisan
unsur serapan, terutama kosakata yang berasal dari bahasa asing.
5) Pemakaian tanda baca (pugtuasi) membicarakan teknik
penerapan kelima belas tanda baca dalam penulisan. Tanda baca itu
adalah
(1)Tanda
(2)Tanda
(3)Tanda
(4)Tanda

titik (.)
koma (,)
titik koma (;)
titik dua (:)

(9)
tanda seru (!)
(10) tanda kurung (())
(11) tanda kurung siku ([ ])
(12)
tanda petik ganda ()

(5)Tanda
(6)Tanda
(7)Tanda
(8)Tanda

hubung (-)
pisah (--)
elipsis ()
tanya (?)

(13) tanda petik tunggal ()


(14) tanda garis miring (/)
(15) tanda penyingkat ()

2.3 Pemakaian Huruf


1) Abjad, Vokal dan Konsonan
Abjad bahasa Indonesia menggunakan 26 huruf sebagai berikut.
Perhatikan lafal setiap huruf.
Huruf
Aa
Bb
Cc
Dd
Ee
Ff
Gg
Hh
Ii

Lafal
[a]
[be]
[ce]
[de]
[e]
[ef]
[ge]
[ha]
[i]

Huruf
Jj
Kk
Ll
Mm
Nn
Oo
Pp
Qq
Rr

Lafal
[je]
[k]
[el]
[em]
[en]
[o]
[pe]
[ki]
[er]

Huruf
Ss
Tt
Uu
Vv
Ww
Xx
Yy
Zz

Lafal
[es]
[te]
[u]
[fe]
[we]
[eks]
[ye[
[zet]

Dalam abjad itu terdapat lima huruf vokal (v), yaitu a,i,u,e,o sisanya
adalah konsonan (k) sebanyak 21 huruf. Disamping 26 huruf itu, dalam

bahasa Indonesia juga digunakan gabungan konsonan (diagraf) sebanyak


empat pasang :
kh

seperti dalam kata

khusus, akhir

ng

seperti dalam kata

ngilu, bangun

ny

seperti dalam kata

nyata, anyam

sy

seperti dalam kata

syair, asyik

setiap pasangan itu menghasilkan satu fonem atau satu bunyi yang dapat
membedakan

arti.

Karena

itu,

kh,ng,ny,sy

masing-masing

dihitung

sebagai satu k (konsonan).


Contoh :
akhir

= vkvk

ngilu = kvkv

anyam = vkvk

syair = kvkv

Dalam uraian diatas v-k di atas terlihat meskipun jumlah huruf dalam
setiap kata ada lima, namun jumlah v dan k untuk setiap kata hanya
empat.
Selain gabungan dua konsonan, ada pula gabungan dua vokal yang
berurutan-harus dalam satu suku kata-menciptakan bunyi luncuran (bunyi
yang berubah kualitasnya) yang berbeda dengan lafal aslinya. Perhatikan
contoh dibawah ini.

Huruf diftong
Ai
Au
Oi

Contoh pemakaian dalam kata


Di Awal
Di Tengah
ain
Syaitan
aula
Saudara
boikot

Di Akhir
Pandai
harimau
amboi

Jika vokal berurutan ai, au, dan oi terdapat dalam kata yang
pelafalannya persis sama dengan huruf aslinya, vokal beruntun itu bukan
diftong. Contoh ai, au, dan oi yang bukan diftong adalah yang terdapat
dalam kata berikut.
mulai
namai

dilafalkan

[mulai]

dilafalkan

bau

dilafalkan

[bau]

mau

dilafalkan

[mau]

[namai]

bukan

[mulay]

bukan

[namay]

bukan

[baw]

bukan

[maw]
7

dengan berpedoman pada EYD, khususnya cara pelafalan huruf


hendaknya mengikuti aturan yang sudah dibakukan. Untuk membaca
singkatan kata (termasuk kata asing selain akronim) yang dibaca huruf
demi huruf, jika penutur sedang berbahasa Indonesia, pelafalannya harus
sesuai dengan lafal huruf bahasa Indonesia.

Singkatan
AC
ACC
CV
MTQ
RCTI
TV
TVRI
WC

Lafal yang benar


[a-ce]
[a-ce-ce]
[ce-fe]
[em-te-ki]
[er-ce-te-i]
[te-fe]
[te-fe-er-i]
[we-ce]

Lafal yang salah


[a-se]
[a-se-se]
[se-fe], [si-fi]
[em-te-kyu]
[er-se-te-i]
[ti-fi]
[te-fi-er-i]
[we-se]

Jika seseorang sedang berbahasa asing, misalnya bahasa Inggris, lafal


huruf dalam singkatan itu harus mengikuti aturan pelafalan bahasa
Inggris. Demikian juga jika singkatan itu hendak dilafalkan dalam bahasa
asing lainnya.
2.4
Pemenggalan Kata
1) Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
a. Jika ditengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu
dilakukan diantara kedua huruf vokal itu.
Misalnya : ma-in, sa-at, bu-ah.
Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga
pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.
Misalnya :
au-la
bukan
a-u-la
sau-da-ra bukan
sa-u-da-r-a
am-boi
bukan
am-bo-i

b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf


konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan
sebelum huruf konsonan.
Misalnya :
ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir.
c. Jika ditengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan,
pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.
Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Misalnya :
man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril, bang-sa, makhluk
d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih,
pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama
dan huruf konsonan yang kedua.
misalnya :
in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok, ikh-las
2) Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang
mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis
serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian
baris.
misalnya :
Makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah
catatan :
a. Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
b. Akhiran -i tidak dipenggal. (lihat juga keterangan tentang tanda
hubung, Bab V, pasal E, ayat 1 )
c. Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan
sebagai berikut.
misalnya : te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi
3) Jika suatu kata terdiri dari atas lebih dari satu unsur dan salah satu
unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat
dilakukan (1) di antara unsur-unsur itu atau (2) pada unsur gabungan
itu sesuai dengan kaidah 1a,1b,1c dan 1d di atas.
misalnya :
bio-grafi, bi-o-gra-fi
foto-grafi, fo-to-gra-fi
intro-speksi, in-tro-spek-si
2.5 Nama Diri

Cara penulisan nama diri (nama orang, lembaga, tempat, jalan,


sungai, gunung, dan nama lainnya) harus mengikuti EYD, kecuali jika ada
pertimbangan khusus yang menyangkut segi adat, hukum, atau sejarah.
Contoh pemakaian biasa :
Rumahnya di Jalan Pajajaran No.5.
Ia berkantor di Jalan Budi Utomo.
Contoh pemakaian dengan pertimbangan khusus :
Pamanku dosen Institut Agama Islam Banten, Serang
Perkumpulan Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908.
Untuk penggunaan huruf x berlaku ketentuan khusus sebagai
berikut.
(1)Untuk penulisan nama diri, unsur kimia, istilah ilmu pengetahuan,
dan lambang dalam matematika, lambang huruf yang dipakai
adalah x.
Misalnya ;
Alex, Mexico, Texas (nama diri)
Xenon, xantat (nama unsur kimia)
Sinar-x, (istilah ilmu pengetahuan )
X1, x2, (lambang dalam matematika)
(2)Untuk penulisan kata-kata biasa yang bukan nama diri, lambang
huruf yang dipakai adalah ks. Perhatikan penulisan dibawah ini.
Penulisan yang salah
export
extra
complex
taxi
telex

Penulisan yang benar


ekspor
ekstra
kompleks
taksi
teleks

Selain ketentuan diatas, untuk menulis nama orang berlaku


ketentuan khusus. Penulisan nama seseorang harus mengikuti
kebiasaan

orang

yang

empunya

nama

kendatipun

hasil

penulisannya menyalahi EYD. Karena itulah ketentuannya disebut


ketentuan khusus. Betapa tidak, untuk menulis nama orang yang
diafalkannya [yudi], penulisannya bisa lebih dari sepuluh macam
dan semuanya sah adanya, yaitu
10

(1)Judi
(2)Judie
(3)Judy
(4)Judhy

(5)
(6)
(7)
(8)

Yudi
Yudy
Yudhi
Yudhie

(9)
(10)
(11)
(12)

Yoedi
Yoedhy
Yoedhie
Yoedy

Cukup banyak orang disekitar kita yang mengalami era ejaan lama
(Ejaan van Ophuijsen dan Ejaan Republik) dan sudah dewasa pada
waktu EYD diberlakukan, tetap menulis namanya memakai ejaan
lama karena alasan yang bersifat pribadi. Kita memang harus
menghormati hak asasi setia idividu dalam urusan penulisan nama,
yaitu dengan cara menuliskan nama seseorang seperti yang
dikehendakinya. Penulisannya seperti contoh kasus Yudi tadi;
mungkin dengan menggunakan ejaan yang pernah berlaku bagi
bahasa Indonesia seperti contoh dibawah ini.
Ejaan van Ophuijsen
Soehardjo
Abdoellah Tjoet
Bagdja Waloeja Djati
Djoni Hoetasoehoet
Nji Ajoe Soenji

Ejaan Republik
Suhardjo
Abdullah Tjut
Bagja Waluja Djati
Djoni Hutasuhut
Nji Aju Sunji

EYD
Suharjo
Abdullah Cut
Bagja Waluya Jati
Joni Hutasuhut
Nyi Ayu Sunyi

Walaupun diatas telah dinyatakan tentang ketentuan khusus yang


memberi keistimewaan menulis nama menurut selera pribadi, namun
hendaknya menulis nama harus mengikuti ejaan yang berlaku, sehingga
kesalahan pelafalan huruf untuk nama tidak akan terjadi, yang akan
terjadi justru ketertiban dalam menulis dan membaca nama.
2.6 Penulisan Huruf
A. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat.
Misalnya :
- Selain buku juga penggaris yang dijual
- Dia hendak ke Sumatera
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya :
- Ibu bertanya
- Kapan Anton pergi

11

3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang


berhubungan dengan nama Tuhan, nama agama, dan kitab suci;
termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya :
- Allah
- Tuhan Yesus
- Sang Pencipta
- Maha Kuasa
- Kepada-Mulah
- Yang Maha Agung
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama

nama

gelar

kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang di ikuti dengan nama


orang.
Misalnya :
- Haji Agus Salim bedakan : ia pergi naik haji
- Mahaputra Yamin
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar
kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama
orang.
Misalnya :
- Dia baru saja diangkat menjadi sultan
- Tahun ini dia pergi naik haji
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama, jabatan,
pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai
pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya :
- Gubernur Imam Utomo
- Wakil Presiden
- Ir. Hari Haryono
- Nyonya Atin Suharti
- Jakarta
- Jl. Serayu
Huruf kapital tidak dipakai sebagai hurup pertama nama jabatan
dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.
Misalnya :
-

Siapa gubernur yang baru dilantik itu


Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad

dilantik

menjadi

mayor

jenderal.
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama
orang.
Misalnya :
- Bibit Slamet Riyanto
- Chandra Hamzah

- Syamsul Hidayat
- Ues Kurni

12

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang
digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya :
- mesin diesel
- 5 ampere
- 10 volt
7. Huruf kapital dipaka sebagai huruf pertama nama bangsa, suku
bangsa, dan bahasa.
Misalnya :
- bangsa Indonesia
- suku Sunda

- bahasa Inggris
- bahasa Jepang

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa,


suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata
turunan.
Misalnya :
- mengindonesiakan kata asing
- keinggris-inggrisan
8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan,
hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya :
- bulan September
- bulan Maulid
- hari Galungan
- hari Jumat
- hari Lebaran

- hari Natal
- Perang Badar
- tahun Hijriah
- tarikh Masehi
- Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah


yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya :
-

Soekarno

dan

Hatta

memproklamasikan

kemerdekaan

bangsanya.
- Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
9. Huruf kapital dipakai sebagai nama geografi;
Misalnya :
- Laut Jawa
- Selat Sunda
- Asia Tenggara
- Teluk Jakarta
- Serang
- Danau Toba
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi
yang tidak dipakai menjadi unsur nama diri.

13

Misalnya :
- berlayar ke teluk
- menyeberangi selat
- mandi di kali
- pergi ke arah tenggara
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi
yang dipakai sebagai nama jenis.
Misalnya :
- garam inggris
- pisang ambon
- gula jawa
- kacang bogor
10.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur
nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta
nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Misalnya :
- Republik Indonesia
- Mejelis Permusyawaratan Rakyat
- Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
- Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak
- Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan
resmi negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan
serta nama dokumen resmi.

Misalnya :
-

menjadi sebuah republik

kerjasama antara pemerintah

dan rakyat
beberapa badan hukum

menurut undang-undang

11.

yang berlaku
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur

bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga


pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya :
- Perserikatan Bangsa Bangsa
Undang-Undang
12.

Dasar

Republik Indonesia
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial - Rancangan Undang-Undang
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata

(termasuk semua unsur kata ulang sempurna) didalam nama buku,

14

majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke,
dari, dan, yang dan untuk yang tidak terletak apda posisi awal.
- Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke
13.

Roma.
Bacalah majalah Sastra dan Bahasa.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah Asas-Asas Hukum Perdata
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan

nama gelar, pangkat, dan sapaan.


Misalnya :
- Dr.
= doktor
M.A.
= master of art
- S.H.
= sarjana hukum
S.S = sarjana sastra
- Tn
= tuan
Ny
= nyonya
- Prof
= profesor
Sdr = saudara
14.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata petunjuk
hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik,
dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuaan.
Misalnya :
Kapan Bapak berangkat? tanya Harto.
Adik bertanya itu apa, Bu?
Surat Saudara sudah saya terima.
Silakan duduk, Dik! kata ucok.
Besok Paman akan datang.
Mereka akan pergi kerumah Pak Camat.
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk
hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau
penyapaan.
Misalnya :
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
15.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti anda.
Sudahkah Anda tahu ?
Surat Anda telah kami terima.
B. Huruf Miring
1. Huruf Miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku,
majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya :
majalah Bahasa dan Kesusatraan
buku Negarakertagama karangan Prapanca
surat kabar Suara Karya
15

2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau


mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya :
Huruf pertama kata abad ialah a.
Dia bukan menipu tapi ditipu.
Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
Buatlah kalimat dengan kata berlepas tangan.
3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama
ilmiah

atau

ungkapan

asing

kecuali

yang

telah

disesuaikan

ejaannya.
Misalnya :
Nama ilmiah buah manggis adalah Garcinia mangostana
Politik divide et impera pernah merajalela dinegeri ini.
Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi pandangan
dunia.
Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut :
Negara itu telah megalami beberapa kali kudeta ( dari coup detat
).
Catatan :
Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan
dicetak miring diberi satu garis dibawahnya.
2.2.3 Penulisan Kata
A. Kata dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya :
Kantor pos sangai ramai.

(Kedua

kalimat

ini

dengan

gabungan

kata

dibangun
Buku itu sudah saya baca.
dasar)

B. Kata Turunan
1) Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata
dasarnya.
Misalnya :
Bergerigi
Gemetar

ketetapan
sentuhan
mempertanyakan
terhapus
16

2) Jika bentuk dasar berupa gabungan kata,awalan atau akhiran


ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau
mendahului.
Misalnya :
Diberi tahu, beritahukan
Bertanda tangan, tanda tangani
Berlipat ganda, lipat gandakan
3) Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan
dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya :
Memberitahukan
Ditandatangani
Melipatgandakan
C. Bentuk Ulang dan Kata Ulang
Bentuk ulang dan kata ulang ditulis secara lengkap dengan
menggunakan kata tanda hubung.
Misalnya :
Anak-anak, berjalan-jalan, biri-biri, buku-buku, dibesarbesarkan, gerak-gerik, huru-hara, kupu-kupu, laba-laba,
lauk-pauk.
D. Gabungan Kata
1) Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk
istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya :
duta besar, kerja sama, kereta api cepat, meja tulis,
orang tua, rumah sakit, terima kasih, mata kuliah.
2) Gabungan kata, termasuk istilah khusus yang mungkin
menimbulkan salah pengertian dapat ditulis dengan tanda
hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan.
Misalnya :
alat pandang-dengar (audio-visual aid), anak, istri, saya
(keluarga), buku sejarah baru (sejarahnya yang baru),
ibu-bapak (orang tua), oarang-tua muda (ayah ibu
muda), kaki-tangan penguasa (alat penguasa)
3) Gabungan kata berikut ditulis serangkai karena hubungannya
sudah sangat padu sehingga tidak dirasakan lagi sebagai dua
kata.
Misalnya :
acapkali, apabila, bagaimana, barangkali, bagaimana,
barangkali,

beasiswa,

belasungkawa,

bumiputera,
17

daripada,

darmabakti,

halal-bihalal,

kacamata,

kilometer, manakala, matahari, olahraga, radioaktif,


saputangan
4) Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam
kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangakai.
Misalnya :
Adibusana,
anatakota,
biokimia,
dasawarsa,

inkonvensional,

caturtunggal,

konposer,

mahasiswa,

mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolesterol,


neokolonialisme paripurna, prasangka, purnawirawan,
tunawisma
Jika bentuk terikat oleh kata yang huruf awalnya kapital, diantara
kedua unsur kata itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya :
non-Asia
neo-Nazi
E. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata ganti ku dan kau sebagai bentuk sigkat dari kata aku dan
engkau, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
aku .. = aku bawa, aku ambil
ku
.. = kubawa, kuambil
engkau
.. = engkau bawa, engkau ambil
kau .. = kaubawa, kauambil
Misalnya :
Bolehkah aku ambil jeruk ini satu ?
Kalau mau, boleh engkau baca buku itu.
Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut ini.
Bolehkah kuambil jeruk ini satu?
Kalau mau, boleh kaubaca buku itu.
Kata ganti ku dan mu sebagai bentuk singkat dari aku dan kamu,
ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
.. kamu
= sepeda kamu
mu
= sepedamu
.. aku
= rumah aku
ku
= rumahku
Kata ganti nya selalu ditulis dengan kata yang mendahului.
nya

= bukunya

Misalnya :
Bolehkah aku pakai sepeda kamu sebentar?
Sepedamu lebih kokoh dari sepedaku.
18

Gadis ayu itu tinggal didepan rumahku.


Eva sedang menyampul bukunya.
F. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya, kecuali didalam gabungan kata yang sudah dianggap
sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya :
Tinggalah bersama saya di sini.
Di mana orang tuamu?
Saya sudah makan di restoran.
Ibuku sedang ke luar kota.
Ia pantas tampil ke depan
Duduklah dulu, saya mau ke dalam sebentar.
Bram berasal dari keluarga terpelajar.
Akan tetapi, perhatikan penulisan yang berikut.
Kinerja Lely lebih baik daripada Tuti.
Kami percaya kepada Anda
G. Kata Sandang si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya :
Salah
Sikecil
Sipemalu
Sangdiktator

Benar
Si kecil
Si pemalu
Sang

Sangkancil

diktator
Sang
kancil

H. Partikel
1) Partikel -lah dan -kah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahulinya.
Misalnya :
Bacalah peraturan ini sampai tuntas.
Siapakah tokoh yang menentukan radium?
2) Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya :
Apa pun yang dikatakannya, aku tetap tak percaya.
Hendak makan pun lauknya sudah habis.
Satu kali pun Dedy belum pernah datang ke rumahku.
19

Bukan hanya saya, melainkan dia pun turut serta.


Catatan :
Kelompok yang dianggap padu berikut ini ditulis serangkai, yaitu
adapun,

andaipun,

kendatipun,

maupun,

bagaimanapun,
meskipun,

biarpun,

sekalipun,

kalaupun,
sungguhpun,

walaupun.
Misalnya :
Adapun sebab-musababnya sampai sekarang belum
diketahui .
Bagaimanapun

juga

akan

dicobanya

mengajukan

permohonan itu.
Baik para dosen maupun mahasiswa ikut menjadi
anggota koperasi.
Walaupun hari hujan, ia datang juga.
3) Partikel per yang berarti demi dan tiap ditulis terpisah dari
bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya :
Mereka masuk kelas satu per satu. (satu demi satu)
Harga kain itu Rp 8.000,00 per meter (tiap meter)
I. Singkatan dan Akronim
(1) Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas
satu huruf atau lebih. Adapun aturan penulisannya adalah
sebagai berikut.
a. Setiap menyingkat satu kata, dipakai satu tanda titik.
Misalnya :
nomor
disingkat no.
ibidem
disingkat ibid.
halaman
disingkat hlm.
b. Bila menyingkat dua kata, dipakai dua titik .
Misalnya :
loco citato disingkat
opere citato

loc. cit.

disingkta

atas nama disingkat

op. cit.

a.n.

Akan tetapi, singkatan nama diri yang terbentuk dari


gabungan huruf awal kata yang disingkat, ditulis tanpa titik.
Misalnya :

20

Perseroan Terbatas

disingkat

PT

Perusahaan Dagang

disingkat

PD

Comannditaire Venootschap

disingkat

CV

Amerika Serikat

disingkat

AS

c. Bila menyingkat tiga kata atau lebih, pada akhir singkatannya


dipakai satu tanda titik.
Misalnya :
dan kawan-kawan
disingkat
yang akan datang
disingkat
dan lain-lain
disingkat
atas nama beliau disingkat anb.
Akan tetapi singkatan nama diri yang

dkk.
yad.
dll.
terbentuk

dari

gabungan huruf awal kata yang disingkat, ditulis tanpa titik.


Misalnya :
BUMN
(Badan Usaha Milik Negara)
DKI
(Daerah Khusus Ibukota)
BPS
(Badan Pusat Statistik)
RCTI
(Rajawali Citra Televisi Indonesia)
d. Penulisan lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran,
timbangan, dan mata uang tidak di ikuti titik.
Misalnya :
Au
aurum
TNT
trinitrotoleun
cm
centimeter
KVA
kilovolt-ampere
Kg
kilogram
Rp (5.000,00)
(lima ribu) rupiah
(2)Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal kata
atau gabungan suku kata dari deret kata yang disingkat. Akronim
dibaca diperlakukan sebagai kata. Ada tiga ketentuan dalam
penulisan akronim.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari
deret kata yang disingkat, seluruhnya ditulis dengan huruf
kapital.
Misalnya :
FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
ISPA (Infeksi Salurana Pernafasan Atas)
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau
gabungan huruf dan suku kata dari deret kata, huruf awalnya
ditulis dengan huruf kapital dan tidak diakhiri oleh tanda titik.
Misalnya :
21

Bappenas

(Badan

Perencanaan

Pembangunan

Nasional)
Kadin
Sespa

(Kamar Dagang dan Industri)


(Sekolah Staf dan Pemimpin

Administrasi)
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf,
suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret
kata yang disingkat, seluruhnya ditulis dengan huruf kecil
(lower case).
Misalnya :
radar
radio detecting and ranging
rapim
rapat pimpinan
rudal
peluru kendali
J. Angka dan Lambang Bilangan
1) Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan nomor. Dalam
tulisan lazim digunakan angka Arab atau Romawi.
Misalnya :
Angka Arab
: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi
: I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X
L (50), C (100), D (500), M (1000)
2) Angka digunakan untuk menggunakan (i) ukuran panjang, berat,
luas, dan isi (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Misalnya :
19 meter

4 ons

9 hektar

Pukul 15.30 10 detik


Rp 10.000,00
3) Angka

dipakai

untuk

65 liter

30 meenit 5 jam

USS 3.50

500 Yen

melambangkan

nomor

Y500
jalan,

rumah,

apartemen, atau kamar pada alamat.


Misalnya :
Jalan Sentosa III No. 152
Rumah Susun Perumnas Klender, Blok F2, No. 10
4) Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat
kitab suci.
Misalnya :
Bab X, Pasal 5, halaman 354
Surat Annisa: 9

22

5) Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan

sebagai

berikut.
a. Bilangan utuh
Misalnya :
Dua belas
12
Dua puluh dua
22
Dua ratus dua puluh dua
222
b. Bilangan pecahan
Misalnya :
Setengah

Tiga perempat

6) Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara


yang berikut.
Misalnya :
lihat Bab II, Pasal 5 dalam bab ke-2 buku itu
7) Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika
perlu, susunan kalimat diubah sehingga susunan yang tidak dapat
dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal
kalimat.
Misalnya :
Lima puluh orang tewas akibat bencana alam itu.
Bukan : 50 orang tewas akibat bencana itu.
Pak Yayat mengundang 500 orang tamu.
Bukan : 500 orang tamu diundang Pak Yayat.

BAB 3
PENUTUP

23

Pada dasarnya masyarakat kita telah memahami penggunaan


kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, akan tetapi dalam
pelaksanaannya seringkali masyarakat dihadapkan pada situasi dan
kondisi berbahasa yang tidak mendukung, maksudnya ialah masyarakat
masih enggan untuk mengikuti kaidah tata bahasa Indnesia yang baik dan
benar dalam komunikasinya sehari-hari, masyarakat sering terdikte oleh
aturan-aturan tata bahasa yang salah, sehingga bermula dari kesalahankesalahan tersebut dapat menjadi kesalahan yang sangat fatal dalam
mengikuti aturan-aturan ketata bahasaan yang akhirnya kesalahan
tersebut menjadi sebuah kebiasaan dan parahnya lagi hal tersebut
menjadi membudaya dan di benarkan penggunaan dalam keseharian,
untuk

itu

sudah

menjadi

kewajiban

kita

bersama

untuk

selalu

mengingatkan kepada masyarakan untuk dapat menggunakan kaidah tata


bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena bagaimanapun bahasa
memiliki peran penting dalam proses pembangunan karakter masyarakat
dalam bangsa ini.

24

DAFTAR PUSTAKA
Finoza, Lamuddin. 2008. Komposisi Bahasa Indonesia Untuk Mahasiswa
Non Jurusan. Cetakan ke-16, revisi (3). Jakarta : Diksi Insan Mulia
Waridah, Ernawati. 2008. EYD & Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta. :
KawanPustaka
Novia, Windi._____. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Kashiko
Press

25