Anda di halaman 1dari 14

Sekda Badung Terima Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Subak Liplip Badung

Tekan Alih Fungsi, Bangun Irigasi dan Cetak 100 Hektar Sawah Baru
http://www.badungkab.go.id/index.php/baca-berita/954/Sekda-Badung-TerimaKunjungan-Kerja-Komisi-IV-DPR-RI-di-Subak-Liplip-Badung-Tekan-Alih-Fungsikoma-Bangun-Irigasi-dan-Cetak-100-Hektar-Sawah-Baru
Oleh : badungkab | 09 April 2015 | Dibaca : 341 Pengunjung

Kunjungan kerja spesifik Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Selasa
(7/4) kemarin di Subak Liplip, Desa Canggu, Kecamatan Kuta utara, Kabupaten Badung
diterima oleh Sekda Badung Kompyang R. Swandika didampingi Kabid PLA Dinas Pertanian
Badung Anak Agung Rai Wirawan, Camat Kuta Utara Anak Agung Yuyun Hanura Eny diterima
dihamparan sawah di depan balai Subak Liplip Desa Canggu.
Kunjungan Kerja 8 orang anggota Komisi IV DPR RI yang bertujuan untuk melakukan
peninjauan serta bertatap muka dengan petani terkait dengan alih fungsi lahan pertanian ini
dipimpin oleh Drs. H. Ibnu Multazam dari Fraksi PKB dengan didampingi oleh Sudin anggota
komisi IV dari Fraksi PDIP, anggota komisi IV Yadi Srimulyadi juga dari Fraksi PDIP, Drs I
Made Urip dari Farksi PDIP dan Efendi Sianipar juga dari Fraksi PDIP serta anggota Komisi IV
DPR RI dari Fraksi Gerindra.
Bupati Badung yang diwakili oleh Sekda Badung Kompyang R. Swandika
mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Badung dengan didukung secara penuh oleh
DPRD telah melakukan berbagai upaya dalam rangka menekan terjadinya alih fungsi lahan
pertanian, diantaranya selain memberikan insentif berupa pembebasan pajak PBB, pemberian
insentif berupa bibit dan benih serta sarana produksi lainnya juga dengan menyiapkan SDM
dibidang pertanian. Menurut Sekda Badung, menyadari bahwa kehidupan sebagai petani saat ini
bukan menjadi pilihan karena dinilai tidak menjanjikan sehingga tidak akan ada generasi muda
yang bertani, maka pemerintah dengan dukungan dewan telah menyiapkan SDM dibidang
pertanian dengan membangun sekolah SMK pertanian plus pariwisata di Petang. Saat ini animo
masyarakat untuk menyekolahkan ankanya di SMK Petang ini terus meningkat, karena terbukti

tamatannya dapat langsung terserap di pasar kerja baik sebagai gardener di hotel maupun
melakukan usaha di perusahaan swasta.
Sekda Komyang juga mengatakan bahwa sebagai wujud komitmen menjaga alih fungsi
lahan pertanian pemkab juga telah membangun jaringan irigasi secara permanen termasuk
dengan membuat terowongan irigasi sepanjang 8 km di Subak Pangsut Sari Petang, dengan
terbangunnya terowongan ini akhirnya dapat membuka lahan sawah baru seluas 100 hektar lebih.
Sementara Kadis Pertanian yang diwakili oleh Kepala Bidang Pengelolaan Lahan dan Air
(PLA) A.A. Rai Wirawan melaporkan, luas sawah di badung dari lima kecamatan 10.144 ha
selama berlangsung tahun 2014 terjadi terjadi alih fungsi 160 ha (1,5%) sehingga lahan di
badung sekarang mencapai 9.984 ha. "Data ini kita bahas di perencaan untuk menjadi lahan
berkelanjutan sesuai UU 41 tahun 2009 tentang ketahanan pangan," jelasnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Camat Kuta Utara A.A. Yuyun Hanura Eny.
Menurutnya perkembangan wilayah Kuta Utara cukup pesat. Di Kuta Utara terdapat 19 subak
dengan luas lahan 1.430 ha. Untuk alih fungsi pada tahun 2014 ini sebanyak 123 ha. "Dari 19
subak tersebut hanya empat yang masih eksis dengan nol alih fungsi lahannya," tambahnya.

Oleh : badungkab | 09 April 2015 | Dibaca : 341 Pengunjung

http://www.kompasiana.com/roziqinmatlap/bali-surga-diambangkehancuran_55290965f17e61db2d8b4575

Terbaru Headline Rubrik Event Masuk Bali: Surga Diambang Kehancuran 01 Oktober 2013
15:37:00 Diperbarui: 24 Juni 2015 07:08:54 Dibaca : 2,209 Komentar : 3 Nilai : 0 I.
PENDAHULUAN Bali, bagi sebagian masyarakat internasional, bisa jadi lebih popular
dibandingkan Indonesia. Banyak yang tidak tahu bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia.
Dengan keindahan alamnya, Bali menjadi tujuan wisata nomor satu di Indonesia dan sangat
terkenal di seluruh dunia. Banyak perhelatan tingkat regional dan global dilaksanakan di Bali.
Tidak banyak di tempat lain di dunia ini, dimana ada pulau kecil namun begitu lengkap, dalam
pengertian geografis, sosio ekonomi, maupun sosio kultural. Orang sulit menemukan tempat lain
dimana budaya agraris hidup dalam filosofi estetik seperti di Bali. Juga sulit menemukan orangorang yang akivitas hidup kesehariannya sekaligus berarti pelaksanaan ajaran agamanya, dengan
intensitas penyatuan yang sekental kehidupan masyararakat di Bali. Tidak berlebihan bila
sebagaian orang menyebut Bali sebagai surga dunia, atau yang sering disebut the last paradise.

Namun, justru kelengkapannya itulah yang mendatangkan masalah bagi Bali. Pembangunan
besar-besaran demi tujuan pariwisata, ternyata banyak mengabaikan kepentingan lingkungan dan
sosial. Bali pun di ambang kehancuran. II. PERMASALAHAN Dalam kajian singkat ini, akan
dikaji permasalahan sebagai berikut: A. Apa saja potensi Sumber Kekayaan Alam (SKA) di
Provinsi Bali? B. Bagaimana kependudukan di Provinsi Bali? C. Apa saja keunggulan Provinsi
Bali? D. Apa saja masalah yang ada di Provinsi Bali? III. LEBIH DEKAT DENGAN BALI A.
Potensi Sumber Kekayaan Alam (SKA) di Provinsi Bali Sebagian besar wilayah Provinsi Bali
merupakan daerah pegunungan dan perbukitan. Rantai pegunungan memanjang dari barat ke
timur. Di antara pegunungan itu terdapat gunung berapi yang masih aktif, yaitu Gunung Agung
(3.142 m), dan Gunung Batur (1.717 m). Beberapa gunung yang tidak aktif lainnya mencapai
ketinggian antara 1.000 - 2.000 m. Rantai pegunungan yang membentang di bagian tengah Pulau
Bali menyebabkan wilayah ini secara geografis terbagi menjadi dua bagian yang berbeda, yaitu
Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dari kaki perbukitan dan pegunungan dan Bali
Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Ditinjau dari kemiringan lerengnya, Pulau
Bali sebagian besar terdiri atas lahan dengan kemiringan antara 0 - 2 % sampai dengan 15 - 40
%. Selebihnya adalah lahan dengan kemiringan di atas 40 %. Secara administrasi, Provinsi Bali
terbagi menjadi delapan kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung,
Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan Kota Denpasar yang juga merupakan
ibukota provinsi. Selain Pulau Bali, Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya,
yaitu Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan di wilayah Kabupaten
Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten
Buleleng. Luas total wilayah Provinsi Bali adalah 5.634,40 ha dengan panjang pantai mencapai
529 km. Penggunaan lahan di Provinsi Bali terbagi atas lahan sawah sebesar 82.053 ha, lahan
kering 350.926,99 ha, dan hutan sebesar 130.686,01 ha. Penggunaan lahan kering di Provinsi
Bali terbagi atas ladang 36,62 persen, perkebunan 36,12 persen, pemukiman 13,75 persen, dan
sisanya untuk penggunaan lain. Lahan persawanan terluas terletak di Kabupaten Tabanan (pada
2006 mencapai 22.490 ha). Hal ini sesuai dengan julukan Tabanan sebagai lumbung beras.
Kawasan hutan di Provinsi Bali memiliki luas sekitar 130.686,01 ha dan 23,2% dari luas Pulau
Bali, yang terdiri dari kawasan Hutan Lindung seluas 95.766,66 ha (73,28% dari luas hutan
keseluruhan). Hutan Konservasi seluas 26.293,59 ha yang terdiri dari: Cagar Alam seluas
1.762,80 ha dan Taman Nasional seluas 19.002,89 ha yang terdiri dari daratan seluas 15.587,89
ha dan perairan seluas 3.415 ha, Hutan Wisata Alam seluas 19.002,89 ha, Taman Hutan Raya
seluas 1.373,50 ha, Hutan Produksi Tetap seluas 1.907,10 ha dan Hutan Produksi Terbatas seluas
6.719,26 ha dan Hutan Bakau seluas 3.013 ha yang terdiri dari 2.177 ha di dalam kawasan hutan
dan 834 ha terletak di luar kawasan hutan. B. Kependudukan di Provinsi Bali Berdasarkan hasil
registrasi penduduk tahun 2010 tercatat jumlah penduduk di Bali sebanyak 3.522.375 jiwa, yang
terdiri dari 1.760.556 jiwa (49,98%) penduduk laki-laki, dan 1.761.819 jiwa (50,02%) penduduk
perempuan. Jumlah penduduk tahun 2010 ini naik 1,45% dari tahun sebelumnya. Jumlah
penduduk Bali ini sekitar 6% dari seluruh Indonesia. Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut
Kabupaten/ Kota di Bali Akhir Tahun 2010 Dalam periode 10 tahun terakhir (2000-2010), laju
pertumbuhan penduduk Provinsi Bali mencapai 2,15 persen per tahun. Adapun Kabupaten
Badung (4,63%/tahun) dan Kota Denpasar (4,00%/tahun) tercatat sebagai daerah dengan laju
pertumbuhan penduduk tertinggi. Fenomena ini diduga karena kedua daerah tadi sebagai daerah
potensi bagi kaum migran/pendatang, disamping sebagai daerah destinasi pariwisata Bali.
Kabupaten Klungkung dan Karangasem merupakan dua kabupaten dengan laju pertumbuhan
penduduk terendah, angkanya berada di bawah satu persen. Bila dilihat berdasarkan tingkat

pendidikan, jumlah angkatan kerja kelompok yang terbesar adalah berasal dari jenjang
pendidikan SD yaitu dengan total 511.493 jiwa dengan jumlah laki-laki sebesar 255.258 jiwa
dan perempuan 256.232 jiwa. Sedangkan untuk angkatan kerja terkecil berasal dari kelompok
pendidikan S2/S3 yaitu dengan total 8.008 jiwa dengan jumlah laki-laki 5.975 jiwa dan jumlah
perempuan 2.033 jiwa. Tabel 2 Penduduk 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Pendidikan
Tertinggi Yang Ditamatkan Tahun 2010 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Bali
pada Februari 2013 mencapai 1,89 persen, mengalami penurunan dibanding TPT Agustus 2012
sebesar 2,04 persen dan TPT Februari 2012 sebesar 2,11 persen. Adapun perkembangan Upah
Minimum Provinsi Bali selama 5 Tahun Terakhir adalah sebagai berikut: Tabel 3 Upah Minimum
Provinsi Bali Pada tahun 2012, sektor perdagangan, hotel dan restoran memberikan kontribusi
terbesar terhadap total perekonomian sebesar 30,23 persen diikuti sektor pertanian sebesar 16,84
persen dan sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 14,53 persen. Besaran Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali pada tahun 2012 atas dasar harga berlaku mencapai
Rp.83,94 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp.32,80 triliun.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sebesar 6,65 persen, terjadi pada Konsumsi Pemerintah
sebesar 3,74 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 19,28 persen, Impor sebesar 9,87
persen, Ekspor sebesar 4,34 persen, Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba sebesar 7,57 persen,
disusul Konsumsi Rumah Tangga sebesar 7,22 persen, dan Konsumsi rumah tangga 3,50%.
Kegiatan ekspor barang dan jasa di Provinsi Bali pada bulan Mei 2013 mencapai nilai US$
50.600.499. Angka ini menurun 0,91 persen dibandingkan dengan nilai ekspor keadaan bulan
Mei 2012 yang mencapai US$ 51.067.171, dan meningkat 8,92 persen jika dibandingkan dengan
bulan April 2013 yang mencapai US$ 46.457.441. C. Keunggulan Provinsi Bali Beberapa
keunggulan provinsi Bali adalah sebagai berikut. 1. Pariwisata Pariwisata menjadi andalan
Provinsi Bali. Lebih dari 65 persen kehidupan perekonomian Bali dipengaruhi oleh industri
pariwisata (perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; keuangan; dan jasajasa). Dunia pariwisata Bali menunjukan kondisi yang makin baik. Salah satu indikatornya
adalah dengan terus meningkatnya jumlah wisatawan manca negara yang datang langsung ke
Bali. Pada bulan Mei 2013, jumlah wisatawan yang datang ke Provinsi Bali mencapai 247.972
orang, dengan wisatawan yang datang melalui bandara sebanyak 244.874 orang, dan yang
melalui pelabuhan laut sebesar 3.098 orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) untuk keadaan
bulan Mei 2013 pada hotel berbintang di Bali mencapai rata-rata sebesar 60,31 persen dan ratarata lama menginap tamu asing dan Indonesia di hotel sejenis di Bali adalah selama 3,12 hari . 2.
Perikanan a. Perikanan Laut Berdasarkan potensi dan jenis sumberdaya ikan, perairan laut daerah
Bali dengan luas 9.634,35 km (jarak dari garis pantai 12 mil) dibagi menjadi 3 (tiga)
wilayah perairan laut yaitu: 1) Perairan Bali Utara dengan potensi lestari sumberdaya ikan
diperkirakan 24.606,0 ton/tahun. 2) Perairan Bali Timur dengan potensi lestari sumberdaya ikan
diperkirakan sebesar 19.455,6 ton/tahun. 3) Perairan Bali Barat, dengan potensi lestari
sumberdaya ikan diperkirakan sebesar 97.326,0 ton/tahun. 4) Perairan Bali Selatan dengan
potensi lestari sumberdaya ikan di laut diperkirakan sebesar 147.278,75 ton per/tahun. b.
Perikanan Darat Luas perairan umum yang terdiri dari danau, sungai, waduk dan rawa yang
dapat dimanfaatkan untuk usaha perikanan 1.771.800 Ha dengan perkiraan potensi sebesar
1.500 ton/tahun. 3. Peternakan Tabel 4. Populasi Ternak Menurut Kabupaten/ Kota dan Jenis
Ternak di Bali Tahun 2010 D. Masalah yang ada di Provinsi Bali Masalah Provinsi Bali dapat
dilihat dari aspek pancagatra sebagai berikut. 1. Ideologi Berkembangnya pariwisata diikuti
dengan masuknya para wisatawan dari dalam dan luar negeri. Mereka datang dengan membawa
nilai-nilai masing-masing. Terkadang nilai-nilai tersebut bertentangan dengan Pancasila.

Misalnya: sex bebas dan mabuk-mabukan. Nilai-nilai ini sebagian telah meracuni masyarakat
Bali. Sempat beredar isu bahwa banyak pemandu wisata Bali juga berperan sebagai gigolo bagi
wisatawan. Dulu sebelum marak pariwisata, Bali terkenal sebagai daerah aman. Tidak ada
pencurian, bahkan rumah dibiarkan dibangun tanpa pagar. Namun sejak banyaknya pendatang,
nilai-nilai itu sudah hilang. Bali menjadi daerah yang tidak aman dari pencurian. Akibat
pariwisata juga menjadikan masyarakat berpikir individualis dan kapitalis. Nilai-nilai ini tentu
bertentangan dengan Pancasila. Demi keuntungan pariwisata, masyarakat meninggalkan adat,
merusak lingkungan, dan saling bersaing secara tidak sehat. Masing-masing pemerintah daerah
juga berjalan sendiri-sendiri dalam melaksanakan pembangunan, tanpa ada kesamaan persepsi
dan perasaan sebagai kesatuan ruang. Untuk mengatasi masalah ideologi ini, harus
diimplemantasikan kembali nilai-nilai luhur Pancasila, yang antara lain dengan melaksanakan
perintah agama dengan baik, yaitu menjauhi hal-hal yang dilarang Tuhan dan melaksanakan
perintah-Nya. NIilai-nillai buruk harus ditinggalkan. Masyarakat yang sebagian besar beragama
Hindu, tentu tahu bahwa ada karma. Demikian pula di agama lain, dikenal konsep serupa.
Perbuatan buruk atau baik akan diterima akibatnya oleh pelaku dikemudian hari. 2. Politik
Sebagian besar Pendapatan Asli Daerah Bali bersumber dari pariwisata. Karena pariwisata Bali
maju pesat, masyarakat internasional lebih mengenal Bali dari pada Indonesia. Hubungan
Provinsi Bali dengan masyarakat internasional juga terjalin dengan erat. Hal ini berpotensi
menjadikan Bali terlalu percaya diri sehingga meremehkan daerah lain, atau bahkan pemerintah
pusat. Otonomi daerah yang seluas-luasnya, menjadi tambahan alasan bagi Provinsi Bali untuk
mandiri. Jika sewaktu-waktu terjadi ketidakpuasan atas hasil pembangunan dari pemerintah
pusat, maka Bali adalah provinsi yang paling siap untuk memisahkan diri. Untuk mengatasi
permasalahan ini, maka perlu pemantapan nilai-nilai kebangsaan kepada para penyelenggara
pemerintahan, baik pusat maupun daerah, serta kepada masyarakat Bali. Harus ditumbuhkan
kesadaran bahwa Bali harus dijaga dengan baik, sebagai bagian dari aset bangsa Indonesia.
Pembangunan Bali harus dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) dengan memperhatikan pemerataan yang berkeadilan. 3. Ekonomi Booming pariwisata
di Bali menyebabkan masyarakat Bali mengalihkan semua potensinya untuk mengembangkan
pariwisata, sehingga lebih dari 60 persen perekonomian bergantung pada pariwisata. Hamparan
lahan pertanian kini berubah menjadi gedung, villa, dan hotel yang dibangun dengan
mengesampingkan fungsi lahan itu sendiri. Banyak lahan-lahan produktif yang dialih fungsikan
begitu saja untuk pembangunan pariwisata, seperti kawasan Ubud, Gianyar serta kawasan Bali
selatan dan tempat lainnya di Bali. Banyak obyek wisata yang dibangun dengan memanfaatkan
lahan produktif. Pembangunan yang mengeksploitasi sumber daya juga menyebabkan kesuburan
tanah berkurang dan pengairan terhambat, sehingga semakin meminggirkan sektor pertanian.
Lemahnya sektor petanian antara lain terlihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali
pada Triwulan I-2013, dimana sektor pertanian mengalami pertumbuhan negatif sebesar -2,97
persen dibanding Triwulan IV-2012. Pada tahun 2012, Sektor Pertanian pun mengalami
pertumbuhan terendah dibandingkan sektor lain. Struktur ekonomi yang mengandalkan satu
sektor saja perlu diwaspadai, mengingat sektor pariwisata sangat rentan terhadap gejolak sosial.
Sedikit saja gejolak sosial terjadi di Bali, maka akan berakibat buruk pada pariwisata, yang pada
akhirnya akan berakibat buruk pada perekonomian masyarakat Bali. Hal ini pernah terjadi ketika
pengaruh pengeboman di Kuta menjadikan pariwisata menjadi sepi, dan menyebabkan
perekonomian Bali lumpuh. Lebih lanjut, perlu diteliti lebih lanjut, apakah majunya sektor
pariwisata akan berakibat secara langsung terhadap kesejahteraan masyarakat Bali? Sayangnya,
data menunjukkan sebaliknya. Angka kemiskinan masyarakat Bali cenderung naik tiap tahun.

Misalnya, pada bulan Maret 2013 jumlah penduduk miskin di Bali mencapai 162,51 ribu orang
atau 3,95 persen dari total penduduk Bali. Angka ini mengalami peningkatan dibanding Bulan
September 2012 dimana jumlah penduduk miskin sebanyak 160,95 ribu orang atau sekitar 3,95
persen dari total penduduk Bali. Gegap gempita pariwisata ternyata tidak membawa dampak
kesejahteraan secara langsung bagi sebagian masyarakat Bali. Hal ini karena penguasaan tempat
wisata: resor, villa, hotel, pantai, sebagian besar berada di tangan investor yang bukan
masyarakat asli Bali. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka perlu dibangun kesadaran untuk
membangun ketahanan ekonomi secara lebih seimbang, setidak-tidaknya antara sektor pariwisata
dan sektor pertanian, yang merupakan akar kultur masyarakat Bali. Perlu diketahui bahwa Bali
sebelum tergila-gila dengan pariwisata, pernah makmur karena pertaniannya, terutama dari
cengkeh, vanili, jeruk, kakao, buah-buahan, serta hortikultura. Pentingnya sector pertanian juga
dapat dilihat dari penetapan Koridor Ekonomi Bali Nusa Tenggara dalam Masterplan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 sebagai Pintu Gerbang
Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional. Penguasaan sector perekonomian juga perlu
didesain agar tidak mengarah pada kesenjangan sosial antara masyarakat pendatang dengan
masyarakat asli. 4. Sosial Budaya. Perkembangan pesat pariwisata menyebabkan permasalahan
lingkungan di Bali. Demi keuntungan, pembangunan berskala besar dilakukan tanpa
memperhatikan pelestarian lingkungan. Pencemaran atas air, tanah, dan udara semakin menjadijadi. Tumpukan sampah dimana-mana akibat pola perilaku masyarakat membuat pencemaran
dan kerusakan lingkungan. Selain itu, pembangunan pariwisata Bali memiliki dampak negatif
terhadap lingkungan fisik yang mudah terlihat baik air, tanah, maupun udara. Kawasan hutan
dibabat untuk sarana pariwisata sehingga berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan. Jika
seluruh kawasan hutan ditebang dan digunakan untuk kepentingan pariwisata serta
mengesampingkan fungsi hutan itu sendiri, akan membawa dampak yang negatif seperti banjir
dan tanah longsor. Tidak hanya itu, pembangunan obyek wisata kerap kali menggusur atau
mengganggu keberadaan tempat-tempat suci, serta mengesampingkan adat dan budaya
masyarakat Bali. Pembangunan pariwisata sering kali mengesampingkan konsep tri hita karana
yakni hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan
manusia dengan lingkungan. Sering kali obyek wisata dibangun berdasarkan tempatnya yang
strategis tanpa melihat kepercayaan yang dimiliki masyarakat Bali sehingga timbul masalah dan
gesekan dengan masyarakat sekitar terkait dengan pembangunan obyek wisata di Bali. Tak
jarang jika pembangunan pariwisata mencakup daerah-daerah yang dianggap sakral oleh
masyarakat sekitar sehingga mengganggu kelancaran dalam prosesi upacara adat dan
keagamaan. Misalnya saja obyek wisata yang menutup kawasan pantai di Bali dan menutup
fungsi pantai sebagai tempat suci bagi masyarakat bali dalam melakukan prosesi upacara melasti
yakni penyucian alam semesta menjelang Hari Raya Nyepi. Perubahan alih fungsi lahan
produktif yang kini sebagian besar digunakan untuk pembangunan, tidak hanya berdampak pada
kelestarian lingkungan, tetapi juga berdampak pada keberadaan flora dan fauna. Semakin
berkurangnya lahan dan tempat dimana mereka biasa hidup membuat banyak flora dan fauna
menjadi langka bahkan terancam punah. Jika pembangunan fisik pariwisata hanya
mengedepankan keindahan dan mengesampingkan kelestarian lingkungan maka dampaknya
tidak hanya pada pencemaran lingkungan saja namun dapat mengganggu keseimbangan
ekosistem. Dengan demikian, pembangunan dalam rangka pariwisata yang tidak memperrhatikan
aspek lingkungan, maka akan berdampak negatif dan menjadi bumerang mematikan pariwisata
Bali. Pemanfaatan ruang di Bali merupakan rangkaian proses penataan ruang yang bereputasi
buruk. Nyaris tidak ada keterpaduan antara perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan

pengendalian pemanfaatan ruang. Meski telah banyak disusun rencana tata ruang yang lebih rinci
guna menunjang pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Bali, tapi
ternyata tak sepenuhnya mampu mengantisipasi dan memecahkan permasalahan tata ruang Bali.
Pelaku pemanfaatan ruang di Bali yang dominan adalah dunia usaha, disusul masyarakat dan
pemerintah. Dunia usaha member kontribusi dalam investasi prasarana sektor unggulan seperti
pariwisata, industri, perdagangan dan jasa. Masyarakat member andil melalui pembangunan
perumahan. Adapun pemerintah menyediakan prasarana wilayah. Namun, pemerintah daerah
juga berperan mengeluarkan kebijakan pemanfaatan ruang. Dalam hal ini, akan disoroti
pelanggaran pemanfaatan ruang yang digunakan oleh dunia usaha, yang memberikan dampak
besar bagi Bali. Bentuk pelanggaran yang terjadi dilihat dari sudut RTRWP, RTRWK maupun
rencana rinci, antara lain: Reklamasi pantai di kawasan Teluk Benoa (Kabupaten Badung dan
Kota Denpasar) yang dikapling-kapling investor untuk pengembangan fasilitas pariwisata.
Fungsinya ditetapkan sebagai Kawasan TAHURA, padahal seharusnya dikonversi;
Pemanfaatan kawasan jurang untuk pengembangan fasilitas akomodasi pariwisata di bukit Kuta,
di selatan Kabupaten Badung, di sepanjang tepian sungai Ayung-Ubud Kabupaten Gianyar serta
di kawasan pariwisata Kintamani Kabupaten Bangli; Pemanfaatan kawasan sempadan pantai
untuk fasilitas pariwisata di Kuta Kabupaten Badung, di padang Galak Kota Denpasar, di pantai
Lebih Kabupaten Gianyar, di Candidasa Kabupaten Karangasem dan di pantai Lovina Kabupaten
Buleleng; Alih fungsi lahan sawah irigasi teknis di Kabupaten Badung, Kabupaten Tabanan,
Kabupaten Gianyar dan Kota Denpasar. Penyusutannya mencapai sekitar 1.000 hektar per tahun
untuk Bali secara keseluruhan; Penyerobotan kawasan Hutan Lindung oleh masyarakat
(penebangan liar) di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Kabupaten Jembrana dan Kabupaten
Buleleng; Hutan Produksi Terbatas dimanfaatkan untuk Pertanian Lahan Kering; Pelanggaran
terhadap Perda Jalur Hijau terutama di wilayah perkotaan, seperti di kota Denpasar, Kuta,
Mengwi, Sukawati, Gianyar, dan Ubud; Pelanggaran terhadap sempadan jalan, sempadan
sungai maupun sempadan kawasan suci yang umumnya terjadi di perkotaan. Pendirian hotel
berbintang di Buleleng Timur yang tidak ditetapkan sebagai kawasan pariwisata; Di Kabupaten
Badung telah terjadi penyimpangan lokasi pusat pemerintahan yang sebelumnya ditetapkan di
bagian utara (di Anggungan) kini bergeser ke selatan (ke Sempidi) mendekati Kota Denpasar.
Selain itu, pembangunan jalan by pass dan Stadion Buruan di Gianyar tidak sesuai struktur
rencana; Berubahnya fungsi kawasan lindung Hutan Wisata Pancasari (di Kabupaten Buleleng)
dan Bedugul (di Kabupaten Tabanan) menjadi vila/akomodasi wisata untuk kasus Villa Bukit
Berbunga; Pengembangan fasilitas akomodasi pariwisata di luar kawasan pariwisata yang telah
ditetapkan dalam Perda RTRWP Bali, seperti terjadi di Buleleng Timur dan beberapa tempat di
kabupaten lainnya pada tahun 1999; Peralihan fungsi kawasan Hutan Lindung dan wilayah
Resapan Air menjadi areal perkebunan/pertanian lahan kering di kawasan Hutan Lindung Bali
Barat (Kabupaten Jembrana), serta menjadi areal permukiman dan villa untuk kasus Villa Petali
di Desa Jatiluwih (Kabuapten Tabanan); Pelabuhan Laut Benoa di Kota Denpasar, masih
difungsikan sebagai tempat bongkar-muat barang, padahal tidak sesuai fungsi yang ditetapkan
sebagai Pelabuhan Pariwisata dan Pelabuhan Penumpang; Kegiatan penambangan galian C di
kawasan konservasi Gunung Batur (Yeh Mampeh); Pelanggaran jalur hijau untuk permukiman
(Perumahan Murni) dimanfaatkan sebagai fasilitas perdagangan dan permukiman campuran,
umumnya terjadi di kota-kota yang berkembang; RTRWP Bali belum sepenuhnya dijadikan
acuan dalam rencana tahapan dan pembiayaan program pembangunan. Permasalahan sosial
budaya lainnya adalah hilangnya penguasaan tanah oleh masyarakat Bali akibat pembangunan
guna keperluan pariwisata. Bagi orang Bali, berbicara tentang-tanah berarti berbicara tentang

dirinya. Ada gagasan yang bersifat simbolik kultural, atau barangkali lebih tepat disebut sosioreligius, yang tersangkut paut di dalamnya. Karena tanah, bagi orang Bali, adalah simbol ibu
yang dipandang bukan semata-mata sebagai pemberi berkah kemakmuran melainkan juga
sebagai tempat meminta perlindungan dan kekuatan. Dengan berkembangnya pariwisata, banyak
masyarakat Bali yang menjual tanahnya kepada para pengusaha untuk keperluan pembuatan
tempat wisata, atau bahkan lebih parah adalah masyarakat Bali yang tanahnya dicabut begitu saja
oleh pemerintah atau pemerintah daerah, dengan alasan tanah tersebut tanah negara.. Bila
keadaan ini berlangsung terus, maka akan muncul ribuan orang miskin, karena sebagai petani, ia
tidak lagi memiliki lahan garapan. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka perlu ada ketegasan
dalam penerapan aturan tata ruang, terutama untuk keperluan pariwisata Bali. Program Bali
Clean and Green yang dicanangkan pemerintah Provinsi Bali perlu diapresiasi dalam mengatasi
permasalahan pencemaran lingkungan. Dukungan dari masyarakat sangat penting untuk
merealisasikan program dari pemerintah ini demi kelangsungan hidup bersama. Masyarakat
jangan secara mudah terpengaruh atas iming-iming uang terhadap pembangunan pariwisata yang
tidak sistematis, sehingga menyebabkan kerusakan dan keseimbangan terhadap kearifan lokal
berkurang. Kebijakan pembangunan daerah juga harus dilakukan dengan prinsip-prinsip
pembangunan yang berwawasan lingkungan dan bersifat holistik seperti yang tertuang dalam
Agenda 21 Nasional dan Agenda 21 Daerah yang bertujuan untuk mengintegrasikan
pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan ke dalam kebijakan. Dalaman tataran konkrit,
kebijakan pembangunan berkelanjutan dilakukan dengan penerapan prosedur perizinan yang
lebih ketat, yang terkoordinasi antara provinsi dan kabupaten/kota. 5. Pertahanan dan keamanan
Mudahnya akses masuk ke pulau Bali dari berbagai negara, menjadikan Bali pada khususnya,
dan Indonesia pada umumnya menjadi rentan disusupi kekuatan asing yang mematai-matai atau
bahkan menyusun kekuatan guna melemahkan Indonesia. Penguasaan lahan secara besar-besaran
di tengah minimnya lahan, suatu saat akan menyebabkan kelangkaan lahan di Bali, sehingga
berpotensi menyebabkan terjadinya konflik perebutan lahan. Untuk mengatasi permasalahan ini,
maka perlu ada pemahaman yang baik kepada masyarakat mengenai ancaman dari pihak asing
terhadap kekuasaan Indonesia. Hal ini megingat sistem pertahanan Indonesia menganut system
pertahanan smesta, dimana rakyat menjadi komponen pendukung dalam pertahanan negara.
Dengan pemahaman yang baik dari masyarakat, maka masyarakat dapat menangkal secara dini
segenap potensi ancaman terhadap keutuhan NKRI. Selanjutnya untuk mengatasi konflik
pertanahan, maka perlu ada ketegasan pemerintah dalam pendistribusian hasil-hasil
pembangunan. Konflik biasanya terjadi karena faktor ekonomi. Selama masyarakat sejahtera,
maka konfilik cenderung dapat dibendung. IV. PENUTUP Bali adalah aset nasional yang harus
dijaga bersama. Pembangunan Bali harus dilakukan dalam kerangka NKRI serta dilakukan
secara sistematis dan terpadu agar terwujud kelestarian fungsi lingkungan hidup. Pembangunan
Bali juga harus dilakukan dengan memperhatikan kepercayaan dan kearifan lokal dalam rangka
menjaga keharmonisan dengan Tuhan, dengan alam, dan dengan sesama. Dengan demikian, Bali
tetap menjadi the last paradise, bukan the lost paradise yang menuju kehancurannya. DAFTAR
PUSTAKA Buku/Artikel Lestari, Desak Putu Rahayu. Pembangunan Pariwisata Bali Memiliki
Dampak Negatif Terhadap Lingkungan Fisik dan Tergerusnya Kearifan Lokal. Palguna, I Dewa
Gede. Saya Sungguh Mencemaskan Bali. Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi: Jakarta.
2008. Suarca, I Nengah. Tata Ruang di Propiinsi Bali. Internet bkpm.go.id bps.go.id
indonesia.go.id Roziqin Matlap /roziqinmatlap suka dengan hal-hal yang berbau hukum, politik,
agama, sosial Selengkapnya... IKUTI Share 0 0 0 KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA,
SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS. LABEL

sosbud humaniora TANGGAPI DENGAN ARTIKEL RESPONS : 0 NILAI : 0 Beri Nilai


KOMENTAR : 3 Roziqin Matlap01 Oktober 2013 23:10:24 ya, perlu hati-hati pak Balas
Nyoman Lisnawa02 Oktober 2013 00:16:16 katanya orang bali jual tanah untuk beli bakso,
sedangkan orang jawa jual bakso untuk beli tanah, maka saya tahun 1973 sudah merantau ke
Lombok dengan catatan aset tetap ada di bali untuk menambah penghasilan, dan bali tetap tanah
leluhur bagi orang bali, sehingga harus tetap dipertahankan kelestarian budaya dan kokohkan
adat, jangan menjual tanah untuk investor....... bila dijual, maka sama halnya mentelantarkan
anak cucu orang bali,...... Balas amir syarif01 Oktober 2013 22:52:29 apalagi kalau kaum fanatik
masuk dan berkuasa di BALI, hilang tak berbekas dah Surga BALI. Balas Featured Article Tiga
Puluh Tahun Merawat Anak Down Syndrome Amirsyah Oke 09 Juni Headline 1 Cerpen | Pria
yang Kehilangan Ombaknya karena Dicuri* Handy Fernandy 21 Maret 2016 2 Helikopter TNI
AD Crash Karena Cuaca?! john brata 21 Maret 2016 3 Inilah Pemenang Review Gerebek KPK
di Thai Alley! Kompasiana 21 Maret 2016 4 Manor Tampak Setengah Hati dan Strategi Jitu
Mercedes Yosep Efendi 21 Maret 2016 5 [KJogGoes] Kompasianer Jogja Obrak-Abrik
Gedung Agung (Istana Yogyakarta) Riana Dewie 21 Maret 2016 Nilai Tertinggi TTM, Bercinta,
ML, Hamil Duluan, MBA Married by Accident Cuker 21 Maret Bercinta Tanpa ML Selsa 21
Maret [Standar Ganda] Kamu Tionghoa ya? (Rasis), Kamu Jawa ya? (Tidak Rasis) Revaputra
Sugito 21 Maret Bisakah Ahok Menjaga Momentum? Lora 21 Maret [KJogGoes] Kompasianer
Jogja Obrak-Abrik Gedung Agung (Istana Yogyakarta) Riana Dewie 21 Maret Terpopuler
Ahmad Dhani: RRC Cabang Indonesia Sayeed Kalba Kaif 21 Maret Jamaah Maiyah adalah
Kader dari Indonesia yang Sejati? Robbi Gandamana 21 Maret Gara-gara Ahok, Menjadi
Petugas Partai Berubah Menjadi Kebanggaan Hanny Setiawan 21 Maret 10 Masukan Demokrat
untuk Pemerintahan, Matahari Kembar, dan Peran Bulan dan Matahari Susy Haryawan 21 Maret
Manor Tampak Setengah Hati dan Strategi Jitu Mercedes Yosep Efendi 21 Maret Tren di Google
Pelajaran dari Pemotongan 20% Tunjangan Kinerja (penghasilan) Pegawai Pajak Metik Marsiya
21 Maret 2016 Jokowi Beking Penuh Ahok, Rencana DPR Gagal Total, dan "Kodok" pun
Tertawa Ricky Vinando 17 Maret 2016 Jamaah Maiyah adalah Kader dari Indonesia yang Sejati?
Robbi Gandamana 21 Maret 2016 Gara-gara Ahok, Menjadi Petugas Partai Berubah Menjadi
Kebanggaan Hanny Setiawan 21 Maret 2016 Ridwan Kamil yang Aniaya Sopir Angkot, lha
Mulut Ahok yang Dibawa-bawa Laura Irawati 22 Maret 2016 Gres Mengupas Pernyataan
Prasetyo Edi Marsudi, Negara ini Dibangun oleh Parpol Teguh S Sungkono 22 Maret
Perbandingan antara Kartun dengan Sinetron dari Sudut Pandang Pendidikan Noor Wahidah
Atmo Wiyono, S.Pd.I 21 Maret Pemberantasan Buta Aksara, Memerdekakan Bangsa dari
Kebodohan Ahmad Tarmizi 21 Maret Tiga Perempuan, Tiga Keberanian Zely Ariane 21 Maret
Denting Di Lantai Surga Langgengnuralam 21 Maret Tentang Kompasiana Syarat & Ketentuan
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/roziqinmatlap/bali-surga-diambangkehancuran_55290965f17e61db2d8b4575

Bali : Surga Investasi dan Alih Fungsi Lahan


February 20, 2012 by heryindrawan Leave a comment

Oleh : Hery Indrawan

Alih Fungsi Lahan Di Bali


https://heryindrawan.wordpress.com/2012/02/20/bali-surga-investasi-dan-alih-fungsi-lahan/
Bali merupakan pulau kecil yang luasnya 5.632,86 km2 dengan daya dukung
terbatas. Keadaan riil itu sekarang telah mulai menampakkan permasalahan di
berbagai sektor, terutama tata ruang dan wilayah.

Beberapa permasalahan tata ruang dapat misalnya diambil contoh mengenai, pertama,
pembangunan fisik fasilitas pariwisata yang kontraproduktif dengan pola pertanian dan
keseimbangan ekologi. Kedua, permasalahan stabilitas ekonomi yang terkadang berbenturan
dengan spriritual dan budaya Bali.
Semakin rumitnya permasalahan penerapan pola perencanaan tata ruang di Bali, dikawatirkan
akan merubah tatanan budaya dan adat masyarakat Bali itu sendiri. Disamping itu, terpusatnya
kegiatan perekonomian di Bali selatan, mencerminkan ketidakmerataan pembangunan antara
Bali selatan dan Bali utara.
Faktor Pendorong Alih Fungsi Lahan
Jika diperhatikan di sektor pariwisata, Badung, Denpasar dan Gianyar begitu mendominasi.
Dominasi ini nampak dari digenjot habis-habisannya potensi wisata di wilayah tersebut, sampaisampai sektor pertanian menjadi anak tiri. Dampak susulan dari semangat pariwisata-isme
tersebut adalah lahirnya gerakan alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi fasilitas bisnis
(Pariwisata dan pertokoan). Dalam sepuluh tahun terakhir tercatat telah terjadi alih fungsi lahan
mencapai 1000 ha/tahun, dari tanah pertanian beralih sebagai penunjang fasilitas publik seperti,
perumahan, pertokoan dan penunjang pariwisata lainnya.
Banyak faktor yang mendorong terjadinya alih fungsi lahan di Bali. Pertama, murahnya harga
produk pertanian yang tidak sesuai dengan biaya produksi yang sering kali mengakibatkan petani
merugi. Akibatnya banyak petani beralih profesi, menjadi buruh bangunan misalnya. Kedua,
Pertanian dianggap sebagai mata pencaharian tambahan bukan sebagai mata pencaharian utama,
karena tidak mencukupi kebutuhan petani.
Di pasaran banyak produk-produk pertanian impor baik dari luar daerah Bali maupun dari luar
negeri. Ini menambah catatan suram, bagaimana Bali sekarang sangat tergantung pada produk
pertanian luar. Seperti sayuran dan buah-buahan yang masih didatangkan dari luar daerah.
Industri Pariwisata di Bali sangat sedikit menyerap hasil pertanian masyarakat Bali, yang
cerminan gagalnya sinergitas antara sektor pertanian dan pariwisata. Terlebih, produk pertanian

lokal kurang diminati oleh masyarakatnya sendiri, ini terlihat dari bagaimana upacara keagamaan
di Bali sekarang ini cenderung dimeriahkan oleh buah-buah impor.
Rusaknya saluran irigasi juga turut mendorong tingginya alih fungsi lahan. Kerusakan saluran
irigasi di daerah hulu akibat pembangunan perumahan atau vila menimbulkan banyak lahan kritis
di daerah hilir. Masalah tersebut juga menjadi variable yang mendorong petani untuk menjual
tanahnya karena dianggap tidak produktif lagi. Dorongan kuat juga terjadi di kalangan generasi
muda bali itu sendiri. Keengganan pemuda untuk menggeluti sektor pertanian, sehingga tidak
adanya regenerasi yang berkelanjutan dalam pengelolaan pertanian.
Tidak hanya berakibat pada alih fungsi lahan pertanian. Pengeloaan ruang selama ini yang lebih
condong ke pembangunan menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan yang sangat
memprihatinkan. Misalnya saja daerah sempadan sungai ayung yang dulunya ditumbuhi
pepohonan, kini banyak dibangun fasilitas pariwisata. Pembangunan itu menyebabkan daerah
sempadan sungai ayung menjadi rawan longsor dan banjir. Itu adalah akibat dari menurunnya
daya resap tanah terhadap air hujan yang juga berpengaruh terhadap menurunnya debit air
sungai. Daerah sempadan pantai menjadi area privat sehingga masyarakat pribumi kehilanga hak
untuk menikmati keindahan alamnya sendiri.
Masyarakat Bali tidak berdaulat di tanahnya sendiri, itulah realitas yang hampir sempurna,
karena sebagian sumber daya alam (tanah) pindah kepemilikan dari masyarakat pribumi ke
golongan kapitalis. Begitu besarnya alih fungsi lahan dan berpindahnya kepemilikan lahan di
Bali, bukan hal yang mustahil jikalau lambat laun tanah Bali beserta Budayanya dijual kepada
asing.
Pemerintah Gila Pariwisata
Rencana pemerintah untuk membangun bandara internasional ke-2 di Bali yang tertuang dalam
Perda No. 16 tahun 2009 tentang RTRWP Bali ditakutkan akan mempercepat kehancuran Bali
dan eksploitasi ruang secara besar-besaran. Bandara yang rencananya akan dibangun di daerah
Bali Utara yaitu Buleleng, akan mengakibatkan alih fungsi lahan yang cukup tinggi. Untuk
pembangunan bandara saja memerlukan lahan sekitar 1000 ha, belum lagi dampak yang akan
ditimbulkan dari pembangunan bandara tersebut.
Dengan adanya bandara tentunya akan memerlukan beragam fasilitas. Seperti penginapan dan
pertokoan yang akan merampas lahan pertanian. Kembali lagi, apakah masyarakat bali mampu
bersaing untuk membangun fasilitas tersebut? Atau masyarakat Bali hanya akan menjadi budak
di telapak kaki para investor?
Bersambung..

Gubernur Bali Pesimistis Perda Bisa Setop Alih Fungsi


Lahan
Feri Kristianto Jum'at, 13/03/2015 12:41 WIB
21

Alih fungsi lahan pertanian ke proyek-proyek properti membuat persawahan di Bali


kian menyempit.
http://industri.bisnis.com/read/20150313/45/411460/gubernur-bali-pesimistis-perdabisa-setop-alih-fungsi-lahan
Ilustrasi Proyek properti di Ibu Kota/Bisnis

Bisnis.com, DENPASAR - Pemprov Bali mengkhawatirkan alih fungsi lahan pertanian di Pulau
Dewata yang rata-rata seluas 650 Ha per tahun.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika menuturkan kondisi lahan pertanian di Tabanan, dan
Gianyar hampir sudah habis karena alih fungsi menjadi sarana akomodasi.
"Bayangkan 650 ha per tahun kadang kala 1000 ha. Yang saya khawatir Jatiluwih dan Gianyar
Payangan ke atas, itu sudah habis," katanya di hadapan anggota DPR dan DPD asal Bali, Jumat
(13/3/2015).
Dia menjelaskan pembangunan akomodasi wisata seperti villa sudah merangsek hingga ke
pojok-pojok lahan persawahan. Menurutnya, membuat peraturan daerah (perda) yang melarang
pembangunan dapat dipastikan tidak mempan.
Pasalnya, pemilihan lahan berdalih masalah ekonomi yang mendorong mereka menjual sawah.
Pastika mengajak semua kabupaten dan kota agar memikirkan persoalan ini, supaya ke depannya
tanah pertanian di Bali terus berkurang.
"Intinya Bali harus mempertahankan pertanian dalam arti luas," katanya.

Alih fungsi lahan pertanian ancam ketahanan pangan


Minggu, 23 Juni 2013 15:01 WIB | 6.922 Views
Pewarta: I Ketut Sutika

http://www.antaranews.com/berita/381529/alih-fungsi-lahan-pertanian-ancamketahanan-pangan
Seorang wisatawan memotret pamandangan sawah di Jatiluwih, Tabanan, Bali.
Sawah seluas 303 hektare di Kabupaten Tabanan itu diproteksi dari alih fungsi lahan
sekaligus dikelola menjadi obyek wisata setelah diakuinya Subak oleh UNESCO
sebagai Warisan Budaya Dunia.(ANTARA/Nyoman Budhiana)
Sawah, subak, dan sistem pertanian adalah landasan dan bagian integral dari
kebudayaan Bali."
Denpasar (ANTARA News) - Alih fungsi lahan pertanian di Bali dalam lima tahun
belakangan ini sangat mengkhawatirkan sehingga bisa mengancam ketahanan
pangan masyarakatnya, kata Guru Besar Universitas Udayana, Prof Dr I Wayan
Windia.
"Dalam lima tahun terakhir terjadi alih fungsi lahan sekitar 5.000 hektare, atau
setiap tahunnya rata-rata 1.000 hektare," ujar Windia, yang juga Ketua Pusat
Penelitian Subak Universitas Udayana itu di Denpasar, Minggu.
Ia mengatakan, dalam lima tahun sebelumnya rata-rata sawah di Bali berkurang

sekitar 750 hektare setiap tahunnya.


Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan penjualan sawah, dan dinilainya,
semakin cepat dan semakin meluas karena jual beli sawah itu tidak hanya terjadi di
daerah perkotaan, namun juga sampai kepedesaan.
Ia mengemukakan, terjadinya penjualan sawah dengan kecenderungan yang terus
meningkat itu menunjukkan masyarakat setempat mulai kurang menghargai
warisan leluhurnya, padahal sawah itu dibangun dengan berdarah-darah.
Mungkin, menurut dia, masyarakat belakangan ini telah berkembang menjadi orang
yang serakah, pragmatis, dan kemudian idealisme kalah melawan arus
pragmatisme-globalisasi.
Windia menjelaskan, globalisasi dunia ditandai dengan persaingan yang ketat, dan
diwarnai dengan konsumerisme, materialisme, dan kapitalisme.
"Kalau kita kalah, maka kita akan terlindas, dan akibatnya seluruh sistem sosial
masyarakat, termasuk kebudayaannya akan menjadi debu. Sawah, subak, dan
sistem pertanian adalah landasan dan bagian integral dari kebudayaan Bali,"
ujarnya.
Kawasan Subak di Bali dibangun secara susah payah oleh para leluhur masyarakat
Bali karena membuat sawah di kawasan Bali yang berlereng-lereng sangat sulit.
Bahkan, mereka harus membelanya mati-matian setelah sawahnya jadi. Ini pula
yang membuat Subak diakui Oganisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan
Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) dihargai sebagai Warisan
Kebudayaan Dunia.
Oleh sebab itu sawah-sawah yang ada harus tetap dapat dipertahankan,
dilestarikan dan sedapat mungkin tidak dijual, demikian harapan Windia. (*)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT ANTARA 2013
6
Berita Lainnya