Anda di halaman 1dari 20

QUIS

MATA KULIAH MESIN MESIN PERKAKAS


PEMBUATAN MAKALAH

PERANCANGAN PROSES DIE FORGING


PADA PEMBUATAN KATUP MESIN SEPEDA MOTOR

Oleh :
Sugeng Kurniadi

1111 4023

TEKNIK MESIN GANJIL SEMESTER VII


2015/2016
UNIVERSITAS BATAM

PERANCANGAN
1. Analisis Perhitungan
Proses perancangan alat produksi part dan rencana gambar kerja
untuk pembuatan dies yang akan dibuat sesuai dengan. Technical Material
dan draft konstruksi yang disyaratkan oleh pesanan atau keinginan
pelanggan. Technical Material yang dimaksud antara lain part drawing,
spesifikasi die dan spesifikasi mesin. Manufacturing Proses Plan (MPP)
merupakan langkah awal dalam menentukan gambar dies yang akan dibuat
setelah order diterima dari CAD data dan part drawing dari pemesan.
Setelah order diterima kemudian melakukan perancangan, setelah
mengetahui proses dies yang akan dibuat dan komponen-komponen yang
akan digunakan.

Gambar 4. Dies forging katup

Keterangan :
1. Holder guide bush
2. Top plate
3. Die clamp plate
4. Die drawing
5. Guide pin
6. Punch clamp plate
7. Bottom plate
8. Punch drawing
Proses pembuatan katup mengikuti diagram alir sebagai berikut :

Gambar 5. Diagram alir proses pembuatan katup

Dari diagram diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :


a. Bahan baku alloy tool steel X14H14B yang tersedia dipanaskan dalam
tungku, yang sebelumnya tungku sudah dipanaskan lebih dulu.
b. Bersamaan proses pemanasan, die disiapkan.
c.

Setelah logam mendekati titik lebur yang berkisar pada temperatur


antara 723 1.000 C dan die telah siap maka dilakukan proses
peletakan logamuntuk selanjutnya dilakukan proses penekanan.
Setelah proses penekanan selesai dilakukan, selanjutnya dilakukan

proses pemindahan untuk diproses tahap berikutnya. Proses pemeriksaan


produk berdasarkan ukuran dan bentuk. Bila hasil pemeriksaan produk
tidak sesuai dengan ukuran dan bentuk, maka dinyatakan sebagai produk
gagal. Untuk hasil produk yang lolos pada tahap pertama, dilanjutkan
dengan proses permesinan sekaligus

dilakukan proses pemeriksaan.

Apabila tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan maka hasil produk
dianggap rusak. Dari hasil produk yang telah melalui beberapa proses
diatas dan dinyatakan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan maka
dilakukan proses finishing yang selanjutnya dipasarkan.

2. Analisa material katup


Katup berfungsi sebagai pengatur udara masuk dan gas pembakaran keluar
dari ruang bakar. Katup dimana campuran udara bersih masuk disebut
katup hisap (intake valve) dan tempat dimana gas keluar disebut katup
buang (exhaust valve). Dalam sebuah mesin yang menggunakan katup,
setiap katup membuka sekali untuk setiap rotasi crankshaft dalam mesin
ini, camshaft berputar pada kecepatan yang sama dengan crankshaft.
Dalam mesin empat langkah, katup-katup akan membuka setengah lebih
sedikit, oleh karena itu dua putaran penuh crankshaft terjadi di setiap
putaran camshaft.

Gambar 6. Katup

3. Pemilihan Bahan Dies


Die forging ini dapat dibuat dari bahan logamdengan memiliki
persyaratan sebagai berikut :
1. Dapat digunakan berulang kali
2. Dapat digunakan untuik proses semi otomatis
3. Hasil permukaan produk tempa lebihhalus
4. Lebih efisien jika digunakan untuk produksi massal
5. Permeabilitasnya baik
6. Dapat digunakan untuk benda kerja yang bentuknya rumit dan besar
Dalam perencanaan ini yang digunakan sebagai sampel adalah katup
yang terbuat dari material baja karbon sedang ditempa dengan
menggunakan sistem cetakan berongga pada suhu 10000 C. Cetakan
(dies ) terbuat dari bahan hot work toolsteel yaitu AISI seri H11 dengan
properties sebagai berikut :
Kekuatan tarik = 2010 N/mm2
Komposisi = 5% Cr, 1.5% Mo , 0.35 C, 0.3 Mn, 1% Si, 0.4 V

Gambar 7. Die forging untuk katup

Gambar 8. Desain katup yang diproses tempa


Pertama yang dilakukan pada proses menempa adalah memanaskan
benda kerja. Pemanasan yang dahulu dilakukan di dalam api yang diopak
dengan batu bara, kini telah digantikan dengan dapur-dapur tempa yang
diopak dengan gas atau minyak. Keuntungannya adalah suhu yang
diinginkan dapatdipertahankan. Selain itu juga dapat memanaskan bendabenda tempaan yang berukuran besar dan jauh lebih bersih. Suhu tempa
untuk baja 850 - 1150C dengan pertimbangan warna pada saat
dipanaskan seperti pada table data :

Temp = 10000 C, dalam hal ini berdasarkan pertimbangan tabel diatas


dan laju pendinginan akibat gerakan turun dari mesin tempa hidrolik.
Raw material yang digunakan adalah baja silindris 16 mm.
d0 = diameter awal = 14 mm
h0 = tinggi awal = 587 mm
h1 = tinggi setelah ditempa = 34 mm
K = 600 Mpa
Penyelesaian :
Besar regangan sebenarnya dapat dicari dengan
persamaan dibawah ini :

4. Desain Die Forging


Pendekatan yang digunakan dalam mendesain produk hasil proses
ditekankan peranan yang penting dari flash dalam mengontrol pengisian
die dan beban forging yang tinggi yaitu:
- Volume dan berat benda kerja.
- Jumlah langkah yang diperlukan dan bentuknya
- Dimensi flash dalam preforming dan finishing.
- Beban dan energi yang diperlukan pada setiap operasi.
Proses pembentukan logam pada temperatur di atas temperatur
rekristalisasi atau pengerjaan panas memiliki beberapa keuntungan. Salah
satu keuntungan proses pengerjaan panas adalah terjadinya fenomena
rekristalisasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendesain, mengendalikan
dan meningkatkan kualitas struktur produk. Selain itu, pada proses ini
terjadi pula pengurangan cacat-cacat dan diskontinuitas pada material
secara signifikan. Kerugian yang cukup penting dari proses pembentukan
logam pada temperatur di atas temperature rekristalisasi ini di antaranya
adalah lebih mudahnya terjadi interaksi antara material dan lingkungan.
Secara themodinamik, pada temperatur tinggi akan lebih mudah terjadi
reaksi-reaksi antara logam dan atmosfer, seperti misalnya reaksi oksidasi.
Pembentukan scale pada permukaan benda kerja misalnya, merupakan
masalah yang harus diatasi. Pada kondisi yang lebih ekstrim rekasi-reaksi
kimia yang terjadi dapat berpengaruh pula pada struktur dan sifat-sifat
produk. Kerugian lain yang sangat signifikan misalnya adalah toleransi
dimensi yang kurang baik serta buruknya penempaan permukaan.

5. Gaya Penempaan
Salah satu proses fabrikasi yang cukup penting adalah proses pembentukan
material. Tujuan dari proses ini untuk memproduksi suatu barang. Jadi
bukan untuk tujuan reparasi sebagaimana proses pengelasan. Proses
pembentukan dilakukan dengan memberikan deformasi platis pada
material hingga mencapai bentuk yang diinginkan.

Perhitungan besar gaya dan usaha yang dibutuhkan cukup kompleks. Ini
terjadi karena gerakan bahan tertahan oleh cetakan pada saat pembentukan.
Sehingga besar tekanan tergantung pada komplekan bentuk bahan yang
dikehendaki. Sehubungan dengan hal itu perhitungan kebutuhan gaya dan
usaha dengan
mempertimbangkan faktor bentuk. Proses tempa dengan cetakan berronga,
besar gaya (F) yang dibutuhkan untuk membentuk material adalah :
F = Kp . Yf . A
Keterangan :

= gaya yang dibutuhkan

Yf

= tegangan pada saat material terbentuk (flow stress)

= luas penampang pada saat material luluh

Kp

= faktor bentuk yang besarnya dapat dilihat pada tabel.

Raw material yang digunakan adalah baja silinder berdiameter 5/8 inch
(15,875 mm), panjang : 771 mm

Dalam hal ini :

Keterangan :
A0

= luas penampang awal,

h0

= tinggi awal dan

h1

= tinggi akhir.

Tegangan pada saat material terbentuk ( flow stress ) n=0,17


Keterangan:
K

= koefisien kekuatan bahan untuk proses hot forging operatian


= 550 Mpa - 1000 MPa

Besar regangan sebenarnya dapat dicari dengan persamaan dibawah ini :

Proses tempa dengan cetakan berronga, besar gaya (F) yang dibutuhkan
untuk membentuk material adalah :
F = Kp . Yf . A
F = 5 x 541 x 0.002656
= 7.184 N

6. Komponen Dies Forging Katup


Untuk merencanakan sebuah perkakas punching tool, kita harus
mengetahui secara pasti keinginan dari pemesanannya. Untuk itu perlu
diperhatikan beberapa ketentuan, diantaranya :
- Produk yang dikehendaki harus jelas, bisa berupa contoh jadi atau
gambar
yang jelas.
- Jumlah produk yang akan dikerjakan.
- Jenis material yang akan digunakan untuk produksi, termasuk biayanya.
- Jenis atau kapasitas mesin press yang akan digunakan.

Keempat ketentuan di atas merupakan dasar untuk merencanakan sebuah


perkakas punching tool,sehingga kita dapat menentukan lebih lanjut
bagaimana perkakas itu nanti dibuat. Selain itu, sangat perlu diperhatikan
adanya tiga hal berikut ini:
- Murah : tidak terlalu banyak komponen yang diperlukan.
- Kuat : Secara secara menyeluruh, die harus kuat/ kokoh, demikian pula
komponennya.
- Praktis : jika suatu saat diperlukan perbaikanperbaikan misalnya
pengasahan terhadap punch, die atau komponen yang lainnya harus tidak
perlu banyak membongkar komponen yang lain. Sebelum melakukan
perencanaan sebuah jig yang difungsikan untuk memproduksi Katup Tutup
Silinder, kita harus mengetahui terlebih dahulu komponen-komponen
pembentuk sebuah jig sebagai berikut:
6.1 Shank
Merupakan bagian perkakas punching tool yang paling atas dan ini
langsung berhubungan dengan mesin press-nya. Jadi termasuk bagian
yang sangat penting. Bentuk dan ukurannya tergantung dari bentuk
holder yang tersedia pada mesin yang dipakai. Adapun cara
memasang shank ini dengan bagian top plate/upper shoe.
6.2 Punch holder
Bagian dari perkakas ini sering disebut dengan top shoe/upper
shoe, yang mempunyai fungsi untuk membawa punch dan tempat
memasang shank. Sebagai bagian dari perkakas punching tool yang
paling atas dan berhubungan langsung dengan mesin press-nya,
biasanya ukurannya cukup besar dan tebal.
6.3 Punch plate
Apabila ada punch yang tidak dapat langsung pada upper shoe
karena bentuk yang tidak memungkinkan, maka sering diperlukan
pemegang yang disebut dengan punch plate atau retainer .

Kemudian plat ini dipasang terhadap

upper shoe

dengan

menggunakan baut dan dowel pin/ positioning pin agar posisinya


tepat. Alat-alat pemegang ini juga sering disebut dengan fastener.
6.4 Punch
Pada perkakas punching tool bagian utamanya adalah alat
pemotongnya yang bekerja berpasangan. Punch adalah alat potong
yang bersifat jantan (male part). Dan biasanya bagian ini dalam
bekerjanya akan bergerak naik-turun, dan terletak pada posisi di atas.
Bentuk permukaan potongnya tergantung dari bentuk yang kita
inginkan. Cara pemasangannya juga bermacam-macam untuk bentuk
kotak atau tidak bulat sering perlu adanya pin penjaga posisi atau
securing pin agar tidak terputar, juga punch dengan ukuran kecil
sering dibuat dengan pundak lebih besar.
6.5 Pilot pin
Pilot pin adalah pengarah yang umumnya tedapat pada perkakas
progressive, yang gunanya utuk mengatur ketepatan posisi dari suatu
jarak presisi yang
harus dipenuhi. Biasanya dengan menempatkan/ memasukkan pilot
pin tersebut masuk ke dalam lubang yang sudah dibuat sebelumnya,
operator mengatur posisi yang harus ditepati, misal jarak langkah
feeding dari material strip, jarak lubang terhadap blank-nya, jarak
dari pengerjaan satu dengan lainnya atau jarak progressive-nya.
6.6 Die
yang berada di bagian bawah yang menjadi pasangan punch, jadi
bersifat betina (female part). Tentu saja bentuk lubang profilnya
sama dengan profil punch-nya dengan clearance tertentu. Cara
pemasangannya ada bermacam-macam, bisa merupakan die plat
yang utuh, bisa di insert atau menjadi ke dalam suatu holder ataupun
merupakan gabungan beberapa lubang profil yang menjadi satu.

Untuk bentuk lubang profil yang rumit biasanya die dipotong dengan
menggunakan wire cut machine dengan program tertentu dan
mencapai surface finish yang bagus bila dipotong beberapa kali.
6.7 Base plate
Nama lain dari bagian ini adalah bottom shoe atau block, yaitu
sebuah block yang cukup tebal dimana die terpasang. Pada block ini
tersedia tempat baut yang
berguna untuk mengikatnya dengan meja mesin press. Kadangkadang juga terpasang guide pin/ column ditempat block ini. Karena
ukurannya cukup besar sering terbuat dari besi tuang (cast iron).
6.8 Baut pengikat
Digunakan sebagai pengikat dalam menghubungkan komponenkomponen ke dalam suatu struktur tunggal. Baut yang digunakan
ialah socket-head cap screw atau biasa juga disebut baut L. Ini
dimaksudkan untuk memberikan kemudahan dalam memasang atau
membuka komponen.

7. Memahami Konsep Model


Pemahaman disini adalah desainer harus mengetahui betul seperti
apa yang dimaksudkan dari informasi yang terdapat di data referensi awal.
Ini biasanya berupa gambar teknik, model dalam bentuk format file, atau
sample produk. Dengan pemahaman yang baik diharapkan tidak terjadi
kesalahan penerjemahan dari data referensi terhadap model yang akan
dibuat nantinya. Seperti halnya untuk pemodelan die forging ini. Dengan
kuatnya pada data referensi, maka akan mempermudah dalam penentuan
langkah yang akan diambil dalam membuat suatu desain model dengan
gambar. Karena langkah ini setiap orang pasti berbeda-beda dan
tergantung dari tingkat pemahaman dan pengalaman masing-masing.

8. Hasil Akhir Disain Produk


Dalam proses forging yang umum berlaku model dari benda akan
mengalami modifikasi, sehingga dihasilkan suatu bentuk yang mudah
dicetak dan juga menghasilkan suatu cetakan yang sesederhana mungkin.

9. Pemodelan Die Forging


Pemodelan die forging dilakukan dengan bantuan perangkat lunak
AutoCAD. Pemodelan die forging yang terdiri dari pemodelan up die dan
pemodelan bottom die terlebih dahulu dilakukan di AutoCAD yang
kemudian dikerjakan proses lanjutan. Hasil dari desain produk tersebut
digunakan untuk membuat benda dengan melalui beberapa proses tahapan

PEMBAHASAN
Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mendesain die forging katup
sesuai dengan desain pola yang telah dirancang dan akan dirakit dengan
komponen yang lain sehingga dapat berfungsi dengan baik. Studi literature
dilakukan untuk mempelajari tentang proses tempa. Selain itu juga untuk
mempelajari
tentang pembuatan konstruksi mesin tempa.
1. Proses Forging
Proses pengerjaan logam tergolong salah satu dari proses manipulasi
logam yang terdiri dari proses pengerjaan panas (hot working) dan proses
pengerjaan dingin (cold working ). Proses pengerjaan panas dilakukan diatas
suhu rekristalisasi material, sedangkan proses pengerjaan dingin dilakukan
dibawahnya. Pada suhu diatas rekristalisasi, material (logam) mempunyai
atom-atom yang mudah bergerak, sehingga ikatan magnetis antar atom menjadi
lemah. Dengan ikatan yang lemah, bahan akan mudah dibentuk walaupun
perubahan deformasi demikian tinggi. Dengan kondisi seperti itu pengerjaan
panas banyak digunakan untuk membentuk material yang membutuhkan
deformasi tinggi seperti pembuatan profil-profil baja, billet, komponenkomponen mesin yang cukup besar dan beberapa proses lainnya. Pengerjaan
dingin yang dilakukan dibawah suhu rekristalisasi material yang menyebabkan
benda kerja sulit dibentuk dan membutuhkan tenaga yang besar. Hal ini
disebabkan untuk membentuknya diperlukan paksaan terhadap atom- atom
tersebut agar dapat bergerak. Bahan yang dikerjakan dengan cara ini mepunyai
permukaan yang keras karena adanya bentukbentuk atom yang pipih akibat
tekanan. Pengerjaan dengan cara ini lebih cocok digunakan untuk pembentukan
material yang tidak membutuhkan perubahan deformasi tinggi, seperti
pembuatan katupseng, konektor kabel, peralatan rumah tangga dll. Disamping
itu pengerjaan ini juga dapat digunakan untuk pengerasan permukaan material.

Adapun tahapan pada proses pembuatan katup dapat ditunjukkan pada gambar
dibawah
1. Bahan awal

2. Tahap pertama

3. Tahap kedua

Gambar 4.1. Tahapan proses forging katup


2. Die Forging
Faktor yang sangat perlu diperhatikan adalah arah aliran logam agar diperoleh
suatu susunan seratserat logam yang menguntungkan. Pembuatan tebal tipisnya
benda kerja tergantung pada arah kekuatan yang kita kehendaki. Rusuk (ribs)
biasanya perlu ditambahkan pada benda kerja, guna menambah

kekuatan. Die untuk forging terbuat dari baja campuran, yang berisi chromnickel-molydenum, chrom-nickel atau kombinasi dari chrom-molybdenum.
Die ini bersifat sangat keras dan mempunyai titik lebur yang sangat tinggi.
Apabila sebuah die telah aus, maka die itu akan dikikis lagi, sehingga dapat
digunakan untuk fase sebelumnya. Persyaratan yang diperlukan dalam
pembuatan die adalah :
1. Diusahakan agar parting line terletak pada suatu bidang.
2. Parting line diusahakan memberi die menjadi 2 bagian yang simetris.
3. Radius dari benda kerja diusahakan cukup besar
4. Ribs diusahakan agar rendah dan lebar.
5. Harus diperhatikan dan diperhitungkan sedemikian rupa untuk mencegah
aliran logam yang terlalu banyak ke satu arah.
6. Aliran logam diatur, sehingga arah serat dapat menambah kekuatan benda
kerja.
7. Perlu adanya toleransi dimensi pada benda kerja.
Secara garis besar kegagalan dibagi menjadi 2 yaitu kegagalan produk dan
kegagalan cetakan yang mempunyai keterkaitan baik langsung maupun tidak
langsung. Contoh kegagalan tidak langsung adalah produk gagal karena
volume raw materialnya kurang, demikian juga gagal karena kesalahan
penyetelan (bad setting) yang memungkinkan terjadinya benturan. Cacat
produk (defect) diklasifikasikan menjadi 2 yaitu pertama kemungkinan
kemungkinan cacat yang digolongkan menjadi 6 group yaitu :
Cacat lipatan (folds)
Cacat geser (shear defects)
Retak (cracks)
Cacat permukaan (surface defects)
Cacat bentuk (form defects)
Cacat struktur (structural defects)

3. Material
Salah satu faktor yang menentukan kualitas dari produk tempa adalah
pemilihan bahan / material untuk die. Sifat mampu keras terbaik dari suatu
material adalah yang dapat dikeraskan hingga kedalaman lapisan tertentu dari
material tersebut. Mampu keras ini tergantung dari komposisi dari tool steel.
Keausan adalah perubahan tiba-tiba dari dimensi atau bentuk dari suatu
komponen karena korosi, patah, abrasi dan pergerakan dari material aus itu
sendiri. Abrasi akibat gesekan merupakan hal terpenting yang harus
diperhatikan pada kasus keausan die.
Dalam hot forming baja untuk die harus mempunyai kekerasanpanas yang
tinggi dan mampu menahan kekerasan tersebut hingga periode tambahan dari
peningkatan temperatur. Proses produksi memperhatikan geometri dan kondisi
internal produk (sebagai contoh adalah aliranlogam (metal flow) sedangkan
disain cetakan disamping tergantung akan hal tersebut diatas juga menjawab
bagaimana agar cetakan dapat bertahan lama. Analisis perancangan cetakan
dan tahapan produksi merupakan tahap awal terpenting dalam proses
pembentukan benda kerja dengan tempa (forging). Perancangan cetakan dan
tahapan produksi merupakan tahap awal terpenting dalam proses pembentukan
benda kerja dengan tempa (forging).
Banyak faktor yang berpengaruh dalam perancangan proses forging yang
harus diperhatikan agar diperoleh hasil yang optimal.

Berdasarkan

penelitian sebelumnya diperoleh empat variable utama yang berperan dalam


proses pembentukan tempa yaitu temperature, tekanan, kecepatan pemukulan
dan pelumasan yang diberikan. Empat variable utama ini memberi kontribusi
yang besar terhadap tingkat kerusakan (failure), keausan (wearing) atau cacat
(defect) lainnya pada proses forging. Dalam perencanaan ini yang digunakan
sebagai sampel adalah katupyang terbuat dari material baja karbon sedang
ditempa dengan menggunakan sistem cetakan berongga pada suhu 10000 C.

Cetakan (dies ) terbuat dari bahan hot work toolsteel yaitu AISI seri H11.

Gambar 11. Die forging untuk katup

KESIMPULAN
Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mendesain die forging katup sesuai
dengan desain pola yang telah dirancang dan akan dirakit dengan proses
pembentukan logam yang digunakan oleh industri nasional adalah proses tempa
(forging), khususnya proses tempa cetakan tertutup (closed die forging). Produk
hasil penempaan memiliki keunggulan berupa kekuatan dan ketangguhan yang
lebih baik dibanding dengan proses lainnya, sehingga sangat cocok untuk
membuat komponen yang aplikasinya handal terhadap tegangan yang tinggi
(highly stress). Dari pembahasan perancangan die katup dapat di ambil beberapa
kesimpulan, antara lain:
1. Proses desain model die forging dengan proses mendesain benda yang
sebelumnya sudah ada untuk melakukan modifikasi atau perubahan
kearah yang diharapkan, ada dua metode yang dapat diterapkan, yaitu:
Metode CMM (Coordinat Measuring Machine) dan Metode Optical
Contour Projector. Komponen hasil perancangan adalah :
a. Holder guide bush
b. Top plate
c. Die clamp plate
d. Die
e. Guide pin
f. Punch clamp plate
g. Bottom plate
h. Punch
2. Dalam perencanaan ini yang digunakan el adalah katup yang terbuat dari
material alloy tool steel X14H14B sedang ditempa dengan menggunakan
sistem cetakan berongga pada suhu 10000 C. Cetakan ( dies ) terbuat dari
bahan hot work toolsteel yaitu AISI seri H11. Gaya penempaan yang
dilakukan untuk menepa katup adalah 170,3 kg