Anda di halaman 1dari 11

Laporan Resmi

I.
II.

Hari, tanggal
Tujuan

: Kamis, 20 Oktober 2016


: a. Memahami konsep tentang perbedaan potensial

oksida logam
III.

Dasar teori

b. Memahami prinsip terjadinya korosi galvani


:

Peralatan percobaan untuk menghasilkan listrik dengan memanfaatkan


energy redoks spontan disebut sel galvanic atau sel volta, diambil dari
nama ilmuwan Italia Luigi Galvani dan Alessandro Volta yang membuat
versi awal dari alat ini (Chang, 2005:197). Suatu sel galvani
menghasilkan listrik karena adanya perbedaan daya Tarik dua elektroda
terhadap electron, sehingga electron mengalir dari yang lemah ke yang
kuat daya tariknya. Jika daya Tarik itu disebut potensial elektroda, maka
perbedaan potensial kedua elektroda disebut potensial sel atau daya gerak
listrik (DGL) sel dalam satuan volt (V) (Syukri, 1999:527)
Mengikuti apa yang dikatakan Michael Faraday, para ahli kimia
menyebut sisi berlangsungnya oksidasi dalam sel elektrokimia sebagai
anoda dan sisi berlangsungnya reduksi sebagai katoda (Oxtoby, 2001:378)
Untuk melengkapi rangkaian listriknya, kedua

larutan harus

dihubungkan oleh suatu medium penghantar agar kation dan anion dapat
bergerak dari satu kompartemen elektroda ke kompartemen elektroda
lainnya. Persyaratan ini terpenuhi oleh jembatan garam yang dalam
bentuk sederhananya berupa tabung U terbalik yang berisi larutan
electron inert, seperti KCl atau NH4NO3 yang ion-ionnya tidak akan
bereaksi dengan ion lain dalam larutan atau dengan elektroda (Chang,
2005:197)
Sel volta atau sel galvani adalah sel elektrokimia yang melibatkan
reaksi redoks dan menghasilkan arus listrik. Sel volta terdiri atas

elektroda, tempat berlangsungnya reaksi oksidasi disebut anoda (elektrode


negative), dan tempat berlangsungnya reaksi reduksi disebut katoda
(elektrode positif).
Prinsip-prinsip Sel Volta (Sel Galvani)
1. Didalam sel volta reaksi kimianya mengandung arus listrik dan terjadi
reaksi spontan.
2. Terjadi perubahan dari energy kimia menjadi energy listrik.
3. Pada anoda, terjadi reaksi oksidasi dan bermuatan negatif.
4. Pada katoda, terjadi reaksi reduksi dan bermuatan positif.
5. Elektron mengalir dari anoda menuju katoda.
Rangkaian sel volta terdiri atas elektrode Zn (logam Zn) yang
dicelupkan ke dalam larutan ZnSO4 dan elektrode Cu (logam Cu) yang
dicelupkan ke dalam larutan CuSO4.
Kedua larutan itu dihubungkan dengan jembatan garam yang
berbentuk huruf U yang diisi dengan garam NaCl atau KNO 3 dalam agaragar (gelatin). Sedangkan, kedua elektrode dihubungkan dengan alat
petunjuk arus, yaitu voltmeter melalui kawat.
Bila elektrode Zn dan Cu dihubungkan dengan sebuah kawat maka akan
terjadi energi listrik (menghasilkan energi listrik). Untuk menjaga
kenetralan listrik dari kedua larutan di atas maka kedua larutan tersebut
dihubungkan dengan jembatan garam. Jembatan garam menyebabkan
elekton mengalir secara terus menerus melalui kawat.
Potensial sel (Esel) adalah potensial listrik yang dihasilkan oleh suatu sel
volta. Besarnya potensial sel dari suatu reaksi redoks dalam sel volta dapat
ditentukan melalui:

1.

Percobaan dengan menggunakan voltmeter atau potensiometer.

2.

Perhitungan berdasarkan data potensial elektroda unsur-unsur sesuai

dengan reaksinya.
Esel = Ekatode Eanode
atau
Esel = Ereduksi-Eoksidasi
Potensial elektroda merupakan ukuran besarnya kecenderungan suatu
unsur untuk melepas atau menyerap elektron. Untuk membandingkan
kecenderungan oksidasi atau reduksi dari suatu elektroda pembanding
yaitu elektroda hidrogen. Potensial yang dihasilkan oleh suatu elektroda
yang dihubungkan dengan elektroda hidrogen disebut potensial elektroda.
Ada dua kemungkinan:

Jika potensial electrode bertanda (+) maka electrode lebih mudah


mengalami reduksi.

Jika potensial electrode bertanda (-) maka electrode lebih mudah


mengalami oksidasi.

Harga potensial sel tergantung pada jenis elektroda, suhu, konsentrasi


ion dalam larutan, dan jenis ion dalam larutan.
Perlu diingat bahwa: Unsur/electrode yang mempunyai E lebih kecil akan
mengalami oksidasi dan berfungsi sebagai anoda, dengan E oksidasi = E reduksi.Syarat reaksi redoks berlangsung spontan, yaitu logam untuk
anoda terletak sebelah kiri logam untuk katoda dalam deret volta.
Deret

Volta

merupakan

urutan

logam-logam(ditambah

hidrogen)

berdasarkan kenaikan potensial elektroda standarnya.


Li K Ba Sr Ca Na Mg Al Mn Zn Cr Fe Ni Co Sn Pb H Cu Hg Ag Pt Au
Semakin ke kiri letak suatu logam dalam deret volta, maka logam tersebut
semakin mudah teroksidasi. Sebaliknya, semakin ke kanan suatu logam
dalam deret volta, maka logam tersebut semakin mudah tereduksi. Oleh
karena

itu,

untuk

melindungi

suatu

logam

dari

reaksioksidasi

(perkaratan) maka logam tersebut perlu dihubungkan dengan logam yang


letaknya lebih kiri dari logam tersebut dalam deret volta atau disebut
sebagai perlindungan katodik.
IV.

Alat dan Bahan :

N
o
1
2
3
4
5
6

Jumla
Nama Alat
Avometer
Gelas plastik
Spatula
Kaca arloji
Neraca analitik
No
Batang pengaduk
1
2
3
4
5
6
7
8

h
1 set
1
1
1
1
Nama Bahan
1
Batang Karbon
Batang Tembaga
Lempeng Tembaga
Lempeng Kuningan
Nikel
Besi
Timah
Seng

Rumus Kimia
C
Cu
Cu
Cu + Zn
Ni
Fe
Sn
Zn

Jumlah
1
1
1
1
1
1
1
1

V.

Skema Kerja

Gelas diisi dengan


aquades penuh

Catat hasil
pengukuran

Ganti salah satu


jenis logam dan
ukur kembali
dengan avo

+ garam sedikit
demi sedikit +
diaduk

+ garam sedikit
demi sedikit +
diaduk

Ukur beda
potensial pada
avometer (jika
posisi logam

masukkan 2 jenis
logam dengan
posisi
bedrlawanan

Ulangi lagi
langkah
sebelumnya pada
semua jenis

N.B. :

Nilai beda potensial sebenarnya dihitung dengan memperhatikan setting skala

dan skala baca pada jarum penunjuk yang dipilih


Untuk avometer digital, tekan hold utuk mendapatkan angka diam setiap kali
setelah pengukuran, alat perlu dinetralkan dengan mempertemukan kedua probe
pengukur
VI.

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Data Pengamatan
Katoda (+)
Kabon (C)
Kabon (C)
Kabon (C)
Kabon (C)
Kabon (C)
Kabon (C)
Kabon (C)
Kabon (C)
Lempengan Tembaga (Cu)
Batang Tembaga (Cu)
Nikel (Ni)
Kuningan

:
Anda (-)
Seng (Zn)
Alumunium (Al)
Besi (Fe)
Timah (Sn)
Nikel (Ni)
Kuningan
Batang Tembaga (Cu)
Lempengan Tembaga (Cu)
Seng (Zn)
Seng (Zn)
Seng (Zn)
Seng (Zn)

Beda Potensial
0.947
0.721
0.454
0.333
0.299
0.246
0.194
0.192
0.738
0.712
0.586
0.598

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36

Lempengan Tembaga (Cu)


Besi (Fe)
Timah (Sn)
Nikel (Ni)
Batang Tembaga (Cu)
Besi (Fe)
Kuningan
Timah (Sn)
Lempengan Tembaga (Cu)
Batang Tembaga (Cu)
Seng (Zn)
Lempengan Tembaga (Cu)
Timah (Sn)
Lempengan Tembaga (Cu)
Timah (Sn)
Lempengan Tembaga (Cu)
Kuningan
Batang Tembaga (Cu)
Nikel (Ni)
Lempengan Tembaga (Cu)
Batang Tembaga (Cu)
Besi (Fe)
Batang Tembaga (Cu)
Nikel (Ni)

Alumunium (Al)
Seng (Zn)
Seng (Zn)
Alumunium (Al)
Alumunium (Al)
Alumunium (Al)
Alumunium (Al)
Alumunium (Al)
Timah (Sn)
Timah (Sn)
Alumunium (Al)
Nikel (Ni)
Nikel (Ni)
Besi (Fe)
Besi (Fe)
Kuningan
Timah (Sn)
Besi (Fe)
Besi (Fe)
Batang Tembaga (Cu)
Nikel (Ni)
Kuningan
Kuningan
Kuningan

0.528
0.507
0.489
0.473
0.461
0.433
0.333
0.323
0.274
0.207
0.178
0.154
0.148
0.121
0.107
0.064
0.062
0.054
0.045
0.037
0.033
0.024
0.015
0.011

VII.

Pembahasan
Pada praktikum kali ini bertujuan untuk memahami konsep
tentang perbedaan potensial oksidasi pada setiap logam, dan memahami
prinsip terjadinya korosi. Logam logam yang digunakan dalam
praktikum ini yaitu alumunium, seng, timah, batang tembaga, lempengan
tembaga, kuningan besi, nikel, dan karbon. Kemudian bahan bahan
tersebut akan diurutkan berdasarkan kereaktifannya
Untuk melakukan praktikum ini, alat yang akan digunakan
untuk mengukur beda potensial antara dua macam logam yaitu voltmeter
digital, dimana akan tedapat dua kutub yaitu kutup positif (merah) dan
kutub negative (hitam). Kutub positif dan negative tersebut akan dijepit
dengan penjepit buaya untuk mengubungkan dengan logam yang akan
menjadi kutub positif dan negative. Seletah itu kedua logam yang telah
dihubungkan dengan voltmeter akan dimasukkan ke dalam larutan
elektrolit yang telah disediakan oleh teknisi laboratorium yaitu larutan
garam dan air laut. Pada praktikum ini menggunakan larutan garam yang
dibuat dengan melarutkan garam hingga jenuh dalam 150 ml air. Setelah
dimasukkan ke dalam larutan elektrolit voltmeter akan menunjukkan
angka beda potensial kedua logam yang bernialai positif yang
menunjukkan bahwa kedua logam bereaksi secara spontan. Apabila pada
voltmeter menunjukkan tanda negative hal itu menunjukkan penempatan
logam di kutub positif dan negative terbalik, maka yang tadinya menjadi
kutup positif diubah menjadi kutub negative dan sebaliknya. Voltmeter
diatur pada arus DC dengan satuan volt.
Pada data pengamatan yang didapat menunjukkan beda
potensial antar logam berbeda- beda. Didataptkan beda potensial tertinggi
0.947 volt yaitu antara karbon dengan seng. Dimana karobon sebagai

katoda (+) dan seng sebagai anoda (-). Sedangkan beda potensial terkecil
0.011 yaitu antara nikel sebagi katoda dan kuningan sebagai anoda.
Sehingga dapat dikatakan bahwa logam yang ada pada anoda akan lebih
reaktif (mengalamai oksidasi) sedangkan pada katoda akan lebih pasif
(mengalami reduksi).
Logam-logam yang telah diuji dapat diurutkan berdasarkan besar
potensialnya. Karena karbon bersifat inert kita dapat mengurutkan besar
beda potensial antar logam dengan mudah. Pada karbon sebagai katoda
terdapat penyimpangan pada besar beda potensial antara karbon dengan
logam seng dan alumunium. Beradasarkan deret volta seperti di bawah ini

Sumber http://herlinaidra.blogspot.co.id/2013/01/deret-volta.html
Tetapi yang didapat pada praktikum ini sebagai berikut
Zn Al Fe Ni Sn kuningan Cu(batang) Cu(lempengan)
Seharusnya berdasarkan deret volta alumunium seharusnya memiliki beda
potensial paling tinggi karena posisi karbon berada paling ujung kanan
yang susah mengalami oksidasi sangat jauh dengan alumunium.
Sedangkan seng berada disebelah kanan dari alumunium sehingga
jaraknya lebih dekat dengan karbon. Pada pasangan logam nikel
alumunium dengan beda potensial 0.461 dan pasangan batang tembaga
alumunium beda potensialnya 0.433 juga terdapat kesalahan. Seharunya
beda potensial batang tembaga denga alumunium lebih tinggi
dibandingkan nikel dengan tembaga karena posisi tembaga lebih kanan

(mudah tereduksi) dibandingkan nikel. Kesalahan tersebut dapat terjadi


karena kemungkinan pada logam alimunium terdapat kotoran saat di uji
atau logam tersebut telah terkorosi.

KESIMPULAN :
1. Dalam urutan sel volta semakin ke kiri maka logam akan semakin aktif
dan mengalami oksidasi sehingga mudah mengalami korosi
2. Semakin ke kanan pada sel volta maka logam tersebut akan semakin pasif
dan mengalami reduksi sehingga tidak mudah mengalammi korosi
3. Pada percobaan ini logam yan paling aktif yaitu
4. Urutan sel volta berdasarkan

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Anonym. 2011. Deret Galvanis Korosi. http:scribd.com/2011/deret-galvaniskorosi.html. diakses pada 26 oktober 2016
Anonym.

2013.

Korosi

Seragam

Korosi

Galvanis.

http://kimiatip.blogspot.com/2013/06/korosi-seragam-korosi-galvanis.html.
Diakses pada 26 oktober 2016
Herlina,idra. 2013. Deret volta. http://herlinaidra.blogspot.co.id/2013/01/deretvolta.html. Diakses pada 26 oktober 2016
Rahma,

gina.

2014.

Laporan

Praktikum

Sel

Galvanik

(Sel

Volta).

http://saghinarius.blogspot.co.id/2014/10/laporan-praktikum-sel-galvanik-selvolta.html. Diakses pada 26 oktober 2016

JAWABAN PERTANYAAN :
1.

Voltmeter

Anoda

Katod
a

2. Zn Al Fe Ni Sn kuningan Cu(batang) Cu(lempengan)


3. a) besi (Fe) dan alumunium (Al)
katoda
: Fe2+ + 2e
anoda
: Al
Fe2+ + Al
b) batang tembaga dan alumunium
katoda
: Cu 2+ + 2e
anoda
: Al
Cu2+ + Al
c) batang tembaga dan seng
katoda
: Cu 2+ + 2e
anoda
: Sn
Cu2+ + Sn

Fe
Al 3+ + 3e
Fe + Al 3+

x3
x2

Cu
Al 3+ + 3e
Cu + Al 3+

x3
x2

Cu
Sn 2+ + 2e
Cu + Sn 2+