Anda di halaman 1dari 22

PENDAHULUAN

Atresia Ani atau biasa disebut juga anus imperforata merupakan salah satu
bentuk malformasi anorektal dengan kondisi dimana tidak terdapatnya lubang
pada organ anus di dalam tubuh yang pada kondisi fisiologisnya organ ini
seharusnya berlubang dan merupakan tempat untuk menyalurkan zat sisa makanan
dari saluran pencernaan. Istilah Atresia Ani berasal dari kata yunani yang terdiri
dari dua bagian yaitu Atresia a yang berarti tidak ada dan tresis yaitu lubang.
Sedangkan ani adalah kata lain dari anus atau dubur. Atresia ani merupakan suatu
penyakit atau kelainan kongenital yang disebabkan karena terjadi kegagalan
pemisahan kloaka pada masa embrional. Kelainan ini sangat mudah untuk
diketahui. namun sering kali terlewatkan karena kurangnya ketelitian seorang
pemeriksa dalam melakukan pemeriksaan bagian perineum pada bayi baru lahir. 1
Angka kejadian rata-rata malformasi anorektal di seluruh dunia adalah 1
dalam 5000 kelahiran. Secara umum, atresia ani lebih banyak ditemukan pada
laki-laki daripada perempuan. Fistula rektouretra merupakan kelainan yang paling
banyak ditemui pada bayi laki-laki, diikuti fistula perineal. Sedangkan pada bayi
perempuan, jenis atresia ani yang paling banyak ditemukan adalah atresia ani
disertai fistula rektovestibular/rectovaginal dan fistula perineal. Beberapa
penelitian juga menyebutkan bahawa insidensi atresia ani letak rendah lebih
banyak ditemukan dari pada atresia ani letak tinggi.1

KASUS I

Nama
Tanggal Lahir
Tanggal Masuk
Jenis Kelamin
Agama
Alamat
1.

: By.Ny.S
: 17 November 2016
: 17 November 2016
: Laki-laki
: Islam
: jl. Layana Indah

ANAMNESIS
Bayi jenis kelamin laki-laki lahir pada tanggal 17 November 2016
pukul 18.40 wita. Bayi lahir secara section caesarea di RSUD Undata Palu
tanggal 17 November 2016 pukul 18.40 wita, atas indikasi bayi besar, berat
badan lahir 3.500 gram, panjang badan 49 cm. Bayi langsung menangis,
APGAR score 7/9, air ketuban berwarna putih keruh, merintih (-), sianosis
(-), retraksi dinding dada(-), Anus (-), Palatum (+)
Riwayat kehamilan ibu merupakan kehamilan pertama dan tidak ada
riwayat abortus G1P0A0. Usia ibu pada saat hamil adalah umur 23 tahun.
Selama kehamilan ibu rutin melakukan pemeriksaan ANC. Umur kehamilan
40 minggu. Tidak ada riwayat merokok, tidak mengkonsumsi alcohol dan
tidak menggunakan obat-obatan terlarang, Ibu tidak melakukan aktivitas
berat selama hamil..

2. PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Vital
Denyut Jantung
: 130 x/menit
Respirasi
: 48 x/menit

Suhu Tubuh
: 36,70C
CRT
: < 2 detik
Data Antropometrik
Berat Badan
: 3.500 gram
Panjang Badan
: 49 cm
Lingkar Kepala
: 34 cm
Lingkar Dada
: 36 cm
Lingkar Perut
: 33 cm
Lingkar Lengan
: 13 cm
Sistem pernapasan
Sianosis
: (-)
Merintih
: (-)
Apnea
: (-)
Retraksi dinding dada
: (-)
Gerakan dinding dada
: Simetris
Pernfasan Cuping Hidung : (-)
Stridor
: (-)
Bunyi Napas
: Bronkovesikular +/+
Bunyi Tambahan
: Ronkhi -/-, Wheezing -/-

DOWNE SCORE

Frekuensi Napas : 0
Retraksi
:0
Sianosis
:0
Udara masuk
:0
Merintih
:0
Total Skor
:0
Kesimpulan
: Tidak Ada Gangguan Napas
Sistem Kardiovaskular
Bunyi Jantung
: Teratur
Murmur
: (-)
Sistem Hematologi
Pucat
: (-)
Ikterus
: (-)
Sistem Gastrointesinal
Kelainan dinding abdomen: Distensi abdomen, mengkilat, tampak vena
superficial
Muntah
Diare

: (-)
: (-)

Residu lambung
Organomegali
Bising Usus
Umbilikus
o Keluaran
o Warna kemerahan
o Edema

Sistem Neurologi
Aktivitas
Kesadaran
Fontanela
Sutura
Refleks Cahaya
Kejang
Tonus otot
Sistem Reproduksi
Anus Imperforata
Hipospadia
Hernia
Hidrokel
Testis

: (-)
: (-)
: (+) Kesan Normal
: (-)
: (-)
: (-)

: Baik
: Composmentis
: Datar
: Belum Menutup
: +/+
: (-)
: Eutrofi
: (+)
: (-)
: (-)
: (-)
: (+) Sudah turun, guratan pada scrotum banyak dan

jelas.
Pemeriksaan Lain
Ekstremitas
: Akral Hangat
Turgor
: Kembali cepat
Kelainan kongenital: anus imperforata
Trauma lahir
: (-)

SKOR BALLARD

Maturitas Neuromuscular
Sikap Tubuh
Persegi Jendela
Rekoil Lengan
Sudut Poplitea
Tanda Selempang
Tumit ke Kuping
Total

:4
:3
:4
:4
:3
:3
: 21

Maturitas Fisik
Kulit
Lanugo
Permukaan Plantar
Payudara
Mata/Telinga
Genitalia Pria
Total
Total skor
Estimasi umur kehamilan

:4
:2
:4
:3
:3
:3
: 19
: 40
: 40 Minggu

Penilaian pertumbuhan bayi


berdasarkan klasifikasi neonates
menurut Battaglia & Lubchenco
(1967)
KB

: Kurang Bulan

CB

: Cukup Bulan

LB

: Lebih Bulan

BMK : Besar masa kehamilan


SMK : Sesuai masa kehamilan
KMK : Kecil masa kehamilan

Kesimpulan klasifikasi bayi meurut Lubchenco : Bayi Cukup Bulan (BKB) Sesuai
Masa Kehamilan (SMK)
3. RESUME
Bayi jenis kelamin laki-laki lahir dari ibu G1P0A0 pada tanggal 17
November 2016 pukul 18.40 wita. Bayi lahir secara section caesarea di
RSUD Undata Palu tanggal 17 November 2016 pukul 18.40 wita, atas
indikasi bayi besar, berat badan lahir 3.500 gram, panjang badan 49 cm.
Bayi cukup bulan sesuai masa kehamilan, umur kehamila 40 minggu. Bayi

langsung menangis, APGAR score 7/9, air ketuban berwarna putih keruh.
Dari pemeriksaan fisik di dapatkan suhu badan 36,7oC, Denyut Jantung
: 130 x/menit, Respirasi 48 x/menit, merintih (-), sianosis (-), retraksi
dinding dada (-), Anus Imperforata (Atresia Ani), palatum (+)
4. DIAGNOSIS
Bayi Aterm SC atas indikasi Bayi Besar + Atresia Ani
5. TERAPI
Menjaga kehangatan bayi
Bersihkan jalan nafas
Rangsang taktil
Injeksi Vit K 1 mg
Tetes mata Gentamicin
IVFD Dextrosa 5% 8 gtt
Injeksi Ampicilin 3x100 mg iv
Injeksi Gentamisin 2x8 mg iv
Puasakan bayi
6. ANJURAN PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS)
Foto Rontgen Wangenstein Reis
Konsul Bedah

FOLLOW UP
Tanggal

: 18 November 2016 pk. 06.00 WITA

Bayi umur 1 hari

Demam (-), Kejang (-), Sesak (-), Sianosis (-), Merintih (-), Muntah (-),
Masalah minum (-), Perut Kembung (+)
Mec (-), Mic(+)
O

Keadaan Umum : Sedang


Kesadaran

: ComposMentis

Denyut jantung

: 130 x/menit

Respirasi

: 38/menit

Suhu tubuh

: 36,7C

Berat badan

: 3.500 gram

Sistem Pernapasan
-

Merintih
Apnea
Retraksi
Bunyi Pernapasan
Bunyi Tambahan

DOWNE SCORE
Frekuensi napas
Retraksi
Sianosis
Udara masuk
Merintih
Total skor
Kesimpulan
napas
Kriteria gangguan napas
napas
-

: (-)
: (-)
: (-)
: Bronchovesicular +/+
: Ronkhi -/-, Wheezing -/:0
:0
:0
:0
:0
:0
: tidak ada gangguan
WHO: tidak ada gangguan

Sistem Kardiovaskular
-

Bunyi Jantung I/II


Murmur

: Murni, regular
: (-)

Sistem Neurologis
-

Aktivitas

: Aktif

Tonus Otot

Kejang
Refleks
Sistem Hematologi
Pucat
Ikterus
Sistem Gastrointestinal
-

:
: (-)
: (++)
: (-)
: (-)

Kelainan dinding abdomen: (-)


Muntah
: (-)
Diare
: (-)
Residu Lambung
: (-)
Peristaltik
: (+), kesan normal
Umbilikus
: Keluaran: baik, edema (-),
warna kemerahan (-), tidak
berbau
Sistem Genitalia
-

Anus Imperforata
Hipospadia
Hernia
Hidrokel
Testis

: (+)
: (-)
: (-)
: (-)
: Edema (-)

Pemeriksaan Lain
-

Kepala

: Normocephalus

Ekstremitas

: Akral hangat

Turgor
Kulit
Kelainan Kongenital
Trauma lain

UKK (-)
: Kembali segera
: UKK (-)
: (-)
: (-)

Pemeriksaan hasil lab :


WBC :

GDS : 36

HGB :

B-Ind :

, edema

HCT :

Bili-D :

PLT :

Bili-T :

RBC :

Bayi aterm sectio caesaria atas indikasi bayi besar + Atresia ani

Menjaga kehangatan bayi


IVFD dextrose 5% 8 gtt
Inj Ampisilin 3x100 mg iv
Inj Gentamicin 2x8 mg iv
Puasakan sementara
Pro DR, GDS, CT, BT, HBS ag

DISKUSI KASUS
Atresia ani merupakan suatu kelainan atau malformasi kongenital tidak
adanya lubang anus atau tidak memiliki anus, termasuk di dalamnya agenesis ani,
agenesis rectum dan atresia rectum. Insiden 1:5000 kelahiran yang dapat muncul
sebagai sindroma VACTRERL (Vertebra, Anal, Cardial, Esofageal, Renal, Limb)1.

Atresia ani dapat disebabkan karena terputusnya saluran pencernaan


bagian bawah dengan anus sehingga bayi lahir tanpa lubang anus, gangguan
organogenesis pada masa kehamilan, beberapa diantaranya berkaitan dengan
sindrom down. Atresia ani memiliki etiologi yang multifaktorial salah satunya
adalah komponen genetik. Pada tahun 1950an, didapatkan bahwa risiko
malformasi meningkat pada bayi yang memiliki saudara dengan kelainan atresia
ani yakni 1 dalam 100 kelahiran, dibandingkan dengan populasi umum sekitar 1
dalam 5000 kelahiran. Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa mutasi gen yang
berbeda dapat menyebabkan atresia ani atau dengan kata lain etiologi atresia ani
bersifat multigenik1.
Secara embriologi, saluran pencernaan berasal dari foregut, midgut dan
hindgut. Foregut akan membentuk faring, sistem pernafasan bagian bawah,
esofagus, lambung sebagian duodenum, hati dan sistem bilier serta pankreas.
Midgut membentuk usus halus, sebagian duodenum, sekum, appendik, kolon
asenden sampai pertengahan kolon transversum. Hindgut meluas dari midgut
hingga ke membrana kloaka, membrana ini tersusun dari endoderm kloaka, dan
ektoderm dari proctoderm atau analpit. Usus terbentuk mulai minggu keempat
disebut sebagai primitif gut2.
Bagian akhir perkembangan usus bermuara ke dalam kloaka yang
merupakan suatu rongga yang dilapisi endoderm yang berhubungan langsung
dengan ektoderm permukaan. Daerah pertemuan antara endoderm dan ektoderm
membentuk membran kloaka. Pada perkembangan selanjutnya, timbul suatu rigi
melintang, yaitu septum urorektal, pada sudut antara allantois dan usus belakang.
Sekat ini tumbuh kearah kaudal, karena itu membagi kloaka menjadi bagian
depan, yaitu sinus uroginetalis primitif, dan bagian posterior, yaitu kanalis
anorektalis. Ketika mudigah berumur 7 minggu, septum urorektal mencapai
membran kloaka, dan di daeraah ini terbentuklah korpus parienalis. Membran
kloakalis kemudian terbagi menjadi membran analis di belakang, dan membran
urogenitalis di depan. Sementara itu, membran analis dikelilingi oleh tonjol-tonjol
mesenkim, yang dikenal sebagai celah anus. Pada minggu ke-9, membran analis
koyak, dan terbukalah jalan antara rektum dan dunia luar. Bagian atas kanalis

analis berasal dari endoderm dan diperdarahi arteri mesentrika inferior. Akan
tetapi, sepertiga bagian bawah kanalis analis berasal dari ektoderm dan ektoderm
dibentuk oleh linea pektinata, yang terdapat tepat di bawah kolumna analis2.
Atresia ani terjadi akibat kegagalan punurunan septum anorektal pada
kehidupan embrional. Terjadinya atresia ani adalah karena kelainan kongenital
dimana saat proses perkembangan embriogenik tidak lengkap pada proses
perkembangan anus dan rektum. Dalam perkembangan selanjutnya, ujung ekor
dari belakang berkembang jadi kloaka yang juga akan berkembang jadi genito
urinari dan struktur anorektal. Atresia ani ini terjadi karena ketidaksempurnaan
migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7- 10 minggu selama
perkembangan janin. Kegagalan migrasi tersebut juga karena gagalnya agenesis
sakral dan abnormalitas pada daerah uretra atau juga pada proses obstruksi2.
Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi dan adanya fistula.
Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan, muntah dengan
segala akibatnya. Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin
akan diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperkloremia, sebaliknya feses mengalir
kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Pada keadaan ini biasanya
akan terbentuk fistula antara rektum dengan organ sekitarnya. Pada perempuan,
90% dengan fistula ke vagina (rektovagina) atau perineum (rektovestibuler). Pada
laki-laki umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke prostat (rektovesika)
bila kelainan merupakan letak tinggi, pada letak rendah fistula menuju ke uretra
(rektouretralis). Pada pasien ini belum dilakukan urinalisis yang bertujuan untuk
melihat ada atau tidaknya feses dalam urin yang membantu untuk menunjukkan
adanya fistula rektouretralis. Dari tampakan makroskopik urin yang dikeluarkan
oleh pasien tidak mengandung feses, sehingga kemungkinan tidak terjadi fistula
rektouretralis pada pasien ini. Pasien dengan atresia ani biasanya berada dalam
kondisi yang stabil dan diagnosisnya segera tampak setelah kelahiran. Cara
penegakkan diagnosis adalah semua bayi yang lahir harus dilakukan pemasukan
termometer melalui anusnya, tidak hanya untuk mengetahui suhu tubuh, tapi juga
untuk mengetahui apakah terdapat

atresia ani

atau tidak.Selain itu

juga

diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang secara


cermat 2.
A. Anamnesis
Manifestasi klinis yang terjadi pada atresia ani adalah kegagalan lewatnya
meconium setelah bayi lahir, tidak ada atau stenosis kanal rektal, adanya membran
anal, dan fistula eksternal pada perineum.
Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani terjadi dalam waktu 24-48
jam. Gejala itu antara lain
-

Tidak dapat atau mengalami kesulitan mengeluarkan mekonium


(tidak bisa buang air besar sampai 24 jam setelah lahir).

Perut membuncit dan pembuluh darah di kulit abdomen terlihat


menonjol. Perut kembung biasanya terjadi antara empat sampai
delapan jam setelah lahir.

Muntah (cairan muntahan

dapat berwarna hijau karena cairan

empedu atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan


mekonium)3.
Adapun perbedaan gejala klinis antara anomali letak rendah dan letak
tinggi, yaitu:
-

Obstruksi usus halus letak tinggi memiliki gejala muntah lebih


dahulu dan dehidrasi yang sangat cepat.

Obstruksi usus halus letak rendah, nyeri lebih dominan pada sentral
distensi. Muntah biasanya lebih lambat 3

B. Pemeriksaan fisik
Inspeksi dan Palpasi Perianal
-

Apakah terdapat anus atau tidak, bisa juga tidak ada anus dan
hanya berupa lengkungan (anal dimple).

Jika tidak ditemukan anus, kemungkinan ada fistula.

Bila terdapat mekonium pada perineum mengindikasikan defek


letak rendah dan mekonium di urine merupakan bukti adanya
fistula di saluran kemih. Bila terdapat mekonium bercampur urin,
maka terdapat 2 kemungkinan, yaitu fistula rektouretral atau
rektovesika. Pada fistula rektouretral didapatkan mekoneum mulamula keluar bersama miksi, urine selanjutnya makin lama makin
jernih, dan dapat juga mekoneum keluar tanpa melalui miksi.
Sedangkan pada fistula rektovesika, didapatkan miksi bercampur
bersama dengan mekoneun dan dari awal sampai akhir miksi
berwarna kehitaman. Selain itu, cara membedakannya juga dapat
dengan menggunakan kateter. Jika setelah dipasang kateter
didapatkan urin jernih, maka fistula rektouretral karena fistula
tertutup oleh kateter, sedangkan bila terdapat urin bercampur
mekonium maka fistula rektovesika.

Pada perempuan diperiksa genitalia eksterna (fistula vestibulum)

Pada perempuan jika urine bercampur mekonium dan terdapat


hematuria maka defek berupa letak tinggi. Jika dari uretra keluar
mekonium, kencing jernih, dan terdapat fistula pada perineum
maka defek letak rendah.

Dilihat pada saat anak menangis apakah anus menonjol atau tidak,
jika menonjol maka anomali letak rendah, sedangkan jika tidak
maka anomali letak tinggi.

Pada bayi yang baru lahir, hal yang harus kita lakukan adalah
mengukur suhu rektum sekaligus melihat apakah terdapat adanya
lubang pada anus dengan menggunakan termometer yang sudah
diberi gel.

Pemeriksaan abdomen:
Inspeksi = perut tampak kembung
Palpasi = distensi, nyeri tekan tidak dijumpai.
Perkusi = hipertimpani
Auskultasi = Peristaltik meningkat, dapat terdengar metalic sound

Jika dalam 24 jam pertama tidak tampak mekonium baik pada


perineum ataupun urin, dapat dilakukan cross table lateral x-ray
dengan posisi bayi tengkurap 3

Berdasarkan hasil anamnesis dan follow up yang dilakukan selama pasien


berada di RSUD Undata, Pada pemeriksaan abdomen tampak adanya distensi
abdomen, permukaan yang mengkilat selain itu tampak lapisan kulit menipis
sehingga vena-vena superficial bagian dinding anterior abdomen menjadi semakin
jelas terlihat. Pada pemeriksaan auskultasi peristaltik usus masih terdengar namun
kesan normal. Pada perkusi didapatkan bunyi yang memberikan kesan sonor yang
menunjukkan terdapat udara dalam rongga abdomen pasien. Pemeriksaan palpasi
tidak menunjukkan adanya pembesaran organ-organ abdomen. Gejala yang
menunjukan terjadinya malformasi anorektal terjadi dalam waktu 24-48 jam.
Gejala itu dapat berupa perut kembung, muntah, tidak bisa buang air besar, pada
pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik dapat dilihat sampai
dimana terdapat penyumbatan. Malformasi anorektal sangat bervariasi, mulai dari
anus imperforata letak rendah dimana rectum berada pada lokasi yang normal tapi
terlalu sempit sehingga feses bayi tidak dapat melaluinya, malformasi anorektal
intermedia dimana ujung dari rektum dekat ke uretra dan malformasi anorektal
letak tinggi dimana anus sama sekali tidak ada.
Pada pemeriksaan genitalia dilakukan pemeriksaan dengan memakai
termometer untuk memeriksa anus, tampak adanya anus imperforata, testis sudah
turun dan scrotum berwarna gelap dengan guratan yang banyak dan jelas. Pasien
telah miksi dan tidak tampak adanya feses dalam urin.

Klasifikasi yang paling sering digunakan untuk malformasi anorektal adalah


klasifikasi Wingspread yang membagi malformasi anorektal menjadi letak tinggi,
intermedia

dan

letak

rendah.

Melbourne

membagi

berdasarkan

pubokoksigeus dan garis yang melewati ischii kelainan disebut:

garis

Letak tinggi apabila rektum berakhir diatas muskulus levator ani

(muskulus pubokoksigeus).
Letak intermediea apabila akhiran rektum terletak di muskulus levator ani.
Letak rendah apabila akhiran rektum berakhir bawah muskulus levator ani4

Gambaran malformasi anorektal pada laki-laki

Perineal Fistula

Rectourethral Fistula

Tidak ada Fistul

Bladder-NeckFistula

Prinsip penatalaksanaan pada atresia ani berpusat pada penentuan


klasifikasinya, yaitu anomali letak tinggi atau letak rendah, ada atau tidak adanya
fistula, dan mengevaluasi apakah terdapat kelainan kongenital lain yang
menyertai. Dibutuhkan waktu sampai 24 jam sebelum fistula dapat ditemukan,
oleh karena itu, observasi pada neonatus sangat dibutuhkan sebelum operasi
definitif dilakukan. Semua pasien dimasukkan nasogastric tube sebelum makan
untuk melihat adanya atresia esofagus dan dimonitoring apakah terdapat
meconium pada perineum atau urine. Selain itu, dalam 24 jam pertama, bayi harus
mendapatkan terapi cairan dan antibiotik. Pada anomali letak tinggi dengan atau
tanpa fistel dan atresia ani dengan fistula yang tidak adekuat, sifat tatalaksananya
adalah emergency, sedangkan pada ada atresia ani dengan fistula yang adekuat
dan anterior anus adalah elektif 5.
1. Penatalaksanaan Anomali Letak Rendah
Pada anomali letak rendah, tindakan yang dilakukan adalah operasi
perineal tanpa kolostomi. Operasi yang dilakukan berupa repair yaitu
anoplasti. Terdapat 3 pendekatan yang dapat dilakukan. Untuk anal
stenosis, dimana pembukaan anus berada pada lokasi yang normal, maka
dilatasi serial merupakan penatalaksanaan kuratif. Dilatasi dapat dilakukan
sehari-hari oleh orang tua atau pengasuh anak dan ukuran dari dilator
harus dinaikkan secara progresif (dimulai dari 8 atau 9 French dan
dinaikkan ke 14 atau 16 French). Jika pembukaan anal berada di
sebelah anterior dari sfingter eksternus dengan jarak yang kecil
Antara pembukaan dan bagian tengah dari sfingter eksternus, dan perineal
intak, maka anoplasti cutback dilakukan. Tindakannya terdiri dari insisi
dari orifisium anal ektopik menuju bagian tengah dari sfingter anus, dan
dengan demikian terjadi pelebaran pembukaan anal. Namun, jika jaraknya
lebar antara pembukaan anal dengan bagian tengah dari sfingter ani
eksternus, maka yang dilakukan adalah anoplasti transposisi, dimana
pembukaan anal yang tidak pada tempatnya dipindahkan ke posisi yang
normal pada bagian tengah dari otot sfingter, dan perineal di rekonstruksi6.

2. Penatalaksanaan Anomali Letak Tinggi


Penatalaksanaan pada anomali letak tinggi dan intermediat membutuhkan
tiga tahapan rekonstruksi. Tahapan pertama yang harus dilakukan adalah
kolostomi terlebih dahulu segera setelah lahir untuk dekompresi dan
diversi, diikuti dengan operasi definitif berupa prosedur abdominoperineal
pullthrough (Swenson, Duhamel, Soave) setelah 4-8 minggu (sumber lain
menyebutkan 3-6 bulan) dan diakhiri dengan penutupan dari kolostomi
yang dilakukan beberapa bulan setelahnya. Tindakannya berupa
pemisahan fistula rektourinari atau rektovagina secara pull-through
dari kantong rektal bagian terminal menuju posisi anus yang normal.
Dilatasi anus dimulai 2 minggu setelah operasi definitif dan dilanjutkan
beberapa bulan setelahnya dengan penutupan kolostomi. Pena dan
DeVries pada tahun 1982 memperkenalkan metode operasi definitif
dengan pendekatan postero-sagital anorectoplasty (PSARP), yaitu dengan
cara membelah muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator ani
untuk memudahkan mobilisasi kantong rectum dan pemotongan fistel
dengan stimulasi elektrik dari perineum. Jika terdapat adanya kloaka
persisten, maka traktus urinarius perlu dievaluasi secara hati-hati
saat kolostomi untuk memastikan terjadinya pengosongan yang normal
dan menentukan apakah vesica urinaria perlu di drainase dengan
vesikostomi. Pada perempuan, jika terdapat kloaka persisten maka perlu
dilakukan rekonstruksi traktus urinarius dan vagina. Jika terdapat keraguan
dalam penentuan letak anomalinya, lebih baik dilakukan kolostomi.
Keberhasilan penatalaksanaan atresia ani dinilai dari fungsinya
secara jangka panjang, meliputi anatomisnya, fungsi fisiologisnya,
bentuk kosmetik serta antisipasi trauma psikis. Sebagai tujuan akhirnya
adalah defekasi secara teratur dan konsistensinya baik 6.
Akhir-akhir ini, teknik operasi definitif dapat difasilitasi dengan prosedur
laparoskopi transabdominal sebagai penatalaksanaan untuk anomali letak tinggi
dan intermediat. Teknik ini memiliki keuntungan teoritis karena dilakukan dengan

penglihatan secara langsung dan menghindari pemotongan struktur-struktur lain


yang ada. Namun, perbandingan hasil akhir jangka panjang antara PSARP dan
teknik ini belum diketahui.
Penatalaksanaan pada anomali letak tinggi dilakukan secara operatif, yaitu:
1. Kolostomi
Kolostomi merupakan kolokutaneostomi yang disebut juga anus
preternaturalis yaitu pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus
besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses. Kolostomi dapat
dilakukan pada kolon transversalis ataupun sigmoid yang merupakan
organ intraabdominal. Kolon dipisahkan pada daerah sigmoid, dengan
usus bagian proksimal sebagai kolostomi dan usus bagian distal sebagai
mucus fistula. Pemisahan secara komplit dari usus akan
meminimalkan kontaminasi feses menuju fistula rektourinarius
sehingga mengurangi risiko terjadinya urosepsis. Selanjutnya, bagian
distal usus di evaluasi secara radiografik untuk menentukan lokasi dari
fistula rektourinarius. Kolostomi dilakukan pada kolon transversum
sebelah kiri di flexura lienalis atas pertimbangan sebagai proteksi karena
di sebelah kiri tidak ada organ- organ penting, kolon lebih mobile
sehingga lebih mudah, dan pada daerah ini tidak terjadi dehidrasi karena
absorbsi elektrolit maksimal di daerah tersebut sehingga
konsistensi feces tidak keras.
Adapun indikasi kolostomi adalah sebagai berikut:
- Dekompresi usus pada obstruksi
- Stoma sementara untuk bedah reseksi usus pada radang atau perforasi
- Sebagai anus setelah reseksi usus distal untuk melindungi anastomosis
distal.

Manfaat kolostomi, yaitu:


a) Mengatasi obstruksi usus.
b) Memungkinkan pembedahan rekonstruktif untuk dikerjakan
dengan lapangan operasi yang bersih.
c) Memberi kesempatan pada ahli bedah untuk melakukan
pemeriksaan lengkap dalam usaha menentukan letak ujung rektum
yang buntu serta menemukan kelainan bawaan yang lain 4.
Tipe kolostomi yang dapat digunakan pada bayi dengan atresia ani adalah
kolostomi loop yaitu dengan membuat suatu lubang pada lengkung kolon yang
dieksteriorisasi. Jenis anestesi pada tindakan kolostomi adalah anestesi umum.
Sebagian besar bayi dengan anus imperforata memiliki satu atau lebih
abnormalitas yang mengenai sistem lain. Insidennya berkisar antara 50% - 60%.
Makin tinggi letak abnormalitas berhubungan dengan malformasi yang lebih
sering. Kebanyakan dari kelainan itu ditemukan secara kebetulan, akan tetapi
beberapa diantaranya dapat mengancam nyawa seperti kelainan kardiovaskuler.
Beberapa jenis kelainan yang sering ditemukan bersamaan dengan malformasi
anorektal adalah

Kelainan kardiovaskuler
Ditemukan pada sepertiga pasien dengan anus imperforata. Jenis kelainan
yang paling banyak ditemui adalah atrial septal defect dan paten ductus

arteriosus, diikuti oleh tetralogy of fallot dan ventrikular septal defect.


Kelainan gastrointestinal
Kelainan yang ditemui berupa kelainan trakeoesofageal (10%), obstruksi

duodenum (1-2%)
Kelainan tulang belakang dan medulla spinalis
Kelainan tulang belakang yang sering ditemukan adalah kelainan lumbosakral
seperti hemivertebrae, skoliosis, butterfly vertebrae, dan hemisacrum.
Sedangkan kelainan spinal yang sering ditemukan adalah myelomeningocele,

meningocele, dan teratoma intraspinal.


Kelainan traktus genitourinarius
Kelainan traktus urogenital kongenital paling banyak ditemukan pada
malformasi anorektal. Beberapa penelitian menunjukkan insiden kelainan

urogeital dengan malformasi anorektal letak tinggi antara 50 % sampai 60%,


dengan malformasi anorektal letak rendah 15% sampai 20%. Kelainan
tersebut dapat berdiri sendiri ataupun muncul bersamaan sebagai VATER
(Vertebrae, Anorectal, Tracheoesophageal and Renal abnormality) dan
VACTERL (Vertebrae, Anorectal, Cardiovascular, Tracheoesophageal, Renal
and Limb abnormality) 3.
Dalam kasus ini tidak di temukan kelainan lain selain atresia ani

DAFTAR PUSTAKA

1. Artawija A., 2012. Tehnik Pemeriksaan Radiografi Pada Kasus Atresia


Ani. RSUP Sanglah. Denpasar.
2. Faradilla. 2009. Atresia Ani. Chapter II pdf USU Institutional
Respository.

Medan.

Available

from

http://www.respository.usu.ac.id/bitstream/12346789/23480/3/Chapter
%II.pd
3. Behrman, dkk. 2010. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 volume 2.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
4. Derbew M. & Marc A.L., 2009. Newborn management of Anorectal
Malformation. Surgery in Africa Monthly Review. Available from
http://www.ptolemy.ca/members/current/Newborn%20Anorectal
%20Malformations.
5. Sjamsuhidajat R. De Jong W. 2007. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
6. Nova

F.,

Et

al.

2009.

Anastesi

Pada

Tindakan

Posterosagital

Anorektoplasti Pada Kasus Malformasi Kongenital. Faculty of Medicine


Unversity of Riau. Available from http://www.FilesofDrsMed.tk.