Anda di halaman 1dari 10

REFORMASI BIROKRASI SEBUAH EVALUASI

Slamet Riyadi
Abstract
Bureaucratic reform since 1998 has been discussed in various circles both
DPR,.Minister of Internal Affairs even by the President in his speech has been voiced
out loud in front of the Indonesian nation, because the speech was covered by a variety
of electronic and print media. However, the reform only lived a mere utterance and
could not yet be realized well. However the implementation has still been constrained
by various political interests. UU No. 43/1999 has clearly as the foundation of the state
/ government in conditioning apparatus, it has been hindered to implementation
because of the low ethical, moral and cultural values of individuals in each system
within the government bureaucracy.
Keywords: Bureaucratic Reform, UU No. 43/1999, Ethics
Abstrak
Reformasi birokrasi sejak tahun 1998 telah dibicarakan diberbagai kalangan baik itu
DPR.Menteri Dalam Negeri bahkan oleh Presiden dalam Pidatonya telah disuarakan
dengan lantang didepan bangsa indonesia,karena pidato tersebut diliput oleh berbagai
media elektronik dan cetak. Akan tetapi reformasi hanya tinggal sekedar ucapan
belaka dan belum dapat direalisasikan dengan baik. Namum perlaksanaanya masih
terkendala oleh berbagai kepentingan politik. UU Nomor 43 tahun 1999 telah jelas
sebagai landasan oleh negara/pemerintah dalam mengkondisikan aparaturnya, hal ini
masih terkendala akan pelaksanaannya karena masih rendahnya etika, moral dan
budaya individu dalam setiap sistem dalam birokrasi pemerintahan.
Kata kunci: Reformasi Birokrasi, UU No. 43/1999, Etika

Latar Belakang
Birokrasi sudah ada sejak terbentuknya sistem pemerintahan disuatu negara didunia, namun perkembangan birokrasi sangat ditentukan oleh perkembangan negara yang bersangkutan akan
sistem pemerintahan yang dibentuknya.
Birokrasi indonesia misalnya sudak
sejah orde baru telah dilakukan penataan
untuk menuju kepada birokrasi yang
legal rasional sebagimana yang dicitacitakan oleh Max Weber. Birokrasi seb
agaimana dikemukakan oleh (
Moelyarto Tjokrowinoto 1995 hal 2)
dimana ditandai oleh 1. Tingkat spe-

sialisasi yang tinggi, 2. Struktur kewenangan hirarkis dengan batas-batas kewenangan yang jelas, 3. Hubungan antar
anggota organisasi yang tidak bersifat
pribadi, 4. Rekruitmen yang didasarkan
pada kemampuan tehnis, 5.Deferensiasi
diantara pendapatan resmi dan pribadi.
Kualitas ini yang ingin dicapai dengan
melalui pengaturan structural seperti
hirarki; kewenangan, pembagian kerja,
profesionalisme, tata kerja, dan sistem
pengupahan yang kesemuanya berlandaskan pada peraturan peraturan yang dibuat
oleh pemerintah.

Selama orde baru birokrasi yang


legal-rasional seperti yang diedialkan
oleh Max Weber, semakin tidak terwujud
karena birokrasi pada waktu itu tidak
hanya sebagai instrumen tehnis penyelenggaraan roda administrasi pemerintahan yang terkait pada konstitusi dan
aturan hukum,obyektif, netral dan politik
kepentingan. Sebaliknya birokrasi justru
memperlihatkan kecenderungan berperan
yang
meliputi
fungsi-fungsi
konvensionalnya
dalam mengatur
berbagai sektor kehidupan
masyarakat
dan negara. Khususnya dalam mekanisme
pengambilan
keputusan
dan
penyelenggaraan kekuasaan (politik) dari
instrument tehnis yang apolitis menjadi
mesin politik yang efek- tif dalam
berbagai
upaya
rekayasa
dalam
masyarakat.
Perkembangan birokrasi di Indonesia telah mengalami perubahan setelah
orde baru tumbang digantikan dengan
orde reformasi pada bulan mei 1998,
ternyata cita-cita tersebut belum berhasil
dicapai, namun telah dilakukan perubahan
system pemerintahan misalnya keberanian
Presiden Abdulrahman Wahid dengan
membubarkan dua Depatemen pada
waktu itu, lahirnya UU no 22 tahun 1999
yang telah diubah dengan UU no 32 tahun 2004. Kenyataan ini belum dapat
dijadikan acuan bahwa telah dilakukan
reformasi bahkan banyak faktor antara
lain adanya sisa-sisa peninggalan budaya
tradisional
masa lampau yang tetap
hidup. Sebagai contoh ciri dominasi
tradisional yang tetap ada dan mewarnai
birokrasi Indonesia dengan berbagai
manifestasinya. Misalnya world view
birokrasi sebagai warisan budaya
aristokratis,
loyalitas
ritual
yang
seringkali bersifat pribadi, pengadaan
upacara untuk mengu kuhkan kembali
kesetiaan, corak hubungan patroclient
yang
mewarnai
hubungan
atasan
bawahan, kesadaran prestis, kelompok
serta status yang masih kuat sehingga itu
semuanya dapat membayangi konsep
partisipasi
modern
dalam
pengambilan keputusan.

Dominasi tradisional bersumber


pada budaya jawa pada masa kerajaan
namun hingga masa kini masih mewarnai
dalam birokrasi di Indonesia, misalnya
kesultanan yogya yang pada masa itu raja
menempatkan pada pusat kosmos dengan
melalui aparat birokrasinya yang bernama
abdi dalem yang memerintah rakyatnya
dengan menekankan kepatuhan pada
rajanya.
Birokrasi
hasil rekayasa
pemerintah
Belanda
dengan
menempatkan struktur apolitis yang
dipimpin oleh elite tradisional, yaitu
priyayi, dimana struktur birokrasi
tradisional tetap dipertahankan oleh
pemerintah belanda karena dinilai sanga
menguntungkan untuk mengukuhkan
otoritasnya terhadap rakyat pribumi.
Dengan dilandasi oleh kepercayaan pada
kekuasaan priyayi dan berkeyakinan
bahwa rakyat yang setia kepada pangreh
praja ( golongan terhor- mat ) yang setia
pada pemerintah yang berkuasa pada
masa itu adalah Belanda . Sistem
birokrasi demikian disebut den- gan
birokrasi ambternaar Harny J Benda d a l
a m D o n a l d E m m e r s o n 1976
.Karenanya apa yang telah dilaku- kan
sejak reformasi tahun 1998 hanya
melaksanakan sistem administrasi pemerintahan yang menerapkan prinsisp prinsip
tata pemerintahan yang baik (good
Govenance)
dalam
tugas
untuk
melaksanakan kegiatan pemerintahan dan
pelayanan publik
belum juga dapat
menunjukan hasil yang memuaskan bagi
masyarakat.
Reformasi berjalan sangan lambat
Kebijakan desentralisasi yang telah
dilaksanakan sejak 1 Januari 2001 telah
berdampak pada perubahan sistem birokrasi secara besar-besaran. Hal ini dapat dilihat dengan bertambahnya pemerintahan daerah yang telah mencapai sekitar 374 pada ahkir 2010 dan lebih dari
2,5 juta PNS serta 20.000 harta kekayaan
milik negara telah dipisahkan dan dialihkan pada pemerintah daerah. Akan
tetapi perubahan sistem tersebut tidak
membuat unsur adminiatrasi pemerintah

atau aparatur negara mampu mempraktekan good gavernance yang dapat meningkatkan kinerja unsur-unsur utama
aparatur negara seperti lembaga LAN,
KepPAN. Dan BKN atau BKD sebagai
unsur dalam penentuan kinerja aparatur
pemerintahan, bahkan sebaliknya dengan
birokrasi yang tidak lebih efisien.
Laporan UNDP, ADB, dan Bank
Dunia serta laporan para peneliti pengguna jasa birokrasi (investor) menyimpulkan bahwa reformasi birokrasi yang
ditempuh Indonesia tidak berjalan seperti
yang diharapkan. ADB dalam publikasi
nya yang berjudul Governance Assessmen Report-Indonesia Manila 2004,
merekomendasikan untuk diadakan radikal reform of the public administration
and civil service espesially in organization desigs, manpower and staffing, incentive structures, human reousce management, training systems, and
budgenting. Hal ini disebabkan oleh kesimpulan yang menyatakan bahwa terdapat sejumlah kelemahan dalam penyelenggaraan pemerintahan Indonesia yang
antara lain :
1. Manajemen perencanaan dan pemerintahan. Dalam hal ini menajeman perencanaan oprasional, SDM dan pembangunan serta perencanaan anggaran
belum diselenggarakan secara terpadu
dan terintegrasi sehingga menyebabkan rendahnya efisiensi dan produktifitas administrasi negara.
2. Peranan Lembaga pusat administrasi
negra, Lembaga pusat dalam hal ini
adalah Kantor Menpan, LAN da BKN,
dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya sebagai lembaga pusat lebih
mengutamakan tata aturan dari pada
kinerja yang lebih baik.
3. Kinerja Pegawai negari, bahwa sistem
pengembangan karir PNS kurang
menghargai profesionalime dan
kinerja.
4. Klasifikasi Jabatan, bahwa kinerja
pegawai belum maksimal, karena sistem pelayanan belum menerapkan sistem klasifikasi jabatan yang diperlukan untuk jabatan yang disusun secara

profesional. Seorang pemegang jabatan tidak diharuskan memiliki


ketrampilan yang diperlukan untuk
jabatan tersebut. Penempatan seseorang pada suatu jabatan lebih didasarkan pada sistem karir, bukan sistem
jabatan sebagaimana diatur dalam daftar urutan kepangkatan (DUK).
5. Gender mainstreaming, perempuan
kurang terwakili dalam jabatan pimpinan pada semua lini dan sektor, kecuali pendidikan dan kesehatan. Hal ini
akan mempengaruhi semangat kerja
perempuan dimana perempuan dalam
budaya jawa sebagai orang nomor
dua.
6. Asosiasi Profesional PNS masih terbatas, sehingga PNS terbelenggu dalam
sistem aturan yang ada, PNS harus
patuh dan taat pada atasan.
7. Desentralisasi, bahwa pelaksanaan desentralisasi memberikan daerah untuk
lebih otonom yang lebih luas akan
tetapi pilihan terbatas hanya pada suatu
model ekonomi. Hal ini daerah
dituntut untuk dapat berkreasi dalam
pembangunan daerah yang bersangkutan. Kondisi ini dapat mendorong
daerah untuk berlomba akan lebih
baik dengan daerah lainnya, sehingga
akan terbentuk raja-raja kecil
didaerah.
8. Mobilitas PNS daerah, mobilitas PNS
antar daerah sangat terbatas karena
tidak adanya mekanisme pemindahan
pegawai antar daerah.
9. Sistem tata kepegawaian. belum
tersentralisirnya dalam sistem kepegawaian sehingga apabila terjadi mutasi
pegawai banyak dijumpai adanya kejanggalan.
10. Program diklat pegawai, masih
kurangnya mengutamakan pelatihan
tehnis fungional, sehingga untuk menenpatkan jabatan fungsional mengalami kendala ketiadaan orang yang
memenuhi klasifikan jabatan tersebut.
11.Sistem Penggajian, sistem pengajian
sangat rumit sehingga tidak memotivasi profesionalisme dan tanggungjawab serta kurangnya transparan.

12.Praktek KKN, dalam penerimaan


PNS, penempatan dan promosi jabatan merupakan peluang untuk KKN
karena sistem yang tidak transparan,
hal ini sudah menyebar disemua instansi dan disemua sektor di birokrasi.
Untuk mengatasi masalah mendasar ADB merekomendasikan Pemerintah Indonesia agar melakukan langkahlangkah peningkatan kinerja dan praktek
tata pemerintahan yang baik ( good
gavernance) dengan mengintegrasikan
empat proses perencanaan yaitu 1. Perencanaan oprasional. 2.Perencanaan SDM.
3.Perencanaan pembangunan dan
4.Perencanaan anggaran,agar menjadi
proses manajemen terpadu. Sofyan Effendi,2010 hal 54. Kinerja birokrasi masih rendah karena manajemen SDM
aparatur negara belum sepenuhnya
menerapkan best praktices yang merupakan prinsip-prinsip birokrasi, birokrasi
masih menerapkan sistem karier yang
kurang mampu mendinamisasi perubahan
dalam birokrasi di semua cabang pemerintahan, merebahnya politisasi PNS, dan
semangat
kerja
merosot
disebabkan
adanya
disparitas
penggajian antar in- stansi. Saat ini
kepercayaan publik pada aparatur negara
semakin merosot dikarna kan kinerja
rendah dan merebahnya prak- tek KKN.
Sementara itu kwalitas pelayan publik
yang
menjadi
tujuan
kebijakan
pemerintah
dengan
melalui
desentralisasi dan otonomi daerah belum
menun- juhkan kemajuan yang signifikan
dan memuaskan. Memang sudah banyak
usaha yang telah dilakukan misalnya dibidang pendidikan, kesehatan dasar, penyediaan sarana dan prasarana transfortasi
dan air bersih. Namun kesenjangan akses
dan kwalitas pelayan publik antar daerah
dan praktek KKN masih menggejala.
Diakui bahwa selama sepuluh tahun reformasi indonesia yang telah berhasil
membangun pilar demokrasi secara
damai dan aman, ekonomi nasional sudah semakin membaik yang ditunjuhkan
dengan pertumbunan PDB 5-6 persen per

tahun sejak 2002. Akan tetapi prestasi


tersebut tidak diikuti oleh solosi pemecahan masalah di bidang kemiskinan, pengangguran, pelayanan publik dan tata
pemerintahan yang baik.
Reformasi Peraturan Perundangundangan
Guna melaksanakan reformasi di
bidang politik dan birokrasi MPR sejak
era reformasi telah melaksankan empat
kali amandemen Undang-undang dasar
1945, yaitu tahun 1999 sampai tahun
2002. Amandemen Undang-undang
tersebut mengakibatkan adanya perubahan sistem pemerintahan terutama reformasi pemilu dan kelembagaan negara,
adanya mahkamah konstitusi, komisi
yusdisial dan berbagai lembaga lainnya.
Selain itu pemerintah juga telah
melaksankan reformasi sistem birokrasi.
Sisten ini terdiri dari tiga komponen
yairu 1.Peraturan dasar tentang sistem
birokrasi, 2.Sistem kepegawaian dan
3.Akuntabilitas serta transparasi. Untuk
itu pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan perundang-undangan
sebagai dasar dalam melakukan reformasi birokrasi misalnya :
1. UU Nomor 28 tahun 1999 Tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih,Bebas dari Korupsi,kolosi dan
Nepotisme,
2. UU Nomor 31 tahun 1999 Tentang
Tindak Pidana Korupsi.
3. UU Nomor 43 tahun 1999 Tentang
Pokok-pokok Pepegawaian sebagai
Pengganti UU Nomor 8 tahun 1974.
4. UU Nomor 17 tahun 2003 Tentang
Keuangan Negara.
5. UU Nomor 1 tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara.
6. UU Nomor 5 tahun 2004 Tentang Perubahan atas UU Nomor 14 tahun
1985 Tentang Mahkamah Agung.
7. UU Nomor 25 tahun 2004 Tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara,
8. UU Nomor 25 tahun 2004 Tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional.

9. UU Nomor 32 tahun 2004 Tantang


Pemerintah Daerah.
10.UU. no 7 tahun 2006 tentang bpengesahan united nations Convention
against Corruption 2003 ( konvensi
Perserikatan bangsa-bangsa terhadap
korupsi 2003 ).
11.UU no 17 tahun 2007 tentang rencana
pembangunan jangka panjang Nasional tahun 2005-2025.
12.UU no 25 tahun 2009 tantang pelayanan publik dan masih banyak lagi.
Semua peraturan perundangundangan tersebut dijadikan landasan
hukum reformasi birokrasi yang selama
ini dilakukan oleh pemerintah indonesia.
Reformasi Manajemen Kepegawaian
Reformasi manajemen kepegawaian dipusatkan pada tiga aspek yaitu 1.
Penataan sistem penggajian dan jaminan
sosial PNS, penatana gaji dan jaminan
sosial merupak fokus utama dalam reformasi birokrasi karena sistem penggajian
PNS yang diterapkan menyimpang dari
acuan teori penggajian yang berlaku. Literatur manajemen SDM yang banyak
dianut banyak negara, skala penggajian
yang baik dan mampu memacu prestasi
kerja adalah yang memiliki rasio 1:20
antata gaji terendah dan gaji tertinggi.
Skala penggajian yang dilaksanakan saat
ini dikenal dengan peraturan gaji pegawai negeri sipil yang menyimpang dari
sistem pengggajian pegawai negeri .
Dalam PGPS gaji pokok terendah adalah
sebesar Rp.700,000 dan gaji pokok
tertinggi adalah 1.700.000 sehingga ret
terlalu tipis dan tidak proposional.
Disamping itu ada tunjangan fungsional
dan struktural untuk para pejabat eselon
IV hingga eselon I. Sistem ini disebut
dengan sistem yang menggabungkan
kedua sistem tersbut. Sistem penggajian
demikian belum menjamin tingkat kesejahteraan yang mampu mendukung
kinerja PNS, karena gaji PNS masih dibawah gaji yang diterima pegawai
BUMN dan anggota legislatif, Sofyan
Effendi 2010.Oleh karena itu sistem
penggajian PNS harus diarahkan kepada

sistem kepegawaian meritokratik. 2.


Pendistribusian mutu PNS yang lebih
merata antar daerah perkotaan dan pedesaan, sehingga setiap daerah memiliki
kwalitas pegawai yang merata sejalan
dengan keinginan pemerintah dan publik.
dan 3. Mengatasi ketimpangan dalam
kopentensi perumusan kebijakan. Setiap
pegawai diberbagai daerah memiliki
problim solving yang sama sehingga tidak sulit bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang menyangkut tata
aturan pegawai negeri.
Sistem Renumerasi
Pemerintah mengharapkan setiap
aparatur harus bercirikan profesional,
kopenten dan akuntabel yang dapat mendukung kondisi pemerintahan yang transparan, demokratis, berkeadilan, efektif
dan efisien dengan menghormati hukum
yang mendorong terciptanya partisipasi
dan pemberdayaan. Untuk meningkatkan
mutu aparatur pemerintah sebagai modal
dasar pembangunan nasional, maka
kinerja aparatur pemerintah harus senantiasa ditingkatkan dan diarahkan agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Peningkatan mutu SDM dengan pendidikan karir yang berjenjang sangat strategis
terhadap ketrampilan, motivasi, pengembangan dan managemen pengorganisasian merupakan syarat utama untuk mewujudkan kemampuan bersaing
dan kemandirian. Sejalan dengan itu semuanya visi dalam konteks pembangunan bidang kepegawaian dimasa yang
akan datang adalah untuk mempersiapkan PNS yang profesional, mampu bersaing dan mampu mengantisipasi
perkembangan dunia yang pesat diberbagai aspek kehidupan sehingga pagawai
negeri dapat mampu meningkatkan mutu
pelayanan dan kinerja yang tinggi sejalan
dengan tuntutan zaman dan perkembangan tehnologi.
Banyak pakar mengemukakan
bahwa salah satu penyebab keterpurukan
dan ketidakmampuan bangsa Indonesian
dalam perkembangan ekonomi selama ini
adalah rendahnya komintmen dan kinerja

penyelenggara negara. Yang salah


satunya adalah kinerja pegawai yang merujuk pada tingkat keberhasilan seseo
rang dalam melaksanakan tugas serta
upaya yang dilakukan dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja seseorang akan optimal jika didukung oleh
kemampuan yang baik dan motivasi yang
tinggi oleh setiap pegawai.
Kinerja pegawai dalam sebuah organisasi dipengaruhi pula oleh faktorfaktor yang antara lain adalah tingkat gaji
yang masih rendah. Kurangnya data dan
informasi, suber daya, peralatan dan lingkungan, konsekuensi hasil kerja, keahlian
dan pengetahuan serta kemampuan dan
mitivasi. Komitmen pegawai yang masih
rendah sebagai penyelenggara negara hal
ini disebabbkan tidak transparasi dalam
penerimaan pegawai. Pegawai yang
diterima didasarkan pada kolosi,korupsi
dan nepotisme, sehingga berakibat pada
rendahnya mutu kenerja pegawai.
Bagi pemerintah dan organisasi
apapun bentuknya, gaji merupakan salah
satu pengeluaran yang digunakan untuk
penggunaan tenaga kerja. Oleh karena
iru, sistem balas jasa dapat dilihat sebagai suatu sistem yangberada
pada
hubungan timbal balik antara pemerintah
atau organisasi dengan pegawai.
Organisasi selalu mengkaitkan
antara balas jasa dengan kuantitas, kualitas dan pemanfaatan balas jasa yang
dipersembahkan pegawai kepada pemerintah dan organisasi akan berpengaruh
pada pencapaian tujuan yang pada ahkirnya berpengaruh pada kelangsungan
organisasinya. Dari sisi pegawai, balas
jasa sebagai sarana pemenuhan dari berbagai kebutuhan hidupnya terutama
dalan hidup sesama keluarganya dalam
seharian.
Sistem penggajian adalah merupakan bagian yang tidak dipisahkan dari
sisten remunerasi yang merupakan implementasi atau penerapan hasil dari menagemen kinerja. Remunerasi memiliki
pengertian sebagai bentuk imbalan ( reward) yang diterima pegawai sebagai
akibat dari kinerja dalam pemerintahan

atau organisasi. Imbalan yang meliputi


hadiah, penghargaan dan promosi jabatan. Kinerja tidak dapat dicapai secara
maksimal apabila remunerasi diberikan
secara propesinal ( Ivancevich,hal 286287). Pendekatan dengan
melalui
remunerasi dilakukan sebagai cara yang
efektif untuk mengurangi biaya dan
meningkatkan produktifitas pegawai,
karena pegawai merasa dihargai.
Kenaikan gaji akan efektif apabila
dilaksankansecara bersama-sama dengan
diterapkan system managemen kepegawai
yang berorientasi pada kinerja, sehingga
ada kejelasan tentang apa yang menjadi
tugas dan tanggungjawab dari masingmasing pegawai, serta ukuran target
kinerja ba- gaimana yang harus dilakukan
dan hen- dak dicapai. Dengan demikian
setiap pegawai memahami bahwa untuk
menda- patkan imbalan tertentu harus
mencapai kinerja
tertentu pula.
Dengan dasar seperti itu, maka
remunerasi yang diter- ima oleh pegawai
akan
dapat
memenuhi
kebutuhan
hidupnya secara adil dan layak.
Ref ormasi bir ok rasi s e r i n g
disamakan dengan remunerasi, tahapan
proses dan sistem yang ada dalam reformasi birokrasi hanya diarahkan pada terbentuhnya sistem remunerasi yang diharapkan. Ini wajar mengingat minimnya
pengetahuan remunerasi yang saat ini
didapatkan oleh pegawai pemerintah, namun ini harus dipahami bahwa remunerasi hanya salah satu agenda yang besar dalam upaya reformasi dalam bidang
birokrasi.
Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara telah membuat kajian dan menemukan beberapa permasalahan dalam
sistem remunerasi yang akan dan sedang
berlaku yaitu 1, Besarnya gaji kurang
memenuhi kebutuhan untuk hidup layak
yaitu terendah Rp.760,500 dan tertinggi
Rp.2.405.400. 2, Gaji PNS kurang kopentitif bila dibandingkan dengan sektor
swasta khususnya untuk tingkat manager
dan pimpinan. 3.Besarnya gaji tidak memenuhi prinsip equity , karena gaji
tidak dikaitkan dengan kopentensi dan

prestasi, akan tetapi didasarkan pada


pangkat dan masa kerja. 4.Struktur gaji
kurang mendorong motivasi kerja karena
jarah antara gaji terendak dan teringgi
rationya 1:3,3 dan kenaikan pangkat
hanya diikuti dengan kenaikan penghasilan dalam jumlah yang kecil. 5. Tunjangan jabatan struktural yang besar menimbulkan kompetisi yang tidak sehat. 6.
Kurangnya transparansi, karena disamping gaji masih menerima sejumlah honorarium diluar pos gaji, sehingga terjadi
distorsi dalam sistem penggajian dan
jumlah anggran untuk belanja pegawai
sulit diketahui secara pasti dan sulit
dipertanggungjawabkan pada publik.
Sistem remunerasi secara normatif
telah diatur dalam undang-undang Nomor. 43 tahun 1999 tentang perubahan
atas Undang-undang no 8 tahun 1974
tentang pokok-pokok kepegawaian yang
memuat bahwa struktur pegawai sipil
yang hasus dipenuhi adalah struktur gaji
yang adil dan layak sebagaimana disebukan pada Pasal 7 Undang-undang tersebut adalah :
(1). Setiap pegawai negeri berhak memperoleh gaji yang adil dan layak sesuai dengan beban pekerjaan dan
tanggungjawab.
(2). Gaji yang diterima oleh pegawai
negeri harus mampu memacu produktivitas dan menjamin kesejhateraannya.
(3). Gaji pegawai negeri yang adil dan
layak sebagaimana dimaksud dalam
ayat 1 ditetapkan dengan peraturan
pemerintah.
Sebagaimana termatup dalam pasal
tersebut diatas dengan memperoleh
penghasilan yang adil dan layak maka
pegawai negeri akan dapat memenuhi
kebutuhan hidup keluarganya, dengan
demikian pegawai yang bersangkutan
dapat memusatkan perhatian, pikiran dan
tenaganya hanya untuk melaksanakan
tugas yang dipercayakan.

Ukuran Keberhasilan Menurut KemenPan


Kementrian Pemberdayaan Aparatur Negara menyatakan bahwa untuk mewujudkan keberhasilan reformasi birokrasi, ada empat hal yang menjadi kuncinya yakni :
1. National Commitment to reform, yang
dimaksudkan Komitmen untuk melakukan reformasi birokrasi tidak hanya
dari kalangan birokrasi tetapi juga
harus dari luar birokrasi. Selain komitmen dari jajaran birokrasi,
masyarakat harus terus menerus
memberikan kritik membangun untuk
menyampaikan aspirasinya dan berpartisipasi dalam upaya medorong
peningkatan kwalitas pelayanan publik.
2. Engine of reform, bahwa reformasi
birokrasi memerlukan mesin penggerak yang memeliki kemampuan untuk memacu proses berjalanya reformasi birokrasi secara nasional.
3. Content of reform, bahwa reformasi
birokrasi dilakkukan secara hati-hati
dengan prioritas pada hal-hal yang
harus diperbaiki dibuat secara jelas,
karena reformasi birokrasi memerlukan grand design dan road map
4. Process excelelence, yaitu untuk
menjaga agar proses dapat berlangsung
dengan baik, maka akan disusun berbagai
panduan yang akan menjadi acuan dalam
melaksanakan reformasi birokrasi. Untuk
mengukur keberhasilan dalam reformasi
birokrasi ditentukan 9 indikator sebagai
acuan yaitu : a.Tidak ada korupsi.
b.Tidak ada pelanggaran. c. APBD bagus, yang ditunjuhkan dari peningkatan
dan penyerapan anggaran tiap triwulan.
d. Semua program selesai dengan baik
(presentasi penyelesaian program triwulan). e. Semua perizinan cepat (peringkat
doing business). f. Komunikasi dengan
publik baik ( indek kepuasan masyarakat). g. Pemanfaatan

waktu yang efektif dan produktip. h.


Jumlah reword dan panishment dan I.
Hasil pembangunan
nyata
(growth,job,food,energy,health,educat
ion) dll.
Sejak awal reformasi digulirkan
pada tahun 1998, pemerintah telah berupaya membangun tata pemerintahan yang
baik (good governance) yang merupakan
salah satu program utamanya dengan
membangun aparatur negara dengan melalui reformasi birokrasi yang dilakukan
secara bertahap. Sejak tahun 2007, lima
lembaga telah dijadikan proyek percontohan dalam upaya reformasi birokrasi,
lembaga tersebut yaitu Lembaga Kementerian Keuangan, Mahkamah Agung,
Kejaksaan Agung dan Badan Pemeriksa
Keuangan serta Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara.
Dalam upaya tersebut beberapa Direktorat yang merupakan sumber korupsi
telah dilakukan perubahan besar-besaran
seperti pajak, bea cukai dan kemudian
pada tahun 2009 dilakukan perombahan
dilembaga Seskab/Sesneg yang didalamnya termasuk Polri dan TNI, kemudian
diperluas hingga 11 instansi. Akaibat dari
semuanya ini terjadi perubahan ribuan
pegawai dimutasikan. Perubahan ini cukup radikal dalam perubahan birokrasi di
Indonesia dan yang paling penting dari
itu semuanya adalah masyarakat telah
memperoleh perubahan dalam bidang
pelayanan dan negara memperoleh tambahan pendapatan yang bersumber dari
reformasi tersebut misalnya pajak menjadi meningkat.
Sejak pemerintah melakukan
proyek percontohan di 5 instansi tersebut, sistem remunerasi pegawai merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi
dan harus dilakukan untuk membenahi
birokrasi kepegawaian secara menyelu
ruh meskipun banyak kecaman dari berbagai pihak. Namun yang perlu dipertanyakan adalah benarkah dengan menaikan
gaji PNS, profesionalisme dan disiplin

pegawai sebagai abdi negara akan membaik kinerjanya. Untuk itu yang perlu
dilakukan adalah masyarakat harus mendesak wakil rakyat atau Pemeritah untuk
membatalkan pilot proyek sistem remunerasi di instansi pemerintah karena dapat menimbulkan diskriminasi bagi lembaga lainnya yang diduga melanggar UU
Nomor 43 tahun 1999 yang menimbulkan diskriminasi. Pasal 7 UU ini menyebutkan, setiap pegawai negeri sispil wajib memperoleh gaji yang layak dan adil
sesuai dengan beban pekerjaan dan tanggungjawabnya. Gaji yang diterima oleh
pegawai harus mampu memacu produktifitas dan menjamin kesejahteraan. Gaji
yang layak dan adil harus ditetapkan dengan peraturan pemerintah dan harus
ditentukan sistem penggajian dan tunjangan PNS. Dikatakan apabila hal ini akan
diterapkan maka harus diterapkan secara
adil dan merata di seluruh pegawai pemerintah baik pusat dan daerah.
Kritikan lain muncul dari matan
Menpan Faisal Tamin pada era Kabinet
Gotong Royong yang menyatakan bahwa
tidak ada jaminan dengan gaji sangat besar pelayanan akan lebih baik,bersih dan
bebas dari mafia yang bernuasa kolusi.
korupsi dan nepotesme (KKN) seperti
yang terjadi diberbagai Departemen,
Wakil Rakyat dan berbagai Partai politik.
Hal demikian justru menimbulkan berbagai pertanyaan mengapa program remunerasi diberlakukan secara diskriminatif
dan hanya pada instansi tertentu dan instansi lain yang juga merupakan sarang
KKN tidak diberlakukan.
Netralitas Birokrasi
Landasan hukum yang bertujuan agar
birokrasi pemerintahan bersih dari intervensi politik adalah UU Nomor 43/1999
tentang pokok-pokok kepegawaian negara pasal 3 UU ini menyatakan bahwa :
1.
Pegawai negerai berkedudukan sebagai unsur aparatur negara
yang bertugas untuk memberikan pe-

masyarakat secara profesional, jujur,


adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintah dan
pembangunan.
2. Dalam kedudukandan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, pegawai
negeri ha
rus netral dari pengaruh semua golongan dan partai politik secara tidak
diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
3. Untuk menjamin netralitas pegawai
negeri sebagaimana dimaksud dalam
ayat 2 pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai
politik.
(Faisal
Tamin,http://
bataviase.id/node/159768.)
Politisasi birokrasi dalam era demokrasi
menjadi
permasalahan
penting,karena menyangkut hak asasi
manusia dan berkaitan dengan reformasi
birokrasi dengan pemilu nasional. Situasi
ini, birokrasi menjadi rentan untuk diintervensi
dan
disalahgunakan,
karenanya semua fihak harus dapat mengawal kemungkinan penyalahgunaan
kedudukan PNS dalam politik praktis.
Untuk itu pemerintah dan DPR harus
tegas dan legowo untuk melepaskan jabatan publik manakala memperoleh jabatan politik, hal ini yang juga perlu
direformasi secepatnya.
Kesimpulan
Reformasi birokrasi perlu dikawal
dan dimonitor oleh berbagai fihak terutama masyarakat yang akan memperoleh
pelayanan dan ini menjadi permasalahan
yang penting. Salah satunya adalah yang
berkaitan antara reformasi birokrasi
karena berbagai kepentingan birokrasi,
terutama aspek pelayanan, dan kepentingan yang lebih dominan yang tidak mencerminkan perubahan.
Remunerasi dengan best practice yang
telah dilakukan dapat digunakan sebagai
dasar dalam sistem remunerasi

dengan memberikan keadilan yang layak


dengan didasari oleh kinerja pegawai.
Dengan pengembangan sistem remunerasi pegawai, pegawai dapat bekerja
didasarkan beban keja dan tanggungjawabnya, sehingga dapat mengeliminir
terjadinya penyalah gunaan tindakan
berupa korupsi,kolusi dan nepotisme dilingkungan kerja. Karena good governance berkaitan erat dengan etika, moral
dan budaya individunya.
Sistem remunerasi sebaiknya dikalukan
dengan adil dan layak dengan beban
kerja dan tanggungjawab sebagaimana
dalam UU Nomor 43 tahun 1999,hal ini
untuk menghindari terjadinya ketidakadilan dan diskriminatif.
Demokrasi yang terus digalakan di
era
reformasi, netralitas pegawai terus dijaga, karena UU Nomor 43 tahun 1999
pasal 3, ayat 2 dan 3 tetap dijadikan dasar
dalam memberikan sanksi bagi pegawai
yang menyimpang dalam penyelenggaraan demokrasi baik ditingkat nasional
dan daerah. Banyak pegawai diberbagai
daerah yang terlibat sebagai tim sukses
dari
calon
kepala
daerah,
(Gubernur,bupati dan walikota). Akan
tetapi hal ini terus berlangsung dan tidak
adanya tindakan sebagaimana diatur
dalam undang-undang diatas.
DAFTAR PUSTAKA
Moelyarto Tjokrowinoto, Sosok birokrasi
Indonesia Dalam Era Tinggal landas,1989 hal 2.
Priyo Budi Santoso, Birokrasi Pemerintah Orde Baru, Raja Grafindo Persada 1995 hal 2.
........., dalam Donald Emmerson, Indonesia Elite : Political Culture and
Cultural Politics, New York Cornell University 1976.
Sobyan Effendi, Reformasi Tata Kepemerintahan,menyiapkan aparatur
Negara Untuk mendudkung Demokrasi Politik dan Ekonomi

Terbuka. Gajah Mada University Press


2010 hal 54.
Faisal Tamin. Asat Keadilan Dalam Sis- tem
Remunerasi PNS,http://
bataviase.co/node/159768. April
2010.
David Asborne, Ted Gaebler, Mewirausahakan
Birokrasi.PT
Puasaka
Binaman Presindi,1997.
David Osborne dan Petter Plastrik, Memangkas Birokrasi,Victory Jaya
Abadi,2000.
Guy Benvenisle, Birokrasi, PT Raja
Grafindo Persada 1997.
Martin Albrow, Birokrasi, Pt Tiara
Wacana Yogya 1996.
Undang-undang No.43
tahun
1999.tentang pokok-pokok kepega- waian.