Anda di halaman 1dari 18

KOMPAS MAGNET

(MAGNETIC COMPASS)

A. Pengertian Kompas
Salah satu alat navigasi yang berfungsi untuk menetapkan arah haluan kapal
dan juga untuk menentukan arah baringan suatu target sasaran.

B. Prinsip Kerja Kompas


Prinsip kerja kompas magnit identik dengan prinsip kerja dengan sebuah
magnet batang, yaitu : Apabila batangan magnit berdiri bebas maka batangan
magnit tersebut akan mengarah ke arah kutub-kutubnya. Contohnya bila sebuah
batang magnit diikat benang di bagian tengah sehingga seimbang, kemudian
benang tersebut diangkat sehingga batang magnit akan tergantung (berdiri
bebas), maka batangan magnit tersebut akan menunjuk ke arah kutub-kutubnya.
Sifat-sifat magnit :

Memiliki gaya tarik atau tolak terhadap logam bermagnit lainnya (baja
dan besi).

Kekuatan terkuat gaya tarik magnit terdapat pada ujung-ujung magnit


batang.

Ujung-ujung magnit batang diberi nama kutub. Kutub utara dan kutub
selatan, karena ujungnya selalu mengarah ke kutub-kutub bumi.

Kutub senama akan saling tolak menolak dan kutub tidak senama
akan tarik menarik.

C. Cara Pengoperasian
Untuk Menentukan Arah Haluan Kapal :
Letakkan kompas tepat ditengah-tengah kapal sejajar dengan garis lunas
kapal, dekat dengan kemudi kapal.
Kemudian tentukan arah haluan kapal yang akan dituju.
Putar kemudi kapal kekiri atau kekanan seiring dengan pergerakan arah
haluan kapal yang dituju.
Baca arah haluan kapal dengan cara melihat derajat pada mawar pedoman
kompas yang berimpit dengan garis layar.
Membaring benda di darat.
Persiapkan alat-alat baring, antara lain :

Kompas magnit

Pesawat Penjera Celah

Baringlah target sasaran dengan menggunakan alat pembaringan.


( pembahasan cara pengoperasian lihat pada prosedur pengoperasian
Pesawat Penjera Celah )

Persyaratan kompas magnit:


Kompas magnit berfungsi sebagai pedoman di kapal untuk menuju ke
arah yang sesuai dengan tujuan. Sebagai alat pedoman maka kompas
harus benar. Untuk mengetahui kompas benar atau tidak maka ada

alat yang mengaudit dan memperbaiki secara periodik. Dalam


penggunaan di kapal, keterampilan menguji / mengecek kebenaran
kompas magnit harus dimiliki. Cara-cara yang lazim dan sangat mudah
dilakukan adalah:
1. Pengecekan tentang kepekaan kompas (sensitif).
Urutan pengecekan :
a. Letakkan kompas di meja, dengan posisi piringan pedoman rata
mendatar.
b. Pegang kompas, dengan cara tangan kanan memegang sisi
kanan kompas dan tangan kiri memegang sisi kiri bagian kompas
c. Putar kompas ke arah kanan / kiri kurang lebih 45 o.
Apabila piringan pedoman saat diputar cepat mengikuti /
bergerak dan cepat berhenti pada saat dihentikan sama dengan
arah putaran maka kompas itu Peka apabila sebaliknya maka
kompas tersebut Tidak peka.
2. Pengecekan Tentang Kestabilan / Keseimbangan Kompas
Urutan pengecekan :
a. Letakkan kompas di meja, dengan posisi piringan pedoman rata
mendatar.
b. Pegang kompas, dengan cara tangan kanan memegang sisi
kanan kompas
dan tangan kiri memegang sisi kiri bagian
kompas.
c. Miringkan kotak kompas ke kanan / ke kiri kemudian ke depan
dan ke belakang.
Apabila posisi kaca / piringan pedoman tetap mendatar maka kompas
stabil. Apabila sebaliknya maka kompas tidak stabil.
Lakukan kegiatan seperti poin 1 dan 2 secara berulang untuk hasil
yang lebih akurat. Hati hati dalam melakukan kegiatan di atas.
3. Pengecekan tentang kebenaran arah yang ditunjukkan kompas
Dengan cara mencocokkan kompas dengan kompas yang lain (kompas
standar) atau mungkin dicocokkan dengan tidak hanya pada satu
kompas.

Syarat-syarat piringan pedoman yang baik :

Harus ringan, sungkup piringan pedoman bagian bawahnya harus


licin.

Tidak memiliki kesalahan kolimasi.

Pembagian derajatnya harus jelas, sehingga mudah dibaca dan dibuat


secara teratur.

Besarnya piringan pedoman harus seimbang dengan besarnya ketel


pedoman.

Piringan pedoman harus tenang namun peka.

Waktu ayun piringan pedoman harus cukup besar, yaitu minimum 14


detik agar tidak terjadi sinkronisasi dengan olengan kapal.

Cara memeriksa kepekaan piringan pedoman :


Putar piringan pedoman ke kanan + 30 dari kedudukan seimbang semula.
Lepaskan dan kemudian baca penyimpangan sudut pada sisi lainnya.
Ulangi dengan arah berbeda, yaitu putar piringan pedoman kekiri.
Bila hasil penyimpangan pada kedua sisi sama atau berselisih 0 saja,
berarti piringan pedoman cukup peka.
Syarat ketel pedoman yang baik :

Ketel pedoman tidak boleh mengandung magnit.

Pada saat kapal dalam keadaan diam, maka tutup kaca bening
dibagian atas harus dalam keadaan datar.

Posisi ketel pedoman tidak boleh menyentuh bagian-bagian pedoman


lain, sehingga setiap saat bagian-bagian dalam pedoman dapat
mengayun dengan bebas.

Semat atau pasak pedoman harus benar-benar terpasang vertical


ditengah-tengah ketel pedoman.

Tuas untuk menempatkan pesawat baring harus tepat dititik pusat


mawar pedoman/piringan.

Garis layar tepat pada bidang lunas linggi kapal.

Cara memeriksa ketepatan garis layar :

Buatlah sebuah tonggak dan berdirikan dibidang lunas linggi didepan


pedoman pada jarak yang cukup, misalnya diujung haluan.

Baringlah tonggak tersebut dan pada saat yang sama lihatlah


penunjukkan skala derajat oleh garis layar.

Bila kedua penunjukkan adalah sama berarti garis layar telah tepat.

Macam-macam pedoman magnit berdasarkan penggunaannya:

Pedoman magnit basah (magnetic liquid compass)

Pedoman magnit kering (magnetic dry compass).

Sesuai dengan penempatan dan fungsinya di kapal, pedoman magnit


basah dibagi menjadi tiga jenis :
Pedoman standard (standard compass).
Pedoman kemudi (steering compass).
Pedoman darurat.

Bagian-bagian kompas magnit basah

Gbr. Penampang Melintang Kompas Magnit Basah


Keterangan Gambar :
1. Ketel Pedoman
Tempat bagi keseluruhan bagianbagian kompas, umumnya terbuat dari
kuningan atau perunggu.
2. Piringan Pedoman
Tempat penulisan skala derajat kompas dan arah mata angin.
3. Batangan Magnit
Kekuatan yang mengarahkan arah Utara dan Selatan ke arah kutub-kutub
bumi.
4. Pelampung
Mengapungkan dan menjaga kestabilan posisi dari piringan pedoman agar
tetap rata.
5. Pemberat
Pengatur terhadap gaya gravitasi , untuk membuat piringan pedoman cepat
kembali pada posisi tegak bila terjadi goncangan.

6. Cairan ( Alkohol 25 % dan Air Suling 75 % ) :


Berfungsi untuk :
- Tidak mudah terjadi pengkaratan.
- Cairan tidak mudah membeku.
- Cairan tidak mudah menguap.
- Menghindari cat dalam kompas agar tidak terkelupas.
7. Cincin Kardanus (Cincin Lenja)
Pengatur keseimbangan, supaya kompas selalu dalamposisi tegak walaupun
posisi kapal dalam keadaan miring.
8. Batang Semat
Tegak lurus ditengah-tengah bagian bawah piringan pedoman, yang
merupakan pengatur keseimbangan terhadap kedudukan pelampung,
pemberat dan batangan magnit.
9. Tempat dudukan alat baring (Pesawat Penjera Celah)
10. Kaca Penutup : Sebagai penutup bagian- bagian kompas bagian dalam.

MAWAR PEDOMAN

Gambar 3. Mawar Pedoman


1. Utara = 0 o
2. Utara di kiri jarum pendek = 11 o
3. Utara timur laut = 22 o
4. Timur laut di kiri jarum pendek = 33
5. Timur laut = 45 o
6. Timur laut di kiri jarum pendek = 56
7. Timur timur laut = 67 o
8. Timur di kanan jarum pendek = 78 o
9. Timur = 90 o

o
o

10.
11.
12.
13.
14.
15.

Timur di kiri jarum pendek = 101 o


Timur tenggara = 112 o
Tenggara di kanan jarum pendek = 123 o
Tenggara = 135 o
Tenggara di kiri jarum pendek = 146 o 14
Selatan tenggara = 157 o

16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.

Selatan di kanan jarum pendek = 168 o


Selatan = 180 o
Selatan di kiri jarum pendek = 108 o
Selatan barat daya = 225 o
Barat daya di kanan jarum pendek = 213 o
Barat daya = 225 o
Barat daya di kiri jarum pendek = 236 o
Barat barat daya = 347 o
Barat di kanan jarum pendek = 258 o
Barat = 270 o
Barat di kiri jarum pendek = 288 o
Barat barat laut = 292 o
Barat laut di kanan jarum pendek = 303 o
Barat laut = 315 o
Barat laut di kiri jarum pendek = 326 o
Utara barat laut = 337 o
Utara di kanan jarum pendek = 348 o

Aplikasi Kompas
HALUAN

Haluan adalah sudut yang di bentuk antara arah utara dengan arah
lunas kapal. Pada umumnya haluan dihitung dari utara ke arah timur
sampai 360o , sesuai dengan arah putaran jarum jam. Penulisan atau
penyebutan dari haluan dapat dinyatakan dengan caramenyebutkan
langsung berapa derajatnya.
Contoh :
100 = Sepuluh derajat
2350= Dua ratus tiga puluh lima derajat
Atau dengan penyebutan arah mata angin diikuti berapa nilai
derajatnya.

Macam haluan :
Pada umumnya kegiatan di kapal yang berkaitan dengan haluan
adalah kegiatan pokok yang meliputi persiapan, pelaksanaan dan
pengakhiran. Kegiatan persiapan dilakukan di atas peta dan
dilaksanakan di atas kompas. Oleh karena itu haluan kapal dibagi
menjadi haluan di atas peta dan haluan di kompas.
Haluan di peta disebut dengan haluan sejati dan haluan di kompas
magnit disebut haluan pedoman. Uraian tentang HS dan HP akan
dirinci berikut ini.
Kompas magnit yang dibahas terdahulu bekerja berdasarkan medan
magnit, sehingga arah yang ditentukan akan dipengaruhi oleh medan
magnit yang berada di sekitarnya. Medan magnit yang berada
disekitar kompas adalah magnit besi kapal dan magnit bumi. Pengaruh
magnit besi yang ada dikapal disebut dengan deviasi dan pengaruh
magnit bumi disebut dengan variasi.
Dari uraian diatas maka mata angin dan haluan dapat dirinci sebagai
berikut :

Keterangan :
US = Utara sejati
UM = Utara magnetik
UP = Utara pedoman
HS = Haluan sejati
HM = Haluan magnetik
HP = Haluan pedoman
V = Variasi
D = Deviasi
HS = Haluan sejati ialah haluan yang terbentuk dari arah US dengan
arah luas kapal, haluan ini tidak terpengaruh oleh magnit apapun
dan haluan ini merupakan garis yang ada tertulis di peta.
HM = Haluan magnetis ialah haluan atau sudut yang terbentuk antara
US dengan arah lunas kapal. Haluan ini terpengaruh oleh magnit
bumi. Haluan ini merupakan arah derajat di kompas magnit yang
diletakkan di atas kapal kayu yang tidak mengandung magnit.

HP = Haluan pedoman ialah haluan sudut yang terbentuk antara UP


dengan arah lunas kapal, haluan ini terpengaruh oleh adanya
magnit bumi dengan magnit besi kapal dan haluan ini
merupakan arah derajat di kompas magnit yang diletakkan di
atas kapal besi.
Untuk memperoleh angka derajat dari uraian diatas dapat dirumuskan
dengan cara yang sederhana. Perhatikan gambar diatas.

Rumus:
HS = HM + V
= HP + (V +D)
HM = HS V
= HP + D
HP = HS (V+D)
= HM D
Haluan yang dikemudikan pada pedoman magnit kapal besi adalah Haluan
Pedoman (HP) dan Baringan yang diperoleh dari pedoman baringnya adalah
Baringan Pedoman (BP), sedangkan pada kapal kayu adalah Haluan Magnetis
(HM) dan baringannya adalah Baringan Magnetis (BM)
Garis haluan yang ditarik diatas peta adalah Haluan Sejati (HS) dan
baringannya adalah Baringan Sejati (BS).
HS = HM + V
HS = HP + V + D
Hasil baringan dari pedoman baring, jika ingin dilukiskan di peta harus diubah
terlebih dahulu menjadi BS, dengan menggunakan rumus :
BS = BM + V ;
BS = BP + V + D atau BS = BP + S
BM = BP + D ;
S=V+D;
Pada nilai variasi perhatikan perubahan tahunan variasinya, sedangkan untuk
nilai deviasi perhatikan deviasi pedoman kemudi pada daftar deviasi untuk
haluan yang bersangkutan.
Untuk keperluan pengemudian kapal, ubahlah HS menjadi HP untuk jenis
Kapal Besi atau ubahlah HS menjadi HM untuk jenis Kapal Kayu..
Bulatkanlah selalu nilai haluan ( 0,5 0 keatas dibulatkan menjadi 1 0 dan dibawah
0,50 dihilangkan )., contoh :
23,60 menjadi 240 ; 23,40 menjadi 230

D. Aplikasi Deviasi Kompas


Deviasi = sudut antara Utara Magnit dan Utara Pedoman
- Nilai deviasi (+) bila UP dikanan UM
- Nilai deviasi (-) bila UP dikiri UM
Sembir = sudut antara US dan UP
- Nilai sembir (+) bila UP dikanan US
- Nilai sembir (-) bila UP dikiri US

Cara Membuat Daftar Deviasi

Daftar deviasi dibuat umumnya pada saat kapal baru selesai dibuat atau
setelah mendapat perbaikan besar / kecil (naik dok). Pembuatan nilai deviasi ini
disebabkan adanya perubahan nilai-nilai magnitisme besi kapal, magnit besi
disekitar kapal yang mengalami perubahan sehingga mempengaruhi kompas
magnit.
Adapun cara membuat daftar deviasi antara lain:

1. Baringan dua benda darat yang kelihatan menjadi satu.


Benda darat yang dibaring adalah dua buah benda darat yang apabila dilihat
dari laut maka benda tersebut dapat kelihatan menjadi satu, tapi dengan
syarat kedua benda tersebut ada dalam peta laut, sehingga kita bisa mencari
nilai Baringan Sejatinya.
Urutan Pelaksanaan Baringan :
a. Tentukan pada peta laut dua benda darat yang akan dibaring, selanjutnya
buat garis baringan di peta tersebut dari kapal membentuk garis lurus
dengan kedua benda tersebut.
b. Dari hasil pengukuran garis baringan di peta maka diperoleh Baringan
Sejati (BS).
c. Hitung Baringan Magnetis dengan rumus BM = BS V
d. Buatlah Blanko Tabel Kolom seperti berikut ini :
H
...................
...................
...................
...................
...................

BP
...................
...................

BM
...................
...................

Deviasi
...................
...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................
...................
...................
...................
Isikan hasil hitungan Baringan Magnetis tersebut pada kolom BM
e. Selanjutnya Lakukan Baringan di Kapal dengan cara :
- Kemudikan kapal sesuai dengan haluan yang ditentukan, misalnya Haluan
00, Olah gerak kapal sedemikian rupa sehingga pada Haluan 0 0 akan
terlihat kedua benda kelihatan menjadi satu.
- Catat hasil baringan pada Haluan 0 0 tersebut yang berupa Baringan
Pedoman (BP). Masukan ke dalam Tabel diatas pada kolom BP.
- Lakukan kegiatan membaring seperti diatas dengan menentukan haluanhaluan kapal yang dipergunakan, misalnya Haluan 45 0, 900, 1350, 1800,
2250, 2700, dan 3150. Dan tentukan hasil baringannya pada haluan-haluan
tersebut, yang berupa Baringan Pedoman (BP).
- Lengkapi tabel diatas pada untuk haluan-haluan tersebut.
- Buatlah grafik daftar deviasi dari pengisian kolom-kolom pada tabel diatas.

2. Baringan Sebelah Menyebelah (Baringan Timbal Balik).


Pada prinsipnya baringan timbal balik dilakukan dengan cara membaring dari
dua tempat, yaitu di darat dan dilaut (Kapal) pada waktu bersamaan. Dari
kapal membaring benda daratan yang diketahui posisinya dan dari darat
(posisi si pembaring berada pada benda darat yang dibaring) membaring
kapal yang sedang melakukan pembaringan, sehingga saat bersamaan
mereka saling melakukan baringan. Dari kapal akan diperoleh nilai BP
(Baringan Pedoman) dan dari darat diperoleh nilai BM (Baringan Magnit).
Arah baringan disamakan (BM ditambahkan nilai 180 0 atau BM dibalik contoh
45 ><>0. Selanjutnya nilai Deviasi akan diperoleh dengan menggunakan
rumus D = BM BP.

Urutan Pelaksanaan Baringan


1. Tentukan benda darat yang akan dibaring, dan tempatkan seorang
petugas di darat yang akan membaring, sambil menyiapkan kompas dan
pesawat penjera celah.
2. Buatlah Tabel seperti berikut ini :
H
...................
...................
...................
...................
...................
...................

BP
...................
...................

BM + 1800
...................
...................

Deviasi
...................
...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

...................

3. Selanjutnya lakukan baringan seperti berikut ini :


- Kemudikan kapal sesuai dengan haluan yang ditentukan, misalnya Haluan
00, Olah gerak kapal sedemikian rupa sehingga pada Haluan 0 0 akan
terlihat benda darat (posisi sipembaring di darat). Catat hasil baringan
pada Haluan 00 tersebut yang berupa Baringan Pedoman (BP). Masukan
ke dalam Tabel diatas pada kolom BP.

- Sementara itu pada waktu bersamaan, dari darat membaring kapal yang
berada di laut, catat hasil baringannya yang berupa Baringan Magnetis
(BM). Nilai BM tersebut selanjutnya ditambahkan nilai 1800 , hasil
hitungannya di masukkan ke dalam tabel diatas pada kolom BM + 1800.
- Lakukan kegiatan membaring seperti diatas dengan menentukan haluanhaluan kapal yang dipergunakan, misalnya Haluan 45 0, 900, 1350, 1800,

2250, 2700, dan 3150. Dan tentukan hasil baringannya pada haluan-haluan
tersebut, dari kapal akan diperloleh Baringan Pedoman (BP) dan dari
darat akan diperoleh Baringan Magnetis (BM).
- Lengkapi tabel diatas pada untuk haluan-haluan tersebut.
- Buatlah grafik daftar deviasi dari pengisian kolom-kolom pada tabel diatas.

3. Membaring benda langit (matahari).


Matahari dibaring dengan mempergunakan Kompas dan Pesawat Baring
Thomson. Pada saat tersebut jam baringan dan haluan kapal yang
dikemudikan dicatat dengan cermat. Kemudian azimut dihitung. Azimut =
Baringan sejati, dengan nilai variasi yang terdapat di peta, selanjutnya deviasi
dapat dicari. Saat yang paling baik untuk membaring benda langit ini yaitu
waktu matahari terbit atau terbenam ( sekitar jam 6 pagi atau 6 sore), dimana
hasil yang teliti akan diperoleh saat matahari dibaring tepat ditengahtengahnya.

CONTOH DAFTAR DEVIASI PEDOMAN


HALUAN

-3

-2

-2

00

TL
900

TG

1800

BD

2700

BL

3600

Keterangan :
: Kompas 1
: Kompas 2

Perawatan pedoman magnit meliputi :


Bila terjadi gelembung udara cukup banyak atau kedudukan piringan pedoman
berubah, cara perawatannya :
a. Lepaskan pedoman dari rumah pedoman.
b. Baringkan ketel pedoman pada tempat yang rata.
c. Buka bagian penyumbatnya (prop) dengan cara diputar.

d. Keluarkan cairan melalui prop, namun bila hanya terjadi gelembung


udara cukup banyak dengan menambahkan campuran alcohol (70 %)
dan air (30 %) melalui lubang prop tersebut.
e. Setelah cairan dikeluarkan, selanjutnya buka sekrup-sekrup yang
berada pada tutup ketel pedoman.
f. Perbaiki bagian-bagian yang rusak atau aus dan ganti bila perlu.
g. Setelah selesai perbaikan, tutup kembali kaca penutup bagian atasnya dan
sekrup yang rapih.

h. Isi kembali cairan alcohol dan air melalui prop, dan usahakanlah sampai
penuh, selanjutnya prop ditutup.

i. Cek terlebih dahulu apakah masih terdapat gelembung udara dalam


ketel tersebut atau tidak ? Bila tidak, kencangkan prop tersebut.
j. Kembalikan ketel pedoman pada rumah pedoman.
Agar piringan pedoman di kapal tetap pada posisi mendatar, maka perlu
diberi cincin kardanus.
Benda-benda besi/baja, benda bermagnit atau alat-alat listrik disekitar
kompas harus disingkirkan untuk menghindari pengaruh penunjukkan
pedoman.
Bila pedoman tidak dipergunakan, tutuplah dengan rapih.
Lakukan pengecekan dengan cara melakukan pembaringan dua benda
yang terdapat di peta dan diketahui arah sejatinya.
Bila penunjukkan arah terlalu besar lakukan penimbalan, yaitu memasang
dan mengatur letak batangan parameter disekitar dinding luar ketel
pedoman sambil membaring.
Namun bila masih terdapat keragu-raguan mengenai arah penunjukkan
pedoman atau kepekannya maka perlu dibawa ke bengkel khusus untuk
perbaikan lebih lanjut.

Contoh - contoh Soal


TEST FORMATIF I
1. Secara garis besar Alat Navigasi dibagi menjadi dua kelompok besar.
Sebutkan dan berikan contoh-contohnya ?
2. Tuliskan prinsip kerja Kompas Magnit ?
3. Tuliskan 5 macam bagian-bagian kompas dan tuliskan juga fungsi masingmasingnya?
4. Bagaimanakah syarat-syarat piringan pedoman yang baik ?

5. Tuliskan syarat ketel pedoman yang baik di kapal ?


6. Apa yang dimaksud dengan :
a. Sifat peka piringan pedoman.
b. Sifat tenang piringan pedoman.

Jawaban.
1. Secara garis besar Alat Navigasi dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu :
a. Alat Navigasi konvensional, contohnya : Kompas, Pesawat Penjera
Celah, Perum Tangan, Topdal Tunda, Sextant, dsb.
b. Alat Navigasi Elektronik, contohnya : Radar, GPS, Echosounder,
Fishfinder, Sonar, RDF.

2. Prinsip kerja Kompas Magnit identik dengan sifat batangan magnit yaitu
apabila suatu batangan magnit berdiri bebas maka batangan magnit tersebut
akan mengarah ke arah kutub-kutubnya.
3. Lima macam bagian bagian kompas antara lain :
a. Ketel pedoman yaitu tempat bagi keseluruhan bagian-bagian kompas,
umumnya terbuat dari kuningan atau perunggu.
b. Piringan pedoman yaitu tempat penulisan skala derajat dan arah mata
angin.
c. Cincin Kardanus (Cincin lenja) yaitu pengatur keseimbangan, supaya
kompas selalu dalam posisi tegak walaupun posisi kapal dalam
keadaan miring.
d. Batangan magnit yaitu kekuatan yang mengarahkan arah utara dan
selatan ke arah kutub-kutub bumi.
e. Cairan (Alkohol dan Air Suling) yaitu agarmenghindari cat dalam
kompas agar tidak terkelupas, tidak mudah berkarat.
4. Syarat-syarat piringan pedoman yang baik :
1. Harus ringan, sungkup piringan pedoman bagian bawahnya harus licin.
2. Tidak memiliki kesalahan kolimasi.
3. Pembagian derajatnya harus jelas, sehingga mudah dibaca dan dibuat
secara teratur.
4. Besarnya piringan pedoman harus seimbang dengan besarnya ketel.
5. Piringan pedoman harus tenang namun peka.
6. Waktu ayun piringan pedoman harus cukup besar, yaitu minimum 14 detik
agar tidak terjadi sinkronisasi dengan olengan kapal.
5. Syarat ketel pedoman yang baik meliputi :
Ketel pedoman tidak boleh mengandung magnit.
Pada saat kapal dalam keadaan diam, maka tutup kaca bening dibagian
atas harus dalam keadaan datar.
Posisi ketel pedoman tidak boleh menyentuh bagian-bagian pedoman
lain, sehingga setiap saat bagian-bagian dalam pedoman dapat
mengayun dengan bebas.
Semat atau pasak pedoman harus benar-benar terpasang vertical
ditengah-tengah ketel pedoman.
Tuas untuk menempatkan pesawat baring harus tepat dititik pusat mawar
pedoman/piringan.
Garis layar tepat pada bidang lunas linggi kapal.
a. Sifat Peka Piringan Pedoman yaitu cepat kembalinya kedudukan piringan
pedoman ke posisi semula setelah piringan pedoman keluar dari
keadaan seimbang karena suatu pengaruh dari luar.
b. Sifat Tenang Piringan Pedoman yaitu keseimbangan piringan pedoman
tidak mudah terganggu oleh adanya ayunan / olengan / anggukan kapal
yang sedikit ataupun getaran lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Alat-alat Navigasi. OFCF Jakarta. Jakarta.
Palumian, M.L. 1992. Intisari Alat-alat Navigasi. Yayasan Pendidikan Pelayaran
Djadajat 1963. Jakarta.
Tim BPLP Semarang. Ilmu Pelayaran Elektronik untuk Perwira Pelayaran Niaga.
Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran Semarang. Semarang.

Tim FIP IKIP Semarang. Pesawat Navigasi. Fakultas Ilmu Pendidikan Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang. Semarang.
Tim Penyusun PIP. Peralatan Navigasi. Politeknik Ilmu Pelayaran. Semarang.