Anda di halaman 1dari 9

Menghabiskan liburan bersama keluarga tercinta pasti akan

menyenangkan. Jika bosan dengan obyek wisata yang cenderung


ramai, berlibur ke desa wisata yang masih alami mungkin bisa
menjadi pilihan yang tepat. Selain udara yang segar mampu
melepas penat, di desa wisata Anda bisa mengenal adat istiadat
maupun kesenian khas dari penduduk setempat. Berikut 5 desa
wisata mempesona di Malang yang wajib Anda kunjungi. 1.
Kampung Wisata Kampung Kungkuk Kampung Wisata Kungkuk
terletak di Dusun Kungkuk, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji,
Kota Wisata Batu, Malang. Letaknya di bagian barat Desa Punten
dan diapit oleh Gunung Panderman di sebelah selatan serta
Gunung Arjuno di sebelah utara, sekitar 6 km dari pusat kota
Batu. Suasana alam di Kampung Wisata Kungkuk sangat alami
dan eksotik. Wanawisata Kungkuk juga sangat cocok bagi
penggemar outbond, camping, perkemahan, flying fox, olahraga
gunung, sepeda gunung, mobil gunung, dan lain-lain. Bagi Anda
yang suka berkebun atau bercocok tanam, tidak ada salahnya
mencoba wisata sekolah alam yang ada di Kampung Wisata
Kungkuk. Bahkan kita dapat menikmati segarnya buah jeruk,
jambu, dan apel yang bisa dipetik langsung dari pohonnya.
Menariknya,
para
pengunjung
tidak
hanya
menikmati
pemandangan serta hasil pertanian saja. Beberapa adat budaya
dan ciri khas Desa Punten seperti atraksi Tari Santar, kuda
lumping, dan bantengan siap menghibur wisatawan yang datang.
Untuk bisa menikmati berbagai keindahan alam di Kampung
Wisata Kungkuk ini kita cukup membayar Rp 65.000. Sedangkan
untuk menikmati kegiatan lainnya dikenakan biaya sebesar Rp
15.000 per pack. 2. Desa Wisata Kampoeng Goenoeng Desa
Wisata Kampoeng Goenoeng terletak di Jalan Melati No. 9 Dusun
Kapru, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Wisata Batu,
Malang. Di sini, pengunjung bisa merasakan berwisata dengan
nuansa pedesaan dan dikelilingi oleh gunung-gunung berjajar
bak pagar yang begitu alami. Tak hanya panorama alam yang
asri, Desa Wisata Kampoeng Goenoeng juga menyuguhkan sajian
kuliner khas desa serta area adventure dan edukasi. Ada
beberapa paket wisata adventure yang ditawarkan Desa Wisata
Kampoeng Goenoeng. Antara lain camping, rafting, tubing,
outbound, petik apel, petik sayur, petik mawar, dan perah susu
sapi yang bisa dirasakan bersama keluarga, teman dan rekan

kerja. Lelah melakukan berbagai aktifitas, Anda bisa mencicipi


menu masakan ala desa yang disuguhkan sebagai menu caf
dan resto Kampoeng Goenoeng. Di Resto Kampoeng Goenoeng
yang buka mulai pukul 10.00 WIB hingga 21.00 WIB ini,
pengunjung dapat menikmati beragam menu-menu masakan
yang jarang sekali ditemukan di tempat lainnya. Di antaranya
yaitu nasi barikan, sambal ikan dan sambal kentang yang selalu
menjadi menu menggoda. Wisatawan bisa menyantap lezatnya
kuliner tersebut dengan dipadu keeksotikan alam yang begitu
alami. Selain makanan, ada juga menu minuman kopi gunung
yang pastinya nikmat dan layak untuk dicoba. 3. Desa Wisata
Poncokusumo Desa Poncokusumo merupakan daerah penghasil
apel yang kualitasnya tidak kalah dari apel Batu. Desa wisata ini
berada di lereng Gunung Semeru, tepatnya di sebelah selatan
perbatasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Diresmikan sebagai desa wisata pada tanggal 27 Mei 2001 oleh
Bupati Malang Ir. Moch. Ibnu Rubianto, Desa Poncokusumo
memiliki banyak altenatif wisata yang menarik. Antara lain
wisata petik apel, pengolahan sari apel, agro bunga krisan yang
indah, outbond, dan aneka kesenian daerah. Puas berkeliling di
Desa Poncokusumo, Anda bisa menyambangi wisata petik buah
belimbing di Desa Argosuko yang tak jauh dari Poncokusumo. Tak
jauh dari situ, terdapat wisata petik buah lainnya yang bisa
dijadikan jujugan, yakni buah jeruk. Buah lain yang bisa dinikmati
di kawasan Poncokusumo yakni wisata petik buah kelengkeng.
Terdapat sekitar lima desa yang telah membudidayakan
perkebunan buah kelengkeng di antaranya, Desa Poncokusumo,
Desa Ngadireso, Desa Pandansari, Ringinanom, dan Desa
Karangnongko. 4. Desa Wisata Ngadas Desa Ngadas berada di
wilayah Kecamatan Poncokusumo dan terletak di ujung paling
timur Kabupaten Malang, berbatasan langsung dengan wilayah
Kabupaten Lumajang. Uniknya, Desa Ngadas adalah satusatunya desa yang didiami oleh suku Tengger di Malang. Tak
heran, di desa ini tidak ada satupun warga yang berstatus
sebagai pendatang. Di desa wisata ini, Anda dapat menyaksikan
berbagai adat dan tradisi masyarakat suku Tengger yang masih
terjaga yakni kuda lumping, bantengan, dan kuda kencak. Ada
pula beragam upacara adat seperti Entas-Entas, Wolo Goro
(upacara pernikahan), Tugel Kuncung, Tugel Gombag, upacara
Pujan, Kasada, Karo, Unan-Unan, Barikan, Mayu Dusun, dan

Galungan. Selain keunikan adat istiadatnya, Desa Ngadas


memiliki ragam potensi wisata alam yang sangat menarik, di
antaranya Coban Trisula, Ranu Pani serta masih banyak lainnya.
Dari desa ini sejauh mata memandang ke arah timur tampak
pemandangan deretan puncak-puncak Semeru yang selalu
mengeluarkan asap dari puncaknya. Lereng-lereng perbukitan
dan lembah yang hijau dengan lanskap kebun sayur berbentuk
terasering akan memanjakan mata kita. Tak hanya itu,
pengunjung juga dapat menikmati matahari terbit di Pananjakan
atau Bromo dari Desa Ngadas. Bisa juga tracking dari Cemoro
Lawang ke Bromo sejauh sekitar 3 km, atau berkeliling naik kuda
dari Cemoro Lawang menuju lereng Bromo. 5. Desa Wisata
Gubugklakah Desa Wisata Gubugklakah atau yang biasa
disingkat DWG berlokasi di bagian timur Kecamatan
Poncokusumo, sekitar 23 km dari kota Malang. Terletak di kaki
Gunung Bromo, Desa Wisata Gubugklakah menyajikan panorama
alam indah dan kesejukan khas pegunungan. Begitu memasuki
gapura Desa Wisata Gubugklakah, pengunjung bisa langsung
merasakan nuansa khas desa wisata ini. Sebagai desa wisata,
Desa Gubugklakah memiliki beberapa destinasi yang menarik
seperti Wisata Agro Apel, Coban Pancut, dan Coban Gereja.
Terdapat beberapa paket wisata yang ditawarkan Desa
Gubugklakah. Di antaranya wisata petik apel dengan biaya
sebesar Rp 15.000 per orang serta paket Bromo dua hari satu
malam dengan biaya Rp 2.750.000 untuk 1-6 orang. Objek
wisata yang akan dikunjungi dalam paket ini adalah Alun-Alun
Balaikota Malang, Candi Jago, Coban Pelangi, Bromo Sunrise,
Savana, dan Bukit Teletubies. Bila Anda akan ke Gunung Bromo,
sempatkanlah untuk bermalam di Desa Wisata Gubugklakah ini.
Kekayaan alam dan pesona desa wisata ini dijamin akan
memanjakan siapa saja yang mengunjunginya. Sumber:
Komponen Utama Desa Wisata
Terdapat dua konsep yang utama dalam komponen desa wisata :
1. Akomodasi : sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan atau
unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk.

2. Atraksi : seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik


lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi
aktif seperti : kursus tari, bahasa dan lain-lain yang spesifik.
Sedangkan Edward Inskeep, dalam Tourism Planning An Integrated and
Sustainable Development Approach, hal. 166 memberikan definisi : Village
Tourism, where small groups of tourist stay in or near traditional, often remote
villages and learn about village life and the local environment. Inskeep : Wisata
pedesaan dimana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalam atau dekat dengan
suasana tradisional, sering di desa-desa yang terpencil dan belajar tentang
kehidupan pedesaan dan lingkungan setempat.
Pendekatan Pengembangan Desa Wisata[]
Pengembangan dari desa wisata harus direncanakan secara hati-hati agar dampak
yang timbul dapat dikontrol. Berdasar dari penelitian dan studi-studi dari
UNDP/WTO dan beberapa konsultan Indonesia, dicapai dua pendekatan dalam
menyusun rangka kerja/konsep kerja dari pengembangan sebuah desa menjadi
desa wisata.
Pendekatan Pasar untuk Pengembangan Desa Wisata
Interaksi tidak langsung
Model pengembangan didekati dengan cara bahwa desa mendapat manfaat tanpa
interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang terjadi semisal :
penulisan buku-buku tentang desa yang berkembang, kehidupan desa, seni dan
budaya lokal, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, pembuatan kartu pos
dan sebagainya.
Interaksi setengah langsung Bentuk-bentuk one day trip yang dilakukan oleh
wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk
dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model
tipe ini adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan
penduduk.
Interaksi Langsung
Wisatawan dimungkinkan untuk tinggal/bermalam dalam akomodasi yang
dimiliki oleh desa tersebut. Dampak yang terjadi dapat dikontrol dengan berbagai
pertimbangan yaitu daya dukung dan potensi masyarakat setempat. Alternatif lain
dari model ini adalah penggabungan dari model pertama dan kedua. (UNDP and
WTO. 1981. Tourism Development Plan for Nusa Tenggara, Indonesia. Madrid:
World Tourism Organization. Hal. 69)
Kriteria Desa Wisata Pada pendekatan ini diperlukan beberapa kriteria yaitu :
1. Atraksi wisata; yaitu semua yang mencakup alam, budaya dan hasil
ciptaan manusia. Atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik dan
atraktif di desa.

2. Jarak Tempuh; adalah jarak tempuh dari kawasan wisata terutama tempat
tinggal wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibukota provinsi dan jarak
dari ibukota kabupaten.
3. Besaran Desa; menyangkut masalah-masalah jumlah rumah, jumlah
penduduk, karakteristik dan luas wilayah desa. Kriteria ini berkaitan
dengan daya dukung kepariwisataan pada suatu desa.
4. Sistem Kepercayaan dan kemasyarakatan; merupakan aspek penting
mengingat adanya aturan-aturan yang khusus pada komunitas sebuah
desa. Perlu dipertimbangkan adalah agama yang menjadi mayoritas dan
sistem kemasyarakatan yang ada.
5. Ketersediaan infrastruktur; meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi,
fasilitas listrik, air bersih, drainase, telepon dan sebagainya.
Masing-masing kriteria digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu desa
untuk kemudian menetukan apakah suatu desa akan menjadi desa dengan tipe
berhenti sejenak, tipe one day trip atau tipe tinggal inap.
Pendekatan Fisik Pengembangan Desa Wisata
Pendekatan ini merupakan solusi yang umum dalam mengembangkan sebuah desa
melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-standar khusus dalam
mengontrol perkembangan dan menerapkan aktivitas konservasi.
1. Mengonservasi sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur
yang tinggi dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum
desa untuk menghasilkan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut.
Contoh pendekatan dari tipe pengembangan model ini adalah Desa Wisata
di Koanara, Flores. Desa wisata yang terletak di daerah wisata Gunung
Kelimutu ini mempunyai aset wisata budaya berupa rumah-rumah tinggal
yang memiliki arsitektur yang khas. Dalam rangka mengkonservasi dan
mempertahankan rumah-rumah tersebut, penduduk desa menempuh cara
memuseumkan rumah tinggal penduduk yang masih ditinggali. Untuk
mewadahi kegiatan wisata di daerah tersebut dibangun juga sarana wisata
untuk wisatawan yang akan mendaki Gunung Kelimutu dengan fasilitas
berstandar resor minimum dan kegiatan budaya lain.
2. Mengonservasi keseluruhan desa dan menyediakan lahan baru untuk
menampung perkembangan penduduk desa tersebut dan sekaligus
mengembangkan lahan tersebut sebagai area pariwisata dengan fasilitasfasilitas wisata. Contoh pendekatan pengembangan desa wisata jenis ini
adalah Desa Wisata Sade, di Lombok.
3. Mengembangkan bentuk-bentuk akomodasi di dalam wilayah desa
tersebut yang dioperasikan oleh penduduk desa tersebut sebagai industri

skala kecil. Contoh dari bentuk pengembangan ini adalah Desa wisata
Wolotopo di Flores. Aset wisata di daerah ini sangat beragam antara lain :
kerajinan tenun ikat, tarian adat, rumah-rumah tradisional dan
pemandangan ke arah laut. Wisata di daerah ini dikembangkan dengan
membangun sebuah perkampungan skala kecil di dalam lingkungan Desa
Wolotopo yang menghadap ke laut dengan atraksi-atraksi budaya yang
unik. Fasilitas-fasilitas wisata ini dikelola sendiri oleh penduduk desa
setempat. Fasilitas wisata berupa akomodasi bagi wisatawan, restaurant,
kolam renang, peragaan tenun ikat, plaza, kebun dan dermaga perahu
boat.
Prinsip dasar dari pengembangan desa wisata[]
1. Pengembangan fasilitas-fasilitas wisata dalam skala kecil beserta
pelayanan di dalam atau dekat dengan desa.
2. Fasilitas-fasilitas dan pelayanan tersebut dimiliki dan dikerjakan oleh
penduduk desa, salah satu bisa bekerja sama atau individu yang memiliki.
3. Pengembangan desa wisata didasarkan pada salah satu sifat budaya
tradisional yang lekat pada suatu desa atau sifat atraksi yang dekat
dengan alam dengan pengembangan desa sebagai pusat pelayanan bagi
wisatawan yang mengunjungi kedua atraksi tersebut.
Jenis Wisatawan Pengunjung Desa Wisata Karena bentuk wisata pedesaan yang
khas maka diperlukan suatu segmen pasar tersendiri. Terdapat beberapa tipe
wisatawan yang akan mengunjungi desa wisata ini yaitu :
Wisatawan Domesti
Wisatawan domestik ; terdapat tiga jenis pengunjung domestik yaitu :
1. Wisatawan atau pengunjung rutin yang tinggal di daerah dekat desa
tersebut. Motivasi kunjungan : mengunjungi kerabat, membeli hasil bumi
atau barang-barang kerajinan. Pada perayaan tertentu, pengunjung tipe
pertama ini akan memadati desa wisata tersebut.
2. Wisatawan dari luar daerah (luar provinsi atau luar kota), yang transit atau
lewat dengan motivasi, membeli hasil kerajinan setempat.
3. Wisatawan domestik yang secara khusus mengadakan perjalanan wisata ke
daerah tertentu, dengan motivasi mengunjungi daerah pedesaaan
penghasil kerajinan secara pribadi.
Wisatawan Manca Negara
1. Wisatawan yang suka berpetualang dan berminat khusus pada kehidupan
dan kebudayaan di pedesaan. Umumnya wisatawan ini tidak ingin
bertemu dengan wisatawan lainnya dan berusaha mengunjungi kampung
dimana tidak begitu banyak wisatawan asing.

2. Wisatawan yang pergi dalam grup (di dalam suatu biro perjalanan wisata).
Pada umumnya mereka tidak tinggal lama di dalam kampung dan hanya
tertarik pada hasil kerajinan setempat.
3. Wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi dan hidup di dalam kampung
dengan motivasi merasakan kehidupan di luar komunitas yang biasa
dihadapinya.
Tipe Desa Wisata
Menurut pola, proses dan tipe pengelolanya desa atau kampung wisata di
Indonesia sendiri, terbagi dalam dua bentuk yaitu tipe terstruktur dan tipe terbuka.
Tipe terstruktur (enclave )
Tipe terstruktur ditandai dengan karakter-karakter sebagai berikut :
1. Lahan terbatas yang dilengkapi dengan infrastruktur yang spesifik untuk
kawasan tersebut. Tipe ini mempunyai kelebihan dalam citra yang
ditumbuhkannya sehingga mampu menembus pasar internasional.
2. Lokasi pada umumnya terpisah dari masyarakat atau penduduk lokal,
sehingga dampak negatif yang ditimbulkannya diharapkan terkontrol.
Selain itu pencemaran sosial budaya yang ditimbulkan akan terdeteksi
sejak dini.
3. Lahan tidak terlalu besar dan masih dalam tingkat kemampuan
perencanaan yang integratif dan terkoordinasi, sehingga diharapkan akan
tampil menjadi semacam agen untuk mendapatkan dana-dana
internasional sebagai unsur utama untuk menangkap servis-servis dari
hotel-hotel berbintang lima.
Contoh dari kawasan atau perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Nusa
Dua, Bali dan beberapa kawasan wisata di Lombok. Pedesaan tersebut diakui
sebagai suatu pendekatan yang tidak saja berhasil secara nasional, melainkan juga
pada tingkat internasional. Pemerintah Indonesia mengharapkan beberapa tempat
di Indonesia yang tepat dapat dirancang dengan konsep yang serupa.
Tipe Terbuka (spontaneus)[]
Tipe ini ditandai dengan karakter-karakter yaitu tumbuh menyatunya kawasan
dengan struktur kehidupan, baik ruang maupun pola dengan masyarakat lokal.
Distribusi pendapatan yang didapat dari wisatawan dapat langsung dinikmati oleh
penduduk lokal, akan tetapi dampak negatifnya cepat menjalar menjadi satu ke
dalam penduduk lokal, sehingga sulit dikendalikan. Contoh dari tipe
perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Prawirotaman, Yogyakarta.
Sumber Podang adalah obyek wisata alam yang terletak di Dusun Karangnongko,
Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Akses menuju obyek wisata

tersebut sangatlah mudah. Dari alun alun kota Kediri, Anda tinggal berkendara
ke arah barat sekitar 30 menit atau 20 km.
Sumber Podang memiliki potensi alam yang luar biasa. Pasokan air yang
berlimpah dengan adanya Embung Joho dan sungai membuat wilayah tersebut
subur dan hijau. Udaranya yang sejuk dengan banyaknya pepohonan membuat
pengunjung betah untuk berlama-lama di sana. Sumber Podang sangat cocok
untuk Anda yang ingin melepaskan penat dari kebisingan perkotaan dan mencari
ketenangan hidup di alam pedesaan. Wisata alam yang bisa Anda nikmati antara
lain tracking menuju Embung Joho, berenang menikmati kesegaran air
pegunungan, menikmati keindahan taman bunga kelir dan river tubing atau
menyusuri sungai dengan ban.
Selain potensi alam tersebut, di Sumber Podang terdapat pula kekayaan
budaya, sejarah dan edukasi. Wisata sejarah yang bisa Anda kunjungi yaitu Candi
Gangsang dan Musholla Syech Bela Belo. Sementara untuk wisata edukasi, Anda
bisa belajar beternak lebah madu, belajar kerajinan anyaman bambu dan janur,
belajar memasak nasi goreng tiwul dan belajar bercocok tanam sayur.
Sumber Podang juga menawarkan wisata outbond dengan paket yang
sangat murah, mulai dari Rp. 50.000 per orang, Anda bisa menikmati flying fox,
river tubing, spider net, ice breaker dan masih banyak permainan outbond yang
lain.
Jika Anda terasa lapar, Anda tidak usah bingung dan kembali ke kota
untuk membeli makanan karena di Sumber Podang telah tersedia kafe untuk
wisata kuliner. Kafe Kafe di Sumber Podang berbeda dengan kafe kafe yang
biasa Anda jumpai di perkotaan. Kafe Kafe di Sumber Podang menyediakan
makanan khas masyarakat desa seperti nasi goreng tiwul, tahu dan nasi ampok.
Anda bisa menikmati kuliner tersebut di atas gubuk bambu beratapkan daun
dengan pemandangan sawah dan hutan yang menghampar luas, semilir angin
pegunungan dan kicauan burung-burung akan membuat Anda lupa dengan
kepenatan hidup perkotaan. Anda juga bisa menikmati wisata petik buah durian
langsung dari pohonnya dengan harga Rp.10.000 per buah.
Musik Lesung, musik bambu dan Jaranan adalah wisata budaya yang
ditawarkan oleh Sumber Podang. Ditambah dengan keramahan masyarakat desa
akan membuat nuansa baru dalam kehidupan Anda.
Paket desa wisata yang ditawarkan oleh Sumber Podang adalah wisata
kehidupan masyarakat desa, Anda akan diajak untuk merasakan hidup menjadi
orang desa. Jika Anda terbiasa hidup nikmat di kota dengan segala fasilitas seperti
Mobil, AC, kulkas, pemanas air, pekerjaan yang mudah dengan gaji besar, maka
di Sumber Podang anda tidak akan menjumpai semua itu. Anda akan diajak hidup
menjadi orang desa yang harus mencangkul di sawah untuk memenuhi kebutuhan
hidup. Diharapkan dari paket wisata ini, Anda akan menjadi orang yang lebih
bersyukur dengan kehidupan yang Anda miliki dan semakin bersemangat saat
kembali usai liburan di Sumber Podang.
Kesadaran atas potensi besar tersebut yang menjadi latar belakang
masyarakat dan Tokoh setempat untuk memperjuangkan Desa Joho menjadi desa
wisata Sumber Podang, saat ini di Desa joho telah terbentuk kelompok sadar
wisata yang menghimpun masyarakat yang memiliki kesadaran dan kemauan

untuk mengolah dan mengembangkan Desa Joho menjadi desa tujuan wisata.
Kelompok sadar wisata tersebut dinamakan Sumber Podang.
Potensi Wisata
Wisata Alam
Embung / Bendungan joho
Sungai
Sawah
Wisata Buatan
Outbond
River Tubing (menyusuri sungai dengan ban)
Tracking
Sepeda Down Hill
Sunrise / moon rise trip
Tour Desa Wisata
Kediri Waterpark
Petik Buah Durian
Wisata Budaya
Musik Bambu
Musik Lesung
Jaranan
Wisata Kuliner
Wow Cafe
Nasi Goreng Tiwul
Nasi Goreng Ampok