Anda di halaman 1dari 6

REPROKLAMASI KEBUDAYAAN INDONESIA

Oleh : Rangga Bisma Aditya, S. Sosio. *)


Pasca runtuhnya kekuatan absolut di berbagai belahan dunia, dominasi
kebudayaan lama yang abadi ditengah masyarakat perlahan mulai berganti
dengan kebudayaan baru yang diciptakan mengikuti kebutuhan zaman.
Peristiwa tersebut dapat didefinisikan sebagai Reproklamasi Kebudayaan. Rememiliki arti menimbang kembali, sementara itu Proklamasi memiliki arti
membentuk sebuah tatanan baru melalui kekuatan diri sendiri tanpa harus
disertai dengan pengakuan pihak lain dengan tujuan memberikan pengaruh
dan tawaran akan maksud untuk menjadi lebih baik.
Misalnya saja Jepang dan Korea Selatan yang memberikan sumbangan
kepada sejarah peradaban dunia dengan mengikuti jejak kebudayaan
amerika dalam menciptakan budaya konsumtif yang universal hingga
menjadi lambang sekaligus landasan bagi negara-negara lain yang memiliki
dasar homogen universal. Bahkan negara-negara eropa sebagai barometer
kebudayaan dunia, cenderung mengabaikan peradaban tua mereka dengan
mengikatkan diri ke dalam satuan kekuatan universal baru, atas nama Uni
Eropa.
Peristiwa yang serupa tampaknya juga terjadi di Indonesia yang juga
mengakhiri kekuatan absolutnya pada peristiwa reformasi 1998. Namun
bagaimana Indonesia mengalami Reproklamasi Kebudayaan seperti negaranegara di belahan bumi yang lain? Tentunya kita harus memiliki sudut
pandang historis yang obyektif untuk menilainya.
Polemik Kebudayaan 1930-an
Jauh setelah kebudayaan Pra-Indonesia berkembang dengan didahului
dengan peradaban kerajaan-kerajaan nusantara, untuk pertama kalinya
perdebatan atas kebudayaan Indonesia muncul pada saat 15 tahun sebelum
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Adalah Sutan Takdir
Alisjahbana yang mengawali polemik ini dengan tulisan tentang tajuk yang
ditulis dalam Pujangga Baru Tahun III nomor 2, Agustus 1935, dengan judul
Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru Indonesia - Pra-Indonesia.
Adapun polemik tersebut muncul karena para ahli dan budayawan yang lain
seperti Adinegoro, M. Amir, Ki Hajar Dewantara, RM. Ngb. Purbatjaraka,
Sanusi Pane,
Dr. Soetomo, dan Tjindarbumi melakukan kritik-otokritik
terhadap tulisan Sutan sebelum pada akhirnya polemik tersebut dirangkum
oleh Achdiat K. Mihardja pada tahun 1948.

Dalam peristiwa tersebut, untuk pertama kalinya nilai-nilai dan ukuran


kebudayaan Indonesia yang sudah lapuk dikaji, dikupas, dan diperiksa
dengan mendalam dan teratur. Di samping itu, oleh karena justru pada saat
itu bangsa Indonesia sedang membentuk kebudayaan baru yang harus
sesuai dengan masyarakat modern dan jiwa modern, polemik tersebut tidak
dapat diindahkan. Karena disatu sisi melalui Kongres Pendidikan masyarakat
tradisi dan jiwa tradisi harus tetap dipertahankan.
Dalam polemik yang terjadi antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan lawanlawannya tersebut, salah satu pernyataan terdapat unsur-unsur reaksi
terhadap kebudayaan feodal yang sudah beku. Meski perdebatan tentang
Kebudayaan Indonesia cenderung mengarah kepada pembenaran JawaismeMelayuisme - Feodalisme-Kolonialisme - Timur-Barat. Namun dapat
disimpulkan bahwa tiap kebudayaan yang hendak diwariskan kepada suatu
angkatan tidak bisa diterima secara pasif, apabila kebudayaan itu mau
segar, bertunas, serta hidup terus dengan subur. Hingga pada akhir polemik
tersebut, lahirlah aliran-aliran kebudayaan Indonesia yang tentunya
mengilhami para penganut generasi selanjutnya, dengan melahirkan definisidefinisi baru, gerakan-gerakan baru, serta karya-karya baru atas nama
persatuan dan kesatuan Indonesia. Dalam periode inilah Reproklamasi
Kebudayaan Indonesia untuk pertama kalinya terjadi.
Manikebu, Lekra, LKN, dan Lesbumi
Jauh setelah polemik kebudayaan terjadi, gesekan yang hebat mengenai
kontekstasi kebudayaan Indonesia kembali meruncing. Namun berbeda
seperti polemik kebudayaan di tahun 1930-an, kali ini situasi politik dan ego
kelembagaan yang secara nyata saling bergesekan dilapangan. Lahirnya
kritik-kritik sosial dalam budaya Indonesia, memaksa kebudayaan Indonesia
terkotak-kotak dalam dimensi kelembagaan.
Menurut Alexander Supartono dalam bukunya, Lekra vs Manikebu, terdapat
perdebatan sengit di wilayah kebudayaan Indonesia. Antara di satu pihak
sekelompok seniman, cendekiawan, dan budayawan yang bergabung
bersama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang sangat dekat ke Partai
Komunis Indonesia dengan ideologi rasionalisme Indonesia yang
mengedepankan politik sebagai panglima. Dengan pihak lawannya yang
merupakan kelompok non-partisan Manifes Kebudayaan (Manikebu), yang
menolak politik sebagai panglima di bidang seni dan memilik seni untuk seni
dengan ideologi Humanisme Universal. Hingga muncul peserta lain seperti

Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang lebih condong ke Partai Nasional


Indonesia, dan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) yang
cenderung mewadahi seniman-seniman yang bernafaskan pandangan Islam.
Praktis pada tahun 1950-1965, eksistensi para seniman, cendekiawan, dan
budayawan dihimpun dalam gerakan dan karya dalam label dan ideologi
organisasi yang memuat babak baru tentang konsepsi Kebudayaan
Indonesia.
Tokoh-tokoh seperti Sitor Situmorang (LKN), Asrul Sani dan Usmar Ismail
(Lesbumi), HB Jasin, Wiratmo Soekito, Taufik Ismail, WS Rendra, Goenawan
Mohamad (Manikebu), serta Pramoedya Ananta Toer, Joebaar Ajoeb, Bakri
Siregar, Aidit, Boejoeng Saleh (Lekra) tidak hanya melakukan perdebatan
sengit dalam polemik ini, namun sudah sampai penghancuran satu sama
lain. Misalnya saja Goenawan Mohamad yang cenderung banyak menulis
secara subjektif pengalamannya pada sejarah 1965 di media tempo hingga
kini. Atau Pramoedya Ananta Toer yang secara subjektif menceritakan
pengalamannya dalam imajinasi karyanya. Meskipun dalam kondisi yang
pelik, praktis kondisi kebudayaan di era ini cenderung memiliki dinamika
yang hidup mengingat kebudayaan ditopang oleh kekuatan politik yang
memiliki kepentingan atas eksistensi masing-masing.
Memang pada akhirnya dapat disimpulkan jika ideologi LKN dan Lekra yang
cenderung lebih dekat dengan pemerintah saat itu, telah ditumpas
eksistensinya oleh orde baru. Dan sebaliknya tokoh-tokoh yang bergabung
dalam Manikebu dan Lesbumi masih bisa eksis dan menjadikan pembenaran
atas sejarah yang terjadi pada polemik ini di zaman orde baru hingga
reformasi bergulir.
Apapun yang terjadi atas peristiwa ini, kebudayaan Indonesia lebih bersifat
demokratis karena ia tercipta dan tumbuh secara alamiah sesuai dengan
kehendak dan kemampuan rakyat negeri ini. Berbeda dengan reproklamasi
kebudayaan Indonesia 1930-an, dalam periode ini dinamika gerakan, serta
reproduksi karya lebih dimaknai dengan pertentangan nyata, tidak diatas
kertas. Sehingga dapat dikatakan pasca era ini lahirlah gagasan pembebasan
yang mampu berkembang. Maka untuk kali kedua terjadilah gelombang
reproklamasi kebudayaan Indonesia.
Pertanyaannya, di era Global seperti sekarang, seperti apakah kondisi
Kebudayaan Indonesia? Masih diperlukankah Reproklamasi Budaya saat ini?

Urgensitas Reproklamasi Kebudayaan Gelombang III


Kondisi Kebudayaan Indonesia pasca Reformasi 1998, ketika kran kebebasan
dibuka kembali tanpa batasan, semua berlomba menjadi pembenar atas
peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di tengah masyakat baik melalui
gerakan maupun karya. Dengan dukungan dan pengaruh globalisasi yang
juga memiliki visi sama, praktis kondisi kebudayaan Indonesia dapat
dikatakan labil. Letupan-letupan kecil tanpa arah dan tujuan, karya-karya
dengan alasan eksistensial dan numpang hidup, bahkan gerakan-gerakan
tanpa dilatari benang merah, bebas berkembang sesuai ego kreatornya
tanpa adanya satu identitas kebersamaan. Hingga akhirnya lahirlah
komunitas-komunitas yang sama sekali melupakan identitas persatuan atas
nama Kebudayaan Indonesia.
Permasalahannya terletak pada belum adanya kemauan secara bersama
untuk duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Gagalnya identifikasi gerakan
dari ratusan rekomendasi kongres, ribuan hasil seminar, hingga jutaan
penyelenggaraan sarasehan, forum, dan festival, tidak mampu mengikat
kemana arah dan tujuan dari kebudayaan Indonesia. Atas nama Bhineka
Tunggal Ika, semua berbeda-beda namun lupa bahwa esensinya harus
bersatu jua.
Bagi sebagian kreator yang tidak sadar akan bahayanya kondisi ini, maka
mereka akan terus melanjutkan rutinitasnya tanpa memperdulikan apa yang
terjadi di masa depannya. Namun bagi yang sadar, kondisi ini adalah
peluang bahwa sudah saatnya Kebudayaan Indonesia dapat menemukan
kembali identitasnya. Yang diperlukan adalah punjer atau panglima atas
seluruh gerakan kebudayaan di Indonesia dan kemauan untuk menundukkan
sedikit ego dan keinginan atas eksistensial pribadi, golongan, maupun
kedaerahan.
Untuk alasan kedua, saya memiliki keyakinan jika keinginan untuk
menundukkan ego sudah ada, namun tidak demikian dengan mencari
panglima kebudayaan Indonesia. Negara yang seharusnya memiliki
tanggung jawab seperti yang tercantum pada pasal 32 ayat 1 UUD 1945,
tidak benar-benar dilakukan secara serius. Atau jangan-jangan negara sudah
tidak peduli kemana tujuan kepribadian budaya rakyatnya. Bayangkan saja,
untuk merumuskan undang-undang Kebudayaan Indonesia terdapat 4
naskah draft selama 5 tahun terakhir, yang hingga kini belum menemukan
titik capaian kata sepakat.

Kita bisa bandingkan dengan kemauan Korea Selatan untuk menduniakan


budaya mereka melalui strategi yang benar-benar diperhitungkan secara
matang. Kita bisa lihat kebudayaan mereka seperti film, drama, sastra, seni
rupa, pariwisata, lifestyle, musik, hingga tarian yang mendunia dan
mendarah daging. Kita bisa melihat kebudayaan korea dimajukan sebagai
alat diplomasi untuk memajukan perekonomian dan politiknya, bukan
sebaliknya. Kita bisa lihat Presiden Bank Dunia dijabat orang Korea Selatan,
bahkan Sekjend PBB pun juga dijabat orang Korea Selatan. Apakah itu semua
dilakukan tanpa campur tangan negara? Jawabnya : tidak! jika kita mengacu
kepada Strategi Kebudayaan Korea Selatan yang dirumuskan melalui white
paper : Korean wave yang diluncurkan pada tahun 2006 dan 2008.
Hingga kita harus sadar, bahwa kita harus melakukan upaya Reproklamasi
Kebudayaan Indonesia Gelombang III untuk merumuskan Strategi
Kebudayaan Indonesia. Tentunya dengan maksud dan tujuan berbeda seperti
Reproklamasi Budaya Gelombang I dan II, yaitu untuk memajukan
kebudayaan Indonesia ditengah peradaban dunia.
Strategi Kebudayaan Indonesia
Melihat Kebudayaan Indonesia yang jauh berkembang hingga saat ini,
terlebih pada saat Indonesia sudah memutuskan untuk bergabung dalam
masyarakat ekonomi ASEAN serta meratifikasi beberapa perjanjian
Internasional yang cenderung me-universal-kan budaya Indonesia. Sudah
saatnya kita memiliki harapan besar kepada kemauan pimpinan tertinggi di
negeri ini untuk turun tangan sebagai punjer dari kebudayaan Indonesia.
Adalah sebuah kewajiban jika Presiden Republik Indonesia harus turun
tangan langsung dalam merumuskan sebuah strategi untuk menduniakan
Indonesia melalui bidang Kebudayaan. Hal serupa yang pernah dilakukan
oleh Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk melalui
kebijakan untuk mendorong kebijakan budaya Panji sebagai alat diplomasi
dalam menaklukkan kerajaan lain di bawah konstitusi Majapahit. Atau Bung
Karno yang cenderung memfasilitasi berkembangnya Kebudayaan Indonesia
melalui keberagaman idntitas disegala bidang.
Strategi tersebut sebenarnya hanya butuh kemauan dan dorongan,
mengingat Presiden Indonesia kali ini sudah memiliki visi untuk
menghadirkan kembali negara yang telah lama absen menyerap aspirasi
rakyatnya, khususnya dalam bidang budaya, dalam program Nawacita.
Catatan saya bahwa Strategi Kebudayaan Indonesia setidaknya harus

merangkum seluruh potensi yang dimiliki daerah, sumberdaya masyarakat


Indonesia, revitalisasi paradigma pelaku seni-cendekiawan-budayawan, serta
sinergitas antar kelembagaan untuk mendukung infrastrukturnya.
Apakah Reproklamasi Budaya gelombang III melalui pencanangan Strategi
Kebudayaan Indonesia akan terjadi? Entah hasilnya gagal dan menjadikan
Indonesia tetap sebagai negara pasar dengan segala potensinya, atau justru
sebaliknya mampu mencapai tujuan memberikan sumbangsih peradaban
pada dunia dengan memanfaatkan segala sumberdaya yang ada. Sudah
saatnya Indonesia untuk bangkit dari tidur yang amat panjang.
*) Penulis adalah Ketua Yayasan Tunas Pratama Kota Blitar